Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I
PENDAHULUAN

Asma adalah masalah kesehatan yang sangat umum di seluruh dunia.


Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa asma telah meningkat hampir
7% selama tiga dekade terakhir di kebanyakan negara. Contohnya seperti di India.
Meningkatnya polusi udara dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) mungkin
merupakan dua alasan paling penting dari meningkatnya asma di India.2
Asma bisa terjadi pada usia berapa pun, tetapi sekitar 50% orang mulai
mengidapnya sebelum usia 10 tahun sedangkan sekitar 25% mulai mengidapnya
sebelum usia 40 tahun. Asma dua kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki
ketimbang anak perempuan. Pada usia 30 tahun, asma sama peluangnya bagi lakilaki dan perempuan.2
Asma mengenai sekitar 3 sampai 4 persen populasi umum. Angka
kematian akibat asma berkisar dari 1 sampai 3 persen, dan penyakit ini
menyebabkan hampir 5000 kematian setiap tahun di Amerika Serikat. Juga
terdapat sekuele jangka panjang yang mencakup berkurangnya fungsi ventilasi.
National Asthma Education Program (1993) memperkirakan bahwa 1 sampai 4
persen kehamilan mengalami penyulit asma. Status asmatikus merupakan penyulit
pada sekitar 0,2 persen kehamilan.1
Keseluruhan tujuan manajemen asma pada kehamilan merupakan
manajemen yang efektif untuk menghindari gejala janin hypoxia, sementara pada
saat yang sama meminimalkan obat apapun terkait risiko terhadap janin. Baik
kehamilan dan asma memiliki dampak satu sama lain menyebabkan perubahan
tertentu dan mempengaruhi perspektif satu sama lain.4
Kehamilan memiliku efek variable pada asma. Sekitar 28% dari penderita
asma hamil meningkat. 33% tetap tidak berubah dan 35% memburuk biasanya
antara kehamilan 24 dan 36 minggu. Gejala perbaikan asma
minggu terakhir (37-40 minggu).4

selama empat

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. DEFENISI
Asma berarti sesak nafas. Sesuai dengan namanya, orang yang
mengindap asma mengalami kesulitan bernafas, sesak dalam dada, dan nafas
berbunyi. Asma adalah penyakit sistem pernafasan dimana saluran pernafasan di
paru-paru menjadi terlalu aktif dan terlalu responsif. Terlalu aktif artinya terlalu
sensitif, dan karena meningkatnya sensitivitas ini, paru-paru anda jadi meradang
ketika terkena beberapa zat yang mengganggu seperti udara dingin, asap, serbuk
sari bunga, dan lain-lain. Meradang artinya menjadi merah dan benkak. Paru-paru
disebut terlalu responsif jika paru-paru bereaksi berlebihan terhadap beberapa
pemicu iritasi dengan menyempitnya saluran pernafasan dan mengisinya dengan
lendir, cairan lengket yang diproduksi oleh dinding bagian dalam pada saluran
pernafasan. Ketika saluran pernafasan mengetat dan dipenuhi dengan lendir,
saluran pernafasan menjadi sempit dan mengganggu pergerakan udara ke dalam
dan keluar paru-paru. Ketika hal ini terjadi, orang mengalami kesulitan bernafas.2
B. PATOFISIOLOGI.
Asma adalah suatu gangguan peradangan kronik pada jalan napas dengan
kom-ponen herediter mayor. Menurut Lemanske dan Busse (1997), peningkatan
responsivitas dan peradangan jalan napas berkaitan dengan kromosom llql3
(reseptor igE afinitas-kuat), 5q (kelompok gen sitokin), dan 14q (reseptor antigen
sel T). Juga harus terdapat pemicu di lingkungan bagi orang yang rentan. Tanda
utama asma adalah obstruksi reversibel jalan napas akibat kontraksi otot polos
bronkus, hipersekresi mukus, dan edema mukosa. Terjadi peradangan jalan napas
dan responsivitas terhadap sejumlah rangsangan, antara lain iritan, infeksi virus,
aspirin, udara dingin, dan olah raga. Sel mast dan eosinofil terangsang oleh faktor
sel induk, sitokin, dan kinase (Holgate, 1997). Aktivasi sel mast menyebabkan
bronkokonstriksi akibat pembebasan histamin, prostaglandin D2, dan leukotrien.
Karena prostaglandin seri F dan ergonovin menyebabkan eksaserbasi asma, kedua

obat yang sering digunakan di bidang obstetri ini sebisa mungkin dihindari.1
C. PERJALANAN PENYAKIT.
Secara klinis asma merupakan suatu spektrum penyakit yang luas yang
berkisar dari mengi ringan sampai bronkokonstriksi berat yang dapat
menyebabkan gagal napas, hipoksemia berat dan kematian. Akibat fungsional dari
bronkospasme akut adalah obstruksi jalan napas dan berkurangnya aliran udara.
Usaha bernapas meningkat secara progresif dan pasien mengeluh dada sesak,
mengi, atau kehabisan napas. Perubahan oksigenasi selanjutnya merupakan
cerminan dari ketidaksesuaian ventilasi-perfusi karena penyempitan jalan napas
tidak merata.
Stadium-stadium klinis asma diringkaskan pada Tabel 46.3. Pada penyakit
ringan, hipoksia pada awalnya dikompensasi dengan baik oleh hiperventilasi,
seperti tercermin oleh normalnya tekanan oksigen arteri dan berkurangnya
tekanan karbon dioksida sehingga terjadi alkalosis respiratorik. Seiring dengan
bertambah parahnya penyempitan jalan napas, gangguan ventilasi perfusi
meningkat sehingga terjadi hipoksemia arteri. Pada obstruksi yang parah, ventilasi
sedemikian terganggu karena kelelahan otot pernapasan sehingga terjadi retensi
CO2 awal. Karena adanya hiperventilasi, hal ini mungkin hanya dijumpai pada
awal penyakit karena tekanan CO2 arteri kembali ke kisaran normal. Akhirnya,
pada obstruksi yang sudah kritis, terjadi gagal napas yang ditandai dengan
hiperkapnia dan asidemia.
Walaupun perubahan-perubahan ini umumnya reversibel dan ditoleransi
baik pada individu sehat yang tidak hamil, stadium-stadium awal asma mungkin
sudah berbahaya bagi wanita hamil dan janinnya. Kapasitas residu fungsional
yang lebih kecil serta meningkatnya pirau menyebabkan hipoksia dan hipoksemia
lebih mudah terjadi.

Tabel 46.3
Stadium
Alkalosis

Po2
respiratorik Normal

ringan
Alkalosis

respiratorik

Sedang
Zona Bahaya

Pco2

pH

FEV (%perkiraan
65-80
50-64

Normal

Normal 35-49
<35

D. EFEK KEHAMILAN PADA ASMA.


Tidak ada bukti bahwa kehamilan menimbulkan efek yang dapat
diprediksi pada asma. Schatz dkk (1988) secara prospektif meneliti gejala dan
pemeriksaan spirometri sepanjang kehamilan dan masa nifas pada 366 wanita
yang mengidap asma. Mereka melaporkan bahwa sekitar sepertiga dari para
pasien ini masing-masing membaik, tidak mengalami perubahan, atau malah
memburuk. Pada studi prospektif lainnya oleh Stenius-Aarniala dkk. (1988)
terhadap 198 kehamilan, hampir 40 persen wanita memerlukan terapi yang lebih
intensif untuk asmanya pada suatu saat selama kehamilan. Oleh karena itu, sekitar
sepertiga wanita asmatik dapat mengalami perburukan penyakit pada suatu saat
selama kehamilan mereka.1,4
Wanita yang memulai kehamilan dengan asma berat lebih besar
kemungkinannya mengalami perburukan penyakit daripada mereka yang
penyakitnya ringan. Pada sekitar 60 persen wanita, asma 'berperilaku' serupa pada
kehamilan-kehamilan selanjutnya. Walaupun Schatz dkk. (1988) melaporkan
insiden eksaserbasi asma selama persalinan dan pelahiran sebesar 10 persen,
Wendel dkk. (1996) hanya mendapatkan angka 1 persen. Mabie dkk. (1992)
melaporkan peningkatan risiko eksaserbasi asma sebesar 18 kali lipat setelah
seksio sesarea dibandingkan dengan pelahiran per vaginam.

E. EFEK ASMA PADA KEHAMILAN


Asma, terutama apabila berat, dapat mempengaruhi hasil kehamilan secara

bermakna. Dalam sebagian besar penelitian, dijumpai peningkatan insiden


preeklamsia, persalinan preterm, bayi berat lahir rendah, dan mortalitas perinatal.
Walaupun belum terbukti, secara logika asma" yang terkontrol baik akan memberi
hasil yang lebih baik (Schatz, 1999). Kematian ibu dapat terjadi akibat status
asmatikus. Penyulit yang mengancam nyawa adalah pneumotoraks, pneumomediastinum, kor pulmonale akut, aritmia jantung, dan kelelahan otot disertai
henti napas. Angka kematian secara substantif meningkat apabila asmanya
memerlukan ventilasi mekanis.
EFEK PADA JANIN
Baik penelitian pada hewan maupun manusia mengisyaratkan bahwa
alkalosis pada ibu dapat menyebabkan hipoksemia janin jauh sebelum oksigenasi
ibu terganggu (Rolston dkk., 1974). Gangguan pada janin diperkirakan
disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, yaitu berkurangnya aliran darah
uterus, berkurangnya aliran balik vena ibu, dan pergeseran kurva disosiasi
oksihemoglobin ke kiri akibat keadaan basa. Apabila ibu tidak mampu lagi
mempertahankan tekanan oksigen normal dan terjadi hipoksemia, janin akan
berespons dengan mengurangi aliran darah umbilikus, meningkatkan resistensi
vaskular sistemik dan paru, dan akhirnya mengurangi curah jantung. Kesadaran
bahwa janin dapat mengalami gangguan serius sebelum penyakit ibu menjadi
parah menggarisbawahi pentingnya penatalaksanaan agresif bagi semua wanita
hamil dengan asma akut. Pemantauan respons janin pada dasarnya menjadi
indikator gangguan pada ibu.1
F. PENATALAKSANAAN ASMA
Kesuksesan manajemen asma selama kehamilan membutuhkan kerjasama
antara ahli obstetri, bidan, dokter dan perawat khusus asma dan pasien sendiri.
Terapi farmakologi asma selama kehamilan tidak mempunyai perbedaan dengan
terapi asma pada wanita yang tidak hamil. Idealnya, selama kehamilan adalah
tidak menggunakan terapi obat-obatan terutama selama trimester pertama karena
dapat menyebabkan terjadinya kelainan kongenital. Edukasi dan pencegahan
lebih diutamakan untuk pasien asma dalam kehamilan. Kelainan genetik dan

kromosom terdapat pada 25% dari kelainan kongenital. Sekitar 1% dari seluruh
kelainan kongenital berhubungan dengan pemakaian obat-obatan. Penyebab 65%
kelainan kongenital belum diketahui.
PENATALAKSANAAN ASMA KRONIK
Menurut National Asthma Education Program (1993), penatalaksanaan
asma selama kehamilan yang efektif mencakup:
1.Penilaian objektif fungsi paru dan kesejahteraan janin.
2.Penghindaran atau pengendalian terhadap faktor-faktor pencetus di lingkungan.
3.Terapi farmakologis.
4.Edukasi pasien.
Secara umum, wanita dengan asma sedang sampai parah menjalani
pengukuran dan pencatatan PEFR dua kali sehari. Angka prediksi berkisar dari
380 sampai 550 1/mnt, dan masing-masing wanita memiliki angka basalnya
sendiri-sendiri.

Rekomen-dasi

tentang

penyesuaian

terapi

dapat

dibuat

berdasarkan pengukuran-pengukuran ini.


Terapi pasien rawat jalan bergantung pada keparahan penyakit. Tabel 46.5
dan 46.6 memperlihatkan obat dan anjuran dosis untuk penatalaksanaan asma
pada wanita hamil di rumah. Untuk asma ringan, agonis-p yang diberikan per
inhalasi sesuai kebutuhan biasanya memadai (Drazen dkk., 1996). Kortikosteroid
inhalan merupakan terapi yang dianjurkan untuk asma persisten (Lipworth, 1999;
National Institutes of Health, 1997). Inhalasi diberikan setiap 3 sampai 4 jam
sesuai kebutuhan. Tujuannya adalah mengurangi pemakaian agonis-P untuk
menghilangkan gejala. Sebuah studi kasus-kelola dari Kanada dengan kohort
lebih dari 15.600 pengidap asma tidak hamil memperlihatkan bahwa
kortikosteroid inhalan mengurangi angka rawat inap sebesar 80 persen (Blais
dkk., 1998). Wendel dkk. (1996) melaporkan pengurangan 55 persen dalam rawat
inap ulang untuk eksaserbasi asma berat pada wanita hamil yang mendapat terapi
pemeliharaan kortikosteroid inhalasi disertai terapi agonis-p.
Natrium kromolin (kategori B) dan nedokromil menghambat degranulasi

sel mast. Kedua obat ini tidak efektif untuk asma akut dan diberikan dalam jangka
panjang untuk pencegahan.
Teofilin

adalah

suatu

metilxantin,

dan

gararn-garamnya

bersifat

vasodilator dan mungkin antiinflamasi. Beberapa turunannya dianggap bermanfaat sebagai terapi rumatan oral untuk pasien rawat jalan yang tidak berespons
secara optimal terhadap kortikosteroid dan agonis-p inhalan. Preparat teofilin
lepas lambat juga mungkin bermanfaat untuk digunakan sebelum tidur malam
pada wanita dengan gejala nokturnal.
Pemodifikasi leukotrien adalah obat-obat baru yang
sintesis

menghambat

leukosit. Beberapa contoh adalah zileuton, zafirinkas, dan montelukas

(Medical Letter, 1999). Farmakologi dan mekanisme kerja obat-obat tersebut barubaru ini diulas oleh Drazen dkk. (1999). Obat-obat ini diberikan per oral atau
melalui inhalasi sebagai pencegahan dan tidak efektif untuk penyakit akut. Peran
obat-obat ini dalam terapi asma sampai saat ini masih belum jelas, dan pengalaman
pemakaian pada wanita hamil masih sangat terbatas.
Tabel 46.5 Obat Pengendali Asma Jangka Panjang
Obat
Kortikosteroid Sistemik
Metilperednisolon
Prednisolon
Prednison

Kortikosteroid Inhalan
Beklometason
42 g/semprotan
84 g/semprotan

Dosis

Komentar

a.

Untuk terapi jangka panjang asma


berat.
Efektif untuk memulai terapi /
apabila terjadi perburukan secara
bertahap digunakan sampai
tercapai 80% dari PEFR terbaik
pasien;
dosis
tidak
perlu
diturunkan bertahap.

7,5-60
mg
PO/hari atau selang
hari.
b.
Ledakan 40-60
mg PO/hari selama 310 hari

4-2 semprotan / hari


2-10 semprotan / hari

Budesonide/Budenosid
200 g/dosis

1-3 + inhalasi / hari

Triamsinolon

4-20 semprotan / hari

Dosis rendah 4-12 semprotan /


hari
Dosis tinggi 20+semprotan / hari
Dosis rendah 2-6 semprotan / hari
Dosis tinggi 10+ semprotan / hari
Dosis rendah 1-2 inhalasi / hari
Dosis tinggi 3 + inhalasi / hari

100 g/semprotan

Dosis rendah 4-10 semprotan /


hari
Kromolin
2-4 semprotan 3-4 kali / Dosis tinggi 20 + semprotan / hari
MDI 1 mg / semprotan
hari
Larutan nubulizer 20 mg
Satu dosis sebelum olah raga atau
teofilin
1 ampul 3-4 kali/hari
terpajan alergen bekerja selama 1Dosis awal 10 mg/kg/hari 2 jam
dengan
maksimum Sesuaikan dosis agar kadar serum
300mg
5-15 g/ml
Dosis
rumatan
maksimum 800 mg/hari
MDI = Metered Dose Inhaler; PEFR= laju arus ekspirasi puncak
Budesonide = More data are avaible on using budesonide. However, no data indicatte that
the other ICS preparations are unsafe during pregnancy.8

Tabel 46.6 Obat Adrenergik yang digunakan untuk mengobati Asma


Obat
Kerja Singkat
Epinefrin (1, 1, 2)

Pemberian
Subkutan
Inhalasi

Isoetarin (2)

Inhalasi
Dosis terukur
Aerosol

Isoproterenol (1, 2)

Inhalasi
Intravena

Metaproterenol (2)
Terbutalin

Subkutan
Oral
Dosis terukur

Kerja Panjang
Salmeterol Inhalasi

Nebulizer
Dosis terukur

Dosis Anjuran
0,3 0,5 ml larutan 1:1000 tiap 20
menit x 3
200-300
g/semprotan; 1-2
semprotan tiap 4 jam
340 g/ semprotan; 3-7 semprotan
tiap 3-4 jam.
0,5 ml laritan 1% diencerkan 1:3
dengan salin.
Larutan 1:100, 3-7 inhalasi tiap 4-6
jam.
0,05-5 g /mnt melalui infus.
250 g tiap 15 mnt x 3
2,5 tiap 4-6 jam
650 g/semprotan; 2-3 semprotan
tiap 3-4 jam.
0,3 ml larutan 5% tiap 4 jam.
21 g/ semprotan; 2 semprotan tiap
12 jam.
50 g / blister; tiap 12 jam.
4 mg tiap 12 jam.

Blister
Albuterol SR
Oral
SR = Lepas Lambat (Sustained release)
Albuterol = The most data related to safety during human pregnancy .8
PENATALAKSANAAN ASMA AKUT

Serangan asma akut sangat berbahaya dan harus ditangani dengan serius
untuk mencegah jatuhnya penderita ke dalam status asmatikus. Status asmatikus
dalam kehamilan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan janin yang
terhambat, mortalitas ibu dan janin, juga morbiditas janin.
Sangat penting untuk wanita hamil penderita asma untuk tidak terlambat
mendapat pengobatan selanjutnya jika terdapat tanda-tanda berikut :

Pengobatan tidak memperlihatkan perbaikan yang cepat.

Perbaikan tidak menetap.

Terjadi perburukan.

Episode adalah berat.

Terjadi penurunan gerakan janin.


Langkah penatalaksanaan asma akut pada kehamilan :

1. Pemeriksaan terhadap penderita; Penatalaksanaan asma akut dalam kehamilan


dimulai dengan pemeriksaan yang teliti. Dari anamnesa didapat mengenai
berapa lama sudah terjadi serangan, apakah ada tanda-tanda infeksi
pernafasan, pengobatan terdahulu terutama teofilin dan kortikosteroid, serta
riwayat gagal nafas dan intubasi. Dari pemeriksaan fisik didapat penggunaan
otot asesori, pulsus paradoxus > 12 mmHg, tidak dapat berada dalam posisi
tidur, pulsasi nadi > 120 kali permenit dan laju pernafasan > 30 kali permenit.
Pengukuran aliran ekspirasi (PEFR atau FEV1) dan analisa gas darah arteri
harus didapatkan pada wanita hamil dengan serangan asma akut. (nilai normal
PEFR > 200 liter/menit atau FEV1 > 1 liter/menit). Nilai saturasi oksigen <
95% biasanya menandakan PO2 < 60 mmHg. Karena itu jika nilai saturasi
oksigen < 95 mmHg maka analisa gas darah arteri harus diperoleh.
2. Terapi Emergensi; Diberikan terapi oksigen 3 4 liter/menit dengan nasal
cannula untuk mempertahankan Pa O2 > 70 mmHg. Pemberian cairan intra
vena yang mengandung glukosa jika pasien tidak hiperglikemi dapat
diberikan. Inhalasi 2 agonis (terbutalin 2 mg) adalah pilihan bronkodilator
untuk asma akut pada wanita hamil seperti terhadap pasien yang tidak hamil.
Pemberian inhalasi dapat diulang sampai 3 kali, dengan jarak 20 30 menit.

10

2 agonis subkutan (terbutalin 0,25 mg) dapat diberikan jika pemberian


inhalasi tidak menunjukkan perbaikan. Kortikosteroid parenteral yaitu
metilprednisolon harus diberi pada pasien yang sebelumnya diterapi dengan
kortikosteroid. Juga diberi pada penderita yang tidak respon terhadap 2
agonis setelah 1 jam pemberian dan menunjukkan obstruksi yang berat (PEFR
< 200 liter/menit atau FEV1 <40% nilai prediksi). Dosis yang dianjurkan
adalah 1 mg/kg BB metilprednisolon setiap 6 8 jam.
Saat ini semua pasien yang mengalami asma akut berat dianjurkan
mendapat kortikosteroid (National Heart, Lung, and Blood Institute, 1991).
Sebagian besar dosis anjuran mungkin lebih tinggi daripada yang diperlukan.
Namun, di Amerika Serikat, metilprednisolon biasanya diberikan sebanyak 40
sampai 60 mg setiap 6 jam. Sebagai pengganti dapat digunakan hidrokortison
dengan dosis ekipoten melalui infuse atau prednison per oral. Karena awitan
kerjanya yang beberapa jam, perlu ditekankan bahwa steroid baik secara intravena
maupun aerosol diberikan bersama dengan agonis-p untuk terapi asma akut.1
Penatalaksanaan selanjutnya bergantung pada respons pasien terhadap
terapi. Apabila terapi awal dengan agonis-P menyebabkan pemulihan PEFR
menjadi di atas 70 persen nilai basal, pasien dapat dipertimbangkan untuk
dipulangkan. Sebagian wanita mungkin sebaiknya diobservasi selama 23 jam.
Bagi wanita yang jelas mengalami gawat napas atau apabila PEFR kurang dari 70
persen dari perkiraan setelah tiga kali pemberian agonis-P, maka pasien
dianjurkan dirawat. Pasien tersebut diberi terapi intensif berupa agonis-p inhalan,
kortikosteroid intravena, dan pengawasan ketat untuk mendeteksi perburukan
gawat napas atau kelelahan bernapas (Wendel dkkv 1996).1
G. STATUS ASMAT1KUS DAN GAGAL NAPAS
Asma berat tipe apa pun yang tidak berespons setelah terapi intensif
selama 30 sampai 60 menit disebut sebagai status asmatikus. Bagi pasien tidak
hamil dengan status asmatikus, Braman dan Kaemmerlen (1990) memperlihatkan
bahwa penatalaksanaan di ruang perawatan intensif akan memberi hasil baik pada
hampir semua kasus. Selama kehamilan, perlu dipertimbangkan intubasi dini
apabila status pernapasan terus menurun walaupun pasien telah mendapat terapi

11

agresif (lihat Tabel 46-3). Kelelahan, retensi karbon dioksida, atau hipoksemia
adalah indikasi untuk intubasi dan ventilasi mekanis.
H. PENATALAKSANAAN ASMA SELAMA PROSES MELAHIRKAN
Penanganan asma yang baik bagi penderita asma selama kehamilan
membuat tidak adanya gejala asma selama melahirkan. Pada suatu penelitian oleh
ahli asma Kalifornia pada 120 kasus wanita asma yang hamil dan terkontrol baik,
terdapat 90% wanita asma yang hamil menunjukan tidak adanya gejala selama
melahirkan, 2,2% mengalami serangan ringan dan 0,2% mengalami serangan
asma

berat.

Mereka yang memperlihatkan gejala biasanya hanya memerlukan inhalasi


bronkodilator. Jika respon jelek maka diberikan metil prednisolon intravena.
Untuk penderita yang mendapat kortikosteroid secara reguler atau yang sering
mendapatkannya selama kehamilan, penambahan kortikosteroid parenteral
direkomendasikan untuk stres selama persalinan dan kelahiran yaitu 100 mg
hidrokortison intravena sewaktu mulai persalinan dan diteruskan dengan 100 mg
intravena setiap 8 jam selama 24 jam atau sampai tidak ditemukan komplikasi.
Dianjurkan untuk melanjutkan terapi profilaksis yang biasanya didapat (kromolin,
inhalasi kortikosteroid atau teofilin) selama persalinan. Dari data tersebut tidak
ada peningkatan induksi persalinan, penggunaan forseps atau seksio sesaria
darurat untuk wanita penderita asma, tapi operasi elektif lebih sering. Penderita
asma yang sangat berat dianjurkan untuk operasi elektif pada waktu kontrol
asmanya baik.

Prostaglandin E2 aman digunakan untuk induksi persalinan dan kontraksi


uterus.

Penggunaan

prostglandin

F2

didindikasikan

untuk

perdarahan

postpartum tetapi dapat menyebabkan bronkokonstriksi. Penggunaannya untuk


induksi persalinan dan menstimulasi kontraksi uterus postpartum harus di
hindarkan.

Sebagai

alternatif,

menyebabkan bronkokonstriksi.

oksitosin

dapat

diberikan

karena

tidak

12

Wanita penderita asma dapat menggunakan semua jenis penghilang rasa


sakit selama persalinan, termasuk analgesia epidural. Dalam memilih analgesik
untuk persalinan, narkotik yang tidak menyebabkan pelepasan histamin, misalnya
fentanil, mungkin lebih baik daripada meperidin atau morfin. 1 Jika dibutuhkan
anestesi, akan lebih baik menggunakan analgesia epidural daripada anestesi
umum, karena anestesi umum dapat meningkatkan resiko infeksi paru dan
atelektasis.

BAB III
KESIMPULAN
Asma adalah penyakit sistem pernafasan dimana saluran pernafasan di
paru-paru menjadi terlalu aktif dan terlalu responsif akibatnya penderita akan
mengalami kesulitan bernafas, sesak dalam dada, dan nafas berbunyi.

13

Asma pada kehamilan, terutama apabila berat, dapat mempengaruhi hasil


kehamilan secara bermakna. Dalam sebagian besar penelitian, dijumpai
peningkatan insiden preeklamsia, persalinan preterm, bayi berat lahir rendah, dan
mortalitas perinatal. Gangguan pada janin diperkirakan disebabkan oleh
kombinasi beberapa faktor, yaitu berkurangnya aliran darah uterus, berkurangnya
aliran balik vena ibu, dan pergeseran kurva disosiasi oksihemoglobin ke kiri
akibat keadaan basa.
Terapi farmakologi asma selama kehamilan tidak mempunyai perbedaan
dengan terapi asma pada wanita yang tidak hamil. Idealnya, selama kehamilan
adalah tidak menggunakan terapi obat-obatan terutama selama trimester pertama
karena dapat menyebabkan terjadinya kelainan kongenital. Edukasi dan
pencegahan lebih diutamakan untuk pasien asma dalam kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham, Gary. Obstetri Williams,Edisi ke 21 Vol 2. EGC, Jakarta,
1375-1380. 2006
2. Ramaiah Savitri, Asma. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta. 2006
3. Danusantoso Halim, Asthma. Universitas Trisakti. 2002

14

4. Surya Kant. Journal of Asthma, India Asma Alergi J Immunol.


MedikoKG. Al University. 2006
5. http://www.nih.gov/news/pr/jan2005/nhlbi11.htm. New Treatment
Guidelines for Pregnant Women with Asthma. Diakses 13 Maret 2011.
6. Michael Schatz. Asthma in Pregnancy. N Engl J Med 2009; 360:1862-1869.
7. http://www.nhlbi.nih.gov/health/prof/lung/asthma/astpreg.htm. Managing
Asthma During Pregnancy; Recommendation for Pharmacologic
Treatment. Update 2004.
8. Guidelines for the Diagnosis and Managemnet of Asthma. National
Institutes Of Health. Pubication number 08-5846 Oktober 2007.