Anda di halaman 1dari 8

PAPER AGROEKOLOGI

Good Agriculture Practices (GAP) yang


Mengambarkan Teknologi Praktis dari Prinsip Dasar LEISA

Oleh :
Ihda Andrey Yanuar S

(20150210093)

PROGRAM STUDI AGRORTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

Pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) muncul akibat rusaknya


lingkungan yang digunakan sebagai bagian dari pertanian. Rusaknya lingkungan
ini berakibat kepada kualitas hidup yang menurun dengan hilangnya
keanekaragaman hayati dan berkurangnya atau tidak tersedianya makanan untuk
mencukupi kebutuhan makhluk hidup terutama pada bidang pertanian. Faktor
utama dari hal ini adalah terlalu tingginya penggunaan external input yang
menyebabkan polusi lingkungan (tanah, air maupun udara). Untuk mengatasi hal
ini muncul pemikiran akan mengurangi dampak tersebut, yakni dengan pertanian
berkelanjutan (Sustainable Agriculture).
Pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) memiliki arti sistem
pertanian harus mampu mempertahankan produktivitas, apabila ditinjau dari segi
ekologi, sosial, dan tekanan ekonomi, dan sumberdaya terbarukan atau renewable
(Sutanta, 1995). Tujuan dari sistem pertanian ini adalah keberhasilan mengelola
sumberdaya lokal untuk pertanian dalam memenuhi perubahan kebutuhan
manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta
konservasi sumber daya alam. Sistem pertanian ini berwawasan lingkungan
dengan selalu berhubungan dengan tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan,
pendapatan dan kesehatan agar tetap lestari (Adikarsa, 2008).
Dalam menjalankan sistem ini, perlu adanya pedoman dalam rangka
pelaksanaannya di lapangan. Pedoman tersebut adalah Good Agriculture
Practices. Menurut KEMENTAN (2010), Good Agriculture Practices (GAP)
memiliki arti sebagai suatu pedoman yang menjelaskan cara budidaya
tumbuhan/ternak yang baik agar menghasilkan pangan bermutu, aman, dan layak
dikonsumsi. Adapun pedoman/standar pekerjaan ini dalam setiap usaha pertanian
agar produksi yang dihasilkan memenuhi standar internasional. Standar ini harus
dibuat dalam bentuk manual (yang tentu saja akan secara terus menerus
diperbaiki) yang akan diterapkan oleh petani di lapangan. Dengan mengikuti
manual tersebut secara tepat, maka produksi pertanian akan sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan (Agroland, 2008). Dalam hal ini, diperlukan kontrol
kualitas yang dilakukan dengan mengecek proses produksi, yaitu meliputi
penyimpanan, kualitas, dan produktivitas hasil dari lapangan.

Menurut Agroland (2008), GAP adalah praktek pertanian yang bertujuan


untuk:

Memperbaiki kualitas hasil berdasar pada standar spesifik

Menjamin penghasilan yang tinggi

Menjamin teknik produksi yang sehat

Maksimasi efisiensi dalam penggunaan sumberdaya alam

Mendorong pertanian berkelanjutan

Minimasi resiko pada lingkungan


Dalam menjalankan GAP ini dapat dilakukan dengan berbagi konsep

sistem pertanian keberlanjutan, salah satunya adalah LEISA. LEISA (Low


External Input Sustainable Agriculture) merupakan suatu pilihan yang layak bagi
petani dan bisa melengkapi bentuk-bentuk lain produksi pertanian. Karena
sebagian besar petani tidak mampu untuk memanfaatkan input buatan atau hanya
dalam jumlah yang sangat sedikit, maka perhatian perlu dipusatkan pada
teknologi yang bisa memanfaatkan sumber daya lokal secara efisien (Dewi, 2013).
Petani yang kini menerapkan HEIA, bisa saja mengurangi pencemaran dan biaya
serta meningkatkan efisiensi input luar dengan menerapkan beberapa teknik
LEISA.
Menurut Dewi (2013), sistem pertanian ini mengacu pada bentuk-bentuk
pertanian dengan berusaha mengoptimalkan sumber daya lokal yang ada dengan
mengkombinasikan berbagai macam komponen sistem usaha tani, yaitu tanaman,
hewan, tanah, air, iklim, dan manusia sehingga saling melengkapi dan
memberikan efek sinergi yang paling besar. Cara pemanfaatan input luar hanya
bila diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem dan
meningkatkan sumber daya biologi, fisik, dan manusia. Dalam memanfaatkan

input luar, perhatian utama diberikan pada maksimalisasi daur ulang dan
minimalisasi kerusakan lingkungan.
LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) tidak bisa
dipresentasikan sebagai solusi mutlak terhadap masalah-masalah pertanian dan
lingkungan yang mendadak di dunia, tetapi LEISA bisa memberikan kontribusi
yang berharga untuk memecahkan beberapa permasalahan tersebut karena sistem
ini merupakan suatu pendekatan pada pembangunan pertanian yang ditujukan
pada situasi di daerah-daerah pertanian tadah hujan yang terabaikan oleh
pendekatan-pendekatan konvensional.
Dalam melaksanakan GAP, LEISA memiliki beberapa prinsip dasar, antara
lain :
Menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman dengan
pengelolaan bahan organik dan peningkatan kehidupan dalam tanah.
Optimalisasi ketersediaan unsur hara dan penyeimbangan arus unsur hara
melalui pengikatan nitrogen, pemompaan unsur hara, daur ulang dan
pemanfaatan pupuk buatan
Minimalisasi kerugian akibat iklim dengan pengelolaan iklim mikro, air
dan pengendalian erosi
Minimalisasi kerugian akibat OPT dengan cara aman
Saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumber daya genetik.
Adapun penggambaran teknologi praktis dari LEISA sesuai prinsip
dasarnya Sistem pertanian LEISA berkaitan erat dengan pembangunan pedesaan
(Sustainable Agriculture and Rural Development atau SARD) karena selama ini
aktivitas produksi dan konsumsi pertanian terbesar berada di daerah pedesaan.
Contoh dari penerapan ini adalah sebagai berikut :
1. Mengintegrasikan pemeliharaan unggas (seperti ayam), pengelolaan
tanaman sayuran, serta pemeliharaan ikan (khususnya ikan lele) dengan
metode

longyam

(balong-ayam).

Penerapann

konsep

LEISA ini

merupakan bentuk pertanian yang berupaya mengoptimalkan penggunaan


sumber daya yang tersedia secara lokal dengan mengkombinasikan
komponen yang berbeda dalam sistem lapang produksi (tanaman, hewan,

air, iklim, dan manusianya) sehingga komponen-komponen tersebut saling


melengkapi dan memiliki pengaruh sinergik yang maksimal. Penerapan
sistem peternakan terpadu dengan konsep LEISA diharapkan mampu mensupply kebutuhan makanan sehari-hari untuk meminimumkan dana
pembelian bahan pokok. Selain itu, keberadaan peternakan terpadu ini
dapat dijadikan media pembelajaran untuk berternak dan bertani bersamasama. Berdasarkan komponen-komponen yang dalam sistem peternakan
terpadu yang akan dilaksanakan, tanaman sayuran akan menghasilkan
produk samping berupa hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan
ternak dan ikan. Kotoran ternak dapat digunakan untuk memupuk tanaman
dan pakan ikan, sedangkan kotoran ikan juga dapat digunakan untuk
memupuk tanaman. Sehingga dari ketiga jenis kegiatan tersebut terdapat
aliran energi/biomasa yang berkelanjutan yang dapat menunjang konsep
LEISA mengenai saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan
sumber daya genetik.
2. Mengembangkan dan menerapkan suatu konsep PHT (Pengendalian Hama
Terpadu) dengan tujuan untuk menurunkan tingkat penggunaan pestisida
atau menggunakan pestisida secara bijaksana. Melalui PHT ini,
lingkungan pertanian dan dinamika populasi hama diatur, semua teknik
dan metoda yang sesuai (biologi, genetika, mekanis dan kimia) digunakan
sedemikian rupa sehingga populasi hama dapat ditekan dibawah ambang
batas yang dapat menimbulkan kerusakan secara ekonomi. Melalui konsep
ini, biaya perlindungan tanaman dan penggunaan pestisida dilakukan
secara lebih efisien dan pengaruh negatif terhadap lingkungan dapat
ditekan karena secara tradisional, para petani telah mempunyai resep
ataupun pengalaman untuk menekan pengaruh negatif dari OPT yang
berupa gulma, tikus, burung, maupun serangga. Namun, mereka mungkin
tidak pernah tahu tentang penyakit tanaman yang diakibatkan oleh
mikroorganisme, tetapi cara-cara praktis yang telah dilaksanakan petani
ternyata mampu menekan populasi hama dan penyakit. Semua cara ini
bersifat preventif dan tidak memberantas sama sekali hama yang ada
(meminimalisasi kerugian akibat OPT/prinsip dasar keempat) tetapi hanya

menekan populasi dan mempertimbangkan keseimbangan hayati. Ada


beberapa kategori perlindungan tanaman terhadap hama penyakit :
Sanitasi, seperti menggunakan tanaman yang sehat, benih yang bebas
hama dan penyakit, menghilangkan temapt yang terserang.
Pertanaman ganda, misalnya pertanaman campuran, penggiliran tanaman,
tanaman perangkap, tanaman pelindung, dan tanaman inang.
Cara bercocok tanam, yaitu dengan pemupukan, pemulsaan, pengolahan
tanah, penggenangan, penanaman, serta mengatur jarak tanam.
Pemberantasan secara mekanis, misalnya seperti mencabut

dan

mengangkat secara mekanis, mengolah menggunakan cangkul, mengolah


tanah, perangkap mekanis, membakar, maupun menimbulkan bunyibunyian untuk mengusir hama.
Pemberantasan secara biologi, yakni dengan mengembangkan dan
mempertahankan predator alamiah seperti burung, serangga, mikrobia dan
gulma.
Penggunaan bahan kimia alamiah yang berasal dari tumbuhan maupun
buatan seperti banglay, sereh wangi, daun mindi, dan daun sirsak, namun
dalam penggunaannya yang bijaksana untuk bahan kimia sintetis.
Pengaturan cara penyimpanan hasil panen yang baik, agar tidak
menurunkan hasil yang telah didapatkan, dan masih banyak lagi.

3. Teknologi penanaman padi menggunakan sistem Intensifikasi Padi Aerob


Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO). Teknologi ini meningkatkan hasil
produksi dibanding dengan metode SRI dan konvensional dikarenakan
teknologi IPAT-BO dinilai baik, baik secara hasil produksi,

tingkat

perakaran tanaman menjadi kuat dengan rumpun yang banyak, dan


mengefisiensikan air, karena menggunakan sistem aerob sehingga tidak
seperti konvensional (anaerob). Teknologi ini merupakan sistem produksi
yang holistik (terpadu) dengan menitikberatkan pemanfaatan kekuatan
biologis tanah, pengelolaan tanaman, pemupukan dan tata air secara
terpadu dan berencana (sesuai dengan prinsip nomor satu; menjamin
kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman dengan pengelolaan
bahan organik dan peningkatan kehidupan dalam tanah).

Pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) muncul akibat rusaknya


lingkungan yang digunakan sebagai bagian dari pertanian. Dalam menjalankan
sistem ini, perlu adanya pedoman dalam rangka pelaksanaannya di lapangan
Good Agriculture Practices (GAP). GAP ini dapat dilakukan dengan berbagi
konsep sistem pertanian keberlanjutan, salah satunya adalah LEISA (Low
External Input Sustainable Agriculture) yang merupakan suatu pilihan yang layak
karena selain dapat mengurangi dampak akan rusak lingkungan juga dapat
memperbaiki dampak negatif karena minimnya penggunaan akan eksternal inpul.
Adapun penerapan yang dapat dilakukan dari sistem pertanian LEISA
antara lain, yaitu dengan mengembangkan dan menerapkan suatu konsep PHT
(Pengendalian Hama Terpadu), mengembangkan dan menerapkan suatu konsep
PHT (Pengendalian Hama Terpadu), dan sistem Intensifikasi Padi Aerob
Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO).

Daftar Pustaka
Adikarsa. 2008. Pertanian berkelanjutan, tawaran model pengembangan sistem
pertanian yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dalam menyongsong
pertanian
masa
depan.
https://adikarsa.wordpress.com/2008/07/11/pertanian-berkelanjutantawaran-model-pengembangan-sistem-pertanian-yang-ramah-lingkungan-

berkelanjutan-dalam-menyongsong-pertanian-masa-depan/. Diakses pada 28


April 2016.

Agus,

N.
dkk..
SUSTAINABLE
AGRICULTURE.
http://fp.umy.ac.id/file.php/69/BAHAN_KULIAH/SUSTAINABLE_AGRI
CULTURE-baca.pdf. Diakses pada 20 April 2016.

Agroland.
2008.
Good
Agricultural
Practices.
https://agroland.wordpress.com/good-agricultural-practices/.
Diakses pada 21 April 2016.
Dewi,
S.
L.
2013.
LEISA.
https://plus.google.com/101789666833315748759/posts/9v
QJBNLuMaj. Diakses pada 22 April 2016.

Hedi P, dkk.. 2013. PENGEMBANGAN LEISA DI DESA PASIR BIRU,


KEC.
RANCAKALONG,
KAB.
SUMEDANG.
https://www.academia.edu/6086854/PENGEMBANGAN_LEISA
_MAK1_fixfix_KUMPUL. Diakses pada 26 April 2016.

Inaya, dkk.. 2014. Penerapan Sistem Peternakan Terpadu dengan Konsep LEISA
(Low External Input Sustainable Agriculture) di Pondok Pesantren Terpadu
Darul
Amal,
Sukabumi.
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73764. Diakses pada 24 April
2016.

KEMENTAN. 2010. PERATURAN MENTERI PERTANIAN TENTANG


SISTEM JAMINAN MUTU PANGAN HASIL PERTANIAN.
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/horti/Permentan202010JaminanMutu.pdf. Diakses pada 23 April 2016.
Sutanta R. 1995. Pengembangan Pertanian Berwawasan Lingkungan Dalam
Menyongsong Pertanian Masa Depan. Buletin Tani Lestari No. 6 Tahun III.
Hal. 6-25.