Anda di halaman 1dari 9

Pentingnya Membangun Pendidikan bagi Wanita

Oleh: Ratna Wijayanti


Pendidikan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan halhal terkecil hingga hal-hal terbesar yang normalnya akan dilewati oleh setiap manusia.
Pendidikan adalah bekal untuk mengejar semua yang ditargetkan oleh seseorang dalam
kehidupannya sehingga tanpa pendidikan, maka logikanya semua yang diimpikannya akan
menjadi sangat sulit untuk dapat diwujudkan.
Pendidikan seseorang berawal dari sebelum ia lahir seperti yang banyak dilakukan orang,
misalnya dengan mendengarkan musik, membaca cerita kepada calon bayi bahkan bertutur
kata serta bertingkah laku yang baik selama bayi dalam kandungan, dengan harapan dirinya
bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.Anggota keluarga mempunyai peran
pendidikan yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka,
walaupun pendidikan dari anggota keluarga berjalan secara tidak resmi. Salah satu anggota
keluarga yang paling berperan dalam pendidikan adalah seorang ibu yaitu sesosok wanita
yang tanpa kenal lelah mendidik putra putrinya sampai mencapai kesuksesan.
Sering kita mendengar adanya sebuah statement tentang pembatasan wanita dalam dunia
pendidikan. Statement ini sudah menyebar di telinga masyarakat, apalagi masyarakat awam
yang masih kental dengan budaya mereka. Kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa
seorang wanita tidak seharusnya sekolah tinggi-tinggi untuk melanjutkan sekolahnya, apalagi
sampai mendapatkan beasiswa keluar negri, karena pada akhirnya ketika mereka sudah
berkeluarga akan lebih besar peran mereka untuk mengurusi suami. Ditambah lagi ketika
sudah dikaruniai anak, otomatis peran mereka sebagai ibu rumah tangga akan semakin aktif.
Tidak sedikit orang berpikir bahwa pendidikan tidak terlalu penting bagi wanita, karena
bila pada saatnya nanti seorang wanita menikah dan menjadi seorang istri, maka wanitalah
yang diberinafkah oleh suami, bukan malah wanita yang memberinafkah kepada suami
seperti kebanyakan orang sekarang ini.Saya tidak meragukan sedikitpun mengenai istilah
ujung-ujungnya wanita pasti kembali ke dapur juga, karena semua itu adalah relita yang
memang sulit untuk dibantahkan.
Selain untuk menunjang karir, pendidikan juga berfungsi untuk memperbaiki pola pikir,
memperbanyak relasi, dan menambah wawasan yang mungkin akan berguna bagi diri sendiri,
keluarga, sahabat, orang lain, dan khususnya bagi suami apabila suatu saat nanti wanita
menjadi seorang istri.
Telah banyak kita ketahui, zaman telah berubah. Dahulu, seorang laki-laki identik dengan
tugasnya yang mencari nafkah untuk keluarga, sedangkan seorang perempuan bekewajiban
untuk mengurus dan mendidik anak, serta menjadi seorang ibu rumah tangga. Tetapi, zaman
sekarang perempuan juga bisa melakukan tugas seorang laki-laki untuk mencari nafkah tanpa
mengesampingkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Perempuan tentunya
juga berhak mengenyam pendidikan yang tinggi. Perempuan berhak untuk mengejar cita-cita
nya. Jadi, tidak ada anggapan bahwa pendidikan tinggi untuk perempuan itu sia-sia.
Pendidikan bagi perempuan juga dapat menjadi bekal di masa mendatang. Tentunya, kita
tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, setahun, atau sepuluh tahun lagi.
Bila suatu keadaan mendesak terjadi, perempuan pun bisa menggantikan peran seorang laki-

laki untuk menafkahi keluarganya. Pernah saya membaca di sebuah media ada percakapan
antara motivator terkenal dan seorang penanya. Ketika seorang penanya bertanya
padanya,Apa gunanya istri anda mengenyam pendidikan tinggi sampai ke luar negri, bila
pada nyatanya sekarang dia tidak berkarir?Lalu sang motivator pun menjawab, Istri saya
memang seorang ibu rumah tangga, ibu dari anak-anak saya, wanita yang saya cintai,
penasehat saya dalam membangun usaha, pemilik asset dan pengelola dari bisnis-bisnis
keluarga serta pemelihara kesehatan keluarga. Pendidikan istri saya sangatlah berguna.Dari
sini kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa pendidikan itu penting bagi setiap orang
termasuk kaum perempuan. Kaum perempuan juga berhak mengeyam pendidikan yang
tinggi.
Pernah suatu ketika saya mengalami sendiri, pengalaman yang sangat luar biasa tentunya dan
tidak akan pernah terlupakan seumur hidup saya. Sejak kecil saya berkeinginan sekali untuk
melanjutkan sekolah setinggi tingginya, bersyukur pada Allah saya bisa melanjutkan
pendidikan sampai uiversitas hingga akhirnya setelah saya lulus saya bisa bekerja di salah
satu lembaga pendidikan swasta, pada saat bekerja saya berfikir bahwa saya harus lebih bisa
meningkatkan kualitas diri saya dengan melanjutkan pendidikanyang lebih tinggi lagi, yaitu
dengan melanjutkan pendidikan pascasarjana, tetapi tidak terbayangkan sebelumnya lembaga
tempat saya bekerja kurang memberikan dukungan dan dorongan pada saya. Kemudian
dengan kegigihan dan kemauan kerassaya diterima di salah satu universitas untuk mengambil
program Pascasarjana. Pada saat saya mengenyam pendidikan tersebut berbagai kendala saya
dapatkan. Saya sadar semua itu hambatan yang harus saya hadapi, dan saya berusaha kuat
karena saya yakin memang tidak mudah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, di
butuhkan kemauan, doa, dan usaha yang gigih. Seperti apa yang di katakan oleh Thomas Alva
Edison, Genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration . Kemampuan otak itu
1 persen, 99 persen adalah usaha dan kerja keras. Tapi pada nyatanya, semua orang bisa
untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan bila mereka mau bekerja keras dan tidak
pernah takut akan kegagalan.
Pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi berbagai aspek
dalam kehidupan kita. Mengeyam pendidikan tinggi bukan hanya sekedar mendapatkan
ijazah. Ijazah bukanlah tujuan utama untuk megenyam pendidikan. Perlu kita ketahui,
pendidikan sebenarnya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak,
dan tentunya mengajarkan kita untuk menjadi seseorang yang bertanggung jawab. intinya
Education is very important.

Mengapa pendidikan begitu penting bagi wanita?

Pendidikan begitu penting untuk menunjang banyak hal, salah satunya adalah untuk
menunjang karir khususnya bagi seorang laki-laki (meskipun pada kenyataannya tidak sedikit
orang yang sukses berkarir meskipun tanpa pendidikan yang layak).
Memiliki karir yang mantap artinya memiki keuangan yang mantap pula, entah itu bersumber
dari berbisnis maupun bekerja.

Disini saya akan mencoba membahas mengenai makna pentingnya pendidikan bagi seorang
wanita.

Tidak sedikit orang berpikir bahwa pendidikan tidak terlalu penting bagi wanita, karena
bila pada saatnya nanti seorang wanita menikah dan menjadi seorang istri, maka wanitalah
yang diberi nafkah oleh suami, bukan malah wanita yang memberi nafkah kepada suami
seperti kebanyakan orang sekarang ini.

Saya tidak meragukan sedikitpun mengenai istilah ujung-ujungnya wanita pasti kembali ke
dapur juga, karena semua itu adalah relita yang memang sulit untuk dibantahkan.

Selain untuk menunjang karir, pendidikan juga berfungsi untuk memperbaiki pola pikir,
memperbanyak relasi, dan menambah wawasan yang mungkin akan berguna bagi diri sendiri,
keluraga, sahabat, orang lain, dan khususnya bagi suami apabila suatu saat nanti wanita
menjadi seorang istri.

Setelah menjadi seorang istri, wanita akan memiliki anak yang tentunya akan lebih dekat
dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya sendiri, karena sebagian besar waktu seorang
wanita yang telah menikah biasanya dihabiskan di rumah, sehingga waktu bersama anakpun
menjadi lebih banyak.
Beriring pertumbuhannya, anakpun akan banyak bertanya mengenai hal-hal baru yang ingin
ia mengerti dan ia ketahui, dan disitulah saat yang tepat bagi seorang wanita untuk
menggunakan ilmu dan pengetahuan yang telah di dapat semasa ia muda.

Salah satu hal penting yang ingin saya paparkan sekarang adalah tentang peran seoarang
wanita yang terkadang dilupakan setelah ia menjadi seorang istri yang tidak hanya sekedar
menjadi teman tidur bagi suami maupun menyelesaikan segala pekerjaan rumah, baik itu
yang berhubungan dengan kepentingan suami maupun anak.
Hal penting itu ialah peran seorang istri sebagai partner hidup suami, dimana seorang istri
harus sanggup mendengarkan, memahami dan memberi masukan mengenai permasalah
pekerjaan yang di hadapi suami. Karena tidak dipungkiri sebagian besar waktu laki-laki
diperguanakan untuk mencari nafkah bagi keluraga, baik itu dengan berbisnis maupun
bekerja... Dan saat itulah pendidikan seorang istri menjadi berguna bagi seorang suami, dan
menurut saya itulah salahsatu contoh kehidupan berkeluarga yang saling melengkapi.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------*Pendidikan hidup bagi seorang wanita tidak hanya bisa cari dari lingkungan sekolah, karena
lingkunga pekerjaan dan lingkungan bermainpun bisa dijadikan sarana pendidikan sebelum
menempuh pernikahan.
*Tidak menutup kemungkinan seorang perempuan aktif di luar rumah untuk melakukan hahhal yang berguna bagi keluarga dan orang-orang disekitarnya. Dengan catatan tanpa
melupakan dan selalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu.

Sekian dan semoga bermanfaat.


Mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati dan mohon maaf tidak bermaksud
menggurui.
Hanya sedikit berbagi ilmu :)
Kritik dan saran silahkan diutarakan derang baik.

top 2%
3,995

H a l - h a l ya n g p e r l u d i p e r h a t i k a n m e n ya n g k u t p e r b e d a a n j e n d e r
d a l a m pendidikan, baik formal maupun non-formal, dapat dikategorikan menjadi
duatema besar, yaitu kebijakan dan pola
pembelajaran.Kebijakan1 . A f f i r m a s i Menyadari akan masih terbatasnya tingkat
partisipasi perempuan di duniapendidikan, terutama di daerah-daerah pedesaan, maka
diperlukan
affirmativeaction
untuk meningkatkan akses kaum perempuan ke dunia pendidikan. Ini yangdimaksud dengan
tidak memperlakukan secara sama sebagaimana dikemukakanoleh teori sosialisasi di
atas. Karena perempuan lebih belakangan memperoleh akses ke dunia pendidikan
maka diperlukan perhatian khusus agar mereka mampumengejar ketertinggalan dari
kaum laki-laki. Contoh yang paling nyata adalahketika dikemukakan kuota
tertentu untuk kaum perempuan menduduki kursi diparlemen, banyak partai yang tidak
siap dengan calon perempuan yang kapabelu n t u k d u d u k d i p a r l e m e n , k a r e n a i t u
d i p e r l u k a n a f f i r m a s i t e r h a d a p k a u m perempuan.K e t e r t i n g g a l a n k a u m
p e r e m p u a n d i d u n i a p e n d i d i k a n d e w a s a i n i l e b i h disebabkan oleh kurangnya
kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikanunutk kaum perempuan
sebagaimanahalnya bagi kaum laki-laki. Contoh yangsering diangkat
kepermukaan adalah apabila dalam sebuah keluarga memiliki kesulitan ekonomi dan
menyebabkan salah seorang anak untuk tidak melanjutkans e k o l a h , m a k a y a n g
s e r i n g k a l i m e n j a d i k o r b a n a d a l a h a n a k p e r e m p u a n . Pertimbangannya
adalah karena perempuan kelak akan menjadi ibu rumah tanggadan karenanya tidak
memerlukan pendidikan yang tinggi.Lebih lanjut, kebijakan ini bukan hanya
diperlukan untuk mempermudahkaum perempuan memasuki dunia pendidikan
formal, tapi yang penting jugaharus ada proses pencerahan kepada para orang tua
bahwa perempuan tidakboleh tertinggal dalam pendidikan formal hanya karena dia
perempuan.2 . l i n g k u n g a n ya n g r a m a h j e n d e r Kebijakan yang lain yang perlu
diperhatikan adalah bagaimana menciptakanlingkungan yang sensitif jender, baik di rumah,
sekolah maupun lingkungan sosiallainnya. Menurut Kommer (2006, h. 250),
menciptakan lingkungan yang sensitif jender tidak selalu berarti memperlakukan lakilaki dan perempuan secara sama,
9
tetapi dengan memperhatikan kebutuhan mereka yang berbeda. Lingkungan yangdimaksud
dapat berupa lingkungan fisik dan sosial.Lingkungan fisik yang sensitif jender berarti
memperhatikan aspek-aspekfeminin dan maskulin dari sebuah lingkungan.
Sebagai contoh, pengaturan tataruang yang artistik dan rapih dengan perhatian
kepada hal-hal detail di sebuahlingkungan dapat dikategorikan sebagai aspek feminin

dari sebuah lingkungan. Disamping itu, lingkungan fisik yang sensitif jender juga
memperhatikan kebutuhankhusus perempuan dan laki-laki yang sering terabaikan. Pemisahan
toilet laki-lakidan perempuan merupakan salah satu contoh dari hal tersebut.Pola
PembelajaranSebagaimana disebutkan di atas, dalam beberapa hal perempuan dan laki-laki
memiliki fungsi otak yang berbeda. Ini tidak berarti yang satu lebih superiordibanding yang
lain. Oleh karena itu, perbedaan tersebut perlu diperhatikan agarm e r e k a m a m p u
m e n g e m b a n g k a n p o t e n s i ya n g a d a p a d a d i r i m e r e k a s e c a r a o p t i m a l . D i
s i n i l a h d i p e r l u k a n n ya p e n g e t a h u a n d a n s e n i s i t i v i t a s m e n g e n a i perbedaan
potensi jender di kalangan pengajar.S e b a g a i c o n t o h , d i s e k o l a h s e k o l a h k i t a d i I n d o n e s i a , s i s t e m pemeringkatan atau rangking
masih menjadi persoalan bagi banyak orang. Dari perspektif jender, sistem ini tidak
menguntungkan bagi kaum perempuan, karenamenuntut mereka untuk berkompetisi
secara terbuka dengan teman-temannya, m e s k i p u n p a d a k e n ya t a a n n ya b a n ya k
j u g a k a u m p e r e m p u a n ya n g m e m i l i k i peringkat tinggi. Padahal secara
genetic
, p e r e m p u a n l e b i h u n t u k k o o p e r a t i f dibanding kompetitif.Kajian akan hubungan
antara perbedaan jender dengan dunia pendidikanbermuara pada kesimpulan banyaknya
perbedaan antara perempuan dan laki-laki.A k i b a t n ya , a d a a n g g a p a n b a h w a
pemisahan antara perempuan dan laki-laki,sebagaimana dilakukan oleh
s e k o l a h - s e k o l a h ya n g b e r o r i e n t a s i a g a m a , p e r l u dilakukan. Namun sebelum
sampai pada kesimpulan di atas, perlu disadari bahwapemisahan kelas laki-laki dan
perempuan bukanlah sesuatu yang ekonomis dan praktis. Bahkan yang lebih penting
lagi, pemisahan tersebut justru mengabaikanr e a l i t a m a s ya r a k a t ya n g t i d a k
t e r k o t a k - k o t a k b e r a s a r k a n j e n d e r. P e m i s a h a n pendidikan laki-laki dan
perempuan dikhawatirkan justru akan membuat kedua b e l a h p i h a k m e n j a d i t i d a k
s e n s i t i f t e r h a d a p p e r b e d a a n j e n d e r, ya n g p a d a gilirannya akan merugikan
masyarakat, terutama kaum perempuan.
10
Penutup
Diskusi mengenai jender dan pendidikan menimbulkan banyak pertanyaanyang
memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Yang pasti adalah bahwa perbedaantersebut
memiliki implikasi yang nyata terhadap dunia pendidikan. Akan sangat menarik dan
berguna jika penelitian mengenai hal ini terus dikembangkan gunam e m b e r i k a n
p e l a ya n a n p e n d i d i k a n ya n g o p t i m a l k e p a d a p a r a p e s e r t a d i d i k .
Wallahu alam bissawab

Pendidikan bukanlah sebuah pembatasan terhadap sebuah golongan ataupun jenis.


Pendidikan juga bukan sebuah hal ekstrim bagi sebagian golongan. Pendidikan adalah sebuah
hak bagi setiap manusia tanpa membedakan jenis ataupun golongan tertentu. Baik pria
maupun wanita adalah dua individu yang memiliki hak sama untuk memperoleh pendidikan.
Sudah merupakan kewajiban bagi seorang muslim (pria dan wanita) untuk mendapatkan
pengetahuan dan pendidikan. Pendidikan menjadi sebuah bekal dan hal substansial bagi umat
manusia untuk mengetahui, mengerti dan memahami sesuatu yang tentunya akan bermanfaat
bagi kehidupan dan keberlangsungan hidup.
Wanita dan Pendidikan dalam Islam
Islam adalah salah satu agama dari beberapa agama di dunia. Seluruh ajarannya bersumber
dari wahyu Ilahi yang tidak akan berubah sampai kapan pun. Namun, Islam sering kali
dianggap sebagai agama yang tidak memihak wanita karena sebagian aturan-aturannya
dianggap mengekang kebebasan kaum wanita. Salah satunya adalah pengekangan terhadap
keterlibatan wanita dalam sebuah pendidikan.
Pernyataan tersebut tidak benar adanya. Islam adalah agama yang sangat memuliakan wanita.
Aturan-aturan Islam senantiasa memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia. Sebab,
Islam lahir dari Zat Yang menciptakan manusia. Islam memandang bahwa kebahagiaan dan
kemuliaan seseorang tidak diukur dari materi, golongan tertentu ataupun kekuasaan, namun
lebih kepada tingkat iman dan takwa seseorang sebagai umat manusia. Perwujudan terhadap
kedua spek tersebut akan tercermin pada derajat ilmu pengetahuan yang dimiliki, sehingga
wajiblah bagi setiap umat untuk memiliki pengetahuan dan mendapatkan pendidikan.
Pentingnya belajar dan mencari ilmu dalam Islam seperti yang telah diperintahkan oleh Allah
SWT dalam surat yang petama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT
dalam firman-Nya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-Alaq : ayat 1-5).
Islam begitu menekankan betapa pentingnya pendidikan itu. Dalam Al-Quran surat AtTaubah ayat 122, Allah SWT berfirman: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi
semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara
mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan

untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Berdasarkan Al-Quran surat Al-Mujadilah ayat 11, niscaya Allah akan memberikan derajat
yang tinggi serta penghargaan kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. AlQuran surat Al-Imran ayat 18 memasukkan orang-orang yang berilmu diantara mereka yang
menyatakan tentang Keesaan Allah. Menurut hadits lainnya bahwa seseorang yang pergi
belajar mencari ilmu, dianggap sedang berada di jalan Allah (berjihad) sampai kembali lagi.
Islam pun memandang bahwa ditangan seorang wanita tergenggam masa depan umat karena
wanita adalah tiang Negara, yang menentukan tegak atau runtuhnya sebuah Negara atau
masyarakat. Islam pun mencerdaskan kaum wanita, karena wanita adalah bagian dari warga
negara sebagaimana kaum pria. Keduanya bertanggung jawab untuk membawa umatnya ke
keadaan yang lebih baik dan lebih maju.
Pendidikan, Eksistensi dan Peran Wanita
Beragam persepsi hadir dan berkembang diranah publik tentang wanita. Eksistensi dan
perannya sering kali menimbulkan multi persepsi. Sebagian kalangan yang ekstrim dengan
budaya patriarkat tetap menjadikan wanita sebagai individu tak bernilai dan hanya berperan
seputar rumah, anak dan suami.
Islam telah memberikan ruang bagi wanita untuk ikut terlibat dalam sebuah proses
pencapaian ilmu dan pemerolehan pendidikan, tanpa pernah melupakan fungsinya dalam
kehidupan keluarga. Hal tersebut juga didukung dalam berbagai kebijakan pemerintah seputar
hak wanita dalam pendidikan. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional serta Pancasila dan UUD 1945 Pasal 32 Ayat 1 dan 2 berbunyi : (1) Setiap warga
Negara berhak dan layak mendapatkan pendidikan, dan (2) Setiap warga Negara bebas
memilih pendidikan. Mengacu pada fungsi pendidikan untuk mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, sesuai yang tercantum dalam amanat pancasila dan UUD 1945, tentunya
tidak ada perbedaan baik pria maupun wanita terhadap pendidikan.
Adanya legitimasi terkait hak wanita dalam memperoleh pendidikan, tak lantas menjadi
sebuah kekuatan bagi wanita untuk mendapatkan peran yang lebih ataupun setara dengan
pria. Masih banyaknya diskriminasi terhadap wanita dalam sebuah pendidikan menyebabkan
lemahnya posisi wanita akibat rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh. Kuantitas yang
berlebih tidak ditunjang dengan kualitas yang dihasilkan. Hal tersebut ditengarai oleh
beberapa hal seperti pembatasan pemerolehan pendidikan bagi wanita (hanya pada jenjangjenjang tertentu), kesalahan persepsi masyarakat terkait eksistensi wanita, minimnya
keterlibatan wanita dalam pengambilan kebijakan atau keputusan dan lain sebagainya. Sadar
atau tidak, fenomena tersebut akan berdampak pada eksistensi wanita dan perannya sebagai
individu yang berhak atas pendidikan dan ikut bertanggungjawab terhadap Negara.

Eksistensi atau keberadaan wanita dalam sebuah pendidikan sering diartikan sebagai sebuah
keegoisan. Beberapa kalangan memandang eksistensi wanita sebagai sebuah pergolakan atas
apa yang yang tidak menjadi haknya. Keraguan akan ketidakmampuan wanita dalam ranah
publik masih terus diperdebatkan. Akses wanita dalam dunia pendidikan kurang mendapat
perhatian dalam beberapa aspek kehidupan. Pembatasan wanita terhadap akses kehidupan
yang mencakup berbagai bidang kehidupan merupakan pembunuhan perlahan dalam
mematikan potensi wanita yang juga berkontribusi dalam memajukan Negara.
Pembangunan suatu bangsa yang abadi adalah pendidikan. Pendidikan merupakan pondasi
utama dalam suatu perubahan. Pencapaian terhadap pendidikan tidak memandang jenis
kelamin, suku, agama, maupun golongan. Pria dan wanita berhak dan berkewajiban untuk
terbentuknya tatanan masyarakat dan pembangunan yang adil dan sejahtera.
Peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan bagi wanita tentu akan berkontribusi positif
terhadap percepatan pembangunan bangsa. Wanita mempunyai peran besar dalam
menyiapkan generasi-generasi bangsa yang unggul, bermoral, beriman dan bertakwa serta
berakhlak. Semua komponen tersebut dapat terwujud dalam sebuah paduan peran yang tidak
hanya digariskan pada seorang pria semata, tapi juga wanita. Pendidikan hadir untuk menjadi
bekal dan kebutuhan setiap manusia dalam membangun regenerasi demi perkembangan dan
kemajuan Negara. Tanpa pendidikan, umat manusia akan hidup dalam ketidaktahuan atau
kebodohan sepanjang masa yang berdampak pada hancurnya sebuah Negara.
Bangun dan torehkan pendidikan tanpa melihat golongan tertentu. Pendidikan adalah hak
yang dimiliki oleh setiap umat, baik pria maupun wanita. Pemberdayaan terhadap kedua
potensi tersebut akan menjadi tolak ukur pembangunan dan kemajuan sebuah negara.***