Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL

DOKUMANTASI KEPERAWATAN
DI RUANG MELATI RSUD dr.HARYOTO
LUMAJANG

Oleh :
Kelompok C1 C15
1. Nur Ani Asdinia
2. Isnaini Damayanti
3. Rio Rega
4. Rita Novitasari
5. Halimatus Sakdiyah
6. Indah Fani Novianti
7. Moh. Fadli
8. Alanuari Khaki
9. Erlina Kartika Sari
10. Purwanti Nurfita Sari
11. Usman Budi
12. Umi Magfiroh
13. Dina Mei Handayani
14. Hanif Faiqotul
15. Feri Fiki Fendi

DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
2016

PRAKTEK PROFESI MANAJEMEN KEPERAWATAN


KELOMPOK C 1-15 ANGKATAN XVI
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
2016

PROPOSAL
DOKUMENTASI KEPERAWATAN
1. Latar belakang
Dokumentasi adalah bagian dari keseluruhan tanggung jawab perawat untuk
perawatan klien. Catatan klinis memfasilitasi pemberian perawatan, meningkatkan
kontinuitas perawatan, dan membantu mengoordinasikan pengobatan dan evaluasi
klien. Dan dokumentasi salah satu hal yang penting dalam penerapan MAKP. Perawat
profesional dimasa yang akan datang dihadapkan pada suatu tuntutan tanggung jawab
dan tanggung gugat terhadap segala tindakan yang dilaksanakan. Kesalahan sekecil
apapun yang dilakukan akan berdampak terhadap citra keperawatan secara
keseluruhan. Kesadaran masyarakat menggunakan jasa pengacara untuk memperoleh,
membela dan meminta tanggung jawab serta tanggung gugat dalam perawatan
kesehatan juga semakin meningkat.Untuk itu dibutuhkan sebuah pendokumentasian
yang lengkap dan jelas (Lyer & Camp, 2004).
Dokumentasi merupakan suatu catatan yang dapat dijadikan bukti hukum jika
ditemukan suatu masalah yang berhubungan dengan kejadian yang terdapat dalam
catatan. Pada sistem Dokumentasi yang digunakan oleh Ruang Melati RSUD dr.
Haryoto Kabupaten Lumajang untuk saat ini adalah pendokumnetasian model Model
dokumentasi SOR merupakan model dokumentasi yang berorientasi pada sumber.
Model ini dapat diterapkan pada klien rawat inap, yang didalamnya terdapat catatan
pesan dokter yang ditulis oleh dokter, dan riwayat keperawatan yang di tulis oleh
perawat. Namun demikian, secara umum catatan ini berisi pesan dari dokter. Catatancatatan dalam model ini ditempatkan atas dasar disiplin orang atau sumber yang
mengelola pendokumentasian.
Sistem SOR yang digunakan dilengkapi dengan adanya format pengkajian
yang berupa model, pendokumentasian kadang tidak lengkap, pengkajian yang
berorientasi pada SOR, lembar asuhan keperawatan, resume keperawatan dan buku
penunjang lain yaitu buku injeksi, observasi suhu nadi, dan laporan hasil perawat.
Namun dalam pengisian dokumentasi keperawatan masih belum sesuai standart,
dikarenakan kurangnya efisiensinya waktu untuk pendokumentasian keperawatan.

Selain itu hambatan dalam pelaksanaan pendokumentasian kadang tidak lengkap,


format kurang sistematis terfokus dalam masalah medis dan mobilisasi pasien yang
tinggi sehingga pendokumentasian kurang optimal.
Maka dari itu Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Lumajang pada
Praktek Klinik Manajemen akan mencoba melakukan pendokumentasian yang benar
dan sesuai dengan protap pendokumentasian. Pendokumentasian yang efektif
menggunakan standart terminology (pengkajian, diagnose, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi). Data yang relevan dan bermanfaat dikumpulkan kemudian dicatat
sesuai dengan prosedur, diagnose keperawatan disusun berdasarkan klasifikasi dan
analisa data yang akurat, rencana tindakan keperawatan ditulis dan dicatat sebagai
bagian dari catatan yang permanen, observasi dicatat secara akurat, lengkap dan
sesuai, evaluasi dicatat sesuai dengan urutan waktu, rencana tindakan yang direfisi
berdasarkan hasil yang diharapkan klien.
2. Tujuan
2.1 Tujuan Umum
Menerapkan sistem dokumentasi yang efektif, efisien, akurat dan menjamin
kepastian hukum, sesuai dengan standart terminology (pengkajian, diagnosa,
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi).
2.2 Tujuan Khusus
2.2.1. Mengidentifikasi cara pengkajian dengan format ROS.
2.2.2. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan, tindakan dan perkembangan klien
dengan menggunakan system pendokumentasian model PIE.
2.2.3. Mendokumentasikan tindakan keperawatan dengan lembar observasi.
2.2.4. Terbinanya koordinasi yang baik dan dinamis antara sesama atau dengan pihakk
lain melalui dokumentasi keperawatan yang efektif.
2.2.5. Melakukan timbang terima setiap pergantin shift.
2.2.6. Melakukan Ronde sesuai dengan standart.
2.2.7. Melakukan discharge-planning pada pasien yang akan pulang
2.2.8. Melakukan resume keperawatan pada pasien yang sudah pulang.
3. Manfaat
3.1. Sebagai bahan pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan di depan hukum.
3.2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
3.3. Sebagai sarana komunikasi terbuka antara perawat, klien, dan profesi lain.
3.4. Mempunyai nilai penelitian, sebagai bahan atau objek riset
3.5. Sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan
3.6. Sebagai referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan

3.7. Mengawasi, mengendalikan, dan menilai kualitas askep yang diberikan perawat.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian
Dokumentasi merupakan suatu catatan yang asli dapat dijadikan buktu
hukum, jika saat ditemukan masalah yang berhubungan dengan kejadian yang
terdapat dalam catatan tersebut. semua catatan otentik yang dapat dibuktikan atau
dijadikan bukti dalam persoalan hukum. Dokumentasi memainkan peran yang
penting daam beberapa area hukum termasuk klaim malpraktek medis (Hutahaean,
2010).
Dokumentasi keperawatan adalah bagian dari media komunikasi antara
perawat yang melakukan asuhan keperawatan dengan perawat lain atau dengan
tenaga kesehatan lain, serta pihak-pihak yang memerlukannya dan yang berhak
mengetahuinya. keterangan tertulis dari seluruh pelayanan keperawatan yang
diberikan kepada klien, baik pasien yang mengalami rawat inap ataupun rawat jalan
(Dinarty, 2009).
2. Tujuan Dokumentasi Keperawatan
Tujuan dari pendokumentasian keperawatan adalah:
2.1. Komunikasi
Sebagai cara bagi tim kesehatan untuk mengkomunikasiakn (menjelaskan)
perawatan klien termasuk perawatan individual, edukasi klien dan penggunaan
rujukan untuk pemulangan, adapun tujuan yang lain, diantaranya ;
2.1.1. Koordinasi asuhan keperawatan.
2.1.2. Mencegah informasi berulang.
2.1.3. Meminimalkan kesalahan dan meningkatkan asuhan keperawatan.
2.1.4. Penggunaan waktu lebih efisien.
2.2. Mekanisme pertanggungjawaban
2.2.1. Dapat dipertangggungjawabkan baik kualitas dan kebenaran.
2.2.2. Sebagai perlindungan hukum bagi perawat.
2.3. Metode pengumpulan data
2.3.1. Mencatat kemajuan pasien secara reliable dan objektif.
2.3.2. Mendeteksi kecenderungan yang mungkin terjadi.
2.3.3. Sebagai bahan penelitian.
2.3.4 Sebagai data statistik.
2.3.5. Berbagai aspek pasien : kebutuhan, kekuatan dan keadaan khusus.
Sarana untuk evaluasi
2.4. Sarana pelayanan keperawatan secara individu
2.4.1. Mencatat secara terintegrasi.

2.4.2. Sarana untuk meningkatkan kerjasama antar disiplin dalam tim kesehatan.
2.4.3. Sarana pendidikan lanjutan.
2.5.

Memantau kualitas asuhan keperawatan yang diterima dan kompetensi yang


berhubungan untuk asuhan keperawatan.

3. Standar Dokumentasi Keperawatan


3.1 Kepatuhan terhadap aturan pendokumentasian yang ditetapkan oleh profesi atau
pemerintah. Pencatatan tersebut menyediakan pedoman penggunaan singkatan, tanda
tangan, metode jika ada kesalahan, dan peraturan jika data terlambat masuk.
3.2 Standar profesi keperawatan dituliskan kedalam catatan kesehatan. Sesuai dengan
prosedur dalam catatan yang permanen. Data yang ada

menjabarkan apa yang

dilakukan perawat.
3.3 Peraturan tentang praktek keperawatan dapat dilihat pada catatan pelayanan
kesehatan. Data yang tertulis menunjukkan kegiatan perawat yang independent dan
interdependen.
3.4 Pedoman akreditasi harus diikuti. Penekanan yang khusus pada data tentang
kegiatan observasi dan evaluasi.
4. Dokumentasi Asuhan Keperawatan
4.1 Dokumentasian pengkajian keperawatan
Pengkajian keperawatan adalah fase pengumpulan data dari proses keperawatan
untuk mengumpulkan data yang sistematis. Tujuan dari pangkajian adalah untuk
mengumpulkan, mengorganisis dan mencatat data yang menjelaskan respon manusia
terhadap masalah-masalah kesehatan. Tujuan dari pencatatan data pengkajian
keperawatan adalah :
4.1.1 Mengidentifikasi kebutuhan pasien dan respon pasien yang dinyatakan dalam
diagnosa keperawatan yang mempengaruhi tindakan keperawatan yang diperlukan
4.1.2 Menggabungkan dan mengorganisir informasi yang dikumpulkan dari beberapa
sumber menjadi satu sumber umum, sehingga pola-pola kesehatan pasien dapat
dianalisa dan masalah-masalah dapat diidentifikasi
4.1.3 Meyakinkan garis dasar informasi yang ada dan untuk bertindak sebagai poin
referensi untuk mengukur perubahan pada kondisi pasien.
4.1.4 Mensuplai data yang cukup untuk memberikan alasan akan kebutuhan pasien
terhadap pelayanan keperawatan
4.1.5

Memberikan dasar guna penulisan rencana keperawatan yang efektif.

4.2 Dokumentasi diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah tahap proses keperawatan yang meliputi :


mengidentifikasi masalah pasien yang dapat dipecahkan (ditangani, dikurangi atau
dirubah) melalui intervensi keperawatan. Diagnosa keperawatan menggunakan
pengkajian data, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi sampai respon pasien
pada masalah keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah sebuah pernyataan singkat
dalam pertimbangan perawat menggambarkan respon paisen pada masalah
keperawatan yang aktual dan resiko.
4.2.1 Tujuan diagnosa keperawatan :
4.2.1.1 Menyampaikan masalah pasien dalam istilah yang dimengerti oleh semua
perawat
4.2.1.2 Mengenali masalah-masalah pasien yang utama pada pengkajian data
4.2.1.3 Mengenali perkembangan tindakan keperawatan
4.2.2 Kategori diagnosa keperawaran :
4.2.2.1 Actual : Menunjukkan masalah yang ada pada pengkajian data
4.2.2.2 Resiko/ resiko tinggi : Merupakan masalah potensial dari pengkajian data
yang apabila tidak dilakukan tindakan keperawatan dapat menjadi masalah actual
4.2.2.2 Kemungkinan : Menunjukkan situasi kemungkinan yang ditekankan pada
pengamatan dan pengawasan.
4.2.3

Komponen diagnosa keperawatan :

4.2.3.1 Pernyataan masalah


4.2.3.2 Penyebab masalah
4.2.3.3 Tanda dan gejala
4.3 Dokumentasi rencana tindakan keperawatan
Perencanaan adalah salah satu tahap dari proses keperawatan termasuk
menentukan prioritas ,dan menentukan metode yang digunakan untuk penyelesaian
masalah. Tujuan dari perencanaan , menyusun rencana keperawatan yang dapat
digunakan dalam masalah actual, resiko atau kemungkinan reaksi manusia terhadap
masalah kesehatan.
Fokus dari perencanaan adalah untuk menyusun rencana tindakan dengan
pendekatan penyelesaian masalah. Melalui proses ini,perawat memprioritaskan dan
membuat daftar masalah klien yang memerlukan intervensi keperawatan.
Komponen yang mendasari rencana tindakan keperawatan terdiri dari 3
komponen :
4.3.1

Diagnosa keperawatan

4.3.2

Hasil yang diharapkan/ kriteria hasil

4.3.3

Instruksi perawat/ intervensi keperawatan

4.4 Dokumentasi intervensi keperawatan


Tujuan dokumentasi intervensi keperawatan
4.4.1 Mengkomunikasikan secara tepat apa yang telah dilakukan pada pasien
(mencegah duplikasi terhadap pengobatan)
4.4.1.1 Sebagai klaim malpraktek
4.4.1.2 Sebagai justifikasi staffing
4.4.1.3 Efektif dan efisiensi dana
4.4.2

Jenis intervensi :

4.4.2.1 Intervensi terapeutik


Tindakan terapeutik adalah tindakan yang langsung sesuai dengan keadaan
pasien. Intervensi terapeutik meliputi tindakan keperawatan dan tindakan medis
4.4.2.2 Intervensi pemantapan/ observasi
Observasi dan penilaian yang benar tentang kemajuan kondisi kesehatan
pasien yang serta yang mempengaruhi hambatan-hambatan dalam kesehatan klien.
Dalam pelaksanaan praktek manajemen kelompok C 1-15 di Ruang Melati
RSUD dr. Haryoto Lumajang pada model dokumentasi keperawatan yang
dipergunakan adalah SBAR dan menjadi program unggulan kelompok. Adapun
kelebihan dan kelemahan dari model dokumentasi PIE adalah :
Kelebihan :
1.

Memungkinkan penggunaan proses keperawatan.

2.

Rencana tindakan dan catatan perkembangan dapat dihubungkan.

3.

Memungkinkan pemberian asuhan keperawatan yang continue karena secara


jelas mengidentifikasi masalah klien dan intervensi keperawatan.

4.

Perkembangan klien mulai dari klien masuk sampai pulang dapat dengan
mudah digambarkan.

5.

Dapat diadaptasi untuk catatan yang otomatis.

Kelemahan :
1.

Tidak dapat dipergunakan untuk pencatatan untuk semua disiplin ilmu.

2.

Pembatasan rencana tindakan yang tidak aplikatif untuk beberapa situasi


keperawatan.

PERENCANAAN
1. Pelaksanaan
Pelaksanaan

dokumentasi

keperawatan

dilaksanakan

selama

praktik

manajemen keperawatan mulai tanggal .


2. Metode
a. Format pengkajian menggunakan review of system
b. Format catatan keperawatan menggunakan PIE (Problem Intervensi Evaluasi)
3. Instrumen
a. Format pengkajian
b. Catatan keperawatan PIE/ SAK
c. Lembar observasi
d. Resume keperawatan
e. Standart operasinal perawatan
f. Petunjuk teknis pengisian format pengkajian
g. Petunjuk teknis pengisian catatan keperawatan PIE
4. Pengorganisasian
Struktur Pengorganisasian Tanggal 18 April 2016
Karu

: Mohamad Fadli

Katim Pagi

: Usman Budiantoro

Anggota

Pembimbing

: 1. Ellida Nururrohma, S.Kep.Ners


: 2. Margi Astutik S. Kep, Ners

Kriteria Hasil
1) Pelaksanaan dokumentasi dapat dilaksanakan dengan baik.
2) Semua pasien terdokumentasi dengan baik

PRAKTEK PROFESI MANAJEMEN KEPERAWATAN


KELOMPOK C 1-15 ANGKATAN XVI
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
2016

PETUNJUK TEKNIS PENGISIAN FORMAT PENGKAJIAN


1.

Pengisian tanggal MRS, no register, tanggal pengkajian, tanggal masuk,


diagnosa medis, jam masuk ruangan.

2.

Identitas diisi sesuai dengan identitas klien, informasi identitas klien atau
keterangan lainnya berdasarkan keterangan dari klien / keluarga / catatan dan
identitas resmi

3.

Riwayat Penyakit Sekarang


Klien MRS, tanyakan keluahan / hal yang menjadi sebab utama klien atau alasan
klien datang ke rumah sakit, jabarkan dalam metode pengkajian PQRST
(paliativ/provokatif, Quality, Severe/Scale, Region/radiation, Time) terhadap
terjadinya penyakit atau keluahan

4.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pengisian terhadap riwayat penyakit yang pernah dialami, seperti riwayat
penyakit kronik dan menular, riwayat alergi

5.

Riwayat Penyakit Keluarga


Dikaji tentang riwayat penyakit yang pernah dialami oleh keluarga

6.

Pengkajian Fisik
a.

Tanda tanda vital


Observasi tanda tanda vital meliputi tekanan darah, suhu, frekwensi nadi
dan pernapasan

b.

Sistem Pernapasan
Di kaji tentang keluhan sesak, batuk, nyeri dada saat bernapas, keteraturan
irama napas, jenis pernapasan, penggunaan alat bantu pernapasan (oksigen).
Jika ada keluhan, data penunjang ditulis dalam kolom lain lain.

c.

Sistem Kardiovascular
Di kaji adanya keluhan nyeri dada,

pemeriksaan terhadap suara jantung

(S1/S2, irama, suara jantung tambahan), pengukuran capilary revil time (CRT)

apakah normal (<3 dtk) atau tidak normal (> 3 dtk), apaka peningkatan JVP,
konjungtiva anemis atau tidak.

d.

Sistem Persyarafan
Di kaji adanya keluhan pusing, tingkat kesadaran , pemeriksaan pupil mata
dengan menggunakan pen light apaka isokor/anisokor, pembesaran pupil,
adanya tanda kaku kuduk, kelumpuhan di organ tubuh, gangguan persepsi
sensorik

e.

Sistem Perkemihan
Di kaji keluhan saat berkemih, adakah keluhan urine keluar sedikit, disertai
nyeri dan darah, jumlah urine sedikit atau banyak, urine sulit keluar. Intake
cairan yang dikonsumsi sehari hari (jumlah, jenis)

f.

Sistem Pencernaan
Di kaji tentang keluhan di mulut seperti keluhan nyeri telan, adanya luka di
rongga mulut (stomatitis). Pemeriksaan abdomen adakah nyeri tekan, distensi,
jejas, diet yang dikonsumsi (jenis, frekwensi, jumlah)

g.

Sistem Musculoskeletal dan Integumen


Di kaji adanya keluhan pergerakan sendi yang terbatas, kelainan fisik dari
keempat ekstermitas, kelainan tulang belakang, kondisi kulit (sianosis,
iketrus,akral dingin, turgor)

h.

Sistem Endokrin
Dilakukan

pemeriksaan

fisik

terhadap

pembesaran

kelenjar

tyroid,

pembesaran kelenjar getah bening ( konsistensi, pembesaran dan lokasi)


7.

Pengkajian Psikososial
Perlu di kaji tentang persepsi klien terhadap penyakit yang di derita saat ini,
ekspresi klien terhadap respon penyakitnya, reaksi saat interaksi (kooperatif/tidak
kooperatif), adanya gangguan konsep diri (gambaran diri, harga diri, identitas,
ideal diri dan peran)

8.

Pemeriksaan Penunjang
Didokumentasikan tentang hasil dari pemeriksaan penunjang ( laborat, rontge,
USG, MRI, EKG dll serta terapi kolaboratif)

PRAKTEK PROFESI MANAJEMEN KEPERAWATAN


KELOMPOK C 1-15 ANGKATAN XVI
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
2016
PETUNJUK TEKNIS PENGISIAN CATATAN KEPERAWATAN PIE
1.

Pengisian nama, no register, nomer kamar dan


diagnosa medis

2.

Pemilihan problem sesuai dengan masalah aktual pada


pasien sesuai dengan SAK yang sudah tersedia

3.

Pengisian B/D dilingkari pada pilihan yang sesuai


dengan kedaan pasien dan apabila tidak ada pada pilihan maka ditulis pada tempat
yang kosong

4.

Tujuan sesuai dengan SAK

5.

Kriteria hasil sesuai dengan SAK dan dapat


ditambahkan sesuai keadaan pasien bila perlu

6.

Pengisian waktu untuk intervensi pada tanda


(tiap) disesuaikan dengan kondisi pasien dan tindakan keperawatan
yang dilakukan

7.

Intervensi dapat ditambahkan bila perlu

8.

Pengisian kolom evaluasi dilakukan setiap akhir dinas


(Pagi,Siang, Malam)

9.

Kolom jam diisi berdasarkan waktu pelaksanaan


evaluasi

10.

Kolom evaluasi diisi berdasarkan SOAP

11.

Kolom paraf diisi oleh perawat primer yang


bertanggung jawab pada pasien saat itu

PRAKTEK PROFESI MANAJEMEN KEPERAWATAN


AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
RUANG MELATI RSUD dr. HARYOTO LUMAJANG
A. PETUNJUK TEKNIS PENGISIAN FORMAT SURAT PERSETUJUAN
SENTRALISASI OBAT
1) Nama, umur, jenis kelamin, alamat dapat diisi dengan nama pasien sendiri,
anak, istri, suami,orang tua, dan lain-lain.
2) Nama klien, umur, jenis kelamin, alamat, no reg diisi sesuai data klien yang
bersangkutan.
3) Ruangan diisi sesuai tempat pasien dirawat.
4) Pengisian tanggal sesuai dengan tanggal pelaksanaan informed consent (yaitu
diawal klien MRS).
5) Format ditandatangani oleh perawat yang menerangkan dan klien yang
menyetujui dilakukan tindakan sentralisasi obat, disertai para saksi-saksi.
B.

PETUNJUK TEKNIS PENGISIAN FORMAT PEMBERIAN


OBAT

1) Pengisian nama pasien, no register, umur, ruangan.


2) Kolom nama obat diisi sesuai dengan obat yang diberikan sesuai dosis, dan
cara pemberian.
3) Kolom tanggal diisi tanggal pemberian obat secara horizontal.
4) Kolom terima diisi jumlah obat yang diterima dari depo farmasi
5) Kolom penerima diisi nama perawat yang menerima, kemudian paraf
6) Kolom pemberian obat diisi sesuai jam berapa obat diberikan beserta nama
perawat atau paraf.
7) Kolom sisa diisi oleh perawat shift malam yaitu jumlah obat yang masih ada
setelah pemberian beserta nama perawat.
C.

PETUNJUK TEKNIS PENGISIAN TANDA BUKTI SERAH


TERIMA OBAT (UNTUK FARMASI)
1)

Kolom tanggal penerimaan obat diisi sesuai dengan tanggal serah terima
obat.

2)

Pengisian nama pasien, umur, No. Register ruangan.

3)

Kolom nama obat, dosis dan jumlah (sediaan) diisi sesuai dengan nama obat,
frekuensi pemberian dan jumlah yang diterima.

4)

Kolom TT dan nama terang yang menyerahkan diisi oleh petugas farmasi.

5)

Kolom TT dan nama terang yang menerima diisi oleh perawat yang
menerima.

D.

PETUNJUK TEKNIS (JUKNIS) SENTRALISASI OBAT


1)

Perawat menjelaskan tujuan dan manfaat dari sentralisasi obat (diawal MRS)

2)

Pasien/ keluarga mengisi format persetujuan sentralisasi obat (diawal MRS)

3)

Perawat menerima obat dari farmasi dengan model ODD (One Day Dose)

4)

Perawat menyimpan obat yang telah diterima dan disimpan di kotak obat

5)

Perawat meletakkan obat di tempat obat saat memberikan obat pada pasien
sesuai dengan jadwal pemberian obat yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Carpenito, Lynda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
2. Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
3. Mansjoer, Arief, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2 Jilid 1.
Jakarta : Media Aesculapius

Anda mungkin juga menyukai