Anda di halaman 1dari 14

PAPER ILMU TANAH

PENGARUH SIFAT FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI


BAGI KESUBURAN TANAH

Dosen Pembimbing :
Ir. Mulyono, MP.

Nama
NIM
Kelas

Oleh :
: Ihda Andrey Yanuar Setiawan
: 20150210093
: Agroteknologi B

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2016

Tanah merupakan akumulasi tubuh alam bebas, yang menduduki sebagian


besar permukaan bumi yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat
sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk
dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Tanah ini sendiri
merupakan faktor terpenting dalam tumbuhnya tanaman dalam suatu sistem
pertanaman, pertumbuhan suatu jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya
ialah tersedianya unsur hara, baik unsur hara makro maupun mikro. Tanah sebagai
medium pertumbuhan tanaman berfungsi pula sebagai pemasok unsur hara, dan tanah
secara alami memiliki tingkat ketahanan yang sangat beragam sebagai medium
tumbuh tanaman.
Pada tingkatannya, tanah memiliki beberapa tingkatan kesuburan. Kesuburan
tanah ini ditentukan oleh keadaan atau sifat fisika (fisik), kimia, dan biologi tanah.
Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, warna, struktur, kelembaban
dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK,
kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan
ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lain
meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan
pengikatan nitrogen udara.
Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur
hara, pada takaran dan kesetimbangan tertentu secara berkesinambung, untuk
menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor
pertumbuhan lainnya dalam keadaan menguntungkan. Makin tinggi ketersediaan
hara, maka tanah tersebut makin subur dan sebaliknya. Kandungan unsur hara dalam
tanah selalu berubah ubah, tergantung pada musim, pengolahan tanah dan jenis
tanaman.
Tanah yang subur adalah tanah yang mempunyai profil yang dalam
(kedalaman yang sangat dalam melebihi 150 cm), strukturnya gembur, pH 6,0-6,5,
kandungan unsur haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup, dan tidak
terdapat faktor pembatas dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman. Dalam bidang
pertanian khususnya dalam budidaya tanaman, keadaan tanah dan pengelolaannya

merupakanfaktor penting yang akan menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman


yang diusahakan. Hal ini disebabkan karena tanah merupakan media tumbuh bagi
tanaman, sebagai gudang dan pensuplai unsur hara. Kesuburan tanah ini sangat
ditentukan oleh keadaan atau sifat fisika (fisik), kimia dan biologi tanah, antara lain :
Sifat Fisika
Sifat fisik tanah yang terpenting adalah solum, tekstur, warna, struktur, kadar
air tanah, drainase dan porositas tanah.
1. Solum
Solum adalah kedalaman tanah yang menunjukkan ketebalan tanah yang
diukur dari permukaan sampai batuan induk bumi. Kegunaan solum tanah ini adalah
bahwa ketebalan solum tanah sangat menentukan perkembangan akar, bila solum
tanah tipis makan perkembangan akar akan terhambat dan sebaliknya. Solum ini
terbagi dalam horizon-horizon tanah. Adapun tata nama horizon & sifatnya, antara
lain :
Horizon O yaitu :
Horizon organik tanah-tanah mineral :
a. Terbentuk di atas tanah mineral
b. Didominasi oleh bahan organik yang segar atau sebag telah
terdekomposisi
c. Mengandung >30% B.O. jika fraksi lempung > 50%, atau >20% B.O.
jika tidak mengandung fraksi lempung
Horizon A :
lapisan mineral yg terdiri atas :
a. Horizon dimana B.O. terakumulasi
b. Horizon
yang
kehilangan
lempung,
eluviasi)

sebagai

tinggal

mineral

2x

Fe,
yang

Al,
resisten

(horizon
seperti

kuarsa
c. Transisi antara horison B & C
Horizon B memiliki 1 atau lebih sifat-sifat seperti di bawah ini :
a. Merupakan horizon illuviasi (hor. Pengendapan) lempung, silikat, Fe,
Al, atau humus yg berasal dari Hor. A

b. Adanya akumulasi sesquioksida dari lempung silikat, karena


terlindinya karbonat atau garam-garam terlarut
c. Adanya coating (mantel) mineral-mineral
yang berwarna gelap, atau kemerahan
d. Mulai terbentuknya struktur granuler,
karena

adanya

proses

alterasi

yaitu

gumpal

sesquioksida
atau

terbentuknya

prisma
lempung-

lempung silikat ataupun pembebasan oksida


HORIZON C :
Merupakan lapisan mineral yg sifat-sifatnya masih menyerupai bahan
induknya atau batuan induk yang telah mengalami pelapukan
HORIZON R :
Lapisan batuan induk
Solum tanah tidak dapat direkayasa, karena kedalaman solum tanah sangat
tergantung dari perkembangan tanah (umur tanah), sehingga solum tanah merupakan
faktor yang permanen. Semakin atas horizon tanah (horizon O), memiliki tingkat
kesuburan yang tinggi pada tanah tersebut.
2. Tekstur
Tekstur tanah adalah proporsi relatif dari partikel pasir, debu dan liat (jumlah
ketiganya 100%). Dalam tekstur tanah, bahan organik tanah bukan merupakan bagian
dari tekstur tanah, tetapi bersama-sama dengan kandungan bahan organik tanah,
tekstur tanah digunakan dalam pedotransfer functions. Tekstur tanah ini
diproporsikan dalam kelompok dalam kelas tekstur sesuai dengan segitiga USDA.

Tekstur tanah ditentukan di lapangan dengan cara melihat gejala konsistensi


dan rasa perabaan. Hubungan antara tekstur dan kesuburan tanah tidak selalu ada
meskipun tekstur tanah dapat menentukan atau berpengaruh dalam beberapa hal
berikut.

Pengerjaan tanah, misalnya tanah berpasir di daerah iklim basah biasanya


cepat terurai. Selain itu, tanah tersebut berkapasitas rendah dalam menahan
air, sehingga mudah mongering. Dengan menambah bahan-bahan organis,
maka kesuburan tanah tersebut dapat ditingkatkan.

Pengerjaan tanah berpasir di daerah beriklim kering (arid). Tanah di sini


meskipun kadar bahan makanannya cukup tinggi, tetapi nilai kesuburannya
rendah karena minimnya presipitasi, pencucian, dan rendahnya kapasitas
menahan air.
Tekstur tanah ini sangat berpengaruh pada proses pemupukan, terutama jika

pupuk diberikan lewat tanah. Pemupukan pada tanah bertekstur pasir tentunya
berbeda dengan tanah bertekstur lempung atau liat. Tanah bertekstur pasir
memerlukan pupuk lebih besar karena unsur hara yang tersedia pada tanah berpasir
lebih rendah. Disamping itu aplikasi pemupukannya juga berbeda karena pada tanah

berpasir pupuk tidak bisa diberikan sekaligus karena akan segera hilang terbawa air
atau menguap. Hal ini dikarenakan tekstur tanah mempengaruhi :

Pergerakan dan retensi air


Pergerakan udara tanah
Serapan hara dan bahan pencemar (pollutans)
Mudah tidaknya tanah diolah

3. Warna tanah
Warna adalah petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Biasanya perbedaan warna
permukaan tanah disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Semakin
gelap warna tanah semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Warna tanah
dilapisan bawah yang kandungan bahan organiknya rendah lebih banyak dipengaruhi
oleh jumlah kandungan dan bentuk senyawa besi (Fe). Di daerah yang mempunyai
sistem drainase (serapan air) buruk, warnah tanahnya abu-abu karena ion besi yang
terdapat di dalam tanah berbentuk Fe2+. Sehingga pada warna tanah gelap dapat
disimpulkan memiliki tingkat yang tinggi.
4. Struktur
Struktur adalah susunan partikel pasir, debu dan liat menjadi satuan yang lebih
besar (agregat atau ped; ped adalah agregat tunggal). Adapun pentingnya struktur
tanah dalam kesuburan tanah antara lain :
a. Meningkatkan infiltrasi air, jadi mengurangi limpasan permukaan (runoff) dan
erosi serta meningkatkan jumlah air tersedia untuk tanaman
b. Meningkatkan daya perkecambahan biji, pertumbuhan akar, dan kedalaman
perakaran.
c. Meningkatkan pemeabilitas
Pada struktur tanah yang remah (ringan), pada umumnya menghasilkan laju
pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi
dibandingkan dengan struktur tanah yang padat. Jumlah dan panjang akar pada
tanaman rerumputan yang tumbuh pada tanah remah umumnya lebih banyak
dibandingkan dengan akar tanaman rerumputan yang tumbuh pada tanah berstruktur

berat. Hal ini disebabkan perkembangan akar pada tanah berstruktur ringan/remah
lebih cepat per satuan waktu dibandingkan akar tanaman pada tanah padat, sebagai
akibat mudahnya intersepsi akar pada setiap pori-pori tanah yang memang tersedia
banyak pada tanah remah.
Selain itu akar memiliki kesempatan untuk bernafas secara maksimal pada
tanah yang berpori, dibandiangkan pada tanah yang padat. Sebaliknya bagi tanaman
makanan ternak yang tumbuh pada tanah yang bertekstur halus seperti tanah
berlempung tinggi, sulit mengembangkan akarnya karena sulit bagi akar untuk
menyebar akibat rendahnya pori-pori tanah. Akar tanaman akan mengalami kesulitan
untuk menembus struktur tanah yang padat, sehingga perakaran tidak berkembang
dengan baik. Aktifitas akar tanaman dan organisme tanah merupakan salah satu faktor
utama pembentuk agregat tanah.
5. Kadar air tanah
Kadar air tanah ini sangat menentukan resistensi tanah pada berbagai
kandungan air terhadap manipulasi mekanis. Dalam hal ini partikel tanah akan
bergerak lebih mudah jika pada tanah basah, air berperan sebagai pelumas.
Pada kadar air tanah, tanah dinyatakan dalam 3 tingkatan kelembaban tanah,
yaitu :
a) BASAH
Tidak lekat, agak lekat, lekat, sangat lekat
Tidak plastis, agak plastis, plastis, sangat plastis)
b) LEMBAB
Sangat rapuh, rapuh, teguh ,sangat teguh
c) KERING
Lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras
Kadar air ini berperan dalam kesuburan, antara lain :

Kekuatan tanah meningkat jika tanah kering


Tanah menjadi mampat, makin berat diolah jika basah.

6. Drainase

Drainase adalah frekuensi dan durasi (lama) kejenuhan (waktu pada kondisi
tanah tergenang) dengan dipengaruhi oleh posisi landscape dan permeabilitas
(kemampuan tanah untuk mengalirkan air atau udara; dinyatakan dalam cm air/jam).
Permeabilitas dipengaruhi oleh tekstur dan struktur. Jika permeabilitas tinggi, air
bergerak cepat dan jika permeabilitas rendah, air bergerak lambat. Drainase ini sangat
menentukan sedikit atau banyaknya kandungan air pada tanah.
7. Porositas tanah
Porositas tanah merupakan pori yang terdapat pada tanah. Pada porositas ini,
sangat ditentukan oleh pada partikel maupun agregat suatu tanah. Porositas tanah
sangat menentukan mudah tidaknya air masuk ke dalam tanah, sehingga menentukan
jumlah kandungan air pada tanah. Porositas terdiri atas pori makro dan pori mikro.
Pada tingkat kesuburan tinggi, porositas yang baik meliputi pori makro terisi oleh air
dan pori mikro terisi oleh udara bebas (oksigen).
Sifat Kimia
Sifat kimia tanah meliputi kadar unsur hara tanah, reaksi tanah (pH), kapasitas
tukar kation tanah (KTK), kejenuhan basa (KB), dan kemasaman.
1. Kadar unsur hara
Unsur hara sangat berpengaruh dalam kesuburan tanah. Hal ini didasarkan
pada penilaian status kesuburan tanah yang mutlak diperlukan untuk menentukan
jenis dan jumlah unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Kadar unsur hara harus
tersedia dari dalam tanah yang meliputi unsur makro dan mikro. Unsur unsur
tersebut harus seimbang dan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tanaman agar dapat
dikatakan sebagai suatu tanah yang memiliki tingakat kesuburan yang optimum.
Apabila suatu tanah memiliki tingkat kesuburan yang kurang atau minim, akan dapat
terlihat tanaman tersebut terjadi defisiensi ketika ditanam pada tanah tanah tersebut.

2. pH tanah

pH menentukan mudah tidaknya unsur hara diserap tanaman. Pada tanah


masam unsur P sulit untuk diserap tanaman karena difiksasi oleh Al dan pada tanah
alkali unsur P difiksasi Ca. pH juga dapat menunjukkan adanya unsur beracun. Pada
tanah masam banyak dijumpai ion Al dalam tanah, yang dapat mengikat P, dan
merupakan racun bagi tanaman. Pada tanah masam unsur Fe, Mn, Zn, Cu dan Co
mudah larut, maka tanaman dapat keracunan. Pada tanah alkalis, Mo dan B menjadi
racun bagi tanaman. pH ini mempengaruhi perkembangan mikroorganisme. Bakteri
berkembang dengan baik pada pH >5.5. Fungi berkembang pada segala tingkat pH,
tetapi pada pH > 5.5, fungi harus bersaing dengan bakteri, jadi lebih dominan pada
pH <5,5. Sehingga untuk mencapai diperlukan pH > 5,5 atau lebih tepatnya pH 6,06,5 untuk mendapatkan tingkat kesuburan optimal dengan menekan tingkat
organisme dan fungi dengan unsur hara mudah diserap oleh tanaman karena sebagian
besar unsur hara mudah larut dalam air.
3. KTK (kapasitas tukar kation) tanah
Kapasitas Tukar Kation (KTK) adalah jumlah kation dapat ditahan tanah.
Makin tinggi KTK tanah, makin tinggi pula kemampuan tanah menyimpan hara
tanaman. Kation ini sendiri adalah ion bermuatan + , yaitu antara lain Ca 2+, Mg2+,
K+, NH4+. KTK dapat meningkat karena beberapa faktor, yaitu :
Meningkatnya jumlah liat
Meningkatnya jumlah bahan organic
Meningkatnya pH tanah
Pertukaran kation kemampuan tanah untuk menahan unsur hara dan
mencegahnya hilang karena pencucian. Pada pertukaran ini, makin banyak kation
dipertukarkan maka tanah lebih subur atau kesuburan tanah menjadi tinggi.
4. KB (kejenuhan basa)
Kejenuhan basa (KB) adalah perbandingan antara jumlah kation basa dengan
jumlah semua kation (kation asam dan basa) dalam komplek jerapan koloid. Kation
basa ini merupakan hara yang diperlukan tanaman, tanah subur ditunjukkan oleh KB

tinggi (karena kation basa tidak banyak tercuci) dikarenakan KB terkait erat dengan
pH tanah, tanah masam KB lebih rendah dibanding tanah alkalis. Pada tanah KB
rendah komplek serapan banyak diisi Al 3+ dan H+ (basa), terutama Al3+. Sehingga
dapat menjadi racun bagi tanaman dan inilah yang menjadi kasus tanah-tanah masam
di Indonesia. Untuk mendapat kesuburan tanah yang optimum, diperlukan KB pada
tanah yang tinggi.
5. Kemasaman
Kemasaman terjadi jika nilai pH tanah berada pada kisaran 0-6 dengan
mengandung ion H+ lebih besar daripada ion OH-, Tanah bersifat asam karena
berkurangnya kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur
tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap
oleh tanaman.
Kemasaman tanah merupakan hal yang biasa terjadi di wilayah-wilayah
bercurah hujan tinggi yang menyebabkan tercucinya basa-basa dari kompleks jerapan
dan hilang melalui air drainase. Pada keadaan basa-basa habis tercuci, tinggallah
kation Al dan H sebagai kation dominant yang menyebabkan tanah bereaksi masam.
Hal tersebut banyak terjadi pada daerah rawa seperti tanah gambut ditemukan pH
dibawah 3 karena banyak mengandung asam sulfat. Pada tingakat kesamaan ini,
tingkat kesuburan relatif lebih rendah pada tanaman.
Sifat Biologi
Sifat biologi tanah meliputi bahan organik tanah, flora dan fauna tanah
(khususnya mikroorganisme penting seperti bakteri, fungi dan Algae), dan interaksi
mikroorganisme tanah.
1. Bahan organik tanah (BOT)
BOT merupakan salah satu komponen tanah yang sangat penting bagi
ekosistem tanah. BOT ini sendiri berperan sebagai sumber (source) danpengikat
(sink) hara dan sebagai substrat bagi mikroba tanah. BOT merupakan kunci

keberhasilan sistem pertanian berkelanjutan karena memiliki tingkat kesuburan tinggi


sesuai dengan tingginya tinggak tersedianya BOT itu sendiri. Adapun fungsi dari
BOT antara lain :
a. penyedia unsur hara (via dekomposisi dan mineralisasi),
b. pemacu aktivitas organisme tanah; memperbaiki agregasi tanah dan
mengurangi resiko erosi,
c. pengikat unsur beracun pada tanah masam ( misal Al); meningkatkan
kapasitas penyangga tanah; kaitannya dengan efisiensi penggunaan
unsur hara (termasuk pupuk)
2. Flora dan fauna tanah
Flora dan fauna tanah merupakan makhluk hidup yang hidup di tanah. Flora
dan fauna ini sangat mempengaruhi akan kesuburan tanah. Adapun flora tanah ini
meliputi mikroflora atau mikroorganisme tanah, yaitu :
a)
b)
c)
d)
e)

bakteri (bacteria)
aktinomisetes (actinomycetes)
ganggang (algae)
jamur (fungi)
virus
Dan pada fauna tanah ini sendiri meliputi :
a) Mikrofauna
b) Mesofauna
c) Makrofauna
Kedua makhluk hidup tersebut bersama-sama akar tanaman, membentuk
komponen biota yang berperan penting dalam proses biogeokimia dalam tanah
dengan berperan dalam :
Pencucian / pelindian (leaching) senyawa mudah larut
Katabolisme (catabolisms) organisme perombak
Pelumatan (comminution) bahan oleh fauna tanah.
Ketiga proses ini yang akan membentuk bahan organik tanah yang berfungsi
untuk kesuburan tanah.

3. Interaksi mikroorganisme
Interaksi mikroorganisme merupakan kontak langsung antara mikroorganisme
dengan tanah secara langsung. Interaksi ini menjadikan terjadinya proses aliran energi
dan dekomposisi bahan organik dan siklus hara pada tanah yang sangat
mempengaruhi tingkat kesuburan tanah. Semakin tinggi interaksi yang terjadi, maka
makin tinggi pula tingkat kesuburannya. Adapun fungsi dari keduanya adalah sebagai
berikut.
Aliran energi dan dekomposisi bahan organic
a. Aliran energi terkait erat dengan proses akumulasi dan dekomposisi
bahan organic
b. Jumlah bahan organik yang diperoleh dalam suatu ekosistem dapat
digunakan sebagai ukuran produktivitas ekosistem tersebut
c. Proses dekomposisi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan;
mikroba paling dominan cendawan dan bakteri
Siklus Hara : sebagai pertukaran unsur kimia antara bagian ekosistem yang
mati ke bagian yang hidup disebut siklus hara, pada skala global disebut
biogeokimia

Tanah yang mempunyai nilai produktivitas yang tinggi, tidak hanya terdiri
dari bagian padat, cair dan udara saja, tetapi harus ada jasad hidup yang merupakan
organisme hidup. Sebaliknya aktivitas organisme tanah dipengaruhi oleh 3 faktor
yaitu :
1. Iklim
Organisme tanah lebih banyak ditemui jumlah (populasi)-nya dan
keragamannya pada tanah didaerah yang mempunyai curah hujan dan temperatur
yang tinggi dibandingkan di daerah yang mempunyai curah hujan dan temperatur
rendah.
2. Vegetasi
Dimana pada lokasi tanah-tanah hutan ditemui organisme yang lebih banyak
dan lebih beragam dibandingkan pada lokasi padang rumput.
3. Tanah

Tingkat kemasaman, kandungan hara, dan umur tanah dapat mempengaruhi


organisme dalam tanah. Bakteri lebih banyak ditemui pada daerah yang
berkemasaman sedang (normal), sedangkan jamur/cendawan lebih banyak pada tanah
yang kemasaman rendah (masam). Tanah-tanah yang diberi kapur dan pupuk,
umumnya lebih banyak populasi organismenya. Pada tanah yang belum terjamah
(hutan), populasi dan keragaman organisme nya lebih banyak dibandingkan pada
tanah-tanah tua.

Dari hasil paper yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa tingkat
kesuburan tanah sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah yang meliputi sifat fisika,
kimia, dan biologi pada tanah.

Daftar Pustaka
Eko Sujatmiko. 2014. Kamus IPS. Surakarta: Aksara Sinergi Media.
Hendro,
M.
Biologi
Tanah.
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/HENDRO_MURTIANTO/08_BI
OLOGI_TANAH.pdf. Diakses pada 15 April 2016.
Universitas
Brawijaya.
2011.
Sifat
Biologi
Tanah.
http://dasarilmutanah.lecture.ub.ac.id/files/2011/09/DIT-08-Sifat-BiologiTanah-Compatibility-Mode.pdf. Diakses pada 16 April 2016.

Universitas
Brawijaya.
2011.
Sifat
Fisik
Tanah.
http://dasarilmutanah.lecture.ub.ac.id/files/2011/09/DIT-05-Sifat-Fisik-TanahCompatibility-Mode.pdf. Diakses pada 17 April 2016.
Universitas
Brawijaya.
2012.
Sifat
Kimia
Tanah.
http://sugeng.lecture.ub.ac.id/files/2012/09/Bab-5-Sifat-Kimia-Tanah.pdf.
Diakses pada 17 April 2016.
Universitas
Sumatra
Utara.
Sifat

Sifat
Kimia
Tanah.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37930/4/Chapter%20II.pdf.
Diakses pada 15 April 2016.
Universitas
Udayana.
2011.
Kesuburan
Tanah.
https://wisuda.unud.ac.id/pdf/1005105008-3-BAB%20II.pdf. Diakses pada 16
April 2016.