Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN DISKUSI SKENARIO 3

TOPIK : KLASIFIKASI PENYAKIT PERIAPIKAL , PERAWATANNYA DAN KEADAAN


DARURAT ENDODONTIK

FASILITATOR

: drg. Chandra Sari Kurniawati , Sp.KG

KETUA DISKUSI : DONNY RAMADHAN

145070401111015

SEKRETARIS

145070400111006

: MOCHAMMAD YUSUF

ANGGOTA DISKUSI KELOMPOK 3


RAHMAWATI ISNANINGRUM

145070400111005

HILDA OCTAVIANI

145070401111014

NOVITA HARERA PARAMADINA


ANNA PERMADANI

145070401111024
145070401111025

ELSAVIRA ASKANDAR

145070401111026

DYAN NOVITA W.

145070401111029

FAISAL RIFAI

145070407111006

ISRA

145070407111006

JOHN VICTOR TAMPUBOLON

145070407111024

ELISA DIANTI TIURLINA R.

145070407111025

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

SKENARIO
Seorang pria berusia 30 tahun dating ke poli gigi dengan keluhan gigi belakang
kanan bawah terasa sakit berdenyut spontan yang hebat dan nyeri bila dibuat
makan. Pada salah satu gigi depannya, rahang atas, tampak berubah warna. Saat
dilakukan pemeriksaan klinis, pada gigi 46 terdapat tumpatan amalgam yang
pecah dan tampak pembengkakan, daerah bucalfold kemerahan dan terangkat,
palpasi terasa sakit, tes vital (-). Pada gigi 21 terjadi perubahan warna menjadi
kehitaman, namun tidak ada keluhan, tes vitalitas (-), perkusi (-). Hasil radiografik
menunjukkan pada gigi 46 terdapat gambaran radiolusen hingga kamar pulpa,
lamina dura terputus, dan pada daerah periapical akar distal terdapat gambaran
radiolusen yang difuse dengan diameter sekitar 2 mm. Sedangkan pada gigi 21
tampak pelebaran membrane periodontal, lamina dura terputus, dan pada daerah
periapical terdapat gambaran radiolusen berbatas tegas dan jelas dengan ukuran
diameter sekitar 4 mm. Dokter gigi segera memutuskan untuk dilakukan
perawatan saluran akar. Pada kunjungan pertama dilakukan pembongkaran
tumpatan dan dilakukan open bur, dilakukan ekstirpasi , diirigasi, lalu ditutup
dengan kapas saja tanpa ditutup tumpatan sementara. Sebelum pulang pasien
diberikan advice dan resep peroral. Tiga hari kemudian penderita dating kembali,
namun mengeluhkan nyeri hebat pada gigi 21 yang telah dilakukan perawatan
saluran akar. Dokter gigi menyebut keadaan itu sebagai flare-up. Seminggu
kemudian pasien datang kembali untuk dilakukan sterilisasi. Setelah kunjungan
ke-4 kalinya, kondisi klinis kedua gigi tersebut dalam keadaan normal, dokter gigi
melakukan obturasi. Seminggu kemudian pasien dimohon dating untuk control.
Namun penderita masih mengeluhkan tidak nyaman, sehingga dokter gigi harus
melakukan evaluasi kembali.
KATA SULIT
-

Bucalfold

Flare-up : keadaan yang terjadi antar kunjungan

Difuse : suatu yang tersebar luas

KATA KUNCI
1. Gigi 46
-

Pemeriksaan Klinis
a. Terdapat tumpatan amalgam pecah & pembengkakan
b. Bucalfold kemerahan & terangkat
c. Tes vitalitas (-)
d. Palpasi sakit

Pemeriksaan Radiografis
a. Terdapat gambaran radiolusen hingga kamar pulpa, lamina
dura terputus, mengalami difuse diameter sekitar 2 mm
pada daerah periapikal

Perawatan
a. PSA
b. Tanpa tumpatan sementara

2. Gigi 21
-

Pemeriksaan Klinis
a. Perubahan warna menjadi kehitaman , tidak ada keluhan
b. Tes vitalitas (-)
c. Tes perkusi (-)

Pemeriksaan Radiografis
a. Pelebaran membrane periodontal
b. Lamina dura terputus
c. Gambaran radiolusen pada periapikal diameter 4 mm

Perawatan
a. PSA
b. Terjadi flare-up

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Apa penyebab gigi 46 pada bucalfold menjadi kemerahan ?
2. Apa penyebab pembengkakan pada gigi 46 ?
3. Mengapa dokter gigi memutuskan melakukan PSA pada gigi 46 pada saat
itu juga ?
4. Lesi periapikal apakah yang terjadi pada gigi 46 dari hasil pemeriksaan ?
5. Mengapa pada gigi 46 tidak diberi tumpatan sementara ?

6. Apa yang menyebabkan terjadinya perubahan warna kehitaman pada gigi


21 ?
7. Lesi periapikal apakah yang terjadi pada gigi 21 dari hasil pemeriksaan ?
8. Mengapa dapat terjadi flare-up pada gigi 21 ?
9. Mengapa dapat terjadi pelebaran membrane periodontal pada gigi 21 ?
10. Perawatan apakah yang dilakukan jika terjadi flare-up ?
11. Apa penyebab gambaran radiolusen hingga kamar pulpa pada gigi 46
yang menyebabkan lamina dura terputus dan gambaran radiolusen
diameter sekitar 2 mm ?
BRAINSTORMING
1. Karena tumpatan amalgam pecah sehingga menyebabkan iritasi pada
jaringan sekitar
2. Karena tumpatan amalgam pecah infeksi bakteri inflamasi
3. Karena sudah ada sakit spontan & gigi 46 mengalami kedaruratan
endodontic
4. Periodontitis apikalis akut
5. Karena masih terjadi pembengkakan sehingga meminimalisir tekanan
6. Mungkin karena karies arrested
7. Periodontitis apikalis kronis
8. Mungkin saat PSA kurang baik
9. Karena adanya lesi periodontitis apikalis kronis
10.Dilakukan sterilisasi lagi
11.Gambaran radiolusen sampai kamar pulpa adalah karies , lamina dura
terputus dan gambaran radiolusen berdiameter 2 mm merupakan lesi
periodontitis apikalis akut

HIPOTESIS

Pasie

Gigi 46

Lesi Periapikal
Lesi periapical & Kedaruratan Endodontik
PSA

A tanpa tumpatan sementara


Flare-up

Sterilisasi

LEARNING ISSUES
1. Kelainan Jaringan Periapikal
a) Definisi
b) Etiologi
c) Macam
d) Manifestasi klinis
e) Gambaran radiografis
f)

Penatalaksanaan

g) Evaluasi
h) Histoimunopatologi
2. Kedaruratan Endodontik
a) Definisi
b) Macam

LEARNING OUTCOMES

I.

KELAINAN JARINGAN PERIAPIKAL


a) Definisi
Masuknya iritan dari dalam saluran akar ke jaringan periapikal melalui
foramen apikal/ foramen lateral. Struktur periapikal berubah menjadi
granulasi.
b) Macam
1) Abses Alveolar Akut
a. Definisi
Suatu kumpulan nanah yang terbatas pada tulang alveolar pada
apeks akar gigi setelah kematian pulpa, dengan perluasan infeksi
jaringan periradikular melalui foramen apikal
b. Etiologi
-

Infeksi bakterial jaringan pulpa mati

Trauma

Iritasi kimiawi / mekanis

c. Manifestasi Klinis
-

Gejala awal berupa sensitivitas pada gigi yang berkurang jika


diberi tekanan ringan terus menerus

Sakit berdenyut parah dan pembengkakan jaringan lunak, gigi


lama-lama goyah

Kadang rasa sakit mereda/hilang tapi bengkak tetap ada

Bila

dibiarkan

akan

menjadi

osteitis,

periostitis

dan

osteomielitis
-

Bila nanah keluar dapat terbentuk fistula, biasanya pada


mukosa labial dan bukal namun bisa dimana saja

Keadaan penderita biasanya pucat, mudah tersnggung, lemah


karena rasa sakit/kurang tidur/absorbsi produk septik

Demam, biasanya didahului atau disertai rasa dingin

Dapat terjadi statis usus, dapat diketauih dari tertutupnya


lidah oleh suatu lapisan dan nafas menjadi bau

Sakit kepala dan malaise

d. Gambaran Radiografi
-

Adanya kavitas; restorasi yang rusak

Riang ligamen periodontal menebal

Kerusakan tulang apeks gigi

Jika abses alveolar akut adalah eksaserbasi abses alveolar


kronis yang sudah lama. Suatu daerah rarefraksi periapikal

dapat terlihat
e. Perawatan
Terdiri dari diagnosa dan mengontrol reaksi sistemik, jika gejala
reda maka dapat dilakukan endodontik konservatif
-

Pada kunjungan I , dilakukan drainase pada gigi kemudian


secara hati-hati dilakukan debridement dengan irigasi dan
instrumentasi sebelum mengubah dan menutup saluran akar

Sekali saluran akar ditutup, perawatan endo diselesaikan


sesuai prosedur

f.

HPA

Tidak ada jenis bakteri spesifik yang ditemukan, umunya yang


ditemukan Streptococci dan Staphylococci

Bila nanah purulen dikumpulkan dan dikeluarkan kemungkinan


steril, berisi leukosit mati dan bakteri mati

Bakteri kebanyakan anaerob

Infitrasi leukosit PMN dan akumulasi cepat eksudat inflamatori


bereaksi dengan infeksi aktif maka dapat menggelembungkan
ligamen periodontal sehingga gigi terlihat memanjang, jika
berlanjut maka serabut dapat terpisal dan gigi menjadi goyah

Sel-sel utama inflamatori yaitu leukosit PMN

Jika jaringan di daerah apeks resorbsi dan banyak leukosit PMN


yang mati maka akan terbentuk nanah, secara mikroskopis
terlihat suatu ruang atau banyak ruang kosong dimana terjadi
supurasi dan dikelilingi sel-sel PMN dan beberapa slm MN.
Saluran akar kelihatan tanpa jaringan atau terlihat gumpalan
mikroorganisme dan debris

g. Prognosis
-

Prognosis baik, tergantung tingkat keterlibatan lokal dan


jumlah kerusakan jaringan

Gejala umumnya mereda dengan drainase yang baik/memadai

Kebanyakan

gigi

dapat

diselamatkan

dengan

perawatan

endodontik
-

Bahan

purulen

dikeluarkan

melalui

sulkus

gingiva,

jika

periodonsium rusak secara luas maka prognosisnya hati-hati


-

Pada kasus terseleksi dapat dilakukan perawatan dengan


kombinasi periodontal dan endodontal

2) Abses Alveolar Kronis


a. Definisi
Suatu infeksi tulang alveolar periradikuler yang berjalan lama dan
bertingkat rendah. Sumber infeksinya terdapat di dalam saluran
akar dan biasanya disebut Periodontitis Apikalis Supuratif.
b. Etiologi
Proses alami matinya pulpa yang berlanjut menjadi proses infektif
atau disebabkan oleh abses akut yang sudah ada sebelumnya.
c. Manifestasi Klinis
-

Umumnya asimptomatik

Selain itu jaga terdeteksi saat pemeriksaan radiografik atau


karena

adanya

eksaserbasi

fistula.

atau

Fistula

sendiri

pembengkakan

dapat

dengan

mencegah

mengadakan

drainase.
-

Untuk melacak gigi penyebab dapat menggunakan kon gutta


percha.

Bila kavitasnya terbuka, drainase dapat dilakukan melalui


saluran akar.

d. Gambaran Radiografi
terdapat daerah difus yang menunjukkan suatu abses, daerah
yang berbatas jelas adalah granuloma dan bentuk outline
sklerotik yang bertulang adalah kista.

e. Perawatan
PSA, bila PSAnya baik maka perbaikan jaringan periradikuler juga
semakin baik.
f.

HPA
-

Bakteriologi: mikroorganisme yang sering ditemukan pada gigi


non bital yang mengalami abses kronis adalah alpha hemolitik
streptoccoci yang virulensinya rendah. Pada biakan khusus
ditemukan organisme anaerob obligat.

Histopatologi: jika proses infektif meluas ke jaringan periapikal


maka terjadi perluasan ligamen periodontal apikal. Sementum
apikal uga dapat rusak. Bahan supuratif dari dalam abses
dikeluarkan pada mukosa atau gingiva. Drainase dapat terus
menerus atau tidak terus menerus.

g. Diagnosis
Rasa sakit ringan atau bisa juga tidak sakit. Pada pemeriksaan
radiografik rutin dapat membantu diagnosis. Terlihat juga giginya
berubah warna.
3) Periodontitis Apikalis Akut
a. Definisi

Periodontitis apikalis akut adalah peradangan lokal yang terjadi


pada ligamentum periodontal didaerah apikal yang dapat terjadi
pada gigi vital maupun non vital.
b. Etiologi
Penyebab utama adalah iritasi yang berdifusi dari nekrosis pulpa
ke jaringan periapikal seperti bakteri, tok sin bakteri, obat
disinfektan, dan debris. Selain itu, iritasi fisik seperti restorasi
yang hiperperkusi, instrumentasi yang berlebih, dan keluarnya
obturasi ke jaringan periapikal juga bisa menjadi penyebab
periodontitis apikalis akut.
c. Manifestasi Klinis
Periodontitis apikalis akut pada umumnya menimbulkan rasa sakit
pada saat mengigit. Sensitif terhadap perkusi merupakan tanda
penting dari tes diagnostik. Tes palpasi dapat merespon sensitif
atau tidak ada respon. Jika periodontitis apikalis merupakan
perluasan

pulpitis,

maka

akan

memberikan

respon

respon

terhadap tes vitalitas. Jika disebakkan oleh nekrosis pulpa maka


gigi tidak akan memberikan respon terhadap tes vitalitas.
d. Gambaran Radiografi
Gambaran radiografi terlihat adanya penebalan ligamentum

periodontal.
e. Perawatan
-

Gigi vital
Etiologi : traumatik oklusi (restorasi), tusuk gigi
Perawatan : grinding oklusal, perawatan di bidang periodonsia

Gigi non vital


Etiologi : infeksi bakteri dari pulpa melalui foramen apical
Perawatan : endodontik intrakanal

f.

HPA
Pemeriksaan HPA :
1. Infiltrasi polimorfonuklear (PMN)
2. Akumulasi eksudat
3. Pembesaran ligament periodontal
4. Serabut periodontal terputus
Periodontitis apikalis akut terkait dengan eksudasi plasma dan
perpindahan sel-sel inflamasi dari pembuluh darah ke jaringan
periapikal.

Hal

ini

menyebabkan

kerusakan

pada

ligamen

periodontal dan resopsi tulang alveolar.


4) Periodontitis Apikalis Kronis
a. Definisi

Proses inflamasi yang berjalan lama dan lesi berkembang


dan membesar tanpa ada tanda dan gejala.
b. Etiologi

Akibat nekrosis pulpa dan biasanya merupakan lanjutan dari


periodontitis apikalis akut.
c. Manifestasi Klinis

Tidak

menunjukkan

ketidaknyamanan

yang

gejala/diasosiasikan
ringan

dan

lebih

dengan
baik

diklasifikasikan sebagai periodontitis apikalis asimtomatik.


Karena pulpanya nekrosis, gigi dengan PAK tidak merespon
stimuli elektrik/panas. Perkusi menyebabkan sedikit nyeri
atau tidak sama sekali. Terhadap palpasi mungkin sedikit
sensitif yang mengindikasikan adanya perubahan pada
pelat korteks tulang dari perluasan PAK ke jaringan lunak.
Tampilan radiograf berkisar dari putusnya lamina dura
hingga kerusakan jaringan periradikular dan interradikular
yang luas.
d. Gambaran Radiografi
Gambaran radiografi terlihat adanya penebalan ligamentum
periodontal.
e. Perawatan

Dilakukan PSA
f.

HPA

Lesi

PAK

diklasifikasikan

sebagai

granuloma/kista.

Granuloma periradikular terdiri atas jaringan granulomatosa


yang disusupi oleh sel mast, makrofag, limfosit, sel plasma,
dan sesekali leukosit PMN. Sering pula ditemukan sel datia
dengan inti banyak, sel busa, celah kolesterol, dan epitel.
Kista apikalis (radikuler) mempunyai kavitas sentral yang
terisi cairan eosinofil/material semi solid dan dibatasi oleh
epitel berlapis seluler yang ditemukan pada granuloma
periradikuler.

Karenanya

suatu

kista

apikalis

adalah

granuloma yang mengandung kavitas atau kavitas yang


dibatasi oleh epitel. Asal epitel adalah sisa-sisa dari sarung
epitel Hertwig, sisa sel malassez. Sel sisa ini berproliferasi di
bawah stimulus inflamasi. Asal sebenarnya dari kista belum
jelas benar.
5) Granuloma
a. Definisi
Merupakan

pertumbuhan

dari

jaringan

granulomatus

yang

bersambung dengan ligamen periodontal


b. Etiologi
Matinya

pulpa

diikuti

dengan

infeksi

ringan/iritasi

jaringan

periapikal yang merangsang suatu reaksi seluler produktif. Pada


beberapa kasus granuloma juga didahului oleh abses alveolar
akut
c. Manifestasi Klinis
-

Asimptomatik/ tidak menimbulkan gejala subjektif

Tidak ada gejala sakit pada tes termal,elektirk,palpasi,perkusi,


kecuali bila mengalami supurative biasanya dijumpai fistula

d. Gambaran Radiografi
Gambaran radiolusen berbatas jelas,tidak ada kontinuitas lamina
dura,dapat ditemukan resorbsi eksternal/hipersementosis

e. Perawatan
-

Pengambilan sebab inflamasi

Granuloma resorbsi dan perbaikan bertrabekula

PSA

f.

HPA
Tampak
alveolar

jaringan
dan

granulomatus
ligamen

yang

menggantikan

periodontal,dijumpai

tulang
giant

sel,makrofag,limfosit,fibroblas,sel plasma
-

Mikrobiologi : Biasanya pada penyakit periapikal steril

6) Kista radikuler
a. Definisi
suatu kavitas patologis atau suatu kantung pada apikal gigi yang
bagian dalamnya dilapisi oleh epitelium dan pada pusatnya berisi
cairan atau bahan semi solid.
b. Etiologi
Kista radikular mensyaratkan injuri fisis, kimiawi, bacterial yang
menyebabkan matinya pulpa, diikuti oleh stimulasi sisa epitellial
Malassez, yang biasanya dijumpai pada ligament periodontal.
c. Manifestasi Klinis
Gejala tidak ada gejala yang dihubungkan degan perkembangan
suatu kista, kecuali yang kebetulan diikuti nekrosis pulpa. Suatu
kista dapat menjadi cukup besar untuk secara nyata menjadi
pembengkakan.

d. Gambaran Radiografi
-

Tampak gambaran radiolusen dengan batas radiopak.

Tidak ada kontinuitas lamina dura

Diameter lebih besar dari granuloma.

Bisa melibatkan > 1 gigi.

e. Perawatan
Biasanya dilakukakn insisi , lalu biopsy seluruh carian setelah itu
dilakukan PSA . Jika Tidak berhasil dilakukan endo bedah untuk
mengambil kista
f.

HPA

g. Prognosis
tergantung kesempurnaan perawatan saluran akar dan luas
tulang yang rusak.

7) Resorbsi Internal
a. Definisi
Resorbsi internal adalah destruksi gigi yang diawali pada daerah
yang berdekatan dengan pulpa pada dinding internal dentin dan
berkembang kearah luar, yang akhirnya menembus permukaan
eksternal dari mahkota ke akar.2 Paling banyak kasus resorbsi
internal tidak diketahui penyebabnya ( idiopatik ). Walaupun
faktor-faktor pendukung tidak diketahui, proses yang terlihat

dihubungkan dengan inflamasi pulpa, saat ini dipercaya bahwa


resorbsi internal disebabkan oleh pulpitis irreversible kronis.
b. Etiologi
1. Trauma
Beberapa penyelidik melaporkan bahwa trauma sering
dicurigai sebagai faktor awal resorbsi internal.3 Trauma dapat
disebabkan oleh pukulan suatu benda,

preparasi

mahkota

dengan panas yang ekstrim tanpa semprotan air yang cukup.


Panas diperkirakan akan menghancurkan lapisan predentin.
Resorbsi internal dapat terbatas pada mahkota atau akar gigi.
Dalam kasus gigi trauma, perdarahan intra pulpa dapat
berkembang, bekuan darah yang terbentuk kemudian diganti
dengan

jaringan

granular

yang

menekan

dinding

saluran

akar.Dengan aktivasi sel-sel mesenkim non-differentiated dari


jaringan pulpa maka sel-sel tersebut akan berdiferensiasi menjadi
dentinoclast, sel yang bertanggung jawab untuk resorpsi jaringan
keras gigi.

Trauma

tiba-tiba

pada

gigi

menghasilkan

hemorrhage

intrapulpa yang terorganisasi ( contohnya : ditempati oleh


jaringan granulasi ). Proliferasi jaringan granulasi menekan
dinding dentin sehingga pembentukan predentin berhenti dan
mulai resorbsi.1 Berbagai aspek resorbsi internal telah banyak
dipelajari, namun mekanisme pasti masih menjadi spekulasi.
Saluran

akar

menyediakan

atmosfer

yang

baik

untuk

pertumbuhan dari jaringan keras sel yang meresorbsi, hal ini


dapat

terjadi

setelah

proses

trauma.

Perubahan

sirkulasi

mempengaruhi metabolisme sel menjadi derajat yang lebih


luas. Resorbsi akar ternyata lebih sering tejadi di dekat pembuluh
darah. Hal ini juga telah diobservasi, bahwa hiperemi aktif dan
didukung tekanan oksigen yang tinggi menyebabkan aktifitas
odontoklas.
2. Inflamasi

Resorps akar internal yang disebabkan oleh inflamasi.


Saluran akar nekrotik dan terdapat mikroorganisme. Rongga
resorpsi mengandung sel odontoclast.
Jaringan pulpa yang terinfeksi memberikan stimulasi bagi
sel peresorpsi, bakteri mungkin masuk ke pulpa melalui tubulus
dentin, karies gigi, retak dan kanal lateral. Ada suatu pendapat
mengatakan bahwa resorpsi internal terjadi apabila terjadi
kerusakan pada selubung organic, predentin, dan odontoblast
yang mengelilingi saluran akar.
Inflamasi

pulpa

dapat

menyebabkan

resorpsi

internal

apabila inflamasi menyebabkan kematian odontoblas sehingga


peradangan terus berlanjut ke dentin, sedangkan pulpa masih
mempertahankan

vitalitasnya.

Sel

peresorpsi

datang

dan

berkontak dengan predentin atau dentin. Berdasarkan beberapa


penelitian mengaatakan bahwa terdapat beberapa bakteri yang
mampu mengaktifkan RANKL dan osteoklas. Resorpsi internal
menyebar ke segala arah secara simetris ke dalam dentin yang
mengelilingi pulpa. Awal mulainya resorpsi internal, berbentuk
seperti lingkaran penuh dan terus menyebar ke arah koronal dan
apical

apabila

inflamasi

berkembang.

Mikroba

merupakan

stimulus yang diperlukan untuk resorpsi akar internal.


Pada daerah resorbsi terdapat aktifitas odontoblas, telah
diresorbsi sangat luas. Yang tersisa hanya selapis email yang
sangat tipis dan daerah resorbsi dipenuhi dengan jaringan

granulasi hipervaskular. Jika resorbsi terjadi pada bagian korona


gigi, memungkinkan darah terlihat sangat jelas, maka pink spot
akan muncul pada mahkota gigi melalui enamel yang translusen.

Resorpsi akar internal ditandai oleh teresorpsinya aspek


internal akar melalui sel raksasa bernukleus banyak yang
berdekatan dengan jaringan granulasi di dalam pulpa. Jaringan
inflamasi kronis adalah hal yang biasa terjadi di dalam pulpa,
namun amat jarang yang menyebabkan aktivasi sel klastik
penyebab proses resorpsi. Ada beberapa hipotesis yang berbeda
mengenai

jaringan granulasi pulpa terlibat dalam resorpsi

internal. Hipotesis yang paling banyak diterima adalah yang


menyatakanbahwa

jaringan

pulpa

yang

terinfeksi

bagian

koronalnya akhirnya akan membentuk jaringan granulasi di


daerah apikal (Simon dkk, 1994; Levin dan Trope, 2002).
Sebagai tambahan, meskipun ada jaringan granulasi di
dalam pulpa resorpsi akarinternal baru akan terjadi apabila
lapisan odontoblastik dan predentin hilang atau berubah (Simon
dkk, 1994).

Resorpsi

internal

biasanya

asimtomatik

dan

biasanya

diketahui pertama kalimelalui evaluasi radiografis rutin. Rasa


sakit dapat muncul bila terjadi perforasi dan jaringan granulasi
terpapar cairan mulut . Resorpsi internal yang terjadi pada
mahkota gigi dapat terlihat secara klinis sebagai daerah yang
kemerah-merahan, disebut pinkspot. Daerah kemerahan ini
menggambarkan jaringan granulasi yang terlihat melalui daerah
mahkota

yang

terresorpsi

(Grossman

dkk.,1995)

Untuk

mengaktivasi resorpsi internal, setidaknya ada bagian pulpa yang


masih vital sehingga kadang-kadang masih ada respon positif
pada tes sensitifitas pulpa. Pada beberapa kasus bagian koronal
pulpa mengalami nekrosis sedangkan bagian apikalnya masih
vital (Chivian dkk, 1998, Levin dan Trope, 2002). 7
Seperti

defek

resorpsi

inflamasi

lainnya,

gambaran

histologis resorpsi internaladalah jaringan granulasi dengan sel


raksasa

bernukleus

banyak.

Daerah

pulpa

yang

nekrosis

ditemukan berada kearah koronal dari jaringan granulasi. Tubulus


dentinalis mengandung mikroorganisme serta terlihat hubungan
antara daerah nekrosis dan jaringan granulasi (Chivian dkk.,
1998)
3. Bahan kimia

Internal resorpsi mungkin hasil dari stimulasi oleh kalsium


hidroksida yang sangat alkali, pada perawatan pulotomi. Sifat
alkali dari Calsium hidroksida dapat menyebabkan metaplasia
dalam jaringan pulpa, yang mengarah pada pembentukan
odontoclast.


4. Idiopatik
Idiopatik

resorpsi

internal

adalah

resorpsi

yang

penyebabnya tidak jelas atau tidak diketahui. Resorpsi internal


menyebabkan bertambahnya ukuran pulpa. Resorpsi dapat terus
berlanjut

keluar

menyebabkan

permukaaan

fraktur

spontan.

pulpa,
Internal

sehingga
idiopatik

dapat
biasanya

melibatkan satu gigi.


c. Manifestasi Klinis
Menurut Bellizzi dan Ciao (1980) pada tahun 1829 Bell adalah
orang

pertamayang

melaporkan

tentang

resorpsi

internal,

sedangkan Fothergill adalah yang pertama kali menyatakan


bahwa resorpsi internal sebagai bintik merah muda (pink spot).
Resorpsi internal harus dibedakan dengan resorpsi eksternal. Alat
diagnostik utama adalah radiograf yang baik. Menurut Hovland
dan Dumsha (2000) perbedaan gambaran radiografi antara
resorpsi internal dan resorpsi eksternal adalah:
-

tepi kerusakan resorpsi internal halus dan tegas, sebaliknya


tepi resorpsi eksternal kasar, berbeda-beda kepadatannya dan
mempunyai

penampilan

moth

eaten(seperti

dimakan

ngengat);
-

kebanyakan kerusakan resorpsi internal simetris. Resorpsi


eksternal biasanya asimetris;

pada resorpsi internal konfigurasi anatomi saluran akar


berubah dan ukurannya bertambah. Pada resorpsi eksternal
saluran akar tidak berubah dan garis bentuknya dapat diikuti
melalui kerusakan resorpsi, kecuali apabila resorpsinya terlalu
dalam dan telah menginvasi saluran akar.

Resorpsi internal dapat terjadi baik pada mahkota maupun saluran


akar gigibahkan dapat meluas sampai melibatkan seluruh gigi,
bisa merupakan suatu proses yang lambat, progresif, intermitten
yang berkembang meliputi waktu 1-2 tahun, atau dapat juga
berkembang secara cepat dan melubangi gigi dalam beberapa
bulan (Grossman dkk, 1995).

8) Resorbsi Eksternal
a. Definisi
Suatu proses litik yang terjadi di dalam sementum/ sementum
dan dentin akar gigi
b. Etiologi
Meskipun tidak diketahui sebab yang dicurigai, resorbsi eksternal
adalah inflamasi periradikuler yang disebabkan oleh trauma,
kekuatan berlebih, granuloma, kista, tumor, impaksi, replantasi
gigi, dan penyakit sistemik
c. Manifestasi Klinis
Resorbsi akar luar : asimtomatik
d. Gambaran Radiografi
Terlihat sebagai daerah cekung/tidak rata pada permukaan
akar/penumpulan apeks

e. Perawatan
-

Berubah ubah sesuai faktor etiogenik

Bila teresorbsi eksternal disebabkan oleh perluasan penyakit


pulpa ke jaringan pendukung, terapi saluran akar biasanya
menghentikan proses resorbtif

Resorpsi

eksternal

yang

dihasilkan

oleh

kekuatan

yang

berlebihan dari kawat-kawat orthodonti, dapat diberhentikan


dengan mengurangi kekuatan kekuatan tersebut
-

Pada pasien dengan resorbsi eksternal akibat replantasi gigi,


preparasi saluran akar dan obturasi dengan pasta kalium
hidroksida dapat menghentikan proses resorbtif

II.

KEDARURATAN ENDODONTIK
a) Definisi
Kedaruratan

endodontik

yaitu

diagnosis

serta

penatalaksanaan secara cepat adanya rasa nyeri atau abses akibat


inflamasi pada pulpa atau jaringan periapikal, maupun terjadinya
cedera trauma yang mengakibatkan gigi fraktur atau avulsi.
Pada umumnya respon penderita pada waktu diagnosis
cenderung bingung dan cemas. Riwayat medis dan dental perlu
diketahui untuk menghindari komplikasi medis yang mungkin
terjadi pada keadaan darurat. Pemeriksaan secara subyektif
tentang riwayat penyakit, lokasi, keparahan, durasi, karakter dan
stimulus perlu dilakukan secara lengkap. Pemeriksaan obyektif
meliputi pemeriksaan secara visual, palpasi, perkusi, tes vitalitas,
maupun radiografi. Prosedur perawatan dilakukan secara cepat dan
efektif.
b) Macam
1. Pra Perawatan
Situasi ketika pasien dating pertama kali denga nyeri parah dan
atau pembengkakan. Biasanya timbul problem dalam diagnosis dan
perawatannya. Tahapan tahapan untuk memaksimalkan efisiensi
dan meminimalkan kesalahan dalam identifikasi diagnosis dan
rencana perawatan adalah menentukan masalah yan dihadapi,
melakukan pengkajian riwayat medisnya, menentukan sumber
nyeri, membuat diagnosis pulpa, periradikuler, dan periodontal,
membuat

rancangan

rencana

perawatan

kedaruratan

dan

melakukan perawatan.

Penatalaksanaan Pulpitis Irreversibel Akut


Gigi

dengan

diagnosis

pulpitis

irreversible

akut

sangat

responsive terhadap rangsang dan kadang kadang rasa sakit


timbul

spontan,

mengganggu

tidur

atau

timbul

saat

membungkuk. Perawatan darurat yang lebih baik dilakukan


adalah PSA/pulpektomi/pulpotomi daripada hanya terapi paliatif
untuk meringankan sakit. Selain itu pulpitis irreversible akut
dibagi lagi menjadi dua yaitu :

Tanpa Periodontitis Apikalis Akut


Pada kasus ini jika waktu terbatas bias dilakukan pulpotomi
parsial pada akar gigi tunggal serta pada saluran akar
paling besar pada gigi molar

Dengan Periodontitis Apikalis Akut


Pada pasien dengan kasus ini terutama yang sangat peka
terhadap perkusi bias dilakukan pulpektomi parsial/total
serta bias diinstruksikan untuk mengurangi oklusi guna
menghilangkan kontak

Penatalaksanaan Nekrosis Pulpa Tanpa Pembengkakan


Walaupun gigi nekrosis tanpa pembengkakan tidak memberikan
respon

terhadap

stimuli,

gigi

tersebut

mungkin

masih

mengandung jaringan terinflamasi vital di saluran akar pada


daerah apeks dan memiliki J. Periradikuler terinflamasi yang
menimbulkan nyeri sehingga anestesi local perlu diberikan.
Perawatan yang dipilih adalah debridement yang sempurna, jika
waktu tidak memungkinkan dilakukan debridement parsial pada
panjang kerja yang diperkirakan. Selama pembersihan lakukan
irigasi dengan larutan NaOCl, kemudian keringkan dengan
papper point dan jika saluran akar lebar diisi denan pasta
kalsium hidroksida dan ditambal sementara

Penatalaksanaan

Nekrosis

Pulpa

Dengan

Pembengkakan

Terlokalisasi
Gigi nekrosis dengan pembengkakan terlokalisasi biasanya
diindikasikan

dengan

adanya

suatu

kumpulan

pus

yang

terlokalisasi dalam tulang alveolar pada apeks akar gigi setelah


gigi nekrosis. Biasanya pembengkakan terjadi dengan cepat,
pus akan keluar dari saluran akar ketika kamar pulpa di buka.
Perawatannya mula mula buka kamar pulpa, kemudia lakukan
debridement saluran akar kemudian lakukan drainase untuk
meredakan tekanan dan nyeri serta membuang iritan yang
sangat poten yaitu pus. Pada pasien dengan abses periapikal
tetapi tidak dapat dilakukan dengan drainase melakukan

saluran akar maka drainase dilakukan dengan menembus


foramen apical menggunakan file kecil

Penatalaksanaan

Nekrosis

Pulpa

Dengan

Pembengkakan

Menyebar
Pada lesi ini pembengkakan terjadi dengan progresif dan
menyebar cepat ke jaringan. Kadang timbul tanda-tanda
sistemik yaitu suhu pasien naik. Penatalaksanaan pertama yang
paling penting adalah debridement yaitu pembuangan iritan,
pembersihan
pembengkakan

dan

pembentukan

luas,

lunak,

dan

saluran

akar.

menunjukkan

Bila

fruktasi,

mungkin diperlukan insisi melalui jaringan lunak pada tulang


2. Saat Perawatan
Yaitu keadaan darurat endodontik yang dapat terjadi pada
waktu

melakukan

perawatan

and

endodontik.

Biasanya

disebabkan karena instrumentasi yang melebihi apeks akar,


yang mengakibatkan trauma pada jaringan periapikal atau bila
debris dan mikroorganisme didorong melalui foramen apikal ke
dalam jaringan periapikal dan menyebabkan suatu reaksi
menular. Penyebab lain dapat berupa iritasi kimiawi, seperti
larutan irigasi atau medikamen intrakanal, penetrasi jaringan
periapikal, penutup lubang kavitas yang hilang atau tertekan
yang dapat menyebabkan terkontaminasinya saluran akar, atau
saluran

akar

yang

diisi

berlebih

sehingga

menyebabkan

inflamasi periapikal.
3. Pasca Perawatan

Penatalaksanaan Kedaruratan Pasca Obturasi


Keadaan darurat endodontik dapat terjadi setelah dilakukan
obturasi. Menurut Seltzer dalam Walton and Torabinejad (2002),
sekitar sepertiga pasien endodontik mengalami nyeri setelah
obturasi.

Faktor-faktor Penyebab

Hanya sedikit yang diketahui faktor etiologi yang menyebabkan


nyeri pasca perawatan setelah obturasi. Ketidaknyamanan
pasca obturasi diperkirakan disebabkan oleh iritasi periapikal
akibat material obturasi, penambalan mahkota yang tidak baik,
oklusi yang mengganjal (ada kontak prematur), semen saluran
akar masuk ke jaringan periapikal dan pengisian saluran akar
berlebih sehingga menyebabkan inflamasi jaringan periapikal
(Grossman, 1988; Walton and Torabinejad, 2002).

Perawatan Keadaan Darurat Pasca Obturasi


Jika timbul rasa tidak nyaman pada gigi setelah dilakukan
obturasi,

sebaiknya

dilakukan

pengecekan

oklusinya

dan

pengisian saluran akar dievaluasi kembali. Pertolongan bagi


kasus darurat dengan rasa tidak nyaman adalah pemberian
analgetik ringan untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien
dan

mencegah

terjadinya

reaksi

berlebihan

mengenai

ketidaknyamanan yang dirasakan.


Bila terjadi komplikasi serius dan memerlukan tindak lanjut,
perawatan ulang diindikasikan pada kasus nyeri persisten yang
perawatan terdahulunya tidak memadai, misalnya pada saluran
akar

yang

obturasinya

berlebih

atau

tidak

tepat

atau

pengisiannya tidak hermetis. Jika nyeri tidak kunjung reda


tetapi tanpa pembengkakan, maka dilakukan bedah apikal.
Pasien yang mendapat perawatan saluran akar yang baik tetapi
mengalami pembengkakan setelah obturasi, hendaknya dirawat
dengan insisi dan drainase kemudian diberi antibiotika dan
analgetik, biasanya kasus ini pulih tanpa perlu perawatan
lanjutan.
Kadang-kadang pasien mengatakan adanya sakit yang hebat,
tetapi tidak terlihat pembengkakan dan perawatan saluran akar
diselesaikan

dengan

baik.

Untuk

pasien-pasien

ini

bisa

dilakukan pemberian analgetik dan ditenangkan, sering gejala


reda

dengan

sendirinya

Torabinejad, 2002).

(Grossman,

1988;

Walton

anf

DAFTAR PUSTAKA
1. Walton,

R.

and

Torabinejad,

M.,

2002. Principle

and

Practice

of

Endodontics. 2 nd ed. Philadelphia : W.B. Saunders Co. weine, F.S.


1996. Endodontic Therapy. 5 th ed. St. Louis : Mosby Year Book. Inc.
2. Grossman LI. Oliet S. Rio CED. Ilmu Endodontik dalam Praktik. Ed.11.
Jakarta: EGC. 1995.
3. Mount GJ. Hume WR. Preservation and Restoration of Tooth Structure.
Queensland : Knowledge Book & software. 2005

4. Newman. Michael G. Carranza FA. Et.al. Carranzas Clinical Periodontology.


10thed. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2006