Anda di halaman 1dari 26

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Hipertensi
1. Definisi hipertensi
Tekanan darah adalah kekuatan darah menekan dinding pembuluh
darah. Setiap kali berdetak (sekitar 60-70 kali per menit dalam
keadaan istirahat), jantung akan memompa darah melewati pembuluh
darah. Tekanan terbesar terjadi ketika jantung memompa darah
(dalam keadaan kontraksi), dan ini disebut dengan tekanan sistolik.
Ketika jantung beristirahat (dalam keadaan dilatasi), tekanan darah
berkurang disebut tekanan darah diastolik. Tekanan darah tidak pernah
konsisten, Kondisinya berubah-ubah sepanjang hari, sesuai dengan
situasi. Tekanan darah akan meningkat dalam keadaan gembira,
cemas, atau sewaktu melakukan aktifitas fisik, setelah situasi ini
berlalu, tekanan darah akan kembali normal. Apabila tekanan darah
tetap

tinggi

maka

disebut tekanan darah tinggi atau hipertensi,

(anonym,Analisis Faktor-faktor berhubungan dengan tingkat kepatuhan


pasien hipertensi, 2014).
Menurut WHO batas normal tekanan darah adalah 120140 mmHg
tekanan sistolik dan 80 90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang
dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg.
Sedangkan menurut JNC VII 2003 (The seventh report of the joint
National on Prevention, detection, evaluation, and treatment of high
blood pressure)tekanan darah pada orang dewasa dengan usia diatas 18

10

tahun diklasifikasikan menderita hipertensi stadium I apabila tekanan


sistoliknya 140 159 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 99 mmHg.
Diklasifikasikan menderita hipertensi stadium II apabila tekanan
sistoliknya lebih 160 mmHg dan diastoliknya lebih dari 100 mmHg
sedangakan hipertensi stadium III apabila tekanan sistoliknya lebih dari
180 mmHg dan tekanan diastoliknya lebih dari 116 mmHg (Palmer,
2007).
Tekanan darah meningkat meningkat sesuai dengan umur dan
distribusi nilai tekanan darah. Tekanan darah sangat bervariasi
tergantung pada keadaan, akan meningkat saat aktifitas fisik, emosi,
strees dan turun selama tidur. Dengan meningkatnya tekanan darah,
meningkat pula ancaman kesehatan. Dan jika faktor risiko lainnya juga
ada, bahaya terhadap jantung dan sirkulasi daran meningkat secara
proporsional. Peningkatan tekanan darah di dalam arteri dapat terjadi
melalui beberapa cara, antara lain (Mira Puspitorini, 2008) :
a. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak
cairan setiap detik.
b. Arteri besar kehilangan kelenturan dan menjadi kaku sehingga
tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah
melalui arteri tersebut. Dengan demikian darah pada setiap denyut
jantun terpaksa melalui pembuluh darah yang lebih sempit.
c. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan
peningkatan tekanan darah.
2. Kriteria Hipertensi
Tabel 1.1. kriteria hipertensi

11

Kategori
Normal
Normal tinggi
Hipertensi ringan
Hipertensi sedang
Hipertensi berat
Hipertensi sangat berat

Tekanan sistol mmHg


< 130 mmHg
130-139 mmHg
140-159 mmHg
160-179 mmHg
180-209 mmHg

Tekanan diastol mmHg


< 85 mmHg
85-89 mmHg
90-99 mmHg
100-109 mmHg
110-119 mmHg
120 mmHg

210 mmHg
(wahdah, 2011).
3. Etiologi
Hipertensi berdasarkan etiologinya dibagi menjadi dua. Yaitu,
hipertensi primer atau esensial dan hipertensi sekunder.
a. Hipertensi primer atau esensial
Sekitar 95% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi
esensial (primer0. Penyebab hipertensi esensial ini masih belum
diketahui, tetapi faktor genetic dan lingkungan diyakini memegang
peranan dalam menyebabkan hipertensi esensial. Faktor genetik
dapat menyebabkan kenaikan aktivitas dari sistem renninangiotensin-aldosteron dan sistem saraf simpatik serta sensitivitas
garam terhadap tekanan darah. Selain faktor genetic, faktor
lingkungan yang mempengaruhi antara lain yaitu konsumsi garam,
obesitas dan gaya hidup yang tidak sehat serta konsumsi alkohol
dan merokok, (Weber dkk, 2014).
Penurunan ekskresi natrium pada keadaan arteri normal
merupakan peristiwa awal dalam hipertensi esensial. Penurunan
ekskresi natrium dapat menyebabkan meningkatnya volume cairan,
curah jantung, dan vasokontriksi perifer sehingga tekanan darah
meningkat. Faktor lingkungan dapat memodifikasi ekspresi gen
pada peningkatan tekanan. Stress, kegemukan, merokok, aktifitas
fisik yang kurang, dan konsumsi garam dalam jumlah besar

12

dianggap sebagai faktor eksogen dalam hipertensi, (robbins dkk,


2008).
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder diderita sekitar 5% pasien hipertensi
(Weber dkk, 2014). Hipertensi sekunder disebabkan oleh adanya
penyakit komorbid atau penggunaan obat-obat tertentu, baik secara
langsung maupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau
memperberat hipertensi. Penghentian penggunaan obat tersebut
atau mengobati kondisi komorbid yang menyertainya merupakan
tahap pertama dalam penanganan hipertensi sekunder, (depkes RI,
2007).
4. Gejala klinis
Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala penyakit.
Ada kesalahan pemikiran yang sering terjadi pada masyarakat bahwa
penderita hipertensi selalu merasakan gejala penyakit. Kenyataannya
justru sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan adanya gejala
penyakit. Hipertensi terkadang menimbulkan gejala seperti sakit kepala,
nafas pendek, pusing, nyeri dada, palpitasi dan epistaksis. Gejala-gejala
tersebut berbahaya jika diabaikan, tetapi bukan merupakan tolak ukur
keparahan dari penyakit hipertensi, (WHO, 2013).
5. Patofisiologi
Tekanan darah merupakan suatu sifat kompleks yang ditentukan oleh
interaksi berbagai faktor seperti faktor genetic dan lingkungan yang
mempengaruhi dua variabel hemodinamik yaitu curah jantung dan
resistensi perifer total, (Robbins dkk, 2007). Curah jantung merupakan
faktor yang menentukan nilai tekanan darah sistolik dan resistensi perifer
total menentukan nilai tekanan darah dapat terjadi akibat kenaikan curah

13

jantung atau kenaikan resistensi perifer total (Saseen dan Maclaughlin,


2008).
Rennin yang dihasilkan oleh sel justaglomerulus ginjal mengubah
angiotensinogen menjadi angiotensin-1, kemudian angiotensin-1 diubah
menjadi angiotensin-2 oleh angiotensin converting enzyme (ACE).
Angiotensin-2 dapat berikatan dengan reseptor angiotensin-2 tipe 1
(AT1) atau reseptop angiotensin-2 tipe 2 (AT2). Stimulasi reseptor AT1
dapat meningkatkan tekanan darah melalui efek pressor dan volume
darah (Saseen dan Maclaughlin, 2008).
Efek pressor angiotensin-2 meliputi

vasokontriksi,

stimulasi

pelepasan katekolamin dari medulla adrenal, dan meningkatkan aktivitas


sistem saraf simpatik, (Saseen dan Maclaughlin, 2008). Selain itu
angiotensin-2 menstimulasi sintetis aldosteron dari korteks adrenal yang
menyebabkan retensi natrium dan air. Retensi natrium dan air ini
mengakibatkan kenaikan volume darah, kenaikan resistensi perifer total,
dan akhirnya kenaikan tekanan darah, (Saseen dan Maclaughlin, 2008;
Saseen, 2009).
Tekanan darah juga diregulasi oleh sistem saraf adrenergic yang
dapat menyebabkan terjadinya kontraksi dan relaksasi pembuluh darah.
Stimulasi reseptor -2 pada sistem saraf simpatik menyebabkan
penurunan kerja saraf simpatik yang dapat menurunkan tekanan darah.
Stimulasi reseptor -1 pada perifer menyebabkan vasokontriksi yang
dapat meningkatkan tekanan darah. Stimulasi reseptor -1 pada jantung
menyebabkan kenaikan denyut jantung dan kontraktilitas, sedangkan

14

stimulasi reseptor -2 pada arteri dan vena menyebabkan terjadinya


vasodilatasi, (Saseen dan Maclaughlin, 2008; Saseen, 2009).
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan farmakoterapi yang bertujuan untuk mencegah
terjadinya komplikasi, penatalaksanaan hipertensi dengan obat dimulai
dengan dosis rendah sesuai dengan kebutuhan dan usia, tetapi harus
efektif 24 jam pasien lebih menyukai di berikan dalam dosis tunggal
karena lebih murah dan kepatuhan pasien akan lebih baik, (Riaz, 2012
dalam prihandana 2012).
Penatalaksanaan nonfarmakologi dilakukan dengan memodifikasi
perilaku dan gaya hidup atau memodifikasi diet dan nutrisi, menurunkan
berat badan dan meningkatkan olahraga. Hal tersebut untuk menjaga
tekanan darah tetap dalam keadaan normal pada orang yang memiliki
resiko tekanan darah tinggi atau pada keadaan pre hipertensi (Manfredini
et al 2009 dalam Prihandana 2012).
7. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
1) Albuminuria pada hipertensi karena kelainan parenkim ginjal
2) Kreatini serum BUN meningkat pada hipertensi karena parenkim
ginjal dengan gagal ginjal akut
3) Darah perifer lengkap
4) Kimia darah (kalium, natrium, kretinin, gula darah puasa)
b. EKG
1) Hipertropi ventrikel kiri
2) Iskemi/infark miokard
3) Peninggian gelombang P
4) Gangguan konduksi
c. Foto Rountgen
1) Bentuk dan besar jantung dari iga pada aorta
2) Pembendungan, lebarnya paru
3) Hipertropi parenkim ginjal
4) Hipertropi vascular ginjal, (Ns. Reny yuli aspiani, S. kep, 2014)
8. Komplikasi

15

Hipertensi merupakan faktor resiko penyakit stroke, infark miokard,


gagal ginjal, gagal jantung, atherosclerosis progresif, (Widyasari dan
Candrasari, 2010).
Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan
darah yang member gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh
sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak
dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner
(terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan
ventrikel kiri/bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Selain penyakitpenyakit tersebut, hipertensi dapat pula menyebabkan gagal ginjal,
penyakit pembuluh lain, diabetes mellitus dan lain-lain, (Erlyna dkk,
2012).
B. Tinjauan Umum Tentang Lansia
1. Pengertian Lansia
Menurut Bab 1 Pasal I ayat (2) Undang-Undang No. 13 Tentang
Kesejahteraan Usia Lanjut, lansia adalah seseorang yang mencapai usia
60 tahun, (Tamher. S, 2012).
Lanjut
usia
(lansia)

merupakan

proses

alamiah

dan

berkesinambungan yang mengalami perubahan anatomis, fisiologis, dan


biokimia pada jaringan atau organ yang pada akhirnya mempengaruhi
keadaan fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan, (Fatmah,
2010).
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan

manusia.

Menurut

UU

no.12

tahun

1998

tentang

kesejahteraan lansia, yang disebut lansia adalah seseorang yang


mencapai usia diatas 60 tahun, (Budi Anna, 2008).
2. Klasifikasi Lansia

16

Departement Kesehatan RI mengklasifikasikan lansia dalam kategori


sebagai berikut :
a. Pralansia, adalah seseorang yang berusia 45-58 tahun
b. Lansia, adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia resiko tinggi, adalah seseorang yang berusia 70 tahun atau
di atas 60 tahun dengan masalah kesehatan
d. Lansia potensial, adalah seorang lansia yang masih mampu
melakukan pekerjaan atau kegiatan yang menghasilakn
e. Lansia tidak potensial, adalah lansia yang tidak berdaya mencari
nafkah sehingga hidupnya tergantung pada orang lain.
Sedangkan World Health Organization mengklasifikasikan menjadi
4, yaitu :
a. Usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) 60-74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) 75-90 tahun
d. Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun, (Dewi, 2014).
3. Proses Menua
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup,
tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak
permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang
berarti seseorang telah mealalui tiga tahap kehidupannya yaitu anak,
dewasa dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun
psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya
kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut
memutih, gigi mulai ompong pendengaran kurang jelas, penglihatan
semakin memburuk, gerakan lambat, dan figure tubuh yang tidak
proporsional. (Ns. Sri Artinawati, S.Kep, 2014).
WHO dan Undang-Undang No. 13 tentang kesejahteraan lanjut usia
menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua

17

bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur


mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunnya
daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar
tubuh yang berakhir dengan kematian, (Ns. Sri Artinawati, S.Kep, 2014).
a. Teori proses menua
Teori-teori tentang penuaan sudah banyak yang dikemukakan,
namun tidak semuanya bisa di terima. Teori-teori ini dapat
digolongkan dalam dua kelompok, yaitu termasuk kelompok teori
biologis dan teori psikologis.
1. Teori biologis
a) Teori radikal bebas
Radikal bebas adalah produk metabolism seluler yang
merupakan bagian molekul yang sangat reaktif. Molekul ini
memiliki muatan ekstraseluler kuat yang dapat menciptakan
reaksi dengan protein, mengubah bentuk dan sifatnya, molekul
ini juga dapat bereaksi dalam lipid yang berada dalam
membrane sel, mempengaruhi permeabilitasnya atau dapat
berikatan dengan organ sel.
Proses metabolisme oksigen diperkirakan menjadi sumber
radikal bebas terbesar, secara spesifik oksidasi lemak, protein
dan karbohidrat dalam tubuh menyebabkan formasi radikal
bebas. Polutan lingkungan merupakan sumber eksternal radikal
bebas. Teori ini menyatakan bahwa penuaan disebabkan karena
terjadinya akumulasi kerusakan ireversibel akibat senyawa
pengoksidasi ini.
b) Teori cross link
Teori cross link atau jaringan ikat menyatakan bahwa molekul
kolagen dan elastic, komponen jaringan ikat, membentuk

18

senyawa yang lama meningkatkan rigiditas sel, cross linkage


diperkirakan akibat reaksi kimia yang menimbulkan senyawa
kimia antara molekul-molekul yang normalnya terpisah. Saat
serat kolagen yang awalnya deposit dalam jaringan otot polos,
molekul ini menjadi renggang berikatan dan jaringan menjadi
fleksibel. Seiring berjalannya waktu, bagaimanapun sisi aktif
pada molekul kolagen yang berdekatan mengakibatkan molekul
lebih berikatan erat, sehingga jaringan menjadi lebih kaku.
Kulit yang menua merupakan contoh cross linkage elastin.
Contoh cross linkage jaringan ikat terkait usia meliputi
penurunan kekuatan daya rentang dinding arteri, tanggalnya
gigi, tendon kering dan berserat.
c) Teori imunologi
Beberapa teori menyatakan bahwa penurunan atau perubahan
dalam keefektifan sistem imun berperan dalam penuaan.
Mekanisme seluler tidak teratur diperkirakan menyebabkan
serangan pada jaringan tubuh melalui autoagresi atau
imunodefesiensi

(penurunan

imun).

Tubuh

kehilangan

kemampuan untuk membedakan proteinnya sendiri dengan


protein asing, sistem imun menyerang dan menghancurkan
jaringannya sendiri pada kecepatan yang meningkat secara
bertahap. Dengan bertambahnya usia, kemampuan sistem imun
unatuk menghancurkan bakteri, virus dan jamur melemah.
Bahkan sistem ini tidak memulai serangannya sehingga sel
mutasi terbentuk beberapa kali. Semakin bertambahnya usia,

19

fungsi sistem imun kehilangan keefektifan, imunodefesiensi


berhubungan dengan penurunan fungsi, (Ns. Sri Artinawati,
S.Kep, 2014).
2. Teori psikososial
a) Teori disengagement
Teori ini dimulai dari University of Chicago, yang menyatakan
bahwa individu dan masyarakat mengalami disengagement
dalam suatu mutual menarik diri. Memasuki usia tua, individu
mulai menarik diri dari masyarakat, sehingga memungkinkan
individu untuk menyimpan lebih banyak aktivitas-aktivitas
yang berfokus pada dirinya dalam memenuhi kestabilan pada
stadium ini.
b) Teori aktivitas
Menekankan pentingnya peran serta dalam kegiatan masyarakat
bagi kehidupan seorang lansia. Dasar teori ini adalah bahwa
konsep diri seseorang bergantung pada aktivitasnya dalam
berbagai peran. Apabila hal ini hilang, maka akan berakibat
negative terhadap kepuasan hidupnya. Ditekankan pula bahwa
mutu dan jenis interaksi lebih menentukan daripada jumlah
interaksi. Hasil studi serupa ternyata menggambarkan pula
bahwa aktivitas informal lebih berpengaruh daripada aktivitas
formal. Kerja yang menyibukkan tidaklah meningkatkan self
esteem seseorang, tetapi interaksi yang bermakna dengan orang
lainlah yang lebih meningkatkan self esteem.
c) Teori kontinuitas
Berbeda dari kedua teori sebelumnya, disini ditekankan
pentingnya hubungan antara kepribadian dengan kesuksesan

20

hidup lansia. Menurut teori ini, cirri-ciri kepribadian individu


berikut strategi kopingnya telah terbentuk lama sebelum
seseorang memasuki usia lanjut. Namun, gambaran kepribadian
itu juga bersifat dinamis dan berkembang secara kontinu.
Dengan menerapkan teori ini, cara terbaik untuk meramal
bagaimana seseorang dapat berhasil menyesuaikan diri adalah
dengan

mengetahui

penyesuaian

terhadap

bagaimana
perubahan

orang

itu

penyesuaian

melakukan
terhadap

perubahan-perubahan selama hidupnya.


d) Teori subkultur
Teori ini dikatakan bahwa lansia sebagai kelompok yang
memiliki norma, harapan, rasa percaya, dan adat kebiasaan
tersendiri, sehingga dapat digolongkan selaku suatu subkultur.
Akan tetapi, mereka ini kurang terintegrasi pada masyarakat
luas dan lebih banyak berinteraksi antar sesame mereka sendiri.
Dikalangan lansia, status lebih di tekankan pada bagaimana
tingkat kesehatan dan kemampuan mobilitasnya, bukan pada
hasil pekerjaan/pendidikan/ekonomi yang pernah dicapainya.
Kelompok-kelompok lansia seperti ini bila terkoordinasi
dengan baik dapat menyalurkan aspirasinya, dimana secara
teoritis oleh para pakar dikemukakan bahwa hubungan antar
group dapat meningkatkan proses penyesuaian pada masa
lansia.
e) Teori stratifikasi usia
Teori ini menerangkan adanya saling ketergantungan antara
usia dan struktur social yang dapat dijelaskan sebagai berikut,

21

(1) orang-orang tumbuh dewasa bersama masyarakat dalam


bentuk kohor dalam artian social, biologis, dan psikologis. (2)
kohor baru terus muncul dan masing-masing kohor memiliki
pengalaman dan selera tersendiri. (3) suatu masyarakat dapat
dibagi kedalam beberapa strata sesuai dengan lapisan usia dan
peran. (4) masyarakat sendiri senantiasa berubah, begitu pula
individu dan perannya dalam masing-masing strata. (5) terdapat
saling keterkaitan antara penuaan individu dengan perubahan
sosial.
Kesimpulannya adalah, lansia dan mayoritas masyarakat
senantiasa saling mempengaruhi dan selalu terjadi perubahan
kohor maupun perubahan dalam masyarakat.
f) Teori penyesuaian individu dengan lingkungan
Menurut teori ini, bahwa ada hubungan antara kompetensi
individu dengan lingkungannya. Kompetensi di sini berupa
segenap proses yang merupakan cirri fungsional individu,
antara lain : kekuatan ego, keterampilan motorik, kesehatan
biologis, kapasitas kognitif, dan fungsi sensorik. Adapun
lingkungan yang dimaksud mengenai potensinya untuk
menimbulkan respon perilaku dari seseorang. Bahwa untuk
tingkat

kompetensi

seseorang

dapat

suatu

tingkat

suasana/tekanan lingkungan tertentu yang menguntungkan


baginya. Orang yang berfungsi pada level kompetensi yang
rendah hanya mampu bertahan pada level tekana lingkungan yg
rendah pula, dan sebaliknya. Suatu korelasi yang sering berlaku

22

adalah semakin terganggu (cacat) seseorang, maka tekanan


lingkungan yang semakin di rasakan akan semakin besar, (S.
Tamher-Noorkasiani,2012).
b. Perubahan akibat proses menua
Perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik,
sosial, psikologis dan spiritual.
1. Perubahan fisik
a) Sel
(1) Jumlah sel menurun/berkurang
(2) Ukuran sel lebih besar
(3) Jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang
(4) Proporsi protein di otak, otot ginjal, darah dan hati menurun
(5) Jumlah sel otak menurun
(6) Mekanisme perbaikan terganggu
(7) Otak menjadi artrofi, beratnya berkurang sampai 5-10 %
(8) Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar
b) Sistem persarafan
(1) Saraf pancaindra mengecil sehingga fungsinya menurun serta
lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang
berhubungan dengan stress
(2) Defisit memori
(3) Kurang sensitive terhadap sentuhan
(4) Berkurangnya atau hilangnya lapisan meilin akson, sehingga
menyebabkan berkurangnyarespon motorik dan refleks
c) Sistem pendengaran
(1) Gangguan pendengaran, hilangnya daya pendengaran pada
telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada yang
tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50%
terjadi pada usia di atas umur 65 tahun
(2) Membrane timpani menjadi artrofi menyebabkan otosklerosis
(3) Terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras karena
meningkatnya keratin
(4) Fungsi pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang
mengalami ketegangan/stress

23

(5) Tinnitus (bising yang bersifat mendengung, bisa bernada


tinggi atau rendah, bisa terus menerus atau intermitten)
(6) Vertigo (perasaan tidak stabil yang terasa seperti bergoyang
atau berputar)
d) Sistem penglihatan
(1) Respon terhadap sinar menurun
(2) Adaptasi terhadap gelap menurun
(3) Akomodasi menurun
(4) Lapang pandang menurun
(5) Katarak
e) Sistem kardiovaskuler
(1) Katup jantung menebal dan kaku
(2) Kemampuan memompa darah

menurun

(menurunnya

kontraksi dan volume)


(3) Elastisitas pembuluh darah menurun
(4) Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga
tekanan dara meningkat
f) Sistem pengaturan suhu tubuh
Pada pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai
suatu thermostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu.
Kemunduran

terjadi

pada

berbagai

faktor

yang

mempengaruhinya. Yang sering di temui antara lain :


(1) Temperature tubuh menurun (hipotermi) secara fisiologis
30C ini akibat metabolism yang menurun
(2) Pada kondisi ini, lanjut usia akan merasa kedinginan dan
dapat pula menggigil, pucat dan gelisah
(3) Keterbatasan reflex menggigil dan tidak dapat memproduksi
panas yang banyak sehingga terjadi penurunan aktivitas otot
g) Sistem respirasi
(1) Otot-otot pernafasan kekuatannya menurun dan kaku,
elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga
menarik nafas lebih berat
(2) Alveoli melebar dan jumlahnya menurun
(3) Kemampuan batuk menurun
(4) Penyempitan pada bronkus

24

h) Sistem pencernaan
(1) Kehilangan gigi, penyebab utama periodontal disease yang
biasa terjadi setelah umur 30 tahun. Penyebab lain meliputi
kesehatan gigi dan gizi yang buruk
(2) Indra pengecap menurun, adanya iritasi selaput lender yang
kronis, atrtrofi indra pengecap (kurang lebih 80%), hilangnya
sensitivitas saraf pengecap dilidah, terutama rasa manis dan
asin
(3) Esophagus melebar
(4) Rasa lapar menurun, asam lambung menurun, motilitas dan
waktu pengosongan lambung menurun
(5) Peristaltik melemah dan biasa timbul konstipasi
(6) Fungsi absorbs melemah (daya absorbsi terganggu, terutama
karbohidrat)
(7) Hati semakin mengecil dan tempat penyimpanan menurun,
aliran darah berkurang
i) Sistem reproduksi
(1) Wanita
(a) Vagina mengalami kontraktur dan mengecil
(b) Ovarium menciut, uterus mengalami atrofi
(c) Atrofi payudara
(d) Atrofi vulva
(e) Selaput lender vagina menurun, permukaan menjadi
halus, sekresi berkurang, sifatnya menjadi alkali dan
terjadi perubahan warna
(2) Pria
(a) Testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun
ada penurunan secara berangsur-angsur
(b) Dorongan seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun,
asal kondisi kesehatannya baik, yaitu :
Kehidupan seksual dapat di upayakan sampa masa
lanjut usia

25

Hubungan

seksual

secara

teratur

membantu

mempertahankan kemampuan seksual


Tidak perlu cemas karena prosesnya alamiah
Sebanyak 75% pria usia di atas 65 tahun mengalami

pembesaran prostat
j) Sistem urinaria
Ginjal : ginjal mengecil, aliran darah keginjal menurun,
penyaringan di glomerulus menurun, dan fungsi tubulus
menurun sehingga kemampuan mengonsentrasi urin ikut
menurun.
Vesika urinaria : otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan
resistensi urin, prostat : hipertrofi pada 75% lansia
Vagina : selaput lender mongering dan sekresi menurun
k) Sistem endokrin
Kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu dalam tubuh manusia
yang memproduksi hormon. Hormon berperan sangat penting
dalam pertumbuhan, pematangan pemeliharaan dan metabolism
organ tubuh. Dimana pada lansia akan mengalami penurunan
produksi hormon
l) Sistem integumen
(1) Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis
(2) Rambut dalam hidung dan telinga menebal
(3) Elastisitas menurun
(4) Vaskularisasi menurun
(5) Kuku keras dan rapuh
(6) Kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk
m) Belajar dan memori
(1) Kemampuan belajar masih ada tetapi relative menurun.
Memori (daya ingat) menurun karena proses encoding
menurun.
(2) Kenangan jangka panjang, beberapa jam sampai beberapa
hari yang lalu dan mencakup beberapa perubahan.

26

Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit),


kenangan buruk (bisa kearah demensia)
n) Sistem musculoskeletal
(1) Cairan tulang menurun sehingga

mudah

rapuh

(osteoporosis)
(2) Bungkuk (kifosis)
(3) Persendian membesar dan menjadi kaku
(4) Kram, tremor, tendon mengerut dan mengalami sklerosis
o) Intelegentia Quation (IQ)
IQ tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan
verbal. Penampilan, persepsi, dan keterampilan psikomotor
berkurang. Terjadi perubahan pada daya membayangkan karena
tekanan faktor waktu, (Ns. Sri Artinawati, S.Kep, 2014).
2. Perubahan sosial
Adapun perubahan sosial yang terjadi adalah
a) Peran : Post power syndrome, single woman, single parent
b) Keluarga : kesendirian, kehampaan
c) Teman : ketika lansia lainnya meninggal, maka muncul
perasaan kapan akan meninggal, berada dirumah terus menerus
akan cepat pikun (tidak berkembang)
d) Abuse : kekerasan berbentuk verbal (dibentak) dan nonverbal
(dicubit dan tidak diberi makan)
e) Masalah hukum : berkaitan dengan perlindungan asset dan
kekayaan pribadi yang dikumpulkan sejak masih muda
f) Pensiun : kalo menjadi PNS aka nada tabungan (dana pension),
kalau tidak, anak dan cucu akan memberikan uang
g) Ekonomi : kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang
cocok bagi lansia dan income security
h) Rekreasi : untuk ketenangan batin
i) Keamanan : jatuh, terpeleset
j) Transportasi : kebutuhan akan system transportasi yang cocok
bagi lansia

27

k) Politik : berkaitan dengan pengentasan buta aksara dan


kesempatan untuk tetap belajar sesuai dengan hak asasi
manusia
l) Agama : melaksanakan ibadah
m) Panti jompo : merasa dibuang / diasingkan
3. Perubahan psikologis
Perubahan psikologis pada lansia meliputi Short term memory,
frustasi kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi
kematian, perubahan keinginan, depresi dan kecemasan.
4. Perubahan spiritual
a) Agama/kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan
b) Perkembangan lansia anjut usia semakin matur dalam
kehidupan keagamaannya. Hal ini terlibat dalam berfikir dan
bertindak sehari-hari
c) Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun, universalizing,
perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dan
bertindak dengan cara memberi contoh cara mencintai dan
keadilan, (Ns. Sri Artinawati, S.Kep, 2014).
c. Tugas perkembangan lansia
Kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri
terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses
tumbuh kembang pada tahap sebelumnya.
Apabila seseorang pada tahap tumbuh kembang sebelumnya
melakukan kegiatan sehari-hari dengan teratur dan baik serta
membina hubungan yang serasi dengan orang-orang disekitarnya,
maka pada usia lanjut ia akan tetap melakukan kegiatan yang biasa ia
lakukan pada tahap perkembangan sebelumnya seperti olahraga,
mengembangkan hobi bercocok tanam, dan lain-lain.
Adapun tugas perkembangan lansia adalah sebagai berikut :
1. Mempersiapkan diri untuk kondisi menurun

28

2.
3.
4.
5.

Mempersiapkan diri untuk pension


Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya
Mempersiapkan kehidupan baru
Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial/masyarakat

secara santai
6. Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan,
(Ns. Sri Artinawati, S.Kep, 2014).
C. Tinjauan Umum Tentang Ketidakpatuhan
Ketidakpatuhan adalah perilaku pemberi asuhan atau individu yang
tidak mematuhi ketepatan, rencana promosi kesehatan atau terapeutik
secara keseluruhan atau sebagian dapat menyebabkan hasil akhir yang
tidak efektif secara klinis atau sebagian tidak efektif. Ketidakpatuhan
merupakan suatu sikap dimana pasien tidak disiplin atau tidak maksimal
dalam melaksanakan pengobatan yang telah di instruksikan oleh dokter
kepadanya. Oleh karena itu, sangat penting memberikan edukasi akan
manfaat pengontrolan penyakit, sebab penyakit, komplikasi yang akan
muncul dari penyakit tersebut yang pada akhirnya akan berguna untuk
mencapai terapi yang sesuai, (Cynthia M. Taylor, 2010).
Banyak faktor yang mendorong penderita hipertensi untuk tidak patuh
dalam menjalankan diet. Faktor tersebut adalah :
1. Pengetahuan
Semakin tinggi tingkat pengetahuan individu maka semakin mudah
individu yang bersangkutan untuk dapat menerima informasi atau saran
dari luar. kurangnya interaksi dari orang-orang yang memiliki
pengetahuan lebih baik tentang hipertensi dan sebagainya menyebabkan
ketidakpatuhan

melaksanakan

diet

rendah

garam.

Rendahnya

pengetahuan dapat terjadi karena kurangnya informasi yang di dapatkan

29

mengenai diet rendah garam. Pengetahuan tentang diet rendah garam


tidak hanya didapat dari buku tentang hipertensi namun juga bisa didapat
melalui hal seperti konsultasi dengan tim kesehatan atau dengan orangorang yang memiliki pengetahuan tentang diet rendah garam tersebut,
(Muhammad Ismanto, 2011).
2. Dukungan keluarga yang kurang
Dukungan keluarga dapat menjadi faktor yang dapat berpengaruh
dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta
menentukan program diet yang akan mereka terima. Keluarga juga
seharusnya memberi dukungan dan membuat keputusan mengenai
perawatan anggota keluarga yang sakit. Derajat dimana seseorang
terisolasi dari pendampingan orang lain. Salah satu kendala penderita
hipertensi sulit melaksanakan terapi diet rendah garam disebabkan
karena keluarga yang sehat tidak memberlakukan diet rendah garam itu
sendiri karena alasan kebiasaan memasak dengan menggunakan garam
dan bumbu penyedap rasa lainnya, (Sumarman, 2010).
3. Keyakinan, sikap dan kepribadian
Kepribadian antara orang yang patuh dengan orang yang tidak patuh
berbeda. Orang yang tidak patuh adalah orang yang mengalami depresi,
ansietas, sangat memperhatikan kesehatannya, memiliki kekuatan ego
yang lebih lemah dan memiliki kehidupan sosial yang lebih,
memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri. Kekuatan ego yang lebih
ditandai dengan kurangnya penguasaan terhadap lingkungannya.
Variabel-variabel demografis juga digunakan untuk meramalkan
ketidakpatuhan. Bagi lanjut usia yang tinggal didaerah mungkin

30

makanan yang terasa asin akan lebih nikmat karena kebiasaan yang
sudah di alami sebelumnya, (Sumarman, 2010).
4. Kejenuhan
Individu yang terhitung cukup lama menderita hipertensi akan
mengalami kejenuhan terhadap kepatuhan melaksanakan diet rendah
garam dengan tekanan darah tetap tinggi hal ini mendorong seseorang
untuk tidak patuh sesuai anjuran salah satu faktor yang menyebabkan
ketidakpatuhan adalah kejenuhan. Penderita hipertensi cenderung jenuh
untuk diet rendah garam karena alasan tekanan darah mereka tetap tinggi
dan sulit untuk menjadi normal, karena diet rendah garam untuk seumur
hidup akan membuat penderita hipertensi mengalami kejenuhan dan
perlu motivasi tinggi, (Sumarman, 2010).
5. Pola kebiasaan sehari-hari
Walaupun ada dari beberapa penderita hipertensi yang mengetahui
tentang diet rendah garam, yaitu pembatasan penggunaan garam untuk
masakan atau makanan yang di konsumsi, tetapi tetap menggunakan
garam natrium pada masakan atau makanan untuk mempertahankan
selera makan. Karena sulitnya mengganti jenis makanan tinggi garam ke
jenis makanan rendah garam disebabkan karena diet tersebut untuk
waktu yang lama atau bahkan seumur hidup. Sedangkan penderita
hipertensi pasti memiliki jenis makanan kegemaran maka akan kesulitan
mengganti/meninggalkan, karena kebiasaan sehari-hari mereka. Untuk
itu bukan cuma pengetahuan tetapi juga diperlukan adanya kesadaran
dari individu masing-masing tentang perilaku gaya hidup sehat,
(Sumarman, 2010).
D. Tinjauan Umum Tentang Diet
1. Pengertian

31

Diet adalah pengaturan asupan makanan ataupun nutrisi yang


dikonsumsi oleh seseorang, dimana pengkonsumsiannya dilakukan
setiap hari agar jumlah dan jenis makanan sesuai dengan kebutuhan yang
dibutuhkan oleh tubuh. Diet rendah garam adalah mengurangi konsumsi
garam natrium seperti yang terdapat di dalam garam dapur (NaCl), soda
kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoate, dan vetsin (mono
natrium glutamate). Diet hipertensi merupakan salah satu cara untuk
mengatasi

hipertensi

tanpa

efek

yang

serius,

karena

metode

pengendaliannya yang alami. Hanya saja banyak orang yang


menganggap diet hipertensi sebagai suatu yang merepotkan dan tidak
menyenangkan. Banyak makanan kesukaan bisa masuk daftar terlarang,
misalnya garam penyedap, popcorn asin, kentang dan sebagainya,
(Almatsier, 2006).
2. Tujuan diet rendah garam
Tujuan dari diet rendah garam adalah membantu menghilangkan
retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan
darah pada pasien hipertensi. Syarat diet rendah garam adalah cukup
energy, protein, mineral dan vitamin, bentuk makanan sesuai dengan
keadaan penyakit, jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya
retensi garam atau air atau hipertensi, (Almatsier, 2006). Adapun tujuan
dari hipertensi menurut Haryono (2009) adalah sebagai berikut :
a. Mengurangi asupan garam
Mengurangi garam sering juga diimbangi dengan asupan lebih
banyak kalsium, magnesium dan kalium. Puasa garam untuk kasus

32

tertentu dapat menurunkan tekanan darah secara nyata. Umumnya


seseorang mengkonsumsi lebih banyak garam daripada yang
dibutuhkan tubuh. Idealnya cukup menggunakan sekitar satu sendok
teh saja atau sekitar 5 gram per hari.
b. Memperbanyak serat
Mengkonsumsi lebih banyak sayur yang mengandung banyak
serat akan memperlancar buang air besar dan menahan sebagian
asupan natrium. Sebaiknya penderita hipertensi menghindari
makanan kalengan dan makanan siap saji dari restoran, yang
dikhawatirkan mengandung banyak pengawet dan kurang serat,
misalnya semangkuk sereal mengandung sekitar 7 gram serat.
c. Menghentikan kebiasaan buruk
Menghentikan rokok, kopi dan alkohol dapat mengurangi beban
jantung, sehingga jantung dapat bekerja dengan baik. Rokok dapat
meningkatkan kerusakan pembuluh darah dengan mengendapkan
kolestrol pada pembuluh darah jantung koroner, sehingga jantung
bekerja lebih keras. sedangkan alkohol dapat memacu tekanan darah.
Selain itu, kopi dapat memacu detak jantung. Menghentikan kopi
berarti menyayangi jantung agar tidak terbebani lebih berat.
d. Memperbanyak asupan kalium
Penelitian menunjukkan dengan mengkonsumsi 3500 mg kalium
dapat membantu mengatasi kelebihan natrium, sehingga dengan
volume darah ideal yang dapat dicapai kembali tekanan darah yang
normal. Makanan yang banyak mengandung kalium misalnya pisang,
sari jeruk, jagung an brokoli.
e. Penuhi kebutuhan magnesium
Penelitian menunjukkan bahwa asupan magnesium yang tinggi
yaitu menurut RDA (Recommended Dietary Allowance) adalah

33

sekitar 3500 mg dapat mengurangi tekanan darah pada seseorang


yang mengalami hipertensi. Sumber makanan yang banyak
mengandung banyak magnesium misalnya kacang tanah, bayam,
kacang polong, dan makanan laut.
f. Lengkapi kebutuhan kalsium
Kandungan kalsium yang dibutuhkan dalam kehidupan seharihari yaitu 800 mg yang setara dengan 3 susu dapat mencegah
terjadinya komplikasi pada penyakit hipertensi. Makanan yang
banyak mengandung kalsium misalnya keju rendah lemak dan ikan
salmon.
g. Manfaat sayuran dan bumbu dapur
Sayuran dan bumbu dapur yang bermanfaat untuk pengontrolan
tekanan darah seperti tomat, wortel, seledri, bawang putih dan
kunyit.
3. Macam-macam diet rendah garam
a. Diet rendah garam I (200-400 mg Natrium)
Diet rendah garam I diberikan kepada pasien dengan edema,
asites atau hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak
ditambahi garam dapur, dihindari makanan yang tinggi kadar
natriumnya.
b. Diet rendah garam II 9600-800 mg Natrium)
Diet rendah garam II diberikan kepada pasien dengan edema,
asites atau hipertensi yang tidak terlalu berat. Pemberian makanan
sehari-hari sama dengan diet rendah garam I. pada pengolahan

makanannya menggunakan

1
2

sendok the garam dapur atau 2

gram. Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.


c. Diet rendah garam III (1000-1200 mg Natrium)

34

Diet rendah garam III diberikan pada pasien dengan edema atau
penderita hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari-hari sama
dengan diet rendah garam I. pada pengolahan makanannya
menggunakan 1 sendok teh atau 4 gram garam dapur, (Almatsier,
2006).