Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah
yang berjudul, Kekerasan terhadap Anak ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun sebagai tugas untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial.
Terselesainya penulisan makalah ini tentunya tak lepas dari bantuan berbagai pihak.
Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
dan masih banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang sekiranya dapat membangun dan untuk kesempurnaan makalah ini,
sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Semarang, Oktober 2014
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan
menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Segala sesuatu yang dibuat anak mempengaruhi
keluarganya, begitu pula sebaliknya. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku,
watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pengalaman interaksi di dalam keluarga akan
menentukan pula pola tingkah laku anak terhadap orang lain dalam masyarakat.
Di samping keluarga sebagai tempat awal bagi proses sosialisasi anak, keluarga juga
merupakan tempat sang anak mengharapkan dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan.
Kebutuhan akan kepuasan emosional telah dimiliki bayi yang baru lahir. Peranan dan
tanggung jawab yang harus dimainkan orang tua dalam membina anak adalah besar. Namun,
kenyataannya dalam melakukan peran tersebut, baik secara sadar maupun tidak sadar, orang
tua dapat membangkitkan rasa ketidakpastian dan rasa bersalah pada anak.
Contohnya, mengenai cara orang tua dalam mendidik anaknya. Mendidik anak memang suatu
hal yang gampang-gampang sulit. Bila Anda sebagai orangtua mendidik anak dengan benar,
maka sang anak pun akan berkembang ke arah yang kita inginkan baik secara fisik, mental,
spiritual dan intelegensia. Namun bila sejak awal Anda telah salah langkah dan tidak
menyadari kesalahan tersebut, jangan heran bila kelak kemampuan dan tumbuh kembang
anak Anda tidak berkembang seperti yang diharapkan.
Salah satu cara yang kurang tepat dalam mendidik anak adalah menerapkan metode dengan
kekerasan. Hal ini biasanya Anda lakukan untuk mencoba menerapkan disiplin pada sang
anak atau memberi hukuman saat anak Anda melakukan kesalahan. Metode kekerasan seperti
ini sering ditemui pada keluarga yang orangtuanya merupakan aparat penegak hukum seperti
tentara atau polisi. Sepertinya, mereka melakukan hal tersebut karena didasari oleh latar
pekerjaan mereka yang mendapatkan pendidikan keras ala militer, yaitu dengan menerapkan
sikap otoriter. Sehingga berusaha menerapkannya juga pada keluarga mereka.
Sikap otoriter sering dipertahankan oleh orang tua dengan dalih untuk menanamkan disiplin
pada anak. Sebagai akibat dari sikap otoriter ini, anak menunjukkan sikap pasif (hanya
menunggu saja), dan menyerahkan segalanya kepada orang tua. Di samping itu, sikap otoriter
sering menimbulkan pula gejala-gejala kecemasan, mudah putus asa, tidak dapat
merencanakan sesuatu, juga penolakan terhadap orang lain, lemah hati atau mudah
berprasangka. Tingkah laku yang tidak dikehendaki pada diri anak dapat merupakan
gambaran dari keadaan di dalam keluarga.
Selain latar belakang pekerjaan, kadang secara tidak sadar Anda juga bisa melakukan
kekerasan pada anak karena tidak mampu mengontrol emosi. Sebagai manusia, wajar bila
Anda suatu saat merasa emosi baik karena ada masalah di kantor maupun stres karena
kemacetan dan sebab-sebab lainnya. Hal tersebut terkadang membuat Anda tidak mampu
berpikir jernih dan khilaf dengan melakukan kekerasan pada anak Anda saat mereka
melakukan kesalahan. Sehingga anak andalah yang menjadi sasaran dari pelampiasan dari
emosi anda.

Berikut merupakan contoh kasus yang akan dibahas mengenai kekerasan terhadap anak yang
dilakukan oleh orang tuanya:

Kasus Kekerasan Emosi/Verbal

Kasus:
1. Ayu (29 th), sangat kreatif dalam menakut-nakuti Bisma (4 th). Jangan main di
kamar mandi, nanti digigit kecoa. Jangan keluar rumah sendirian, nanti diculik hantu
blau. Ayo cepat tidur, nanti tokeknya datang, kamu digigit.
2. Nina (35 th) kerap meneriaki Dido (7 th). Aduh, dasar bego! Sudah ratusan kali ibu
bilang, kembalikan barang di tenpat semula! Bikin ibu darah tinggi.
3. Firdaus, kelas 1 SD, kerap pulang sekolah dengan perasaan sedih. Miss Yovita,
gurunya, sering mengatainya pemalas, pelupa dan jorok saat Firdaus pilek.
4. Bermaksud memotivasi anak, Meta sering mencela anaknya, Memangnya kamu
bisa? Kamu itu bisanya apa, sih? Ini nggak bisa, itu nggak bisa! Paling pintar nangis.
Meta juga sering mamarahi anaknya di tempat umum.

Pengabaian

Kasus:
Vira (24 th), punya anak tak lama setelah menikah. Ia merasa menjadi tawaan yang tidak
bebas lagi berkumpul dengan teman-teman. Real life tak seperti romantisme yang saya
bayangkan. Kebebasan saya terampas, ujarnya. Maka pengasuhan bayi sepenuhnya
diserahkan pada baby-sitter. Vira sendiri selalu pulang tepat sebelum suaminya tiba di rumah,
seolah seharian mengurus anak. Padahal, Tidur, mandi, makan, susu, bahkan uang belanja
harian dna bulanan, saya serahkan sepenuhnya pada baby-sitter. Saya tak mau tertawan.
(sumber : E-Magz Ayahbunda)

2. Rumusan Masalah
a) Apa itu kekerasan terhadap anak?
b) Mengapa orang tua berlaku kasar pada anaknya?
c) Kesalahan kesalahan apa saja yang sering dilakukan orang tuapada anaknya?
d) Bagaimana dampak kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya?
e) Apa solusi untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
Kekerasan terjadi ketika seseorang menggunakan kekuatan, kekuasaan, dan posisi nya untuk
menyakiti orang lain dengan sengaja, bukan karena kebetulan (Andez, 2006). Kekerasan juga
meliputi ancaman, dan tindakan yang bisa mengakibatkan luka dan kerugian. Luka yang
diakibatkan bisa berupa luka fisik, perasaan, pikiran, yang merugikan kesehatan dan mental.
Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan
emosional, atau pengabaian terhadap anak.
Menurut Andez (2006) kekerasan pada anak adalah segala bentuk tindakan yang melukai dan
merugikan fisik, mental, dan seksual termasuk hinaan meliputi: Penelantaran dan perlakuan
buruk, Eksploitasi termasuk eksploitasi seksual, serta trafficking/ jual-beli anak. Sedangkan
Child Abuse adalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh mereka yang
seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang memiliki kuasa atas anak
tersebut, yang seharusnya dapat di percaya, misalnya orang tua, keluarga dekat, dan guru.
Teori teori yang berkaitan dengan kekerasan terhadap anak:
Teori Evolusioner (Evolutionary Theory); teori ini mengajukan fakta bahwa masyarakat
telah berubah dari yang cenderung simpel menjadi lebih kompleks; bentuk keluarga menjadi
lebih kecil dan inti [ayah-ibu-anak], serta relasi sosial cenderung lebih terstruktur dan
karenanya menjadiambigu. Perubahan ini terjadi akibat perbedaan model pola asuh.
Sebagai contoh, dalam keluarga yang sangat ketat, ke-tidakindependen-an selalu diwariskan
kepada anak dan bahkan tumbuh kepercayaan bahwa hukuman fisik diperlukan untuk
memastikan kepatuhan. Teori ini menyatakan bahwa kepatuhan sangat penting bagi seseorang
dalam struktur hirarki tertinggi, terutama ketika aktivitas individu-individu [dibawahnya]
dilakukan di masyarakat formal yang bertemu di luar rumah.
Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory): menurut teori ini, kekerasan dalam
keluarga disebabkan oleh faktor situasional dan kontekstual. Faktor Kontekstual misalnya
berupa karakteristik individu/pasangan, stres, kekerasan dalam keluarga atau kepribadian
yang agresif. Sedangkan faktor situasional dapat berupa bentuk substansi kekerasan dan
kesulitan keuangan. Teori ini juga memperluas faktor-faktor ini sebagai pengaruh
pertumbuhan anak yang dikombinasikan dengan faktor eksternal.

B. Penyebab Orang Tua Berlaku Kasar pada Anak


Perlu diketahui bahwa orangtua sering kali tidak bisa membedakan bertindak tegas dan
bertindak kasar. Sebagian besar dari mereka pun masih percaya kalau kenakalan anak dapat
diselesaikan dengan tindak kekerasan fisik, seperti membentak, memukul, mencubit, dan

tindakan lainnya yang merugikan anak. Namun, pernahkan Anda berpikir apa dampak yang
akan muncul pada Si Kecil? Atau mungkin tanpa disadari, kenakalan yang ia lakukan justru
terbentuk dari kekerasan yang dialaminya?
Kekerasan pada anak terdiri dari beberapa jenis, yakni fisik, psikis, dan seksual. Parahnya,
kekerasan tersebut tidak lagi hanya dilakukan oleh ibu atau ayah tiri, seperti yang banyak
digambarkan selama ini, namun orangtua kandung pun sering melakukannya. Mengapa itu
bisa terjadi?
Menurut dra. Mayke Tedjasaputra, M.Psi, psikolog, playherapist, dan staf pengajar Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia, trauma serupa di masa kecil sangat mungkin menjadi faktor
tindakan kasar orangtua terhadap anak. Jika ditelusuri penyebabnya, bisa saja saat masa
kecilnya, orangtua juga mengalami hal yang serupa. Jadi, dia mengulang apa yang dilakukan
orangtuanya dulu, ungkapnya.
Selain trauma yang dialami orangtua pada masa lalunya, pendidikan dasar parenting juga
sangat diperlukan orangtua. Mayke menyimpulkan, ketidakmampuan orangtua
mengendalikan tindakan kasarnya, mengartikan bahwa mereka tidak siap atau tidak mampu
menjaga emosinya dari tekanan yang dialami. Dari segi perkembangan kepribadian, mereka
bisa dikatakan belum siap menjadi orangtua atau kurang memiliki bekal dasar mengenai
bagaimana seharusnya bersikap dan menghadapi anak, sehingga tidak bisa mengendalikan
emosinya.
Melihat faktor tersebut, kebiasaan kasar dan makian orangtua tentu perlu dikurangi. Sebagai
orangtua, Anda juga harus bisa membedakan antara tindakan tegas dan kasar. Tegas,
berorientasi pada kebaikan, sementara tindakan kasar lebih mengarah pada hal-hal yang
membahayakan dan memberikan ancaman terhadap anak. Selain itu, pertengkaran atau
tindakan KDRT yang terjadi antara ayah dan ibu pun perlu diwaspadai, karena tindakan
tersebut memiliki efek yang sama seperti dampak kekerasan yang dialami oleh anak.

C. Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua Saat Mendidik Anak


1. Menumbuhkan rasa takut dan minder pada anak
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita
takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan
tumbuh menjadi seorang penakut. Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang
sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri
karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.
Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya
sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan
atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman
menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar
wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak

semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa
sakit.
2. Mendidiknya menjadi sombong, panjang lidah, congkak terhadap orang lain. Dan itu
dianggap sebagai sikap pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah,
tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong
atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut
apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya, takut berbohong, karena ia tahu, jika
Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas
yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan
kebenaran.
3. Memenuhi semua permintaan anak
Sebagai orang tua tentu perlu menuruti permintaan anak. Tapi jika terlalu sering bahkan
sampai pada hal-hal yang bisa mendorong anak untuk bersikap tidak baik itu adalah
kesalahan. Anak bisa menjadi sangat manja dan tidak mandiri di kemudian hari.
4. Kemarahan yang tidak tepat
Terkadang orang tua wajib memarahi anaknya yang berbuat salah. Tapi hal itu harus
dilakukan dalam waktu dan situasi yang tepat. Sering kali orang tua memarahi anaknya di
depan umum atau di depan teman-temannya. Ini akan membuat anak kita merasa malu dan
rendah diri.
5. Membandingkan mereka dengan anak-anak lain
Anak mana yang ingin dibandingkan dengan orang lain. Ingat, potensi tiap anak tentu
berbeda. Jika ada anak teman kita yang pandai menari, bukan berarti anak kita juga jago
menari. Bisa saja anak kita memiliki bakat di bidang lain.
6. Suka berjanji tapi tidak ditepati
Ini dia sikap yang sangat buruk dan dibenci oleh anak. Orang tua sering menjanjikan suatu
hal kemudian tidak menepatinya. Hal tersebut akan membuat si anak kecewa dan tidak
percaya lagi pada kita.
7. Over protektif
Orang tua memang tahu apa yang dibutuhkan anak. Mereka sudah pernah menjadi anak-anak
sehingga tahu mana yang terbaik dan yang tidak baik untuk anak. Sehingga mereka jadi over
protektif. Sikap ini justru membuat si anak akan membangkang. Jadilah orang tua yang bijak.

C. Dampak Kekerasan yang Sering Dilakukan Orang Tua pada Anak


Dampak kekerasan pada anak menimbulkan sebuah hal yang tidak bisa dianggap remeh.
Ketika seorang anak mengalami tidak kekerasan dari orang tua mereka, maka secara
langsung mental dan juga psikologi mereka akan sangat terpengaruh bahkan hingga ke masa
depan. Seorang anak memang sebaiknya diberikan kelembutan, dan sebuah didikan yang
tepat tanpa mencakup kekerasan. Dengan adanya didikan yang tepat, maka anak akan tumbuh
menjadi seorang yang cerdas, tumbuh dengan baik, dan percaya diri.
Berikut dampak kekerasan pada anak dan sebaiknya mulai dari saat ini menghindari tindak
kekerasan tersebut.

1. Anak menjadi lebih keras kepala


Dengan tindak kekerasan yang terus dilakukan, anak anda tidak akan melunak terhadap
perintah yang anda berikan. Justru sebaliknya, mereka akan menjadi lebih keras kepala dan
tentu saja nakal. Hal ini dikarenakan anak selalu menerima tindak kekerasan dan mereka akan
lebih mudah memberontak ketimbang menurut kepada anda sendiri.
2. Agresif
Anak tanpa sadar akan lebih agraesif ketika menerima tindak kekerasan yang begitu
konsisten dari orang tua mereka. Dengan menjadi orang tua yang terus menekan anak, maka
secara langsung anak akan terpojok dan mendapatkan sebuah sifat pemberontak. Mereka juga
meniru apa yang anda lakukan dengan menjadi orang yang agresif.
3. Jarak anda dan akan semakin jauh
Alih-alih percaya dengan anda dan menurut, justru anak akan menjauh karena takut.
Kekerasan pada anak akan membuat jarak antara orang tua dengan anak akan begitu jauh dan
anak lebih memilih tidak mendekati anda. Anak kemudian lebih suka untuk bergaul bersama
orang lain, dan kemudian berbagi masalah kepada mereka yang mampu mendengarkan
dengan baik.
4. Pergaulan anak terganggu
Pertama, tentu saja anak merasa tidak percaya diri dan iri dengan teman-temannya yang
mempunyai orang tua pengertian. Kedua, anak akan lebih suka bergaul dengan remaja yang
brutal, dan mempunyai latar belakang sama dengannya. Ia bisa menjadi seorang yang nakal
dan lebih agresif di luar rumah sebagai pelampiasan tindak kekerasan yang anda lakukan.

D. Solusi Mencegah Kekerasan terhadap Anak

Untuk Orang Tua dan Pengasuh:

Berpikirlah sebelum bertindak. Kita sebagai orang tua tentu harus bisa berpikir
dengan jernih pada saat anak kita melakukan kesalahan, hukuman apa yang mungkin
bisa mendidik anak agar tidak melakukan kesalahan lagi tanpa harus disertai dengan
kekerasan.

Minta pendapat orang lain. Pada saat kita emosi sebaiknya kita menhindar dulu dari
anak kita dan mintalah pendapat pada teman atau saudara kita bagaimana sebaiknya
kita bersikap atau perbanyaklah membaca tentang tahap kembang tumbuh anak agar
kita bisa memaklumi yang dilakukan oleh anak kita.

Luangkan waktu untuk istirahat. Menjadi orang tua memang tidak mudah, oleh
sebab itu jika Anda merasa emosi Anda tidak stabil maka istirahatlah. Dengan begitu
Anda bisa berpikir dengan jernih dan tidak melampiaskannya pada anak sehingga
kekerasa bisa di cegah.

Awasi Permainan anak. Di zaman yang sudah canggih ini tentu anak akan dengan
mudah mendapatkan games atau permainan, perhatikan permainan apa yang mereka
mainkan. Jangan biarkan anak-anak melakukan permainan yang cenderung pada
kekerasan karena hal itu akan tersimpan dimemori anak dan jika emosi anak tidak
stabil maka ia akan melakukan seperti apa yang mereka lihat.

Laporkan. Jika anda melihat kekerasan pada anak dilingkungan Anda, beri
pengertian kalau tidak bisa segera laporkan. Dengan begitu Anda sudah membantu
mencegah kekarasan pada anak.

Aktiflah dikomunitas sosial. Jika Anda aktif dikomunitas sosial tentu akan
menambah wawasan Anda bagaimana cara mendidik dan memahami anak kita, agar
kita lebih mengerti dan sabar menghadapi segala hal yang dilakukan anak kita tanpa
adanya kekerasan.

Untuk Teman dan Tetangga:

Aktiflah di komunitas Anda dan kenalilah tetangga Anda. Tawarkan uluran tangan
untuk mengurus anak-anak akan sangat membantu orang tua lepas dari ketegangan.

Menjadi relawan pencegahan kekerasan anak

Ikut serta mempromosikan serta mengembangkan layanan kebutuhan anak dan


keluarga di komunitas Anda, baik di lingkungan rumah, gereja atau lainnya.

Laporkan jika Anda melihat kekerasan pada anak atau pengabaian anak.

Jika Anda punya memiliki alasan mempercayai bahwa anak telah mengalami
kekerasan, laporkanlah kepada polisi atau bisa juga menghubungi hotline service
KPAI (021-31901556) atau Komnas PA (021-87791818).

E. Tanggapan
Menurut saya, sebaiknya orang tua tidak melakukan kekerasan pada anaknya dalam hal
mendidiknya. Anak yang dididik dengan kekerasan akan menimbulkan dampak fisik dan
psikis yang buruk pada dirinya kelak. Dan orang tua semestinya mendidik anak dengan penuh
kasih sayang tanpa mengabaikan tanggung jawab dan kewajiban yang harus dilakukan anak
terhadap orang tuanya. Sehingga orang tua dan anak bisa memiliki hubungan yang harmonis.

BAB III
KESIMPULAN
Setelah apa yang telah dipelajari, dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak adalah
tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap
anak yang dilakukan oleh orang tuanya. Penyebab yang sering menimbulkan orang tua
berlaku kasar terhadap anaknya yaitu stres emosi yang tidak stabil.
Dampak kekerasan pada anak sangat mempengaruhi pada mental dan juga psikologi mereka,
diantaranya:
1. Anak menjadi lebih keras kepala dan nakal
2. Anak tanpa sadar akan lebih agresif
3. Anak akan menjauh dari anda karena takut
4. Anak merasa tidak percaya diri

Solusi yang sebaiknya digunakan untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak yaitu
dengan mengontrol emosi, tidak melampiaskan stres dan kekesalannya pada anaknya, selalu
berpikiran jernih, dan memikirkan kembali apa yang akan dilakukan oleh orang tua kepada
anaknya. Dan yang paling penting, selalu mendidik anak dengan penuh kasih sayang.

DAFTAR PUSTAKA
Solihin, Lianny. 2004. Tindakan Kekerasan pada Anak dalam Keluarga. Jakarta: Jurnal
Pendidikan Penabur - No.03 / Th.III
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_terhadap_anak
http://rafenoktoloren.blogspot.com/2014/05/kekerasan-terhadap-anak.html
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/contoh.kasus.kekerasan.terhadap.anak.d
an.dampaknya/001/007/430/1/1
https://www.facebook.com/NutrisiTumbuhKembangAnak/posts/218433828315924
http://www.gizikia.depkes.go.id/sekretariat/dampak-kekerasan-terhadap-tumbuh-kembanganak/

http://www.motherandbaby.co.id/article/2013/10/11/994/Kekerasan-pada-Anak-1-PenyebabOrangtua-Bertindak-Kasar
http://www.islampos.com/kesalahan-orang-tua-mendidik-anak-113529/
http://tipsanak.com/1603/ketahui-dampak-kekerasan-pada-anak/
http://dloepiq.blogspot.com/2014/05/cara-mencegah-perilaku-kekerasan-pada.html
http://anakbersinar.com/news/detail/id/122/Mencegah-Tindakan-Kekerasan-TerhadapAnak.html

Makalah Masalah Sosial


Kekerasan Orang Tua terhadap Anaknya

Oleh :
Ima Lutfiana
14020114120053
11

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


ADMINISTRASI PUBLIK UNIVERSITAS DIPONEGORO 2014