Anda di halaman 1dari 3

1.

Apersepsi
2. Pengamatan
3. Fantasi
4. Konsep
Menurut Kuncaraningrat, pengetahuan ialah unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa
seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung di dalam otaknya.
Pengetahuan adalah seluruh penggambaran yang unsur-unsurnya terdiri dari apersepsi,
pengamatan, konsep serta fantasi terhadap alam.
Untuk memahami unsur-unsur yang membentuk pengetahuan tersebut, orang Barat
menganalisanya dengan ilmu psikologi.
Ilmu psikologi yang bersumber dari Barat bertujuan untuk menganalisa kebiasaan-perilaku atau
kepribadian manusia secara individu.
Tidak ada manusia yang sama di dunia, setiap orang berbeda sikapnya menghadapi
lingkungannya dan itulah yang disebut sebagai pribadi; sedangkan ilmu antropologi-sosiologi
berfungsi untuk menganalisa menguraikan sifat-sifat atau kebiasaan-kebiasaan sekelompok
orang.
Pengisian kesadaran otak ini datang dari pancaindera yang menerima gelombang

cahaya-warna, getaran akustik, bau, rasa, tekanan-mekanik, suhu, dsb. dari alam sekitarnya.
Di otak terjadi proses fisik, fisiologi dan psikologi sehingga orang menjadi sadar terhadap
keadaan lingkungannya dan hal ini disebut sebagai persepsi.
Contohnya: Ketika seseorang sedang berjalan dipinggir jalan raya, tiba-tiba matanya melihat
bak sampah.
Bak sampah itu berisi macam barang bekas seperti kaleng, plastik, bangkai ayam, kucing yang
mencari makan dsb.
Setiap orang memiliki pemahaman sendiri-sendiri terhadap bak sampah tersebut.
Ada yang memahaminya sebagai tempat penularan penyakit.
Ada yang merasa kasihan kepada kucing dan ada pula yang berpikir petugas kebersihan kota
malas dan banyak pemahaman lainnya.
Persepsi ini berbeda dengan rekaman lensa kamera foto yang merekam semua unsur yang ada di
depan kamera secara objektif.
Pada manusia sesuatu yang telah dilihatnya, kemudian mata tersebut dipejamkan maka yang
tergambar dalam kesadaran orang itu tidak seluruh benda-benda yang telah dilihat tadi, tapi
banyak hal-hal yang hilang di dalam kesadarannya.
Ada fokus atau bagian-bagian yang menarik dari persepsi tersebut.
Orang lalu menghubungkannya dengan penggambaran sejenis yang pernah diterima pada masa
lalu, sehingga muncul pemahaman baru samasekali.

Dengan demikian timbul banyak pengertian terhadap yang mula-mula hanya berupa persepsi
saja.
Keadaan semacam ini di dalam ilmu psikologi disebut sebagai apersepsi.
Apabila individu secara intensif memusatkan akalnya terhadap persepsi yang secara khusus
sangat menarik perhatiannya maka kegiatan tersebut dalam psikologi dikatakan sebagai
pengamatan.
Misalnya orang tersebut merasa kasihan kepada kucing, dan selanjutnya dia akan mengamati
mengapa kucing tersebut berada di situ.
Ketika mengamati keadaan lingkungan, seseorang kadang-kadang melebih-lebihkan atau
mengurangi sesuatunya sehingga hal tersebut tidak mungkin terealisasi di alam nyata karena
tidak realis, dan aktifitas semacam ini disebut sebagai fantasi.
Misalnya, bagaimana kalau tempat sampah tersebut langsung dihubungkan dengan pipa yang
bertekanan tinggi dan dapat menghisap seluruh sampah di bak sehingga tempat tersebut tidak
kotor.
Kemampuan orang untuk membuat konsep dan berfantasi akan mengembangkan daya cipta
manusia untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
Orang juga menggabungkan dan membanding-bandingkan suatu penggambaran yang sejenis
secara mantap dengan metode-metode tertentu sehingga mendapatkan hal yang baru samasekali.
Penggambaran yang baru ini bersifat abstrak karena belum pernah dialami bahkan mungkin juga
belum pernah dilihat dan didatangi.
Misalnya membandingkan bangkai ayam di tempat sampah itu, dengan makanan ular di kebun
binatang yang juga ayam mati.
Inilah yang disebut sebagai konsep.
Kemudian timbul pemikirannya (konsep), mungkin bangkai ayam tadi dapat dikumpulkan dan
dijual ke kebun binatang.
Dari uraian unsur-unsur yang membentuk pengetahuan manusia berdasarkan ilmu psikologi
Barat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa semuanya berpusat dan bersumber dari kesadaran
serta kegiatan otak yang menerima rangsangan dari pancaindera.
Tidak ada disebut-sebut peranan jiwa atau ruh.
Meskipun mengakui adanya psiche manusia, yang sifatnya abstrak tapi psiche ini tidak dapat
disamakan dengan jiwa atau ruh di dalam pemahaman bangsa Timur.
Menurut kepercayaan Timur, ruh atau jiwa adalah badan halus yang juga mengatur perasaan
manusia dan membentuk tubuh manusia secara bersama-sama dengan badan kasar.
Otak hanya ada di badan kasar.
Badan halus juga menerima hidayah, yang harus diekspresikan di badan kasar, untuk selanjutnya
rasa ini dibawa naik ke arah atas yaitu ke otak.
Badan kasar serta badan halus yang berisi ruh-jiwa merupakan pasangan yang tidak terpisah
selama manusia masih hidup.
Badan kasar serta badan halus ini saling isi mengisi, dan membentuk bit informasi tubuh
manusia ibarat lambang 0 dan 1.

Hidayah yang ada di otak berupa kesadaran logika harus bekerjasama dengan hidayah rasa yang
turun di dada.
Bukan saling mengatur seperti yang dipahami oleh budaya Barat.
Hanya sedikit manusia diberi tahu tentang ruh ini.
Oleh sebab itu psiche atau ilmu psikologi tidak dapat diterjemahkan sebagai ilmu jiwa manusia.
Ilmu psikologi dapat dianalisa dengan bermacam-macam teori, diantaranya teori psikoanalisa
dari Sigmund Freud.
Freud berpendapat semua aktifitas psiche selalu dihubungkan dengan kesadaran otak manusia.
Sedangkan letak ruh diisyaratkan oleh gerakan tangan yang menunjukkan ke akuan dengan cara
menepuk atau meletakkan telapak tangan di dada sendiri.
Adat yang fungsinya lebih memfokuskan pada aturan bermasyarakat, juga dapat digunakan
untuk memahami pandangan falsafah Minang terhadap ilmu pengetahuan atau akal manusia.
Hal ini karena adat itu sendiri merupakan hasil dari aktifitas merasa serta memeriksa yang
selanjutnya bertemu di otak, sesuai dengan adagium rasa dibawa naik, periksa dibawa turun.
http://www.nanampek.nagari.or.id/c35.php