Anda di halaman 1dari 14

Prinsip-prinsip DASAR PENELITIAN SEJARAH

Prinsip-prinsip DASAR PENELITIAN SEJARAH


A. Langkah-langkah dalam Penelitian Sejarah
B. Sumber, Bukti dan Fakta Sejarah
C. Jenis-jenis Sejarah
D. Prinsip-prinsip Dasar dalam Penelitian Sejarah Lisan
E. Peristiwa, Peninggalan Sejarah & Monumen Peringatan Peristiwa Bersejarah
A. LANGKAH-LANGKAH DALAM PENELITIAN SEJARAH
Sejarah adalah sebuah proses perubahan. Di dalamnya, terdapat proses perubahan yang
berkelanjutan (kontinuitas) dan proses perubahan yang tidak berkelanjutan (diskontinuitas).
Dalam setiap proses perubahan selalu terdapat unsur yang sama, berulang, berbeda-beda, tunggal
serta unik.
Dalam ilmu sejarah, proses berkelanjutan (kontinuitas) dipahami sebagai proses saling
mengkait antara serangkaian peristiwa atau kejadian dalam sebuah urutan waktu tertentu. Sebuah
proses sejarah dikatakan berkelanjutan karena ia dapat mempengaruhi peristiwa sejarah lainnya.
Sebuah proses sejarah juga dapat dikatakan sebagai proses yang tidak berkelanjutan
(diskontinuitas). Penyebabnya karena setiap peristiwa sejarah pada dasarnya merupakan
peristiwa tunggal yang unik, abadi dan hanya sekali terjadi dalam kehidupan manusia
Menurut Kuntowijoyo, proses penelitian sejarah memiliki lima tahapan, yaitu pemilihan topik,
heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.
PEMILIHAN TOPIK
Topik itu harus bernilai, bersifat orisinal, bersifat praktis, dan yang terpenting adalah memiliki
kesatuan antara kesemua unsur tersebut.
Dalam pemilihan topik, seorang sejarawan harus memperhatikan adanya kedekatan emosional
dan kedekatan intelektual.
Dalam memulai proses pemilihan topik penelitian, seorang sejarawan dapat berpegang pada
empat perangkat pertanyaan. Pertama, yang bersifat geografis (dimana?). Kedua, yang bersifat
biografis (siapa?). Ketiga, yang bersifat kronologis (bagaimana?). Keempat, yang bersifat
fungsional (apa?).
KESALAHAN-KESALAHAN DALAM PROSES PEMILIHAN TOPIK
Kesalahan Baconian, yaitu pendapat bahwa tanpa teori, konsep, ide, paradigma, praduga,
hipotesis, atau generalisasi yang lain, penelitian sejarah dapat dilakukan.
Kesalahan terlalu banyak pertanyaan, pertanyaan yang terlalu banyak membuat fokus
pertanyaan akan hilang.
Kesalahan pertanyaan yang bersifat dikotomi, yaitu pandangan sejarah yang hitam putih atau
seolah-olah sejarah hanya memiliki dua kemungkinan.
HEURISTIK
Heuristik yaitu tahap pengumpulan informasi tentang topik dalam penelitian sejarah.
Dalam tahap heuristik, sejarawan bekerja dengan menggunakan sumber-sumber pustaka,
seperti ensiklopedia, kamus biografi, kamus sejarah, kamus tematis (ekonomi,sosiologi, dll.),
buku sejarah umum, dokumen yang diterbitkan, bahan-bahan arkeologis, epigrafis dan
numismatis.

KESALAHAN-KESALAHAN YANG HARUS DIHINDARI DALAM PROSES


HEURISTIK
Kesalahan holisme, kesalahan yang menganggap satu bagian penting mewakili keseluruhan.
Kesalahan pragmatis, yang terjadi karena sumber dipilih untuk tujuan tertentu.
Kesalahan ad-hominem, yaitu bahwa dalam pengumpulan sumber sejarah hanya memilih
subjek tertentu.
VERIFIKASI
Verifikasi, adalah proses pengujian terhadap data-data sejarah.
Dalam proses verifikasi, seorang sejarawan harus memperhatikan masalah otentisitas.
Sejarawan juga harus memperhatikan kredibilitas sumber dan kredibilitas dokumen.
KESALAHAN YANG HARUS DIHINDARI DALAM PROSES VERIFIKASI
Kesalahan pars pro toto, yaitu bukti yang hanya berlaku untuk sebagian dilakukan untuk
keseluruhan.
Kesalahan totem pro parte, yaitu mengemukakan keseluruhan padahal hanya sebagian.
Kesalahan menganggap umum sebagai fakta.
INTERPRETASI
Interpretasi adalah mentafsirkan data sejarah dalam proses ini terlihat unsur subjektifitas. Oleh
karena itu sejarawan harus jujur mencantumkan data dan keterangan yang diperoleh. Interpretasi
terbagi menjadi dua, yaitu analisis dan sintetis.
Analisis, yang berarti menguraikan. Dalam analisis, sejarawan mencoba untuk melihat
beberapa kemungkinan yang dikandung oleh suatu sumber sejarah.
Sintetis, yang berarti menyatukan. Dalam proses ini, data dikelompokan menjadi satu dengan
pola generalisasi konseptual.
HISTORIOGRAFI (PENULISAN SEJARAH)
Berdasarkan caranya:
Penulisan sejarah atau historiografi naratif, yaitu penulisan sejarah yang berorientasi pada aktor
sejarah sebagai individu.
Penulisan sejarah atau historiografi strukturalis, yaitu penulisan sejarah sebagai rekaman
peristiwa struktural berupa proses/corak peruahan masyarakat, bangsa dan dunia (sejarah sosial)
B. SUMBER, BUKTI,DAN FAKTA SEJARAH
Berdasarkan bahan, sumber sejarah terdiri dari sumber bukti tertulis seperti prasasti dan naskah,
serta sumber bukti tidak tertulis seperti benda-benda kebudayaan.
Berdasarkan urutan penyampaiannya, sumber sejarah terbagi menjadi sumber sejarah primer
dan sumber sejarah sekunder.
Bukti sejarah terbagi menjadi 2, yaitu bukti sejarah tertulis dan bukti sejarah tidak tertulis.
Fakta sejarah terbagi menjadi 2, yaitu fakta mental dan fakta sosial.
C. JENIS-JENIS SEJARAH
Sejarah ekonomi, yaitu sejarah yang menceritakan tentang proses penyediaan barang dan jasa
oleh manusia.
Sejarah politik, yaitu sejarah yang berisi tentang raja-raja, negara, perang, dan lainnya.
Sejarah sosial, yaitu sejarah yang bercerita tentang masyarakat.
Sejarah kebudayaan, yaitu sejarah tentang pola kehidupan, kesenian, dan cara berfikir.
D. PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENELITIAN SEJARAH LISAN
Sejarah lisan adalah catatan dan interpretasi kesaksian lisan terhadap peristiwa masa lampau.

Sejarah lisan dapat digali melalui wawancara, penyalinan dan penyuntingan hasil wawancara
secara kritis
Sejarah lisan dapat digunakan sebagai metode, sumber sejarah dan peluang pengembangan
substansi penulisan sejarah
E. PERISTIWA, PENINGGALAN SEJARAH, DAN MONUMEN PERINGATAN
PERISTIWA BERSEJARAH
Peristiwa bersejarah harus memiliki makna sosial yang dalam.
Peninggalan sejarah pada hakekatnya berfungsi sebagai bukti sejarah.
Monumen peringatan peristiwa bersejarah antara lainnya berfungsi untuk mengenang,
penyampaian pesan, dan penghormatan.

Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah


Sejarah merupakan bagian dari ilmu pengetahuan. Sebagai ilmu pengetahuan maka sejarah
harus dapat dipercaya kebenarannya. Oleh karena itu didalam menggali berbagai peristiwa
sejarah yang pernah terjadi harus berdasarkan pada sumber-sumber yang ada. Untuk menggali
sumber-sumber sejarah harus berdasarkan pada metode penelitian sejarah. Metode penelitian
sejarah adalah langkah-langkah sistematis didalam mengkaji berbagai peristiwa sejarah melalui
pencarian informasi sumber sejarah, mengumpulkan sumber sejarah, memeriksa kebenaran
sumber sejarah, menafsirkan sumber sejarah dan menuliskan kembali peristiwa sejarah.
Menurut Louis Gottschalk metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara
kritis terhadap rekaman atau peninggalan masa lampau. Kemudian data-data yang telah teruji
dan dianalisis disusun kembali menjadi sebuah kisah sejarah. Adapun cara kerja atau langkahlangkah penelitian sejarah meliputi
1. Langkah-Langkah Penelitian Sejarah
Sejarah merupakan bagian dari ilmu pengetahuan serta memiliki obyek yang jelas yaitu
peristiwa yang pernah terjadi pada masa lampau. Selain itu sejarah juga memiliki metode
penelitian tersendiri yaitu metode historis . Metode historis adalah proses penelahaan secara
ilmiah terhadap berbagai peristiwa dari perspektif sejarah. Yang dimaksud dengan perspektif
adalah menganalisis peristiwa yang pernah terjadi pada masa lampau untuk kepentingan masa
sekarang dan masa yang akan datang.
Untuk menganalisis berbagai masalah pada umumnya dicari generalisasi sehingga dapat
memahami memahami kenyataan-kenyataan pada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan
datang. Dengan malalui metode historis maka dapat dilakukan penafsiran terhadap gejala,
peristiwa maupun gagasan yang pernah muncul pada masa lalu. Oleh karena dalam penelitian
sejarah perlu ada bantuan dari displin ilmu-ilmu yang lain yang ada hubungannya (relevansi)
dengan ilmu sejarah. Adapun ilmu-ilmu bantu yang berhubungan dengan sejarah antara lain
sebagai berikut :
1. Arkheologi adalah ilmu yang mempelajari benda-benda purbakala.
2. Paleografi adalah ilmu yang mempelajari cara membaca naskah-naskah kuno.
3. Epigrafi adalah ilmu yang memperlajari prasasti.
4. Ikonografi adalah ilmu yang mempelajari makna yang terdapat pada patung.
5. Bibliografi adalah ilmu yang mempelajari penyusunan buku-buku sumber.

6. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan pada masyarakat.


7. Numismatik adalah ilmu yang mempelajari uang kuno.
8. Filologi adalah ilmu yang mempelajari naskah-naskah kuno.
A. Metodologi Penelitian Sejarah
Agar ilmu sejarah dapat dipercaya kebenarannya, maka sejarah memiliki kaidah atau disiplin
ilmiah yaitu metodologi penelitian sejarah. Metodologi adalah langkah-langkah atau tahapantahapan yang harus dilaksanakan dalam penelitian sejarah. Metodologi penelitian sejarah
merupakan suatu proses untuk mengumpulkan, menilai dan menafsirkan sumber-sumber sejarah
yang telah ditemukan. Oleh karena itu metode penelitian sejarah terdiri dari heuristik, verifikasi,
intepretasi dan historiografi.
1. Heuristik
Kata heuristik berasal dari bahasa Yunani yaitu heuriskeia yang artinya menemukan.
Heuristik merupakan langkah awal untuk mencari, menemukan dan mengumpulkan sumbersumber sejarah yang berhubungan dengan obyek penelitian. Pada tahap ini peneli harus
melakukan observasi atau pengamatan, studi dokumenter memalui lembaga-lembaga kearsipan,
perpustakaan dan museum, serta wawancara terhadap para pelaku atau saksi sejarah. Adapun
sumber-sumber sejarah yang dimaksud terdiri dari :
a.

Sumber Primer
Sumber primer merupakan sumber asli yang diperoleh dari para pelaku sejarah dan saksi
sejarah. Sumber primer ini diperoleh dari orang sejaman atau orang pertama yang pernah
mengalami sendiri secara langsung peristiwa sejarah yang sesungguhnya. Untuk memperoleh
sumber ini maka seorang peneliti harus melakukan kegiatan wawancara, sehingga dapat
diperoleh sejumlah keterangan lisan terhadap obyek penelitian.
Contoh obyek penelitian sejarah adalah Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Sumber primer yang dibutuhkan adalah para pelaku atau saksi sejarah seperti Ir. Soekarno, Drs.
Mohammad Hatta, Mr. Ahmad Subardjo dan lain-lain. Terhadap para pelaku atau saksi tersebut
maka peniliti harus melakukan wawancara secara langsung, sehingga dapat memperoleh
keterangan lisan mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat proklamasi kemerdekaan
Indonesia.

b. Sumber Sekunder

Sumber sekuder merupakan keterangan lisan dari pihak kedua yaitu orang yang tahu terjadinya
peristiwa sejarah tetapi tidak pernah menjadi pelaku. Pihak kedua ini merupakan saksi ahli
yaitu orang-orang yang memiliki keahlian tertentu seperti
ahli sejarah, ahli arkeologi, ahli antropologi dan sebagainya.
Dengan demikian maka heuristik adalah langkah-langkah untuk mencari, menemukan dan
mengumpulkan berbagai sumber-sumber sejarah baik yang berupa keterangan lisan dan
keterangan tertulis. Sedangkan keterangan tertulis dapat diperoleh melalui studi kepustakaan
melalui lembaga kearsipan, perpustakaan, maupun museum. Banyak sedikitnya sumber sejarah
yang sudah dikumpulkan sangat berpengaruh terhadap penulisan sejarah. Apabila sumber sejarah
yang sudah dikumpulkan semakin banyak, maka proses penulisan sejarah akan semakin jelas,
mendalam, mudah dan akurat (lengkap). Sebaliknya bila sumber sejarah yang terkumpul jumlah
sedikit, maka proses penulisan sejarah akan mengalami kesulitan serta terbatas.
1. Verifikasi
Verifikasi adalah kegiatan memeriksa, mengoreksi dan menilai sumber-sumber sejarah yang
telah dikumpulkan. Jika sumber sejarah telah diseleksi, maka akan diklasikfikasi (kritik sumber)
menurut derajat-derajat perbedaannya. Melalui kritik sumber itulah, maka dapat dicari perbedaan
antara sumber asli dengan sumber asli, penting dan tidak penting, dapat dpercaya kebenarannya
atau tidak dapat dipercaya. Proses klasifikasi tidak hanya berdasarkan pada kegunaannya tetapi
melihat waktu pembuatan sumber sejarah yang sudah diperoleh. Oleh karena itu, maka ada dua
macam kritik sumber sejarah, antara lain :
a.

Kritik Intern
Kritik intern merupakan penilaian terhadap keaslian dan kebenaran isi atau materi sumber
sejarah baik yang berupa keterangan lisan dan keterangan tertulis. Kritik intern ini dilaksanakan
dengan cara membandingkan sumber sejarah yang berbeda-beda. Dari perbandingan tersebut,
maka dapat diperoleh derajat persamaan dan derajat perbedaan terhadap isi sumber sejarah.

Sehingga peniliti dapat menilai bahwa isi sumber sejarah yang sedang diteliti tersebut adalah
asli, palsu, penting, tidak penting, dapat dipercaya kebenarannya atau tidak dapat dipercaya
kebenarannya.
Sebagai contoh yaitu membandingkan naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang
ditulis tangan oleh Ir. Soekarno dengan naskah teks proklamasi proklamasi kemerdekaan
Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik. Dengan perbandingan tersebut maka dapat diperoleh
derajat perbedaan dan persamaan isi atau materi sumber sejarah. Perbedaannya naskah yang
ditulis oleh Ir. Soekarno merupakan naskah asli karena terdapat perubahan seperti kata tempoh
dicoret dan diganti menjadi kata tempo tanpa (h) atau otentik (asli), sedangkan yang diketik oleh
Sayuti Melik merupakan naskah resmi (syah), karena sudah dintandatangani oleh oleh SoekarnoHatta atas nama bangsa Indonesia. Adapun persamaannya adalah bahwa isi naskah teks
proklamasi merupakan pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia.
b. Kritik ekstern
Kritik ekstern merupakan proses penilaian terhadap bahan-bahan yang digunakan untuk
membuat sumber sejarah. Pada tahap ini peneliti harus memeriksa bahan-bahan yang digunakan
untuk membuat sumber sejarah, seperti; batu, kertas, tinta, tulisan tangan, bentuk huruf dan
sebagainya. Sehingga apabila bahan-bahan yang digunakan sejaman maka sumber sejarah dapat
dipercaya kebenarannya. Akan tetapi jika bahan-bahan yang digunakan tidak sejaman, maka
sumber sejarah tidak dapat dipercaya kebenarannya.
Misalnya; pada jaman Hindu-Budha manusia belum mengenal kertas, maka media yang
digunakan untuk menulis dapat menggunakan batu, kayu, tulang, kulit binatang, daun lontar dan
sebagainya. Sedangkan pada jaman modern media yang digunakan untuk menulis pada
umumnya menggunakan kertas, meskipun masih ada sebagian kecil yang menggunakan batu,
kayu, tulang, kulit binatang untuk menulis.
Sebagai contoh adalah naskah teks proklamasi kemrdekaan yang ditulis tangan oleh Ir.
Soekarno dengan yang diketik oleh Sayuti Melik. Sehingga dari perbandingan tersebut dapat
diperoleh perbedaan mengenai bentuk tulisan tangan dengan bentuk tulisan yang menggunakan
mesin ketik. Selain itu dapat diperoleh perbedaan dan persamaan terhadap tinta yang digunakan
untuk membuat tulisan tangan maupun untuk membuat tulisan pada mesin ketik. Dari
perbandingan terhadap naskah teks proklamasi juga dapat diperoleh persamaan maupun

perbedaan terhadap kertas yang digunakan untuk membuat tulisan tangan maupun untuk
membuat tulisan pada mesin ketik.
Dengan demikian kritik intern maupun kritik ekstern merupakan bagian penting dalam proses
penelitian sumber sejarah. Sehingga dari proses penilaian tersebut dapat diperoleh keaslian dan
kebenaran terhadap sumber sejarah baik yang berhubungan dengan isi atau materi maupun bahan
yang digunakannya.
2. Intepretasi
Intepretasi adalah memberikan kesan, penafsiran, pendapat serta pandangan toeritis teradap
sumber sejarah, baik yang berhubungan dengan isi atau materi maupun bahan-bahan yang
digunakan. Dalam proses analisis sumber sejarah diperlukan ketajaman otak, sehingga dapat
menyampaikan pandangan teoritis dengan menggunakan konsep-konsep dan hipotesis-hipotesis
sesuai disiplin ilmiah. Sehingga proses pengungkapan kembali peristiwa sejarah tidak hanya
sekedar dekriptif (naratif) namun lebih mengarap pada analisis. Contoh dalam Prasasti Tugu
peninggalan

Kerajaan

Tarumanegara

berisi

bahwa

Purnawarman

dalam

tahun

pemerintahannya yang ke -22 telah memerintahkan untuk menggali sungai Gomati yang
panjangnya 6122 busur (12 km) dalam waktu 21 hari, disamping menggali sungai Candrabhaga
(kali Bekasi). Setelah selesai dilakukan selamatan dengan memberi hadiah 100 ekor lembu
kepada para Brahmana. Dari isi prasasti Tugu tersebut maka dapat diperoleh keterangan
analisis sebagai berikut :
a.

Perintah raja Purnawarman sangat ditaati oleh rakyat kerajaan Tarumanegara.

b. Raja Purnawarman sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.


c.

Rakyat Tarumanegara suka bekerja secara gotong royong (memiliki sifat kekeluargaan).

d. Kehidupan masyarakat Tarumanegara bercorak agraris (mata pencaharian sebagai petani)


e.

Kondisi masyarakat aman, tentram dan damai.

f.

Masyarakat Tarumanegara menganut agama Hindu yang dipimpin oleh kaum Brahmana.
Selain itu, dalam mengintepretasikan sumber sejarah harus bersikap obyektif sesuai dengan
kenyataan yang ada, berpihak pada kepentingan yang lebih luas dan Indonesiasentris. Intepretasi
obyektif harus berdasarkan pada sumber-sumber yang dapat dipercaya kebenarannya. Sehingga
antara peristiwa yang sesungguhnya dengan sumber-sumber pendukungnya terdapat kesesuaian
atau antara fakta dengan data terdapat kesamaan.

3. Historiografi

Puncak penelitian sejarah adalah historiografi atau penulisan sejarah. Dalam proses penulisan
sejarah harus memperhatikan beberapa hal, antara lain :
a. bersifat Indonesiasentris atau berpandangan untuk kepentingan bangsa Indonesia.
b. sesuai dengan perkembangan jaman sekarang agar dapat diterima oleh seluruh masyarakat.
c. mengingat bahwa sejarah merupakan bagian dari pembangunan pendidikan karakter bangsa
(nation-building).
d. memperhatikan struktur dan gaya penulisan, sehingga cara penyajian sejarah memiliki unsurunsur seni serta komunikatif.

1. Sumber, Bukti dan Fakta Sejarah


a.

Sumber Sejarah
Untuk mengungkap kembali peristiwa-peristiwa masa lampau menjadi suatu kisah sejarah
diperlukan adanya sumber, bukti serta fakta-fakta sejarah. Dari sumber, bukti serta fakta-fakta
sejarah dapat diperoleh sejumlah informasi yang menjelaskan tentang terjadinya suatu peristiwa
tertentu.
Sumber merupakan pusat informasi baik berupa keterangan tertulis maupun keterangan lisan.
Sumber sejarah dapat berupa dokumen, catatan, prasasti, berita, arsip dan lain sebagainya.
Didalam sumber itu sendiri terdapat bukti dan fakta yang berhubungan dengan terjadinya
peristiwa. Contoh : Seorang siswa dinyatakan telah lulus sekolah apabila telah memiliki bukti
tertulis yang berupa ijazah, raport, surat keterangan hasil ujian. Bukti-bukti tersebut dapat
menjadi fakta yang menunjuk pada kejadian secara nyata. Dengan adanya sumber, bukti dan
fakta maka setiap peristiwa yang pernah terjadi dapat dipercaya kebenarannya.
Berdasarkan pada sifatnya maka sumber sejarah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

1. Sumber primer
Merupakan informasi yang diperoleh secara langsung dari para pelaku atau saksi peristiwa
bersejarah. Informasi ini berupa keterangan lisan sehingga dapat menjadi sumber utama
mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Contoh : Ir. Soekarno, Drs.
Mohammad Hatta, Mr. Ahmad Subarjo, merupakan pelaku sejarah yang dapat memberikan
keterangan lisan mengenai penulisan konsep naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian sumber primer dapat menjadi kunci utama untuk melihat dan memahami masa
lampau yang sesungguhnya telah terjadi.
2. Sumber sekunder
Sumber ini berisi informasi atau keterangan yang diperoleh dari perantara, tetapi tidak memiliki
hubungan secara langsung terhadap terjadinya peristiwa sejarah. Sumber sekunder ini digunakan
untuk menjabarkan latar belakang terjadinya peritawa yang berhubungan dengan sebab-akibat.
Bukti-bukti tertulis memiliki ketepatan dan keakuratan baik antara objek yaitu terjadinya
peristiwa dan sumbyek yaitu manusia yang menjadi pelaku terjadinya peristiwa. Contoh :
Naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Ir. Soekarno maupun
yang diketik oleh Sayuti Melik.
3. Sumber tersier
Sumber tersier ini merupakan keterangan lisan yang diperoleh atau disampaikan oleh pihak
ketiga atau lebih. Yang dimaksud pihak ketiga adalah saksi ahli, yaitu seseorang yang memiliki
keahlian pada bidang tertentu. Contohnya ahli sejarah, ahli geologi, ahli palaeoanthropologi,
ahli anthropologi, ahli arkheologi.
Sedangkan berdasarkan pada bentuk atau wujudnya, maka sumber sejarah dapat dibedakan
menjadi tiga macam, antara lain :
1. Sumber tertulis
Sumber tertulis berisi keterangan atau informasi tertulis, seperti prasasti, naskah, dokumen, arsip,
catatan. Sumber tertulis dapat dibedakan menjadi :
a.

Sumber tertulis sejaman dan setempat


Sumber ini tingkat derajatnya lebih tinggi, karena ditulis oleh orang sejaman dengan terjadinya
peristiwa. Contoh :

Prasasti Ciaruteun yang ditulis oleh orang yang hidup pada jaman

kerajaan Tarumanegara. Sehingga orang yang menulisnya tahu persis dengan peristiwaperistiwa yang terjadi pada jaman kerajaan Tarumanegara. Prasasti tersebut ditemukan didaerah
Jawa Barat yang pernah menjadi tempat berdirinya kerajaan Tarumanegara (artinya sama-sama
setempat dan sejaman).
b. Sumber tertulis sejaman tidak setempat
Sumber ini ditulis oleh orang asing diluar negeri, sehingga keterangannya tidak lengkap bahkan
tidak jelas, penulisannya hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Contoh : Prasasti

Nalanda yang memberikan informasi tentang kerajaan Sriwijaya, tetapi ditulis oleh orang asing
dari kerajaan Nalanda yang terdapat di India.
c.

Sumber tertulis setempat tidak sejaman


Tingkat derajat sumber ini adalah menengah, sumber ini ditulis oleh orang setempat, tetapi
jamannya berbeda. Penulisan sumber ini juga didasarkan dari cerita lisan, sehingga isi
informasinya dapat saja ditambah atau bahkan dikurangi. Jenis sumber ini dapat berupa babad,
kidung, epos, hikayat. Contoh : Babad Tanah Jawi, Kidung Sunda, Epos Arjuna Wiwaha.

2. Sumber lisan
Sumber lisan berupa keterangan langsung yang diperoleh dari para pelaku atau saksi peristiwa
sejarah melalui wawancara. Dari keterangan lisan inilah maka dapat diperoleh sejumlah
informasi yang sifatnya obyektif. Maksudnya tidak memihak pada salah satu kepentingan
kelompok, individu dan memiliki tujuan tertentu.
3. Sumber benda
Sumber benda biasanya disebut artefak atau benda-benda peninggalan bersejarah. Benda-benda
ini dapat berupa bangunan gedung, benteng pertahanan, candi, perhiasan, dan sebagainya. Ada
tiga macam cara untuk mengetahui usia benda-benda peninggalan bersejarah, antara lain :
a.

Secara tipologi yaitu menentukan usia benda-benda sejarah berdasarkan pada bentuk atau
tipenya.

b.

Secara stratigrafi yaitu menentukan usia benda berdasarkan usia lapisan tanah dimana bendabenda sejarah ditemukan. Maka pada lapisan tanah tingkat paling bawah menunjukkan bahwa
usia benda semakin tua.

c.

Secara kimiawi yaitu menentukan usia benda sejarah berdasarkan pada unsur-unsur kimia yang
terkandung didalamnya.

4. Sumber rekaman
Sumber rekaman ini dapat berupa rekaman suara (audio), gambar mati (visual), dan gambar
hidup bersuara (audio visual). Contoh : Rekaman pembacaan naskah teks proklamasi
kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno.
Berdasarkan pada tempat asal, maka sumber sejarah dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu :
1. Sumber dari dalam negeri

Sumber ini ditemukan didalam negeri atau biasanya sering disebut sumber setempat dari asal
terjadinya suatu peristiwa. Contoh : Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Pulau Bangka
yang isinya berupa informasi tentang keberadaan kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian pulau
Bangka merupakan bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya.
2. Sumber dari luar negeri
Sumber ini berasal dari luar negeri tetapi isinya menginformasikan peristiwa-peristiwa yang
terjadi didalam negeri. Contoh : Prasasti Nalanda yang ditemukan di Nalanda, India. Isinya
mengenai Raja Balaputradewa yang memerintah di kerajaan Sriwijaya dan Prasasti Ligor yang
ditemukan di Tanah Genting Kra, Malaysia isinya juga tentang kerajaan Sriwijaya.
b. Bukti Sejarah
Setiap peristiwa atau kejadian dapat meninggalkan jejak, jejak itulah yang kemudian dapat
menjadi bukti. Sedangkan bukti sejarah ada yang tertulis pada umumnya berupa benda-benda
konkret dan ada bukti yang tidak tertulis. Bukti-bukti tersebut dapat meninggalkan pesan yang
berisi sejumlah informasi mengenai terjadinya sebuah peristiwa.
Bukti sejarah dapat dibedakan menjadi dua macam, antara lain :
1. Bukti tertulis
Bukti tertulis mirip dengan sumber tertulis yang memuat berbagai macam fakta secara jelas.
Fakta-fakta tertulis tersebut dapat memberikan informasi yang berhubungan dengan terjadinya
suatu peristiwa. Sedangkan wujud bukti tertulis pada umumnya berupa benda-benda konkret.
Adapun yang dimaksud dengan bukti-bukti tertulis, seperti; prasasti, naskah, buku, arsip,
dokumen.
2. Bukti tidak tertulis
Bukti sejarah tidak tertulis tidak berwujud benda-benda konkret, seperti cerita atau tradisi. Bukti
tidak tertulis merupakan cerita-cerita lisan yang berkembang dalam kehidupan manusia.
Meskipun demikian cerita lisan tetap mengnadung unsur-unsur sejarah. Cerita lisan ini berasal
dari para pelaku dan saksi yang pernah terlibat secara langsung dalam peristiwa sejarah.
c.

Fakta Sejarah
Fakta adalah pernyataan tentang suatu peristiwa yang telah terjadi, dapat dilihat dan didengar,
sehingga dapat diketahui secara langsung. Di dalam fakta sejarah terdapat data-data yang sudah
terseleksi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya kebenarannya. Dengan demikian, fakta
sejarah dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

1. Fakta mental
Dalam sejarah fakta mental merupakan suatu kondisi yang menggambarkan suasana alam,
pikiran, pandangan hidup, pendidikan, status, sosial, perasaan dan sikap yang menjadi dasar
proses penciptaan suatu benda.
2. Fakta sosial
Sedangkan fakta sosial merupakan suatu kondisi yang dapat menggambarkan keadaan sosial
disekitar tokoh pencipta benda. Kandisi yang dimaksud, seperti; suasana jaman, keadaan
lingkungan masyarakat dan sistim kemasyarakatan.
Sedangkan unsur-unsur yang terkandung dalam fakta meliputi ; peristiwa, sebab, akibat,
manusia, tempat, waktu dan kronologi kejadian. Sehingga untuk mengungkap kembali faktafakta yang telah terjadi harus dapat menjawab unsur-unsur seperti; what, why, who, where, when
dan how ( 5W + 1H ). Sebagai contoh yaitu tentang Peristiwa proklamasi kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehingga ada beberapa pertanyaan yang diajukan
untuk mengungkap kembali fakta-faktanya, antara lain :
1. What ( Apa )
a.

Apa arti proklamasi ?

b. Apa arti kemerdekaan ?


2. Why ( Mengapa )
a.

Mengapa kemerdekaan Indonesia itu harus diperjuangkan ?

b. Mengapa proklamasi kemerdekaan Indoneisa harus dilaksanakan ?


3. Who ( Siapa )
a.

Siapakah tokoh-tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ?

b. Siapakah tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan ?


4. Where ( Dimana )
a.

Dimanakah naskah teks proklamasi kemrdekaan Indonesia disusun ?

b. Dimanakah peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan ?


5. When ( Kapan )
a.

Kapan naskah teks proklamasi kemrdekaan Indonesia disusun ?

b. Kapan peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan ?


6. How ( Bagaimana )
a.

Bagaimana kronologi peristiwa perumusan naskah teks proklamasi kemerdekaan ?

b. Bagaimana kronologi peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia berlangsung ?