Anda di halaman 1dari 1

Cerita Siswa Biasa

Nama aku Adit. Saat ini aku siswa kelas 1 di SMA Negeri di kotaku. Aku termasuk anak
pendiam di sekolah. Namun nilai-nilai mata pelajaran yang aku raih waktu SMP menunjukkan
bahwa aku termasuk anak yang pandai di sekolah. Aku mendaftar ke SMA ini bersama sahabat
aku yang bernama Hendrik. Dia sahabatku semenjak aku masih menuntut ilmu di SMP. Di
sekolah yang baru ini kami ditempatkan ke kelas yang berbeda, dia diterima di kelas 1-D
sedangkan aku di kelas 1-F. Hal ini membuat aku berpikir untuk mencari teman baru.
Di kelas ini, aku bertemu juga dengan teman di SMP aku dulu. Pinto, Ikhsan, dan Ninda.
Mereka adalah anak anak biasa yang mengunjungi rental PS sehabis pulang sekolah, mereka
tidak pacaran atau pun merokok. Mereka adalah anak yang menurut aku baik. Kecuali Ninda, dia
adalah tipe cewek yang suka nge-geng dengan 2 temannya. Memang cantik sih, tapi kelakuannya
itu loh, suka bikin onar. Dan di akhir kelas 3, si Ninda pun akhirnya dipertanyakan akan status
keperawanannya.
Aku sangat menghindari berteman dengan orang yang perokok ataupun nongkrong habis
pulang sekolah. Aku lebih memilih mencari teman yang pandai, tujuannya cuman satu, yaitu aku
menjadi ketularan pandai seperti mereka. Aku tidak mau nilai aku jatuh atau mendapat poin
karena melanggar peraturan sekolah. Setelah berjalan sekitar hampir setengah semester,
perhatian ku teralihkan oleh seorang anak laki-laki yang pandai di bidang fisika dan mungkin
matematika -yang aku tahu dia paling menonjol di bidang fisika. Kami mengenalnya dengan
nama Opul atau Saipul.
Anak ini adalah seorang gamer dengan otak yang cerdas dan dengan karakteristik yang
aneh pula. Dia pernah nekat pulang walaupun saat itu bel pulang sekolah belum berbunyi. Di
waktu luang ketika jam pelajaran kosong kami bermain bola di samping kelas. Bermain ala
kadarnya dengan bola dan gawang seadanya. Menendang-nendang bola dengan tidak
berperikebolaan hingga bola itu masuk ke rumah di belakang sekolah. Dan ekstrimnya lagi
rumah itu adalah rumah guru fisika yang terkenal killer.
Aksi-aksi ekstrim yang terjadi ini. Didalangi oleh si Pinto dan kawan-kawannya. Dari
mencuri mangga (yang masih mentah tahu kan rasanya? sepet) sampai melemparkan bola ke
rumah guru fisika tadi (emang ekstrim orang ini). Tapi kami sudah berpisah di kelas 2. Di akhir
penghujung kelas 1, setelah selesai Ujian sekolah kami dihadapkan dengan 3 pilihan program
studi yaitu IPA (untuk siswa pandai), IPS (untuk siswa males dengan ilmu eksak), dan Bahasa
(untuk yang seneng ngomong.) Aku dan si Ikhsan diterima di kelas IPA.