Anda di halaman 1dari 26

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

MATERI

THE ETHIC OF AUDITING FUNCTION DAN KODE ETIK IAPI


REVIEW JURNAL

PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI TERHADAP


KUALITAS AUDIT DENGAN ETIKA AUDITOR SEBAGAI
VARIABEL MODERASI
M. NIZARUL ALIM Fakultas Ekonomi Universitas Trunojoyo Bangkalan
TRISNI HAPSARI Alumni Pasca Sarjana Universitas Brawijaya
LILIEK PURWANTI Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang

Oleh :
KADEK PRAWITA SARI
NATALIA FIASARI

(1491661041 / 15)
(1491661042 / 16)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

Ini benar-benar cikal bakal krisis kredit ... Tema dari laporan ini adalah bagaimana
mudahnya asal pinjaman, bagaimana pengecualian dibuat, bagaimana mereka menggunakan
penilaian buruk. Tidak ada kontrol internal yang sesuai, dan KPMG gagal melihat hal-hal ini
skeptis. "(Michael Misa, Pengadilan Examiner.)
Januari 2007, KPMG dan akuntan

New Century mengejutkan jajaran direksi

perusahaan dengan mengungkapkan bahwa peminjam telah salah menghitung cadangan


(reserve) untuk home loan (KPR) bermasalah. Kesalahan itu merugikan New Century sebanyak
300 juta Dollar AS, menyapu laba dari semester kedua tahun 2006. Seminggu kemudian, New
Century mengumumkan akan mengulang catatan keuangan dari triwulan pertama tahun 2006.
Pasar bereaksi keras terhadap pengumuman ini, dan harga sahamnya merosot. Saham menurun
drastis ketika pada 2 Maret 2007 New Century mengumumkan keterlambatan laporan tahunan
tahun 2006-nya. Pengumuman ini menambah tekanan finansial, dan pada 8 Maret New Century
mengumumkan bahwa tidak menerima permohonan pinjaman baru lagi. Beberapa hari kemudian
Bursa Saham New York mengeluarkan New Century Financial Corporation dari bursa, dan pada
2 April New Century mengajukan proteksi kebangkrutan.
New Century menggunakan jasa KPMG sebagai auditor sejak berdirinya di tahun 1995
hingga April 2007 ketika KPMG mengundurkan diri. Dalam laporan yang dibuat oleh pengadilan
yang ditunjuk sebagai pemeriksa kebangkrutan, tercatat tujuh jenis praktik akuntansi yang tidak
sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting Principles Prinsip Akuntansi yang
diterima secara umum), yang paling mendapat sorotan yaitu kesalahan dalam menghitung
cadangan pembelian kembalinya. New Century menggunakan data historis yang tidak akurat
untuk tingkat harga pembelian kembali, serta mendasarkan modelnya pada asumsi yang salah
bahwa semua pembelian kembali akan dilakukan dalam waktu 90 hari.
Kesalahan ini terjadi karena kurangnya data yang dapat diandalkan mengenai jumlah
klaim pembelian kembali yang diterima New Century, karena klaim pembelian kembali
ditangani oleh departemen perusahaan lain. Hal ini menyebabkan backlog (tunggakan) klaim
pembelian kembali senilai 180 juta Dolar AS yang belum terselesaikan di tahun 2005. Tahun
2006 backlog meroket menjadi 421 juta Dolar AS karena banyak peminjam yang lalai membayar
hanya dalam beberapa bulan setelah mendapat pinjaman. Cadangan New Century sangat tidak
memadai, hanya sebesar 13.9 juta Dolar AS yang hanya mampu menutup 3.5 % klaim pembelian
kembali.
1

Menurut laporan tersebut, tidak ditemukan bukti yang cukup bahwa New Century
terlibat dalam manipulasi atau bahwa KPMG dengan sengaja terlibat dalam melakukan
kesalahan. Namun laporan menyimpulkan bahwa KPMG gagal dalam melaksanakan audit sesuai
dengan standar profesional.
Gugatan hukum terhadap KPMG menuduh bahwa tim audit yang terlibat menolak
tuntutan yang diajukan oleh para ahli dari Structured Finance Group KPMG ketika mereka
mencoba menyuarakan permasalahan New Century. Walaupun KPMG mungkin tidak
menyebabkan permasalahan pada New Century, namun banyak pihak menganggap bahwa
KPMG menutup mata akan apa yang dapat dianggap sebagai praktik bisnis yang ceroboh dan
tidak bertanggung jawab. Bahkan KPMG terus melakukannya walupun para ahlinya sendiri
mempertanyakan praktik akuntansi New Century. Gugantan hukum tersebut menuduh bahwa
kegagalan KPMG dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi tuntutan klien dan untuk menjaga
hubungan yang menguntungkan.
Kasus KPMG dan New Century merupakan salah satu contoh tekanan etis yang serius
dalam profesi akuntansi saat ini risiko dan bahaya terhadap integritas praktik akuntansi akibat
konflik kepentingan dan kebutuhan untuk bertahan dalam pasar kompetitif. Untuk menjaga
hubungan yang menguntungkan dengan klien, auditor dapat merasa terintimidasi dalam
menyetujui perlakuan akuntansi yang tidak patut yang dapat mengakibatkan laporan keuangan
yang salah merepresentasikan substansi ekonomi perusahaan.
Sepertinya tidak mungkin bahwa seorang auditor akan mampu menjaga hubungan
dengan klien bila klien tersebut diberikan audit yang tidak menyenangkan mereka. namun
auditor diharapkan untuk memperhatikan kepentingan publik diatas kepentingan klien. Tanggung
jawab ini menekankan pentingnya peranan auditor dalam layanan keuangan.
Dengan

berkembangnya

pasar

keuangan

dan

sistem

ekonomi,

masyarakan

menginginkan auditor independen, yang sangat penting untuk fungsi efektif sistem ekonomi. Jika
akuntansi adalah bahasa bisnis, maka tugas auditor adalah untuk memastikan bahasa tersebut
digunakan dengan patut untuk mengkomunikasikan informasi yang relevan secara akurat.
Gugatan hukum terhadap KPMG mengindikasikan bahwa team audit telah gagal memenuhi
kewajiban ini.

The Ethics of Public Accounting


Pada umumnya ketika orang berbicara mengenai etika akuntansi publik, mereka

membahas tanggung jawab auditor independen. Peran seorang akuntan tidaklah hanya mengaudit
laporan keuangan perusahaan yang dimiliki secara publik, namun dalam sistem ekonomi saat ini,
hal ini merupakan salah satu yang terpenting.
Menurut John Bogle, pendiri The Vanguard Group, transaksi-transaksi dan keputusankeputusan di dalam ekonomi pasar bebas perlu didasarkan pada informasi yang akurat dan benar.
Dalam transaksi pasar, status keuangan sebuah perusahaan merupakan informasi vital dimana
sebuah keputusan pembelian didasarkan padanya. Peranan auditor adalah untuk membuktikan
keakuratan gambaran keuangan perusahaan yang tersaji bagi apapun kebutuhan pengguna
informasi untuk membuat keputusan berdasarkan gambaran tersebut.
Fungsi dan tanggung jawab ini bukanlah hal yang baru. Namun, belakangan ini telah
menjadi perhatian publik dengan munculnya berbagai skandal akuntansi yang mengejutkan para
investor, pemerintah, dan politisi di tahun 2002.
Sebagaimana pernyataan Justin E.Burger mengenai fungsi dan tanggung jawab auditor
pada kasus Arthur Young tahun 1984, bahwa tanggung jawab auditor yaitu untuk mengeluarkan
opini sejelas-jelasnya mengenai apakah laporan keuangan sudah dengan jujur menggambarkan
posisi keuangan perusahaan. Kinerja peranan ini, yaitu membuktikan bahwa posisi keuangan dan
operasional perusahaan tergambarkan dengan jujur, mensyaratkan auditor untuk memiliki
integitras dan kejujuran. Untuk memastikan keakuratan data yang telah disajikan, penting bahwa
integritas dan kejujuran auditor tidak dibahayakan oleh kehadiran pengaruh yang tidak
semestinya. Untuk menunjang integritas dan kejujuran, auditor harus memiliki independensi
setinggi mungkin. Mereka yang harus membuat keputusan berdasarkan kebenaran dan
keakuratan informasi haruslah dapat mempercayai gambaran akuntan agar pasar berfungsi secara
efektif. Kepercayaan dapat terkikis bila terdapat konflik kepentingan.
II

Trust
Dapat dimengerti mengapa bila kita menerapkan imperatif kategori pertama Immanuel

Kant yaitu prinsip universalisabilitas: bertindaklah sehingga anda bisa mendapatkan hasil
maksimal

dari

tindakan

anda

untuk

menjadi

sebuah

hukum

universal.

Untuk

menguniversalisasikan sebuah tindakan, kita harus mempertimbangkan apa yang akan terjadi
3

bila setiap orang bertindak sama untuk alasan yang sama. Seorang individu umumnya
memberikan gambaran yang salah untuk membuat pihak lain bertiindak lain dari apa yang
mungkin akan dilakukan pihak tersebut bila diberikan informasi yang penuh dan jujur. Misalkan
seorang CEO salah merepresentasikan laba perusahaannya untuk mendapatkan pinjaman bank,
karena menurutnya tidak akan ada pinjaman yang diberikan bila bank mendapatkan gambaran
yang sebenarnya. Apa yang mungkin bisa terjadi bila perilaku ini diuniversalisasikan yaitu bila,
semua individu salah menggambarkan kesehatan keuangan perusahaan mereka ketika mereka
diuntungkan dengan bertindak tidak jujur?
Dua hal bisa tejadi: pertama, kepercayaan dalam bisnis terkait dengan informasi yang
dibutuhkan mengenai status keuangan akan terkikis. Kekisruhan akan terjadi, karena pasar
keuangan tidak dapat berjalan tanpa kepercayaan. Kerja sama merupakan hal yang vital, dimana
kepercayaan adalah prasyarat untuk itu. Kita terlibat dalam ratusan transaksi harian yang
menuntut untuk mempercayai orang lain dengan uang dan hidup kita. Jika kesalahan representasi
menjadi sebuah praktik universal, kepercayaan, dan pada akhirnya kerja sama tidak akan
mungkin ada.
Kedua, menguniversalkan kesalahan representasi, selain menyebabkan ketidakpercayaan
dan ketidakefisiensian dalam pasar, akan membuat melakukan tindakan kesalahan representasi
menjadi tidak memungkinkan. Mengapa? Karena tidak seorangpun akan mempercayai orang
lain, dan kesalahan representasi hanya dapat terjadi jika seseorang yang dibohongi mempercayai
orang yang membohonginya. Orang yang berhati-hati tidak mempercayai pembohong yang
sudah dikenal. Karena itu, jika semua orang berbohong, tidak seorangpun akan mempercayai
orang lain, dan berbohong menjadi hal yang tidak mungkin. Karena itulah, menuniversalisasikan
kebohongan membuat kebohongan menjadi tidak memungkinkan. Sehingga anomali bahwa bila
kesalahan representasi menjadi universal dalam situasi tertentu, maka akan tidak mungkin untuk
salah menggambarkan dalam situasi tersebut, karena tidak seorangpun akan mempercayai apa
yang digambarkan. Hal ini membuat universalisasi kebohongan menjadi irasional atau
kontradiktif.
Kontradiksi disini, menurut Kant, merupakan sebuah kontradiksi kehendak, dan
irasionalitas

berada

ketidakmungkinan

dalam

kesalahan

kebersediaan
representasi,

secara
dengan

serempak
bersedia

dalam
dari

kemungkinan
keberadaan

dan

kondisi

(kepercayaan) yang diperlukan untuk melakukan tindakan (kebohongan). Para pembohong tidak
4

ingin tindakan berbohong diuniversalisasikan. Mereka menginginkan standar ganda (ukuran


standar penilaian yang dikenakan secara tidak sama terhadap subjek yang berbeda dalam
kejadian serupa yang terkesan tidak adil). Perilaku egois macam ini merupakan lawan dari
perilaku etis.
Jika kesalahan representasi situasi keuangan merupakan hal yang uiversal, maka auditing
menjadi sebuah fungsi yang tidak berguna. Menurut Rick Telbert, hal ini mungkin sudah terjadi,
seperti pernyataannya dalam Accounting Today; Firma-firma CPA (Certified Public
Accountant) telah lama cenderung mirip perusahaan asuransi berfokus pada kepastian dan
audit pengelolaan risiko ketimbang membuktikannya. Firma-firma dengan perilaku semacam
ini hanya menjamin bahwa presentasi yang disajikan tidak melawan hukum, mereka hanya
melayani klilen, bukan publik.
Hal ini menunjuk salah satu aspek lain dari kepercayaan. Karena kepercaan merupakan
hal yang esensial, maka penampilan dari kejujuran dan integitras seorang akuntan merupakan hal
yang penting. Auditor tidak hanya harus terpercaya, namun juga harus terlihat dapat dipercaya.
III

The Auditors Responsibility to the Public


Tugas auditor untuk membuktikan kebenaran laporan keuangan memberikan akuntan

tanggung jawab khusus terhadap publik. Tanggung jawab ini memberikan sebuah hubungan
dengan klien yang berbeda dengan profesi lainnya. Melihat perbedaan kepentingan yang
terkadang ada diantara klien dan publik, terlihat jelas bahwa para auditor menghadapi konflik
kesetiaan. Akuntan merupakan kaum profesional karena itu harus berperilaku profesional pula.
Sebagaimana profesi lainnya, mereka menawarkan jasa kepada klien. Namun profesi akuntan
publik, karena meliputi pekerjaan sebagai auditor independen, memiliki fungsi lainnya. Auditor
independen tidak hanya bertindak sebagai pencatat, namun juga sebagai evaluator bagi catatan
akuntan lainnya. Disini, auditor memenuhi fungsi pengawas publik atau apa yang disebut oleh
Justice Burger sebagai public watchdog function.
Seiring berjalannya waktu, evaluasi terhadap catatan akuntan lain telah menjadi sebuah
komponen masyarakat kapitalis yang perlu dilakukan, khususnya bagian masyarakat yang
bertransaksi dalam pasar uang dan menawarkan saham dan sekuritas publik. Dalam sistem
semacam ini, sangat penting bagi pembeli potensial produk keuangan untuk memiliki sebuah
representasi akurat dari perusahaan dimana mereka ingin berinvestasi, bersedia meminjamkan
5

uang, atau

yang mereka inginkan untuk bergabung. Harus terdapat prosedur untuk

memverifikasi kejujuran status keuangan sebuah perusahaan. Peran inilah yang berada di tangan
akuntan publik sang auditor.
Walaupun klien-klien para auditor merupakan pihak yang membayar jasanya, tanggung
jawab pokok auditor adalah untuk mengamankan kepentingan pihak ketiga, yaitu publik. Karena
kewajiban publik inilah auditor seharusnya menjadi analis yang tidak berkepentingan. Kewajiban
auditor adalah untuk menjamin bahwa laporan publik yang menggambarkan status keuangan
sebuah perusahaan dengan jujur menyajikan posisi dan operasional keuangan perusahaan.
Singkatnya, auditor bertanggungjawab atas kepercayaan publik, dan independensi dari klien
bersifat fundamental untuk menghormati kepercayaan tersebut.
IV

The Auditors Basic Responsibilities


Dokumen Cohen Report berisikan laporan komprehensif mengenai tanggung jawab

seorang auditor independen. Di tahun 1974 Cohen Commision didirikan untuk mengembangkan
kesimpulan dan rekomendasi terkait dengan tanggung jawab auditor independen. Tugas lainnya
adalah untuk mengevaluasi ekspektasi dan kebutuhan publik serta kemampuan realistis akuntan.
Jika terdapat perbedaan, komisi bertugas mengatasinya.
Cohen Report

mendefinisikan peranan utama auditor independen sebagai perantara

laporan keuangan klien dengan pengguna laporan tersebut, yang auditor bertanggungjawab
kepadanya. Sangat jelas disini Cohen Commision menyebutkan bahwa tanggung jawab utama
auditor adalah kepada publik, bukan klien.
Komisi juga memeriksa apa yang bisa diharapkan untuk dicapai oleh para auditor,
memandang tekanan bisnis dan waktu yang mereka hadapi. Laporan menyebutkan beberapa area
yang bukan tanggung jawab auditor independen. Sebagai contoh, beberapa pihak secara keliru
berasumsi bahwa auditor bertanggung jawab terhadap persiapan aktual laporan keuangan. Pihak
lain dengan salah meyakini bahwa sebuah laporan audit mengindikasikan bahwa bisnis yang
sedang diaudit dapat diandalkan. Auditor tidak bertanggung jawab untuk membuktikan
keandalan sebuah bisnis. Dalam kebanyakan kasus, akuntan manajemen mempersiapkan laporan
keuangan, dan manajemenlah yang bertanggung jawab untuk itu, bukan auditor.
Auditor bertanggung jawab untuk membentuk sebuah opini pada apakah laporan
keuangan tersaji dengan prinsip-prinsip akuntansi yang dipergunakan dengan tepat. Pernyataan
6

pembuktian tradisional menegaskan bahwa laporan keuangan disajikan dengan jujur dalam
penyelarasan dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum (GAAP-Generally
Accepted Accounting Principles). Hal ini merupakan subjek kontroversial dalam literaturliteratur etika.
Cohen Report mengakui bahwa jujur merupakan kata yang ambigu; sehingga,
membebankan bahwa auditor bertanggung jawab untuk kejujuran laporan keuangan merupakan
sebuah kelalaian, jika jujur disini berarti keakuratan fakta-fakta material. Tanggung jawab
auditor adalah untuk menentukan apakah penilaianmanajer dalam pemilihan dan penerapan
prinsip akuntansi sudah tepat. Perlu dicatat bahwa ini berbeda dengan opini Justice Burger
bahwa audior membuktikan kejujuran gambaran status keuangan perusahaan.
Menurut Cohen Report, sudut pandang Burger terlalu kaku karena:
(1) Dalam beberapa situasi, bisa jadi tidak terdapat rincian prinsip-prinsip akuntansi yang
diterapkan
(2) Dalam kasus lain, prinsip akuntansi alternatif bisa jadi diterapkan
(3) Pada suatu waktu, efek kumulatif penggunaan prinsip akuntansi harus dievaluasi
Auditor membutuhkan lebih banyak pedoman dalam ketiga area tersebut. Namun tetap saja, ide
yang berlaku yaitu bahwa dengan jujur berarti bahwa laporan yang diaudit akan memberikan
sebuah gambaran akurat mengenai status keuangan perusahaan. Namun bagaimanapun juga,
prinsip-prinsip GAAP dapat dikreasikan untuk menyembunyikan kondisi perusahaan yang
sebenarnya, dengan keahlian penggunaan GAAP, akuntan dapat membuat perusahaan yang sama
untuk terlihat sangat sukse atau sangat gagal.
Evaluasi Pengendalian Auditing Internal
Cohen Report juga membahas hukum dan akuntabilitas perusahaan, dan memeriksa tugas
auditor terkait dengan pengendalian auditing internal. Selain membuktikan ketepatan laporan
keuangan, auditor juga bertanggung jawab untuk menentukan apakah pengendalian dan sistem
auditing internal telah memadai. Secara singkat, auditor bertanggung jawab untuk mengevalyasi
apakah akuntan manajemen memenuhi kewajibannya, dan untuk memastikan kecukupan dan
ketaatan terhadap pengendalian auditing internal.

Tanggung Jawab untuk Mendeteksi dan Melaporkan Kesalahan dan Penyimpangan


7

Menurut Cohen Report auditor juga bertanggung jawab untuk menyampaikan


ketidaktentuan signifikan apapun yang terdeteksi dalam laporan keuangan. Tanggung jawab
untuk melaporkan kesalahan dan penyimpangan merupakan salah satu hal yang paling serius dan
membingungkan bagi auditor. Berbagai pertanyaan muncul, seperti berapa banyak waktu, upaya,
uang yang harus disediakan untuk mengidentifikasinya? Apakah publik berhak untuk
mengharapkan sebuah audit untuk mengidentifikasikan hal semacam itu? John E.Beach
memberikan dua contoh mengenai bagaimana tanggung jawab akuntan terhadap publik dapat
mengarah pada tuntutan hukum bila berkonflik dengan tanggung jawab untuk menjaga
kerahasiaan klien:
(1) Bulan Oktober 1981, seorang juri di Ohio menetapkan bahwa seorang akuntan bersalah
dalam mengabaikan kontrak untuk melanggar kewajiban kerahasiaan yang dimandatkan
dalam kode etik akuntan, dan memberikan ganti rugi sebesar kira-kira 1 juta Dolar AS
bagi penggugat
(2) Di waktu yang bersamaan, seorang juri di New York memberikan hukuman denda 80 juta
Dolar AS bagi penggugat untuk kegagalan akuntan dalam mengungkapkan informasi
rahasia.
Mengenai apakah diperbolehkan bagi auditor untuk melaporkan ketidaktepatan aktivitas
kliennya, bisa dikatakan bahwa terdapat opini hukum bahwa tugas kerahasiaan tidaklah aboslut,
dan mengutamakan kepentingan publik dapat terjadi dimana kerahasiaan harus mengalah.
V

Independence
Untuk memenuhi tanggung jawabnya, auditor haruslah menjaga independensi. Justice

Burger menggunakan istilah independensi total mengenai fungsi pengawas publik yang
menuntut independensi total. Tentu saja, auditor haruslah independen dari klien. Namun kita
perlu memeriksa apakah independensi total merupakan sebuah kemungkinan ataukah keharusan.
Seberapa besar independensi yang harus dijaga sorang auditor, dan bagaimana menentukannya?
Code of Professional Conduct AICPA mengakui dua jenis independensi: independensi
dalam fakta dan penampilan. Independensi dalam fakta dapat diterapkan oleh semua akuntan.
Untuk indepedensi penampilan, beberapa berpendapat bahwa hanya dapat diterapkan untuk
auditor independen.

Independence Standard Board (ISB) menerbitkan Pernyataan Konsep Independensi:


Sebuah Kerangka Kerja Konseptual untuk Independensi Auditor ISB diberikan tanggung jawab
untuk mengeluarkan standar indepedensi yang dapat diterapkan untuk audit entitas publik, dalam
rangka melayani kepentingan publik dan untuk melindungi dan mendorong kepercayaan diri
investor di pasar sekuritas. Akibat tekanan firma-firma akuntansi besar terhadap AIPCA
mengenai

bahwa

independensi

bisa

berarti

menyerahkan

kontrak

konsultasi

yang

menguntungkan ISB dibubarkan di bulan Agustus 2001. Meskipun demikian, produkproduknya merupakan salah satu sumber terbaik untuk tanggung jawab etis.
ISB mendefinisikan independensi auditor sebagai kebebasan dari tekanan dan faktor lain
yang membahayakan, atau secara beralasan bisa membahayakan, kemampuan auditor untuk
membuat keputusan audit yang tidak bias. Hal ini tentu saja tidak berarti kebebasan dari semua
tekanan, hanya dari tekanan yang sangat signifikan sehingga mereka meraih tingkat dimana
mereka membahayakan, atau secara beralasan bisa membahayakan kemampuan auditor untuk
membuat keputusan audit yang tidak bias. secara beralasan bisa berarti berdasarkan
keyakinan rasional dari investor yang terinformasi dengan baik dan pengguna lain informasi
keuangan.
Tekanan-tekanan apakah yang dimaksud? Terdapat tekanan yang bisa muncul dari
hubungan keluarga, pertemanan, kenalan, dan asosiasi bisnis. Walaupun beberapa auditor
mungkin bisa tidak bias dalam situasi semacam itu, aturan ISB tadi tetap berlaku bagi mereka
karena beralasan untuk mengharapkan keputusan audit menjadi bias dalam situasi itu.
Ketidakpemenuhan aturan itu mungkin tidak akan menghalangi auditor untuk menjadi objektif,
namun dapat menghalangi untuk mengklaim dirinya independen, setidaknya dalam penampilan,
bila tidak dalam kenyataannya.
Namun tidak semua situasi dapat diidentifikasi atau diatasi dengan aturan. Memenuhi
aturan itu perlu untuk dilakukan, namun tidak mencukupi, dan bukan merupakan syarat untuk
independensi.
Sasaran independensi adalah untuk mendukung kepercayaan pengguna pada proses
pelaporan keuangan dan untuk meningkatkan efisiensi manajemen. Sehingga disini independensi
merupakan instrumen, sedangkan tujuannya adalah efisiensi manajemen.
ISB menjabarkan empat prinsip dasar dan empat konsep sebagai pedoman dalam
menentukan independensi pembantu:
9

Threats/Ancaman
Safeguards/Jaminan keamanan
Risiko independensi
Signifikansi ancaman/keefektifan jaminan keamanan

Ancaman terhadap independensi auditor didefinisikan sebagai sumber kebiasan potensial yang
mungkin membahayakan, atau secara beralasan dapat membahayakan, kemampuan auditor untuk
membuat keputusan audit yang tidak bias, yaitu:

Self-interest threats
Self-review threats
Advocacy threats
Familiarity threats
Intimidation threats
Menurut Gordon Chon, terdapat faktor-faktor lain yang bisa membahayakan

independensi auditor. Salah satunya adalah dampak hubungan keluarga dan finansial pada
independensi. Tentu saja bila auditor adalah sanak keluarga klien atau memiliki kepentingan
finansial dengan klien, hal ini bisa menciptakan konflik kepentingan yang mempengaruhi
independensi auditor. Sehingga, aturan independensi AICPA mencegah seseorang untuk
bertindak sebagai auditor dimana terdapat hubungan seperti itu. Meskipun bila auditor mampu
mengatasinya, publik akan curiga terhadap hasil kerjanya.
Namun ada pula kemungkinan konflik kepentingan lain yang dihadapi auditor,
sebagaimana menurut Chon, permasalahan dengan independensi auditor timbul dari dua hal:
kurangnya independensi yang terlihat dan yang aktual, serta ketidakefisiensian fungsi firma
akuntansi.
Memiliki hubungan finansial lain dengan klien juga membahayakan independensi
auditor. Praktik belanja pendapat/opinion shopping (pencarian untuk seorang auditor yang akan
memberi pembuktian positif, walaupun tidak terjamin) mengindikasikan seberapa jauhnya kita
dari independensi aktual.
Disisi lain, kelompok pendukung pendapat bahwa auditor dapat tetap independent,
walupun ketika mereka memberikan konsultasi atau jasa lain untuk sebuah perusahaan, tetap
menyatakan bahwa sinergi antara kedua fungsi membantu firma akuntansi untuk menghasilkan
peningkatan layanan di kedua area.
Ancaman kedua terhadap independensi auditor ketidakefisiensian fungsi firma
akuntansi menimbulkan pertanyaan berikut: seberapa banyak waktu dan upaya yang bisa dan
10

seharusnya dihabiskan untuk menentukan keakuratan data yang tersaji? Butuh waktu untuk
menjadi skeptis. Misalkan firma akuntansi yang mencurigai adanya diskrepansi dalam keuangan
sebuah perusahaan. Bila diskrepansi ini diabaikan, apakah karena kekurangan dalam struktur
firma akuntansi ataukah karena terbatasnya waktu dan uang?
VI

Independence Risk
Setelah meneliti ancaman-ancaman terhadap independensi, laporan ISB menguraikan

pengendalian yang mengurangi atau mengenyahkan ancaman terhadap independensi auditor.


Ini meliputi : larangan, batasan, pengungkapan, kebijakan, prosedur, praktik, standar, aturan,
aransemen institusional, dan kondisi lingkungan.
Konsep

penting

lainnya

yaitu

risiko

independensi,

dimana

laporan

ISB

mendefinisikannya sebagai risiko yang mengancam independensi auditor, dimana tidak diredam
oleh jaminan perlindungan, yang membahayakan atau secara beralasan dapat membahayakan,
kemampuan auditor untuk membuat keputusan audit yang tidak bias. Secara sederhana, risiko
terhadap independensi meningkat dengan kehadiran ancaman dan menurun dengan adanya
jaminan perlindungan.
Karena akan selalu ada kebiasan dan kepentingan, dan karena tidak ada independensi
yang absolut atau total, perlu untuk menilai tingkat risiko yang berbeda-beda. Sebagai contoh,
dengan perkembangan investasi reksadana, merupakan hal yang mungkin bahwa anggota
keluarga seorang akuntan memiliki saham perusahaan yang sedang diaduit oleh akuntan tersebut.
Harus ada cara untuk menilai keseriusan dan signifikansi ancaman semacam itu.
Mengakui bahwa independensi total merupakan hal yang tidak mungkin, laporan ISB
memberikan sebuah kerangka kerja bagi auditor untuk mengevaluasi apakah independensi yang
mereka miliki akan melindungi mereka dari risiko yang bisa membahayakan penilaian atau audit
mereka. Terdapat empat aktivitas dasar yang disebut prinsip, yang digunakan untuk menentukan
independensi auditor.
(1) Prinsip 1; menilai tingkat risiko independensi, dengan mempertimbangkan jenis dan
signifikansi ancaman dan jenis keefektifan jaminan perlindungan.
Untuk membantu penilaian ini, laporan ISB menyarankan auditor untuk memeriksa 5
tingkat risiko independensi, yaitu:
Tidak ada risiko independensi
Risiko independensi kecil
11

Risiko independensi sedang


Risiko independensi tinggi
Risko independensi maksimum
(2) Prinsip 2; menentukan akseptabilitas tingkat risiko independensi. Auditor harus
menentukan apakah tingkat independensi berada dalam posisi yang dapat diterima pada
rangkaian independensi risiko.
(3) Prinsip 3; mempertimbangkan manfaat dan biaya. Memastikan bahwa manfaat yang
didapat

dari

mengurangi

risiko

perlindungan melebihi biayanya.


(4) Prinsip 4; mempertimbangkan

independensi
pandangan

dengan

pihak

yang

menanamkan

tambahan

berkepentingan

dalam

permasalahan independensi auditor. Para pembuat keputusan independensi harus


mempertimbangkan pandangan para investor, pengguna lain serta pihak lain yang
berkepentingan terkait dengan integritas pelaporan keuangan mengenai permasalahan
terkait dengan independensi auditor dan harus mengatasi permasalahan tersebut
berdasarkan penilaian para pembuat keputusani independensi mengenai cara terbaik
untuk mencapai sasaran independensi auditor.
SEC mengeluarkan Revisi Persyaratan Independensi Auditor, efektif sejak 5 Februari
2001, yang melarang jasa nonaudit tertentu yang melemahkan independensi auditor, yang banyak
mendapat perlawanan dari kalangan profesional akuntansi.
Bogle membela rekomendasi SEC ini, menurutnya, persyaratan independensi yang
direkomendasikan SEC hanya melarang jasa-jasa yang melibatkan kepentingan yang berkonflik
ataupun sama dengan klien, mengaudit hasil kerja seseorang, berfungsi sebagai manajemen atau
seorang karyawan klien, atau bertindak sebagai advokat klien. Ia juga menambahkan bahwa
tidak bisa dibayangkan bahwa orang berakal sehat manapun bisa tidak setuju bahwa peranperan tersebut akan mengancam atau setidaknya dianggap mengancam independensi auditor.
Namun Bogle juga mengakui beberapa memang pantas mendapat keberatan, seperti
batasan yang tidak perlu dalam pilihan auditor untuk memasuki persekutuan strategis atau joint
venture. Namun juga ada beberapa keberatan yang dipandang Bogle tidak valid dan tidak pantas.
Seperti kecaman bahwa proposal SEC mewakilkan peraturan yang intrusif dan tidak menjamin,
bahwa peraturan SEC membatasi profesi akuntansi denga ketat.
Walaupun dengan adanya beberapa skandal akuntansi belakangan ini, apakah benar-benar
jelas bahwa berpenampilan independen diperlukan? Tidak bisakah kita berpendapat bahwa
walaupun mungkin menjadi konflik, si akuntan mungkin sudah mengatasi atau menghindarinya?
12

yang Permasalahan disini bukanlah kehadiran konflik kepentingan, namun apakah akuntan bisa
mengesampingkannya dan melakukan hal yang benar atau tidak.
Profesi akuntansi telah lama merangkul kebutuhan akan berpenampilan independen.
Sebagaimana pernyataan Standar-Standar Auditing No.1 berikut ini:
Kepercayaan diri publik akan bisa dilemahkan dengan bukti bahwa independensi pada
kenyataannya kurang, dan mungkin juga bisa dilemahkan dengan adanya kondisi-kondisi
yang dipercaya bisa mempengaruhi independensi Auditor independen seharusnya tidak
hanya independen secara nyata/aktual, mereka juga seharusnya menghindari situasi dimana
orang luar bisa meragukan independensi mereka.
Tahun 1988, tiga firma akuntansi besar mengajukan petisi kepada SEC untuk merubah
aturan independensi dan mengijinkan ekspansi hubungan bisnis dengan klien audit mereka, dan
di tahun 1989 semua firma akuntansi besar telah turut mengajukan permohonan perubahan.
Namun aturan independensi diperketat.
Pada 28 Januari 2003, sebagai respon aksi tersebut, SEC membuat amandemen untuk
memperketat persyaratan independensi auditor. Peraturan 2-01 menyatakan 4 prinsip yang
berfokus pada apakah hubungan auditor klien ataukah ketentuan layanan: (a) menciptakan
kepentingan yang sama atau berkonflik antara akuntan dan klien audit, (b) menempatkan akuntan
dalam posisi mengaudit hasil kerjanya sendiri, (c) membuat akuntan bertindak sebagai
manajemen atau karyawan di perusahaan klien, (d) menempatkan akuntan dalam posisi menjadi
advokat untuk klien audit.
Peraturan 2-10 melarang hubungan spesifik tertentu, temasuk hubungan finansial,
hubungan kerja, hubungan bisnis, hubungan dimana firma audit memberikan jasa nonaudit
terhadap klien. Aturan ini juga meliputi persyaratan terkait rotasi partner dan administrasi komite
audit.
Alasan untuk menghindari konflik kepentingan bahkan hanya dari tampilannya saja, yang
mungkin mempengaruhi independensi auditor, sangatlah jelas. Untuk membuat penilaian terbaik,
orang-orang membutuhkan keyakinan dalam representasi dimana penilaian tersebut didasarkan.
Representasi yang dibuat oleh akuntan yang memiki bahkan walau hanya terlihat memiliki
konflik kepentingan tidaklah menginspirasi keyakinan semacam itu. Karena itulah, penampilan
independensi akan memiliki dampak besar pada estimasi kekataan sebuah entitas finansial.

13

VII

Professional Skepticism
Independensi krusial karena merupakan tanggung jawab auditor lah untuk menjaga

skeptisisme profesional. Dalam Standar Auditing AICPA No.82, yang disebut dengani istilah due
professional care:

Due professional care diterapkan dalam perencanaan dan kinerja audit serta

persiapan laporan
Due professional care membebankan sebuah tanggung jawab kepada setiap
profesional dalam organisasi auditor independen untuk meneliti standar kerja
lapangan dan pelaporan.

Standar AICPA juga menetapkan bahwa auditor harus menjaga skeptisisme profesional,
yang dianggap salah satu tanggung jawab auditor yang paling penting: Due professional care
mensyaratkan auditor untuk menerapkan skeptisisme profesional, yaitu sebuah perilaku yang
meliputi pemikiran bertanya dan penilaian kritis atas bukti audit. Auditor menggunakan
pengetahuan, keahlian, dan kemampuan yang dibutuhkan oleh profesi akuntansi publik untuk
berkinerja baik, dalam keyakinan yang baik dan dengan integritas, dalam pengumpulan dan
menilai bukti secara objektif.
Standar Auditing no.82 ini juga mengklarifikasi kewajiban auditor. Contohnya, seorang
auditor tidak boleh mendeteksi penyimpangan material, karena GAAP (Generally Accepted
Accounting Standards Standar akuntansi yang diterima umum) tidak mensyaratkan pembuktian
keaslian dokumen, atau kemungkinan adanya kolusi dan penutupan. Auditor hanya perlu
memberikan kepastian beralasan, yaitu, menjaga suatu tingkatan skeptimisme profesional layak.
Untuk menjadi skeptis secara tepat, auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi risiko audit, khususnya struktur pengendalian internal. Pemahaman auditor
mengenai struktur pengendalian internal seharusnya menambah atau mengurangi kekhawatiran
auditor mengenai risiko kesalahan pelaporan yang material. Pertanyaan-pertanyaan seperti:
Adakah transaksi signifikan yang sulit untuk diaudit? Adakah transaksi terkait pihak yang tidak
biasanya dan substansial dalam bisnis regular? Adakah kemungkinan atau yang diketahui
kesalahan pelaporan yang cukup besar terdeteksi dalam audit periode sebelumnya oleh auditor
sebelumnya?
Auditor harus mengulas informasi mengenai faktor-faktor risiko dan struktur
pengendalian internal dengan mempertimbangkan permasalahan seperti: Adakah kejadian yang
14

dapat mengindikasikan kecenderungan manajemen untuk memutarbalikkan laporan keuangan?


Adakah indikasi bahwa manajemen telah gagal dalam mengeluarkan kebijakan dan prosedur
untuk memastikan perkiraan akuntansi yang dapat diandalkan dengan mempekerjakan staf yang
tidak berpengalaman, ceroboh, dan tidak memenuhi syarat? Adakah tanda kurangnya
pengendalian, seperti kondisi krisis berulang, area kerja yang tidak teratur, kekurangan,
penundaan atau kurangnya dokumentasi untuk transaksi besar? Adakah tanda ketidakcukupan
pengendalian terhadap pemrosesan komputer? Adakah kebijakan dan prosedur yang tidak tepat
untuk keamanan data atau aset? Auditor harus menentukan dampak dari permasalahanpermasalahan ini terhadap strategi audit keseluruhan. Risiko tinggi menuntut staf yang lebih
berpengalaman dan pengawasan yang lebih ekstentif. Risiko yang lebih tinggi juga akan
menyebabkan auditor untuk mengalami skeptisisme profesional yang lebih tinggi dalam
melakukan audit.
Audit sebuah laporan keuangan sesuai dengan GAAP harus direncanakan dan
dilaksanakan dengan perilaku skeptisisme profesional. Auditor tidak berasumsi bahwa
manajemen tidak jujur ataupun berasumsi kejujuran yang dipertanyakan. Dalam menerapkan
skeptisisme profesional, auditor seharusnya tidak puas hanya dengan bukti persuasif karena
sebuah keyakinan bahwa manajemen berperilaku jujur.
VIII

Reasonable Assurance
Bagian akhir dari standar pada due care karena berkaitan dengan keyakinan memadai. Ini

mencakup ketentuan berikut:


Penerapan due professional care memberkan kesempatan kepada auditor untuk
mendapatkan kepastian beralasan mengenai apakah laporan keuangan bebas dari
kesalahan pelaporan material, apakah disebabkan oleh kesalahan (error) atau kecurangan
(fraud), atau apakah kelemahan material ada sejak tanggal penilaian manajemen.
Kepastian absolut tidak dapat dicapai karena sifat bukti audit dan karakteristik
kecurangan. Meskipun demikian, kepastian beralasan adalah kepastian tingkat tinggi.
Karena itu, audit yang dilakukan sesuai dengan standar PCAOB (Amerika Serikat)
mungkin tidak mendeteksi kelemahan material dalam pengendalian internal terhadap
pelaporan keuangan atau kesalahan pelaporan material atas laporan keuangan.

15

Tujuan auditor independen adalah untuk meraih bukti kompeten yang cukup untuk
memberikannya sebuah dasar yang beralasan untuk membentuk opini. Penilaian
dibutuhkan dalam menginterpretasikan hasil pengujian audit dan penilaian bukti audit.
Bahkan walaupun dengan integritas dan keyakinan yang baik, kesalahan penilaian tetap
dapat dilakukan.
Presentasi akuntansi mengandung estimasi akuntansi, yaitu ukuran yang tidak pasti
dan bergantung pada hasil kejadian di masa depan. Dalam kebanyakan kasus, auditor
harus bergantung pada bukti yang persuasif ketimbang meyakinkan.
Kesimpulannya, sebuah prasyarat untuk seorang auditor yang efektif adalah untuk
menjaga fakta independensi dan tampilan independensi. Ini memberikan kesempatan bagi
auditor untuk mempraktikkan due professional care, yang mensyaratkan perilaku skeptisisme
profesional. Sebagai seorang profesional, auditor memiliki tugas terhadap publik bahwa Ia dapat
dirangkul dengan bebas dalam perannya sebagai akuntan publik. Etika menuntut untuk
memenuhi tugas tersebut.
*due professional care: citra profesional yang diharapkan dari seorang auditor,
menggambarkan ekspektasi nilai tambah yang dapat diberikan kepada klien dalam bentuk
memberikan solusi alih-alih menciptakan masalah.

16

KODE ETIK PROFESI AKUNTAN PUBLIK


Etika dalam auditing adalah suatu prinsip untuk melakukan proses pengumpulan dan
pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang diukur mengenai suatu entitas ekonomi
untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria yang
dimaksudkan yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen.
Setiap bidang profesi tentunya harus memiliki aturan-aturan khusus atau lebih dikenal
dengan istilah Kode Etik Profesi. Dalam bidang akuntansi sendiri, salah satu profesi yang ada
yaitu Akuntan Publik. Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai jasa bagi masyarakat, yaitu
jasa assurance, jasa atestasi, dan jasa nonassurance.

Jasa assurance adalah jasa profesional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi
pengambil keputusan.

Jasa atestasi terdiri dari audit, pemeriksaan (examination), review, dan prosedur yang
disepakati (agreed upon procedure).

Jasa atestasi adalah suatu pernyataan pendapat, pertimbangan orang yang independen dan
kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai dalam semua hal yang material, dengan
kriteria yang telah ditetapkan.

Jasa nonassurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang di dalamnya ia tidak
memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan, atau bentuk lain
keyakinan. Contoh jasa nonassurance yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik adalah jasa
kompilasi, jasa perpajakan, jasa konsultasi.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik (sebelumnya disebut Aturan Etika Kompartemen

Akuntan Publik) adalah aturan etika yang harus diterapkan oleh anggota Institut Akuntan Publik
Indonesia atau IAPI (sebelumnya Ikatan Akuntan Indonesia - Kompartemen Akuntan Publik atau
IAI-KAP) dan staf profesional (baik yang anggota IAPI maupun yang bukan anggota IAPI) yang
bekerja pada satu Kantor Akuntan Publik (KAP).
Kode Etik Profesi Akuntan Publik (Kode Etik) ini terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian A
dan Bagian B. Bagian A dari Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar etika profesi dan
memberikan kerangka konseptual untuk penerapan prinsip tersebut. Bagian B dari Kode Etik ini
memberikan ilustrasi mengenai penerapan kerangka konseptual tersebut pada situasi tertentu.

17

Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi yang harus diterapkan
oleh setiap individu dalam kantor akuntan publik (KAP) atau Jaringan KAP, baik yang
merupakan anggota IAPI maupun yang bukan merupakan anggota IAPI, yang memberikan jasa
profesional yang meliputi jasa assurance dan jasa selain assurance seperti yang tercantum dalam
standar profesi dan kode etik profesi. Untuk tujuan Kode Etik ini, individu tersebut di atas
selanjutnya disebut Praktisi. Anggota IAPI yang tidak berada dalam KAP atau Jaringan KAP
dan tidak memberikan jasa profesional seperti tersebut di atas tetap harus mematuhi dan
menerapkan Bagian A dari Kode Etik ini. Suatu KAP atau Jaringan KAP tidak boleh menetapkan
kode etik profesi dengan ketentuan yang lebih ringan daripada ketentuan yang diatur dalam Kode
Etik ini.
Profesi akuntan publik bertanggung jawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan
keuangan perusahaan-perusahaan, sehingga masyarakat keuangan memperoleh informasi
keuangan yang handal sebagai dasar untuk memutuskan alokasi sumber-sumber ekonomi.
Sehubungan dengan perkembangan yang terjadi dalam tatanan global dan tuntutan transparansi
dan akuntabilitas yang lebih besar atas penyajian Laporan Keuangan, IAPI merasa adanya suatu
kebutuhan untuk melakukan percepatan atas proses pengembangan dan pemutakhiran standar
profesi yang ada melalui penyerapan Standar Profesi International. Sebagai langkah awal IAPI
telah menetapkan dan menerbitkan Kode Etik Profesi Akuntan Publik, yang berlaku efektif
tanggal 1 Januari 2010. Untuk Standar Profesional Akuntan Publik, Dewan Standar Profesi
sedang dalam proses adoption terhadap International Standar on Auditing yang direncanakan
akan selesai di tahun 2010, berlaku efektif 2011.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang baru saja diterbitkan oleh IAPI menyebutkan 5
prinsip-prinsip dasar etika profesi, yaitu:
1. Prinsip Integritas
2. Prinsip Objektivitas
3. Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional
4. Prinsip Kerahasiaan
5. Prinsip Perilaku Profesional
Selain itu, Kode Etik Profesi Akuntan Publik juga merinci aturan mengenai hal-hal berikut ini:

18

1. Seksi 200 Ancaman dan Pencegahan, dalam seksi ini terdapat ilustrasi mengenai
penerapan kerangka konseptual yang tercantum pada Bagian A dari kodee etik ini oleh
praktisi. Kerangka konseptual ini harus diterapkan dalam setiap situasi yang dihadapi.
2. Seksi 210 Penunjukan Praktisi, KAP, atau Jaringan KAP, Praktisi yang ditunjuk untuk
menggantikan praktisi lain atau seorang praktisi yang sedang mempertimbangkan untuk
mengikuti tender perikatan dari calon klien yang sedang dalam perikatan dengan praktisi
lain harus menentukan ada atau tidaknya alas an professional atau alas an lainnya untuk
tidak menerima perikatan tersebut, yaitu adanya hal-hal yang dapat mengancam
kepatuhan terhadap prinsip dasar etika profesi.
3. Seksi 220 Benturan Kepentingan, setiap praktisi harus mengambil langkah-langkah
yang diperlukan untuk mengidentifikasi setiap situasi yang dapat menimbulkan benturan
kepentingan, karena situasi tersebut dapat menimbulkan ancaman terhadap kepatuhan
pada prinsip dasar etika profesi.
4. Seksi 230 Pendapat Kedua, ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika dapat
terjadi ketika praktisi diminta untuk member pendapat kedua mengenai penerapan
akuntansi, auditing, pelaporan, atau standar/prinsip lain untuk keadaan atau transaksi
tertentu oleh atau untuk kepentingan pihak-pihak selain klien.
5. Seksi 240 Imbalan Jasa Profesional dan Bentuk Remunerasi Lainnya, dalam
melakukan negosiasi mengenai jasa professional yang diberikannya, Praktisi dapat
mengusulkan jumlah imbalan jasa yang dipandang sesuai.
6. Seksi 250 Pemasaran Jasa Profesional, ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar
etika profesi dapat terjadi ketika praktisi mendapatkan suatu perikatan melalui iklan atau
bentuk pemasaran lainnya.
7. Seksi 260 Penerimaan Hadiah atau Bentuk Keramah-Tamahan Lainnya, Praktisi
maupun anggota keluarga dekatnya mungkin saja ditawari suatu hadiah atau bentuk
keramah tamahan lainnya oleh klien. Penerimaan pemberian tersebut dapat menimbulkan
ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi. Signifikansi ancaman dapat
beragam tergantung dari sifat, nilai dan maksud dari pemberian tersebut.
8. Seksi 270 Penyimpanaan Aset Milik Klien, setiap Praktisi tidak boleh mengambil
tanggungjawab penyimpanan uang atau asset milik klien, kecuali jika diperbolehan oleh
ketentuan hukum yang berlaku dan jika demikian, Praktisi wajib menyimpan asset
tersebut sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
9. Seksi 280 Objektivitas Semua Jasa Profesional, dalam memberikan jasa
profesionalnya, praktisi harus mempertimbangkan ada atau tidaknya ancaman terhadap
19

kepatuhan pada prinsip dasar objektivitas yang dapat terjadi dari adanya kepentingan
dalam atau hubungan dengan, klien ataupun direktur, pejabat atau karyawannya.
10. Seksi 290 Independensi dalam Perikatan Assurance, dalam melakukan perikatan
assurance, kode etik ini mewajibkan anggota tim assurance, KAP dan jika relevan,
jaringan KAP untuk bersikap kepada klien assurance sehubungan dengan kapasitas
mereka untuk melindungi kepentingan publik. Dalam perikatan ini praktisi menyatakan
pendapat yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat keyakinan pengguna hasil
pekerjaan perikatan assurance yang dituju.
Kewajiban Bagi Seorang Akuntan Publik (AP) Dan (KAP) Terdapat 5 (Lima) Kewajiban
Akuntan Publik Dan KAP, yaitu:
1. Bebas dari kecurangan (fraud), ketidakjujuran dan kelalaian serta menggunakan kemahiran
jabatannya (due professional care) dalam menjalankan tugas profesinya.
2. Menjaga kerahasiaan informasi / data yang diperoleh dan tidak dibenarkan memberikan
informasi rahasia tersebut kepada yang tidak berhak. Pembocoran rahasia data / informasi
klien kepada pihak ketiga secara sepihak merupakan tindakan tercela.
3. Menjalankan PSPM04-2008 tentang Pernyataan Beragam (Omnibus Statement) Standar
Pengendalian Mutu (SPM) 2008 yang telah ditetapkan oleh Dewan Standar Profesional
Akuntan Publik (DSPAP) Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), terutama SPM Seksi 100
tentang Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (SPM-KAP).
4. Mempunyai staf / tenaga auditor yang profesional dan memiliki pengalaman yang cukup. Para
auditor tersebut harus mengikuti Pendidikan Profesi berkelanjutan (Continuing Profesion
education) sebagai upaya untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam
bidang audit dan proses bisnis (business process). Dalam rangka peningkatan kapabilitas
auditor, organisasi profesi mensyaratkan pencapaian poin (SKP) tertentu dalam kurun /
periode waktu tertentu. Hal ini menjadi penting, karena auditor harus senantiasa mengikuti
perkembangan bisnis dan profesi audit secara terus menerus.
5. Memiliki Kertas Kerja Audit (KKA) dan mendokumentasikannya dengan baik. KKA tersebut
merupakan perwujudan dari langkah-langkah audit yang telah dilakukan oleh auditor dan
sekaligus berfungsi sebagai pendukung (supporting) dari temuan-temuan audit (audit

20

evidence) dan opini laporan audit (audit report). KKA sewaktu-waktu juga diperlukan dalam
pembuktian suatu kasus di sidang pengadilan.
Larangan Bagi Seorang Akuntan Publik (AP) Dan (KAP) Akuntan Publik Dilarang
Melakukan 3 (Tiga) hal :
1. Dilarang memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan (general audit) untuk klien
yang sama berturut-turut untuk kurun waktu lebih dari 3 tahun. Hal ini dimaksudkan untuk
mencegah terjadinya kolusi antara Akuntan Publik dengan klien yang merugikan pihak lain.
2. Apabila Akuntan Publik tidak dapat bertindak independen terhadap pemberi penugasan
(klien), maka dilarang untuk memberikan jasa.
3. Akuntan Publik juga dilarang merangkap jabatan yang tidak diperbolehkan oleh ketentuan
perundang-undangan / organisasi profesi seperti sebagai pejabat negara, pimpinan atau
pegawai pada instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD) atau swasta, atau badan hukum lainnya, kecuali yang diperbolehkan
seperti jabatan sebagai dosen perguruan tinggi yang tidak menduduki jabatan struktural dan
atau komisaris atau komite yang bertanggung jawab kepada komisaris atau pimpinan usaha
konsultansi manajemen.

21

PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI TERHADAP KUALITAS AUDIT


DENGAN ETIKA AUDITOR SEBAGAI VARIABEL MODERASI
M. NIZARUL ALIM
Fakultas Ekonomi Universitas Trunojoyo Bangkalan
TRISNI HAPSARI
Alumni Pasca Sarjana Universitas Brawijaya
LILIEK PURWANTI
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang

Area of Interest
Independensi dan kompetensi auditor. Kompetensi auditor dan independensi akan berhubungan
dengan etika. Penelitian ini mengadopsi kerangka kontingensi untuk mengevaluasi hubungan
kompetensi dan independensi terhadap ofaudit kualitas dan juga ingin tahu dampak dari variabel
moderating (etika auditor) untuk kompetensi, kualitas audit dan independensi.
Phenomena
Profesi auditor telah menjadi sorotan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Mulai
dari kasus Enron di Amerika sampai dengan kasus Telkom di Indonesia membuat kredibilitas
auditor semakin dipertanyakan. Kasus Telkom tentang tidak diakuinya KAP Eddy Pianto oleh
SEC dimana SEC tentu memiliki alasan khusus mengapa mereka tidak mengakui keberadaan
KAP Eddy Pianto. Hal tersebut bisa saja terkait dengan kompetensi dan independensi yang
dimiliki oleh auditor masih diragukan oleh SEC, dimana kompetensi dan independensi
merupakan dua karakteristik sekaligus yang harus dimiliki oleh auditor.
Theoretical Foundation
Penelitian ini merupakan penelitian gabungan dari penelitian-penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Deis dan Giroux (1992) melakukan penelitian tentang empat hal dianggap
mempunyai hubungan dengan kualitas audit yaitu (1) lama waktu auditor telah melakukan
pemeriksaan terhadap suatu perusahaan (tenure), semakin lama seorang auditor telah melakukan
audit pada klien yang sama maka kualitas audit yang dihasilkan akan semakin rendah, (2) jumlah
klien, semakin banyak jumlah klien maka kualitas audit akan semakin baik karena auditor
dengan jumlah klien yang banyak akan berusaha menjaga reputasinya, (3) kesehatan keuangan
klien, semakin sehat kondisi keuangan klien maka akan ada kecenderungan klien tersebut untuk
22

menekan auditor agar tidak mengikuti standar, dan (4) review oleh pihak ketiga, kualitas sudit
akan meningkat jika auditor tersebut mengetahui bahwa hasil pekerjaannya akan direview oleh
pihak ketiga. Maryani dan Ludigdo (2001) mendefinisikan etika sebagai seperangkat aturan atau
norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang
harus ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok atau segolongan manusia atau masyarakat atau
profesi. , Widagdo et al. (2002), Wooten (2003) dan Mayangsari (2003). Variabel penelitian ini
meliputi kompetensi, independensi, etika auditor dan kualitas audit, yang diadopsi dari penelitian
mereka. Penelitian ini mengadopsi kerangka kontijensi untuk mengevaluasi hubungan antara
kompetensi, independensi dan kualitas audit.
Methodology
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan explanatory research yaitu memberikan
penjelasan pengaruh kompetensi dan independensi terhadap kualitas audit dengan etika auditor
sebagai variabel moderasi. Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Regresi Moderate
Two Way Interactions.
Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini:
H1: Kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit
H2: Interaksi kompetensi dan etika auditor berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit
H3: Independensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit
H4 : Interaksi independensi dan etika auditor berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
Data And Method
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah dirumuskan, penelitian ini dilakukan dengan
pendekatan explanatory research. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh auditor yang ada
di wilayah Jawa Timur. Sesuai dengan daftar dalam Directory Kantor Akuntan Publik dan
Akuntan Publik 2006, KAP yang ada di Jawa Timur berjumlah 53 dimana dalam penelitian ini
diasumsikan bahwa tiap-tiap KAP memiliki 5 auditor. Responden dalam penelitian ini adalah
para akuntan publik yang terdapat dalam Kantor Akuntan Publik dimana ia menjalankan proses
audit, yaitu yang melakukan pengujian terhadap laporan keuangan. Metode pengumpulan data
23

yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dikirim melalui surat (mail survey)
yang disebut dengan data primer. Auditor yang menjadi sampel, akan dikirimi kuesioner yang
berisi kumpulan pertanyaan tentang kompetensi, independensi, etika auditor dan kualitas audit.
Peneliti akan menggunakan sistem bebas perangko balasan agar respon rate yang diinginkan
tercapai. Untuk mengukur variabel, metode analisis yang digunakan adalah Analisis Regresi
Moderate Two Way Interactions. Adapun persamaannya adalah sebagai berikut:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + b4 X1 X3 + b5 X2 X3 + e
Dimana:
Y

= kualitas audit

= konstanta

= koefisien regresi

X1

= variabel kompetensi

X2

= variabel independensi

X3

= variabel etika auditor

Findings
1. Hasil penelitian ini mendukung hipotesis pertama bahwa kompetensi berpengaruh
terhadap kualitas audit. Hal ini berarti bahwa kualitas audit dapat dicapai jika auditor
memiliki kompetensi yang baik.
2. Hasil pengujian dengan regresi berganda menunjukkan bahwa independensi berpengaruh
signifikan terhadapkualitas audit dimana hal ini telah sesuai dengan hipotesis ketiga
bahwa kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
3. Hasil penelitian ini mendukung hipotesis keempat bahwa interaksi independensi dan etika
auditor berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
Conclusion
Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa kompetensi berpengaruh signifikan terhadap
kualitas audit. Hal ini berarti bahwa kualitas audit dapat dicapai jika auditor memiliki
kompetensi yang baik dimana kompetensi tersebut terdiri dari dua dimensi yaitu pengalaman dan
pengetahuan. Hal ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Libby dan Libby (1989),
Ashton (1991), Choo dan Trootman (1991), dalam Mayangsari (2003). Sementara itu, interaksi
kompetensi dan etika auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Pengaruh
24

interaksi kompetensi dan etika auditor terhadap kualitas audit dalam penelitian ini tidak dapat
diketahui karena dari hasil pengujian ternyata kedua variabel tersebut keluar dari model
(Excluded Variables). Hasil ini tidak berhasil mendukung penelitian yang dilakukan oleh Behn et
al. (1997) dalam Widagdo et al. (2002).
Further Researches
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pertama, penelitian hanya dilakukan pada KAP yang ada di Jawa Timur sehingga hasil
penelitian hanya mencerminkan mengenai kondisi auditor di Jawa Timur.
2. Peneliti tidak membedakan auditor sebagai responden berdasarkan posisi mereka di KAP
(yunior, senior dan supervisor) sehingga tidak diketahui secara pasti tingkat kompetensi,
independensi dan etika yang dimiliki.
3. Variabel moderasi yang digunakan dalam penelitian ini hanyalah etika auditor, padahal
masih banyak variabel perilaku lain maupun faktor kondisional yang dapat
mempengaruhi kualitas audit. Penelitian di masa mendatang hendaknya meneliti hal-hal
tersebut.

25