Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

KARYA INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN


PERANSAKA VI DAERAH KWARDA 11 JAWA
TENGAH

Memperpanjang Umur Simpan Sawi Dengan Perlakuan Di Dalam


Alamari Pendingin Sederhana.

Disusun Oleh :
1.
2.

Elya Pratita Sari


Muchammad Fatchur Rizza

KWARTIR CABANG 11.22 KABUPATEN SEMARANG


SATUAN KARYA TARUNA BUMI
KRIDA TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
UNGARAN
JAWA TENGAH
2013

LEMBAR PENGESAHAN

Makalah Memperpanjang Umur Simpan Sawi Dengan Perlakuan Di Dalam


Alamari Pendingin Sederhana..Dalam rangka mengikuti Lomba Karya Inovasi
Teknologi Pertanian pada acara PERAN SAKA VI Daerah Kwarda 11 Jawa Tengah.

Disetujui Oleh :

Pembina 1 :

Pembina 2 :

(Ir.EF. Awignam Astu, MP)


NIP. 19620708 198903 2 006

(Ida Adiawati, SP)


NIP. 19820428 200903 2 012

Mengetahui
Ketua Kwartir Cabang 11.22 Kabupaten Semarang :

( Ir. Anang Dwinanta, MM)


NIP. 19691110 199603 1 008

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat ALLAH Tuhan Yang Maha
Esa yang senantiasa melimpahkan anugerah-Nya kepada tim penyusun, sehingga
dapat menyelesaikan Makalah Inovasi Teknologi Pertanian dalam PERAN SAKA VI
Daerah Jawa Tengah dengan judul : Memperpanjang Umur Simpan Sawi Dengan
Perlakuan Di Dalam Alamari Pendingin Sederhana.
Adapun maksud dan tujuan kami dalam menyusun makalah ini adalah untuk
mengetahui fungsi dan manfaat serta melakukan perbanyakan agen hayati
tricoderma. Mengenai isi daripada makalah ini telah kami susun berdasarkan data
yang kami peroleh di lapangan serta kegiatan yang dilakukan oleh peserta saat
melaksanakan praktek di lapangan.
Mengingat masih terbatasnya pengetahuan dan kemampuan yang penyusun
miliki oleh karena itu kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Namun demikian kami berharap bahwa makalah kami dapat
bermanfaat bagi pihak pihak yang akan melanjutkan studi pada kejuruan yang sama
di masa yang akan datang maupun bagi para pembaca.
Dalam penyusunan makalah ini kami juga menyadari bahwa tanpa bantuan
dari berbagai pihak tidak mungkin makalah ini akan terselesaikan, untuk itu atas
segala bantuan yang telah diberikan dan atas terselenggaranya Penelitian Inovasi
Teknologi Pertanian, kami ucapkan terimakasih kepada :

1. ALLAH SWT Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya yang senantiasa memberikan keyakinan yang tinggi atas
Kekuasaan-Nya.

2. Bapak Letjen. TNI (Purn.) H. Bibit Waluyo selaku Ketua Majelis


Pembimbing Daerah.

3. Bapak Prof. Dr. Ir. S. Budi Prayitno, M. Sc selaku Ketua Kwartir


Daerah 11 Jawa Tengah.

4. Bapak Dr.H.Mundjirin ES, SpOG, selaku Ketua Majelis Pembimbing


Cabang.

5. Bapak Ir. Anang Dwinanta MM , selaku Ketua Kwartir Cabang 11.22


Kabupaten Semarang.

6. Ibu Ir.EF. Awignam Astu, MP selaku Ketua Majelis Pembimbing


Gugus Depan.

7. Bapak dan Ibu Pembimbing Internal yang telah memberikan petunjuk


pelaksanaan penelitian ini.

8. Orang tua dan keluarga kami atas dukungan dan doanya yang
senantiasa mengiringi langkah dan dorongan semangat dalam
pembuatan laaporan ini.

9. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik material maupun


spiritual yang berguna bagi penyusunan makalah ini.

Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak


kekeliruan dimana-mana baik dari ejaan hingga isi bacaan, sehingga wajar apabila
laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saran dan kritik yang
membangun sangat kami harapkan.
Akhirnya kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan.

Ungaran, Juni 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL......................................................................................................I
LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................................II
DAFTAR ISI.................................................................................................................V
DAFTAR TABEL......................................................................................................VII
DAFTAR GAMBAR................................................................................................VIII
DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................................IX
BAB I.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1.

Latar Belakang................................................................................................1

1.2.

Rumusan Masalah...........................................................................................2

1.3.

Tujuan.............................................................................................................2

1.4.

Manfaat...........................................................................................................2

BAB II...........................................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................3
2.1.

Bahan Baku.....................................................................................................3

2.2.

Jenis Produk....................................................................................................9

BAB III........................................................................................................................10
PELAKSANAAN........................................................................................................10
3.1.

Lokasi............................................................................................................10

3.2.

Waktu............................................................................................................10

3.3.

Alat dan bahan..............................................................................................10

3.4.

Proses............................................................................................................11

BAB IV........................................................................................................................14
HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................................14
4.1.

Proses produksi.............................................................................................14

4.2.

Pemasaran.....................................................................................................16

4.4.

Analisis Usaha..............................................................................................17

BAB V.........................................................................................................................24
PENUTUP...................................................................................................................24
5.1.

Kesimpulan...................................................................................................24

5.2.

Saran.............................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................26

LAMPIRAN................................................................................................................28

I.PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Indonesia

merupankan

negara

yang

mempunyai

potensi

dikembangkannya tanaman sayur-sayuran yang banyak bermanfaat bagi


pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia. Sehingga ditinjau dari aspek
klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk bisnis sayuran.
Karakteristik sayuran pada umumnya mempunyai sifat bahan yang tidak
tahan lama dan sangat mudah rusak. Hal ini disebabkan rendahnya kualitas
penanganan pasca panen, kandungan air yang relatif tinggi, faktor-faktor lain
yang lekat dengan karakteristik biologis dan fisiologis produk agronomi itu
sendiri. Selain itu ditinjau dari aspek pemasaran produksi sayuran juga
mempunyai sifat saat panen produk tersedia di pasar dalam jumlah melimpah
sebaliknya sebelum dan sesudah saat panen terjadi kelangkaan pasokan di pasar.
Salah satu metode yang banyak digunakan untuk memperpanjang masa
simpan dari sayuran adalah dengan cara pendinginan. Tujuan pendinginan ini
adalah menghambat laju respirasi dari sayuran atau buah-buahan. Bila laju
respirasi bisa dihambat maka daya simpan akan semakin lama sehingga nilai
ekonomis akan semakin tinggi. Dalam teknologi modern sekarang proses
pendinginan di lakukan dengan menggunakan lemari es atau refrigerator. Namun
apabila jumlah banyak tentu saja dibutuhkan kapasitas refrigerator yang besar,
sedangkan secara ekonomis nilai sawi tidak begitu mahal sehingga secara
ekonomis penggunaan refrigerator tidak sebanding.

Pendinginan umumnya merupakan suatu metode pengawetan yang ringan,


pengaruhnya kecil sekali terhadap mutu bahan pangan secara keseluruhan. Oleh
sebab itu pendinginan seperti di dalam lemari es sangat cocok untuk
memperpanjang kesegaran atau masa simpan sayuran dan buah-buahan. Sayuran
dan buah-buahan tropis tidak tahan terhadap suhu rendah dan ketahanan terhadap
suhu rendah ini berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Sebagai contoh, buah pisang
dan tomat tidak boleh disimpan pada suhu lebih rendah dari 13 0C karena akan
mengalami chilling injury yaitu kerusakan karena suhu rendah. Buah pisang yang
disimpan pada suhu terlalu rendah kulitnya akan menjadi bernoda hitam atau
berubah menjadi coklat, sedangkan buah tomat akan menjadi lunak karena
teksturnya rusak.
Penyimpanan bahan makanan pada suhu rendah tidak hanya mengurangi
laju respirasi, tapi juga menghambat pertumbuhan kebanyakan mkroorganisme
penyebab kebusukan. Pendinginan tidak dapat meningkatkan kualitas bahkan
dalam kondisi optimum perlakuan ini hanya dapat mempertahankan kualitas
dalam batas waktu tertentu.
Pada dasarnya teknik pendinginan bahan pangan dapat dikerjakan dalam 2
cara yaitu : secara alami (natural refrigeration) dan secara mekanis (mechanical
atau artificial refrigeration). Pendinginan secara alami dapat dilakukan dengan
menggunakan air dingin, es, campuran air dan es, larutan garam dan lain-lain,
sedangkan pendinginan secara mekanis dilakukan dengan menggunakan mesinmesin yang mengatur terjadinya siklus pergantian fase uap dan fase cair dari
suatu zat pendingin (refrigerant).
Untuk pendinginan suatu komoditas, pengaturan suhu ruang pendingin
yang sesuai sangat penting karena penyimpangan suhu dari suhu yang
dikehendaki dapat merusakkan komoditas yang disimpan. Terjadinya fluktuasi
suhu dalam ruang pendingin dapat menyebabkan terjadinya pengembunan air
7

pada permukaan komoditas yang didinginkan sehingga dapat mengakibatkan


pertumbuhan jamur dan proses pembusukan.
Di samping pengaturan suhu, kelembaban udara dalam ruang pendingin
perlu diatur karena dapat mempengaruhi daya awet dan kualitas bahan yang
didinginkan.

Bila udara di dalam ruang pendingin terlalu kering (RH-nya

rendah) maka air dari bahan yang ada di dalam ruang pendingin akan menguap
untuk mencapai keseimbangan.

Hal ini akan mengakibatkan bahan yang

disimpan menjadi layu (misal sayuran dan buah-buahan) dan kulit buah akan
keriput. Sebaliknya bila udara di dalam ruang pendingin terlalu lembab (RH-nya
tinggi), akan terjadi pengembunan uap air pada permukaan bahan dan hal ini akan
merangsang pertumbuhan jamur.
Berdasarkan prinsip pendinginan di atas maka penulis bermaksud
membuat lemari pendingin yang menggunakan air sebagai media pendinginan,
dengan cara mengalirkannya secara kontinu melalui dinding-dinding lemari yang
terbuat dari karung goni. Lemari pendingin ini didesain sedemikian rupa sehingga
mudah dalam pengerjaannya, murah serta mampu menyimpan sayuran dalam
waktu yang relatif lama. Sayuran yang digunakan dalam percobaan ini adalah
Caisim alias sawi bakso ada juga yang menyebutnya sawi cina., merupakan jenis
sawi yang paling banyak dijajakan di pasar-pasar dewasa ini. Tangkai daunnya
panjang, langsing, berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang, tipis
dan berwarna hijau. Rasanya yang renyah, segar, dengan sedikit sekali rasa pahit.

2. TUJUAN DAN MANFAAT


Tujuan dari pembuatan lemari pendingin pendingin adalah :
a. Dapat menambah pengetahuan mengenai prinsip kerja alat pendingin
b. Dapat menambah umur simpan sayuran ( sawi )
8

c. Dapat menghemat biaya pemakaian alat pendingin untuk pengawetan


sayuran.
d. Mampu melatih kemandirian dan kerja sama.
e. Memberitahukan pengetahuan baru kapada masyarakat.
f. Melatih sikap dalam bertanggungjawab.

II. METODOLOGI
1. Waktu Dan Tempat
Waktu

: 2 Juli - 9 Juli 2010

Tempat

: SPMA H.Moenadi Ungaran Jawa Tengah

2. Bahan Dan Alat


Bahan :
Bambu

Sayuran (Sawi)

Paku

Karung Goni

Pasir

Sterofom

Air

Engsel

Alat

Gergaji
Palu/Pemukul
Penggaris
Meteran
Nampan
Filter
Baskom

10

3.METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode eksperimen.
Dalam hal ini peneliti memodifikasi lemari pendingin yang sudah ada. Data
pengamatan langsung diambil saat percobaan dilakukan.

4. TEKNIK PELAKSANAAN
Cara Pembuatan Alat Pendingin Sederhana :
1. Siapkan belahan bambu dengan lebar 5 cm dan 3 cm ( belahan lebar 5 cm
diusahakan bambu bagian pangkal ) .
2. Potong belahan bambu 5 cm dengan ukuran :

Panjang 85 cm sebanyak 4 buah

Panjang 35 cm sebanyak 4 buah

Panjang 45 cm sebanyak 6 buah

Panjang 75 cm sebanyak 2 buah

3. Potong belahan bambu lebar 3 cm dengan ukuran :

Panjang 35 cm sebanyak 4 buah

Panjang 40 cm sebanyak 6 buah

Panjang 25 cm sebanyak 10 buah

4. Potong karung goni ( tebal 1 cm ) dengan ukuran :

Lebar 30 cm , panjang 200 cm sebanyak 1 buah

Lebar 40 cm , panjang 80 cm sebanyak 1 buah

5. Haluskan dan sisik potongan potongan bambu di atas


6. Potong sterofom ( gabus tebal 1 cm ) dengan ukuran lebar 40 cm panjang 70
cm.
7. Membuat kerangka alat pendingin

Rangkai dengan paku belahan bambu lebar 5 cm , panjang 85 cm ( 4 buah)


sebagai kaki , ukuran panjang 35 cm 9 4 buah ) dan panjang 45 cm ( 4 buah )
sebagai rangka dinding .
8. Belahan bambu lebar 3 cm panjang 35 cm dipaku pada ketinggian 25 cm dan
55 cm dari dasar kaki alat pendingin masing-masing 1 buah di sebelah kaki
kanan dan 1 buah di kiri , sebagai tempat menaruh rak.
9. Merangkai 2 buah rak , masing-masing rak membutuhkan bambu lebar 3 cm
dengan ukuran :

Panjang 40 cm sebanyak 3 buah

Panjang 25 cm sebanyak 5 buah

10. Memasang karung goni dengan ukuran lebar 30 cm panjang 200 cm dengan
cara dikerudungkan pada rangka alat pendingin. Karung goni ditempelkan di
bagian dalam rangka lalu diikat dengan kawat ( berfungsi sebagai dinding
kanan dan kiri) Pemasangan karung goni ukuran lebar 40 cm panjang 80 cm
caranya sama, tapi ini sebagai dinding belakang .
11. Membuat pintu alat pendingin
Merangkai bambu lebar 5 cm dengan ukuran panjang 75 cm sebanyak 2 buah
dan panajang 45 sebanyak 2 buah sebagai rangka pintu. Kemudian sterofom
ditempel / dipaku di sebelah dalam rangka tersebut. Pintu yang sudah
terangkai tersebut kemudian dipasang pada rangka alat pendingin
menggunakan 2 buah engsel.
12. Nampan yang diisi pasir kemudian dibasahi tempatkan di bagian bawah alat
pendingin.
13. Buat tutup alat pendingin dengan bentuk trapesium dengan sudut 60 setelah
kerangka bentuk trapesium jadi, tutup dengan karung goni lalu ditempelkan

pada alat pendingin sederhana.Tidak lupa tempelkan selang dengan kawat


pada pinggiran tutup kepala alat pendingin
14. Agar kelembaban alat pendingin terjaga dapat menggunakan aliran air dengan
cara kerja gravitasi/filter.
15. Alat pendingin siap digunakan

III. PEMBAHASAN
1. Analisis Permasalahan
Tujuan

proses

pendinginan

sayuran

secara

umum

adalah

untuk

memperpanjang umur atau masa simpan sayuran sehingga nilai ekonomis akan
meningkat. Masyarakat perkotaan biasa menyimpan sayuran untuk didinginkan di
dalam refigerator atau lemari es. Sehingga sayuran akan bertahan lebih lama
daripada disimpan dalam suhu normal. Namun dengan cara ini sayuran yang
disimpan dalam jumlah terbatas (skala rumah tangga). Proses pendinginan
sayuran yang banyak dijumpai di masyarakat pedesaan adalah dengan cara
menyimpan sayuran pada tempat yang lembab. Sayuran yang akan disimpan
biasanya terlebih dahulu disiram dengan air, kemudian diletakkan di di dekat
sumur atau kamar mandi. Berdasarkan pengamatan yang peneliti cara seperti ini
akan mampu memperpanjang usia penyimpanan sampai 2-3 hari, misal sayuran
kangkung dan sawi. Namun untuk beberapa sayuran seperti bayam atau seledri
hanya akan mampu bertahan paling lama 2 hari.
Pada penyimpanan sayuran dengan menggunakan mesin pendingin
sederhana dilakukan dengan cara membuat lemari/kotak pendingin yang dibuat
dari karung goni atau kain yang dibasahi. Secara berkala kain yang berfungsi
sebagai penyerap uap panas dan menghalangi laju respirasi dari sayuran harus
dibasahi. Hal ini sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan tempat penyimpanan.
Apabila suhu lingkungan meningkat maka proses penguapan air yang terdapat di
dinding mesin pendingin akan relatif cepat. Sehingga dinding penutup lemari
pendingin akan lebih cepat kering, dan akhirnya suhu di dalam lemari pendingin
akan meningkat. Suhu yang semakin meningkat ini akan berakibat pada proses
respirasi sayuran yang semakin cepat pula, sehingga tingkat kerusakan sayuran,
layu dan akhirnya menjadi busuk akan semakin cepat.

Karung
goni

Rak
bambu

Gambar 1. Lemari pendingin konvesional

Lemari pendingin seperti ini mempunyai kelemahan, yaitu harus selalu


dipantau terus dinding penutupnya yang terbuat dari goni atau kain. Dinding
penutup harus segera dibasahi manakala sudah mulai kering dan jangan sampai
terlambat. Dalam proses pembasahan dinding penutup pun harus memperhatikan
kondisi sayuran di dalam. Apabila proses pembasahan dilakukan dengan
menyiram langsung pada dinding, dimungkinkan masuknya air ke dalam sayuran,
dan ini akan berakibat pada proses pembusukan yang lebih cepat pada sayuran.
Berdasarkan permasalahan tersebut kami melakukan modifikasi lemari
pendingin sayuran dengan cara mensirkulasikan laju aliran air dengan
menggunakan filter/saringan yang biasa digunakan pada akuarium yang
kemudian disalurkan dengan selang air. Konstruksi lemari pendingin bagian atas
berbentuk limas terpancung, dengan bagian atas lemari pendingin dikelilingi
selang, yang sudah dibuat lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagi media
pengeluaran air. Sehingga air yang keluar dari selang berupa tetesan-tetsan air
yang secara periodik akan jatuh mengenai sisi miring dari penutup bagian atas
lemari pendingin. Akibat proses gravitasi tetesan air ini akan mengalir

membasahi sisi miring dari lemari pendingin dan seterusnya akan mengalir
melalui dinding-dinding lemari pendingin.
Bagian dalam lemari pendingin dilengkapi rak yang terbuat dari bambu
untuk menempatkan sayuran. Bagian bawah dilengkapi dengan nampan atau
wadah yang berisi pasir yang disiram air. Kondisi ini bertujuan untuk menjaga
suhu dan kelembaban lemari pendingin dari bawah. Untuk bagian samping dan
atas suhu dan kelembaban dijaga dengan dinding yang terbuat dari karung goni.
Pada percobaan ini dilakukan perbandingan dengan meletakkan sayuran di
luar lemari pendingin. Sayuran yang digunakan dalam percobaan ini adalah
caisim atau yang lebih dikenal dengan sawi bakso. Lemari pendingin modifikasi
ditempatkan berdampingan dengan lemari pendingin biasa. Pengamatan
dilakukan secara berkala di pagi hari dan sore hari. Data pengamatan meliputi
suhu dalam suhu luar, dan kenampakan sayuran (sawi bakso). Pembuatan lemari
pendingin ini memerlukan waktu 2 hari, karena harus beberapa kali
menyesuaikan sudut kemiringan dengan laju tetesan air. Selain itu terdapat
beberapa kali modifikasi posisi selang air yang digunakan.

Gambar 1. Proses pembuatan lemari pendingin

Gambar 2. Tetesan air yang secara kontinu diletakkan dibagian atas lemari
pendingin

Gambar 3. Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan lemari


pendingin
Mekanisme lemari pendingin ini adalah air pada penampungan dialirkan
melalui selaang dengan bantuan filter air, kemudian pada selang yang terdapat
pada bagian atas lemari diberi lubang pada setiap + 1 cm dengan jarum yang
telah dipanaskan. Dari lubang inilah air akan mengalir dalam bentuk tetesan yang
kemudian jatuh pada karung goni dan karena gaya gravitasi aliran air ini akan
turun membasahi seluruh dinding lemari pendingin.

Tingkat kerusakan pada sayuran diamati dari warna (hijau segar, kuning,
becak coklat/busuk) dan kondisi sayuran (segar atau layu). Pengamatan dhentikan
setelah tingkat kerusakan sayuran sawi bakso mencapai 50 % dari jumlah sayuran
awal. Pembanding sayuran sawi lainnya dilakukan yaitu dengan meletakkan sawi
di luar lemari pendingin. Bahan yang dipakai dibeli dari pasar setempat dengan
kondisi yang sama kemudian dipisahkan antara perlakuan dan kontrol.

Tabel. 1. Data Hasil Pengamatan


Suhu

Suhu

Tanggal

lingkungan

Dalam

pengamatan

(oC)
Pagi Sore
23,5 25
22
23
23
24
23
24
23
24

(oC)
Pagi Sore
23
24
23
23,5
22,5 23
23
23,5
23
23,5

4 Juli 2009
5 Juli 2010
6 Juli 2010
7 Juli 2010
8 Juli 2010

Kenampakan
Pagi
Hijau segar
Hijau segar
Hijau segar
Hijau segar
Hijau
segar,
terdapat

Sore
Hijau segar
Hijau segar
Hijau segar
Hijau segar
Terdapat daun

daun yang

yang

menguning,

menguning,

bercak

beberapa

kecoklatan

batang

sawi batang

sawi

terdapat bercak bertambah


9 Juli 2010

22

25

22

24

kecoklatan
banyak
Daun
yang Daun
menguning

menguning

bertambah,

bertambah,

bercak

bercak

kecoklatan

kecoklatan

batang

sawi batang

bertambah

bertambah

banyak

banyak

yang

sawi

dan

disertai
membusuk
Tabel 2. Data hasil pengamatan disertai kenampakan sayuran sawi

Pagi , 4 Juli 2010

Sore , 4 Juli 2010

Pagi ,5 Juli 2010

Sore , 5 Juli 2010

Pagi ,6 Juli 2010

Sore , 6 Juli 2010

Pagi , 7 Juli 2010

Sore ,7 Juli 2010

bau

Pagi , 8 Juli 2010

Sore , 8 Juli 2010

Pagi , 9 Juli 2010

Sore , 9 Juli 2010

Dari hasil pengamatan didapatkan kondisi sawi di luar lemari pendingin


hanya bertahan satu hari saja. Sawi yang diletakkan di luar akan cepat sekali layu
dan daun berubah menjadi kuning. Hal ini dikarenakan karena sawi melakukan
respirasi dengan cepat dengan adanya suhu lingkungan yang relatif lebih tinggi.
Sawi bakso yang diletakkan dalam lemari pendingin yang sudah
dimodifikasi menunjukkan tingkat kesegaran yang lebih baik daripada yang
berada di luar. Hal ini berlangsung sampai dengan empat hari masa penyimpanan.
Sawi bakso masih terlihat hijau segar dan tidak layu. Pada hari kelima sudah
mulai terdapat perubahan warna, bebarapa daun sawi berubah menjadi
kekuningan, dan pada daun dan batang mulai ada warna atau bercak-bercak
kecoklatan. Persentase perubahan warna pada sawi ini semakin banyak namun
masih kurang dari 50%. Pada hari ketujuh tingkat kerusakan pada sawi sudah
lebih dari 50% dan mulai timbul bau yang tidak sedap (busuk).

Faktor yang berpengaruh dalam proses pendinginan dengan lemari


pendingin ini adalah bahwa dinding lemari pendingin yang terbuat goni harus
selalu basah, sehingga laju respirasi dari sayuran dapat dihambat. Laju tetesan
juga perlu diperhatikan mengingat pada saat siang hari bila cuaca panas dan suhu
lingkungan meningkat maka tingkat penguapan akan lebih tinggi. Sehingga bila
laju tetesan terlalu lambat maka bagian bawah dinding lemari tidak terbasahi
karena sudah menguap terlebih dahulu.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat proses pembuatan dan
pelaksanaan proses pendinginan adalah :
a. Air yang digunakan harus dalam kondisi bersih, bila tidak akan menyumbat
lubang-lubang pada selang.
b. Lubang pada selang air harus dibuat sedemkian rupa sehingga mampu
menetes pada bagian atas lemari pendingin sehingga akan mengalir
membasahi seluruh dinding lemari pendingin.
c. Sayuran tidak boleh kontak langsung dengan air hal ini akan mempercepat
proses sayuran sehingga cepat busuk.
d. Sudut kemiringan pada atap lemari pendingin yang tidak tepat mengakibatkan
tetesan air tidak jatuh pada dinding Alat Pendingin. Sudut yang digunakan
pada percobaan ini adalah 600.

2. KESIMPULAN
a. Hasil

percobaan

menunjukkan

bahwa

proses

pendinginan

dengan

menggunakan lemari pendingin mampu memperpanjang daya simpan sawi


sampai dengan 4 hari.
b. Lemari pendingin ini dapat digunakan sebagai subtitusi adanya kulkas atau
refrigerator dan dapat didesain lagi untuk diubah ukurannya sehingga
kapasitasnya lebih besar.

c. Lemari pendingin ini mempunyai kelebihan yaitu lebih murah, mudah dibuat,
dan kapasitas yang lebih besar serta tidak banyak mengkonsumsi daya listrik.
d. Adanya lemari pendingin ini sangat menguntungkan bila digunakan pada
masyarakat, terutama kami berorientasi kapada penjual sayuran, dan penjual
mie ayam atau bakso agar sawi yang digunakkan dapat lebih awet untuk
beberapa hari .

IV. DAFTAR PUSTAKA

http://koronka.wordpress.com/2008/03/25/pengawetan-bahan-pangan-dan-sejarahrefrigerasi/feed/
Dwiari, S.R. 2008. Teknologi Pangan Jilid 1. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional.