Anda di halaman 1dari 19

Cara mengenali batuan alterasi (How to know alteration rocks)

Beberapa pertanyaan yang sering muncul bagi seorang geologist yang baru lulus
terkait alterasi adalah sebagai berikut:
1. Batu ini sudah teralterasi atau belum?
2. Waktu batuan itu teralterasi bagaimana sih keadaan lingkungannya? (suhu,
tekanannya, dsb)
3. Apakah batuan ini teralterasi karena proses hidrothermal? Atau nggak?
4. Batuan asalnya apa?
Alterasi berasal dari kata alter yang lebih mudah diterjemahkan sebagai ubah, jadi,
suatu mineral dikatakan sebagai mineral alterasi jika mineral tersebut sudah berubah
dari mineral aslinya. Perubahan ini terjadi karena perubahan komposisi kimia dari
mineral tersebut. Setiap mineral tersusun atas satu atau beberapa unsur yang
berikatan. Ada ikatan yang sangat kuat, tetapi ada juga ikatan yang sangat lemah.
Jika dibawa ke contoh ngawur; si A berpacaran dengan si B (ikatan AB), kedua2nya
adalah pasangan yang sangat akur, dan saling setia (ikatan kuat), meskipun datang
si C, si A dan si B tidak akan putus, karena ikatannya kuat (maka akan tetap menjadi
ikatan AB). Berbeda dengan pasangan si D dan si E (ikatan DE)yang tidak akur dan
tidak saling setia (ikatan lemah), ketika datang si C, si D cenderung akan selingkuh
dengan si C, sehingga terbentuk ikatan baru yaitu CD. Artinya dihasilkan sesuatu
yang baru.
Jika dibawa lagi ke mineral, perubahan komposisi kimia mineral inilah yang
menghasilkan perubahan mineral (mineral alterasi).
Mari kita bawa ke contoh nyata pada endapan skarn. Pada endapan skarn mineral
alterasi yang terbentuk adalah calc silicate minerals. Mineral ini terbentuk karena
adanya reaksi antara Ca pada batu gamping (CaCo3) dengan larutan hidrothermal
yang kaya silikat. Ca dan Co3 akhirnya berpisah dan si Ca bereaksi dengan silikat.
(Ca selingkuh hehehe)

Epidote (hijau dan prismatik) adalah contoh mineral hasil alterasi ( Ca + silikat)
sangat umum ditemukan pada endapan skarn (retrograde)
Kita kembali ke 4 pertanyaan di atas, untuk menjawab itu semua kita harus
melakukan observasi beberapa hal pada batuan meliputi; tekstur asli (kalo masih
kelihatan lho) biasanya terlihat hanya sebagai tekstur sisa, warna, asosiasi mineral,
tekstur, intensitas alterasi, hubungan overprinting, dan pola distribusi mineral
alterasi. Mari kita bahas satu persatu...
Apakah batuan sudah teralterasi?
Cara paling mudah menjawab pertanyaan itu tentunya adalah dengan cara
membandingkan batuan yang sama (tapi masih fresh) yang ditemukan pada unit
yang sama (ya iyalah.. masalahnya kita kadang ragu apa batuan asalnya.. hehe)
Kita bisa melihat komposisi mineral/asosiasi mineral yang ada pada suatu batuan,
apakah ada mineral-mineral yang dianggap sebagai mineral alterasi? Artinya bukan
anggota dari rock forming mineral. Apakah ada beberapa komponen yang tidak hadir
(yang sebenarnya selalu hadir pada batuan asalnya)? Dengan asumsi mereka
sudah teralterasi menjadi sesuatu. Misal Feldspar pada diorit (kan harus ada tu) tapi
kita hanya menemukan lempung, berarti batuan itu telah teralterasi.
Melihat teksur batuan tersebut, mineral yang teralterasi kuat cenderung kehilangan
tekstur aslinya, misal sudah tidak granular lagi dsb, tetapi pada batuan alterasi
sedang hingga lemah masih menyisakan kenampakan tekstur asli batuan.

Waktu batuan itu teralterasi bagaimana sih keadaan lingkungannya?


Mengetahui keadaan pada saat batuan terbentuk memang menjadi tantangan bagi
seorang geologist. Tetapi dengan mendeskripsi batuan dengan tepat akan bisa
menghasilkan kesimpulan ini. Pengamatan terhadap tekstur sisa (relict texture)
dapat memberikan informasi tekstur asli batuan asal. Dengan mengetahuinya kita
dapat menduga batuan tersebut terbentuk dimana (ex. Dangkal? Atau dalam?).
Pengamatan terhadap mineral-mineral alterasi (dan asosiasinya) juga bisa
memberikan informasi keadaan pada saat batuan tersebut teralterasi. Misalnya;
epidote, bisa dikatakan terbentuk pada suhu yang tinggi, karena memang mineral ini
terbentuk pada suhu yang tinggi. Dsb.
3.

Apakah batuan ini teralterasi karena proses hidrothermal? Atau nggak?


Secara sederhana batuan yang teralterasi karena proses hidrothermal
penyebarannya tidak terlalu luas dan dapat dilihat rentang intensitas alterasi dari
yang lemah hingga yang kuat. Selain itu batuan yang teralterasi karena proses
hidrothermal akan cenderung kehilangan tekstur aslinya.
Batuan asalnya apa?
Beberapa hal yang harus dideskripsikan dalam menentukan jenis batuan asal
adalah;

a.

Hubungan di lapangan (field relationship), relict texture (tekstur sisa), dan


asosiasi mineral. Kenampakan batuan alterasi di lapangan dan hubungannya
dengan batuan-batuan yang lain (fresh rock) yang ada di sekitarnya dapat

b.

memudahkan kita menentukan jenis batuan asal.


Pada batuan yang telah teralterasi biasanya tetap akan memperlihatkan relict
texture (tekstur sisa). Tekstur sisa ini dapat memberikan informasi kepada geologist
untuk mengindetifikasi tekstur awal sewaktu belum terlaterasi. Ketika tekstur awal
suatu batuan sudah teridentifikasi akan semakin mudah menentukan jenis batuan
asal.

c.

Asosiasi mineral, baik yang teralterasi ataupun tidak dapat memberikan informasi
tentang jenis batuan asal suatu batuan.

Demikian sedikit share, semoga berguna...

Diposkan oleh azim di 08:10 4 komentar:


Minggu, 06 Mei 2012
Tipe-tipe Urat Pada Endapan Porfiri
Pada tulisan kali ini bloger akan berbagi sedikit pengetahuan tentang macammacam vein yang biasanya terdapat pada endapan porfiri. Pengetahuan ini
sebagain besar saya pelajari dari tulisan Corbett dan Leach. Sebagian lagi saya
pelajari pada saat saya mengerjakan projek porfiri di Ujung sumatera nan jauh
disana (red; Tapak Tuan).
Tipe-tipe urat kuarsa pada endapan porfiri menurut Gustafson dan Hunt adalah
sebagai berikut:
1. A Vein (urat A)
Vein terbentuk di awal-awal, biasasnya vein ini bersegmen dan orientasi tidak
jelas, mengandung 90-95 % kuarsa. Vein ini terbentuk pada suhu yang tinggi.
2. B vein (urat B)
Vein ini tersusun oleh mineral kuarsa dengan ukuran kristal kasar (>1mm) dan
salinitas tinggi, sebagian memiliki struktur cockscomb. Pada umumnya urat ini
berlaminasi, dan terdapat penjajaran mineral lain (ex. sulfida chalcopyrite) pada
bagian tengah vein. Overprinting dan stockwork sangat intensif. Mineral sulfida
seperti pyrite, chalcopyrite, dan bornite pada umumnya hadir pada vein ini.
3. D vein (urat D)
Vein terdiri dari kuarsa dengan bentuk kristal, dan memiliki salinitas yang rendah.
Kuarsa berasosiasi dengan serisit, terbentuk belakangan. Lebar vein bisa mencapai
1 meter, bahkan lebih dari 1 meter. Asosiasi kuarsa dengan chalcopyrite, tennanite,
enargite, bornite, sphalerite, galena, dll.
Ada juga yang mengelompokkan urat kuarsa pada endapan porfiri menjadi 5 jenis.
Pembagian ini terkait juga dengan waktu pembentukan dan suhu pada saat vein
terbentuk. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Terbentuk awal (Prograde-suhu tinggi)
1. A vein (urat A)
Ptymatic dismembered ( Gustafson dan Hunt)

2. M vein (urat M)
Pada vein tipe M ini mineral yang berasosiasi adalah; magnetite +/- kuarsa +
actinolite + anhydrite + biotite (initial alteration)
3. A vein (urat A)
Pada vein tipe A, mineral-mineral yang berasosiasi adalah kuarsa dengan kilap
kaca + magnetite
4. B vein (urat B)
Vein ini berbentuk stockwork, dan berlapis-lapis, pada bagian tengah berstruktur
comb, berlaminasi, dan mengalami reaktivasi.
5. D vein (urat D)
alterasi serisit dan mengandung mineral-mineral sulfida.
Berikut foto-foto jenis-jenis vein (diambil dari koleksi Corbett dan Leach).
Semoga ilmunya berguna...

Diposkan oleh azim di 18:56 Tidak ada komentar:


Jumat, 04 Mei 2012

Cara Sederhana Identifikasi Endapan Skarn di Lapangan


Saat ini dalam dunia explorasi endapan skarn cukup menarik untuk dipelajari,
meskipun beberapa exploration geologist menganggap bahwa Skarn hanyalah
sebagai "bonus" pada endapan emas tipe porfiri. Berbeda dengan endapan emas
tipe porfiri, endapan skarn dalam proses pembentukannya tidak memerlukan
beberapa kali proses intrusi (multiple intrusion). (Sumber foto: Hiroyasu, 2005).

Berikut akan di jelaskan cara-cara sederhana identifikasi endapan skarn (saya


pelajari dari beberapa literatur, serta pengalaman explorasi di Peulumat, South
Aceh).
Sebelum masuk ke pembahasan cara identifikasi, ada baiknya di ulas sedikit apa itu
endapan skarn? Pada awalnya endapan skarn dianggap sebagai batuan metamorf
hasil kontak antara (hanya) batuan sedimen karbonatan dengan intrusi magma oleh
ahli petrologi metamorf, dengan terjadi perubahan kandungan batuan sedimen yang
kaya karbonat, besi, dan magnesium menjadi kaya akan kandungan Si, Al, Fe dan
Mg dimana proses yang bekerja berupa metasomatisme pada intrusi atau di dekat
intrusi batuan beku (Best, 1982). Tetapi definisi saat ini lebih tepatnya, secara
sederhana endapan skarn terbentuk sebagai hasil interaksi/reaksi antara larutan
hidrothermal yang kaya silika bereaksi dengan batuan sedimen/non sedimen yang
kaya akan unsur Ca (kalsium), pada batuan sedimen misalnya pada batugamping
(tetapi bukan hanya pada batugamping). Hasil dari reaksi tersebut akan
menghasilkan mineral-mineral calc-silicate seperti garnet, epidote, pyroxene

sekunder, dll. Secara umum skarn dikelompokkan menjadi 2 berdasarkan suhu


pembentukannya; prograde skarn, dan retrograde skarn. Skarn prograde terbentuk
pada suhu tinggi, dicirikan oleh asosiasi mineral-mineral bersuhu tinggi, seperti
garnet, klinopiroksen, biotit, humit, montiselit,dll, sedangkan skarn retrograde
terbentuk pada suhu rendah umumnya tersusun oleh mineral-mineral serpentin,
amfibol, tremolit, epidot, klorit, kalsit, dll. Berdasarkan posisi dan batuan dasar yang
tergantikan endapan skarn dapat diklasifikasikan berdasarkan dari batuan asal yang
tergantikan dengan istilah eksoskarn dan endoskarn yang digunakan pada batuan
yang tergantikan. Dengan kandungan mineral-mineral bijih tertinggi dapat dijumpai
pada endapan skarn tipe eksoskarn. Eksoskarn yaitu skarn yang terbentuk pada
batuan sedimen di sekitar intrusi batuan beku, sedangkan endoskarn yaitu skarn
yang terbentuk pada batas atau di dalam batuan beku itu sendiri.
Bagaimana cara memetakan endapan skarn? Beberapa hal yang harus dilakukan di
lapangan dalam identifikasi endapan skarn:
1. Identifikasi mineral penciri skarn
Di antara banyaknya mineral-mineral skarn, bukan hanya garnet dan piroksen
sekunder saja yang menjadi perhatian penting, tetapi mineral-mineral lain seperti
grup amfibol dan epidot juga harus mendapat perhatian lebih dalam rangka
mengidentifikasi endapan skarn. Identifikasi mineral-mineral tersebut dapat
memberikan gambaran; suhu pembentukan, tekanan, oksigen, dan jarak dari tubuh
endapan skarn/zona kontak dengan intrusi. Asosiasi mineral garnet dan piroksen
sekunder memberikan informasi bahwa endapan terbentuk pada suhu >400 C,
sedangkan asosiasi mineral-mineral amfibol dengan epidot menunjukkan bahwa
endapan terbentuk pada suhu <400 C.
2. Tekstur dan mode pembentukan endapan skarn
tekstur dan mode pembentukan endapan skarn sangat terkait dengan kedalaman
endapan tersebut. Jika kedalaman endapan skarn dapat ditentukan, persebaran dari
endapan tersebut akan dapat ditentukan. Tekstur endapan skarn misalnya, jika
batuan induk memiliki banyak lubang-lubang (porous) tetapi tidak terisi oleh mineralmineral skarn, artinya endapan tersebut tidak terlalu banyak memiliki volume untuk
mengisi lubang-lubang tersebut, sebaliknya jika lubang-lubang terebut terisi oleh

mineral-mineral endapan skarn, itu memberikan informasi bahwa endapan tersebut


memiliki tubuh yang cukup besar.
3. warna mineral endapan skarn
Warna mineral endapan skarn dapat memberikan informasi seberapa jauh mineral
dari zona kontak. Garnet yang berwarna coklat (lebih gelap) berarti dekat dengan
zona intrusi, sedangkan yang berwarna lebih terang (coklat terang dll) berarti
berjarak lebih jauh dari zona intrusi.
4.Ukuran butir mineral pada endapan skarn dan mineral-mineral konstituen pada
batuan induk/asal,
Ukuran butir dapat menunjukkan dalam tidaknya tempat pembentukan endapan
skarn tersebut.
5. batuan dan struktur batuan induk/asal (contoh: dolomitic or calcareous, bedding
plane, schistosity, dan joint).
6. Kehadiran urat
Urat pada endapan skarn juga menjadi jalan masuknya fluida hidrothermal pda
batuan yang kaya akan Ca, hal ini akan mempermudah proses alterasi skarn pada
tubuh batuan induk yang ada.
Demikin sedikit penjelasan tentang cara sederhana mengidentifikasikan endapan
skarn di lapangan. Semoga bermanfaat.

Diposkan oleh azim di 16:21 Tidak ada komentar:


Senin, 26 Maret 2012
Bagaimana cara mendeskripsikan batuan alterasi?
Cara mendeskripsikan batuan alterasi ini saya peroleh dan saya pelajari dari senior
saya di Perusahaan (Reza Al furqan). Sebenarnya tidak ada format khusus untuk
mendeskripsi sebuah batuan alterasi, baik secara makroskopis ataupun

mikrospkopis.
Tetapi ada beberapa karakter penting yang harus kita rekam dari sebuah batuan
alterasi, yaitu:
1. warna
warna menjadi parameter yang sangat penting karena beberapa tipe alterasi
tercermin lewat warna, akibat melimpahnya mineral alterasi yang menggantikan
(replacement )mineral asli. Tetapi ini bukan berarti warna adalah satu-satunya
karakter penting dalam mendeskripsikan batuan alterasi, karena terkadang sebuah
mineral alterasi memiliki beberapa variasi warna.
2. Kekerasan (hardness)
Kekerasan menjadi faktor yang penting karena adanya proses alterasi pada batuan
dapat merubah kekerasan batuan tersebut, bisa saja menjadi semakin keras, contoh
pada alterasi silika, atau malah sebaliknya menjadi lembut, contoh pada alterasi
lempung.
3. tekstur
Tekstur pada batuan yang sudah teralterasi biasanya akan menjadi tidak terlihat,
atau samar-samar terlihat pada alterasi lemah sampai sedang.
4. komposisi
Jika batuan asal nya andesit, berarti mineral aslinya adalah feldspar-piroksen,
sedangkan kalau sudah teralterasi, berarti komposisinya menjadi feldspar atau
piroksen teralterasi, kalau sudah mahir, bisa menyebutkan e.g. komposisi andesit
didominasi oleh klorit yg merupakan ubahan (alterasi) dari feldspar).
5. jenis alterasi
Setiap asosiasi mineral alterasi tertentu akan menunjukkan jenis alterasi tertentu,
misalnya alterasi potasik, argilik dll, tetapi lebih baik menyebut alterasi clay-silicapyrit (menyebutkan asosiasi mineral alterasinya) daripada langsung menyimpulkan
alterasi argillic.
6. Persentase sulphide (mineral logam)

Biasanya yang paling mudah diamati adalah pirit, terkadang kalkopirit juga muncul.
7. Persentase urat (kuarsa/ kalsit)
untuk melihat jenis2 mineral alterasi bisa melihat berbagai macam literatur mineral
alterasi, misalnya ATLAS ALTERATION.
Diposkan oleh azim di 21:18 Tidak ada komentar:
Senin, 12 Desember 2011
Dasar-Dasar Fotografi (Fotografi dan Geologi)
Kuliah di geologi ataupun bekerja sebagai seorang geologist pastinya sangat akrab
dengan alat yang namanya kamera. Setiap pergi mengambil data di lapangan,
kamera tidak akan pernah ditinggalkan oleh seorang mahasiswa geologi ataupun
geologist. Fungsi kamera ini pastinya untuk memoto objek-objek geologi yang ada di
lapangan. Model utama biasanya adalah batu/singkapan, tetapi pemandangan indah
juga sering menjadi model yang menarik sebagai kenampakan morfologi suatu
daerah. Selain itu, biasanya para poter dan geologist nya pun tak luput ingin narsisnarsis-an di lapangan. Karena begitu dekatnya dengan kamera, tidak sedikit
seorang geologist juga bekerja ganda sebagai fotografer terkenal, misalnya Kristupa
saragih (fb: Kristupa Saragih) dan Juniarsam (fb: Al Juniarsam Full), mereka berdua
adalah alumni teknik geologi UGM
Pada kesempatan kali ini aku ingin berbagi sedikit pengalaman tentang kamera,
khususnya kamera DSLR. Kamera DSLR ini bisa dikatakan sangat tidak praktis
dibawa ke lapangan, karena ukurannya yang besar dan bobot yang lebih berat
ketimbang kamera pocket. Tetapi, karena hasil jepretannya bagus, banyak juga
geologistnya yang suka membawanya ke lapangan.
DSLR merupakan singkatan dari Digital Single Lens Reflex. Kamera jenis ini
biasanya digunakan oleh seorang yang profesional dalam dunia fotografi
(fotografer). Tetapi, saat ini hampir semua orang bisa memiliki kamera tipe ini,
karena harganya cukup terjangkau. Banyak orang lebih menyukai kamera ini
ketimbang kamera saku (pocket camera) ataupun kamera prosumer, karena lensa

pada kamera DSLR ini dapat diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan. Selain itu,
proses pengaturan pada kamera DSLR memungkinkan seseorang mengekspresikan
kreatifitasnya dalam menjepret sebuah objek.
Berikut akan di jelaskan beberapa komponen pokok yang ada pada sebuah kamera
DSLR.
1. Aperture
Aperture merupakan bukaan sebuah lensa yang menjadi pintu masuknya cahaya.
Jadi, ketika bukaan aperture besar, maka kamera akan menerima banyak cahaya.
Bukaan aperture yang besar sangat dibutuhkan pada kondisi pemotretan dengan
cahaya yang minim, misalnya dalam ruangan, atau senja hari, dsb. Selain itu,
bukaan aperture juga berfungsi untuk mengendalikan ruang tajam, mudahnya
begini; jika kita menyeting aperture pada bukaan besar, latar belakang objek menjadi
kabur, sedangkan jika setingan aperture pada bukaan kecil, foto yang dihasilkan
cenderung memiliki ketajaman gambar hampir pada semua titik. Setingan Aperture
pada kamera DSLR biasanya ditulis sebagai; f/2, f/4, f/6, dan seterusnya. Semakin
kecil angka pembagi f (pada contoh tersebut f/2 paling kecil) artinya bukaan aperture
semakin besar, artinya cahaya yang masuk ke kamera semakin besar pula, dan latar
belakang objek semakin kabur.
2. Shutter Speed
Pada sebuah kamera, didepan sensor kamera tersebut terdapat komponen yang di
sebut shutter. Fungsinya adalah mecegah cahaya masuk ketika tobol kamera/tobol
shutter tidak di tekan. Semakin lama jendela shutter terbuka, maka akan semakin
lama pula sensor kamera terkena cahaya. Dampaknya terhadap hasil jepretan
adalah, jika jendela shutter terbuka lama, gambar akan semakin terang, sebaliknya
jika shutter terbuka sebentar, gambar menjadi lebih gelap. Pada pengaturan shutter
speed, akan terlihat angka-angka seperti; 60, 250, 500 dan seterusnya, ini
maknanya adalah jendela shutter akan terbuka selama; 1/60 detik, 1/250 detik,
1/500 detik dan seterusnya. selain itu, pada pengaturan shutter tersebut juga ada
tulisan 2" dan sebagainya, itu artinya jendela shutter tebuka selama dua detik. Pada
saat jendela shutter terbuka. Jika pada saat jendela shutter masih terbuka, kamera
bergerak, maka foto yang dihasilkan akan menjadi blur/kabur. Sehingga untuk
pengambilan gambar dengan waktu shutter yang sangat lama di sarankan

menggunakan tripod. Sedangkan untuk pengambilan gambar yang bergerak,


disarankan menggunakan shutter speed yang cepat.
3. ISO
ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya yang ada. ukuran ISO
biasanya dituliskan dalam angka-angka; 100, 200, 400, dan berlipat ganda hingga
6400 (ada juga kamera memiliki ISO yang berbeda. Semakin tinggi pengaturan ISO,
misalnya 6400 artinya sensitifitas kamera terhadap cahaya semakin besar, artinya
cahaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan gambar sedikit saja, dan sebaliknya.
Jadi, jika ingin mengambil gambar pada kondisi yang gelap, sebaiknya
menggunakan pengaturan ISO yang tinggi. Tetapi, penggunaan ISO yang tinggi
akan menyebabkan gambar yang dihasilkan memiliki kualitas yang kurang baik,
karena akan muncul bintik-bintik yang dikenal dengan nama noise.
Sebenarnya masih banyak lagi komponen-komponen DSLR yang lain seperti
sensor, megapixel, image stabilizer, metering, mode kamera dan lain-lain. Tetapi
ketiga komponen yang sudah di jelaskan di atas (aperture, shutter speed, ISO)-lah
yang sangat berpengaruh dalam rangka pengelolaan intensitas cahaya bahasanya
beribet amat hehehe Jadi, selamat mencoba ketiga pengaturan di atas, terutama
bagi mahasiswa geologi atau geologist yang hobi sekali mengambil data sampai
sore menjelang magrib, biasanya lagi dikejar deadline hahahhaa
oke, lebih kurang mohon maaf, sama-sama sebagai pemula...
Diposkan oleh azim di 13:25 Tidak ada komentar:
Minggu, 11 Desember 2011
Endapan Skarn (Skarn Deposit)
Cerita kali ini adalah tentang salah satu jenis endapan mineral yang sangat penting
di dunia, yaitu ENDAPAN SKARN yang dalam bahasa Inggris disebut SKARN
DEPOSIT. Semua cerita ini di tulis berdasarkan pengalaman kuliah "Geologi Sumber
Daya Mineral" di Jurusan Teknik Geologi FT UGM.
Endapan skarn pertama kali dinyatakan sebagai batuan metamorf hasil kontak
antara batuan sedimen karbonatan dengan intrusi magma oleh ahli petrologi

metamorf, dengan terjadi perubahan kandungan batuan sedimen yang kaya


karbonat, besi, dan magnesium menjadi kaya akan kandungan Si, Al, Fe dan Mg
dimana proses yang bekerja berupa metasomatisme pada intrusi atau di dekat
intrusi batuan beku (Best 1982).
Jadi gampangnya begini, misal pada suatu tempat terdapat batuan sedimen
(biasanya batuan karbonat), syaratnya harus batuan yang kaya kalsium. Kemudian
batuan tersebut terkena intrusi oleh batuan beku, biasanya hingga beberapa kali,
akhirnya, karena pengaruh intrusi batuan beku tersebut, batuan sedimen yang kaya
kalsium tersebut terubah menjadi suatu endapan yang biasanya benilai ekonomis,
misalnya, mengandung emas dsb, tergantung kepada komposisi kimianya. Nah...
endapan inilah yang disebut sebagai ENDAPAN SKARN
Endapan skarn terbentuk sebagai efek dari kontak antara larutan hidrothermal yang
kaya silika dengan batuan sedimen yang kaya kalsium. Proses pembentukannya
diawali pada keadaan temperatur 400C - 650C dengan mineral-mineral yang
terbentuk berupa mineral calc-silicate seperti diopsid, andradit, dan wollastonit
sebagai mineral-mineral utama pembawa mineral bijih (Einaudi et al. 1981). Tapi
terkadang dijumpai juga pembentukan endapan skarn juga terbentuk pada
temperatur yang lebih rendah, seperti endapan skarn yang kaya akan kandungan
Pb-Zn (Kwak 1986). Pengaruh tekanan yang bekerja selama pembentukan endapan
skarn bervariasi tergantung pada kedalaman formasi batuan.
Klasifikasi Endapan Skarn
1. Berdasarkan batuan yang terubah (tergantikan)/batuan sedimen
a. Eksoskarn
Eksoskarn adalah endapan skarn yang terbentuk di sekitar intrusi batuan beku, tidak
mengalami kontak langsung dengan intrusi.
b. Endoskarn
Endoskarn adalah endapan skarn yang terbentuk pada kontak batuan sedimen
dengan intrusi ataupun di dalam batuan beku intrusi itu sendiri sebagai xenolith.
2. Berdasarkan jenis mineralnya
a. Skarn Prograde
Mineral skarn pada tipe ini terbentuk pada suhu yang tinggi, dan terjadi pada fase

awal. Beberapa jenis mineral pencirinya adalah; garnet, klinopiroksen, biotit,


humit,dan montiselit.
b. Skarn Retrograde
Minineral skarn pada tipe ini terbentuk pada suhu yang rendah. Beberapa contoh
mineral pencirinya adalah; serpentin, amfibol, tremolit, epidot, klorit dan kalsit.
Endapan skarn sangat penting dalam dunia pertambagan. Sebut saja contohnya
beberapa pertambangan emas besar yang beroperasi di Indonesia memiliki
endapan tipe ini, misalnya PT. Freeport Indonesia, selain memiliki endapan tipe
porfiri, perusahaan ini juga memiliki endapan emas tipe skarn.
Diposkan oleh azim di 22:04 1 komentar:
Sabtu, 01 Oktober 2011
Mineralogi : Cara sederhana mengindentifikasi dan mengetahui nama mineral
Kata-kata mineral sangat terkenal dan sering kita dengar, tapi tidak semua orang
tahu pengertiannya. Mineral bukan hanya terdapat di air mineral lho.. hehe.
Pengertian lengkapnya mineral adalah materi penyusun bumi yang merupakan
unsur atau senyawa anorganik yang terbentuk secara alami, mempunyai sifat dan
komposisi kimia tertentu dan sifat fisik tertentu, mempunyai struktur dalam yang
teratur dan berbentuk kristal. Jadi semua benda yang memiliki kriteria tersebut bisa
kita sebut sebagai mineral, misalnya emas, perak, tembaga, kuarsa,dan buanyaaak
lagi.

ini mineral uraninite (ada uraniumnya lho) sumber : ecolo.org


Dalam mengidentifikasi mineral (analisis petrologi : kenampakan megaskopis
dengan mata telanjang atau bantuan loop/kaca pembesar)untuk kebutuhan
penamaan mineral , ada beberapa sifat fisiknya yang harus kita ketahui, yaitu:
1. Warna
Warna merupakan kenampakan mineral karena mineral terkena cahaya normal
(matahari, lampu, dll). Misalnya hematit berwarna merah, kuarsa tidak berwarna,
gipsum berwarna putih, dsb.

kuarsa walaupun tidak berwarna tetap indah (sumber: kidsgen.blogspot.com)


2. Kilap
Kilap merupakan kenampakan mineral akibat memantulkan cahaya, terus apa
bedanya dengan warna?? Kalo warna kan seperti yang disebutkan di atas, kalo kilap
ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu; kilap logam dan kilap nonlogam.
a. Kilap logam kenampakan mineral seperti logam, misalnya mineral galena, pirit, dll
b. Kilap nonlogam terbagi menjadi (beserta contoh mineralnya) ; kilap intan (intan),
kilap kaca (kuarsa), kilap sutera (gipsum), kilap damar (sphalerit), kilap mutiara
(dolomit), kilap lemak (talk), kilap tanah (bauksit).

mineral emas memiliki kilap logam (sumber: galleries.com)


3. Cerat
Cerat merupakan kenampakan mineral dalam bentuk serbuk (mineralnya digerus
gitu lho). Terus diamati aja warna cerat/hasil gerusan mineral-mineral tersebut,
mineral yang berwarna merah belum tentu ceratnya juga warna merah lho. Misalnya
biotit warnanya coklat, ceratnya malah tidak berwarna, dll.
4. Bentuk
Kenampakan bentuk kristal ini mengamatinya biasanya dengan bantuan loop/kaca
pembesar, tapi kalo mineralnya gede-gede ya gak perlu. Bentuk mineral bisa dibagi
menjadi; amorf (tidak berbentuk), dan berbentuk kristal ; isometrik, tetragonal,
heksagonal, rhombik, monoklin, dan triklin (wah apalagi nih?? Lain waktu bakal
dijelasain tentang kristal, kalau gak sabaran bisa browsing-browsing di sumber lain..
hehe).
5. Belahan
Belahan ini merupakan kenampakan mineral terbelah (beda lho sama pecah).
Belahan ini bisanya berbentuk bidang yang datar dan mulus (seperti dicetak gitu lah
kenampakannya). Belahan dibedakan menjadi beberapa arah (contoh mineralnya),
yaitu; belahan satu arah (muskovit), dua arah (ortoklas), tiga arah (kalsit). Bidang

belahan boleh saling tegak lurus ataupun tidak, contoh yang tegak lurus itu mineral
halit, yang tidak tegak lurus misalnya kalsit.

amethys ini masih satu keluarga dengan kuarsa, indah sekali ya (sumber:
3dchem.com)
6. Pecahan
Pecahan itu maksudnya kalo mineral itu dipecahkan, nah kenampakan bekas
pecahnya itu seperti apa. Pembagiannya (contoh mineralnya); pecahan concoidal
yaitu seperti bekas pecahan botol (kuarsa), spliteri atau fibrous pecahan yang
berserat (asbes), pecahan uneven atau permukaan kasar dan tidak teratur (pirit),
dan terakhir hackly atau permukaan kasar dan runcing2 (perak).
7. Kekerasan
Kekerasan disini bukan tingkat kriminalitas ya.. hehe.. kekerasan adalah tingkat
ketahan mineral terhadap goresan. Skala kekerasan ini sudah ada yang buat, yaitu
skala mosh dari nilai 1-10 (makin besar angka tingkat kekerasan makin tinggi), yaitu;
1. Talk, 2. Gipsum, 3. Kalsit, 4. Fluorit, 5. Apatit, 6. Ortoklas, 7. Kuarsa, 8. Topaz, 9.
Korundum, 10. Intan. Wow, intan selain indah ternya keras sekali ya. Cara
mengindentifikasi secara sederhana kekerasan suatu mineral dengan
membandingkan kekerasan mineral dengan beberapa barang yang ada disekitar kita
yang sudah diketahui tingkat kekerasannya, yaitu:
a. Kuku kita : 2,5
b. Tembaga : 3
c. Pecahan kaca : 5,5 6

d. Pisau baja : 5,5 6


e. Kikir baja : 6,5 7
Itu alat2nya, tapi kalo punya mineral yang sudah disebutkan tadi diatas (1-10)
perbandingannya pasti lebih akurat.

intan merupakan mineral dengan kekerasan tertinggi (sumber: diamond.com)

8. Berat jenis
Untuk tahu berat jenis ini kita bisa memanfaatkan beberapa alat berupa piknometer,
gelas ukur, dan neraca air.
9. Daya tahan mineral untuk tidak menjadi pecah (tenacity)
Caranya dengan membengkokkan mineral2 yang ingin diidentifikasi, dibagi menjadi
(contoh mineralnya):
a.Brittle yaitu hancur menjadi pecahan-pecahan runcing (kuarsa)
b.Melleable yaitu dapat diubah2 bentuknya tanpa menjadi pecah (tembaga)
c.Sectile yaitu dapat diiris-iris dengan pisau (talk)
d.Fleksibel yaitu dapat dibengkokkan tapi tidak bisa kembali sendiri seperti semula
(selenit)
e.Elastis yaitu dapat dibengkokkan dan bisa kembali seperti semula dengan
sendirinya (muskovit)

10. Cara mineral meneruskan cahaya


Percobaanya dengan melihat suatu benda dari sebalik mineral yang akan
diidentifikasi, pembagiannya yaitu:
a.Mineral transparan jika benda yang ada disebalik mineral dapat terlihat jelas
b.Mineral translucent jika benda yang ada di sebalik mineral tidak terlihat jelas, atau
terlihat sangat samar2
c.Mineral opaq jika benda yang ada di sebalik mineral tidak terlihat sama sekali,
karena minerl tidak meneruskan cahaya
11. Sifat lainnya: rasa, bau, kelistrikan, kemagnetan, daya hantar panas,
keradioaktifan, posporisensi, dan fluorinsensi
Sifat lain-lain yang mudah diidentifikasi yaitu rasa (dicicipi jangan dimakan tapi ya..
hehe), baunya dengan dicium (mesra sekali sama mineral), dan kemagnetan
dengan medekatkan ke magnet apakah ditarik kuat oleh magnet (feromagnetik),
ditarik lemah oleh magnet (paramagnetik) atau tidak ditarik (diamagnetik).
Ternyata sifat-sifat mineral ini unik-unik ya.... banyak hal yang harus
dipertimbangkan untuk mengidentifikasi suatu mineral. Setelah sifat-sifat mineral
teridentifikasi dengan baik, untuk penamaan mineral dapat dibandingkan dengan
beberapa literatur, kalo saya sukanya pakai literatur karangan Pak Edward Henry
Kraus, dkk. Judul : Mineralogy an Introduction to the study of Minerals and
Crystals. Untuk identifikasi level megaskopis buku tersebut sangat recomended.
Keterangan: pengetahuan sederhana ini saya dapatkan di semester 1 kuliah geologi
dasar yang diampu oleh Pak Soetoto, teknik geologi UGM, jika ada yang salah
mohon dikoreksi.
Semoga sukses dan sehat selalu teman-teman semua.
Diposkan oleh azim di 13:40 Tidak ada komentar:
Posting Lama Beranda
Langganan: Entri (Atom)