Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

FITOKIMIA II

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI TANIN DARI DAUN BELIMBING


WULUH (Averrhoa bilimbi L.)

Oleh :
NURJANAH
NIM. J1E113018
Kelompok VII (Shift II)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2016

LAPORAN PRAKTIKUM
FITOKIMIA II

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI TANIN DARI DAUN BELIMBING


WULUH (Averrhoa bilimbi L.)

Oleh :
NURJANAH
NIM. J1E113018
Kelompok VII (Shift II)

Tanggal Praktikum : 29 April 2016


Dikumpul Tanggal : 6 April 2016
Nilai
:

Mengetahui

(Mia Fitriana, M.Si., Apt.)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2016
PRAKTIKUM III

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI TANIN DARI DAUN BELIMBING


WULUH (Averrhoa bilimbi L.)

I.

TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah mahasiswa memahami dan terampil
melakukan isolasi tanin, dan melakukan identifikasi hasil isolasi secara

II.

kualitatif.
DASAR TEORI
Secara kimia tanin tumbuhan dibagi menjadi dua golongan yaitu tanin
terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin terhidrolisis mengandung ikatan
ester yang dapat terhidrolisis jika dididihkan dalam asam klorida encer.
Asam elagat merupakan hasil sekunder yang terbentuk pada hidrolisis
beberapa tanin yang sesungguhnya merupakan ester asam heksaoksidifenat.
Tanin terkondensasi merupakan senyawa tidak berwarna yang terdapat pada
seluruh dunia tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Tanin
terkondensasi telah banyak ditemukan dalam tumbuhan paku-pakuan
(Robinson, 1995).
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) merupakan salah satu jenis
tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional. Tanaman ini
banyak dimanfaatkan mengatasi berbagai penyakit seperti batuk, diabetes,
rematik, gondongan, sariawan, sakit gigi, gusi berdarah, jerawat, diare
sampai tekanan darah tinggi. Ekstrak daun belimbing wuluh mengandung
flavonoid, saponin, triterpenoid dan tannin. Tanin dapat diisolasi dari daun
belimbing wuluh menggunakan metode maserasi, sedangkan salah satu cara
untuk memisahkan senyawa tannin adalah dengan kromatografi lapis tipis
preparatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eluen terbaik dalam
pemisahan senyawa tanin dari daun belimbing wuluh dengan kromatografi
lapis tipis (KLT) dan mengetahui jenis senyawa tanin yang terdapat dalam
daun belimbing wuluh (Hayati et al, 2010).
Secara struktur tanin adalah suatu senyawa fenol yang memiliki berat
molekul besar yang terdiri dari gugus hidroksil dan beberapa gugus yang
bersangkutan seperti karboksil untuk membentuk kompleks kuat yang
efektif dengan protein dan beberapa makromoleku (Harvart, 1981). Sebagai
salah satu tipe dari senyawa metabolit sekunder, tanin mempunyai
karakteristik sebagai berikut :

a. Senyawa oligomer dengan satuan struktur yang bermacam-macam


dengan gugus fenol bebas
b. Berat molekul antara 500 sampai 20000
c. Larut dalam air, dengan pengecualian beberapa struktur yang
mempunyai berat molekul besar
d. Mampu berikatan dengan protein dan terbentuk komplek tannin-protein
yang larut dan tidak larut
(Giner-Chavez, 2001).
1. Tanin Terkondensasi
Tanin terkondensasi secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan
cara kondensasi katekin tunggal (galokatekin) yang membentuk senyawa
dimer dan kemudiaan oligomer yang lebih tinggi. Proantosianidin
merupakan nama lain dari tannin terkondensasi karena jika direaksikan
dengan asam panas, beberapa ikatan karbon penghubung satuan terputus
dan dibebaskan monomer antosianidin (Harborne, 1987).
2. Tanin Terhidrolisis
Tannin terhidrolisis merupakan molekul dengan poliol (umumnya IIglikosida) sebagai pusatnya. Tannin terhidrolisis adalah pecahnya
karbohidrat dan asam fenolik oleh asam lemah atau basa lemah
(Hagerman, 1998).
Tanin secara alamiah didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang
mempunyai berat molekul tinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan gugus
lainnya (seperti karboksil) sehingga dapat membentuk kompleks dengan
protein dan makromolekul lainnya dibawah kondisi lingkungan tertentu.
Tanin dikelompokkan menjadi dua kelompok polimer, yaitu Hysrolysable
tanin dan Conden sed tanin. Hysrolysable taninmerupakan turunan asan
galat yang mudah dihidrolisis dalam suasana asam. Sedangkan tanin
merupakan polimer polyflavonoid (Danarto et al, 2011).
Secara kimia terdapat dua jenis tanin yang tersebar tidak merata
dalam dunia tumbuhan yaitu tanin terkondensasi (Proantosianidin) dan tanin
terhidrolisis (Hyrolyzable tanin). Tanin terkondensasi secara biosintesis
dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal
(galakatekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian digomer yang
lebih tinggi. Proantosianidin merupakan nama lain dari tanin terkondensasi
karena jika direaksikan dengan asam panas, beberapa ikatan karbon
penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin.
Proantosianidin dapat dideteksi langsung dalam jaringan tumbuhan hijau

dengan mencelupkan kedalam HCL 2 M mendidih selama setengah jam.


Bila terbentuk warna merah yang dapat diekstraksi dengan amil atau butyl
alkohol, maka ini merupakan bukti adanya senyawa tersebut (Townshend,
1995).
Tanin dapat diisolasi dari daun jambu biji menggunakan metode
maserasi, sedangkan cara terbaik untuk memisahkan dan mengidentifikasi
senyawa fenol adalah Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Metode maserasi
merupakan salah satu metode ekstraksi bahan alam yang menggunakan
lemak panas, akan tetapi lemak-lemak panas itu telah diganti dengan
pelarut-pelarut organik yang mudah menguap. Penekanan utama pada
maserasi adalah tersedianya waktu kontak yang cukup antara pelarut dan
jaringan yang di ekstraksi (Guether, 1987).
Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran
menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi berkerja
berdasarkan prinsip ini. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran
berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium
tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan
antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan
menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat
komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan
tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan
bergerak lebih cepat. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa
padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau
gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponenkomponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang
berbeda bergerak pada laju yang berbeda Proses kromatografi juga
digunakan dalam metode pemisahan komponen gula dari komponen non
gula dan abu dalam tetes menjadi fraksi-fraksi terpisah yang diakibatkan
oleh perbedaan adsorpsi, difusi dan eksklusi komponen gula dan non gula
tersebut terhadap adsorbent dan eluent yang digunakan (Sudjadi, 2007).
Eluen yang baik adalah eluen yang bisa memisahkan senyawa
dalam jumlah yang banyak ditandai dengan munculnya noda. Noda yang
terbentuk tidak berekor dan jarak antara noda satu dengan yang lainnya
jelas. Identifikasi tanin dengan metode KLT menggunakan eluen NButanol : asam asetat : air (4:1:5) didapatkan tiga noda yang masingmasing nilai Rf nya sebesar 0,53 ; 0,61 ; 0,68. Noda kedua dengan nilai Rf

sebesar 0,61 diduga merupakan senyawa tanin. Hal ini diperkuat oleh
Harborne yang menyatakan bahwa tanin dapat dideteksi dengan sinar UV
pendek berupa noda yang berwarna lembayung, selain itu didukung
dengan Rf dari ekstrak tanaman mimosa (tanin tinggi) dengan harga Rf
sebesar 0,62 (Hayati et al, 2010).
III. ALAT & BAHAN
III.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah bejana
kromatografi, corong gelas, erlenmeyer 100 ml, gelas ukur 100 ml,
perangkat alat maserator dan piring petri.
III.2

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah asam
asetat, aseton, etil asetat, daun belimbing wuluh, kloroform, lempeng
KLT silica gel GF 254, N-butanol dan pereaksi semprot AlCl3.

IV.

PROSEDUR KERJA
Daun belimbing wuluh

Dicuci bersih dengan

menggunakan air mengalir


Diangin-anginkan hingga kering
Diblender hingga menjadi serbuk

Serbuk daun belimbing wuluh

Ditimbang 50 gram

400 mL aseton : air (7:3)


Direndam hingga didapatkan
ekstrak
Ekstrak tanin
Dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator
Dipanaskan diatas waterbath pada
suhu 40o-50oC
Daun belimbing wuluh

Daun belimbing wuluh

Kloroform
Dilakukan ekstraksi dengan menggunakan
corong pisah hingga terdapat dua lapisan

Diambil lapisan atas (air)

Lapisan air

Diekstraksi

Etilasetat

Ditambahkan

Didiamkan hingga terdapat dua lapisan

Dipisahkan lapisan atas dan bawah

Lapisan air

Dipekatkan dengan vacum rotary


evaporator

Hasil

DAFTAR PUSTAKA
Danarto, Y.C., S.A. Prihananta dan Z.A. Pamungkas. 2011. Pemanfaatan Tanin
dari Kulit Kayu Bakau sebagai Pengganti Gugus Fenol pada Resin Fenol
Formaldehid. Pengembangan Tekonologi Kimia untuk Pengolahan Sumber
Daya Alam Indonesia,. Yogyakarta.
Etherington, R. 2002. A. Dictionary Of Descriptive Terminology. Vegetable Tanin,
New York.
Giner-chavez, B. I. C. A. 2001. Tannins : Chemical Struktual The Struktur Of
Hyrolysable Tannins. Corrert University, USA.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. ITB, Bandung.
Harvart. 1981. Tannins : Definition. Animal Saence Webmaster. Corrert
University, Cambridge.
Hayati, E.K., A.G. Fasyah dan L. Saadah. 2010. Fraksinasi dan Identifikasi
Senyawa Tanin pada Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa blimbi L.). Jurnal
Kimia : 4 (2) halaman 2-3.
Guether, E. 1987. Minyak Atsiri Jilid I. Universitas Indonesia, Jakarta.
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. ITB, Bandung.
Sudjadi. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Townshend, A. 1995. Encyclopedia of Analytical Science Volume 2. Academic
Press Inc, London.

Anda mungkin juga menyukai