Anda di halaman 1dari 10

Pengertian

Penyakit ini merupakan penyakit pada babi yang biasanya berhubungan dengan penyakit infeksi
lain atau faktor lingkungan yang merusak fungsi paru. Penyakit ini memiliki dua bentuk yaitu
primer dan sekunder.
Kejadian
Pneumonia pasteurellosis (PP) terjadi di seluruh dunia. PP sekunder berhubungan dengan
beberapa penyakit lain, seperti mikoplasma, infeksi virus dari paru-paru, dan Actinobacillus
pleuropneumoniae. Penyakit ini juga sering disertai dengan tekanan lingkungan atau lainnya.
Bentuk lain atau jenis lain dari pasteurellosis juga terjadi pada banyak spesies lainnya, termasuk
ternak (genus berganti nama Mannheimia), kelinci, ayam, domba dan hewan pengerat.
pasteurellosis primer pada waktu tertentu bersifat sebagai penyakit septicemia dengan meningitis
pada anak babi. Bentuk septicemia juga jarang terjadi pada babi yang tua. pasteurellosis
sekunder terlihat jauh lebih sering daripada pasteurellosis primer.
Etiologi
Agen etiologi dari pneumonic pasteurellosis adalah Pasteurella multocida, bakter berbentuk
kokobasil dan bersifat Gram-negatif. Bakteri ini bersifat toksigenik dan non-toksigenik.
Organisme ini berada di hidung babi. Ada lima serotipe kapsuler (A, B, D, E, dan F) dan 16
serotipe somatik. Di Amerika Serikat, pasteurellosis pneumonia babi disebabkan oleh serotipe A
dan D.
patogenesis
Babi sehat, terinfeksi P. Multocida, lewat nasofaring. Pneumonia progresif- kolonisasi bakteri
dalam paru-paru. Strain pathogen-efek kerusakan mikrovaskulature di paru-paru-menyebabkan
pembentukan thrombus fibrinous di kapiler alveolar- kemudian diubah menjadi fibrin-fibrin
berubah menjadi jaringan ikat fibrosa. Dapat menyebabkan abses di paru-paru akibat dari infark
yang bersifat local atau hasil dari nekrosis beracun dari p. multocida dan bakteri sekunder
lainnya.Reaksi inflamasi parah melibatkan pleura dan kantung pericardial-fibrin pada pleura
Tanda-Tanda Klinis
Gejala klinis bergantung pada tingkat keparahan. Gejala klinis yang sering terlihat, yaitu : batuk,
dyspnea, demam. Kasus kronis cenderung memperlihatkan gejala berupa demam, batuk terusmenerus dan lebih ditandai dyspnea. Babi dengan pneumonia yang berkembang dengan baik atau
perlengketan yang luas antara paru-paru dan tulang rusuk sering ditandai ekspirasi

About

Contact Us

Privacy Policy

Disclaimer

TOS

Daftar Isi

Home

Penyakit Ternak

Hasil Ternak

Manajemen Pemeliharaan

Pakan

Jenis Ternak
o
o
o
o

o
o
o
o

Artikel

Search...

Home Penyakit Ternak PENYAKIT PASTEURELLOSIS PADA TERNAK KELINCI

PENYAKIT PASTEURELLOSIS PADA


TERNAK KELINCI
Thomas Saputro Sunday, April 5, 2015 Penyakit Ternak
Pasteurella adalah genus sekelompok bakteri yang termasuk dalam familia Brucellaceae
(Brunner dan gillepsie, 1973). Pemberian nama tersebut didasarkan atas jasa seorang ahli
mikrobiologi asal prancis bernama Pasteur. Beliau berhasil untuk pertama kalinya
mengidentifikasi mikroorganisme penyebab penyakit kolera pada ayam, yang sekarang ini
dikenal sebagai pasteurella multocida. Pasteurellosis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan
oleh bakteri pasteurella. Pasteurella multocida adalah spesies yang paling sering menginfeksi
manusia. Pasteurella multocida juga dapat menyerang ternak anatara lain kelinci, kucing, dan
anjing. Pasteurolosis yang menyerang kelinci paling sering terjadi pada kelinci betina dan kelinci
dewasa. Infeksi bakteri Pasteurella multocida dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang
parah, umumnya ditandai

dengan antara lain infeksi hidung, sinusitis, infeksi telinga,

konjungtivitis, radang paru-paru, dan infeksi umum dari darah. Kondisi ini sering disebut
sebagai ingusan karena napas mendengus membuat kelinci terkena dampak suara. Hal ini juga
dapat menyebabkan abses di subkutan (di bawah lapisan atas kulit) jaringan, tulang, sendi, atau
organ internal di kelinci.
Kelinci yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat, tidak menunjukkan gejala
infeksi. Namun, bakteri Pasteurella multocida sangat menular, menyebar melalui kontak
langsung, atau melalui udara dalam jarak dekat. Banyak kelinci yang terinfeksi saat lahir melalui
infeksi vagina, atau segera setelah lahir sedangkan pada kontak dekat dengan induk yang

terinfeksi. Jika bakteri Pasteurella multocida menjadi aktif dalam saluran hidung, infeksi yang
dihasilkan dapat menyebabkan rhinitis (iritasi dan radang hidung) pada awalnya. Infeksi akan
menyebar kedalam sinus dan tulang wajah, dan selanjutnya ke dalam ke telinga, hidung melalui
air mata saluran untuk mata, melalui trakea ke saluran pernafasan lebih rendah, dan melalui
darah sendi, tulang, dan sistem organ lainnya.
A. Tinjauan Pustaka
Penyakit Pasteurellosis disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida. Nama lain adalah
Bacterium leptiseptica, Bacillus leptiseptica, Pasteurella leptiseptica dan Pasteurella septica.
Penyakit ini sering ditemukan dalam koloni kelinci laboratorium dan sangat menular.
Pasteurellosis dapat menyebar secara langsung jika kelinci sehat kontak dengan kelinci yang
sakit atau tidak langsung yaitu kelinci sehat dipindahkan ke kandang penderita tanpa disterilisasi.
Pada kelinci sering menimbulkan kekebalan ringan sesudah kelinci terinfeksi. Beberapa hewan
dapat menjadi karier meskipun tampak sehat, dan mungkin hewan ini menjadi sumber infeksi
dalam koloni kelinci. Penyakit ini biasanya bersifat kronik dengan gejala ke luar eksudat encer
atau nanah dari hidung dan mata ( Smith dan Mangkoewidjojo, 1988 ).
Penyakit Pasteurellosis dapat diagnosis dengan isolasi dan identifikasi bakteri dari paruparu kelinci sakit. Jika diadakan pemeriksaan pascamati, ditemukan radang akut sampai kronik
diselaput lendir saluran pernapasan dan paruparu. Biasanya lesi disertai rhinitis, sinusitis,otitis,
meningitis dan bronkho pneumonia. Abses dapat ditemukan di tubuh kelinci terutama di kepala.
Dalam keadaan akut terjadi septisemia biasanya kelinci mati dalam waktu 48 jam. Pemeriksaan
pascamati pada bentuk akut tampak kongesti pembuluh darah sistim pernapasan, trakeaitis,
kelenjar pertahanan membesar dan pendarahan di bawah kulit. Hewan yang terinfeksi P.
multocida sebaiknya dibinasakan biasanya diobati tidak akan berhasil. Seluruh kandang dan
kamar kelinci juga peralatannya harus disterilkan. Penyakit ini bisa menular ke manusia, tetapi
sangat menular ke kelinci lain dan hewan percobaan lain.
Kadar amoniak yang tinggi turut bertanggung jawab atas terbiaknya organisme yang
menyebabkan snuffles. Pembuangan kotoran yang lebih sering, dikombinasikan dengan ventilasi
yang baik tampaknya mengurangi kehadiran penyakit kareana pasteurellosis. Kebersihan
kandang merupakan salah satu faktor penting tidak timbulnya pasteurellosis (Patton et al., 1980).
Penyakit Pasteurellosis biasanya bersifat kronik dengan gejala keluar eksudat encer atau
nanah dari hidung mata. Bulu kaki depan terutama disekeliling kuku tampak kusut dan banyak

eksudat kering. Kadang-kadang disertai pneumonia, pyometra, orchitis, otitis media,


subcutaneus abces dan septicemia. Kelinci yang sakit biasanya bersin dan batuk bisa diakhiri
dengan kematian akut, kelinci sakit tiba-tiba mati. Jika kelinci sembuh bisa sebagai karier
(Harknes dan Wagner, 1983).
Jenis hewan yang dapat terserang mempunyai derajat kerentanan yang berbeda. Dimana
kuman Pasteurella terkadang hanya bersifat saprofit pada hewan yang menjadi induk semang
dan hewan tersebut menjadi pembawa penyakit. Selain itu juga menjadi sumber penularan bagi
hewan lain yang rentan (Baraniah, 2009).
B. Pengertian Penyakit Pasteurellosis
Pasteurellosis merupakan semua penyakit terkait dengan pasteurella multocida.
Manifestasi dari penyakit bervariasi dan termasuk rhinitis (snuffles), pneumonia, pyometra,
orchitis, otitis media, konjungtivitas, abses, subcutaneous, dan septikemia. Pasteurella multocida
adalah penyebab berbagai penyakit pada mamalia, burung maupun unggas. Seperti kolera pada
unggas, athropi rhinitis pada babi dan hemoragik septiceamea pada sapi dan kerbau. Hal ini juga
dapat menyebabkan penyakit zoonosis infeksi pada manusia. klasifikasi bakteri Pasteurella
multocida.

Klasifikasi bakteri Pasteurella multocida


C. Penyebab Penyakit Pasteurellosis

Pasteurillosis disebabkan oleh bakteri Pasteurella Multocida. Genus Pasteurella terdiri


dari beberapa spesies, diantaranya P. multocida yang telah diketahui zoonosis. Gram negatif,
bentuk batang atau kokobasilus, aerobic, non motil. Secara umum bakteri dapat diisolasi dari
nasopharynx berbagai hewan termasuk manusia. Pasteurella mengacu pada genus dari berbagai
jenis bakteri, beberapa di antaranya mungkin menjadi bagian dari flora normal kelinci.
Kekhawatiran muncul dengan Pasteurella multocida (P.multocida) karena dapat menyebabkan
berbagai penyakit (disebut secara umum sebagai pasteurellosis). Meskipun bakteri dapat
menyebabkan abses, yang terbaik adalah dikenal dalam kaitannya dengan gangguan pernafasan.
Sementara P. multocida dapat memiliki luas mempengaruhi kesehatan, banyak kelinci
yang kuat sistem kekebalan tubuh yang memerangi dan menghancurkan bakteri atau setidaknya
tetap terkendali sehingga tidak menyebabkan penyakit. Selain itu, tidak semua strain dari P.
multocida memiliki konsekuensi serius, dan banyak dari kelinci yang menunjukkan tanda-tanda
itu hidup sampai usia tua.
D. Penularan Penyakit Pasteurellosis
Kelinci dapat terinfeksi sebelum penyapihan oleh kontak dengan kelinci lain yang
terinfeksi. Pada saat penyapihan, penyakit juga dapat ditularkan melalui kontak langsung atau
tidak langsung. Penularan melalui udara dapat terjadi, tapi itu bukanlah sebagai kemungkinan
metode transmisi sebagai kontak langsung.
E. Gejala Klinis
Kelinci yang terserang penyakit ini ditandai dengan dispnea, sesak napas jika pneumonia
atau abses, menodai dengan cakar depan, kelebihan air liur, pembengkakan wajah, penyumbatan
saluran air mata, menggaruk telinga, memiringkan kepala, anoreksia, depresi, rhinitis, sinusitis,
otitis, meningitis dan bronkho pneumonia.
F. Diagnosis
Jika diadakan pemeriksaan pascamati, ditemukan radang akut sampai kronik diselaput
lendir saluran pernapasan dan paru-paru. Biasanya lesi disertai rinitis, sinusitis,otitis, meningitis
dan bronkho pneumonia. Abses dapat ditemukan di tubuh kelinci terutama di kepala. Dalam
keadaan akut terjadi septisemia biasanya kelinci mati dalam waktu 48 jam. Pemeriksaan
pascamati pada bentuk akut tampak kongesti pembuluh darah sistim pernapasan, trakeaitis,
kelenjar pertahanan membesar dan pendarahan di bawah kulit.
G. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Bakteri P.multocida ini sangat menular sehingga kelinci yang terserang penyakit harus
dikarantinakan dan dipisahkan dari kelinci lain. Mengingat kondisi kesehatan yang serius yang
dapat hasil dari P. multocida,. Namun, itu lebih mungkin bahwa kelinci akan menderita sakit
kesehatan karena pola makan yang buruk dan stres. Mengoptimalkan kesehatan kelinci akan
memungkinkan tubuh nya untuk melawan patogen seperti P. multocida serta lebih cepat pulih
dari penyakit atau cedera.
Pencegahan dimulai dengan memberikan perawatan dasar yang tepat, termasuk diet yang
tepat; ruang hidup bersih. Menjaga kelinci agar tetap sehat akan mengurangi stres dan sistem
kekebalan tubuh yang lebih kuat. Berikut adalah beberapa metode untuk mendukung sistem
kekebalan tubuh kelinci antara lain
1. Feed diet tepat, termasuk jumlah terbatas kualitas rumput dan menyediakan air tawar.
2. Ruang hidup di daerah yang bebas dari konsep, suara keras, dan bahan kimia / parfum.
3. uap amonia dapat meningkatkan adanya bakteri P. multocida disekitar kandang, sehingga
kebersihan sekitar kandang harus selalu dijaga.
4. Cuci mangkuk air dan makanan sehari-hari.
5. Cuci tangan apabila hendak memegang kelinci sesering dengan sabun dan air untuk membantu
mencegah penyebaran bakteri.
6. Buka jendela bila memungkinkan untuk memungkinkan pertukaran udara dan untuk membantu
membersihkan suasana dalam ruangan polutan dan debu dari rumput. Pertimbangkan untuk
menggunakan alat pembersih udara.
7. Menjaga suhu ruangan yang dingin untuk mencegah panas stres atau kelelahan.
8. Lakukan check-up secara rutin, mencatat hal-hal seperti perubahan berat, gumpalan atau
benjolan, dan tanda-tanda infeksi. Ambil kelinci anda ke dokter hewan bila Anda mencurigai
adanya masalah kesehatan.
H. Pengobatan Penyakit
Pengobatan difokuskan pada gejala bersin dan demam. Hidrasi, gizi, kehangatan, dan
kebersihan (menjaga lubang hidung bersih) sangat penting. Antibiotik dan antimikroba akan
digunakan untuk menghilangkan infeksi bakteri, dan obat nyeri atau obat penenang ringan dapat
digunakan.
Jika kelinci mengalami kesulitan bernapas, humidifikasi lingkungan sering membantu
untuk mengeluarkan cairan dari hidung dan membuat kelinci itu lebih nyaman. Saline

nebulization (aplikasi dengan spray cairan) dapat membantu untuk humidifikasi dari hidung juga.
Perawatan harian mencakup pembilasan mata dan saluran hidung untuk menghapus bagianbagian dari materi yang mengering.
KESIMPULAN
Bakteri pasteurella multocida merupakan penyebab penyakit paseteurellosis. Gejala
yang timbul dari penyakit Pasteurellosis ditandai dengan dispnea, sinusitis, rhinitis dan menjalar
ke telinga sehingga menyebabkan otitis medio dan berpengaruh ke otak sehingga terjadinya
meningtis. Otitis medio menyebabkan kelinci mengalami torticollis. Diagnosis terhadap penyakit
pasteurellosis pasca mati ditemukan abses di kepala dan dalam keadaan akut kelinci dapat
mati.perlunya pengendalian serta pencegahan terhadap penyakit pasteurellosis dan dapat
dilakukan dengan cara menjaga kelinci agar tetap sehat dan mengkarantinakan kelinci. Selain itu
perlu diberikan obat agar kelinci dapat sembuh meskipun tidak bisa sembuh total.
DAFTAR PUSTAKA
Hagen. 1976. Domestic Rabbits : Diseases and parasities. Vetenarian. Western Region. Agricultural
Research Service. Department of Veterinary Phatology. Lowa State University Ames Lowa.
Harkness, J. E and J. E. Wagnes. 1983. The Biologi and Medicine of Rabbits and Rodents 2 nd Ed, Lea
and Febiger, Philadelphia.P.P 1-112.
Smith, J. B. Dan Mangkoewidjojo.1988. Pemeliharaan Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di
daerah Tropis. UI Press.
0
inShare
Subscribe to receive free email updates:

Related Posts :

PENYAKIT PASTEURELLOSIS PADA TERNAK KELINCI Pasteurella


adalah genus sekelompok bakteri yang termasuk dalam familia Brucellaceae (Brunner
dan gillepsie, 1973). Pemberian nama tersebut Read More...

PENYAKIT GONDOK PADA TERNAK Gondok terjadi kerena kurangnya


iodium, hingga untuk menghasilkan tirtoksin yang cukup, kelenjar gondok mendapatkan
pacuan terus menerus de Read More...

PENYAKIT DIARE NEONATAL PADA TERNAK RUMINANSIA Diare


neonatal adalah suatu penyakit yang akut atau subakut pada pedet yang baru lahir. Tandatandanya adalah diare hebat, dehidrasi yang d Read More...

Makalah Penyakit Parasit CaplakI.


PENDAHULUAN A.
Latar
belakang
Parasit adalah suatu organisme lebih kecil yang hidup menempel
pada tubu Read More...

Makalah Penyakit Flu Burung BAB I PENDAHULUAN Penyakit flu burung


atau flu unggas (Bird Flu, Avian Influenza) adalah suatu penyakit menular yang
disebabka Read More...

Newer Post Older Post Home

Popular Posts

Blog Archive

Like FB

PERBEDAAN BURUNG PUYUH JANTAN DAN BETINA


Burung puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang jauh, ukuran tubuh
relatif kecil, berkaki pendek, dan dapat diadu. Burung puyu...


ORGAN REPRODUKSI PADA SAPI JANTAN
Reproduksi merupakan proses penting bagi semua bentuk kehidupan. Tanpa melakukan
reproduksi, tak satu spesies pun didunia ini...

SPERMATOGENESIS (PROSES PEMBENTUKAN SPERMA)


Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel sperma yang terjadi di epitelum
( tubuli ) seminefri dibawah kontrol hormon gonadothropin ...

LAPORAN KIMIA IDENTIFIKASI ANION DAN KATION


Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur yang sudah tidak dapat dibagi lagi.
Sedangkan yang dimaksud dengan ion adalah at...

CARA MELAKUKAN INSEMINASI BUATAN PADA AYAM


Menurut Sastrodiharjo (1996) teknik IB pada ayam buras adalah suatu teknik
mengawinkan secara buatan dengan memasukkan semen yang telah die...
Copyright 2014 Ilmu Ternak
Powered by Blogger.com

Etiologi
Genus Pasteurella terdiri dari beberapa spesies, diantaranya P. multocida yang telah
diketahui zoonosis. Gram negatif, bentuk batang atau kokobasilus, aerobic, non motil.
Secara umum bakteri dapat diisolasi dari nasopharynx berbagai hewan termasuk manusia.