Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Pembangunan kesehatan adalah sebagai bagian dari pembangunan

nasional, dalam pembangunan kesehatan tujuan yang ingin dicapai adalah


meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Kenyataan yang
terjadi sampai saat ini derajat kesehatan masyarakat masih rendah khususnya
masyarakat miskin, hal ini dapat digambarkan bahwa angka kematian ibu dan
angka kematian bayi bagi masyarakat miskin tiga kali lebih tinggi dari masyarakat
tidak miskin. Salah satu penyebabnya adalah karena mahalnya biaya kesehatan
sehingga akses ke pelayanan kesehatan pada umumnya masih rendah. Derajat
kesehatan masyarakat miskin berdasarkan indikator Angka Kematian Bayi (AKB)
dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, masih cukup tinggi, yaitu AKB
sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup (Susenas, 2003) dan AKI sebesar 307 per
100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003).
Masayarakat adat masih disebut sebagai masyarakat terasing yang
membawa masalah sosial. Namun titik pandang melihat masalah sosialnya yang
berbeda. Mereka dianggap sebagai lapisan masyarakat paling bawah dalam strata
perkembangan masyarakat Ind. yang mempunyai masalah sosial dengan berbagai
ketertinggalan dalam pencapaian pemenuhan kebutuhan dasar hidup layaknya
manusia. Dengan keadaan ketertinggalan itu mereka sulit untuk mencapai standart
hidup manusia normal. Masalah sosial masyarakat terasing ini, juga dilihat dalam
koridor pemerataan hasil-hasil pembangunan dan azas keadilan untuk
mewujudkan kesejahteraan bersama.
Banyak faktor yang menyebabkan ketimpangan didalam pelayanan
kesehatan terutama yang terkait dengan biaya pelayanan kesehatan, ketimpangan
tersebut diantaranya diakibatkan perubahan pola penyakit, perkembangan
teknologi kesehatan dan kedokteran, pola pembiayaan kesehatan berbasis

pembayaran swadana (out of pocket). Biaya kesehatan yang mahal dengan pola
pembiayaan kesehatan berbasis pembayaran out of pocket semakin mempersulit
masyarakat untuk melakukan akses ke palayanan kesehatan.
Selama ini dari aspek pengaturan masalah kesehatan baru di atur dalam
tataran Undang-Undang dan peraturan yang ada dibawahnya, tetapi sejak
Amandemen UUD 1945 perubahan ke dua dalam Pasal 28H UndangUndang
Dasar Negara Republik Indonesia, yang menyatakan bahwa setiap orang berhak
hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan
hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Dalam
Amandemen UUD 1945 perubahan ke tiga Pasal 34 ayat (3) dinyatakan bahwa
Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan
fasilitas umum yang layak.
Untuk memenuhi dan mewujudkan hak bagi setiap warga negara dalam
mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan kewajiban pemerintah
penyediaan fasilitas kesehatan sebagai amanat UUD 1945 serta kesehatan adalah
merupakan kesehatan merupakan Public Good maka dibutuhkan intervensi dari
Pemerintah.
B.

Rumusan Masalah
1. Apa pengertian keluarga miskin dan masyarakat terasing ?
2. Bagaimana kriteria keluarga miskin dan masyarakat terasing ?
3. Bagaimana usaha pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan
pada keluarga miskin ?
4. Bagaimana pemberdayaan masyarakat terasing ?
5. Pengertian keluarga Bencana alam,(KLB) dan penanganannya
6. Pengertian Beban Ganda
7. Asuhan kebidanan komunitas pada keluarga di daerah konflik

C.

Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian keluarga miskin dan masyarakat terasing.
2. Untuk mengetahui kriteria keluarga miskin dan masyarakat terasing.
3. Untuk mengetahui usaha pemerintah dalam meningkatkan pelayanan
kesehatan pada keluarga miskin.
4. Untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat terasing.
5. Untuk mengetahui Pengertian keluarga Bencana alam,(KLB) dan untuk
mengetahui Penaganannya

6. Untuk mengetahui pengertian dari beban ganda


7. Untuk mengetahui Asuhan kebidanan komunitas pada keluarga di daerah
konflik.
D.

Manfaat

Dengan adanya makalah ini maka dapat memberikan manfaat serta pengetahuan
yang berguna bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa DIV Bidan Pendidik dalam
memahami tentang masalah-masalah yang ada di sekitar daerah dalam
pembelajaran kebidanan komunitas.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Keluarga Miskin dan Terasing
Keluarga miskin adalah seseorang atau kepala keluarga yang tidak mempunyai
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau orang yang mempunyai
sumber mata pencaharian akan tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok
keluarga yang layak bagi kemanusiaan.
Masyarakat terasing adalah kelompok orang/masyarakat yang hidup dalam
kesatuan-kesatuan kecil yang bersifat lokal dan terpencil dan masih sangat terikat
pada sumberdaya alam dan habitatnya yang secara sosial budaya terasing dan
terbelakang dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya sehingga
memerlukan pemberdayaan dalam menghadapi perubahan lingkungan dalam arti
luas.
B. Kriteria Keluarga Miskin dan Terasing
1. Keluarga miskin
Seorang

kepala

keluarga

usia

18-59

tahun. Penghasilan

rendah

atau

beradadibawah garis kemiskinan seperti tercermin dari tingkat pengeluaran


perbulan, yaitu Rp. 62.000,- untuk perkotaan, dan Rp. 50.090,- untuk pedesaan
(tahun 2000) per orang per bulan. Tingkat pendidikan pada umumnya rendah :
tidak tamat SLTP, tidak ada ketrampilan tambahan. Derajat kesehatan dan gizi
rendah. Tidak memiliki tempat tinggal yang layak huni, termasuk tidak memiliki
MCK. Pemilikan harta sangat terbatas jumlah atau nilainya. Hubungan sosial
terbatas, belum banyak terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Akses informasi
terbatas.
2. Keluarga terasing
a.
b.
c.
d.

Hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial yang bersifat lokal dan terpencil:


Berbentuk komunitas kecil, tertutup dan homogen.
Pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan.
Pada umumnya secara geografis terpencil dan relatif sulit dijangkau atau

terisolasi.
e. Kehidupan dan penghidupannya masih sangat sederhana:

f. Pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi subsistens (hanya


untuk kepentingan sendiri) belum untuk kepentingan pasar.
g. Peralatan dan tekhnologi sederhana, misalnya peralatan rumah tangga.
h. Ketergantungan pada lingkungan hidup dan sumberdaya alam setempat
relatif tinggi.
i. Terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi dan politik.
j. Secara sosial budaya terasing dan atau terbelakang.
C. Usaha Pemerintah Dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Pada Keluarga
Miskin
1. Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan, sejak
tahun 1998 Pemerintah melaksanakan berbagai upaya pemeliharaan kesehatan
penduduk miskin. Dimulai dengan pengembangan Program Jaring Pengaman
Sosial (JPS-BK) tahun 19982001, Program dampak Pengurangan Subsidi Energi
(PDPSE) tahun 2001 dan Program Kompensasi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM) Tahun 2002-2004.

Program-program tersebut diatas berbasis pada

provider kesehatan (supply oriented), dimana dana disalurkan langsung ke


Puskesmas dan Rumah Sakit. Provider kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit)
berfungsi ganda yaitu sebagai pemberi pelayanan kesehatan (PPK) dan juga
mengelola pembiayaan atas pelayanan kesehatan yang diberikan. Kondisi seperti
ini menimbulkan beberapa permasalahan antara lain terjadinya defisit di beberapa
Rumah Sakit dan sebaliknya dana yang berlebih di Puskesmas, juga menimbulkan
fungsi ganda pada PPK yang harus berperan sebagai Payer sekaligus Provider.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sangat miskin, miskin dan tidak
mampu dengan mana program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
mengacu pada prinsip-prinsip asuransi sosial, yaitu :
a. Dana amanat dan nirlaba dengan pemanfaatan untuk semata-mata
peningkatan derajat kesehatan masyarakat sangat miskin, miskin dan tidak
mampu.
b. Menyeluruh (komprehensif) sesuai dengan standar pelayanan medik yang
cost effective dan rasional.
c. Pelayanan terstruktur, berjenjang dengan Portabilitas dan ekuitas.

d. Transparan dan akuntabel.


Dengan pertimbangan pengendalian biaya pelayanan kesehatan, peningkatan
mutu, transparansi dan akuntabiltas, serta mengingat keterbatasan pendanaan,
dilakukan perubahan pengelolaan program Askeskin pada tahun 2008, dengan
memisahkan fungsi pengelolaan dengan fungsi pembayaraan dengan didukung
penempatan tenaga verifikator di setiap Rumah Sakit. Selain itu mulai di
berlakukannya Tarif Paket Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin di
Rumah Sakit dengan nama program berubah menjadi Jaminan Kesehatan
Masyarakat (jamkesmas). Peserta Jamkesmas telah dibagi dalam bentuk Kuota
disetiap Kabupaten/Kota berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2006.
kuota tersebut menimbulkan persoalan mengingat masih banyak masyarakat
miskin di Kabupaten/Kota yang tidak masuk/menjadi peserta Jamkesmas
sementara kebijakan Jamkemas adalah bagi masyarakat miskin diluar Kota yang
ditetapkan maka menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.
Peserta Program Jamkesmas adalah setiap orang miskin dan tidak mampu
selanjutnya disebut peserta Jamkesmas, sejumlah 76,4 juta jiwa bersumber dari
data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 yang dijadikan dasar penetapan
jumlah sasaran peserta secara Nasional oleh Menteri Kesehatan RI (Menkes)
sesuai SK Menkes Nomor 125/Menkes/SK/II/2008 yang telah ditetapkan nomor,
nama dan alamatnya melalui SK Bupati/Walikota tentang penetapan peserta
Jamkesmas serta gelandangan, pengemis, anak terlantar, masyarakat miskin yang
tidak memiliki identitas, pasien sakit jiwa kronis, penyakit kusta dan sasaran
Program Keluarga Harapan (PKH) yang belum menjadi peserta Jamkesmas.
Apabila masih terdapat masyarakat miskin yang tidak terdapat dalam kuota
Jamkesmas, pembiayaan kesehatannya menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah setempat dan mekanisme pengelolaannya mengikuti model Jamkesmas, hal
tersebut dimaksudkan agar semua masyarakat miskin terlindungi jaminan
kesehatan dan dimasa yang akan datang dapat dicapai universal coverage. Pada
tahun 2014 Pusat Jaminan dan Pembiayaan Kesehatan diharapkan sudah
terjadiuniversal coverage untuk itu strategi yang perlu dibangun dalam rangka
universal coverage adalah :

a. Peningkatan cakupan peserta Pemda (Pemda)


b. Peningkatan cakupan peserta pekerja formal (formal)
c. Peningkatan cakupan peserta pekerja informal (in-formal) Peningkatan
cakupan peserta individual (individu)
2.Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda)
Bagi Pemerintah Daerah yang mempunyai kemampuan keuangan, maka
masyarakat miskin diluar kuota Jamkesmas pelayanan kesehatannya di tanggung
oleh Pemerintah daerah yang penyelenggaraanya berbeda-beda. Pertanyaan yang
harus terjawab adalah Dapatkah uang yang disediakan Pemerintah Daerah
dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip asuransi sosial seperti Jamkesmas
dengan nama Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Untuk menjawab
pertanyaan tersebut dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut :
a. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
dalam Pasal 22 H dinyatakan bahwa daerah mempunyai kewajiban
mengembangkan sistem jaminan sosial. Dengan demikian maka
Pemerintah Daerah diwajibkan mengembangkan sistem jaminan sosial
yang didalamnya adalah termasuk jaminan kesehatan.
b. Keputusan Mahkamah Konsititusi dalam Judicial Review pada Pasal 5
Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 diputuskan bahwa : UndangUndang Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 5 ayat (1) tidak
bertentangan dengan UUD 1945 selama dimaksud oleh ketentuan tersebut
adalah pembentukan badan penyelenggara Jaminan Sosial Nasional tingkat
Nasional yang berada dipusat.
c. Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 5 ayat (3)
bertentangan dengan UUD 1945 karena materi yang terkandung
didalamnya telah tertampung dalam Pasal 52 yang apabila diertahankan
keberadaanya akan menimbulkan multitafsir dan ketidakpastian hukum.
d. Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 5 ayat (2)
walaupun tidak dimohonkan dalam potitum namun merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari ayat (3) sehingga jika
dipertahankan

keberadaanya

akan

menimbulkan

multitafsir

dan

ketidakpastian hukum. Menyatakan Undang-Undang Sistem Jaminan

Sosial Nasional Pasal 5 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) bertentangan
dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
e. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten Kota, dalam lampiran Peraturan
Pemerintah tersebut pada huruf B tentang pembagian urusan pemerintahan
Bidang Kesehatan dalam sub bidang pembiayaan kesehatan Pemerintahan
Daerah Provinsi mempunyai kewenangan melakukan :
1) Pengelolaan/penyelenggaraan, bimbingan, pengendalian jaminan
pemeliharaan kesehatan skala provinsi.
2) Bimbingan dan pengendalian penyelenggaraan jaminan kesehatan
nasional ( tugas perbantuan).
Sementara Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan
melakukan :
1) Pengelolaan/penyelenggaraan

Jaminan

Kesehatan sesuai dengan kondisi local.


2) Menyelenggarakan Jaminan Kesehatan

Pemeliharaan
Nasional

(tugas

perbantuan).
Sasaran target program pembangunannya diarahkan pada masyarakat terasing
yang ada di propinsi/daerah perbatasan, seperti Irian Jaya, Kaltim, Kalbar, Riau
dengan tetap memperhatikan daerah lain yang masih terdapat permasalahan
masyarakat terasing. Jadi memang berbeda pada masa Orde Baru, penekanan
lebih diarahkan pada daerah perbatasan bukan lagi penggolongan pada macam
masyarakatnya (kelana, setengah-kelana, dan menetap) tapi pada prioritas daerah.
Pertimbangannya mungkin karena selain jumlah masyarakat terasingnya dan
sebagai kestabilan sosial politik dan wilayah masyarakat sebab dekat dengan
wilayah perbatasan.
D.

Pemberdayaan masyarakat terasing

Pembangunan pada dasarnya adalah kemauan dan kesanggupan melakukan


perubahan yang direncanakan terhadap masalah-masalah atau masyarakat yang
dijadikan sasaran perubahan itu sendiri, baik dalam kaitannya dengan hal-hak

yang bersifat fisik maupun nonfisik, seperti social dan kebudayaan. Sifat dan hasil
yang dikehandaki pada setiap perubahan yang direncanakan itu adalah menuju
pada

perbaikan-perbaikan.Pembangunan

masyarakat

terpencil

hanya

dimungkinkan dapat berhasil kalau agen-agen yang melakukan perubahan itu


telah memahami lingkungan fisik, lingkungan sosial dan kebudayaan masyarakat
serta dengan karakter masyarakat.
Program pembangunannya masih menggunakan azas pembinaan, namun mereka
sudah menyisipkan konsep-konsep pemberdayaan dan partisipasi. Seperti nampak
dalam tujuan pembinaan mereka, yaitu Pembinaan Kesejahteraan Sosial
Masyarakat Terasing (PKMT) bertujuan memberdayakan masayarakat terasing
dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan agar mereka dapat berperan aktif
dalam pembangunan untuk memperkuat integrasi nasional dengan menggunakan
pendekatan

partisipatif

dan

memperhatikan

potensi

sosial

budaya

dan

lingkungannya. Jadi memang terlihat kesan bahwa masyarakat terasing ini oleh
pemerintah dianggap sebagai masyarakat yang punya potensi demi integrasi
bangsa tapi kurang berdaya sehingga perlu dibina oleh pemerintah untuk dapat
berperan aktif. Pemukiman tetap mendapatkan porsi perhatian yang besar dalam
mengukur tingkat keberhasilan program. Seperti yang tertulis di hasil pembinaan
dalam Data dan Informasi Pembinaan Masyarakat Terasing 1999/2000, yang
menyebutkan bahwa secara kualitas masayarakat terasing tersebut telah menetap
dan menjadi warga binaan dalam pemukiman sosial yang teratur dan telah
memanfaatkan sarana-sarana sosial yang ada. Berbedanya adalah sekarang ada
konsep pembinaannya yang mengarah pada pengembangan kemandirian
masayarakat terasing dalam memenuhi kebutuhan hidup pada berbagai aspek
kehidupan dan penghidupan agar mampu menanggapi perubahan sosial budaya.
Dengan demikian maka arah pola pembinaan pemukimannya juga berubah tidak
sepenuhnya top down lagi tapi mulai berusaha untuk mengakomodasi keinginanan
warga sebagai perwujudan konsep pemberdayaan dan kemandirian itu. Dan itu
nampak dalam strategi pembinaannya dengan pembagian Tipe Pemukiman Sosial
di Tempat Asal (TPA) dan Tipe Pemukiman Sosial di Tempat Baru (TPB. Dengan
pola-pola pembinaan ini, sepertinya pemerintah ingin untuk tidak memaksakan
masyarakat adat tersebut untuk pindah (resettlement) ke lokasi pemukiman lain.

10

Mereka bisa memilih jenis pemukimannya. Namun ini nampaknya masyarakat


tearsing disuruh untuk memilih pilihan-pilihan yang sudah ditentukan oleh
pemerintah. Jadi mereka juga tidak sepenuhnya mandiri dalam menentukan
pilihannya sendiri, tetap dalam koridor kebijakan pemerintah yaitu pemukiman.
Dalam kebijakan PKSMT tersebut juga mulai memperlihatkan bentuk pembinaan
masyarakat terasing yang diusahakan beragam dan melibatkan pihak-pihak lain,
tidak seperti masa sebelumnya yang sifatnya lebih tunggal yaitu resettlement.
Disebutkan ada 4 bentuk pembinaannya yaitu pemukiman ditempat asal (in-situ
development), Stimulus Pengembangan Masyarakat (SPM), pemukiman ditempat
baru (Ex situ development), kesepakatan dan rujukan.
Untuk program Stimulus Pengembangan Masyarakat (SPM), sebenarnya adalah
program pembinaan yang hampir sama dengan program pembinaan PKSMT yang
menitikberatkan pada bentuk pemukiman yang terpadu (tentunya bersama
prasarana dan infrastrukturnya) tapi SPM ini lebih cenderung untuk hanya
memberikan komponen-komponen tertentu saja yang berkaitan dengan sarana
sosial dan umum saja. Seperti misalnya pembibitan-hanya diberi benih dan
pelatihan, tidak diberi rumah pemukiman. Jadi SPM lebih menuntut kepada
tingkat swadaya masyarakat terasing yang tinggi. Diklaim oleh pihak Depsos
bahwa pendekatan ini sudah dilakukan di 8 lokasi pemukiman masyarakat
terasing. Namun yang menarik dari program ini, dari artikel yang ditulis oleh
Depsos sendiri ternyata pelaksanaannya juga di lokasi pemukiman masyarakat
terasing yang sudah dilakukan program pembinaan terlebih dahulu. Jadi seperti
program susulan/sampingan dari program-program yang sudah ada sebelumnya.
E.

Pengertian Keluarga bencana Alam (KLB)

Bencana alam adalah suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar
bagi populasi manusia. Peristiwa alam dapat berupa banjir,letusan gunung
berapi, gempa
es, gelombang

bumi, tsunami, tanah

longsor, badai

panas, hurikan, badai

salju,kekeringan, hujan

tropis, taifun,tornado, kebakaran

liar dan wabah penyakit. Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami.
Contohnya adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar

11

yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam. Dua jenis bencana
alam yang diakibatkan dari luar angkasa jarang mempengaruhi manusia,
seperti asteroid dan badai matahari.
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan
diIndonesia untuk

mengklasifikasikan

peristiwa

merebaknya

suatu wabahpenyakit. Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan
sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang
bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No.
451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa.
Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur :
1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak
dikenal
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat
atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.
F.

Penanganan keluarga Bencana Alam

Dalam pidatonya presiden pada tahun 2003 mengungkapkan pada bidang


kesehatan terutama pada daerah bencana alam Melanjutkan program darurat
pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin, rawan gizi, khususnya untuk
bayi, balita, ibu hamil dan ibu nifas dengan melibatkan partisipasi masyarakat
serta meningkatkan perlindungan hak dan kesehatan reproduksi kaum perempuan,
khususnya dalam rangka menurunkan angka kematian ibu.
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa

12

dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurangkurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) (Depkes, 2007).
1. Pos Kesehatan Desa
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang
dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan
dasar bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat
yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok Persalinan
Desa (Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain
(Depkes, 2007).
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa,
Poskesdes memiliki kegiatan:
a.Pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit
menular yang berpotensi menimbulkan
Kejadian Luar Biasa (KLB) dan faktor resikonya termasuk status gizi serta

b.

kesehatan ibu hamil yang beresiko.


c.Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang
berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi.
Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdarutan

d.

kesehatan.
e.Pelayanan medis dasar sesuai dengan kompetensinya.
f. Promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain-lain.
Dengan demikian Poskesdes diharapkan sebagai pusat pengembangan atau
revitalisasi berbagai UKBM yang ada di masyarakat desa. Dalam melaksanakan
kegiatan tersebut, Poskesdes harus didukung oleh sumber daya seperti tenaga
kesehatan (minimal seorang bidan) dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2
orang kader. Selain itu juga harus disediakan sarana fisik berupa bangunan,
perlengkapan dan peralatan kesehatan serta sarana komunikasi seperti telepon,
ponsel atau kurir.
Untuk sarana fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara/alternatif
yaitu mengembangkan Polindes yang telah ada menjadi Poskesdes, memanfaatkan

13

bangunan yang sudah ada misalnya Balai Warga/RW, Balai Desa dan lain-lain
serta membangun baru yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau
Daerah), donatur, dunia usaha, atau swadaya masyarakat.
G.

Pengertian Beban Ganda

Double

garden

atau

yang

biasanya

disebut

beban

ganda,

merujuk

kepadakenyataan bahwa perempuan cenderung bekerja lebih lama dan lebih


sedikitharinya dibandingkan laki-laki sebagaimana biasanya mereka terlibat
dalamtiga peran gender yang berbeda-reproduksi, produksi dan dan peran
dimasyarakat.
Beban ganda perempuan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender yang
tidak hanya terjadi di lapisasn sosial kelas atas dan menengah saja. Beban ganda
juga terjadi pada lapisan sosial kelas bawah, seperti dalam sebuah komunitas
marginal. Komunitas marginal merupakan sebuah bagian masyarakat yang
memiliki lokalitas di wilayah tertentu, memiliki batas-batas tertentu, memiliki
interaksi sosial yang lebih besar diantara para anggotanya bila dibandingkan
dengan anggota di luar kelompoknya, dan memiliki ciri yang sama.
Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan
permanen.Walaupun

sudah

ada

peningkatan

jumlah

perempuan

yang

bekerjadiwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka


diwilayah

domestic.

adalahmensubstitusikan

Upaya
pekerjaan

maksimal
tersebut

yang

dilakukan

kepada

mereka

perempuan

lain,

sepertipembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun


demikian,

tanggung

jawabnya

masih

tetap

berada

di

pundak

perempuan.Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.


Perempuan yang melakukan pekerjaan di luar rumah seperti bertani,berdagang,
membuat emping atau kesed juga tetap harus melakukan kerja-kerja reproduksi.
Sehingga dalam sehari semalam, sebagian besar waktuperempuan dicurahkan
untuk

keluarganya. Berbagai

observasi

menunjukkan

bahwa

perempuan

mengerjakan hampir90 persen dari pekerjaan dalam rumah tangga.Karena itu,

14

bagi perempuanyang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik,


mereka jugamasih harus mengerjakan pekerjaan domestic.
Berbagai bentuk diskriminasi merupakan hambatan untuk tercapainyakeadilan dan
kesetaraan gender atau kemitrasejajaran yang harmonis antaraperempuan dan lakilaki, karena dapat menimbulkan :
1.
2.
3.

Konflik
Stres pada salah satu pihak
Relasi gender yang kurang harmonis

Perempuan harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan,membersihkan


rumah dan dapur, mengasuh anak kemudian melakukan pekerjaannya sampai
tengah hari untuk istirahat sejenak.repotnya, keti kaistirahatpun perempuan masih
dibebani dengan pekerjaan di rumah; menyiapkan makan siang, mengasuh anak.
Setelah itu baru melanjutkan pekerjaannya sampai sore.Untuk kembali melakukan
pekerjaan reproduktif sampai malam. Di sela-sela waktu ini, beberapa perempuan
masih menyibukkan diri untuk mengerjakan pekerjaannya seperti membuat
kesed,mengupas kulit mlinjo, dan lainnya.
Bandingkan dengan laki-laki yang bangun paginya sedikit lebih siangitupun
hanya untuk menikmati minuman pagi dan sarapan, baru kemudian berangkat
kerja sampai tengah hari. Lalu istirahat dan makan siang,melanjutkan
pekerjaannya sampai sore, istirahat, makan dan bersantai sampaimelam hari. Di
malam hari, paling mereka melakukan aktivitas social seperti ngendong ke
tetangga, kumpulan RT, tahlilan dan lain-lain yangbiasanya hanya beberapa hari
sekali.Dari contoh di atas, sangat terlihat adanya beban ganda perempuan, disatu
sisi mereka harus mengerjakan pekerjaan reproduktif, di sisi lain, baik karena
aktualisasi diri atau tuntutan ekonomi mereka melakukan kerja-kerjaproduktif.
Tanpa adanya pembagian kerja-kerja reproduktif secara lebih seimbang.
Beban ganda yang dialami oleh perempuan sampai saat ini masih dianggap
sebagai kewajaran dalam masyarakat kita.Padahal beban ganda yang dialami oleh
perempuan adalah salah satu bentuk kekerasan domestik sebagai dampak dari
pembagian peran yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan.

15

Pada saat ini wanita telah mengalami kemajuan dalam berbagai hal.Fenomena
wanita bekerja bukan merupakan hal yang aneh lagi bagi masyarakat kita.Wanita
jaman sekarang bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum
pria.Dalam dunia politik pun tidak luput dari campur tangan wanita, bangsa
Indonesia pun pernah di pimpin oleh pemimpin wanita.Hal ini dapat
membuktikan bahwa wanita diberai kesempatan yang besar untuk menjalankan
kiprahnya didunia kerja.
Perlu dipahami bahwa fenomena wanita berperan ganda sebagai ibu tumah tangga
sekaligus bekerja diluar rumah, dan juga sebagai pemimpin wanita sebenarnya
sudah ada sejak dulu. Pada awal abad 19, di luar negeri wanita yang sebelumnya
berfungsi sebagai pekeraja terampil pada usaha-usaha rumah tangga yang
memproduksi sampai memasarkan mulai beralih.
Dampak dari revolusi industri membuat wanita banyak berpaling untuk
melakukan pekerjaan di luar rumah untuk menghidupi dan menambah
penghasilan keluarga.
Menurut

data

statistik

Departemen

Tenaga

Kerja

dan

Transmigrasi

(Depnakertrans) tahun 2003 2005. Pada tahun 2003 angkatan kerja wanita
mencapai 35,479,000 atau 35.36% dari angkatan kerja keseluruhan, 25.55% dari
35 juta tersebut merupakan pekerja di sektor publik. Tahun 2004 angkatan kerja
wanita naik menjadi 38,046,000 atau 34.66 % dari angkatan kerja keseluruhan,
27.58 % bekerja di sektor publik. Tahun 2005 juga mencatat kenaikan angkatan
kerja wanita yang mencapai 39,580,488 atau 37.40 % dari angkatan kerja
keseluruhan, 26.98% dari angka tersebut merupakan pekerja sektor public.
Bekerja bagi setiap wanita adalah sebuah pilihan.Gerson (1985, dalam
Nainggolan, dkk, 1996:78) menyatakan bahwa keputusan wanita untuk bekerja
dipengaruhi oleh faktor yang sifatnya komulatif, interaktif dan terus berkembang
dipengaruhi baik secara langsung atau tidak dari masyarakat, keluarga dan diri
sendiri sehubungan dengan harapan-harapan tertentu terhadap peran wanita yang
sekaligus ibu.

16

Keputusan untuk mengambil dua peran berbeda yaitu di rumah tangga dan di
tempat kerja tentu diikuti dengan tuntutan dari dalam diri sendiri dan masyarakat.
Tuntutan dari diri sendiri dan sosial ini menyerukan hal yang sama yaitu
keberhasilan dalam dua peranan tersebut. Idealnya memang setiap wanita bisa
menjalani semua peran dengan baik dan sempurna, namun ini bukanlah hal
mudah.
Banyak wanita berperan ganda mengakui bahwa secara operasional sulit untuk
membagi waktu bagi urusan rumah tangga dan urusan kantor (Izzaty, 1999).
Dalam Hurlock (1992) bahwa wanita tidak menyukai kalau harus melaksanakan
beban tugas ganda, satu tugas dalam dunia perkantoran dan satu lagi tugas rumah
tangga.Wanita merasa bersalah karena menolak tugas rumah tangga, contohnya
dari sekian banyak tugas rumah tangga hanya tugas merawat anak yang dapat
dilakukan atau bahkan tugas ini dilakukan oleh baby sitter.Akibatnya bagi wanita
pekerja, maka kehidupan rumah tangga mereka merasa tidak memuaskan.
Satu dampak dari keterlibatan wanita dalam angkatan kerja adalah terjadinya
konflik antara kebutuhan untuk pengembangan diri dalam karir dengan nilai-nilai
tradisional yang melekat pada wanita.

Hubungan antara pekerjaan dan keluarga

adalah dua arah (bidirectional), yaitu ranah pekerjaan dapat mencampuri ranah
keluarga (work to family conflict), dan ranah keluarga dapat mencampuri ranah
pekerjaan (family to work conflict)(Adams dkk, 1996).
Konflik seringkali terjadi karena tugas rumah tangga sering datang seiring dengan
tugasnya sebagai karyawan dan keduanya memerlukan perhatian yang sama besar,
waktu dan energi dibutuhkan untuk mencapai pemenuhan peran yang optimal.
Konflik antara ranah pekerjaan dan keluarga hadir pada saat individu harus
menampilkan multi peran: pekerja, pasangan, dan orang tua (Senecal dkk., 2001).
Bimbaum melaporkan bahwa satu dari enam wanita professional di Amerika
mengalami konflik dalam mengkombinasikan karir dan rumah tangga (Arinta &
Azwar, 1993).
Pekerjaan dan keluarga dapat menjadi stressful, stress dalam menghadapi peran
gandanya tersebut.Apalagi jika pekerjaan dan keluarganya memberi tekanan

17

dalam waktu yang bersamaan.Sebagai ibu yang memiliki anak, maka kewajibanya
untuk mengawasi tumbuh kembang si anak tersebu. Pada sisi lain dia juga harus
memikirkan tanggung jawab yang lain, yaitu tanggung jawab sebagai seorang
pemimpin pada suatu perusahaan yang juga memerlukan perhatian lebih agar
perusahaan yang dipimpin tetap berada pada jalurnya.
Konflik yang terjadi pada peran di pekerjaan dan peran di keluarga menimbulkan
efek-efek negatif. Konflik pekerjaan keluarga (work family conflict) oleh para
ahli selalu dikaitkan dengan sumber stress yang mempengaruhi segi fisik dan
psikologis (Adams dkk.,1996). Frone, Russel, & Barnes (Major dkk, 2002)
menyatakan bahwa konflik antara pekerjaan ke keluarga (work to family
conflict) mempunyai hubungan dengan depresi dan keluhan somatic. Konflik
yang

berkepanjangan.Tidak

saja

dapat

menurunkan

kinerja,

Tetapi

bisamenimbulkan stres.Stres terjadi karena konflik yang berkepanjangan


menimbulkan ketidakseimbangan fisik dan psikis, sebagai bentuk reaksi terhadap
tekanan yang intensitasnya sudah terlalu tinggi.
Dampak yang ditimbulkan oleh konflik salah satunya adalahstress.Stress bukan
hanya bersifat personal, stress juga dapat terjadi di lingkungan kerja. Menurut
Selye (dalam Beehr, et al., 1992), pengertian daristress kerja adalah respon
seorang individu terhadap stresor di tempat kerja.Stres sebagai reaksi organisme,
yang dapat berupa reaksi fisiologis, psikologis, atau perilaku. Berdasarkan definisi
di atas, stress kerja dapat diartikan respon individu terhadap sumber
atau stresor, dimana stresor yang dimaksud adalah segala kondisi pekerjaan yang
dipersepsikan

karyawan

sebagai

suatu

tuntutan

dan

dapat

menimbulkan stress kerja yang dapat memunculkan reaksi individu berupa reaksi
fisiologis, psikologis, dan perilaku.
Menurut Stephen Palmer & Cary Cooper (2007), mengemukakan bahwa respon
terhadap stres dapat ditampilkan dalam 3 bentuk, yaitu bentuk fisik, perilaku dan
psikologis.Gejala yang ditimsbulkan dalam bentuk fisik, antara lain, mulut kering,
tangan lembab, sesak nafas, migrain, diare, asma bahkan sampai pingsan. Gejala
yang ditampilkan dalam bentuk perilaku, antara lain perilaku agresif,
meningkatkan konsumsi alkohol, menunda-nunda pekerjaan, perilaku pasif,

18

perubahan pola tidur, menurunnya performa kerja, meningkatkan absensi,


meningkatkan konsumsi kafein, manajemen waktu yang jelek. Sedangkan gejala
psikologis ditampilkan antara lain dalam bentuk marah, gelisah, ketakutan, cemas,
rasa malu, turunnya harga diri, keinginan bunuh diri, pikiran paranoid, mimpi
buruk, depresi, kecemburuan, tidak dapat berkonsentrasi, sering melamun. Gejalagejala yang ditimbulkan oleh stress tersebut dapat mempengaruhi kinerja
karyawan saat bekerja, dan terganggunya kinerja karyawan tersebut bisa
memberikan kerugian bagi perusahaan
Konflik-konflik yang dihadapi oleh wanita yang berperan ganda memerlukan
pemecahan sebagai upaya untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap
masalah dan tekanan yang menimpa mereka. Konsep untuk memecahkan
permasalahan
menyeimbangkan

ini

disebut
emosi

dengan coping. Coping dilakukan

individu

dalam

situasi

yang

untuk
penuh

tekanan.Coping merupakan reaksi terhadap tekanan yang berfungsi memecahkan,


mengurangi dan menggantikan kondisi yang penuh tekanan (Hapsari, dkk, 2002).
Akan tetapi individu akan memberikan reaksi yang berbeda-beda dalam mengatasi
stress, tergantung pada pengalaman dan persepsi individu tentang stress.
Umumnya, coping terjadi secara otomatis, begitu individu merasakan adanya
situasi yang menekan atau mengancam, maka individu dituntut untuk sesegera
mungkin mengatasi ketegangan yang dialaminya. Tetapi dari pengalamannya ini,
individu

akan

melakukan

evaluasi

untuk

seterusnya

memutuskan

strategi coping apa yang seharusnya ditampilkan (Rustiana, 2003).


Menurut Lazarus dan Folkman menyatakan bahwa strategi copingyang
merupakan respon individu terhadap tekanan yang dihadapi secara garis besar
dibedakan

atas

dua

fungsi

utama

yaitu: ProblemFocused

Coping (PFC)

dan Emotional Focused Coping (EFC). PFC atau yang biasa disebut strategi
menghadapi masalah yang berorientasi pada masalah merupakan usaha yang
dilakukan oleh individu dengan cara menghadapi secara langsung sumber
penyebab konflik. EFC atau yang biasa disebut strategi menghadapi masalah yang
berorientasi pada emosi merupakan perilaku yang diarahkan pada usaha untuk

19

menghadapi tekanan-tekanan emosi atau stress yang ditimbulkan oleh masalah


yang dihadapi. (Folkman, S. Lazarus R.S. 1988)
H.

Asuhan kebidanan komunitas pada masyarakat daerah konflik

Pelayanan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, belum diberikan secara optimal


dan merata, terutama yang berkaitan dengan perlindungan hak dan kesehatan
reproduksi perempuan, penanganan krisis gizi, dan berjangkitnya penyakit
menular, terutama di daerah pengungsian, daerah konflik, dan daerah yang
mengalami bencana alam. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam menanggulangi
daerah

konflik,(Rekomendasi

Presiden

RI

tahun

2003).Dalam

rangka

menanggulangi masalah kesehatan di daerah konflik dan pengungsian, Pemerintah


dalam hal ini Departemen Kesehatan bersama-sama dengan Pemerintah Daerah
setempat, telah melaksanakan berbagai upaya penanganan melalui serangkaian
kegiatan

pelayanan

kesehatan,

baik

yang

bersifat

tanggap

darurat/emergency maupun pemulihan/ rehabilitatif pasca konflik sesuai dengan


kondisi dan kebutuhan setempat. Upaya pelayanan kesehatan tersebut
dilaksanakan secara bersama oleh tenaga kesehatan gabungan baik dari pusat
maupun dari daerah setempat seperti dari puskesmas dan jaringannya, rumah
sakit, serta jajaran tenaga kesehatan setempat lainnya. Jenis pelayanan yang
diberikan mencakup pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, termasuk pelayanan
kesehatan jiwa dan psikososial, upaya perbaikan gizi, dan penyediaan air bersih
dan sanitasi.
Khusus mengenai penanggulangan masalah kesehatan jiwa dan psikososial
terhadap pengungsi akibat konflik antara lain telah dilaksanakan di Poso,
Sulawesi Tengah, di Kupang Nusa Tenggara Timur (pengungsi Eks-Timor
Timur), dan Provinsi NAD. Kegiatan utama penanggulangan masalah kesehatan
jiwa dan psikososial diantaranya adalah pemberian pelayanan kesehatan melalui
konseling di lapangan yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan terlatih.

20

BAB III
PENUTUP

A.

KESIMPULAN

Pembangunan kesehatan adalah sebagai bagian dari pembangunan nasional, dalam


pembangunan kesehatan tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang optimal. Kenyataan yang terjadi sampai saat ini

21

derajat kesehatan masyarakat masih rendah khususnya masyarakat miskin, hal ini
dapat digambarkan bahwa angka kematian ibu dan angka kematian bayi bagi
masyarakat miskin tiga kali lebih tinggi dari masyarakat tidak miskin.
Dan dari makalah diatas kita dapat mengambil manfaat,tentang bagaimana asuhan
kebidanan komunitas keluarga miskin,terasing,keluaga bencana alam(KLB) dan
daerah konflik,dimana peran bidan dalam masyarakat dalam kondisi tersebut
sangat dibutuhkan.

B.

SARAN

Bagi mahasiswa DIV bidan pendidik,agar lebih kiranya untuk dapat


memahami materi di atas dan dapat dijalankan dilapangan kelak, serta dapat pula
diajarkan pada mahasiswa yang diajarkan nantinya. Pada pihak pemerintah,dapat
terus memperbaiki kebijakannya dalam bidang kesehatan terutama dalam bidang
kesehatan

DAFTAR PUSTAKA
Fatma,

2009.

Prioritas

Tema

untuk

Advokasi. http://www.rafpakistan.org di akses pada tanggal 22 Februari 2012.


Fadhila,

2009.

Kebidanan

komunitas. http://bidandhila.blogspot.com/2009/05kebidanan-komunitas.html di
akses pada tanggal 22 Februari 2012

22

Rosamiani, 2010. Upaya Promosi Kesehatan Berdasarkan Strategi


Global Dan Strategihttp://kebidanankomunitas.blogspot.com/2010/01/upayapromosi-kesehatan-berdasarkan_03.html di akses pada tanggal 22 Februari 2012