Anda di halaman 1dari 10

Biodiesel

Biodiesel merupakan biofuel yang paling umum di Eropa. Biodiesel diproduksi


dari minyak atau lemak menggunakan transesterifikasi dan merupakan cairan
yang komposisinya mirip dengan diesel mineral. Nama kimianya adalah methyl
asam lemak (atau ethyl) ester (FAME). Minyak dicampur dengan sodium
hidroksida dan methanol (atau ethanol_ dan reaksi kimia menghasilkan biodiesel
(FAME) dan glycerol. 1 bagian glycerol dihasilkan untuk setiap 10 bagian
biodiesel.

Biodiesel dapat digunakan di setiapa mesin diesel kalau dicampur dengan diesel
mineral. Di beberapa negara produsen memberikan garansi untuk penggunaan
100% biodiesel. Kebanyakan produsen kendaraan membatasi rekomendasi
mereka untuk penggunaan biodiesel sebanyak 15% yang dicampur dengan
diesel mineral. Di kebanyakan negara Eropa, campuran biodiesel 5% banyak
digunakan luas dan tersedia di banyak stasiun bahan bakar.[8][9]

Di AS, lebih dari 80% truk komersial dan bis kota beroperasi menggunakan
diesel. Oleh karena itu penggunaan biodiesel AS bertumbuh cepat dari sekitar 25
juta galon per tahun pada 2004 menjadi 78 juta galon pada awal 2005. Pada
akhir 2006, produksi biodiesel diperkirakan meningkat empat kali lipat menjadi 1
milyar galon.

Bahan Bakar Cair


2.3. Bahan Bakar Cair
Bahan bakar cair seperti minyak tungku/ furnace oil dan LSHS (low sulphur heavy
stock) terutama digunakan dalam penggunaan industri. Berbagai sifat bahan bakar cair
diberikan dibawah ini.
2.3.1 Densitas
Densitas didefinisikan sebagai perbandingan massa bahan bakar terhadap volume
bahan bakar pada suhu acuan 15C. Densitas diukur dengan suatu alat yang disebut
hydrometer. Pengetahuan mengenai densitas ini berguna untuk penghitungan kuantitatif dan
pengkajian kualitas penyalaan. Satuan densitas adalah kg/m3.
2.3.2 Viskositas
Viskositas suatu fluida merupakan ukuran resistansi bahan terhadap aliran. Viskositas
tergantung pada suhu dan berkurang dengan naiknya suhu. Viskositas diukur dengan Stokes

atau Centistokes. Kadang-kadang viskositas juga diukur dalam Engler, Saybolt atau
Redwood. Tiap jenis minyak bakar memiliki hubungan suhu viskositas tersendiri.
Pengukuran viskositas dilakukan dengan suatu alat yang disebut Viskometer. Viskositas
merupakan sifat yang sangat penting dalam penyimpanan dan penggunaan bahan bakar
minyak. Viskositas mempengaruhi derajat pemanasan awal yang diperlukan untuk handling,
penyimpanan dan atomisasi yang memuaskan. Jika minyak terlalu kental,maka akan
menyulitkan dalam pemompaan, sulit untuk menyalakan burner, dan sulit dialirkan.
Atomisasi yang jelek akam mengakibatkan terjadinya pembentukan endapan karbon pada
ujung burner atau pada dinding-dinding. Oleh karena itu pemanasan awal penting untuk
atomisasi

yang

tepat.

Membaca Selengkapnya ....


2.3.3 Specific Gravity
Didefinisikan sebagai perbandingan berat dari sejumlah volum minyak bakar terhadap
berat air untuk volum yang sama pada suhu tertentu. Densitas bahan bakar, relatif terhadap
air, disebut specific gravity. Specific gravity air ditentukan sama dengan 1. Karena specific
gravity adalah perbandingan, maka tidak memiliki satuan. Pengukuran specific gravity
biasanya dilakukan dengan hydrometer. Specific gravity digunakan dalam penghitungan yang
melibatkan berat dan volum. Specific gravity untuk berbagai bahan bakar minyak diberikan
dalam tabel dibawah :
Tabel 7. Specific gravity berbagai bahan bakar minyak (diambil dari Thermax India Ltd.)
Bahan Bakar
Minyak
Specific Gravity

L.D.O
(Minyak Diesel
Ringan)
0,85 - 0,87

Minyak Tungku/
Furnace Oil
0,89 - 0,95

L.S.H.S
(Low Sulphur
Heavy Stock)
0,88 - 0,98

2.3.4 Titik Nyala


Titik nyala suatu bahan bakar adalah suhu terendah dimana bahan bakar dapat
dipanaskan sehingga uap mengeluarkan nyala sebentar bila dilewatkan suatu nyala api. Titik
nyala untuk minyak tungku/ furnace oil adalah 66 C.
2.3.5 Titik Tuang
Titik tuang suatu bahan bakar adalah suhu terendah dimana bahan bakar akan tertuang
atau mengalir bila didinginkan dibawah kondisi yang sudah ditentukan. Ini merupakan
indikasi yang sangat kasar untuk suhu terendah dimana bahan bakar minyak siap untuk
dipompakan.

2.3.6 Panas Jenis


Satuan panas jenis adalah kkal/kgC. Besarnya bervariasi mulai dari 0,22 hingga 0,28
tergantung pada specific gravity minyak. Panas jenis menentukan berapa banyak steam atau
energi listrik yang digunakan untuk memanaskan minyak ke suhu yang dikehendaki. Minyak
ringan memiliki panas jenis yang rendah, sedangkan minyak yang lebih berat memiliki panas
jenis yang lebih tinggi.
2.3.7 Nilai Kalor
Nilai kalor merupakan ukuran panas atau energi yang dihasilkan., dan diukur sebagai
nilai kalor kotor/ gross calorific value atau nilai kalor netto/ nett calorific value.
Perbedaannya ditentukan oleh panas laten kondensasi dari uap air yang dihasilkan selama
proses pembakaran. Nilai kalor kotor/. gross calorific value (GCV) mengasumsikan seluruh
uap yang dihasilkan selama proses pembakaran sepenuhnya terembunkan/terkondensasikan.
Nilai kalor netto (NCV) mengasumsikan air yang keluar dengan produk pengembunan tidak
seluruhnya terembunkan. Bahan bakar harus dibandingkan berdasarkan nilai kalor netto.
Nilai kalor batubara bervariasi tergantung pada kadar abu, kadar air dan jenis batu baranya
sementara nilai kalor bahan bakar minyak lebih konsisten. GCV untuk beberapa jenis bahan
bakar cair yang umum digunakan terlihat dibawah ini :
Tabel 8. Nilai kalor kotor
Thermax India Ltd)
Bahan bakar minyak
Minyak Tanah
Minyak Diesel
L.D.O
Minyak Tungku/Furnace
LSHS
2.3.8 Kadar Abu

(GCV) untuk beberapa bahan bakar minyak (diambil dari


Nilai Kalor kotor (GCV) (kKal/kg)
- 11.100
- 10.800
- 10.700
- 10.500
- 10.600

Kadar abu erat kaitannya dengan bahan inorganik atau garam dalam bahan bakar
minyak. Kadar abu pada distilat bahan bakar diabaikan. Residu bahan bakar memiliki kadar
abu yang tinggi. Garam-garam tersebut mungkin dalam bentuk senyawa sodium, vanadium,
kalsium, magnesium, silikon, besi, alumunium, nikel, dll. Umumnya, kadar abu berada pada
kisaran 0,03 0,07 %. Abu yang berlebihan dalam bahan bakar cair dapat menyebabkan
pengendapan kotoran pada peralatan pembakaran. Abu memiliki pengaruh erosi pada ujung
burner, menyebabkan kerusakan pada refraktori pada suhu tinggi dapat meningkatkan korosi
suhu tinggi dan penyumbatan peralatan.
2.3.9 Kadar Air

Kadar air minyak tungku/furnace pada saat pemasokan umumnya sangat rendah sebab
produk disuling dalam kondisi panas. Batas maksimum 1% ditentukan sebagai standar. Air
dapat berada dalam bentuk bebas atau emulsi dan dapat menyebabkan kerusakan dibagian
dalam permukaan tungku selama pembakaran terutama jika mengandung garam terlarut. Air
juga dapat menyebabkan percikan nyala api di ujung burner, yang dapat mematikan nyala
api, menurunkan suhu nyala api atau memperlama penyalaan. Spesifikasi khusus bahan bakar
minyak terlihat pada tabel dibawah.
Bahan Bakar Minyak
Karakteristik
Minyak
L.S.H.S
L.D.O
Furnace
Masa Jenis (g/cc pada 150C)
0,89 - 0,95
0,88 - 0,98
0,85 - 0,87
Titik Nyala (0C)
66
93
66
Titik Tuang (0C)
20
72
18
G.C.V. (kKal/kg)
10.500
10.600
10.700
Endapan, % Berat, Max.
0,25
0,25
0,1
Total Sulfur, % Berat, Max.
Sampai 4,0
Sampai 0,5
Sampai 1,8
Kadar Air, % Vol. Max.
1,0
1,0
0,25
% Abu, Berat Max.
0,1
0,1
0,02
Tabel 9. Spesifikasi khusus bahan bakar minyak (diambil dari Thermax India Ltd.)
2.3.10 Sulfur
Jumlah sulfur dalam bahan bakar minyak sangat tergantung pada sumber minyak
mentah dan pada proses penyulingannya. Kandungan normal sulfur untuk residu bahan bakar
minyak (minyak furnace) berada pada 2 - 4 %. Kandungan sulfur untuk berbagai bahan bakar
minyak ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 10. Persentase sulfur untuk berbagai bahan bakar minyak (diambil dari Thermax
India Ltd.)
Bahan bakar minyak
Persen sulfur
Minyak Tanah
0,05 0,2
Minyak Diesel
0,05 0,25
L.D.O
0,5 1,8
Minyak Furnace
2,0 4,0
LSHS
< 0,5
Kerugian utama dari adanya sulfur adalah resiko korosi oleh asam sulfat yang terbentuk
selama dan sesudah pembakaran, dan pengembunan di cerobong asap, pemanas awal udara
dan economizer.
2.3.11 Residu Karbon
Residu karbon memberikan kecenderungan pengendapan residu padat karbon pada
permukaan panas, seperti burner atau injeksi nosel, bila kandungan yang mudah menguap.
Residu minyak mengandung residu karbon 1 persen atau lebih.

2.3.12 Penyimpanan Bahan Bakar Minyak


Akan sangat berbahaya bila menyimpan minyak bakar dalam tong. Cara yang lebih
baik adalah menyimpannya dalam tangki silinder, diatas maupun dibawah tanah. Minyak
bakar yang dikirim umumnya masih mengandung debu, air dan bahan pencemar lainnya.
Ukuran tangki penyimpan minyak bakar sangatlah penting. Perkiraan ukuran penyimpan
yang direkomendasikan sedikitnya untuk 10 hari konsumsi normal. Tangki penyimpan bahan
bakar untuk industri pada umumnya digunakan tangki mild steel tegak yang diletakkan diatas
tanah. Untuk alasan keamanan dan lingkungan, perlu dibuat dinding disekitar tangki
penyimpan untuk menahan aliran bahan bakar jika terjadi kebocoran. Pengendapan sejumlah
padatan dan lumpur akan terjadi pada tangki dari waktu ke waktu, tangki harus dibersihkan
secara berkala: setiap tahun untuk bahan bakar berat dan setiap dua tahun untuk bahan bakar
ringan. Pada saat bahan bakar dialirkan dari kapal tanker ke tangki penyimpan, harus dijaga
dari terjadinya kebocoran-kebocoran pada sambungan, flens dan pipa-pipa. Bahan bakar
minyak harus bebas dari pencemar seperti debu, lumpur dan air sebelum diumpankan ke
sistim pembakaran.
2.3.13 Berbagai Bahan Bakar Cair dan Pemanfaatan dalam Dunia Teknik
1. Bensin atau Gasolin atau Premium
Bensin disebut juga dengan kata lain Petrol atau Gasoline yaitu campuran berbagai
hidrokarbon yang diperoleh melalui proses destilasi/pengilangan dari minyak mentah (Crude
Oil). Kwalitet dari bensin dinyatakan dengan angka oktannya (Octane Number). Premium
adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Warna kuning
tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan (dye). Penggunaan premium pada umumnya
adalah untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti : mobil, sepeda
motor, motor tempel dan lain-lain. Bahan bakar ini sering juga disebut motor gasoline atau
petrol. Gasolin dibuat menurut kebutuhan mesin, seperti avgas (aviation gasoline), premium
dan gasolin biasa, terdiri dari C4 sampai C12. Sifat yang terpenting pada gasolin adalah angka
oktana. Angka oktana adalah angka yang menyatakan besarnya kadar isooktana dalam
campurannya dengan normal heptana. Isooktana mempunyai angka oktana = 100, sedang normal heptana mempunyai angka oktana = 0. Makin tinggi angka oktana gasolin semakin
baik unjuk kerjanya.
2. Kerosen
Termasuk kerosen adalah:
Bahan bakar turbin gas pada pesawat terbang.

Minyak bakar, biasa dipakai untuk dapur rumah tangga, bahan bakar kapal laut, dan
penerangan lampu kereta api di masa lalu.
Mutu kerosen tergantung pada sifatnya dalam uji lampu (lamp test) dan uji bakar, seperti
timbulnya asap dan kabut putih. Asap disebabkan oleh hidrokarbon aromatik sedang kabut
putih oleh disulfida.
3. Minyak Pelumas
Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda
bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang
memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak
dasar dan 10% zat tambahan. Salah satu penggunaan pelumas paling utama adalah oli mesin
yang dipakai pada mesin pembakaran dalam. Kegunaan minyak pelumas diantaranya
mencegah karat dan mengurangi gesekan.
4. Bahan Bakar Diesel
Bahan bakar diesel atau minyak diesel dipakai untuk mengoperasikan mesin diesel atau
compression ignition engine. Mutunya ditentukan oleh angka cetana. Makin tinggi angka
cetana, makin tinggi unjuk kerja yang diberikan oleh bahan bakar diesel. Angka cetana adalah
besarnya kadar volume cetana dalam campurannya dengan metilnaphtalen. Cetan murni
mempunyai angka cetana = 100, sedang aromatik mempunyai angka cetana = 0. Unjuk kerja
adalah persentase rata-rata daya yang dapat diperoleh dari mesin dengan bahan bakar tertentu
dibandingkan dengan daya yang diperoleh dari bahan bakar yang mempunyai angka cetana =
100.
5. Minyak Residu
Minyak residu biasa digunakan pada ketel uap, baik yang stasioner maupun yang bergerak.
Dalam hal instalasinya, pemakaian minyak residu dalam ketel uap akan lebih murah
dibanding batubara. Disamping itu, pemakaian minyak residu tidak menimbulkan masalah
abu. Akan tetapi pada ketel uap tekanan tinggi dan suhu tinggi dapat menimbulkan korosi dan
kerusakan pada superheater tube. Pemakaian minyak residu kecuali dalam ketel uap antara
lain: Tanur dalam industri baja, tanur tinggi dalam industri semen dan industri lain yang
mempunyai kaitan dengan semen, serta berbagai dapur dalam industri petroleum dan industri
kimia.
6. Biodiesel
Biodiesel dari Minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit dan jarak pagar. Digunakan untuk
pengganti solar. Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl
ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari

mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan.
Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak dasar menjadi
ester yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas. Setelah melewati proses ini, tidak
seperti minyak sayur langsung, biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel
(solar) dari minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam banyak kasus. Namun, dia lebih
sering digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum, meningkatkan bahan bakar
diesel petrol murni ultra rendah belerang yang rendah pelumas.
7. Bioetanol
Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku
nabati. Bioetanol dari tanaman yang mengandung pati / gula, seperti sagu, singkong, tebu dan
sogum. Digunakan untuk pengganti bensin. Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari
proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme.
Proses pembuatan bioetanol dibedakan menjadi tiga berdasarkan bahan bakunya yaitu bahan
baku sumber gula, pati dan serat. Proses pembuatan bioetanol meliputi aspek fermentasi dan
destilasinya.
8. Biooil
Biooil dari minyak nabati (straight vagetable oil) dan Biomass melalui proses pirolisa.
Digunakan untuk pengganti minyak tanah.
9. Biogas
Biogas dari limbah cair dan limbah kotoran ternak. Digunakan untuk pengganti minyak
tanah. Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahanbahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah
tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi
anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida. Biogas dapat
digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik.
Menurut karakteristik bahan bakar cair/ciri-ciri bahan bakar cair:
a. Bensin (gasolin)
Pengertian : Campuran cairan yang berasal dari minyak bumi.
Penyusunnya : Hidrokarbon
Warna : Kuning bening (cairan)
Berat jenis : 0,71 0,77 (719,7 kg/m3)
b. Kerosin (minyak tanah)
Pengertian : Keros Yunani: lilin, di Swiss sebagai minyak tanah.
Jarak lebur : -61 oC (-26 oC)

Suhu pengapian : 220 oC


Suhu pembakaran : 600 oC
c.Diesel
Pengertian : Produk akhir yang digunakan sebagai bahan bakar.
Nama lain : Solar
Diciptakan oleh : Rudolf Diesel
Digunakan untuk : mesin diesel.
Berdasarkan definisi yang dikeluarkan oleh BPHMIGAS
1. Avgas ( Aviation Gasoline)
Bahan Bakar Minyak ini merupakan BBM jenis khusus yang dihasilkan dari fraksi minyak
bumi. Avgas didisain untuk bahan bakar pesawat udara dengan tipe mesin sistem pembakaran
dalam (internal combution), mesin piston dengan sistem pengapian. Performa BBM ini
ditentukan dengan nilai octane number antara nilai dibawah 100 dan juga diatas nilai 100 .
Nilai octane jenis Avgas yang beredar di Indonesia memiliki nilai 100/130.
2. Avtur (Aviation Turbine)
Bahan Bakar Minyak ini merupakan BBM jenis khusus yang dihasilkan dari fraksi minyak
bumi. Avtur didisain untuk bahan bakar pesawat udara dengan tipe mesin turbin (external
combution). performa atau nilai mutu jenis bahan bakar avtur ditentukan oleh karakteristik
kemurnian bahan bakar, model pembakaran turbin dan daya tahan struktur pada suhu yang
rendah.
3. Bensin
Jenis Bahan Bakar Minyak Bensin merupakan nama umum untuk beberapa jenis BBM yang
diperuntukkan untuk mesin dengan pembakaran dengan pengapian. Di Indonesia terdapat
beberapa jenis bahan bakar jenis bensin yang memiliki nilai mutu pembakaran berbeda. Nilai
mutu jenis BBM bensin ini dihitung berdasarkan nilai RON (Randon Otcane Number).
Berdasarkan RON tersebut maka BBM bensin dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:
Premium (RON 88) : Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna
kekuningan yang jernih. Warna kuning tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan (dye).
Penggunaan premium pada umumnya adalah untuk bahan bakar kendaraan bermotor
bermesin bensin, seperti : mobil, sepeda motor, motor tempel dan lain-lain. Bahan bakar ini
sering juga disebut motor gasoline atau petrol.
Pertamax (RON 92) : ditujukan untuk kendaraan yang mempersyaratkan penggunaan bahan
bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal (unleaded). Pertamax juga direkomendasikan untuk

kendaraan yang diproduksi diatas tahun 1990 terutama yang telah menggunakan teknologi
setara dengan electronic fuel injection dan catalytic converters.
Pertamax Plus (RON 95) : Jenis BBM ini telah memenuhi standar performance International
World Wide Fuel Charter (WWFC). Ditujukan untuk kendaraan yang berteknologi mutakhir
yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan ramah lingkungan.
Pertamax Plus sangat direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi ratio >
10,5 dan juga yang menggunakan teknologiElectronic Fuel Injection (EFI), Variable Valve
Timing Intelligent (VVTI), (VTI),Turbochargers dan catalytic converters.
4. Minyak Tanah (Kerosene)
Minyak tanah atau kerosene merupakan bagian dari minyak mentah yang memiliki titik didih
antara 150 C dan 300 C dan tidak berwarna. Digunakan selama bertahun-tahun sebagai alat
bantu penerangan, memasak, water heating yang umumnya merupakan pemakaian domestik
(rumahan).
5. Minyak Solar (HSD)
Minyak solar adalah bahan bakar jenis distilat berwarna kuning kecoklatan yang jernih.
Penggunaan minyak solar pada umumnya adalah untuk bahan bakar pada semua jenis mesin
diesel dengan putaran tinggi (diatas 1.000 RPM), yang juga dapat dipergunakan sebagai
bahan bakar pada pembakaran langsung dalam dapur-dapur kecil, yang terutama diinginkan
pembakaran yang bersih. Minyak solar ini biasa disebut juga Gas Oil, Automotive Diesel Oil,
High Speed Diesel. High Speed Diesel (HSD) merupakan BBM jenis solar yang memiliki
angka performa cetane number 45, jenis BBM ini umumnya digunakan untuk mesin
trasportasi mesin diesel yang umum dipakai dengan sistem injeksi pompa mekanik (injection
pump) dan electronic injection, jenis BBM ini diperuntukkan untuk jenis kendaraan bermotor
trasportasi dan mesin industri.
Minyak solar adalah fraksi minyak bumi dengan titik didih antara 270-350C. Minyak Solar
biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin diesel pada kendaraan bermotor seperti
bus, truk, kereta api dan traktor.
Minyak Solar biasanya digunakan sebagai :
-Pada bahan bakar motor, diesel tipe besar (seperti Bus & Truk).
-Memproduksi uap.
-Mencairkan hasil peridustrian.
-Membakar batu.
-Mengerjakan panas dari logam.

6. Minyak Diesel (MDF)


Minyak diesel adalah hasil penyulingan minyak yang berwarna hitam yang berbentuk cair
pada temperatur rendah. Biasanya memiliki kandungan sulfur yang rendah dan dapat diterima
oleh Medium Speed Diesel Engine di sektor industri. Oleh karena itulah, diesel oil disebut
juga Industrial Diesel Oil (IDO) atau Marine Diesel Fuel (MDF).
7. Minyak Bakar (MFO)
Minyak bakar bukan merupakan produk hasil destilasi tetapi hasil dari jenis residu yang
berwarna hitam. Minyak jenis ini memiliki tingkat kekentalan yang tinggi dibandingkan
minyak diesel. Pemakaian BBM jenis ini umumnya untuk pembakaran langsung pada industri
besar dan digunakan sebagai bahan bakar untuk steam power station dan beberapa
penggunaan yang dari segi ekonomi lebih murah dengan penggunaan minyak bakar. Minyak
Bakar tidak jauh berbeda dengan Marine Fuel Oil (MFO)
8. Biodiesel
Jenis Bahan Bakar ini merupakan alternatif bagi bahan bakar diesel berdasar-petroleum dan
terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak nebati atau hewan. Secara kimia, ia merupakan
bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester dari rantai panjang asam lemak.
Jenis Produk yang dipasarkan saat ini merupakan produk biodiesel dengan campuran 95
persen diesel petrolium dan mengandung 5 persenCPO yang telah dibentuk menjadi Fatty
Acid Methyl Ester (FAME).
9. Pertamina Dex
Pertamina Dex adalah bahan bakar mesin diesel modern yang telah memenuhi dan mencapai
standar emisi gas buang EURO 2, memiliki angka performa tinggi dengan cetane number 53
keatas, memiliki kualitas tinggi dengan kandungan sulfur di bawah 300 ppm, jenis BBM ini
direkomendasikan untuk mesin diesel teknologi injeksi terbaru (Diesel Common Rail
System), sehingga pemakaian bahan bakarnya lebih irit dan ekonomis serta menghasilkan
tenaga yang lebih besar.