Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
UU Kesehatan No. 36 tahun 2009 menjelaskan bahwa pembangunan
kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup
bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai
investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan
ekonomis. Untuk itu diselenggarakan upaya kesehatan yang salah satunya
dilaksanakan melalui kegiatan kesehatan keluarga yang dalam pelaksanaannya
melalui penyediaan sarana dan prasarana atau dengan kegiatan yang menunjang
peningkatan kesehatan keluarga (Depkes RI, 2008).
Penyakit TB Paru adalah penyakit yang bisa menular atau menginfeksi
anggota keluarga yang lain. Di sini, keluarga termasuk yang beresiko terkena infeksi
dari anggota keluarganya yang menderita TB Paru (Zaidin Ali, 2009). Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa
orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan
saling bergantung (DepKes RI, 2008). Keluarga adalah dua atau lebih individu yang
bergabung karena hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga
yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta
mempertahankan suatu budaya (Zaidin Ali, 2009). Menurut Friedman yang dikutip
oleh Zaidin Ali (2009), penyakit yang diderita oleh salah satu anggota keluarga akan
mempengaruhi anggota keluarga yang lain. Bila salah satu individu dalam sebuah
keluarga menderita penyakit TB Paru dan memerlukan tindakan keperawatan, maka
hal ini tidak hanya menimbulkan stress pada dirinya sendiri tetapi juga pada
keluarganya. Koping keluarga merupakan proses penting yang membuat keluarga
mampu mencapai fungsi-fungsi keluarganya secara optimal. Kasus TB Paru dimana
1

keluarga memerlukan strategi koping untuk menurunkan ketegangan yang muncul


akibat penyakit tersebut. (Zaidin Ali, 2009).
Kebanyakan keluarga penderita

merasa

jenuh

dan

bosan

dalam

mencari/menjalankan pengobatan TB karena penderita seringkali datang berobat


sudah dalam keadaan terlambat dan banyak komplikasi yang membuat penderita tidak
sabar dalam melakukan pengobatan dan ingin cepat sembuh, tetapi mereka ini
mengalami kecewa dan putus asa karena apa yang diharapkan penderita tidak sesuai
dengan kenyataan perjalanan pengobatan (Herryanto, 2004).
Penularan TB Paru pada keluarga dapat terjadi melalui batuk, bersin, berbicara
atau meludah. Penderita akan mengeluarkan kuman TB ke udara yang dikenal sebagai
basil (WHO, 2007). Basil ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam,
tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik dan kelembaban.
Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulanbulan (Suhaymi, 2008). Penderita TB Paru dengan status BTA positif dapat
menularkan sekurang-kurangnya

kepada 10-15 orang lain, termasuk keluarga

penderita sendiri. Seseorang yang tertular dengan kuman TB belum tentu menjadi
sakit TB Paru. Kuman TB dapat menjadi tidak aktif (dorman) selama bertahun-tahun
dengan membentuk suatu dinding sel berupa lapisan lilin yang tebal. Bila sistem
kekebalan tubuh seseorang menurun, kemungkinan menjadi sakit TB lebih besar
(Depkes RI, 2008). Keluarga penderita yang datang ke puskesmas juga banyak yang
belum paham mengenai penyakit TB Paru, baik penyebab, cara penularan, maupun
pencegahannya. Selain itu keluarga penderita dalam menanggapi penyakit TB Paru
belum benar, semua itu bisa dilihat dari kebanyakan perilaku keluarga penderita yang
tidak mengingatkan penderita untuk menutup mulut pada waktu batuk atau bersin,
meludah pada tempat tertentu yang sudah diberi desinfektan, menghindari udara

dingin, tidak adanya sinar matahari yang masuk ke tempat tidur, serta makan makanan
yang tidak bergizi.
Beberapa faktor yang erat hubungannya dengan terjadinya infeksi basil TB:
adanya sumber penularan, jumlah dari basil yang cukup banyak dan terus menerus,
virulensi (keganasan basil dan daya tahan tubuh), faktor imunologis, dll. Kondisi
kesehatan keluarga TB Paru BTA Positif juga mempengaruhi angka kesakitan dan
penyebaran TB. Kondisi lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan,
kepadatan hunian rumah, higiene sanitasi, mempunyai peranan dalam penularan
penyakit TB. Faktor risiko penularan infeksinya meliputi: sejarah kontak penderita,
keadaan sosial ekonomi, status gizi, dan tingginya prevalensi TB Paru. Sedangkan
untuk faktor resiko jatuh sakit: daya tahan tubuh lemah, tingkat pemaparan kuman
yang tinggi, dan lain lain (Darmadi, 2008). Sampai saat ini, masih ada anggota
masyarakat yang belum mengetahui ada program pelayanan kesehatan TB Paru gratis
di Puskesmas. Rendahnya pengetahuan ini akan menghambat penderita TB mencari
pengobatan gratis atau menjadi penyebab putus berobat (Helper Manulu dkk, 2009).
Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh
Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2010, diperkirakan sebanyak 8,8 juta orang
jatuh sakit dengan TB dan 1,4 juta kematian akibat TBC Paru di seluruh dunia.
Diperkirakan 95% kasus TBC dan 98% kematian akibat TBC di dunia, terjadi pada
negara-negara berkembang. Demikian juga, kematian wanita akibat TBC lebih banyak
daripada kematian wanita karena kehamilan, persalinan, dan nifas (Dep.Kes.RI,
2008). Hampir 10 tahun lamanya Indonesia menempati urutan ketiga dunia dalam hal
jumlah penderita tuberculosis. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2007, jumlah
penderita TB di Indonesia sekitar 528.000 atau berada di posisi tiga di dunia setelah
India dan China. Laporan WHO tahun 2009 mencatat peringkat Indonesia menurun ke
posisi lima dengan jumlah penderita TB sebanyak 429.000 orang. Lima negara

dengan jumlah terbesar kasus TB tahun 2009 adalah India, China, Afrika Selatan,
Nigeria, dan Indonesia. Pada Global Report WHO tahun 2010 didapat data TB
Indonesia: total seluruh kasus TB tahun 2009 sebanyak 294.731 kasus, dimana
169.213 adalah kasus TB baru BTA positif, 108.616 kasus TB BTA negatif, 11.215
kasus TB Extra Paru, 3.709 kasus TB Kambuh, dan 1.978 kasus pengobatan ulang
diluar kasus kambuh (PPTI, 2009).
Di NTB, jumlah penderita TB Paru dari tahun 2011-2013 selalu mengalami
peningkatan setiap tahunnya, yaitu sebagai berikut: pada tahun 2011 jumlah penderita
TB di NTB sebanyak 3060 orang, pada tahun 2012 sebanyak 3127 orang, dan yang
terakhir pada tahun 2013 penderita TB di NTB meningkat menjadi 3174 orang.
Sementara itu di Kota Mataram sendiri pada tahun 2011 tercatat sebanyak 288 orang
yang menderita TB Paru, pada tahun 2012 sebanyak 295 orang, dan pada tahun 2013
meningkat menjadi 307 orang. Jumlah penderita TB Paru di 10 Kabupaten/Kota di
Provinsi NTB pada tahun 2014 yaitu: Kota Mataram sebanyak 307 orang, Kab.
Lombok Barat sebanyak 359 orang, Kab. Lombok Utara sebanyak 237 orang, Kab.
Lombok Tengah sebanyak 312 orang, Kab. Lombok Timur sebanyak 425 orang, Kab.
Sumbawa sebanyak 294 orang, Kab. Sumbawa Barat sebanyak 251 orang, Kab.
Dompu sebanyak 356 orang, Kab. Bima sebanyak 308 orang, dan Kota Bima
sebanyak 325 orang (Dikes Prov. NTB, 2014).
Berdasarkan data dari Dikes Kota Mataram, Puskesmas Karang Taliwang
menempati urutan kedua dengan jumlah penderita TB Paru terbanyak setelah
Puskesmas Ampenan (48 orang) pada tahun 2014. Data yang didapatkan dari
Puskesmas Karang Taliwang, jumlah penderita tuberculosis dari tahun 2012-2013
yaitu: jumlah penderita Tuberculosis pada tahun 2012 sebanyak 38 orang dari jumlah
suspek tuberculosis sebanyak 86 orang. Sedangkan jumlah penderita Tuberculosis
pada tahun 2013 yaitu 46 orang dari jumlah suspek tuberculosis sebanyak 202 orang.

Data TB di Puskesmas yang ada di Kota Mataram pada tahun 2014 yaitu: Puskesmas
Ampenan sebanyak 48 orang, Puskesmas Tanjung Karang sebanyak 17 orang,
Puskesmas Karang Pule 16 orang, Puskesmas Karang Taliwang sebanyak 46 orang,
Puskesmas Mataram sebanyak 26 orang, Puskesmas Selaparang 27 orang, Puskesmas
Pagesangan 34 orang, Puskesmas Cakranegara 48 orang, Puskesmas Dasan Agung 23
orang, Puskesmas Dasan Cermen 22 orang (Dikes Kota Mataram, 2014).
Rumah dan keluarga merupakan lingkungan yang sering berinteraksi bagi
penderita TB positif, sehingga potensial terjadi kontak penularan penyakit, artinya
orang yang tinggal serumah/punya kontak erat dengan pasien punya risiko tinggi
tertular. Jumlah basil yang terpapar dan waktu yang terus-menerus dapat
memudahkan penularan infeksi. Kontak yang lama dengan penderita prosentasenya
lebih besar untuk anggota serumah. Riwayat tidur sekamar juga akan meningkatkan
kemungkinan pemaparan basil TB. Faktor sosial ekonomi dapat diukur dari jenis dan
keadaan rumah, kepadatan hunian rumah, kepadatan hunian kamar, dan kualitas
rumah yang merupakan faktor dalam penyebaran TB Paru (John, 1998). Kurangnya
pengetahuan keluarga dalam memahami penyebab, cara penularan, serta upaya
pencegahan infeksi dapat menambah meningkatnya jumlah penyebaran infeksi
sehingga meningkatkan jumlah penderita. Pengetahuan dapat diperoleh melalui
membaca buku, mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan, ataupun dari sarana
yang lain. Prinsip utamanya adalah proses belajar, dimana akan terjadi perubahan
pengetahuan dan kemampuan (perilaku) pada diri subjek belajar tersebut
(Notoatmodjo, 2007).
Berbagai macam upaya penanggulangan dan pemutusan rantai penularan
infeksi penyakit TB telah dilakukan melalui program kesehatan di tingkat Puskesmas,
berupa pengembangan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi
DOTS (directly observed treatment), yang telah terbukti dapat menekan jumlah

penularan, juga mencegah berkembangnya MDR (Multi Drugs Resistence)-TB, tetapi


hasilnya masih dirasakan belum sesuai dengan yang diharapkan. Fokus utama strategi
DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, dengan prioritas pasien TB
menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan diharapkan dapat
menurunkan insiden TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien
merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan penyakit TB Paru dan
memutus rantai infeksi (Depkes, 2007). Oleh karena itu dukungan keluarga sangat
diperlukan, karena itu menunjang keberhasilan pengobatan seseorang dengan cara
selalu mengingatkan penderita agar minum obat, pengertian yang dalam terhadap
penderita yang sedang sakit dan memberi semangat agar tetap rajin berobat. Di
samping itu, para petugas kesehatan seperti dokter dan perawat sebagai bagian dari
pemberi pelayanan kesehatan yang profesional diharapkan selalu menambah
pengetahuan dan keterampilan agar dapat lebih sempurna untuk mendeteksi serta
mendiagnosa penyakit TB pada stadium dini.
Berdasarkan paparan yang sudah disebutkan di atas, peneliti merasa tertarik
untuk meneliti mengenai hubungan pengetahuan keluarga dengan resiko penularan
infeksi pada pasien TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dalam latar belakang di atas, dapat dibuat
rumusan masalah sebagai berikut: Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan
keluarga tentang TB Paru dengan upaya pencegahan penularan infeksi pada pasien TB
Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang
TB Paru dengan upaya pencegahan penularan infeksi pada pasien TB Paru di
1.3.2

Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang NTB.


Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan keluarga tentang TB Paru di


Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang.
2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan keluarga

terhadap

upaya

pencegahan penularan infeksi pada pasien TB Paru di Wilayah Kerja


Puskesmas Karang Taliwang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini menjadi masukan untuk wawasan dan menambah
ilmu pengetahuan tentang hubungan pengetahuan keluarga tentang TB Paru
dengan upaya pencegahan penularan infeksi pada pasien TB Paru.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
keluarga tentang upaya pencegahan penularan infeksi pada pasien TB
Paru
2. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar dalam
melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan topik
permasalahan yang sama.
3. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif
bagi pengetahuan keluarga mengenai resiko penularan infeksi pada
pasien TB Paru