Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA NY. IAS DENGAN HIPERTENSI DI BR. KEMENUH KAJA,


SUKAWATI, GIANYAR
25 - 30 APRIL 2016

OLEH :

NI LUH SUCI NOVI ARIANI (P07120214021)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR


DIV KEPERAWATAN TK.II / SEMESTER IV
JURUSAN KEPERAWATAN
2016

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK


PADA NY. IAD DENGAN HIPERTENSI DI BR. KEMENUH KAJA,
SUKAWATI, GIANYAR
25 - 30 APRIL 2016
I. KONSEP DASAR PENYAKIT
A. DEFINISI
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik
sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolic sedikitnya 90 mmHg.
Hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi
juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal dan pembuluh
darah dan makin tinggi tekanan darah, makin besar resikonya
(NANDA,2015).
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding
arteri. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi dan disebut
tekanan sistolik. Tekanan diastolik adalah tekanan terendah yang terjadi
saat jantung beristirahat. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai
rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik, dengan nilai dewasa
normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Rata-rata tekanan darah
normal biasanya 120/80 (Smeltzer & Bare, 2001).
B. ETIOLOGI
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
1. Hipertensi primer (esensial)
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya.
Faktor yang mempengaruhinya yaitu :genetik, lingkungan,
hiperaktifitas saraf simpatis sistem renin. Angiotensin dan
peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktor-faktor yang meningkatkan
resiko : obesitas, merokok, alkohol dan polisitemia.
Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita
hipertensi, sedangkan 10 % sisanya disebabkan oleh hipertensi
sekunder. Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti
penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa factor

yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Factor tersebut adalah


sebagai berikut :
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika
orang tuanya adalah penderita hipertensi
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi
adalah umur

( jika umur bertambah maka TD meningkat ), jenis

kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) dan ras (ras


kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi
adalah konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ),
kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain
misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan
(ephedrine, prednison, epineprin )
2. Hipertensi sekunder (hipertensi renal)
Penyebabnya yaitu penggunaan estrogen, penyakit ginjal, sindrom
chusing dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Menurut NANDA 2015, Hipertensi pada usia lanjut dibedakan
menjadi :
a) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140
mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebi besar dari 90
mmHg
b) Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar
dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90
mmHg

Penyebab hipertensi ada pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada :
1. Elastisitas dinding aorta menurun

2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku


3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena
kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
Tanda dan gejala di atas dipengaruhi oleh perkalian antara Cardiac
Output (CO) dengan tahanan perifer yang menyebabkan tekanan
darah meningkat.
Faktor risiko hipertensi secara umum terbagi menjadi dua, yakni
faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan dapat dimodifikasi. Faktor yang
tidak dapat dimodifikasi adalah umur serta genetik, sedangkan faktor yang
dapat dimodifikasi adalah pola makan, aktivitas dan sebagainya. Berikut
ini akan dijelaskan terlebih dahulu faktor risiko yang tidak dapat
dimodifikasi:
a. Umur
Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli
menunjukkan bahwa semakin tua seseorang maka risiko mengalami
hipertensi akan semakin tinggi. Hal tersebut diakibatkan oleh
penurunan elastisitas pembuluh darah arteri seiring dengan
pertambahan umur. Hipertensi bisa dijumpai pada semua usia, namun
paling sering ditemukan pada usia 35 tahun atau lebih dan meningkat
ketika menginjak usia 50 dan 60 tahun. Selain itu pada wanita
menopause akan lebih berisiko mengalami hipertensi. Walaupun belum
dapat dibuktikan dalam penelitian, namun hormon estrogen
diperkirakan dapat meningkatkan konsentrasi HDL dan menurunkan
LDL yang dapat menurunkan risiko terjadi hipertensi.
b. Genetik
Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor resiko hipertensi
yang tidak dapat dimodifikasi dan telah terbukti dari banyak

penelitian-penelitian oleh beberapa ahli. Hipertensi cenderung


merupakan penyakit keturunan. Jika salah satu dari orang tua kita
mempunyai hipertensi, sepanjang hidup kita mempunyai 25%
kemungkinan terkena pula. Jika kedua orang tua kita mempunyai
hipertensi, kemungkinan terkena penyakit tersebut 60% (Sheps, 2005).
Selain itu peran faktor genetic juga dapat dibuktikan dengan
ditemukannya kejadian hipertensi lebih banyak terjadi pada kembar
monozigot daripada heterezigot.
Selain dua faktor risiko di atas terdapat pula beberapa faktor risiko
lain yang dapat dimodifikasi, antara lain:
c. Merokok
Sampai sekarang merokok merupakan satu-satunya faktor risiko
paling penting yang dapat menyebabkan hipertensi pada lansia.
Kandungan-kandungan berbahaya yang terdapat dalam rokok dapat
menyebabkan banyak sekali kerugian pada tubuh, diantaranya adalah;
menurunkan kadar HDL, meningkatkan adhesivtas trombosit dan kadar
fibrinogen, mengganti oksigen dengan karbon dioksida pada molekul
hemoglobin, serta meningkatkan konsumsi oksigen di miokardium.
Oleh karena itu sangatlah penting untuk memberikan penjelasan kepada
lansia tentang keuntungan yang dapat diperoleh dengan berhenti
merokok serta kerugian-kerugian yang akan di dapat apabila tetap
mengkonsumsi rokok tersebut.
d. Hiperlipidemia
Kadar kolesterol pada lansia akan secara alami meningkat seiring
dengan bertambahnya usia. Selain itu hiperlipidemia juga berkaitan
dengan konsumsi lemak jenuh yang erat kaitannya dengan peningatan
berat badan dan nantinya akan menjadi faktor risiko terjadinya
hipertensi. Peningkatan LDL dan penurunan HDL adalah tanda yang
penting untuk penyakit arteri koroner atau aterosklerosis berkaitan
dengan kenaikan tekanan darah baik pada pria maupun wanita.
e. Diabetes melitus dan Obestitas
Diabetes merupakan penyakit kronik yang menjadi faktor risiko
independen untuk hipertensi. Ketika viskositas darah meningkat maka

tekanan darahpun akan ikut meningkat. Lansia yang mengalami


diabetes biasanya diikuti dengan obesitas. Penurunan berat badan pada
lansia akan sangat bukan hanya untuk diabetes namun untuk hipertensi
dan hiperlipidemia yang menyertainya.
f. Gaya hidup
Aktivitas fisik yang menurun pada lansia dapat pula menjadi faktor
risiko terjadinya hipertensi. Dengan penurunan aktivitas fisik ini maka
tonus otot akan mengalami kehilangan masa otot tak berlemak yang
akan digantikan dengan jaringan lemak yang akan mengakibatkan
penigkatan risiko penyakit kardiovaskular. Aktivitas fisik yang cukup
juga akan menjaga berat badan yang ideal. Selain itu stress dapat pula
berpengaruh pada hipertensi maka gaya hidup sehat sangat dianjurkan
untuk mengurangi risiko hipertensi
g. Diet tinggi garam
Berdasarkan penelitian Radecki Thomas E J.D. Orang yang
memiliki kebiasaan konsumsi tinggi garam akan memiliki risiko
hipertensi sebesar 4.35. Garam yang memiliki sifat menarik air, akan
menyebabkan peningkatan volume plasma dan tekanan darah. Lansia
dan ras Afrika Amerika mungkin memiliki sensitivitas tinggi terhadap
intak sodium terhadap perkembangan hipertensi (Vollmer et a., 2001
dalam Miller ).
Selain faktor-faktor diatas terdapat pula peningkatan konsumsi
kafein yang dapat menjadi faktor risisko terjadinya hipertensi.
Meskipun tidak signifikan kafein dan alcohol akan meningkatkan
aktivitas saraf simpatis yang dapat merangsang sekresi corticotrophin
realizing hormone (CRH) yang dapat meningkatkan tekanan darah.
Hipertensi pada lansia dapat mengakibatkan timbulnya asma dan
kencing manis serta pecahnya pembuluh darah di otak sehingga terjadi
kelumpuhan, kesulitan berbicara sampai kematian.
C. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi
1. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan


peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh
dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan
pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataanya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :
a. Mengeluh sakit kepala, pusing
b. Lemas, kelelahan
c. Sesak nafas
d. Gelisah
e. Mual
f. Muntah
g. Epistaksis
h. Kesadaran menurun
i. Kesemutan
j. Telinga berdenging
k. Penglihatan kabur

D. KLASIFIKASI
Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

Kategori

Sistol (mmHg)

Diastol (mmHg)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

< 85

Tingkat 1 (hipertensi

140-159

90-99

140-149

90-94

160-179

100-109

180

110

140

< 90

140-149

< 90

ringan)

Sub grup :
perbatasan

Tingkat 2 (hipertensi
sedang)

Tingkat 3 (hipertensi
berat)

Hipertensi sistol
terisolasi

Sub grup :
perbatasan

Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7


Kategori

Sistol (mmHg)

Dan/atau

Diastole
(mmHg)

Normal

<120

Dan

<80

Prehipertens

120-139

Atau

80-89

Hipertensi

140-159

Atau

90-99

160

Atau

100

tahap 1

Hipertensi
tahap 2

Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi


Indonesia

Kategori

Sistol (mmHg)

Dan/atau

Diastole(mmHg)

Normal

<120

Dan

<80

Pre hipertensi

120-139

Atau

80-89

Hipertensi

140-159

Atau

90-99

160

Atau

100

140

Dan

< 90

tahap 1

Hipertensi
tahap 2

Hipertensi
sistol
terisolasi

E. POHON MASALAH

F. PATOFISIOLOGI
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui
terbentuknya angiotensin II dariangiotensin I oleh angiotensin I
converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting
dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogenyang
diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh
ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di
paru-paru, angiotensin I diubah menjadiangiotensin II. Angiotensin
II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah
melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon
antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus
(kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk
mengaturosmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH,
sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis),
sehingga menjadi pekat dan tinggiosmolalitasnya. Untuk
mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan
cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah
meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks
adrenal. Aldosteronmerupakan hormon steroid yang memiliki peranan
penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler,
aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan
cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan
diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume
cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan
tekanan darah (Anggraini, Waren, et. al. 2009).

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Hb/Ht

: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap

volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor


resiko seperti hipokoagulabilitas dan anemia
b. BUN/kreatinin

: memberikan informasi tentang

perfusi/fungsi ginjal
c. Glukosa : hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin
d. Uranalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal
dan ada DM
2. CT Scan : mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
3. EKG : dapat menunjukkan pola regangan, dimana luas, peninggian
gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi
4. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : batu ginjal,
perbaikan ginjal
5. Photo dada : menunjukkan destruksi klasifikasi pada area katup,
pembesaran jantung
H. Komplikasi Penyakit Hipertensi
Penderita hipertensi berisiko terserang penyakit lain yang timbul
kemudian. Dalam jangka panjang, jika hipertensi tidan dikendalikan akan
berdampak pada timbulnya komplikasi penyakit lain. Komplikasi
hipertensi pada organ lain dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal,
perdarahan selaput bening (retina mata), pecahnya pembuluh darah di
otak dan kelumpuhan. Komplikasi hipertensi dapat menyebabkan :
1. Penyakit jantung (gagal jantung)
2. Penyakit ginjal (gagal ginjal)
3. Penyakit otak (stroke)

I. PENATALAKSANAAN
Tujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah
mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai
dan mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg, Efektivitas
setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya
perawatan, dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi .
Beberapa penelitian menunjukan bahwa pendekatan
nonfarmakologis , termasuk penurunan berat badan, pembatasan alcohol
natrium tembakau, latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang
harus dilakukan pada setiap terapi antihipertensi. Apabila penderita
hipertensi ringan berada dalam risiko tinggi (pria, perokok) atau bila
tekanan darah diastoliknya menetap , diatas 85 atau 95 mmHG dan
sistoliknya diats 130 sampai 139 mmHg, maka perlu dimulai dengan
terapi obat-obatan .
1. Terapi Nonfarmakologis Hipertensi
a. Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
1) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
2) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
3) Penurunan berat badan
4) Penurunan asupan etanol
5) Menghentikan merokok
6) Diet tinggi kalium
b. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang
dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang
mempunyai empat prinsip yaitu :
1) Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,
jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain
2) Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas
aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut
zona latihan. Denyut nadi maksimal dapat ditentukan dengan
rumus 220 umur.

3) Lamanya latihan berkisar antara 20 25 menit berada dalam


zona latihan.
4) Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5x
perminggu.
c. Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan
untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara
melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam
tubuh menjadi rileks
d. Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan
pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan
hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
2. Terapi Farmakologis Hipertensi
Tujuan : Mempertahankan tekanan darah dalam batas normal dengan
cara termudah dengan efek samping sekecil mungkin bagi penderita.
J. PENCEGAHAN
1. Berhenti merokok
2. Pertahankan gaya hidup sehat
3. Belajar untuk rilek dan mengendalikan stress
4. Batasi konsumsi alkohol
5. Penjelasan mengenai hipertensi
6. Jika sudah menggunakan obat hipertensi teruskan penggunaannya secara
rutin
7. Diet garam serta pengendalian berat badan
8. Periksa tekanan darah secara teratur

Ada tiga cara lain untuk mencegah hipertensi, yaitu :


a. Pencegahan dengan pola hidup sehat

Optimalkan dosis atau


penambahan
jenis obat sampai
Sasaran Tekanan Darah Tak

Menerapkan pola hidup yang sehat dalam keseharian kita sangat


penting dalam pencegahan hipertensi. Sebaliknya pola hidup yang
tidak sehat beresiko tinggi terkena penyakit hipertensi.
Termasuk dalam pola hidup yang tidak sehat misalnya merokok,
minum alkohol, suka makan enak alias banyak mengandung kolesterol,
makanan yang gurih dengan kadar garam berlebih, minuman
berkafein, dll. Sementara pada saat yang sama kurang berolahraga atau
kurang beraktifitas, sering stress, minim air putih, serta kurang makan
buah dan sayuran.
b. Pencegahan dengan medical check up
Mengunjungi seorang dokter atau tenaga para medis, jangan selalu
diartikan mau berobat. Bisa juga dalam rangka pencegahan satu
penyakit, misalnya pencegahan hipertensi. Itulah yang disebut
pencegahan / pemeriksaan secara medis (medical check up).
Orang yang rentan terhadap hipertensi, baik karena faktor
keturunan atau pun gaya hidup, sebaiknya rajin memeriksakan diri
tekanan darahnya ke dokter atau tenaga medis lain. Sebab, darah tinggi
atau hipertensi bila tidak segera diatasi adalah pra kondisi bagi
penyakit lain yang lebih serius. Dengan demikian, mencegah darah
tinggi berarti pula mencegah diri kita dari penyakit lain.
Jika dalam pemeriksaan ditemukan tanda atau gejala hipertensi,
seorang dokter akan memberikan advise penanganannya. Sebaliknya
jika tidak berarti ditemukan gejala apapun.
c. Pencegahan dengan cara tradisional
Indonesia adalah negara yang kaya dengan tanaman obat
tradisional. Beberapa diantara tanaman tradisional (serta hasilnya)
yang bisa menurunkan tekanan darah misalnya : bayam, biji bungan
matahari, kacang-kacangan, dark coklat, pisang, kedelai, kentang,
alpukat, mentimun, bawang putih, daun seledri, belimbing, pace atau
mengkudu, pepaya, selada air, cincau hijau dan lain-lain. Beberapa
tanaman diantaranya sudah diteliti dan diuji secara medis, seperti :
1) Bayam

Bayam merupakan sumber magnesium yang sangat baik. Tidak


hanya melindungi Anda dari penyakit jantung, tetapi juga dapat
mengurangi tekanan darah. Selain itu, kandungan folat dalam
bayam dapat melindungi tubuh dari homosistein yang membuat
bahan kimia berbahaya. Penelitian telah menunjukkan bahwa
tingkat tinggi asam amino (homosistein) dapat menyebabkan
serangan jantung dan stroke.
2) Biji bunga matahari.
Kandungan magnesiumnya sangat tinggi dan biji bunga matahari
mengandung pitosterol, yang dapat mengurangi kadar kolesterol
dalam tubuh. Kolesterol tinggi merupakan pemicu tekanan darah
tinggi, karena dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah.
Tapi, pastikan mengonsumsi kuaci segar yang tidak diberi garam.
3) Kacang-kacangan
Kacang-kacangan, seperti kacang tanah, almond, kacang merah
mengandung magnesium dan potasium. Potasium dikenal cukup
efektif menurunkan tekanan darah tinggi.
4) Pisang
Buah ini tidak hanya menawarkan rasa lezat tetapi juga membuat
tekanan darah lebih sehat. Pisang mengandung kalium dan serat
tinggi yang bermanfaat mencegah penyakit jantung. Penelitian juga
menunjukkan bahwa satu pisang sehari cukup untuk membantu
mencegah tekanan darah tinggi.
5) Kedelai
Banyak sekali keuntungan mengonsumsi kacang kedelai bagi
kesehatan. Salah satunya adalah menurunkan kolesterol jahat dan
tekanan darah tinggi. Kandungan isoflavonnya memang sangat
bermanfaat bagi kesehatan.
6) Kentang
Nutrisi dari kentang sering hilang karena cara memasaknya yang
tidak sehat. Padahal kandungan mineral, serat dan potasium pada

kentang sangat tinggi yang sangat baik untuk menstabilkan tekanan


darah.
7) Cokelat pekat (dark chocolate)
Karena kandungan flavonoid dalam cokelat dapat membantu
menurunkan tekanan darah dengan merangsang produksi nitrat
oksida. Nitrat oksida membuat sinyal otot-otot sekitar pembuluh
darah untuk lebih relaks, dan menyebabkan aliran darah
meningkat.
8) Avokad
Asam oleat dalam avokad, dapat membantu mengurangi kolesterol.
Selain itu, kandungan kalium dan asam folat, sangat penting untuk
kesehatan jantung.
Selain dengan tanaman obat tradisional, cara tradisional lain yang
juga dapat menurunkan tekanan darah, sekaligus pencegahan hipertensi,
misalnya terapi bekam. Bekam merupakan cara tradisional yang sudah
sangat terkenal, dan bermanfaat untuk pencegahan berbagai macam
penyakit
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Menggunakan pengkajian bio-psiko-sosial-spiritual :
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur(kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis
kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa,
tanggal dan jam MRS, nomor CM (Catatan Medis) dan diagnosis
medis
2. Keluhan Utama
Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan
adalah sakit kepala disertai rasa berat di tengkuk, sakit kepala
berdenyut.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan
gejala. Gejala yang dimaksud adalah sakit di kepala, pendarahan di
hidung, pusing, wajah kemerahan, dan kelelahan yang bisa saja

terjadi pada penderita hipertensi. Jika hipertensinya berat atau


menahun dan tidak di obati, bisa timbul gejala sakit kepala,
kelelahan, muntah, sesak napas, pandangan menjadi kabur, yang
terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung, dan
ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan
kesadaran dan bahkan koma.
4. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah ada riwayat hipertensi sebelumnya, diabetes militus,
penyakit ginjal, obesitas, hiperkolesterol, adanya riwayat merokok,
penggunaan alcohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral, dan
lain-lain.
5. Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi.
6. Data dasar pengkajian pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala
: kelemahan, letih, sesak napas, gaya hidup
monoton.
Tanda
: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama
jantung, takipnea.
b. Sirkulasi
Gejala
: riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung
koroner dan penyakit serebrovaskuler.
Tanda
:kenaikan tekanan darah meningkat,denyutan nadi
jelas dan karotis.
c. Integritas ego
Gejala
: perubahan kepribadian, ansietas, euphoria, marah
kronik(dapat mengindikasikan kerusakan serebral).
Tanda
: gelisah, otot muka tegang, gerakan fisik cepat,
peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala
: gangguan saat ini atau yang lalu/obstruksi riwayat
penyaki ginjal.
e. Makanan dan cairan
Gejala
: makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi
kolesterol, gula yang berwarna hitam, kandungan tinggi kalori,
mual, muntah, perubahan berat badan.
Tanda
:berat badan obesitas, adanya edema, kongesti vena,
glikosuria.
f. Neorosensori

Gejala

: keluhan Pening/pusing, berdenyut, sakit kepala

subosipital, gangguan penglihatan(diplopia, penglihatan kabur)


Tanda
: status mental, perubahan keterjagaan, orientasi,
pola bicara, proses pikiir, respon motorik: penurunan kekuatan
ganggaman tangan/reflex tendon dalam.
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala
: anginan, nyeri tulang timbulpada tungkai, sakit
kepala oksipital berat, nyeri abdomen.
h. Pernapasan
Gejala
: dipsnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja,
takipnea, ortopnea, noktural, paroksimal,batuk dengan/tanpa
pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda
:Distres respirasi/penggunaan otot aksesori
pernapasan, bunyi napas tambahan, sianosis.
i. Keamanan
Gejala
:gangguan koordinasi/ cara berjalan
Tanda
:episode Parestesia unilateral transient, hipotensi
postural.
j. Pembelajaran/ penyuluhan
Gejala
: hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM,
penyakit serebrovaskular.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload, vasokontriksi,
hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard
2. Resiko ketidakefketifan perfusi jaringan otak
3. Nyeri akut b.d peningktan tekanan vaskuler serebral dan iskemia
4. Gangguan pola tidur
5. Kelebihan volume cairan
6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen
7. Ansietas
8. Ketidakefektifan koping
9. Resiko cedera
10. Defisiensi pengetahuan