Anda di halaman 1dari 49

BERBAGAI ISTILAH ANATOMI

SISTEM NOMENKLATUR

Istilah anatomi dibakukan dalam system nomenklatur

System nomenklatur yang tersusun menjelang akhir abad 19, dalam


perkembangannya akhirnya dibakukan dalam hasil revisi di Perancis tahun 1955 yang
dikenal dengan NOMINA ANATOMICA dengan pembakuan 4500 istilah dalam
bahasa latin

SEJARAH ANATOMI

Greek anatomy (dikenal dengan Hipocrates) sebagai salah satu penemu ilmu anatomi

SIKAP ANATOMI

Orang berdiri tegak, mata menatap ke depan, lengan di samping, telapak tangan
menghadap ke depan , kedua kaki berdampingan dengan ibu jari kaki menghadap ke
depan

BIDANG ANATOMI

Bidang Sagital

Suatu bidang vertical yang membagi tubuh manusia menjadi kiri dan kanan

Bidang Midsagital = Median

Bidang sagital yang tepat melewati garis tengah tubuh dan membagi tubuh
manusia atas 2 bagian kanan-kiri sama besar

Bidang Parasagital = Paramedian

Bidang Frontal = Coronal

Bidang vertical dan tegak lurus terhadap bidang median sehingga membagi
tubuh manusia menjadi bagian depan-belakang

Bidang Transversal = Horizontal

Setiap bidang sagital yang sejajar bidang median

Bidang membujur yang tegak lurus terhadap kedua bidang sagital / frontal
sehingga membagi tubuh menjadi atas-bawah

Bidang Oblique

Bidang yang miring dan membuat sudut dengan bidang lainnya

LETAK ANATOMI
Anterior

: lebih dekat ke bagian depan badan

Posterior

: lebih dekat ke bagian belakang badan

Superior

: lebih dekat ke atas

Inferior

: lebih dekat ke bawah

Medial

: lebih dekat ke bidang median

Lateral

: lebih jauh ke bidang median

Proximal

: lebih dekat ke batang badan

Distal

: lebih jauh ke batang badan

Ventral

: lebih dekat ke perut

Dorsal

: lebih dekat ke punggung

Cranial

: lebih dekat ke kepala

Kaudal

: lebih dekat ke ekor

Superficial

: lebih dekat ke permukaan tubuh

Profunda

: lebih dekat ke dalam

Palmar

: bagian telapak tangan

Plantar

: bagian telapak kaki

Ipsilateral

: bagian sisi yang sama

Kontralateral : bagian sisi yang berlawanan


PERGERAKAN ANATOMI
Flexi : gerakan membentuk sudut pada bidang sagital
Extensi

: gerakan meluruskan pada bidang sagital

Abduksi

: gerakan menjauhi bidang median

Adduksi

: gerakan mendekati bidang median

Rotasi : gerakan memutar tulang dengan sumbunya


Endorotasi : gerak memutar ke dalam mendekati bidang median
Exorotasi : gerak memutar ke luar mendekati bidang median
Pronasi : gerak memutar telapak tangan menghadap ke bawah
Supinasi

: gerak memutar telapak tangan menghadap ke atas

Inversi : gerak memutar telapak kaki menghadap ke medial


Eversi : gerak memutar telapak kaki menghadap ke lateral
Elevasi: gerakan angkat ke atas
Depresi

: gerakan turun ke bawah

Oposisi / reposisi

: gerak khas ibu jari & kelingking

Circumductie : kombinasi flexi-extensi & abduksi-adduksi

ANATOMI SISTEMATIK

Anatomi sistematik / pembagian tubuh dalam system disusun :

Sesuai istilah yang digunakan untuk ilmu yang mempelajarinya

Sesuai dengan fungsinya

SESUAI ISTILAH
Osteologi

: mempelajari tentang tulang

Arthrologi

: mempelajari tentang sendi

Miologi

: mempelajari tentang otot

Splankhologi : mempelajari tentang organ viscera


Neurology

: mempelajari tentang saraf

SESUAI FUNGSI

Sistem Lokomotorik

Sistem Jantung dan Pembuluh Darah

Sistem Pencernaan

Sistem Pernafasan

Sistem Urogenital

Sistem Saraf

Sistem Panca Indera

Sistem Ekskretorik

Kelenjar Buntu

SISTEM LOKOMOTORIK
o

Mencakup bagian yang bersangkutan dengan gerak tubuh.

System kerangka yang mencakup tulang, tulang rawan dan membrane

System artikulotorik yang berhubungan dengan persendian

System otot yang mencakup otot, fascia dan tendon

SISTEM JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH

Mencakup system sirkulasi dan system aliran limfe dan jantung sebagai pompa darah

Terdiri dari saluran pencernaan beserta kelenjar dan organ dimana makanan
dipecahkan oleh enzim dan diangkut oleh darah ke hati dan jaringan

SISTEM PENCERNAAN

Terdiri dari saluran pencernaan beserta kelenjar dan organ dimana makanan
dipecahkan oleh enzim dan diangkut oleh darah ke hati dan jaringan

SISTEM PERNAFASAN

Terdiri dari atas saluran dan organ yang berhubungan dengan pernafasan

Oksigen dari udara diambil dan dimasukkan ke darah yang kemudian diangkut ke
jaringan sedang produk yang tidak perlu berupa karbondioksida diangkut oleh darah
dari jaringan tubuh ke paru-paru dan dikeluarkan ke udara

SISTEM UROGENITAL

Mencakup system urinary dan system reproduksi

Hasil buangan tubuh kecuali karbondioksida diekskresikan oleh ginjal

SISTEM SARAF

Terdiri dari atas susunan saraf pusat (mencakup otak dan sumsum tulang belakang)
dan sistem saraf perifer [terdiri dari urat saraf yang berasal dari otak dan sumsum
tulang belakang dan system saraf otonom (mencakup saraf simpatis dan parasimpatis)

SISTEM PANCA INDERA

Mencakup perasaan, penciuman, penglihatan dan pendengaran dan juga fungsi raba
dari kulit

SISTEM EKSKRETORIK

Berhubungan dengan organ ekskresi dari produk hasil buangan yang berasal dari
tubuh

Yang termasuk system urinary, paru-paru dan usus besar

KELENJAR BUNTU

Berhubungan dengan organ sekresi yang dihasilkan disalurkan langsung ke darah atau
organ pemakai

REGIO ABDOMEN

Terbagi 9 oleh bidang vertical dan horizontal

Penting untuk klinis dalam deskripsi lokalisasi nyeri, pembengkakan atau letak suatu
organ

BIDANG HORIZONTAL
o

Bidang transpyloricum: pertengahan antara incisura jugularis dan symphisis


pubis setinggi V L 1

Bidang subcostalis: setinggi V L 3 melalui titik terendah arcus costarum

Bidang transumbilicalis: melalui umbilicus setinggi discus intervertebralis L


3-4

Bidang transtubercularis: melalui tuberculum iliaca setinggi V L 5

Bidang interspinarum: melalui SIAS

BIDANG VERTICAL

melalui linea midclavicularis kanan kiri berjalan ke bawah sampai memotong SIAS
dan symphisis pubis

Bagian Regio Abdomen


ATAS

: hypochondrium kanan epigastrium hypochondrium kiri

TENGAH

: lumbalis kanan umbilicalis lumbalis kiri

BAWAH

: iliaca (inguinalis) kanan hypogastrium iliaca kiri

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN


SISTEM PENCERNAAN
Sistem Pencernaan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar
dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses
pencernaan (pengunyahan, penelanan dan pencampuran) dengan enzim
dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus.
SUSUNAN SALURAN PENCERNAAN
1)

Oris (rongga mulut)

2)

Faring (tekak/tenggorokan)

3)

Esofagus (kerongkongan)

4)

Gaster (lambung)

5)

Intestinum minor
a.
b.
c.

Duodenum (usus 12 jari)


Yeyenum
Ileum

6)

7)
8)

Intestinum Mayor
a. Seikum
b. Kolon asendens
c.
Kolon transversum
d. Kolon desendens
e. Kolon sigmoid
Rektum
Anus.

Alat-alat Penghasil Getah Cerna


1. Kelenjar Ludah:
a) Kelenjar (glandula) parotis
b) Kelenjar submaksilaris
c) Kelenjar sublingualis
2. Hati
3. Pankreas
4. Kandung empedu
STRUKTUR PENCERNAAN
A. Rongga Mulut
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan.
Fungsi rongga mulut:
1. Mengerjakan pencernaan pertama dengan jalan mengunyah
2. Untuk berbicara
3. Bila perlu, digunakan untuk bernafas.
a.

Pipi dan bibir


Mengandung otot-otot yang diperlukan dalam proses mengunyah

dan bicara, disebelah luar pipi dan bibir diselimuti oleh kulit dan disebelah
dalam diselimuti oleh selaput lendir (mukosa).
b.

Gigi
Terdapat 2 kelompok yaitu gigi sementara atau gigi susu

tumbuh pada umur 6-7 bulan dan lengkap pada umur 2

mulai
tahun

jumlahnya 20 buah dan gigi tetap (permanen) tumbuh pada umur 6-18
tahun jumlahnya 32 buah.

Fungsi gigi: gigi seri untuk memotong makanan, gigi taring untuk
memutuskan makanan yang keras dan liat dan gigi geraham untuk
mengunyah makanan yang sudah dipotong-potong
Bagian lidah yang berperan dalam mengecap rasa makanan adalah
papilla.

Papilla

ini

merupakan

bentukan

dari

saraf-saraf

sensorik

(penerima rangsang).
c.

Lidah

Fungsi Lidah:
a. Untuk membersihkan gigi serta rongga mulut antara pipi dan
b.
c.
d.
e.
f.
d.

gigi
Mencampur makanan dengan ludah
Untuk menolak makanan dan minuman kebelakang
Untuk berbicara
Untuk mengecap manis, asin dan pahit
Untuk merasakan dingin dan panas.

Kelenjar ludah
1. Kelenjar parotis, terletak disebelah bawah dengan daun telinga
diantara otot pengunyah dengan kulit pipi. Cairan ludah hasil
sekresinya dikeluarkan melalui duktus stesen kedalam rongga
mulut melalui satu lubang dihadapannya gigi molar kedua atas.
Saliva yang disekresikan sebanyak 25-35 %.
2. Kelenjar Sublinguinalis, terletak dibawah lidah salurannya menuju
lantai rongga mulut. Saliva yang disekresikan sebanyak 3-5 %.
3. Kelenjar Submandibularis, terletak lebih belakang dan kesamping
dari kelenjar sublinguinalis. Saluran menuju kelantai rongga mulut
belakang gigi seri pertama. Saliva yang disekresikan sebanyak 6070 %

Ada 2 jenis pencernaan didalam rongga mulut:

Pencernaan mekanik,

Pencernaan kimiawi

B. Faring
Merupakan

penghubung

antara

rongga

mulut

dan

kerongkongan. Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk.


Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu
kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan
merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan

antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga


mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang.
C.

Esofagus
Esophagus

adalah

yang

menghubungkan

tekak

dengan

lambung, yg letaknya dibelakang trakea yg berukuran panjang 25


cm dan lebar 2 cm.
Fungsi

dari

esofagus

adalah

menghantarkan

bahan

yang

dimakan dari faring ke lambung dan tiap2 ujung esofagus dilindungi


oleh suatu spinter yang berperan sebagai barier terhadap refleks isi
lambung kedalam esophagus.
D. Gaster ( lambung )
Merupakan organ otot berongga yang besar yang letaknya di
rongga perut atas sebelah kiri.
Fungsi dari lambung:
1.

Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan oleh

peristaltik lambung dan getah lambung.


2. Getah cerna lambung yang dihasilkan :
Pepsin, fungsinya memecah putih telur menjadi asam amino
(albumin dan peptone)
Asam garam (HCl), fungsinya mengasamkan

makanan

dan

membuat suasana asam pada


pepsinogen menjadi pepsin.
Renin, fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan
membentuk kasein dan dari karsinogen (karsinogen dan protein
susu)
Lapisan lambung, jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi asam
lemak yang marangsang sekresi getah lambung.
Fungsi asam lambung sebagai pembunuh kuman atau racun yang
masuk bersama makanan serta untuk mengasamkan makanan agar
mudah dicerna.
E. Intestinum minor ( usus halus )
Usus halus adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di
antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah
yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta.

Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang
membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna).
Usus halus terdiri dari tiga bagian
Usus dua belas jari (duodenum),
Usus kosong (jejunum), dan
Usus penyerapan (ileum)

Duodenum (20 cm)


Nama duodenum berasal dari bahasa latin duodenum digitorum,
yang berarti dua belas jari. Duodenum adalah bagian dari usus halus
yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke (jejunum).
Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari
pankreas dan kantung empedu.
Jejenum (2,5 m)
Berasal dari bahasa Laton, jejunus, yang berarti "kosong".
Menempati 2/5 sebelah atas dari usus halus. Terjadi pencernaan secara
kimiawi.
Ileum (3,6 m)
Ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem
pencernaan ini memiliki panjang sekitar 2 - 4 m dan terletak setelah
duodenum dan jejunum, dan menempati 3/5 bagian akhir usus halus.
Usus halus berfungsi menyerap sari-sari makanan.
F. INTESTINUM MAYOR
Banyak bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi
mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.
Bakteri ini juga penting untuk fungsi normal dari usus.
Fungsi usus besar, terdiri dari :
1. Menyerap air dari makanan
2. Tempat tinggal bakteri E.Coli
3. Tempat feses
Usus besar terdiri dari :

Seikum
Kolon asendens
Kolon transversum
Kolon desendens
Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)

Sekum
Sekum (bahasa latin: caecus, "buta") dalam istilah anatomi adalah
suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon
menanjak dari usus besar.
Di bawah seikum terdapat appendiks vermiformis yang berbentuk seperti
cacing sehingga disebut juga umbai cacing, panjangnya 6 cm
Kolon Asendens
-

Panjang 13 cm
terletak di abdomen bawah sebelah kanan membujur ke
atas.

Kolon Transversum
-

Panjangnya 38 cm
Membujur dari kolon asendens sampai ke kolon desendens

Kolon desendens
-

Panjangnya 25 cm
Terletak di abdomen bawah bagian kiri membujur dari atas ke
bawah.

Kolon Sigmoid
G.

Lanjutan dari kolon desendens terletak miring


Terletak dalam rongga pelvis sebelah kiri
Bentuknya menyerupai huruf S
Ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.

REKTUM

Rektum ( Bahasa Latin : regere, "meluruskan, mengatur" ) adalah sebuah


ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan
berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses
H.

ANUS

Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan


limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan
tubuh ( kulit ) dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan
penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh
melalui proses defekasi ( buang air besar ), yang merupakan fungsi
utama anus.
M. HEPAR

Organ terbesar di dalam tubuh

Warna coklat kemerahan, beratnya 1 kg

Berperan penting dalam metabolisme

Penetralan obat

N. KANDUNG EMPEDU

Organ berbentuk buah pir

Letaknya dalam sebuah lobus di sebelah permukaan bawah hati

Warna hijau gelap

Berfungsi dalam pencernaan dan penyerapan lemak

O. PANKREAS

Terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan dengan


duodenum.

Fungsi utama pankreas:


1. menghasilkan enzim pencernaan
2. menghasilkan hormon

Sistem Peredaran Darah Manusia


Sistem Peredaran Darah Manusia

Struktur Alat Peredaran Darah Pada Manusia


Sistem peredaran darah pada manusia tersusun atas jantung sebagai pusat peredaran darah,
pembuluh-pembuluh darah dan darah itu sendiri.

1. Jantung

Jantung mempunyai empat ruang yang terbagi sempurna yaitu dua serambi (atrium) dan dua
bilik (ventrikel) dan terletak di dalam rongga dada sebelah kiri di atas diafragma. Jantung
terbungkus oleh kantong perikardium yang terdiri dari 2 lembar :
a. lamina panistalis di sebelah luar
b. lamina viseralis yang menempel pada dinding jantung.
Jantung memiliki katup atrioventikuler (valvula bikuspidal) yang terdapat di antara serambi
dan bilik jantung yang berfungsi mencegah aliran dari bilik keserambi selama sistol dan
katup semilunaris (katup aorta dan pulmonalis) yang berfungsi mencegah aliran balik dari
aorta dan arteri pulmonalis kiri ke bilik selama diastole.

2. Pembuluh Darah

Pembuluh darah terdiri atas arteri dan vena. Arteri berhubungan langsung dengan vena pada
bagian kapiler dan venula yang dihubungkan oleh bagian endotheliumnya.
Arteri dan vena terletak bersebelahan. Dinding arteri lebih tebal dari pada dinding vena.
Dinding arteri dan vena mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan bagian dalam yang terdiri dari
endothelium, lapisan tengah yang terdiri atas otot polos dengan serat elastis dan lapisan
paling luar yang terdiri atas jaringan ikat ditambah dengan serat elastis. Cabang terkecil dari
arteri dan vena disebut kapiler. Pembuluh kapiler memiliki diameter yang sangat kecil dan
hanya memiliki satu lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran basal.
Perbedaan struktur masing-masing pembuluh darah berhubungan dengan perbedaan
fungsional masing-masing pembuluh darah tersebut.

Pembuluh darah terbagi menjadi :


A. Pembuluh darah arteri
1. Tempat mengalir darah yang dipompa dari bilik
2. Merupakan pembuluh yang liat dan elastis
3. Tekanan pembuluh lebih kuat dari pada pembuluh balik
4. Memiliki sebuah katup (valvula semilunaris) yang berada tepat di luar jantung
5. Terdiri atas :
5.1 Aorta yaitu pembuluh dari bilik kiri menuju ke seluruh tubuh
5.2 Arteriol yaitu percabangan arteri
5.3 Kapiler :
a. Diameter lebih kecil dibandingkan arteri dan vena

b. Dindingnya terdiri atas sebuah lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran
basal
6. Dindingnya terdiri atas 3 lapis yaitu :
6.1 Lapisan bagian dalam yang terdiri atas Endothelium
6.2 Lapisan tengah terdiri atas otot polos dengan Serat elastis
6.3 Lapisan terluar yang terdiri atas jaringan ikat Serat elastis
B. Pembuluh Balik (Vena)
1. Terletak di dekat permukaan kulit sehingga mudah di kenali
2. Dinding pembuluh lebih tipis dan tidak elastis.
3. Tekanan pembuluh lebih lemah di bandingkan pembuluh nadi
4. Terdapat katup yang berbentuk seperti bulan sabit (valvula semi lunaris) dan menjaga
agar darah tak berbalik arah.
5. Terdiri dari :
5.1. Vena cava superior yang bertugas membawa darah dari bagian atas tubuh menuju
serambi kanan jantung.
5.2. Vena cava inferior yang bertugas membawa darah dari bagian bawah tubuh
ke serambi kanan jantung.
5.3. Vena cava pulmonalis yang bertugas membawa darah dari paru-paru ke serambi
kiri jantung.

Sistem Peredaran Darah Manusia

Macam Peredaran Darah


Peredaran darah manusia merupakan peredaran darah tertutup karena darah yang dialirkan
dari dan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah dan darah mengalir melewati jantung
sebanyak dua kali sehingga disebut sebagai peredaran darah ganda yang terdiri dari :
1. Peredaran darah panjang/besar/sistemik
Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah yang kaya oksigen dari bilik (ventrikel) kiri
jantung lalu diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen bertukar dengan karbondioksida di
jaringan tubuh. Lalu darah yang kaya karbondioksida dibawa melalui vena menuju serambi
kanan (atrium) jantung.
2. Peredaran darah pendek/kecil/pulmonal
Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah dari jantung ke paru-paru dan kembali ke
jantung. Darah yang kaya karbondioksida dari bilik kanan dialirkan ke paru-paru melalui
arteri pulmonalis, di alveolus paru-paru darah tersebut bertukar dengan darah yang kaya akan
oksigen yang selanjutnya akan dialirkan ke serambi kiri jantung melalui vena pulmonalis.

Proses peredaran darah dipengaruhi juga oleh kecepatan darah, luas penampang pembuluh
darah, tekanan darah dan kerja otot yang terdapat pada jantung dan pembuluh darah.
Pada kapiler terdapat spingter prakapiler mengatur aliran darah ke kapiler :
a. Bila spingter prakapiler berelaksasi maka kapiler-kapiler yang bercabang dari
pembuluh darah utama membuka dan darah mengalir ke kapiler.
b. Bila spingter prakapiler berkontraksi, kapiler akan tertutup dan aliran darah yang
melalui kapiler tersebut akan berkurang.

Pada vena bila otot berkontraksi maka vena akan terperas dan kelepak yang terdapat pada
jaringan akan bertindak sebagai katup satu arah yang menjaga agar darah mengalir hanya
menuju ke jantung.
Sistem Peredaran Darah Manusia

Kelainan Pada Sistem Peredaran Darah


Kelainan atau penyakit pada sistem peredaran darah antara lain:
1. Arteriosklerosis yaitu pengerasan pembuluh nadi karena endapan lemak berbentuk plak
(kerak) yaitu jaringan ikat berserat dan sel-sel otot polos yang di infiltrasi oleh lipid (lemak)
2. Anemia yaitu rendahnya kadar hemoglobin dalam darah atau berkurangnya jumlah
eritrosit dalam darah
3.

Varises yaitu pelebaran pembuluh darah di betis

4.

Hemeroid (ambeien) pelebaran pembuluh darah di sekitar dubur


1. Ambolus yaitu tersumbatnya pembuluh darah karena benda yang bergerak.
2. Trombus yaitu tersumbatnya pembuluh darah karena benda yang tidak bergerak .
3. Hemofili yaitu kelainan darah yang menyebabkan darah sukar membeku (diturunkan
secara hereditas)
4. Leukemia (kanker darah ) yaitu peningkatan jumlah eritrosit secara tidak terkendali.
5. Erithroblastosis fetalis yaitu rusaknya eritrosit bayi/janin akibat aglutinasi dari
antibodi yang berasal dari ibu.
6. Thalasemia yaitu anemia yang diakibatkan oleh rusaknya gen pembentuk hemoglobin
yang bersifat menurun.
7. Hipertensi yaitu tekanan darah tinggi akibat arteriosklerosis

SISTEM PERKEMIHAN
Sistem perkemihan merupakan sistem yang penting untuk membuang sisasisa metabolisma makanan yang dihasilkan oleh tubuh terutama senyawaan
nitrogen seperti urea dan kreatinin, bahan asing dan produk sisanya. Sampah
metabolisma ini dikeluarkan (disekresikan) oleh ginjal dalam bentuk urin. Urin
kemudian akan turun melewati ureter menuju kandung kemih untuk disimpan
sementara dan akhirnya secara periodik akan dikeluarkan melalui uretra.
Sistem perkemihan (Gb-1) terdiri atas: kedua ginjal (ren, kidney), ureter,
kandung kemih (vesika urinaria/urinary bladder/ nier) dan uretra.

Ginjal
Ginjal berbentuk seperti kacang merah dengan panjang 10-12 cm dan tebal 3,5-5 cm,
terletak di ruang belakang selaput perut tubuh (retroperitonium) sebelah atas. Ginjal kanan
terletak lebih ke bawah dibandingkan ginjal kiri.
Ginjal (Gb-2) dibungkus oleh simpai jaringan fibrosa yang tipis. Pada sisi medial terdapat
cekungan, dikenal sebagai hilus, yang merupakan tempat keluar masuk pembuluh darah dan
keluarnya ureter. Bagian ureter atas melebar dan mengisi hilus ginjal, dikenal sebagai piala
ginjal (pelvis renalis). Pelvis renalis akan terbagi lagi menjadi mangkuk besar dan kecil yang
disebut kaliks mayor (2 buah) dan kaliks minor (8-12 buah). Setiap kaliks minor meliputi
tonjolan jaringan ginjal berbentuk kerucut yang disebut papila ginjal. Pada potongan vertikal
ginjal tampak bahwa tiap papila merupakan puncak daerah piramid yang meluas dari hilus
menuju ke kapsula. Pada papila ini bermuara 10-25 buah duktus koligens. Satu piramid dengan
bagian korteks yang melingkupinya dianggap sebagai satu lobus ginjal.
Secara histologi ginjal terbungkus dalam kapsul atau simpai jaringan lemak dan simpai
jaringan ikat kolagen. Organ ini terdiri atas bagian korteks dan medula yang satu sama lain

tidak dibatasi oleh jaringan pembatas khusus, ada bagian medula yang masuk ke korteks dan
ada bagian korteks yang masuk ke medula. Bangunan-bangunan (Gb-3) yang terdapat pada
korteks dan medula ginjal adalah
1. Korteks ginjal terdiri atas beberapa bangunan yaitu
A. Korpus Malphigi terdiri atas kapsula Bowman (bangunan berbentuk cangkir)
dan glomerulus (jumbai /gulungan kapiler).
B. Bagian sistim tubulus yaitu tubulus kontortus proksimalis dan tubulus
kontortus distal.
2. Medula ginjal terdiri atas beberapa bangunan yang merupakan bagian sistim tubulus
yaitu pars descendens dan descendens ansa Henle, bagian tipis ansa Henle, duktus
ekskretorius (duktus koligens) dan duktus papilaris Bellini.

Korpus Malphigi
Korpus Malphigi terdiri atas 2 macam bangunan yaitu kapsul Bowman dan glomerulus.
Kapsul Bowman sebenarnya merupakan pelebaran ujung proksimal saluran keluar ginjal
(nefron) yang dibatasi epitel. Bagian ini diinvaginasi oleh jumbai kapiler (glomerulus) sampai
mendapatkan bentuk seperti cangkir yang berdinding ganda. Dinding sebelah luar disebut lapis
parietal (pars parietal) sedangkan dinding dalam disebut lapis viseral (pars viseralis) yang
melekat erat pada jumbai glomerulus (Gb-4 dan 5). Ruang diantara ke dua lapisan ini sebut
ruang Bowman yang berisi cairan ultrafiltrasi. Dari ruang ini cairan ultra filtrasi akan masuk
ke dalam tubulus kontortus proksimal.
Glomerulus merupakan bangunan yang berbentuk khas, bundar dengan warna yang lebih
tua daripada sekitarnya karena sel-selnya tersusun lebih padat. Glomerulus merupakan
gulungan pembuluh kapiler. Glomerulus ini akan diliputi oleh epitel pars viseralis kapsul
Bowman. Di sebelah luar terdapat ruang Bowman yang akan menampung cairan ultra filtrasi
dan meneruskannya ke tubulus kontortus proksimal. Ruang ini dibungkus oleh epitel pars
parietal kapsul Bowman.
Kapsul Bowman lapis parietal (Gb-5) pada satu kutub bertautan dengan tubulus kontortus
proksimal yang membentuk kutub tubular, sedangkan pada kutub yang berlawanan bertautan
dengan arteriol yang masuk dan keluar dari glomerulus. Kutub ini disebut kutub vaskular.
Arteriol yang masuk disebut vasa aferen yang kemudian bercabang-cabang lagi menjadi
sejumlah kapiler yang bergelung-gelung membentuk kapiler. Pembuluh kapiler ini diliputi oleh
sel-sel khusus yang disebut sel podosit yang merupakan simpai Bowman lapis viseral. Sel

podosit ini dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Kapiler-kapiler ini kemudian bergabung
lagi membentuk arteriol yang selanjutnya keluar dari glomerulus dan disebut vasa eferen, yang
berupa sebuah arteriol.

Apartus Yuksta-Glomerular (Gb-6)


Sel-sel otot polos dinding vasa aferent di dekat glomerulus berubah sifatnya menjadi sel
epiteloid. Sel-sel ini tampak terang dan di dalam sitoplasmanya terdapat granula yang
mengandung ensim renin, suatu ensim yang diperlukan dalam mengontrol tekanan darah. Selsel ini dikenal sebagai sel yuksta glomerular. Renin (Gb-7) akan mengubah angiotensinogen
(suatu peptida yang dihasilkan oleh hati) menjadi angiotensin I. Selanjutnya angiotensin I ini
akan diubah menjadi angiotensin II oleh ensim angiotensin converting enzyme (ACE)
(dihasilkan oleh paru). Angiotensin II akan mempengaruhi korteks adrenal (kelenjar anak
ginjal) untuk melepaskan hormon aldosteron. Hormon ini akan meningkatkan reabsorpsi
natrium dan klorida termasuk juga air di tubulus ginjal terutama di tubulus kontortus distal dan
mengakibatkan bertambahnya volume plasma. Angiotensin II juga dapat bekerja langsung pada
sel-sel tubulus ginjal untuk meningkatkan reabsopsi natrium, klorida dan air. Di samping itu
angiotensin II juga bersifat vasokonstriktor yaitu menyebabkan kontriksinya dinding pembuluh
darah.
Sel-sel yuksta glomerular (Gb-6) di sisi luar akan berhimpitan dengan sel-sel makula
densa, yang merupakan epitel dinding tubulus kontortus distal yang berjalan berhimpitan
dengan kutub vaskular. Pada bagian ini sel dinding tubulus tersusun lebih padat daripada
bagian lain. Sel-sel makula densa ini sensitif terhadap perubahan konsentrasi ion natrium dalam
cairan di tubulus kontortus distal. Penurunan tekanan darah sistemik akan menyebabkan
menurunnya produksi filtrat glomerulus yang berakibat menurunnya konsentrasi ion natrium di
dalam cairan tubulus kontortus distal. Menurunnya konsentrasi ion natrium dalam cairan
tubulus kontortus distal akan merangsang sel-sel makula densa (berfungsi sebagai
osmoreseptor) untuk memberikan sinyal kepada sel-sel yuksta glomerulus agar mengeluarkan
renin. Sel makula densa dan yuksta glomerular bersama-sama membentuk aparatus yukstaglomerular.
Di antara aparatus yuksta glomerular dan tempat keluarnya vasa eferen glomerulus terdapat
kelompokan sel kecil-kecil yang terang (Gb-6) disebut sel mesangial ekstraglomerular atau
sel polkisen (bantalan) atau sel lacis. Fungsi sel-sel ini masih belum jelas, tetapi diduga sel-sel
ini berperan dalam mekanisma umpan balik tubuloglomerular. Perubahan konsentrasi ion

natrium pada makula densa akan memberi sinyal yang secara langsung mengontrol aliran darah
glomerular. Sel-sel mesangial ekstraglomerular di duga berperan dalam penerusan sinyal di
makula densa ke sel-sel yuksta glomerular. Selain itu sel-sel ini menghasilkan hormon
eritropoetin, yaitu suatu hormon yang akan merangsang sintesa sel-sel darah merah (eritrosit)
di sumsum tulang.

Tubulus Ginjal (Nefron)


A. Tubulus Kontortus Proksimal (Gb-8)
Tubulus kontortus proksimal berjalan berkelok-kelok dan berakhir sebagai saluran yang
lurus di medula ginjal (pars desendens Ansa Henle). Dindingnya disusun oleh selapis sel
kuboid dengan batas-batas yang sukar dilihat. Inti sel bulat, bundar, biru dan biasanya terletak
agak berjauhan satu sama lain. Sitoplasmanya bewarna asidofili (kemerahan). Permukaan sel
yang menghadap ke lumen mempunyai paras sikat (brush border). Tubulus ini terletak di
korteks ginjal.
Fungsi tubulus kontortus proksimal adalah mengurangi isi filtrat glomerulus 80-85 persen
dengan cara reabsorpsi via transport dan pompa natrium. Glukosa, asam amino dan protein
seperti bikarbonat, akan diresorpsi.

B. Ansa Henle (Gb-9)


Ansa henle terbagi atas 3 bagian yaitu bagian tebal turun (pars asendens), bagian tipis
(segmen tipis) dan bagian tebal naik (pars asendens). Segmen tebal turun mempunyai
gambaran mirip dengan tubulus kontortus proksimal, sedangkan segmen tebal naik mempunyai
gambaran mirip tubulus kontortus distal. Segmen tipis ansa henle mempunyai tampilan mirip
pembuluh kapiler darah, tetapi epitelnya sekalipun hanya terdiri atas selapis sel gepeng, sedikit
lebih tebal sehingga sitoplasmanya lebih jelas terlihat. Selain itu lumennya tampak kosong.
Ansa henle terletak di medula ginjal. Fungsi ansa henle adalah untuk memekatkan atau
mengencerkan urin.

C. Tubulus kontortus distal (Gb-8)


Tubulus kontortus distal berjalan berkelok-kelok. Dindingnya disusun oleh selapis sel
kuboid dengan batas antar sel yang lebih jelas dibandingkan tubulus kontortus proksimal. Inti
sel bundar dan bewarna biru. Jarak antar inti sel berdekatan. Sitoplasma sel bewarna basofil
(kebiruan) dan permukaan sel yang mengahadap lumen tidak mempunyai paras sikat. Bagian
ini terletak di korteks ginjal. Fungsi bagian ini juga berperan dalam pemekatan urin.

D. Duktus koligen (Gb-9)

Saluran ini terletak di dalam medula dan mempunyai gambaran mirip tubulus kontortus
distal tetapi dinding sel epitelnya jauh lebih jelas, selnya lebih tinggi dan lebih pucat. Duktus
koligen tidak termasuk ke dalam nefron. Di bagian medula yang lebih ke tengah beberapa
duktus koligen akan bersatu membentuk duktus yang lebih besar yang bermuara ke apeks
papila. Saluran ini (Gb-10) disebut duktus papilaris (Bellini). Muara ke permukaan papil
sangat besar, banyak dan rapat sehingga papil tampak seperti sebuah tapisan (area kribrosa).
Fungsi duktus koligen adalah menyalurkan kemih dari nefron ke pelvis ureter dengan sedikit
absorpsi air yang dipengaruhi oleh hormon antidiuretik (ADH).
Di samping bagian korteks dan medula, pada ginjal ada juga bagian korteks yang menjorok
masuk ke dalam medula membentuk kolom mengisi celah di antara piramid ginjal yang disebut
(Gb-11) sebagai kolumna renalis Bertini.

Sebaliknya ada juga jaringan medula yang

menjorok masuk ke dalam daerah korteks membentuk berkas-berkas yang disebut prosessus
Ferreini.

Sawar Ginjal (Gb-12 dan 13)


Sawar ginjal adalah bangunan-bangunan yang memisahkan darah kapiler glomerulus dari
filtrat dalam rongga Bowman. Sawar ini terdiri atas endotel kapiler bertingkap glomerulus,
lamina basal dan pedikel podosit yang dihubungkan dengan membran celah (slit
membran). Sel podosit adalah sel-sel epitel lapisan viseral kapsula Bowman. Sel-sel ini telah
mengalami perubahan sehingga berbentuk bintang. Selain badan sel sel-sel ini mempunyai
beberapa juluran (prosessus) mayor (primer) yang meluas dari perikarion dengan cara seperti
tentakel seekor gurita. Sebuah prosessus primer mempunyai beberapa prosessus sekunder yang
kecil atau pedikel. Pedikel podosit yang berdekatan saling berselang-seling dalam susunan
yang rumit dengan sistem celah yang disebut celah filtrasi (Slit pores) di antara pedikel.
Pedikel-pedikel ini berhubungan dengan suatu membran tipis disebut membran celah (Slit
membran). Di bawah membran slit ini terdapat membran basal sel-sel sel endotel kapiler
glomerulus.
Guna sawar ginjal ini adalah untuk menyaring molekul-molekul yang boleh melewati
lapisan filtrasi tersebut dan molekul-molekul yang harus dicegah agar tidak keluar dari tubuh.
Molekul-molekul yang dikeluarkan dari tubuh adalah molekul-molekul yang sudah tidak
diperlukan oleh tubuh, sisa-sisa metabolisma atau zat-zat yang toksik bagi tubuh. Molekulmolekul ini selanjutnya akan dibuang dalam bentuk urin (air kemih). Proses filtrasi ini
tergantung kepada tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus.

Perdarahan Ginjal (Gb-11)


Masing-masing ginjal mendapat cabang langsung dari arta abdominalis (arteri renalis).
Arteri ini bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan di antara piramid ginjal. Pada
perbatasan korteks dan medula ginjal arteri interlobaris bercabang menjadi arteri arteri arkuata
atau arsiformis yang meninggalkan pembuluh asalnya hampir tegak lurus menelusuri dasar
piramid medula dan berjalan sejajar dengan permukaan ginjal. Arteri ini kemudian bercabangcabang lagi. Cabang-cabang arteri ini berjalan secara radier ke tepian korteks dan dikenal
sebagai arteri interlobularis. Dari arteri interlobularis ini terdapat banyak cabang-cabang
menjadi arteri intralobularis yang akan berakhir sebagai arteriol glomerular aferen yang
mendarahi glomerulus.
Fungsi ginjal yaitu
1. Membuang bahan sisa terutama senyawaan nitrogen seperti urea dan kreatinin yang
dihasilkan dari metabolisme makanan oleh tubuh, bahan asing dan produk sisa.
2. Mengatur keseimbangan air dan elektrolit
3. Mengatur keseimbangan asam dan basa.
4. Menghasilkan renin yang berperan dalam pengaturan tekanan darah.
5. Menghasilkan eritropoietin yang mempunyai peran dalam proses pembentukan eritrosit
di sumsum tulang.
6. Produksi dan ekskresi urin

Ureter (Gb-14)
Secara histologik ureter terdiri atas lapisan mukosa, muskularis dan adventisia. Lapisan
mukosa terdiri atas epitel transisional yang disokong oleh lamina propria. Epitel transisional
ini terdiri atas 4-5 lapis sel. Sel permukaan bervariasi dalam hal bentuk mulai dari kuboid (bila
kandung kemih kosong atau tidak teregang) sampai gepeng (bila kandung kemih dalam
keadaan penuh/teregang). Sel-sel permukaan ini mempunyai batas konveks (cekung) pada
lumen dan dapat berinti dua. Sel-sel permukaan ini dikenal sebagai sel payung. Lamina propria
terdiri atas jaringan fibrosa yang relatif padat dengan banyak serat elastin. Lumen pada
potongan melintang tampak berbentuk bintang yang disebabkan adanya lipatan mukosa yang

memanjang. Lipatan ini terjadi akibat longgarnya lapis luar lamina propria, adanya jaringan
elastin dan muskularis. Lipatan ini akan menghilang bila ureter diregangkan.
Lapisan muskularisnya terdiri atas atas serat otot polos longitudinal disebelah dalam dan
sirkular di sebelah luar (berlawan dengan susunan otot polos di saluran cerna). Lapisan
adventisia atau serosa terdiri atas lapisan jaringan ikat fibroelsatin.
Fungsi ureter adalah meneruskan urin yang diproduksi oleh ginjal ke dalam kandung kemih.
Bila ada batu disaluran ini akan menggesek lapisan mukosa dan merangsang reseptor saraf
sensoris sehingga akan timbul rasa nyeri yang amat sangat dan menyebabkan penderita batu
ureter akan berguling-gulung, keadaan ini dikenal sebagai kolik ureter.

Kandung kemih (Gb-15)


Kandung kemih terdiri atas lapisan mukosa, muskularis dan serosa/adventisia. Mukosanya
dilapisi oleh epitel transisional yang lebih tebal dibandingkan ureter (terdiri atas 6-8 lapis sel)
dengan jaringan ikat longgar yang membentuk lamina propria dibawahnya. Tunika
muskularisnya terdiri atas berkas-berkas serat otot polos yang tersusun berlapis-lapis yang
arahnya tampak tak membentuk aturan tertentu. Di antara berkas-berkas ini terdapat jaringan
ikat longgar. Tunika adventisianya terdiri atas jaringan fibroelastik.
Fungsi kandung kemih adalah menampung urin yang akan dikeluarkan kedunia luar melalui
uretra.

Uretra
Panjang uretra pria (Gb-16) antara 15-20 cm dan untuk keperluan deskriptif terbagi atas 3
bagian yaitu:
A. Pars Prostatika, yaitu bagian uretra mulai dari muara uretra pada kandung kemih
hingga bagian yang menembus kelenjar prostat. Pada bagian ini bermuara 2 saluran
yaitu duktus ejakulatorius dan saluran keluar kelenjar prostat.
B. Pars membranasea yaitu bagian yang berjalan dari puncak prostat di antara otot rangka
pelvis menembus membran perineal dan berakhir pada bulbus korpus kavernosus
uretra.
C. Pars kavernosa atau spongiosa yaitu bagian uretra yang menembus korpus
kavernosum dan bermuara pada glands penis.

Epitel uretra bervariasi dari transisional di uretra pars prostatika, lalu pada bagian lain
berubah menjadi epitel berlapis atau bertingkat silindris dan akhirnya epitel gepeng berlapis
pada ujung uretra pars kavernosa yang melebar yaitu di fosa navikularis. Terdapat sedikit sel
goblet penghasil mukus. Di bawah epitel terdapat lamina propria terdiri atas jaringan ikat fibroelastis longgar.
Pada wanita uretra jauh lebih pendek karena hanya 4 cm panjangnya. Epitelnya bervarias
dari transisional di dekat muara kandung kemih, lalu berlapis silindris atau bertingkat hingga
berlapis gepeng di bagian ujungnya. Muskularisnya terdiri atas 2 lapisan otot polos tersusun
serupa dengan ureter (aw/2001).

ANATOMI FISIOLOGI HATI DAN EMPEDU

HATI
Hati adalah: Kelenjar terbesar dalam tubuh, yang terletak di bagian teratas dari rongga
abdomen sebelah kanan di bawah diafragma. Hati secara luas dilindungi oleh iga-iga.
Hati di bagi dalam empat belahan lobus:
Kanan
Kiri
Kaudata
wadarata

Setiap belahan hati terdiri atas lobus yang berbentuk polyhedral (segi banyak) . Hati terbagi
daLam dua belahan utama: kanan dan kiri, permukaan atas hati berbentuk cembung dan
terletak di bawah diafragma, permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan hati.

UKURAN HATI
Panjang

: Seberapa mili meter

Diameter

: 0,8-2 mm

Isi

: 50 000-100 000 lobus

PEMBULUH DARAH PADA HATI

Arteri Hepatica: Merupakan pembuluh darah yang keluar dari aorta dan memberi seperlima
darah kepada hati. Darah ini mempunyai kejenuhan oxygen 95-100%
Vena Portal: Terbentuk dari vena lienalis dan vena menseterika posterior, memberi 4/5 darah
ke hati dengan kejenuhan oxygen 70%
Vena Hepatica: Mengembalikan darah dari ke vena kava inferior.
Saluran Empedu: terbentuk dari penyatuan kapiler-kapiler empedu dari sel hati.

Cabang vena portal, arteri hepatica dan saluran empedu di bungkus bersama oleh sebuah
jaringan ikat yang disebut kapsul glisson dan membentuk saluran portal. Darah yang berasal
dari vena portal bersentuhan erat dengan sel hati.

Pembuluh darah hilus berjalan diantara lobula hati disebut vena interlobular, pembuluh
darah ini menuangkan isinya kedalam vena lain (vena sub lobuler), Vena ini bergabung
membentuk beberapa vena hepatica dan bergabung langsung kedalam vena cava inferior.

FUNGSI HATI
Fungsi sistim Vascular Hepar: Merupakan salah satu penyimpanan darah utama,
dimana jika terjadi perdarahan dalam sistim sirkulasi sebahagian besar darah normal
di sinusoid hati mengalir ke sirkulasi untuk membantu mengembalikan darah yang
hilang.

Ini

dapat

dilihat

dengan

skema

sebagai

berikut

Peredaran darah ke hati

AORTA

Arteri Hepatika

Disimpan di hati

Vena Porta

Vena mesentrika
dan Vena lienalis

Masuk ke sinusoid hati


Sistim Pencernaan
Masuk Vena hepatica

Vena hepatika
Masuk Vena Cava Inferior
Tempat perdarahan

Fungsi metabolic Hepar: memberikan substansi dan energi dari satu system
metabolisme terhadap lainnya dengan jalan mengolah dan mensintesa berbagai zat
yang di angkut ke seluruh tubuh melalui fungsi metabolisme yang lasim seperti:
1. Metabolisme karbohirat

Menyimpan Glikogen.

Mengubah galaktosa dan Fructose menjadi glucose

Glukoneogenesis

Membentuk senyawa kimia dari hasil perantara metabolisme karbohidrat

Secara singkat mekanismenva terlihat dalam skema.

2. Metabolisme Protein

Deaminasi asam amino

Pembentukan ureum dan mengeluarkan ammonia dari cairan tubuh

Pembentukan plasma protein

Interkonvensi diantara asam amino yang berbeda. dan ikatan yang penting
untuk proses metabolisme tubuh.

Secara sinngkat mekanismenya terlihat dalam skema:

Fungsi metabolic yang lain seperti:

Menyimpan vitamin

Koagulasi darah (pembentukan zat-zat fibrinogen, prothombin, accelerator


globulin, faktor tujuh,)

Penyimpanan zat besi (disimpan dalam bentuk feritin sebagai penyangga


besi darah dan media penyimpanan besi)

Pengeluaran atau eksresi obat - obatan dan zat lain (detoksikasi dan eksresi
berbagai obat-obatan akibat pengaruh hormon-hormon khususnya hormon
steroid yang di sekresi oleh kelenjar endokrin dan diubah secara kimia oleh
hati)

Hati juga berperan dengan isi normal darah

Hati membentuk sel darah merah pada masa hidup janin

Berperan dalam penghancuran sel darah merah

Menyimpan hematin yang diperlukan untuk penyempurnaan sel darah merah


yang baru.

Membersihkan Biiirubin dalam darah

Menghasilkan prothombin dan fibrinogen yang perlu untuk Koagulasi darah

EMPEDU
DEFENISI
Kandung Empedu adalah sebuah Kantong berbentuk terung dan merupakan membran
berotot.

Kandung empedu mudah terkena infeksi, yang dapat merupakan penyebaran dari hati,
usus, atau aliran darah.
LETAK
Kandung empedu terletak di dalam lakukan sebelah permukaan bawah hati.

UKURAN
Panjang

: 8-12 cm

Isi

: kira-kira 60 cc

BAGIAN-BAGIAN EMPEDU
Empedu terdiri dari
Fundus
Badan
Leher
Selaput pembungkus empedu terdiri dari:
Serosa peritoneal (bagian luar)
Jaringan otot (bagian tengah)
Membran mukosa (membran mukosa) terdiri dari: sel-sel epitel silinder yang
mengeluarkan sekret musin
Duktus sisticus: Panjang 3,5 cm terletak pad leher empedu dan bersambung dengan duktus
hepaticus dan membuat saluran empedu ke duodenum.
FUNGSI KANTONG EMPEDU
Sebagai tempat produksi getah empedu.
Memekatkan getah empedu.
Dalam waktu jam setelah makanan masuk, sphincter oddi mengendor -- > getah empedu
masuk ke duodenum, kandung empedu berkontraksi.
SUSUNAN GETAH EMPEDU
Terdiri dari:

Cairan bersifat alkali yang disekresikan oleh sel hati, jumlah produksi: 500-1000
cc/hr. Sekresi ini dipercepat bila terjadi pencernaan lemak.

80% getah empedu terdiri dari air, garam empedu, pigment, cholesterol, musin dan
zat-zat lain.

Pigment empedu terbentuk dalam system reticule endothelium yang berasal dari
pecahan hemoglobin eritrosit yang rusak dan disalurkan ke hati. Diekresikan dalam
empedu.
Garam empedu : bersifat digestive.

FUNGSI GETAH EMPEDU

Saat pencernaan lemak terjadi, lemak dipecahkan dalam bagian - bagian kecil dan
membantu kerja lipase, sifatnya alkali untuk menetralkan makanan yang bersifat
asam dari lambung.
Fungsi choleretik: menambah sekresi empedu.
Fungsi cholagogi: Menyebabkan kandung empedu mengosongkan diri.
Pigment empedu: Masuk ke usus halus menjadi sterkobilin, memberi warna feces,
sebagian diabsobsi kembali oleh aliran darah dan membuat warna pada urine yaitu
urobilin.
Garam Empedu: bersifat digestive dalam melancarkan ensim lipase untuk memecah
lemak dan membantu absorbsi lemak yang telah di cerna (glycerin dan asam lemak)
dengan cara menurunkan tegangan permukaan dan memperbesar daya tembus
endothelium yang menutupi villi usus.

Dari skema ini menunjukan mekanisme pembentukan dan eksresi Bilirubin dalam empedu
yaitu bila sel darah merah habis masa hidupnya (120 hari) maka menjadikannya tidak
bertahan lama dalam system sirkulasi, kemudian membran selnya pecah dan hemoglobin
yang terlepas difagisotosis oleh jaringan makrofag (system retikulo endothelia) di seluruh
tubuh. Pecahan ini menjadi globin dan heme, kemudian cincin heme terbuka untuk memberi
keping besi bebas yang akan ditransport kedalam darah oleh transferin dan rantai lurus dari
4 inti piron, terbentuk oleh pigment empedu+ membentuk biliferbin+direduksi4Bilirubin
bebas kemudian masuk+plasma & protein plasma ->menjadi Bilirubin bebas+di absorbsi
oleh sel hati menjadi +Bilirubin terkonjunggasi.

Hasil ini bila masuk kedalam uses, maka diubah+bakteri menjadi-*urobilinogen diubah dan
teroksidasi menjadi+sterkobilin, beberapa urobilinogen di rearbsorbsi kedalam darah oleh
+mukosa usus kemudian didalam feces teroksidasi menjadi sterkobilin yang akan mewarnai
feces.
Sedangkan 5% lainnya hasil rearbsorbsi tersebut diekresikan oleh ginjal kedalam urine
kemudian terpapar dengan udara didalam urine->teroksidasi menjadi4urobilin yang pada
akhirnya urine menjadi berwarna.

PENGKAJIAN HATI DAN EMPEDU


1. Pengkajian Hati
a. Data Subyektif; Pengkajiannya meliputi

1) Status Comfort
Dari discomfort abdomen dan pruritis. Biasanya klien mengeluh discomfort pada
kuadran kanan abdomen (nyeri hebat). Nyeri tersebut biasanya dihubungkan
dengan adanya infeksi. Sedangkan gatal atau pruritis dihubungkan dengan
adanya joundice.
2) Status Nutrisi
Gangguan status nutrisi berupa anorexsia, nausea dan vomiting. Kaji pula faktor
presipitatus, hubungan dengan intake alkohol atau makanan. Biasanya pada
klien dengan kronic liver diberikan diit khusus, misalnya : rendah Na, gangguan
intake protein, dan pembatasan air.
3) Status cairan dan elektrolit
Kurangnya volume cairan dan elektrolit akibat mual, muntah atau perdarahan
akut dari sirosis. Ada juga retensi cairan dari sodium abnormal dan tertahannya
air (cairan).
4) Pola eliminasi
Jika obstruksi empedu, urine klien putih keabuan, dari feses dan urine warnanya
gelap. Catat menurunya urine output sebagai akibat dari tertahannya air dan Na.
5) Status energi/kelemahan
Dengan intake nutrisi yang inadekuat, cairan yang inadekuat, sehingga klien
tidak mampu melakukan aktivitas secara baik karena lemah, sehingga klien
butuh waktu yang cukup untuk memulihkan energinya tersebut.
6) Persepsi, kognitif dan psikomotor
Perubahan fungsi neurologi terutama berhubungan dengan saraf-saraf perifer
dan fungsi kognitifnya bisa meningka. Sehingga menimbulkan gangguan sensasi
di kaki, perubahan ingatan, pelupa, dan gangguan koordinasi.
7) Terpapar terhadap toxin
Misalnya : alkohol, obat-obatan, zat kimia, dan virus. Riwayat obatobatan dan
alkohol yang perlu dikaji intakenya dan kapan konsumsi terakhirnya. Riwayat
pekerjaan yang perlu dikaji lingkungan kerja juga bisa sebagai sumber virus.
b. Data Objektif; Pengkajian meliputi Kaji seluruh tubuh
1) Penampilan umum ( sakit berat atau ringan ) 2. Inspeksi
Secara umum perawat perlu melihat status cairannya, tanda vitainya, suhu,
turgor, kelembaban mukosa membran, edema dan perilakunya. Secara khusus

inspeksi dilakukan terhadap luas abdomen, distensi atau dilatasi versa peri
umbilikus dan asites.
2) Status mental
Yang mana perawat melihat sikap dan kewaspadaan dari klien, ekspresi
wajahnya.
3) Palpasi dan perkusi
Untuk melihat adanya nyeri dan adanya cairan. Kaji pula ukuran, massa di hati,
lunaknya hati dan biasanya terjadi pembesaran limfa pada klien yang kronik saat
di palpasi atau diperkusi dan ukur pula lingkar perut klien.
c. Test-test Diagnostik
Tindakan tersebut memerlukan biaya yang cukup besar dan menyebabkan
discomfrot pada klien. Pada setiap rumah sakit mempunyai cara yang berbeda
dalam persiapan klien, menyangkut persiapan rutin, termasuk fisik ajar dan monitor
klien sebelum dan sesudah test diagnostik tersebut.
1) Test Laboratorium
Ini

dilakukan

untuk

menentukan

seriusnya

penyakit.

Pemeriksaan

test

laboratorium untuk fungsi hati


Fungsi dan Test
1.

Metabolisme Lemak,
Kolesterol (total dan
ester)

Prosedur dan persiapan

Interprestasi

Darah - pasien
puasa

Normal 140-220 mg/dl, menurun pada orang dengan


penyakit hepar. Obstuksi, ester menurun, cholesterol
meningkat sesuai dengan meningkatnya usia.

Darah - tidak ada persiapan


yang khusus

Normal 150 - 250 mg/dl, menurun pada orang dengan


penyakit hepar dan obstruksi meningkat

Darah - tidak ada persiapan


yang khusus

Normal 6-8 mg/dl, ukur semua protein pada orang dengan


penyakit hepar.

Albumin normal 3,4 -5


gr/dl dibuat hanya pada
orang dengan penyakit
hepar

Darah - tidak ada persiapan


yang khusus.

Normal protein total 100, albumin 54-68% dan globulin 1217%. Aglobulin 7-15%, globulin 9 -19% menurun pada
orang dengan penyakit hepar dan infeksi. Obstruksi
meningkat.

Protein elektro Phoresis

Darah tidak ada persiapan


yang khusus

Sama dengan pada tes albumin di atas

Darah - tidak ada persiapan


yang khusus

IPA dan IPG meningkat pada cirosis chronis IG6 meningkat


cirosis dan hepatitis A - 1 mg
meningkat.

Darah - tidak ada persiapan


yang khusus

Normal 10-20 mg/dl, pada orang dengan penyakit hati dan


pengkonsumsian obat, maka is menurun. Variasi dengan
diit dan volume cairan.

Fosfolipid

2. Metabolisme Protein
Protein serum (total)

Imonoglobulin IPA dan


IPG

Blood urea nitrogen


(BUN)

Serum prothromtime (PT)


Darah; persiapan
Serum partial
tromboplastin time (PTT)
dan aktivated partial
tromplastin time (APPT)

Kadar darah amonia

Darah persiapan
kurang

Normal 12-15 sec/100. Meningkat pada penyakit liver


(produk kurang obstruksi malabsorbsi Vit. K) setelah diberi
vitamin K tetap indikasi kerusakan.
Normal PTT : 68-82 sec dan standar normal APTT : 32-64
sec penyakit hepar meningkat (hepar tidak mampu produk
elotting time).

Darah : butuh puasa

Normal < 75 mg/100ml penyakit hati dan


meningkat

struksi akan

Darah persiapan kurang

Total : conjugated dan unconjugate N : 0,1-1 mg/ 100 ml

Urine persiapan kurang

Normal billirubin kurang jika conjungate billirubin lebih dari


0,4 mg/100 ml, keluar lewat urin ada sebelum kuning.

Urine 24 jam/2 hr setelah


dikumpulkan

Normal 0,2 - 1,2 unit urine segarany kurang berwarna.

Specimen feses, persiapan


kurang

Normal 90 - 280 mg/hr.


Normal GGT meningkat, AST
meningkat LPH meningkat

Total bilirubin

Urine billirubin

Urobilinogenurine

- Feses urobiIlinogen
Darah persiapan
kurang
Enzim-enzim darah Asparate
amino transferase (AST), biasa
disbt; serum glutamic oxaloa
cefic trans aminase (SGOT).
Alanine amino transferase
(ALT)
biasa ditulis serum glutamic
pyruvic transaminase SGPT).
Gamma glutamyl, transse
phidase (CGT).

2) Test khasus
a. Biopsi liver: membantu menetukan penyakit liver
Jarum ditusuk melalui dada / abdominal ke hati, dan ambit sepotong jaringan,
untuk pemeriksaan.
Kontra indikasi : infeksi lobus paru akrena asites, klien tidak kooperatif. Untuk
cegah perdarahan beri Vit K, perenteral untuk beberapa hari sebelum dan
sesudah biopi. Biopsi tidak dilakukan jika protrombin time kurang dari 40%.
Penjelasan prosedur yaitu penting nafas panjang dan ulang seat jam masuk,
dada diem. Rumah sakit butuh infom concent sebelum tindakan. Puasa
makan atau minum sebelum biopsi dan 30 menit sebelum beri sedatifa,
prosedur lihat tentang pungsi.
Post biopsi cegah perdarahan, peritonitis make nadi dan tensi cek tiap 30 mat
I, lokasi biopsi tekan dengan bantalan pasir dengan baring miring kanan

dengan bantalan tadi di bawah garis rusuk untuk beberapa jam sesudah
biopsi. Bedrest pertahankan 24 jam sesudah biopsi.
b. Endoscopy : Tube masuk lewat anus atau esophagus (peritoneuscopy),
esophagoscopy atau gastrocopy untuk varises esophagus. Puasa perlu dan
beri sedativa sebelum prosedur.
c. Parasentesis Untuk angkat cairan peritoneum (cairan asites) untuk citologi
dan pemeriksaan lab. Lain, atau untuk aliran cairan asites. Bile distres
pernapasan, nyeri abdomen hebat, disfungsi cardiac, perlu parasintesis.
Asites timbul lagi bukan dari parasintesis tapi oleh komplikasi. Komplikasi
parasintesis peritonitis bile tidak steril. Perdarahan peritoneal akibat trauma
pembuluh darah, monitor TV, suhu, urine out put, suhu kulit kelembaban, juga
kaku abdomen. Pengangkatan dalam jumalah yang banyak mengakibatkan
hypovolemic dan shock sebab cairan berpindah dari intra vaskuler
d. Test Radiologi
Bantu indentifikasi penyebab disfungsi liver, tes untuk gler, abdomen, teln
barium, barium enema; dan gastros copy, jugs untuk kondisi patologi GI yang
gejalanya serupa.
e. USG : Tolong bedakan antara penyebab kuning dengan tinggi serum
billirubin, metastase, hematomas dan abses.
Persiapan : relatif tak boleh makan untuk 8-12 jam sebelum prosedur, sebab
gas dalam GI bisa bedakan gambaran Cairan harus cukup.
f.

CT-Scan : Tolong identifikasi masalah serupa, bisa pakai zat kontras puasa 812 jam pre tes, jika pakai kontras, Kaji elergi terhadap iodine. barium enema
dilakukan kurang dari 4 hari pre CT-Scan post CT-Scan.

g. Radio Nudide Imaging : Radio isotop heri IV, lalu telentang, beri deteksi di
abdomen area liver, radio isotop, billium 67 (67 ba) kelar lewat GI, cegah
absorbsi di GI maka beri laxansive enema, dll.
h. Ukur tekanan angiography dan tekanan portal kateterisasi arteri hepatika,
sistem venous portal, dan ikuti dengan ijenksi zat kontras sebelum dilakukan
angiography.

Sesudah

angiography

dan

baca

tekanan.

Observasi

perdarahan, dan sering cek TV (tiap 15 menit - 1 jam tiap 30 mnt untuk 1 jam,
tiap 1 jam untuk 4 jam, dan stabil tiap 4 jam. bedrest untuk 24 - 48 jam dan
tidur posisi ke samping untuk kurangi perdarahan ke rongga peritoneal walau
minimum pada klien cirrosis dan udem. Maka post prosedur ...... monitor TV,

status mental, urine output, suhu kulit, kelembaban mukosa dan monitor
hypocalemia. Lab ..... protein dan K+.
i.

Lavage peritoneal .... Kaji kerusakan liver akibat trauma abdomen pads yang
gangguan kesadaran. Caranya dapat open metode atau dose metode. Tanam
katetr dialisa dan sedot darah -darah dari rongga peritoneal, dilakukan
dengan Na, CI, 0,9 %. Pada open metode .... Abdomen dibuka, pasang
kateter dialisa, bila tidak ada darah lagi kateter diangkat. Lavage peritoneal
butuh penjelasan klien dan prang penting lainnya dan informed concent.
Pasang NGT dan Floley kateter untuk cegah penetrasi

PENGKAJIAN KANDUNG EMPEDU

Data Subjektif :
Yang perlu pengkajian status kesehatan klien melalui riwayat dan potensial disfungsi,
kantong empedu dan sistem duktus biliary aau excokrin pankreas. Pengkajian
berfokus pada status kenyamanan, nutrisi, cairan dan elektrolit. Pola eliminasi dan
adanya kelemahan dan kelelahan.
Yang perlu dikaji pada status rasa nyaman : nyeri dan gatal (Pruritis) untuk orang
dengan disfungsi gallbladder dan saluran empedu atau masalah pankreas ada
tanda nyeri. Dapat kolic terus menerus atau bila makan pada kuadran kanan
atas, untuk pankreas nyeri diepigastrik, atau dikuadran kiri atau kanan. Ini juga
bisa dihubungkan dengan makan atau minum alkohol. Kuning pada kulit, sklera,
terjadi karena atau penyebabnya adalah tersimpannya pigmen empedu karena
meningkatnya serum bilirubin dan adanya gatal karena adanya bilirubin.
Status nutrisi : kliens ering mengalami anoreksia, naisea, vomiting, dan berat
badan menurun. Untuk yang kronic beri diit khusus. Pengkajian difokuskan pada
intake alkohol dan kopi.
Status cairan dan elektrolit : adanya nausea dan vomiting, serta bisa juga terjadi
perdarahan pada pakreatitis akut, maka penting dicatat abnormalitas cairan dan
tanda-tanda kehilangan cairan misalnya : lemah, BB menurun, sincope dan
pusing.
Pola eliminasi : terjadi pada gangguan eliminasi intestinal dan urinari. Misalnya :
warna urine gelap atau pekat. Terjadinya dotosite cairan menyebabkan
menurunnya urin output.
Kelemahan dan kelelahan. Penting kaji pada tingkat kelemahan, lelah dan lesu
meski bisa dikontrol, klien perlu mengerti tentang pemecahan masalah ini karena

membutuhkan waktu yang cukup bisa sampai 8 minggu sesudah pengobatan


efektif.

Data Obyektif : yang perlu dikaji dalam hal ini : volume pembuluh darah, observasi
karakteristik tanda dan disfungsinya dan tes abdomen.
Inspeksi : setelah kaji volume vaskuler, kaji pula status mental, riwayat dan
kesadarannya dan perlu didokumentasikan. Volume darah kurang sebab alkohol,
obat-obatan, atau karena komplikasi disfungsi tersebut. BB klien menurun dan
kulitnya berwarna kuning. Inspeksi lihat kuning pada telapak tangan, sklera dan
telapak kaki. Perlu dikuatkan lagi dengan test Lab. Pada isnpeksi abdomen
ditemukan distensi dan ukur lingkar perut untuk kaji asietes.
Palpasi dan perkusi : periksa abdomen dengan lampu terang dan palpasi dalam.
Pada pankreastitis kronic ada asietes dan kaji atau palpasi untuk mengetahui
cairan atau bukan.

Test Diagnostik
Pada macam-macam ini butuh contoh darah. Kadang timbul rasa sakit sebagian
butuh istirahat. Perawat bertanggung jawab menyiapkan klien untuk test, persiapan
fisik klien, persiapan bervariasi pada setiap rumah sakit maka perawat perlu belajar
itu sendiri.

Test Lab
Bilirubin total
Conjugate
Uncomnyugate
Urin bilirubin
Urobillinogen
Feses dengan urobillinogen

Perlu belajar tentang status pembekuan darah dan alkali fosfatase. Bilirubin yang keluar dari
ibu. Bilirubin diextesikan dalam empedu maka jika ada obstruksi maka test bilirubin menjadi
abnormal. Masalah dari disfungsi liver bisa menyebabkan masalah glap bladder, sehingga
bisa ditemukan hasil labnya :
Bilirubin total : direct dan indirect meningkat
Urin bilirubin : positif (abnormal)
Urin urobillinogen : menurun pada obstruksi dan emningkat pada penyakit liver.
Normalnya 0,2 - 1,2 unit.

Feses urobillinogen : normalnya 90 - 128 mg/hr, sehingga pewarna, kalau tidak


ada maka feses berwarna abu-abu sampai putih. Jika ada hemolisis maka
meningkat jumlahnya.
Alkali fosfatase :sedikit meningkat pada penyakit liver dan meningkat hebat pada
obstruksi.
Serum prothrombine time (PT) : normalnya 12-15 detik 100% meningkat pada
obstruksi atau pada penyakit liver. Jika normal hanya sesudah beri Vit. K
tandanya penyakit liver.
Pasien harus banyak minum, sebab dehidrasi akan menurunkan kemampuan ultrasonografi
untuk membedakan antara organ dan sekitar jaringan.

CT Scan
Digunakan untuk kaji glat bladder, saluran empedu atau pada masalah pankreas.
Dapat digunakan medium (zat kontras) untuk membantu penglihatan saluran
empedu. Klien pasa 8-12 jam sebelum test.

RN I ( Radio Nude Imaging)


Intravena injeksi 19 mTc derivat imino dicetic menyebabkan meningkat dalam tubuh.
Klien dalam status puasa dilakukan pada keadaan akuc cholocystitis. Persiapan klien
utnuk cholocystografi
Jelaskan prosedur
Cek alergi terhadap lodium / zat kntras
Bed dosis radio opaque sesuai instruksi (biasanya 3 gr)
Monitor nausea, vomiting, diare dan tanda keracunan. jika terjadi muntah obat
radioopaque meski diulang. Jika perawat tidak bisa lewat mulut, beri IV
diradiologi.

Bed diit sesuai : - bebas lemah pada makan sore, -tidak makan setelah sore
-bisa beri teh, kopi, atau air putih pada pagi sebelum test.

Bed laxaneia sesuai perintah sehingga persiapan utnuk colicyctosgram

Evolangiografi
Test rontgen untuk saluran empedu, ditujukan pada adanya batu, strictur atau tumor,
obat radiopaque diberi IV atau langsung ke saluran empedu dengan jarum atau
kateter saat operasi. Bisa juga disuntik melalui kulit dan dinding abdomen diteruskan

ke dalam saluran empedu dalam zat utama dari liver. Teknik untuk menentukan
lokasi obstruksi, dll.
Prosedur ini perlu ahli bedah untuk menentukan loksasi obstruksi, apakah perlu
menimbulkan kebocoran empedu sehingga terjadi peritonitis atau perdarahan oleh
ruptur : pembuluh darah karena tindakan yang kasar.