Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN JIWA

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI


(TAKS) SESI III

OLEH:
KELOMPOK II A
TINGKAT 4 D IV REGULER
NAMA KELOMPOK
NI WAYAN EKA DARMAYANTI

P07120213003

I KADEK HENDRAJAYA

P07120213005

I WAYAN MAY ARTHA.S

P07120213006

NI KETUT AYU WIRATNI

P07120213032

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN DIII KEPERAWATAN
TAHUN 2015

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI


(TAKS)
A. Pengertian
TAKS adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien
dengan masalah hubungan sosial (Budi Anna Kelliat & Akemat, 2005)
B. Tujuan
1. Umum : Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok
secara bertahap.
2. Khusus :
a. Klien mampu memperkenalkan diri
b. Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
c. Klien mampu berinteraksi dengan anggota kelompok
d. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegaiatan
TAKS yang telah dilakukan
C. Landasan Teori
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan antara
satu dengan yang lain, saling ketergantungan serta mempunyai norma yang
sama (struart and sundeen, 2005 : 10)
TAK adalah manual, rekreasi dan teknik kreatif untuk memfasilitasi
pengalaman seseorang serta meningkatkan respon sosial dan harga diri.
aktivitas yang digunakan sebagai terapi di dalam kelompok yaitu membaca
puisi, seni, musik, menari dan literature (Wilson dan Kneisl, 1992).
Terapi aktivitas kelompok sering digunakan dalam praktik kesehatan jiwa,
bahkan merupakan hal penting dari keterampilan terapeutik dan ilmu
keperawatan. Terapi kelompok telah diterima profesi kesehatan.
1. Model Terapi Aktivitas Kelompok
a. Focal conflic model
Dikembangkan berdasarkan konflik yang tidak disadari dan berfokus
pada kelompok individu. Tugas leader adalah membantu kelompok
memahami konflik dan membantu penyelesaian masalah. Misal ;
adanya perbedaan pendapat antar anggota, bagaimana masalah
ditanggapi anggotadan leader mengarahkan alternatif penyelesaian
masalah.
b. Model komunikasi
Dikembangkan berdasarkan teori dan prinsip komunikasi, bahwa tidak
efektifnya komunikasi akan membawa kelompok menjadi tidak puas.

Tujuan membantu meningkatkan ketrampilan interpersonal dan social


anggota kelompok.

Tugas leader adalah memfasilitasi komunikasi

yang efektif antar anggota dan mengajarkan pada kelompok bahwa


perlu adanya komunikasi dalam kelompok, anggota bertanggung jawab
terhadap apa yang diucapkan, komunikasi pada semua jenis : verbal,
non verbal, terbuka dan tertutup, serta pesan yang disampaikan harus
dipahami orang lain.
c. Model interpersonal
Tingkah laku (pikiran, perasaan dan tindakan) digambarkan melalui
hubungan interpersonal dalam kelompok. Pada model ini juga
menggambarkan sebab akibat tingkah laku anggota merupakan akibat
dari tingkah laku anggota yang lain. Terapist bekerja dengan individu
dan kelompok, anggota belajar dari interaksi antar anggota dan
terapist. Melalui proses ini, tingkah laku atau kesalahan dapat
dikoreksi dan dipelajari.
d. Model psikodrama
Dengan model ini dapat memotivasi anggota kelompok untuk
berakting sesuai dengan peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa
yang lalu, sesuai peran yang diperagakan. Anggota diharapkan dapat
memainkan peran sesuai peristiwa yang pernah dialami.
2. Metode
a. Kelompok didaktik
Suatu metode pendekatan yang dapat dipergunakan untuk berbagai
tujuan dalam terapi kelompok seperti: untuk mentransfer informasi,
membentuk kelompok, menjelaskan proses penyakit. Sering kali
pembelajaran seperti ini berfungsi sebagai kekuatan pengikat hingga
faktor-faktor terapeutik lainnya beroperasi. Di samping itu, penjelasan
dan klarifikasi merupakan faktor yang berfungsi sebagai agen terapi
yang efektif.
b. Kelompok sosial terapeutik
Metode

untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada

disekitar klien, sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari

inter personal (satu dan satu), kelompok, dan massa. Pembicara tidak
mempunyai focus tertentu tetapi lebih mengarah kebersamaan dan rasa
senang. Serta kegiatan antara perawat dengan pasien atau anggota tim
kesehatan lainnya untuk membantu mengatasi stress emosi, penyakit
fisik krisis, tumbuh kembang, atau penyesuaian soial. Perawat secara
aktif mendengarkan dan memberi respon kepada pasien dengan cara
menunjukan sikap mau menerima dan mau memahami sehingga dapat
mendorong pasien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya.
Selain itu membantu pasien untuk melihat dan memperhatiakan apa
yang tidak disadari sebelumnya.
c. Kelompok insipirasi represif
Metode kelompok yang sangat terstruktur, kosesif, mendukung, yang
meminimalkan pentingnya dan memaksimalkan nilai diskusi didalam
kelompok dan persahabatan. Kelompoknya mungkin saja besar,
anggota kelompok dipilih sering kali kerena merekamempunyai
problem yang sama untuk dikembalikan ke dalam situasi yang sama
seperti sedia kala.
d. Psikodrama
Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang
bertitik

tolak

dari

permasalahan

permasalahan

psikologis.

Psikodrama bisanya digunakan untuk terapi, yaitu agar siswa


memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, menemukan
konsep diri, menyatakan reaksi terhadap tekanantekanan yang
dialaminya Psikodrama adalah upaya pemecahan masalah melalui
drama.
Jadi definisi psikodrama adalah tehnik bermain peran guna upaya
pemecahan masalah psikis yang dialami oleh individu dan dituangkan
dalam bentuk permainan peran dengan menggunakan metode drama.
e. Kelompok interaksi bebas
Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa
tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan
diterapkan di dalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang

berlaku, interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika
aturan - aturan dan nilai nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik.
Jadi Kelompok interaksi bebas adalah suatu kelompok yang dapat
berinterkasi

secara

bebas

sehingga

dapat

menyalurkan

dan

mengekspresikan masalah yang dirasakan (sharing) kepada anggota


kelompok lainnya.
3. Fokus Terapi Aktivitas Kelompok
a. Orientasi realitas
Maksudnya adalah memberikan terapi aktivitas kelompok yang
mengalami gangguan orientasi terhadap orang, waktu dan tempat.
Tujuan adalah klien mampu mengidentifikasi stimulus internal
(pikiran, perasaan, sensasi somatic) dan stimulus eksternal (iklim,
bunyi, situasi alam sekitar), klien dapat membedakan antara lamunan
dan kenyataan, pembicaraan klien sesuai realitas, klien mampu
mengenal diri sendiri dan klien mampu mengenal orang lain, waktu
dan tempat. Bentuk kegiatan TAK orientasi realitas adalah penganalan
orang, tempat, dan waktu yang dikerjakan dalam kelompok. Tahapan
TAK orientasi realita di bagi menjadi tiga antara lain :
1) Sesi I: Pengenalan orang.
2) Sesi II: Pengenalan tempat.
3) Sesi III: Pengenalan waktu.
Indikasi terapi orientasi realitas pada klien dengan : gangguan
orientasi realita (GOR), halusinasi, waham, ilusi dan depersonalisasi
yang sudah dapat berinteraksi dengan orang lain, klien kooperatif,
dapat berkomunikasi verbal dengan baik, dan kondisi fisik dalam
keadaan sehat.
b. Sosialisasi
Maksudnya adalah memfasilitasi psikoterapist untuk memantau dan
meningkatkan hubungan interpersonal, memberi tanggapan terhadap
orang lain, mengekspresikan iden dan tukar persepsi dan menerima
stimulus eksternal yang berasal dari lingkungan. Tujuan meningkatkan
hubungan interpersonal antar anggota kelompok, berkomunikasi,

saling memperhatikan, memberikan tanggapan terhadap orang lain,


mengekspresikan ide serta menerima stimulus eksternal.
Setelah menjalani TAK sosialisasi, diharapkan klien mampu :
1) Memperkenalkan diri.
2) Berkenalan dengan anggota kelompok.
3) Bercakap-cakap dengan anggota kelompok.
4) Menyampaikan dan membicarakan topik pembicaraan.
5) Menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang lain.
6) Bekerjasama dalam permainan sosialisasi kelompok.
7) Menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAK sosialisasi
yang telah dilakukan.
TAK sosialisasi terdiri dari tujuh sesi meliputi:
1) Sesi I: Memperkenalkan diri.
2) Sesi II: Berkenalan dengan anggota kelompok.
3) Sesi III: Bercakap-cakap dengan anggota kelompok.
4) Sesi IV: Menyampaikan topik pembicaraan.
5) Sesi V: Menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi dengan
orang lain.
6) Sesi VI: Bekerjasama dalam permainan sosialisasi kelompok.
7) Sesi VII: Menyampaikan pendapat tentang manfaat
Indikasi terapi sosialisasi pada klien dengan: kurang berminat atau
tidak ada inisiatif untuk mengikuti kegiatan ruangan, sering berada di
tempat tidur, menarik diri, kontak social kurang, harga diri rendah,
gelisah ,curiga, takut dan cemas, tidak ada inisiatif memulai
pembicaraan, menjawab seperlunya, jawaban sesuai pertanyaan, dan
dapat membina trust, mau berinteraksi dan sehat fisik.
c. Stimulasi persepsi
Maksudnya adalah membantu klien yang mengalami kemunduran
orientasi, stimulasi persepsi dalam upaya memotivasi proses berpikir
dan

afektif

serta

mengurangi

perilaku

mal

adaptif.

Tujuan

meningkatkan kemampuan orientasi realita, memusatkan perhatian,

intelektual, mengemukakan pendapat dan menerima pendapat orang


lain dan mengemukakan perasaannya.
TAK stimulasi persepsi mengontrol prilaku kekerasan
1) Sesi I: Mengenal prilaku kekerasan.
2) Sesi II: Mencegah perilaku kekerasan dengan kegitan fisik.
3) Sesi III: Mencegah perilaku kekerasan dengan kegiatan interaksi
sosial asertif.
4) Sesi IV: Mencegah perilaku kekerasan dengan kegitan patuh
minum obat.
5) Sesi V: Mencegah perilaku kekerasan dengan kegiatan ibadah.
TAK stimulasi mengontrol halusinasi
1) Sesi I: Mengenal halusinasi.
2) Sesi II: Mengontrol halusinasi: menghardik halusinasi.
3) Sesi III: Mengontrol halusinasi: melakukan kegiatan.
4) Sesi IV: Mengontrol halusinasi: bercakap-cakap.
5) Sesi V: Mengontrol halusinasi: minum obat teratur.
TAK stimulasi persepsi harga diri rendah
1) Sesi I: mengidentifikasi aspek positif.
2) Sesi II: Melatih Kemampuan dan aspek positif.
Indikasi terapi stimulasi persepsi pada klien dengan: gangguan
persepsi yang berhubungan dengan nilai nilai, menarik diri dari
realita, inisiati atau ide ide yang negatif, kondisi fisik sehat, dapat
berkomunikasi verbal, kooperatif dan mengikuti kegiatan.

d. Stimulasi sensori
Maksudnya adalah menstimulasi sensori pada klien yang mengalami
kemunduran

sensoris.

Stimulasi

sensori

dapat

meningkatkan

kemampuan sensori, memusatkan perhatian, kesegaran jasmani, dan


mengekspresikan perasaan.
Bentuk terapi aktivitas kelompok terdiri atas tiga macam yaitu
stimulasi suara, stimulasi gambar atau gabungan. Dalam terapi

aktivitas kelompok di masyarakatada tiga sesi yang dapat diterapkan


meliputi :
1) Sesi I: Stimulasi sensori: musik.
2) Sesi II: Menggambar.
3) Sesi III: Menonton tv atau video.
Tujuan TAK stimulasi sensori meliputi:
1) Klien mampu berespon terhadap suara yang didengar.
2) Klien berespon terhadap gambar yang dilihat.
3) Klien berespon terhadap gambar video yang dilihat.
4) Klien mengekspresikan perasaan melalui gambar.
e. Penyaluran energy
Maksudnya adalah untuk menyalurkan energi secara konstruktif.
Tujuan menyalurkan energi dari destruktif menjadi konstruktif,
mengekspresikan perasaan dan meningkatkan hubungan interpersonal.
D. Indikasi
Adapun indikasi dan kontra indikasi terapi aktivitas kelompok (Depkes RI
(1997) adalah :
1. Semua klien terutama klien rehabilitasi perlu memperoleh terapi aktifitas
kelompok kecuali mereka yang : psikopat dan sosiopat, selalu diam dan
autistic, delusi tak terkontrol, mudah bosan.
2. Ada berbagai persyaratan bagi klien untuk bisa mengikuti terapi aktifitas
kelompok antara lain : sudah ada observasi dan diagnosis yang jelas, sudah
tidak terlalu gelisah, agresif dan inkoheren dan wahamnya tidak terlalu
berat, sehingga bisa kooperatif dan tidak mengganggu terapi aktifitas
kelompok.
3. Untuk pelaksanaan terapi aktifitas kelompok di rumah sakit jiwa di
upayakan pertimbangan tertentu seperti : tidak terlalu ketat dalam tehnik
terapi, diagnosis klien dapat bersifat heterogen, tingkat kemampuan
berpikir dan pemahaman relatif setara, sebisa mungkin pengelompokan
berdasarkan problem yang sama.
4. Klien menarik diri yang telah mulai melakukan kontak verbal dengan
pasien lainnya.

5. Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespon sesuai dengan


stimulus.
E. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan Tanya jawab
3. Bermain peran dan simulasi
F. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAKS berlangsung, khususnya pada tahap
kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan
TAK. Untuk TAK sesi 1, di evaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan
tujuan TAK. Untuk sesi 1, di evaluasi kemampuan klien dalam
memperkenalkan diri.
G. Pengorganisasian TAKS
1. Terapis
a. Leader
b. CO Leader
c. Fasilitator
d. Observer
Uraian tugas terapis
1) Leader bertugas menganalisa dan mengobervasi pola-pola komunikasi
dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk menyadari,
dinamisasi kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok untuk
menetapkan tujuan dan membuat peraturan.
2) Co Leader bertugas mendiskusikan apa yang harus dilakukan
selanjutnya, memotivasi kesatuan kelompok dan membantu kelompok
untuk berkembang dan bergerak secara dinamis.
3) Fasilitator bertugas memberikan stimulus dan motivasi kepada klien
yang kurang ataupun tidak aktif terlibat dalam terapi aktivitas
kelompok serta menjadi contoh bagi klien lain selama proses kegiatan
TAKS
4) Observer bertugas mencatat serta mengamati respon klien, jalannya
aktivitas terapi, peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta
drop out ( tidak dapat mengikuti kegiatan sampai selesai ).
2. Nama klien yang mengikuti TAKS
a. .
b. .
c. .
d. .

e. .
f. .
3. Alat-alat
a. Tape
b. Kertas
c. Pulpen
d. Bola

PEDOMAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI


DI RUANG KUNTI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI BALI
SENIN 8 DESEMBER 2014
SESI I
SESI I : Memperkenalkan Diri
TAKS Sesi 1
A. Tujuan
Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, nama
panggilan, asal dan hobi.
B. Pra Interaksi
1. Terapis Sesi I
a. Leader
: Luh Wily Sulastini
b. CO Leader
: Ni Putu Lilis Chandrawati
c. Fasilitator
: Ni Ketut Windu Sariningsih
d. Observer
: I Nyoman Agus Payadnya
3. Klien
a. Indikasi : Memilih klien dengan indikasi yang menarik diri
b. Nama Pasien :
1) Purwaningsih
2) Ni Made Suci
3) Ketut Suci
4) Budiani
5) Asih
6) Ariani
c. Metode
1) Dinamika kelompok
2) Diskusi dan Tanya jawab
3) Bermain peran/simulasi
d. Alat
1) Tape
2) Bola
3) Buku catatan dan pulpen
4) Jadwal kegiatan klien
e. Waktu pelaksanaan
Hari/tanggal
: Kamis, 11 Desember 2014
Pukul
: 10:00-10:20 Wita
f. Setting
1) Tempat
Ruang Kunti RSJ Provinsi Bali
2) Denah :

Co

Co

K
K

K
K

K
F

Keterangan :
Leader

Co Leader

Observer

Pasien

Fasilitattor

4. Interaksi
a. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
1) Memberi salam terapeutik
: salam dari terapis
2) Evaluasi/Validasi
: menanyakan perasaan klien saat ini
3) Kontrak :
Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu memperkenalkan diri
Menjelaskan aturan main, yaitu sebagai berikut :
a) Jika ada klien yang meninggalkan kelompok harus meminta
izin kepada terapis
b) Lama kegiatan 20 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
b. Tahap kerja
1) Jelaskan kegiatan, yaitu kaset pada tape recorder akan dihidupkan
serta Bola akan diedarkan berlawanan dengan arah jarum jam
(kearah kiri) dan pada saat tape dimatikan maka anggota kelompok
yang memegang Bola memperkenalkan diri.
2) Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan Bola berlawanan
dengan arah jarum jam
3) Pada saat tape dimatikan anggota kelompok yang memegang Bola
mendapat giliran untuk menyebutkan : salam, nama lengkap, nama

panggilan, hobi dan tempat asal. Dimulai dari terapis sebagai


contoh.
4) Tulis nama panggilan pada kertas/papan nama dan pakai
5) Ulangi tiga langkah terakhir sampai semua anggota kelompok
mendapat giliran
6) Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan
memberi tepuk tangan
5. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Member pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
1) Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih memperkenalkan
diri kepada orang lain di kehidupan sehari-hari
2) Memasukan kegiatan memperkenalkan diri pada jadwal kegiatan
harian klien
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati kegiatan berikut yaitu berkenalan dengan anggota
kelompok
2) Menyepakati waktu dan tempat
6. Evaluasi
a. Evaluasi Input
1) Tim yang berjumlah 8 orang yang terdiri dari 1 leader, 1 co leader,
1 observer dan 5 fasilitator
2) Lingkungan memiliki syarat luas dan sirkulasi baik
3) Peralatan tape
4) Tidak ada kesulitan memilih klien yang sesuai kriteria dan
karakteristik klien untuk melakukan terapi aktivitas kelompok
sosialisasi
b. Evaluasi proses
1) Leader menjelaskan aturan main dengan jelas
2) Fasilitator menempatkan diri di tengah-tengah klien
3) Observer menempatkan diri di tempat yang memungkinkan untuk
dapat mengawasi jalannya permainan
4) 40% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan
dengan aktif dari awal sampai dengan selesai
c. Evaluasi output
Presentasi jumlah klien yang mengikuti kegiatan sesuai dengan yang
direncanakan
1) 80% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas dirinya
2) 80% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas klien lainnya

3) 80% dari jumlah klien mampu berespon terhadap klien lain dengan
mendengarkan klien lain yang sedang berbicara
4) 70% dari jumlah klien mampu menerjemahkan perintah permainan
5) 70% dari jumlah klien mampu mengikuti aturan main yang telah
ditentukan
6) 50% dari jumlah klien mau mengemukakan pendapat tentang terapi
aktivitas kelompok yang dilakukan.
Evaluasi Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Sesi I
Kemampuan Memperkenalkan Diri
a. Kemampuan verbal
No
1
2
3
4

Aspek yang dinilai

Nama Klien

Menyebutkan nama lengkap


Menyebutkan nama panggilan
Menyebutkan asal
Menyebutkan hobi
Jumlah
b. Kemampuan Non Verbal

No
1
2
3
4

Aspek yang dinilai

Nama Klien

Kontak mata
Duduk tegak
Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai
Mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
Jumlah
Petunjuk :
1. Dibawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien
2. Untuk tiap klien, semua aspek dinilai dengan memberi tanda () jika
ditemukan kemampuan pada klien. Jika tidak ditemukan kemampuan beri
tanda ()
3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan :
a. Kemampuan verbal, disebut mampu jika menadapat nilai mampu >2
b. Kemampuan nonverbal disebut mampu jika mendapat >2

PEDOMAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI


DI RUANG KUNTI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI BALI
SENIN 8 DESEMBER 2014
SESI II
SESI 2 : Bermain gerak berlawalan arah
TAKS Sesi II
A. Tujuan
Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok dengan menyebutkan
nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi.
B. Pra Interaksi
1. Terapis Sesi II
a. Leader
: Ni Komang Juliari
b. CO Leader
: Ni Putu Wahyu Kusuma Dewi
c. Fasilitator
: Dewa Ayu Nyoman Sri Sutistha Dewi
d. Observer
: Ida Ayu Made Budhi Astiti
2. Klien
a. Indikasi : Memilih klien dengan indikasi yang menarik diri
b. Nama Pasien :
1. Purwaningsih
2. Ni Made Suci
3. Ketut Suci
4. Budiani
5. Asih
6. Ariani
3. Metode
a. Dinamika kelompok
b. Diskusi dan Tanya jawab
c. Bermain peran/simulasi
4. Alat
a. Tape
b. Bola
c. Buku catatan dan pulpen
d. Jadwal kegiatan klien
5. Waktu pelaksanaan
a. Hari/tanggal
: Kamis, 11 Desember 2014
b. Pukul
: 10.20-10:40 Wita
6. Setting
a. Tempat
Ruang Kunti RSJ Provinsi Bali
b. Denah :
L

Co

K
K

K
K

K
F

Keterangan :
Leader

Co Leader

Co

Observer

Pasien

Fasilitattor

B. Interaksi
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Memberi salam terapeutik
1) Salam dari terapis
2) Peserta dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi dan validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan apakah telah mencoba memperkenalkan orang lain
c. Kontrak :
1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu berkenalan kelompok
2) Menjelaskan aturan main sebagai berikut :
a) Jika ada klien yang akan meninggalkan tempat meminta ijin
kepada terapis
b) Lama kegiatan 20 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
3. Tahap kerja
a. Jelaskan kegiatan yaitu memutarkan music serta Bola diedarkan
berlawanan arah jarum jam
b. Pada saat music dimatikan,

maka

anggota

kelompok

yang

mendapatkan Bola mendapatkan giliran untuk berkenalan dengan

anggota yang ada disebelah kanan dengan cara : member salam;


menyebutkan nama lengkap, panggilan, dan asal ; menanyakan nama
lengkap, nama panggilan, lawan bicara; dimulai oleh terapis sebagai
contoh.
c. Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok mendapatkan giliran.
d. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dan memberi
tepuk tangan
C. Tahap Terminasi
1. Evaluasi
a. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
b. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
2. Rencana tindak lanjut
a. Menganjurkan tiap anggota kelompok latihan berkelompok
b. Memasukkan kegiatan berkenalan pada jadwal kegiatan klien
3. Kontrak yang akan datang
a. Menyepakati kegiatan berikut yaitu bercakap-cakap tentang kehidupan
pribadi
b. Menyepakati waktu dan tempat
D. Evaluasi
Evaluasi dilakukan ketika proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap
kerja dan kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK sesi 2, dievaluasi
kemampuan klien verbal dan non verbal dengan menggunakan
evaluasi sebagai berikut :

formulir

Format Evaluasi Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Sesi II


Kemampuan Berkenalan dengan Orang Lain
a. Kemampuan verbal
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Aspek yang dinilai

Nama Klien

Menyebutkan nama lengkap


Menyebutkan nama panggilan
Menyebutkan asal
Menyebutkan hobi
Menanyakan nama lengkap
Menanyakan nama panggilan
Menanyakan asal
Menanyakan hobi
Jumlah

b. Kemampuan Non Verbal


No
1
2
3
4

Aspek yang dinilai

Nama Klien

Kontak mata
Duduk tegak
Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai
Mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
Jumlah
Petunjuk :
1. Dibawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien
2. Untuk tiap klien, semua aspek dinilai dengan memberi tanda () jika
ditemukan kemampuan pada klien. Jika tidak ditemukan kemampuan beri
tanda ()
3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan :
a. Kemampuan verbal, disebut mampu jika menadapat nilai mampu >5
b. Kemampuan nonverbal disebut mampu jika mendapat >5