Anda di halaman 1dari 7

Penggunaan dosis dari lidokain hidroklorida pada anestetik lokal bergantung pada tempat

injeksi dan prosedur penggunaan. Dosis penggunaan lidokain secara spesifik untuk
individual tidak selalu tersedia pada UK, meskipun produk dari US sering menyediakan
informasi tentang penggunaannya. Ketika diberikan dengan adrenalin, dosis maksimum
lidokain yang disarankan adalah 500 mg; tanpa adrenalin yang direkomendasikan oleh
UK adalah 200 mg dan USA 300 mg, kecuali pada anestesi pada spinal. Larutan
Lidocaine HCl mengandung adrenalin 1 dalam 200.000 digunakan untuk infiltrasi
anestetik dan memblok nervus termasuk blok epidural. Konsentrasi tinggi dari adrenalin
jarang dibutuhkan, kecuali pada dokter gigi. Sedangkan larutan lidokain HCL dengan
adrenalin 1 dalam 80.000 banyak digunakan. Dosis seharusnya dikurangi pada anakanak, orang tua dan pasien yang lemah. Dosis percobaan,biasanya dengan adrenalin,
seharusnya diberikan sebelum memulai blok epidural untuk mendeteksi dosis
intravaskular yang kurang hati-hati atau dosis subaraknoid.
Berikut ini dosis yang direkomendasikan untuk penatalaksanaan anestesi lokal secara
individu di USA :

Untuk anestesi infiltrasi perkutan, 5 sampai 300 mg ( 1 dalam 60 mL dari


0,5% larutan, atau 0,5 sampai 30 mL dari 1% larutan).

Dosis untuk memblok saraf perifer tergantung oleh rute penggunaan.


Untuk memblok plexus brankial 225 sampai 300 mg (15 sampai 20 mL)
dalam larutan 1,5%.

Untuk memblok saraf simpatis larutan 1% direkomendasikan. Dosis 50


mg(5 mL) untuk blok servical dan 50 sampai 100mg (5 sampai 10 mL)
untuk blok lumbal.

Untuk anestesi epidural 2 sampai 3 mL larutan dibutuhkan. Untuk anestesi


epidural lanjutan,dosis maksimum sebaiknya tidak diulangi terus-menerus
lebih dari 90 menit.

Larutan hiperbarik 1,5% atau 5% lidokain HCL dalam glukosa 7,5%


tersedia untuk anestesi spinal ; adrenalin tidak bisa digunakan. Dosis
sampai 75 mg (1,5 mL) dalam larutan 5% digunakan dalam operasi caesar.
Dan 75 sampai 100 mg (1,5 sampai 2 mL) untuk prosedur operasi lainnya.

Untuk anestesi regional IV larutan 0,5% tanpa adrenalin dapat digunakan


dalam dosis 50 sampai 300 mg (10 sampai 60 mL) ; dosis maksimum 4
mg/kg direkomendasikan untuk dewasa.

Lidokain juga dapat digunakan dalam berbagai jenia formulasi anestesi


permukaan.

Lidokain salep digunakan untuk anestesi pada kulit dan membran mukosa
dengan dosis yang direkomendasikan sebesar 20 g dalam 5% salep (setara
1 g lidokain basa) dalam 24 jam.

Gels digunaan untuk anestesi pada saluran kemih dan dosisnya bermacammacam tiap negara. Di UK diberikan dosis 2% gel.

Larutan topikal digunakan untuk anestesi permukaan dari membran


mukosa mulut, tenggorokan, dan saluran kemih atas. Untuk mulut dan
tenggorokan digunakan larutan 2%, dapat ditingkatkan 300 mg (15mL).
Untuk sakit faringeal obat kumur dibutuhkan, tidak lebih dari 3 jam sekali.
Dosis yang direkomendasikan di USA untuk larutan oral topikal adalah
2,4 g. Lidokain dalam konsentrasi 10% digunakan sebagai spray untuk
mencegah sakit pada membran mukosa.

Lidokain digunakan secara rektal sebagai supositoria, spray, salep, dan


krim untuk mengobati hemoroid dan kondisi perianal lainnya.

Tetes mata mengandung lidokain HCL 4% dengan fluoresin.

Jenis jenis obat analgesia local


Berdasarkan ikatan kimia :

1. derivat ester, terdiri dari :


a. derivat asam benzoate, misalnya kokain
b. derivat asam para amino benzoate : prokain dan klorprokain
2. derivat amide : lodokain, prolikain, mepivakain, bupivakain, dan etidokain
berdasarkan potensi dan durasi atau lama kerja :
1. potensi rendah dan durasi singkat:
a. prokain
: potensi 1 dan durasi 60 90 menit
b. klorprokain : potensi 1 dan durasi 30 60 menit
2. potensi dan durasi sedang :
a. mepivakain : potensi 2 dan durasi 120 240 menit
b. prilokain
: potensi 2 dan durasi 120 240 menit
c. lidokain
: potensi 2 dan durasi 90 200 menit
3. potensi kuat dan durasi panjang
a. tetrakain
: potensi 8 dan durasi 180 600 menit
b. bupivakain
: potensi 8 dan durasi 180 600 menit
c. etidokain
: potensi 6 dan durasi 180 600 menit
berdasarkan berat jenis (konsentrasi dan penggunaannya:
1.
isobaric : digunakan untuk infiltrasi local, blok lapangan,
blok saraf, blok fleksus dan blok epidural
konsentrasi obat :
prokain
: 1-2%
klorprokain : 1-3%
lidokain
: 1-2%
mepivakain : 1-2%
prilokain
: 1-3%
tetrakain
: 0.25 0.5 %
bupivakain
: 0.25 0.5 %
etidokain
:1-1.5%
2.
hypobaric : digunakan untuk analgesia rfegional intravena.
Konsentrasi obat dibuat separuh dari konsentrasi isobaric.
3.
hiperbarik : digunakan khusus untuk injeksi intratekal atau
blok subarakhnoid. Konsentrasi obat dibuat lebih tinggi, misalnya lidokain 5%
hiperbarik dan bupivakain 0.5% hiperbarik yang telah dikemas khusus untuk blok
subarakhnoid.
PROKAIN
Berupa kristal berwarna putih, larut dalam air/alcohol, dan bersifat basa. Ikatannya
dengan Hcl sangat cepat larut dalam air tetapi tidak begitu larut dalam alcohol. Apabila
kontak dengan udara, akan mengalami dekomposisi. Dalam bentuk larutan tahan terhadap
panas, sehingga bisa disterilkan. Dehidrolisis oleh enzim kolinesterase.
Prokain dianggap sebagai standar baik dalam potensi maupun dalam toksisitas suatu obat
anestesi local. Ditetapkan potensi dan toksisitas serta indeks anestesinya =1. Dibanding
dengan kokain maka toksisitas prokain -1/4 toksisitas kokain.
Dosisnya tergantung dari cara pemberian,

untuk infiltrasi local pada orang dewasa diberikan larutan 0.5 1 % dengan dosis
maksimal 1 gram (200 mL)
untuk blok saraf diberikan larutan 1-2% sebanyak 75 mL,
untuk blok fleksus dipakai larutan 1% sebanyak 30 mL
untuk blok epidural diberikan larutan 1% sebanyak 15-50 mL
untuk blok subarakhnoid diberikan larutan 5% sebanyak 2 cc
PRILOKAIN
Sering disebut sebagai propitocain,xylonest,citanest dan distanest sebagai nama dagang.
Ditemukan oleh Lofgren dan Tegner dan uji farmakologisnya dilakukan oleh Wiedling,
selanjutnya digunakan di klinik pertama kali oleh Gordh pada tahun 1959.
Efek iritasi local prilokain pada tempat suntikan lebih kecil dibanding dengan lidokain
bahkan jauh lebih kecil dari prokain. Toksisitasnya kira-kira 60% dari toksisitas lidokain
dan potensinya sama dengan lidokain.
Mengalami metabolisme di hati, ginjal dan oleh amidas, lebih cepat dibanding dengan
lidokain dengan toksisitas lebih rendah dari lidokain. Menimbulkan methaemoglobinemia
pada penggunaan dosis tinggi, lebih dari 600 mg sehingga timbul gejala sianosis yang
bisa hilang sendiri dalam 24 jam.
Dibanding dengan lidokain, prilokain lebih kuat, daya penetrasinya lebih baik, mulai
kerjanya lebih lama dan lama kerjanya lebih lam serta efektif pada konsentrasi 0.5 5 %.
Untuk infiltrasi local digunakan larutan 0.5%
Blok fleksus digunakan larutan 2-3%
Blok epidural digunakan larutan 2-4%
Untuk blok subarakhnoid digunakan larutan 5%
Dosis : maksimal tanpa adrenalin 400 mg sedangkan dengan adrenalin bisa diberikan
sampai dosis 600 mg.
BUPIVIKAIN
Sangat popular disebut dengan Marcaine.Disintesis pada 1957 oleh Ekstam dkk pada
1957 dan digunakan pertama kali di klinik oleh Telivuo pada tahun 1963.
Spesifikasinya.
Ikatan dengan HCL mudah larut dalm air. Sangat stabil dan dapat diautuclaf
berulang. Potensinya 3-4 kali dari lidokain dan lama kerjanya 2-5 kali lidokain. Sifat
hambatan sensorisnya lebih dominan dibandingkan dengan hambatan motorisnya.
Jumlah obat yang terikat pada saraf lebih banyak dibandingkan dengan yang
bebas dalam tubuh. Dikeluarkan dari dalam tubuh melalui ginjal sebagian kecil dalam
bentuk utuh dan sebagian besar dalam bentuk metabolitnya.
Penggunaan klinik.
Untuk infiltrasi local digunakan larutan 0,25%
Blok saraf yang lebih kecil digunakan larutan 0,25%
Blok saraf yang lebih besar digunakan larutan 0,5%
Blok epidural digunakan larutan 0,5%-0,75%
Dosis 1-2 md/kgBB.
5.OBAT PELUMPUH OTOT DAN ANTAGONISNYA

Relaksi otot rangka merupakan salah satu dari trias anesthesia yang harus
dipenuhi pada operasi-operasi besar missalnya laparatomi, torakotomi dan operasioperasi yang memerlukan nafas kendali.
Relaksi otot rangka ini bisa diperoleh dari efek obat anesthesia, seperti misalnya
eter, halotan dan obat inhalasi yang lai, namun mencapai relaksi otot yang optimal
memerlukan dosis yang besar sehingga akan muncul efek samping yang justru lebih
berbahaya. Untuk mendapatkan khasiat relaksi yang optimal tanpa harus menghadapi
efek samping obat yang berbahaya bagi pasien, digunakan obat pelumpuh otot.
Walaupun sesungguhnya pada kebanyakan kepustakaan, obat pelumpuh otot ini
tidak termasuk dalam obat anesthesia, akan tetapi seperti telah dijelaskan terdahulu,
relaksi otot merupakan salah dari trias anesthesia.
Agar memahami mekanisme kerja obat pelumpuh otot, diperlukan pemahaman
tentang fisiologai syarat otot rangka.

4.3.2 ANESTESIA EPIDURAL


Anesthesia epiduralmerupakan suatu anesthesia yang luas, yang diperoleh dengan
jalan menyuntikan zat anestetik local kedalam ruang epidural. Dengan teknik ini
anesthesia bagian sensorik dapat diperluas sampai setinggi dagu.pada cara ini dapat
digunakan dosis tunggal atau dosis yang diberikan secara terus menerus.
ANATOMI. Pada foramen magnum, durameter terbagi menjadi dua lapisan. Lapisan
dalam menjadi durameter medulla spinalis dan lapisan luar membentur periosteum
yang di batasi kanalis spinalis. Ruang di antara kedua lapisan ini disebut ruang
epidural, yang berisi semiliquid fat da pleksus vena. Ruang epidural ini berbeda-beda
luasnya: dan yang paling luas setinggi L2 yang kira-kira meliputi separuh dari garis
tengah kanlis spinalis. Saraf spinalis menembus ruangan ini setelah radiksanterior dan
radiks posterior bersatu di dalam ruang subarkhnoid dan menjadi durameter. Kantong
durameter berakhir pada batas bawah vertebra S2; dengan demikian seluruh kanalis
sakralis di bawah batas S2 tersebut merupakan ruang epidural.
TEKNIK. Suntik dilakukan di bawah L2. Anesthesia speidural segmental dapat
dikerjakan dengan menyuntikan jarum pada ruang yang di ingin kan. Masuknya
jarum dalam ruang epidural mudah dikontrol dengan berbagai cara berdasarkan
adanya tekanan negatif di dalam ruang epidural tersebut. Epinefrin yang digunakan
memperpanjang waktu anesthesia tidak mempengaruhi analgesia. Untuk blockade
simpatis digunakan larutan lidokain 0,5-1%; blockade sensorik dengan larutan
lidokain1-1,5% dan blockade motorik dengan larutan 2%.
Pemilihan obat yang digunakan pada anesthesia epidural terutama tergantung
daripada lama waktu yang diperlukan untuk operasi tersebut. Bila operasi
memerlukan waktu yang lama, bupivakain merupakan obat pilihan, lidokain untuk
operasi-operasi yang singkat dipilih kloroprokain.

EFEK ANESTESIA LOKAL DALAM RUANG VEPIDURAL. Tempat kerja obat


anestetik yang dimasukan di dalam ruang epidural belum seluruhnya diketahui, tetapi
mungkin pada: (1) saraf campuran di dalam ruang parevertebral; (2) radiks saraf yang
terbungkus dura didalam ruang epidural; (3) radiks saraf di ruang subarakhnoid
sesudah obat mengadakan difusi melalui dura; dan (4) akson saraf sendiri (neuroaxis).
Proses difusi zat anestetik local sepanjang ruang epidural dan melalui foramen
intervertebralis atau melalui dura kedalam ruang subarakhnoid lambat, karena itu
terdapat masa laten antara penyuntikan obat dan terjadinya anesthesia. Untuk
mendapatkan anesthesia yang lengkap diperlukan waktu antara 15 sampai 30 menit.
UNTUNG_RUGI ANESTESIA EPIDURAL. Anesthesia epidural memberikan
sebagian besar keuntungan dari yang dimiliki oleh anesthesia spinal tetapi banyak
pula kerigiannya. Keuntungan utama yaitu obat tidak masuk ruang subarakhnoid;
dengan demikian timbulnya sakit kepala dan gejala neurologik lainya dapat
dihindarkan. Anesthesia segmental juga lebih mudah dikerjakan dengan anesthesia
epidural. Kesulitan teknis mungkin merupakan kerugian utama pada anesthesia
epidural ini, sedang kerugian yang kedua yaitu diperlukannya obat dalam jumlah
besar, dengan kemungkinan adanya absorpsi sistemik yang lebih besar pula.
Somnolen yang sering timbul pada anesthesia dengan lidokain mungkin sekali
disebabkan oleh absorpsi yang besar ini. Untuk mendapat kan analgesia bedah
dperlukan waktu 15-20 menit. Pengaruh terhadap sirkulasi dan pernapasan mirip
keadaaan yang disebabkan oleh anesthesia spinal.
4.3.3. ANESTESIA KAUDAL
Anesthesia kaudal yaitu bentuk anesthesia epidural yang larutan anestetiknya
disuntikan kedalam kanalis sakralis melalui sakralis. Ada dua bahaya utama pada
teknik ini, yaitu: (1) jarum masuk kedalam pleksus vena yang terletak sepanjang
kanalis sakralis yang berakibat masuknya obat ke vena; dan (2) jarum menembus
durameter disertai dengan anesthesia spinal yang luas. Biasanya digunakan
bupivakain 0,125-0,25% sebanyak 0,5-1 mL/ kgBB atau lidokain 1,5%, 15-20 mL,
atau kloroprokain 2%, 1 mL/kgBB. Untuk menghambat absorpsi sistemik sering
ditambah larutan epinefrin 1:100.000.