Anda di halaman 1dari 4

Teknik budidaya tanaman sawi

Penyiapan Lahan Untuk Penanaman Bibit


a. Pengolahan tanah.
Pengolahan tanah untuk penanaman bibit dilakukan dalam selang waktu
25 hari setelah mempersiapkan lahan persemaian, atau setelah selesai
mempersiapkan lahan persemaian, atau juga 10 hari stelah menyemai benih.
Benanaman bibit berlangsung 3 minggu (21 hari) baru dapat ditanami,
sedangkan umur bibit pindahg 21 30 hari setelah semai.
Lahan dibersikan dari gulma. Kemudian tanahnya dicangkul sedalam 20
30 cm supaya gembur. Setelah itu, bedengan dibuat dengan ketinggian sekitar
20-30 cm, lebar sekitar 1 m, dan panjang tergantung ukuran/bentuk lahan. Jarak
antar bedengan sekitar 40 cm atau disesuaikan dengan keadaan tanah. Setelah
tanah diratakan, permukaan bedengan diberi pupuk kandang yang sudah
matang, dengan dosis 100 kg/100 m. Semprot larutan pupuk cair Bioboost/EM4
(10 ml/1 liter air) pada permukaan bedengan, kemudian permukaan bedengan
ditutup dengan tanah. Biarkan selama 3 hari dan bedengan siap untuk ditanami.
Jika tanah terlalu asam maka dapat dilakukan pengapuran hingga pH tanah
sesuai untuk tanaman sawi. Pengapuran pada umumnya menggunakan dolamit,
untuk menaikkan pH tanah sebesar 0,1 diperlukan kapur dolamit sekitar 312
kg/Ha. Cara melakukan pengapuran tanah adalah kapur disebarkan secara
merata pada permukaan tanah, kemudian tanah dicangkul tipis-tipis sampai
tercampur merata dengan tanah. Sebelum dilakukan pengapuran tanah,
sebaiknya dilakukan pengukuran pH tanah terlebih dahulu . untukmengetahui
pH tanah , cara pengukurannya adalah sebagai berikut :

2.

Tanah diambil secara acak dan merata pada petak kebun.


Tanah yang telah diambil, kemudian dicampur hingga merata. Lalu
tanahdiambil secukupnya kira-kira satu cangkul.
Tanah yang satu cangkul tersebut, dimasukkan kedalam ember yang berisi
air, lalu dibiarkan sampai mengendap.
Setelah tanah mengendap, air dipisahkan dari endapan kedalam
emberlain,
Selanjutnya, air tersebut diukur pH-nya dengan kertas lakmus atau pH
meter. Nilai pH tersebut menunjukkan derajat keasaman tanah (pH tanah).
Setelah pH tanah diketahui dan bila tanah kurang dari 6, maka harus
dilakukan pengapuran tanah hinggapH tanah mencapai 6-7 sesuai dengan
yang dikehendaki tanaman sawi.

Pembibitan dan pemindahan kelapang

Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk


penanaman. Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi
terhadap lingkungannya. Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80120 cm dan panjangnya 1-3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi
bedengan
20-30 cm. Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan
pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10
gram TSP, dan 7,5 gram Kcl. Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut :

benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1-2 cm, lalu disiram dengan sprayer,
kemudian diamati
3-5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3-4 minggu
sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan (Margiyanto, 2010).

a. Pemindahan Bibit dan Waktu Penyeleksian Bibit


Pemindahan dan penyeleksian bibit pada tahap ini setelah penanaman di
dalam kantong polybag. Bibit yang sudah ditanam di polibag kemudain diangkut
kelahan untuyk kemudian ditanam dilahan. Ada juga dengan cara membawa
tempat persemaian ke lahan kemudian langsung diseleksi dan ditanam langsung
di lahan atau dibedengan. Cara ini lebih mudah dan hemat wkatu, tapi kematian
tanaman lebih besar karna ketidak hati-hatian dalam mencabut tanaman dan
waktu penanamannya yang tidak sesuai. Jika menggunakan sistem langsung
tanam sebaiknya tanaman di kasih peneduh yang terbuat dari kulit pohon pisang
yang di telungkupkan membentuk piramida dan ditancapkan di tanah.
b. Pengaturan Jarak Tanam
Jarak tanam sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan
hasil panen. Pengaturan jarak tanam harus disesuaikan menurut varietas yang di
tanam. Pada umu7mnya jaraktanam yang digunakan adalah 30 cm x 40 cm.
(Cahyono, 2003).
Jarak tanam yang terlalu rapat akan meningkatkan kelembaban disekitar
tanaman. Keadaan ini dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan
organisme pengganggu, terutama golongan cendawan. Selain itu banyak lagi
pengaruhnya jika tanaman di tanam terlalu rapat. Jarak tanam juga
mempengaruhi jumlah bibit. Dengan jarak tanam 30 cm x 40 cm diperlukan bibit
sejumlah 73.320 / Ha. Penentuan jarak tanam dapat menggunakan meteran
gulung atau tali yang telah di tandai.
c.

Cara Menanam

Sehari sebelum bibit ditanam, tanah tempat penanaman bibit diberi air
pengairan. Selanjutnya buat lubang dengan melubangi mulsa denagn diemeter
sekitar 8 cm. Dan dalamnya lunbang sektiar 10 cm pada titik yang telah
ditentukan menurut jarak tanamnya. Bibit kemudian ditanam sedalam leher akar.
Pada bbit yang diambil sistem cabutan, akar-akar serabut nya ditata secara
menyebar. Untuk bibit yang diambil dengan sistem putaran ataupun bibit yang
berasal dari polybag, tanaman dapat langsung dimasukkan kedalam
lobangtanam beserta tanah bawaannya. Kemudian di sekitar pangkal batang
diurug tanah sambil di tekan agar tanaman dapat berdiri tegak dan kuat.
Selesai penanaman selalu di lakukan penyiraman (memberikan air
pengairan). Pada daerah yang beririgasi teknis , pemberian air dapat dilakukan
dengan sistem leb. Sedangkan untuk darah yang tak beririgasi, penyiraman
dapat digunakan gembor.
d.

Waktu Penanaman.

Didalam penanaman waktu penanam harus tepat agar tanaman tumbuh


denga baik, disarankan agar tanaman di tanam di pagi hari atau sore hari.
Penanaman pada siang hari dapat menimbulkan kelayuan pada tanaman, sebab
tanaman yang baru ditanam akarnya blum dapat berfungsi dengan sempurna
dalam penyerapan air. Disampng kelayuandapat juga disebabkankarena belum
adanya keseimbangan antara jumlah air yang diserap oleh akar tanaman dengan
proses transpirasi(penguapan air) yang terjadi pada tanaman itu sendiri .
sehinnga dengan demikian penanaman pada waktu siang dan pagi hari dapat
mencegah kelayuan . waktu pagi hari yang dianjurkan adalah sebelum jam 09.00
dan pada sore hari setelah jam 15.00.
Bibit yang ditanam di kebun tak semuanya tumbuh baik. Ada kalanya
sebagian tanaman mengalami ganguan saat di pindahkan dikebun mengalami
gangguan atau hambatan pertumbuhan, seperti tnaman rusak, tumbuhan kerdil
dan kurus bahkan sampai ada yang mati. Tanaman tanaman yang telah
mengalami gangguan segera di ganti dengan tanaman yang baru agar
produksinya tetap tinggi.

3. Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan ini merupakan pemupukan yang kedua setelah
pemupukan dasar yang telah dilakukan pada saat pengolahan lahan. Jenis pupuk
yang digunakanuntuk pupuk susulan yaaitu pupuk urea yang mengandung zat
niitrogen; pupuk SP-36 (super phosphate), yang mengandung zat phosphat; dan
pupuk KCL (kalium klorida) yang mengandung kalium. Pupuk urea mengandung
nitrogen (N) 46%, pupuk SP-36 mengandung phosphat (P2O5) 36%, PUPUK kcl
mengandung (K2O) 60%.( Cahyono, 2003).
Penggunaan pupuk kimia hendaknya memperhatika waktu pemupukan,
dosis pemupukan, dan cara pemupukan. Hal ini untuk menghindari dari
pencemaran lingkungan, dan rusaknya angregat tanah. Sehingga tidak sesuai
untuk pertumbuhan tanaman.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pemupukan
susulan, yaitu dosis, waktu, dan cara premupukan.
a. Dosis dan waktu pemupukan.
Jumlah pupuk yang diberikan dan waktu pemupukan sangat
berpengaruhterhadaphasil panen, dimana pemberian pupuk dengan jumlah
(dosis) dan waktru pemupukan yang sesuai dapat meningkatkan hasil panen
yang sesuai.
Menurut cahyono, kebutuhan pupuk NPK (Urea, SP-36,dan Kcl) perhektar
sebagai pupuk sususlan untuk tanaman sawi, adalah sebagai berikut :
1.

Pupuk urea

2.

Pupuk SP-36 =

73 kg/hektar

3.

Pupuyk Kcl

73 kg/hektar

220 kg/hektar

Waktu untuk pemberian tergantung cara budidayanya. Apabila budidaya


dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak, maka pemberian pupuk urea,

SP-36, dan Kcl dapat diberikan sekaligus dan waktunya adalah 7 hari sebelum
tanam. Sedangkan cara budidayanya dilakukan tanpa menngunakan mulsa
plastik hitam perak, maka pemberian pupuk SP 36 dan Kcl dilakukan 7 hari
sebelum tanam dan urea 21 hari setelah tanam.
b. Cara Pemupukan
Cara pemupukan tergantung dari sistem budidayanya. Pada sistem
budidaya dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak, pemberian pupuk
kandang sebagai pupuk dasar diberikan denagn cara ditaburkan secara merata
diatas permukaan tanah pada bedengan bedengan, kemudian diolah secara
ringan. Pemberian pupuk urea, SP-36, dan Kcl diberikan dengan cara yang sama,
yakni ditaburkan secara merata diatas permukaan tanah bedengan, lalu diolah
secara ringan agar pupuk dapat tercampur merata dengan tanah. Setelah itu,
bedengan ditutup dengan mulsa plastik hitam perak.
Pada sisitem tanpa mengunakan mulsa pemupukan dasar cara pemberian
sama dengan sistem mulsa sama halnya nengan pemberian pyupuk SP-36 dan
Kcl. Namun pemberian urea dapat diberikan dengan cara ditudal di samping
tanaman, dan sebagainya.
4.

Pengairan

Pemberian air yang cukup akan meningkatkan pertumbuhan vegetatif


seperti tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, dan
pertumbuhan genaratif seperti jumlah bunga, buah,dan kualitas biji. (Cahyono,
2003)
Kebutuhan air pada tanaman sawi tergantung fase pertumbuhan tanaman,
keadaan iklim, jenis tanah dan teknik budidaya. Pada awal pertumbuhan dapat
diberikan air sebanyak 2 kali sehari tergantung cuaca. Selain penyiraman perlu
juga dilakukan penyiangan dan pendangiran. Penyiangan harus dilakukan
dengan baik di sekitar tanaman, agar tidak adsanya perebutan unsur hara oleh
gulma, bagusnya gulma di cabut, secara manual atau secara mekanik, atau pun
bisa juga dilakukan secara kimiawi. Selain penyiangan perlu juga pendangiran
yaitu, pengolahan tanah secara ringan disekitar tanaman. Tujuannya adalah
untuk menggemburkan kembali tanah di sekitar tanaman yang sudah memadat
karna tertekan oleh air penyiraman atau jjuga berfungsi untuk memperbaiki tat
letak tanaman yang tanahnya hanyut dibawa air.

Daftar pustaka :
Cahyono, Bambang. 2003. Teknik dan Strategi Budidaya Sawi Hijau (Pai Rsai).
Yogyakarta : Yayasan
Pustaka Nusatama.
Margiyanto E. 2010. http://Budidaya Tanaman Sawi.Cahaya Tani.html. Diakses
pada tanggal 12 mei 2016