Anda di halaman 1dari 3

Tionghoa dan Rakyat Pribumi

Peranakan adalah sebutan yang berarti keturunan tanpa mengacu pada etnis tertentu. Di
Indonesia, peranakan terbesar adalah peranakan Cina, yang kini disebut peranakan Tionghoa.
Sebutan Tionghoa atau Tionghwa adalah istilah yang dibuat sendiri oleh keturunan Cina di
Indonesia. Tionghoa berasal dari kata zhonghua dalam bahasa Mandarin, dan dibaca tionghoa
dalam dialek Hokkian. Dengan meluasnya Tionghoa di Indonesia, muncul kesepakatan tidak
tertulis di antara warga Indonesia bahwa istilah peranakan Tionghoa kini disingkat dengan
peranakan saja.
Peranakan mulai diakui Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia, dengan adanya UU
No. 12 Tahun 2006, Pasal 2; Yang menjadi Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa
Indonesia asli dan orang orang bangsa lain yang disahkan dengan UU sebagai Warga Negara..
Selain itu dengan pemulihan hak agama Khonghucuyang mayoritas pemeluknya adalah
Tionghoa, berdasarkan Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000 tentang pencabutan Instruksi
Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina.
Penguatan lain adalah dengan diresmikannya Imlek sebagai hari libur nasional sejak 2002 lalu.
Meskipun Indonesia sudah mengakui peranakan Tionghoa, rupanya, menurut pengamatan
saya sendiri, rakyat pribumi di Indonesia belum sepenuhnya menganggap Tionghoa sebagai salah
satu suku dalam lingkup nasional yang diakui. Bahkan, banyak rakyat pribumi yang anti dengan
Tionghoa. Mereka sering menyebut Tionghoa dengan panggilan berkonotasi negatifmeski arti
sebenarnya tidak begitu; Singkek, Cina, Sipit, dan lain sebagainya.
Sikap anti rakyat pribumi terhadap Tionghoa umumnya disebabkan oleh Tionghoa
sombong terhadap rakyat pribumikata mereka. Menurut penulis, sikap anti dan sombong satu
sama lain tersebut disebabkan oleh kesalahpahaman saja. Tionghoa terlihat tidak membaur
dengan rakyat pribumi karena alasan yang logis; melindungi populasi mereka. Mulanya, terdapat
tiga golongan Tionghoa; totok, peranakan, dan

hollands spreken. Tionghoa totok adalah

golongan yang baru satu turunan di Indonesia, peranakan adalah golongan yang sudah beberapa
turunan di Indonesia, sedangkan hollands spreken adalah golongan yang menggunakan bahasa
Belanda, tidak merayakan hari besar Tionghoa, dan tidak memiliki marga dalam bahasa

Mandarin. Seiring dengan berjalannya waktu, ketiga golongan ini mulai membaur, sehingga
masing-masing golongan mulai samar ciri khasnya.
Sebaiknya, rakyat pribumi mulai melepas sikap anti terhadap Tionghoa, mengingat
banyak kebiasaan rakyat pribumi Indonesia yang ditularkan oleh Tionghoa:
Menerbangkan lentera. Banyak rakyat pribumi yang menerbangkan lentera dalam suatu
festival untuk keperluan fotografi atau sekedar permainan. Padahal, ini adalah salah satu budaya
Tionghoa di malam Imlek yang bukan sekadar permainan tetapi merupakan simbolisasi dari
pengharapan untuk masa depan. Lentera itu terbang dengan membawa doa dan keinginan serta
cita-cita pemiliknya.
Barongsai. Dalam beberapa perayaanmisal pembukaan acara lomba dan ulang tahun,
rakyat pribumi seringkali menampilkan barongsai sebagai pertunjukan hiburan semata. Menurut
kepercayaan Tionghoa, barongsai dapat membawa berkah dan perlindungan pada mereka.
Kepercayaan ini berdasar dari legenda Barong Sai melawan monster jahat.
Lentera merah. Di beberapa tempat seperti restoran dan caf, terkadang terdapat hiasan
berupa lentera merah yang dipasang sepanjang tahun. Sebenarnya, lentera merah digantung oleh
Tionghoa dalam perayaan Imlek sebagai simbol memperingati seorang pemimpin pemberontak
bernama Li Zicheng, pada masa Dinasti Ming abad ke-17.
Angpao. Mulanya, angpao adalah delapan koin dalam bungkus kertas merah, yang
merupakan perwujudan dari delapan dewa pelindung. Tradisi ini kini tidak hanya dilakukan oleh
Tionghoa, tetapi juga rakyat pribumi dalam Idul Fitri.
Petasan. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak tak sengaja mencampur tiga bahan bubuk
hitam, yang rupanya mudah terbakar. Jika ketiga bahan tersebut dimasukkan dalam sepotong
bambu yang ada sumbunya lalu dibakar, akan menimbulkan letusan dengan suara ledakan keras
yang dipercaya dapat mengusir roh jahat. Kini, petasan menjadi salah satu permainan yang
diminati anak kecil, terutama saat Ramadhan.
Lima hal tersebut sudah cukup menunjukkan bahwa banyak tradisi rakyat pribumi yang
secara tidak sengaja meniru Tionghoa. Sebaiknya, rakyat pribumi dan Tionghoa tetap membaur
dengan baik. Rakyat pribumi perlu menghilangkan rasa anti terhadap Tionghoa. Sementara

Tionghoa perlu menghilangkan rasa kekhawatiran akan populasinya. Tionghoa dapat tetap
berdampingan rukun dengan rakyat pribumi tanpa mempengaruhi populasinya, yaitu dengan
mencegah pernikahan antara keduanya.
Selain menghilangkan sikap yang menciptakan kesenjangan, rakyat Pribumi dan
Tionghoa juga dapat mempererat kekeluargaan dengan berbagi budaya, satu sama lain saling
mempelajari latar belakang dan isi budaya tersebut. Apabila latar belakang budaya tidak sejalan
dengan kepercayaan diri sendiri, budaya tersebut tetap dapat dipelajari tanpa mempercayai latar
belakangnyadengan tetap menghargai kepercayaan tersebut. Menurut penulis, berbagi budaya
dapat dilakukan dengan beberapa cara:
Budaya rakyat pribumi yang jarang diketahui Tionghoa perlu diajarkan di sekolah yang
mayoritas muridnya adalah Tionghoaseperti sekolah Kristen dan sekolah Katolik, misal tari
tradisional dan pelajaran bahasa daerah. Sebaliknya, budaya Tionghoa yang jarang diketahui
rakyat pribumi juga perlu diajarkan di sekolah-sekolah, misal latar belakang festival Tionghoa.
Diciptakan komunitas di tiap kota sebagai panitia utama penyelenggara event khusus
dengan tujuan menyatukan rakyat pribumi dan Tionghoa. Event ini dapat membaurkan teman
Tionghoa dengan teman rakyat pribumi, sehingga mencegah hidup berkelompok dan adanya
sikap anti satu sama lain.
Dengan menyatunya rakyat pribumi dan peranakan, Indonesia akan menjadi negara yang
lebih harmonis berkat berfungsinya semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Nama: Sarah Qodriyani
Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 13 November 1996
Sekolah: SMA Al Hikmah Surabaya
Alamat Sekolah: Jl. Kebonsari Elveka V Surabaya
Nomor HP: 087855592826
Email: sqodriyani@gmail.com