Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Apotek
Menurut Permenkes RI nomor 35 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek : pasal 1 ayat (1) apotek adalah sarana pelayanan


kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh Apoteker. Apotek dapat
menjadi salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan
tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
Pekerjaan Kefarmasian menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 51 tahun 2009 adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan
farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian atau
penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Sediaan
farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika.
Dalam pengelolaannya, apotek harus dikelola oleh Apoteker, yang telah
mengucapkan sumpah jabatan dan telah memperoleh Surat Izin Apotek (SIA) dari
Dinas Kesehatan setempat.
2.2

Fungsi Apotek
Fungsi apotek berdasarkan peraturan pemerintah No 25 tahun 1980

tentang Perubahan dan Tambahan Atas Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 tahun


1965 Tentang Apotek, fungsi dan tugas apotek adalah sebagai berikut:
a. Tempat pengabdian propesi apoteker yang telah mengucap sumpah
jabatan.

b. Sarana farmasi yeng telah melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk,


pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.
c. Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyalurkan obat yang
diperlukan masyarakat secara luas.
d. Sebagai sarana pelayanan informasi obat dan perbekalan farmasi lainnya
kepada masyarakat.
2.3

Syarat Apotek
Suatu apotek baru dapat beroperasi setelah mendapat Surat Izin Apoteker

(SIA). Surat Izin Apoteker (SIA) adalah surat yang diberikan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia kepada Apoteker atau Apoteker yang bekerja sama dengan
pemilik sarana apotek untuk menyelenggarakan pelayanan apotek disuatu tempat
tertentu (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2002).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Tata Cara Pemberian Izin Apotek, pada BAB
IV Pasal 6 menyebutkan persyaratan-persyaratan apotek adalah sebagai berikut :
a. Untuk mendapatkan izin apotek, Apoteker yang telah memenuhi
persyaratan baik yang bekerjasama dengan pemilik sarana atau tidak,
harus siap dengan tempat (lokasi dan bangunan), perlengkapan termasuk
sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain, merupakan milik sendiri
atau milik pihak lain.
b. Sarana apotik dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan
pelayanan komoditi lain di luar sediaan farmasi.
c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar
sediaan farmasi.

Beberapa syarat lain yang harus diperhatikan dalam pendirian sebuah


apotek adalah:
a. Tempat dan lokasi
Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan
pelayan komoditilainnya diluar sediaan farmasi, persyaratan jarak
minimum

antara

apotek

tidak

dipermasalahkan

lagi,

dengan

mempertimbangkan lagi pemerataan dan pelayanan kesehatan, jumlah


penduduk, jumlah praktek dokter, sarana dan pelayanan kesehatan lain
sanitasi serta faktor lainnya Firmansyah M, 2009). Apotek harus dapat
dengan mudah di akses oleh masyarakat. Pada halaman terdapat papan
petunjuk yang dengan jelas tertulis kata Apotek.
b. Bangunan
Apotek harus mempunyai luas bangunan yang cukup dan
memenuhi persyaratan teknis, luas bangunan untuk standar bangunan
apotek adalah minimal 4x15cm (60m2) selebihnya dapat diperuntukan
bagi ruang praktek dokter sehingga dapat menjamin kelancaran
pelaksanaan tugas dan fungsinya (Firmansyah, 2009).
Bangunan apotek sekurang kurangnya terdiri dari: (Menteri
Kesehatan Republik Indonesia, 2002)
1) Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
2) Tempat

untuk

mendisplay

informasi

bagi

penempatan brosur/materi informasi.


3) Ruang peracikan dan penyimpanan obat.
4) Ruang khusus sebagai tempat pencucian alat.

pasien

termasuk

5) Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan


meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi
pasien.
6) Papan nama apotek yang memuat nama apotek, nama APA, nomor
Surat Izin Apotek (SIA), alamat apotek dan nomor telepon apotek.
7) Bangunan apotek harus dilengkapi dengan sumber air (kamar kecil),
penerangan yang memadai, alat pemadam kebakaran, ventilasi dan
sanitasi yang baik.
c. Perlengkapan apotek
Perlengkapan yang harus tersedia di apotek adalah:
1) Alat pembuatan, pengolahan dan percikan seperti timbangan, mortir,
alu, gelas ukur dan lain-lain.
2) Perlengkapan dan pempat penyimpanan alat perbeklan farmasi seperti
lemari obat, lemari pendingin, dan lemari khusus untuk narkotika dan
psikotropika.
3) Wadah pengemas atau pembungkus dan etiket.
4) Alat administrasi seperti buku-buku defekta, blangko pemesanan
obat, salinan resep, kuitansi dan kartu stok.
5) Buku standar yang diwajibkan untuk apotek (Farmakope Indonesia,
ISO dan kumpulan buku perundang-undangan berhubungan dengan
apotek.
d. Tenaga apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1332/Menkes/SK/2002, personil apotek terdiri dari:

1) Apoteker pengelola apotek (APA)adalah apoteker yang telah memiliki


Surat Izin Apotek.
2) Apoteker Pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek di
samping APA dan atau menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari
buka apotek.
3) Apoteker Pengganti adalah Apoteker yang menggantikan APA selama
APA tersebut tidak berada ditempat lebih dari 3 bulan secara terusmenerus, telah memiliki Surat Izin Kerja (SIK) dan tidak bertindak
sebagai APA di apotek lain.
4) Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan
perundang- undangan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian
sebagai asisten apoteker yang berada di bawah pengawasan apoteker.
Selain itu, terdapat tenaga lainnya yang dapat mendukung kegiatan di
apotek yaitu (Umar, M., 2011):
1) Juru resep adalah petugas yang membantu pekerjaan asisten apoteker.
2) Kasir adalah orang yang bertugas menerima uang, mencatat
penerimaan, dan pengeluaran uang.
3) Pegawai tata usaha adalah petugas yang melaksanakan administrasi
apotek dan membuat laporan pembelian, penjualan, penyimpanan,
dan keuangan apotek.
2.4

Perizinan Apotek
Suatu apotek dapat beroprasi setelah mendapatkan syarat izin apotek

(SIA). Syarat izin apotek adalah surat yang diberikan menteri kesehatan RI
kepada APA yang bekerja sama dengan pemilik apotek untuk menyelenggarakan

pelayanan apotek disuatu tempat tertentu. Menurut keputusan menteri kesehatan


RI No 1332/MENKES/SK/X/2002, disebutkan bahwa persyaratan-persyaratan
apotek adalah sebagai berikut:
a. Untuk mendapatkan izin apotek apoteker atau apotek yang bekerja sama
dengan pemilik yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan
tempat, perlengkapan, termasuk sediaan farmasi yang lain yang
merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.
b. Sarana apotek dapat didirikan pada tempat yang sama dengan
pelayanan komoditiyang lain diluar sediaan farmasi.
c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain diluar
sediaan farmasi.
2.5

Struktur Organisasi Apotek


Struktur organisasi diapotik diperlukan untuk mengoptimalkan kinerja

apotek dalam pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dan dengan adanya


struktur organisasi dalam apotek maka setiap pegawai memiliki tugas dan
tanggung jawab masin-masing, sesuai dengan jabatan yang diberikan, serta untuk
mencegah tumpang tindih kewajiban serta wewenang maka dengan adanya
struktur organisasi sebuah apotek akan memperjelas posisi hubungan antara
elemen orang.Lampiran (1)
2.6

Pengelolaan Apotek

Seluruh kegiatan apoteker untuk melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan apotek
disebut pengelolaan apotek. Pengelolaan apotek sepenuhnya berada ditangan
apoteker, oleh karena itu apoteker harus mengelola secara efektif sehingga obat
yang disalurkan kepada masyarakat akan lebih dapat dipertanggungjawabkan,

karena kualitas dan keamanannya selalu terjaga. Pengelolaan apotek dibedakan


atas:
2.6.1

Kegiatan Teknis Kefarmasian

a. Pengelolaan perbekalan farmasi dan alat kesehatan (Mashuda, A., 2011)


Pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah suatu proses
yang berkesinambungan yang

dimulai dari

pemilihan,

perencanaan.

Penganggaran, pengadaan, penerimaan, produksi, penyimpanan, distribusi,


peracikan, pengendalian,

pengembalian,

pemusnahan,

pencatatan dan

pelaporan, jaminan mutu serta monitoring dan evaluasi, yang didukung oleh
kebijakan, SDM, pembiayaan dan sistem informasi manajemen yang efisien
dan efektif.
b. Pemilihan
Pemilihan adalah kegiatan untuk menetapkan sediaan farmasi dan alat
kesehatan sesuai jumlah, jenis dan waktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan
agar tercapai penggunaan obat yang rasional. Pemilihan sediaan farmasi dan
alat kesehatan harus berdasarkan:
1) Pola penyakit
2) Kebutuhan dan kemampuan daya beli masyarakat
3) Pengobatan berbasis bukti
4) Bermutu dan ekonomis
5) Budaya masyarakat (kebiasaan masyarakat setempat)
6) Pola penggunaan obat sebelumnya
c. Pengadaan

Suatu proses kegiatan yang bertujuan agar tersedia sediaan farmasi


dengan jumlah dan jenis yang cukup sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
Pengadaan yang efektif merupakan suatu proses yang mengatur berbagai
cara, teknik dan kebijakan yang ada untuk membuat suatu keputusan
tentang obat-obatan yang akan diadakan, baik jumlah maupun sumbernya.
Kriteria yang harus dipenuhi dalam pengadaan sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan adalah:
1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diadakan memiliki izin edar
atau nomor registrasi.
2) Mutu, keamanan dan kemanfaatan sediaan farmasi dan alat
kesehatan dapat dipertanggung jawabkan.
3) Pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan berasal dari jalur
resmi.
4) Dilengkapi dengan persyaratan administrasi.
Aktifitas pengadaan meliputi aspek-aspek:
1) Perencanaan
Perencanaan adalah kegiatan untuk menentukan jumlah dan
waktu pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan sesuai dengan hasil
kegiatan pemilihan, agar terjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis,
tepatjumlah, tepat waktu serta efisien. Ada 3 (tiga) metode perencanaan
sediaan farmasi dan alat kesehatan:
a) Pola penyakit
b) Pola konsumsi
c) Kombinasi antara pola konsumsi dan pola penyakit

2) Teknis Pengadaan
Teknis Pengadaan adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk
merealisasikan hasil perencanaan. Teknik pengadaan yang efektif harus
menjamin ketersediaan dalam jenis dan jumlah yang tepat dengan harga
yang ekonomis dan memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan
kemanfaatan. Teknis pengadaan dapat melalui pembelian, pembuatan dan
sumbangan.

Teknis

pengadaaan

merupakan

kegiatan

yang

berkesinambungan yang dimulai dari pengkajian seleksi obat, penentuan


jumlah yang dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan dana,
pemilihan metode teknis pengadaan, pemilihan waktu pengadaan,
pemilihan pemasok yang baik, penentuan spesifikasi kontrak, pemantauan
proses pengadaan dan pembayaran. Teknis pengadaaan merupakan
penentu utama dari ketersediaan obat dan total biaya kesehatan.
3) Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan
farmasi yang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian, melalui
pembelian langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan. Penerimaan
adalah kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah,
mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak/pesanan.
Penerimaan

merupakan

kegiatan

verifikasi

penerimaan/penolakan,

dokumentasi dan penyerahan yang dilakukan dengan menggunakan


"chrecklist" yang sudah disiapkan untuk masing-masing jenis produk yang
berisi antara lain :
a) kebenaran jumlah kemasan

b) kebenaran kondisi kemasan seperti yang disyaratkan


c) kebenaran jumlah satuan dalam tiap kemasan;
d) kebenaran jenis produk yang diterima;
e) tidak terlihat tanda-tanda kerusakan;
f) kebenaran identitas produk;
g) penerapan penandaan yang jelas pada label, bungkus dan brosur;
h) tidak terlihat kelainan warna, bentuk, kerusakan pada isi produk,
i) jangka waktu daluarsa yang memadai
4) Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menata dan memelihara
dengan cara menempatkan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang
diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian dan gangguan fisik
yang dapat merusak mutu obat. Penyimpanan harus menjamin stabilitas
dan keamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Metode penyimpanan
dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi, bentuk sediaan dan alfabetis
dengan menerapkan prinsip Firsf ln First Out (FIFO) dan First Expired
First Out (FEFO) disertai sistem informasi manajemen. Untuk
meminimalisir

kesalahan

penyerahan

obat

direkomendasikan

penyimpanan berdasarkan kelas terapi yang dikombinasi dengan bentuk


sediaan dan alfabetis. Apoteker harus rnemperhatikan obat-obat yang
harus disimpan secara khusus seperti narkotika, psikotropika, obat yang
memerlukan suhu tertentu, obat yang mudah terbakar, sitostatik dan
reagensia. Selain itu apoteker juga perlu melakukan pengawasan mutu
terhadap sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diterima dan disimpan

sehingga terjamin mutu, keamanan dan kemanfaatan sediaan farmasi dan


alat kesehatan
d. Pendistribusian
Pendistribusian adalah kegiatan menyalurkan atau menyerahkan
sediaan farmasi dan alat kesehatan dari tempat penyimpanan sampai
kepada unit pelayanan pasien. Sistem distribusi yang baik harus:
1) Menjamin kesinambungan penyaluran atau penyerahan.
2) Mempertahankan mutu.
3) Meminimalkan kehilangan, kerusakan dan kadaluarsa.
4) Menjaga ketelitian pencatatan.
5) Menggunakan metode distribusi yang efisien, dengan memperhatikan
peraturan peundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku.
6) Menggunakan sistem informasi manajemen.
e. Penghapusan dan Pemusnahan
Sediaan farmasi yang sudah tidak memenuhi syarat sesuai standar
yang ditetapkan harus dimusnahkan. Penghapusan dan Pemusnahan
sediaan farmasi harus dilaksanakan dengan cara yang baik dan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. Prosedur
pemusnahan obat hendaklah dibuat yanng mencakup pencegahan
pencemaran di lingkungan dan mencegah jatuhnya obat tersebut di
kalangan orang yang tidak berwenang. Sediaan farmasi yang akan
dimusnahkan supaya disimpan terpisah dan dibuat daftar yanng mencakup
jumlah dan identitas produk. Penghapusan dan pemusnahan obat baik yang

dilakukan sendiri maupun oleh pihak lain harus didokumentasikan sesuai


dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f. Pengendalian
Pengendalian

persediaan

dimaksudkan

untuk

membantu

pengelolaan perbekalan (supply) sediaan farmasi dan alat kesehatan agar


mempunyai persediaan dalam jenis dan jumlah yang cukup sekaligus
menghindari kekosongan dan menumpuknya persediaan. Pengendalian
persediaan yaitu upaya mempertahankan tingkat persediaan pada suatu
tingkat tertentu dengan mengendalikan arus barang yang masuk melalui
pengaturan sistem pesanan atau pengadaan (scheduled inventory dan
perpetual inventory), penyimpanan dan pengeluaran untuk memastikan
persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan dan kekurang,
kerusakan, kadaluarsa, dan kehilangan serta pengembalian pesanan
sediaan farmasi.
g. Penarikan kembali sediaan farmasi
Penarikan kembali (recall) dapat dilakukan atas permintaan
produsen atau instruksi instansi pemerintah yang berwenang. Tindakan
penarikan

kembali

hendaklah

dilakukan

segera

setelah

diterima

permintaan instruksi untuk penarikan kembali. Untuk penarikan kembali


sediaan farmasi yang mengandung risiko besar terhadap kesehatan,
hendaklah dilakukanpenarikan sampai tingkat konsumen. Apabila
ditemukan sediaan farmasi tidak memenuhi persyaratan, hendaklah
disimpan terpisah dari sediaan farmasi lain dan diberi penandaan tidak

untuk dijual untuk menghindari kekeliruan. Pelaksanaan penarikan


kembali agar didukung oleh sistem dokumentasi yang memadai.
h. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan kegiatan perencanaan kebutuhan,
pengadaan, pengendalian persediaan, pengembalian, penghapusan dan
pemusnahan sediaan farmasi harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku.
i. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi merupakan tahapan untuk mengamati dan
menilai keberhasilan atau kesesuaian pelaksanaan Cara Pelayanan
Kefarmasian yang Baik disuatu pelayanan kefarmasian. Untuk evaluasi
mutu proses pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan, dapat diukur
denganindikator kepuasan dan keselamatan pasien/pelanggan/pemangku
kepentingan (stakeholders), dimensi waktu (time delivery), Standar
Prosedur Operasional serta

keberhasilan pengendalian

perbekalan

kesehatan dan sediaan farmasi.


2.6.2

Pengelolaan Resep (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 1981)


Resep yang telah dilayani harus disimpan selama tiga tahun. Resep yang

disimpan diberi penandaan mengenai tanggal, bulan dan tahun pelayanan.


Kemudian resep disusun rapih agar mampu ditelusuri bila sewaktu-waktu
diperlukan. Tanggal terdekat dengan bulan layanan ditempatkan yang lebih mudah
dijangkau agar mampu ditelusuri dengan cepat. Untuk pengelolaan resep narkotik
dan psikotropika. Pada saat pelayanan resep narkotika diberi tanda garis warna
merah. Resep narkotika dan psikotropika harus terarsip dengan baik dan dicatat

dalam buku penggunaan obat narkotika dan psikotropika. Resep narkotika


diarsipkan dan disimpan selama tiga tahun berdasarkan tanggal dan nomor urut
resep.
2.6.2.1 Pengelolaan Narkotika
Menurut Undang-Undang No.35 tahun 2009 yang dimaksud dengan
narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman,
baik sintesis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai manghilangkan rasa
nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan kedalam
golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang no.35 tahun
2009 ini. Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan
kesehatan dan / atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Narkotika
golongan satu dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan serta
dalam jumlah terbatas dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan reagensia diagnostic, serta reagensia laboratorium
setelah mendapatkan persetujuan menteri atas rekomendasi kepala badan
pengawasan obat dan makanan.
Pemerintah menunjuk PT. Kimia Farma Tbk untuk mempermudah dalam
pengelolaan dan pengawasan obat narkotika karena PT. Kimia Farma Tbk
merupakan satu-satunya perusahaan yang diizinkan oleh pemerintah untuk
mengimpor bahan, memproduksi sediaan, dan mendistribusikan narkotika
diwilayah Indonesia. Pengelolaan meliputi :
a.

Pemesanan narkotika

Pemesanan

narkotika

dilakukan

secara

tertulis

dengan

menggunakan surat pesanan narkotika kepada pedagang besar farmasi


(PBF) PT.Kimia Farma yang ditanda tangani oleh APA dengan
mencantumkan nama jelas, nomor SIK, nomor SIA, dan stampel apotek.
Satu surat pesanan (empat rangkap) hanya dapat digunakan untuk
memesan satu jenis obat narkotika.
b. Penyimpanan narkotika
Narkotika harus disimpan dalam tempat yang sesuai dengan
peraturan

untuk

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

28/MENKES/I/1978, yaitu khusus penyimpanan narkotika yang memiliki


persyaratan sebagai berikut :
1) Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lainnya yang kuat;
2) Harus memiliki kunci ganda yang kuat;
3) Dibagi dua, masing-masing dengan kunci yang berlainan. Bagian
pertama digunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan garamgaramnya, serta persedian narkotika, sedangkan bagian kedua
digunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang digunakan seharihari;
4) Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari dengan ukuran lebih
kurang dari 40x80x100 cm, maka lemari tersebut harus dibuat pada
tembok atau lantai;
5) Lemari khusus tidak dipergunakan untuk menyimpan barang lain
selain narkotika;

6) Anak kunci lemari khusus harus dikuasai oleh penanggung jawab atau
pegawai lain yang diberi kuasa;
7) Lemari khusus harus diletakkan pada tempat yang aman dan tidak
terlihat oleh umum;
c. Pelayanan resep yang mengandung narkotika
Dalam undang-undang No.35 tahun 2009 tentang narkotika
disebutkan bahwa :
1) Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan
kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2) Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai
pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien
berdasarkan resep dokter.
d. Pelaporan Narkotika
Apotek wajib membuat dan mengirimkan laporan bulanan yang
terdiri dari laporan penggunaan bahan baku narkotika, dan laporan khusus
penggunaan morfin dan petidin yang ditandatangani oleh APA dengan
mencantumkan nomor SIK, nomor SIA, nama jelas dan stampel apotek.
Laporan tersebut dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya dengan
tembusan kepada :
1) Kepala Balai POM
2) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
3) Arsip
e. Pemusnahan Narkotika

Pemusnahan narkotika dijelaskan dalam pasal, Undang-Undang


Negara Republik Indonesia no. 22 tahun 1997 tentang Narkotika,
pemusnahan narkotika dilakukan dalam hal :
1) Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku
dan/atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi.
2) Kadaluarsa.
3) Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan
dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
4) Berkaitan dengan tindak pidana.
Pelaksanaan pemusnahan narkotika diatur dalam pasal 61,
pemusnahan oleh pemerintah, orang, atau badan yang bertanggungjawab
atas produksi dan/atau peredaran narkotika, sarana kesehatan tertentu, serta
lembaga ilmu pengetahuaan ilmu tertentu dengan disaksikan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. Sedangkan ketentuan lebih lanjut
mengenai syarat dan tata cara pemusnahan narkotika diatur dengan
keputusan Menteri Kesehatan.
Dalam

pasal

28/MENKES/Per/1/1978

peraturan
disebutkan

Menteri
pula

Kesehatan
bahawa

RI

APA

No.
dapat

memusnahkan narkotika yang rusak, kadaluarsa, atau tidak memenuhi


syarat lagi untu digunakan dalam pelayanan kesehatan.
Pelaksanaan pemusnahan narkotika tersebut diatur sebagai berikut:
1) Apotek yang berada di tingkat Provinsi, pemusnahan disaksikan oleh
petugas Balai POM setempat.

2) Apotek

yang

berada

ditingkat

Kabupaten/Kota,

pemusnahan

disaksikan oleh Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/Kota setempat.


APA yang memusnahkan narkotika harus membuat berita acara
pemusnahan narkotika yang memuat :
1) Tempat dan waktu (hari, tanggal, bulan, dan tahun) pemusnahan.
2) Nama APA
3) Nama, jenis, dan jumlah narkotika yang dimusnahkan.
4) Cara pemusnahan.
5) Tanda tangan dan identitas lengkap penanggung jawab apotek dan
saksi-saksi pemusnahan narkotika.
Berita acara pemusnahan narkotika tersebut dikirimkan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan
kepada :
1) Kepala Balai POM
2) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
3) Arsip
2.6.2.2 Pengelolaan Psikotropika
Menurut undang-undang psikotropika No. 5 tahun 1997 , yang dimaksud
dengan psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis, bukan
narkotika yang bersifat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Pengelolaan psikotropika di apotek adalah sebagai berikut :
a.

Pemesanan psikotropika

Pemesanan psikotropika dilakukan dengan menggunakan surat


pemesanan

psikotropika

yang

ditandatangani

oleh

APA dengan

mencantumkan nama jelas dan nomor SIK. Surat pesanan tersebut dibuat
rangkap 4 dan setiap surat dapat digunakan untuk memesan beberapa jenis
psikotropika.
b.

Penyimpanan psikotropika
Psikotropika disimpan terpisah dengan obat-obat lain dalam rak
atau lemari khusus. Setiap pemasukan atau pengeluaran psikotropika
dicatat dalam kartu stok psikotropika.

c.

Penyerahan psikotropika
Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan
kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan atau
dokter kepada pasien berdasarkan resep dokter.

d.

Pelaporan psikotropika
Apotek wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan
yang berhubungan dengan psikotropika. Pelaporan psikotropika dilakukan
satu tahun sekali dengan ditandatangani oleh APA kepada kepala dinas
kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan ke Balai POM dan
arsip.

2.6.2.3 Obat Wajib Apotek


Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan
pelayanan kesehatan khususnya akses obat, pemerintah mengeluarkan kebijakan
Obat Wajib Apotek (OWA). OWA merupakan obat keras yang dpat diberikan oleh
Apoteker Pengelola Apotek (APA) kepada pasien. Disini terdapat daftar obat

wajib Apotek yang dikeluatkan berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan.


Sampai saat ini sudah ada 3 daftar obat yang diperbolehkan diserahkan tanpa
resep dokter. Peraturan mengenai Daftar Obat Wajib Apotek tercantum dalam :
a. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang
Obat Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No.1
b. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/MenKes/SK/X/1999 tentang
Daftar Obat Wajib Apotek No.2
c. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/MenKes/SK/X/1999 tentang
Daftar Obat Wajib Apotek No.3
Dalam peraturan ini disebutkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan,
dirasa perlu ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri
secara tepat, aman dan rasional. Peningkatan pengobatan sendiri secara tepat,
aman dan rasional dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang
dibutuhkan disertai dengan informasi yang tepat sehingga menjamin penggunaan
yang tepat dari obat tersebut.
Oleh karena itu, peran Apoteker di apotek dalam pelayanan. KIE
(Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat
perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri. Walaupun APA
boleh memberikan obat keras, namun ada persyaratan yang harus dilakukan dalam
penyerahan OWA.
Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masyarakat,
maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adlah obat yang diperlukan bagi
kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara lain : obat antiinflasmasi (asam

mefenamat), obat alergi kulit (salep hidrokortison), infeksi kulit dan mata (salep
oksitetrasiklin), anti alergi sistemik (CTM), obat KB hormonal. Sesuai permenkes
No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan :
a. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak
dibawah usia 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun.
b. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada
kelanjutan penyakit.
c. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan.
d. Penggunaanya diperlukan untuk penyakit yang pevalensinya tinggi di
Indonesia.
e. Obat yang dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
2.6.3

Kegiatan Non Teknis Kefarmasian

a. Pengelolaan Sumber Daya Manusia


Sesuai ketentuan peundangan yang berlaku apotek harus dikelola
oleh seorang apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan apotek,
apoteker senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan
memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat,
mampu berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan
dalam situasi multidisipliner, kemampuan mengelola SDM secara efektif,
selalu belajar sepanjang karir dan membantu memberi pendidikan dan
memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan (Menteri Kesehatan
Republik Indonesia, 2004).

b. Pengelolaan Keuangan
Laporan keuangan yang biasa dibuat di apotek adalah (Umar, M.,
2011) :
1) Laporan Laba-Rugi yaitu laporan yang menggambarkan tentang aliran
pendapatan dan biaya operasional yang dikeluarkan selama periode
waktu tertentu.
2) Laporan Neraca yaitu laporan yang menggambarkan tentang potret
kondisi kekayaan apotek pada tanggal tertentu.
3) Laporan Aliran Kas yaitu laporan yang menggambarkan tentang aliran
kas yang masuk dan keluar pada periode tertentu.
c. Administrasi
Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu
dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi (Menteri Kesehatan
Republik Indonesia, 2004):
1) Administrasi umum
Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan
dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2) Administrasi pelayanan
Pengarsipan resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien,
pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat.
Hal lain yang harus diperhatikan dalam pengelolaan apotek adalah
(Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 1993a) :
1) Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan
perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin.

2) Obat dan perbekalan farmasi lainnya yang karena suatu hal tidak dapat
digunakan atau dilarang digunakan, harus dimusnahkan dengan cara
dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan.
2.7

Pencabutan Izin Apotek


Adapun Ketentuan Pencabutan Izin Apotek adalah :
a. Apotek sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang dimaksud pada surat
keputusan mentri No 278/Menkes/Sk/V/1981 tentang persyaratan apotek.
b. Apotek melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
c. Surat izin kerja dan atau surat izin pengelolaan apotek di cabut dalam hal
apoteker pengelola apotek adalah pemilik sarana apotek.
d. Terjadi ketidak sesuaian antara apoteker pengelola apotek dengan pemilik
sarana apotek yang mengakibatkan pembatalan kerja sama antara kedua
belah pihak.