Anda di halaman 1dari 14

ISOLASI FLAVONOID DARI AKAR TERAP

(Artocarpus Odoratissimus)

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK VI
1.
2.
3.
4.

MUH. WATONI
NENY NURINDANNI
SOFIAH MAWADDATI
YUYUM FAHMIDANI

(E1M0120 )
(E1M012043)
(E1M012062)
(E1M012070)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2015
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Moraceae merupakan famili tumbuhan yang memiliki keanekaragaman terbesar di
Indonesia. Tiga genus utama dari famili ini adalah Artocarpus, Ficus dan Morus.
Artocarpus sendiri memiliki banyak spesies, diantaranya adalah Artocarpus
odoratissimus, Artocarpus altilis, Artocarpus heterophyillus, dan Artocarpus camansi.
Di Indonesia, Artocarpus digunakan sebagai bahan pangan, alat rumah tangga,
konstruksi bangunan, dan obat tradisional. Penelusuran pustaka menunjukkan bahwa
Artocarpus mengandung senyawa-senyawa kelompok flavonoid, stilben, dan 2arilbenzofuran. Beberapa diantara senyawa tersebut memiliki aktivitas biologis seperti
antiinflamasi, antitumor, antikanker, dan antibakteri.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah karakteristik Artocarpus odoratissimus?
2. Senyawa apakah yang dapat diisolasi dari Artocarpus odoratissimus ?
3. Bagaimanakah cara mengisolasi senyawa kimia dari Artocarpus odoratissimus ?
4. Apakah manfaat berbagai senyawa kimia yang terdapat dalam Artocarpus
odoratissimus ?
C. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik Artocarpus
odoratissimus, senyawa-senyawa yang bisa dari Artocarpus odoratissimus, cara
mengisolasi senyawa tersebut dan apa manfaat senyawa tersebut.

ISOLASI FLAVONOID DARI ARTOCARPUS ODORATISSIMUS


( TERAP )

A. Karakteristik Artocarpus odoratissimus


1. Distribusi Artocarpus odoratissimus
Terap (Artocarpus odoratissimus) adalah pohon berdaun hijau dari Pulau
Kalimantan di Indonesia. Namun, secara luas ditanami untuk pasar lokal di sekitar
negara Malaysia, Thailand, dan Filipina. Nama umum untuk Artocarpus
odoratissimus bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, seperti : pingan (Iban),
piien (Bidayuh), keiran (Kelabit), terap (Malaysia), marang (Sulu), madang
(Lanao), loloi (Tagalog), dan khanun sampalor (Thailand). Asal-usulnya
diperkirakan dari bagian utara Borneo, di mana ditemukan jenis liarnya di alam.
Terap juga dibudidayakan di Queensland, Australia. Di Nusa Tenggara Barat, terap
dapat di temukan di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Barat.
2. Ekologi
Terap dapat tumbuh sejak daerah dekat pantai hingga ketinggian sekitar 1000 m
dpl. Pohon ini menyenangi tanah liat berpasir dan wilayah dengan curah hujan
cukup tinggi dan merata. Buah biasa didapati di awal musim hujan, antara Agustus
hingga Januari bergantung pada lokasinya.
3. Kegunaan
Pohon ini terutama ditanam karena buahnya, yang dimakan dalam keadaan segar
atau diolah sebagai kue-kue. Buah terap harus segera dimakan dalam beberapa jam
setelah dibuka, karena baunya yang harum cepat berkurang dan warnanya dapat
berubah karena teroksidasi. Biji terap juga dapat dimakan setelah dipanggang atau
direbus dengan garam. Serat dari kulit kayu digunakan untuk industri pakaian dan
tambang (Sumber : Wikipedia, 2013)
4. Morfologi
Pohon terap tingginya mencapai 25 m, dan batangnya dapat mempunyai diameter
sampai 40 cm berwarna keabu-abuan. Ranting dengan bulu-bulu panjang berwarna
kuning sampai kemerahan. Merupakan tanaman berumah satu (monoecious). Daun
berbentuk jorong sampai bundar telur terbalik, memiliki panjang sekitar 16 hingga
50 cm dan lebar 11 hingga 28 cm, bertepi rata atau menggerigi dangkal, berujung

tumpul atau sedikit meluncip, bertangkai 2-3 cm. Daun penumpu bundar telur, 1-8
cm, berbulu kuning atau merah, bila rontok meninggalkan bekas cincin pada
ranting. Perbungaan dalam bongkol soliter, yang muncul pada ketiak daun.
Bongkol bunga jantan berbentuk jorong sampai gada, 2-6 4-11 cm. Buah
majemuk (syncarp) agak bulat, sampai 13 16 cm, kuning kehijauan bila masak,
dengan tonjolan-tonjolan serupa duri lunak pendek, bertangkai panjang 5-14 cm,
muncul di ujung ranting seperti pada sukun. Daging buah (semu, yang sebetulnya
adalah perkembangan dari perhiasan bunga) berwarna keputihan, mengandung
banyak sari buah, manis dan harum sekali, terasa licin lunak dan agak seperti jeli
di lidah. Biji (perikarp) 8 12 mm (Wikipedia, 2013 )
5. Klasifikasi tumbuhan Artocarpus odoratissimus
Dalam taksonomi, tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai berikut :
Superregnum: Eukaryota
Regnum : Plantae
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Urticales

Famili

: Moraceae

Sub famili: Artocarpeae


Genus

: Artocarpus

Spesies

: Artocarpus Odoratissimus

6. Kandungan yang terdapat dalam Artocarpus odoratissimus


Artocarpus Odoratissimus merupakan salah satu species dari genus Artocarpus.
Yang mana, Artocarpus merupakan salah satu jenis tanaman yang berpotensi
sebagai sumber metabolit sekunder (Khaerunnisa, 2011). Karena pada Artocapus
mengandung senyawa-senyawa kelompok flavonoid, stilben, dan 2-arilbenzofuran.
Hal ini dibuktikan dari penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa tanaman
Artocarpus mengandung berbagai jenis senyawa flavonoid. Dalam berbagai
tumbuhan Artocarpus telah ditemukan berbagai senyawa turunan flavonoid, seperti
Morusin, Artonin E, Sikloartobilosanton, dan Artonol B. Senyawa-senyawa

tersebut memiliki hubungan kekerabatan molekul, seperti pada saran jalur reaksi
biogenesis pembentukan senyawa-senyawa flavonoid pada genus Artocarpus.
Dengan demikian, Artocarpus Odoratissimus memiliki potensi yang besar terhadap
kandungan senyawa flavonoid. Hal ini bertujuan untuk mencari alternatif senyawa
metabolit sekunder yang mempunyai potensi bioaktifitas yang tinggi. Dan bagian
dari Artocarfus Odoratissimus yang akan di uji yaitu bagian akarnya.
B. Senyawa Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman
hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi
(Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan O-glikosida, isoflavon Cdan O-glikosida, flavanon C- dan O-glikosida, khalkon dengan C- dan O-glikosida,
dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin, auron O-glikosida, dan
dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, dan
khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya.
Istilah flavonoid yang diberikan untuk senyawa fenolik ini berasal dari kata
flavon, yaitu nama dari salah satu jenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan yang
paling umum ditemukan. Flavon mempunyai tingkat oksidasi yang terendah sehingga
senyawa ini dianggap sebagai senyawa induk dalam tata nama senyawa-senyawa
turunan flavon seperti yang ditunjukkan pada dibawah ini :

1. Klasifikasi Flavonoid
Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon.
Atom karbon ini membentuk dua cincin benzena dan satu rantai propana dengan
susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur, yaitu flavonoid
(1,3- diaril propana), isoflavonoid (1,2- diaril propana), dan neoflavonoid (1,1- diaril
propana).

a. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana

b. Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana

3. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana

Kelas-kelas yang berlainan dalam golongan ini dibedakan berdasarkan cincin

heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang
berlainan. Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida. Golongan terbesar flavonoid
berciri mempunyai piran yang menghubungkan rantai tiga-karbon dengan salah satu
dari cincin benzene. Sistem penomoran untuk turunan flavonoid diberikan dibawah:

Di antara flavonoid khas yang mempunyai kerangka seperti diatas berbagai jenis
dibedakan

tahanan

oksidasi

dan

keragaman

pada

rantai

C3.

Flavonoid mencakup banyak pigmen yang umum dan terdapat pada seluruh dunia
tumbuhan mulai dari fungsi sampai angiospermae
a. Katekin dan proantosianidin
Katekin dan proantosianidin adalah dua golongan senyawa yang mempunyai
banyak kesamaan. Semuanya senyawa terwarna, terdapat pada seluruh dunia
tumbuhan berkayu.kita hanya mengenal tiga jenis katekin, perbedaannya hanya
pada jumlah gugus hidroksil pada cincin B. Senyawa ini mempunyai dua atom
karbon kiral dan karena itu mungkin terdapat 4 isomer.

b. Flavanon dan Flavanonol


Senyawa ini terdapat hanya sedikit sekali jika dibandingkan dengan flavonoid
lain. Mereka terwarna atau hanya kuning sedikit. Karena konsentrasinya rendah
dan

tidak

berwarna

maka

sebagian

besar

diabaikan.

Flavanon

(atau

dihidroflavanon) sering terjadi sebagai aglikon (60)tetapi beberapa glikosidanya


dikenal sebagai, misalnya, hesperidin dan naringin dari kulit buah jeruk.
Flavanonol merupakan flavonoid yang kurang dikenal, dan kita tidak mengetahui
apakah senyawa ini terdapat sebagai glikosida.
c. Flavon, flavanol, isoflavon
Flavon atau flavonol merupakan senyawa yang paling tersebar luas dari semua
semua pigmen tumbuhan kuning, meskipun warna kuning tumbuhan jagung
disebabkan oleh karatenoid. Isoflavon tidak begitu menonjol, tetapi senyawa ini
penting sebagai fitoaleksin. Senyawa yang lebih langka lagi ialah homoisoflavon.
Senyawa ini biasanya mudah larut dalam air panas dan alkohol meskipun
beberapa flvonoid yang sangat termitalasi tidak larut dalam air.

d. Auron

Auron atau system cincin benzalkumaranon dinomori sebagai berikut :

Auron berupa pigmen kuning emas terdapat dalam bunga tertentu dan bryofita.
Dikenal hanya lima aglikon, tetapi pola hidroksilasi senyawa ini umumnya serupa
dengan pola pada flavonoid lain begitu pula bentuk yang dijumpai ialah bentuk
glikosida dan eter metil. Dalam larutan basa senyawa ini menjadi merah ros.
Beberapa auron, struktur dan tumbuhan sumber terdapat dalam contoh dibawah
ini.

7. Manfaat Flavonoid
- Senyawa flavonoid terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk akar,
daun, kayu, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji (Markham, 1988).
Flavonoid merupakan pigmen yang paling penting untuk menghasilkan warna
bunga kuning, merah atau biru dalam pigmentasi kelopak bunga. Senyawa ini
juga melindungi tanaman dari serangan mikroba dan serangga.

Flavonoid telah dikenal dengan istilah natures biological response


modifiers karena data penelitian menunjukkan bahwa flavonoid mempunyai
kemampuan untuk memodifikasi reaksi pada tubuh terhadap sumber alergi,
virus dan penyebab kanker. Flavonoid menunjukkan aktivitas anti energy, anti

inflamasi, anti mikroba dan anti kanker (Sudarma,2009).


Flavonoid merupakan bagian dari keluarga yang jauh lebih besar dari zat
tumbuhan yang disebut phytochemical. Sejauh ini, para ilmuwan telah
menemukan lebih dari 4.000 fitokimia berbeda dalam tanaman. Lebih dari
600 adalah flavonoid atau karotenoid, dan sekitar 50 sampai 60 jenis zat itu
akan tetap aktif setelah anda memakannya dan sangat berharga untuk
kesehatan. Sebagian besar flavonoid merupakan antioksidan yang sangat
bermanfaat, ada yang memiliki kemampuan meringankan pembengkakan,
nyeri, dan reaksi alergi, bahkan sebagian dapat membantu anda melawan

virus.
Karotenoid
Wortel, ubi jalar, labu, dan bahan makanan lain yang berwarna oranye dan
merah mendapatkan warna dari zat yang disebut karotenoid. Karotenoid juga
ditemukan pada sayuran berdaun hijau seperti brokoli, kangkung, bayam, dan
kubis.
Terdapat tiga anggoa karoten yang penting yaitu: alpha karoten, betacryptoxanthin, dan likopen. Tubuh dapat mengubah alpha karoten dan beta
karoten menjadi Vitamin A. Alpha karoten merupakan antioksidan yang jauh
lebih kuat dari sepupunya beta karoten, terutama berguna untuk mengatasi
radikal bebas. Alpha karoten ditemukan dalam semua makanan yang sama
seperti beta karoten, termasuk wortel, ubi jalar,melon, brokoli, kiwi, bayam,
mangga, dan squash. Jumlah alpha karoten dalam makanan adalah sekitar 10

sampai 20 persen dari jumlah beta karoten.


Beta cryptoxanthin terdapat pada jeruk, mangga, pepaya, melon, persik, dan
squash. Jenis antioksidan ini sangat baik untuk mengatasi radikal bebas.
Lycopene, antioksidan yang berkemampuan melawan kanker ini ditemukan
dalam jumlah besar pada tomat, zat ini juga yang memberikan warna merah
pada tomat. Semangka dan anggur merah juga memiliki lycopen, tetapi dalam
jumlah yang jauh lebih sedikit. Orang yang banyak memakan tomat memiliki

resiko yang rendah akan kanker prostat. Secara umum, lycopene tampaknya
memberikan perlindungan terhadap kanker pada saluran pencernaan,
termasuk kanker usus besar, dan terhadap kanker paru-paru. Penelitian
terbaru menunjukkan lycopene yang juga dapat membantu mencegah
-

penyakit jantung.
Xanthopill termasuk karotenoid yang banyak ditemukan pada sayuran
berdaun hijau gelap. Di dalam tubuh, xanthopil tidak diubah menjadi vitamin
A. Anggota xanthopil, lutein dan zeaxanthin, berkemampuan melindungi
mata dari serangan radikal bebas. Zeaxanthin membantu melindungi sel-sel
halus makula, bagian dari retina, dari efek berbahaya dari ultraviolet yang
terdapat pada sinar matahari. Capsanthin, salah satu antioksidan xantofil,
ditemukan pada cabai dan paprika yang berwarna merah, semakin merah

semakin baik.
Quercetin merupakan flavonoid yang sangat aktif dan menjadi zat penting
dalam banyak tanaman obat. Quercetin membantu mengurangi inflamasi dan
pembengkakan, mengatasi alergi, membunuh virus, dan bertindak sebagai
antioksidan. Bahkan dapat membantu penderita diabetes mengendalikan gula
darah mereka dan menghindari masalah mata. Bawang merupakan bahan
makanan yang mengandung banyak quercetin, masyarakat tradisional banyak
menggunakan bawang untuk mengobati asma dan alergi. Selain itu, quercetin
juga dapat membantu mencegah kanker dengan menghalangi pertumbuhan

sel kanker.
Anthocyanin merupakan antioksidan pembasmi radikal bebas yang sangat
efektif, terutama pada pembuluh darah kecil di mata anda. Anthocyanin
bermanfaat untuk mencegah masalah mata,terutama yang mempengaruhi
retina Anda, seperti degenerasi makula. Sebagian besar tumbuhan memiliki
kandungan antosianin terbesar pada bagian buahnya. Sebagian tanaman lain,
seperti teh, kakao, serealia, buncis, kubis merah dan petunia juga memiliki
kandungan antosinin pada bagian tubuh selain buah. Anggur merupakan buah
yang paling banyak dimanfaatkan sebagai sumber antosianin karena
kandungan pigmen tersebut cuku tinggi di dalam kulit anggur. Ubi jalar dan
rosella juga merupakan sumber makanan yang mengandung antosianin.
(Sumber

:http://www.smallcrab.com/kesehatan/906-empat-anggota-

flavonoid-yang-penting 2012)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
a. Alat dan bahan
Dalam mengisolasi akar Artocarpus odoratissimus, adapun bahan - bahan yang
digunakan adalah serbuk yang berasal dari akar tumbuhan A.Odoratissimus. Dimana
tempat pengambilan akar tersebut berada di daerah Lingsar, Lombok Barat NTB.
Selain itu juga, dalam percobaan ini digunakan metanol 95%, silika gel G 60, pelarut
n-Heksana pa, pelarut dikhlorometana (DCM) pa, serbuk Mg, larutan HCl pekat,
kertas saring, dan kertas KLT. Peralatan utama yang digunakan seperangkat alat
kromatografi kolom tekan, KLT, Rotary evaporator Heidolph Laborota 4000s, lampu
UV254-365.
b. Pembutan ekstrak
Sebanyak 100 gram serbuk dari akar A.Odoratissimus dimaserasi dengan
pelarut DCM (1:9 v/v). Maserasi dilakukan 2-3 hari sampai dihasilkan maserat.
Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi. Maserasi merupakan proses
perendaman sampel dengan pelarut organik yang digunakan pada temperature
ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena
dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran
sel akibat perbedaan tekanan antara didalam dan diluar sel.
Pemilihan pelarut pada proses maserasi didasarkan pada senyawa target yang
diinginkan. Pelarut yang bersifat polar akan melarutkan komponen yang bersifat
polar, sementara pelarut non polar akan melarutkan komponen senyawa yang bersifat
non polar. Hal ini sesuai dengan prinsip pelarutan suatu zat like dissolve like.
Kepolaran suatu pelarut dapat ditentukan berdasarkan sifat kimia yakni tetapan
dielektrikum. Tetapan dielektrik merupakan ukuran kepolaran suatu pelarut. Pelarut.
yang mempunyai konstanta dielektrikum yang besar akan lebih melarutkan senyawa
polar, sebaliknya pelarut dengan konstanta dielektrikum yang kecil akan melarutkan
senyawa yang non polar.
Ekstrak kental yang didapatkan selanjutnya dilakukan uji kandungan flavonoid
secara kualitatif dengan metode skrining fitokimia. Hasil uji flavonoid Ekstrak kental
serbuk dari akar A.Odoratissimus setelah dilakukan uji kandungan flavonoid dengan
metode Wilstater. Metode Wilstater adalah menunjukkan hasil positif terhadap uji
flavonoidnya, hal ini dapat dilihat dari perubahan warna yang terjadi yakni dari

warna hijau kecoklatan menjadi kuning kemerahan mengidentifikasikan adanya


senyawa flavonoid. Proses ini dilakukan beberapa kali dan ekstrak kemudian
disatukan lalu diuapkan dengan menggunakan penguap-putar vakum. Setelah
dilakukan proses ekstraksi, tahap isolasi selanjutnya adalah analisis senyawa dengan
menggunakan beberapa jenis kromatografi.
c. Teknik fraksinasi
Ekstrak kental difraksinasi mengunakan kolom kromatografi vakum dengan
eluen n-heksan,

perbandingan n-heksan : DCM = 1:1, 2:8, DCM 100%,

perbandingan DCM : Metanol = 1:1 dan metanol 100%. Fase diam digunakan silica
gel G60 sebanyak 50 gr dengan metode bubur. Kemudian menampung fraksi-fraksi
yang keluar dari kolom ke dalam botol vial (botol ampul)yang telah disediakan
dengan ukuran sekitar 25 mL. Fraksi-fraksi yang mengandung flavonoid akan
dimonitor dengan kromatorafi lapis tipis (KLT) untuk mengetahui kandungan dalam
fraksi secara kualitatif dan fraksi-fraksi yang memiliki noda yang sama atau mirip
dijadikan satu fraksi besar.
d. Skrining fitokimia
Sampel sebanyak 5 mL dalam alkohol ditambahkan 2-4 tetes larutan HCl dan 2
potong kecil logam Mg. Perubahan warna yang terjadi diamati dari kuning tua
menjadi orange yang menunjukkan adanya flavonoid.
e. Analisis senyawa
Jenis kandungan senyawa flavonoid yang terdapat pada akar A.Odoratissimus
dianalisis menggunakan kromatografi lapis tipis dengan membandingkan Rf pada
senyawa flavonoid standar. Fraksi yang memiliki spot tunggal dan Rf yang sama atau
hampir sama dengan senyawa standar dapat diidentifikasikan sebagai senyawa
mayor yang terdapat pada tumbuhan Artocarpus odoratissimus. Analisis dilakukan
dengan menggunakan tiga sistem eluen yang berbeda, jika spot yang dihasilkan
memiliki Rf yang sama atau hampir sama maka fraksi tersebut merupakan senyawa
murni (Sumber : Jurnal Analisis Senyawa Flavonoid Hasil Fraksinasi Ekstrak
Diklorometana Daun Keluwih oleh Lilik Mariana, Yayuk Andayani dan Erin
Riyantin Gunawan)

DAFTAR PUSTAKA
Sudarma, Made. 2009. Kimia Bahan Alam. Mataram : Universitas Mataram.
Jurnal Isolasi Senyawa Flavonoid dari Daun Jamblang oleh Maryati, Abd Gafur,
Iskhak Isa dan Nurhayati Bialangi, Jurusan Kimia Fakultas MIPA, Universitas
Gorontalo.
Jurnal Analisis Senyawa Flavonoid Hasil Fraksinasi Ekstrak Diklorometana Daun
Keluwih oleh Lilik Mariana, Yayuk Andayani dan Erin Riyantin Gunawan, Program
Magister MIPA, Universitas Mataram.
http://www.smallcrab.com/kesehatan/906-empat-anggota-flavonoid-yang-penting
2012. Diakses pada 17 Maret 2015 pukul 15.37 wita.
http://www -Terap - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.2013. Diakses
pada 17 Maret 2015 pukul 15.37 wita.