Anda di halaman 1dari 3

bentuk-bentuk rapat / pertemuan

Posted on | June 27, 2011 |


ilustrasi
Untuk menambah pengetahuan bagi mereka yang kegiatannya di bidang pidato, maka perlu
diuraikan sekedarnya tentang bentuk-bentuk pertemuan (rapat-rapat).
Bentuk-bentuk pertemuan atau berkumpulnya orang banyak, baik karena diundang, karena
mendengarkan pengumuman atau melalui pemberitahuan lewat surat-surat kabar, adalah
sebagai berikut:
1. Rapat Umum (Massa Meeting).

Secara umum, artinya semua orang baik pria maupun wanita, pemuda, pelajar, petani,
buruh dll. tanpa

Tempatnya distadion, lapangan atau alun-alun.

Terbuka untuk umum,

Undangan sekian ratus ribu orang hanya melalui siaran-siaran keliling, radio, dlsb.

2. Rapat umum terbatas.

Secara umum.

Tempatnya dalam ruangan, dus terbatas menurut kemampuan ruangan itu menampung
pengunjung.

Sebagian besar dengan undangan.

3. Rapat Intern.
Adalah rapat yang hanya dihadiri oleh warga atau anggota-anggotanya sendiri. Misalnya
rapat Intern dari partai A, partai B, perkumpulan Koperasi A, B, dst.
4. Rapat Ekstern.
Adalah rapat yang diadakan oleh sesuatu organisasi dengan mengundang organisasi lain.
5.Sidang.
Yang disebut sidang adalah pertemuan antara pengurus atau antara pengurus dan seluruh
anggota, untuk membicarakan sesuatu, kemudian diambilnya suatu keputusan yang
dimufakati bersama. Dengan demikian, istilah sidang adalah bagi sesuatu lembaga yang

mengadakan musyawarah untuk mencapai keputusan. Dus dibidang legeslatip. Sidang pleno,
adalah sidang lengkap dengan seluruh anggota dan anggota pengurus lengkap. lstilah sidang
pleno kini kebanyakan disalin dengan istilah sidang paripurna.
Dengan istilah sidang adalah bermusyawarah mencapai mufakat, yang lazim menggunakan
istilah sidang tsb. adalah Lembaga yang merupakan Dewan. seperti DPR, Dewan Partai,
dlsb.
6. Musyawarah.
Adalah indentik dengan sidang. Dan sejalan dengan pengetrapan Demokrasi Pancasila, maka
kita lebih cenderung untuk- menggunakan istilah musyawarah daripada istilah sidang.
Musyawarah lebih dijiwai oleh semangat kekeluargaan dan putusan sejauh mungkin diambil
dengan jalan musyawarah untuk mufakat bersama. Berbeda sedikit dengan sidang, dimana
masih terbukanya ketentuan formal adanya suarayang terbanyak menjadi menang.
sumber : tuntunan berpidato (S. Suryo Untoro)