Anda di halaman 1dari 13

1

USULAN PENELITIAN
Studi Profil Epidemiologi Klinis Penyakit Telinga, Hidung,
Tenggorokan pada Pasien Usia Sekolah yang Berobat di
Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit Mata Bali
Mandara Denpasar Periode Januari 2010 Desember 2015

Oleh :
dr. Mahaprani Danastri, S.Ked

DALAM RANGKA MENGIKUTI SELEKSI PENERIMAAN PPDS-1


LAB/SMF ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN
RS SANGLAH/FK UNUD DENPASAR
MEI 2016
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Populasi pediatri membentuk suatu proporsi yang mewakili kelompok mereka sendiri dalam
masyarakat. Semua isu terkait kesehatan pada kelompok usia pediatri dinilai memiliki nilai
kepentingan tersendiri dan juga memberikan data mengenai masalah-masalah terkait
kesehatan dan untuk menilai status kesehatan dari suatu komunitas.
Penyakit telinga, hidung, tenggorokan (THT) merupakan kejadian umum pada anak
usia sekolah dan sering kali anak terpaksa tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar karena
penyakit THT. Penyakit ini merupakan penyebab mayor absensi atau ketidakhadiran di
tempat kerja maupun sekolah (Mohan dkk, 2004).
Penyakit-penyakit THT yang dapat dicegah telah diketahui sebagai masalah kesehatan
yang penting pada anak-anak (Rao dkk, 2002). Nyaris satu per tiga kunjungan ke poliklinik
THT di rumah sakit merupakan pasien dari kelompok usia pediatri. Masalah ini juga
diakibatkan oleh fakta bahwa anak-anak secara ekonomi bergantung pada orang tua mereka;
yang dalam hal orang tua mereka tidak mampu, maka dapat menunda pemeriksaan oleh
praktisi kesehatan yang kompeten (Biswas dkk, 2005; Morris dkk, 2005)
Dari seluruh penyakit THT yang paling meberikan dampak pada anak usia sekolah
adalah gangguan pendengaran terkait dengan berbagai jenis otitis media yang dapat dicegah
dengan deteksi dan intervensi dini (Maharajan dkk, 2006); di mana menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) terdapat 42 juta anak yang menderita gangguan pendengaran akibat
otitis media (Yeli S, 2015). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan untuk negaranegara berkembang agar melakukan penapisan pada anak-anak saat tahu ajaran baru dengan
menginspeksi telinga dan penilaian pendengaran dengan audiometer sederhana (WHO, 2004;
WHO, 2006). Infeksi saluran pernafasan berulang, hipertrofi tonsil, pembesaran adenoid dan
benda asing yang tidak terdiagnosis adalah masalah lain yang sering ditemukan pada anak
usia sekolah. Penapisan sejenis ini pun jarang melibatkan konsultan atau spesialis THT dan
merupakan alasan utama jarangnya penyakit THT tidak terdeteksi dini (Udaipurwala, 2013).
Beberapa penyakit THT lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan dewasa
(Sharma dkk, 2014). Sayangnya, data-data ilmiah mengenai insiden dan prevalensi mengenai
penyakit THT pada anak di Indonesia sangat sedikit dan terbatas, namun tampak pasti bahwa
penyakit ini merupakan penyakit utama pada anak yang sering dikeluh ke praktisi kesehatan.
Pola penyakit THT bervariasi pada tiap-tiap negara dan banyak faktor lingkungan dan sosial
diyakini bertanggung jawab terhadap etiologi infeksi penyakit ini. Status sosial ekonomi,
latar belakang keluarga, pendidikan, dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan berperan
2

sebagai faktor risiko pada semua masalah telinga, hidung, dan tenggorokan. Karenanya,
penelitian ini bertujuan untuk melihat profil epidemiologi klinis pada pasien usia sekolah
yang berobat di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit Mata Bali Mandara
Denpasar Periode Januari 2010 Desember 2015.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimanakah profil epidemiologi klinis penyakit telinga, hidung, tenggorokan pada
pasien usia sekolah yang berobat di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit
Mata Bali Mandara Denpasar Periode Januari 2010 Desember 2015?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1.

Untuk mengetahui profil epidemiologi klinis penyakit telinga, hidung, tenggorokan pada
pasien usia sekolah yang berobat di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit
Mata Bali Mandara Denpasar Periode Januari 2010 Desember 2015

1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1.4.1 Manfaat untuk Akademik
Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan mengenai profil epidemiologi klinis
penyakit telinga, hidung, tenggorokan pada pasien usia sekolah yang berobat di
Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit Mata Bali Mandara
Denpasar Periode Januari 2010 Desember 2015 sehingga kalangan medis dapat
melakukan upaya penanganan dan evaluasi yang lebih baik lagi terhadap
pasien,utamanya pencegahan penyakit pada pasien-pasien usia sekolah.
1.4.2 Manfaat untuk Penelitian
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian berikutnya.

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1

Populasi Anak Usia Sekolah di Indonesia

Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) tahun 1971-2010, jumlah penduduk Indonesia


mengalami kenaikan menjadi dua kali lipat selama hampir 40 tahun dari sekitar 118 juta pada
tahun 1971 menjadi 237 juta pada tahun 2010. Menurut kelompok umur, jumlah penduduk
usia 0-4 tahun sebanyak 22.678.702 jiwa (9,54%), sedangkan penduduk usia 15-64 tahun
sebanyak 156.982.218 jiwa (66%), dan kelompok penduduk usia 65 tahun keatas sebanyak
12.062.388 jiwa (5,1%) (BKKBN, 2013).
Tren Piramida penduduk Indonesia tahun 1971 sampai dengan 2010 menggambarkan
perubahan struktur umur penduduk Indonesia. Bentuk Piramida Penduduk berubah menjadi
tipe expansive pada tahun 2010 dimana jumlah penduduk usia muda lebih banyak daripada
usia dewasa maupun tua. Tabel 2.1 menampilkan data jumlah total penduduk Indonesia dan
persentasi jumlah penduduk usia muda (0-14 tahun) yang diambil dari data profil kesehatan
Indonesia beberapa tahun terakhir (BKKBN, 2013).
Tabel 2.1 Presentasi Jumlah Penduduk Usia Muda

Anak-anak usia sekolah mewakili sebuah kelompok target yang penting dan beragam
untuk intervensi kesehatan dan gizi. Pemerintah Indonesia sejak kemerdekaannya pada tahun
1945 terus mengembangkan sistem pendidikannya, dan wajib belajar 9 tahun dicanangkan

sebagai kebijakan nasional pada tahun 1994. Sistem wajib belajar 9 tahun mencakup enam
tahun pendidikan di sekolah dasar (untuk anak usia 7-12 tahun) dan tiga tahun di sekolah
lanjutan pertama (usia 13-15 tahun) (Departemen Pendidikan Nasional, 2002).
Hampir semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, masuk sekolah dasar (SD),
dan Angka Partisipasi Murni (APM) mencapai 93% pada tahun 2002. Di tingkat sekolah
lanjutan tingkat pertama (SLTP), APM turun menjadi 61,6%. Anak yang tinggal di daerah
perkotaan (71,9%) lebih banyak yang belajar di SLTP dibandingkan dengan yang tinggal di
daerah pedesaan (54,1%). Sekitar 1,8 juta anak SD berusia 7 12 tahun, dan 4,8 juta anak
usia 13 15 tahun, tidak bersekolah (BPS, 2010).
2.2

Penyakit THT pada Populasi Pediatri

Gupta dkk, 2012, meneliti kejadian penyakit THT pada 639 anak di Polikinik THT di MGM
Medical College, India. Sebanyak 281 (43,98%) merupakan anak berusia 6-10 tahun, dan 358
(56.02%) sisanya adalah anak kelompok usia 11-14 tahun. Penyakit telinga memiliki nilai
dominan tertinggi (52,60%), di mana OMSK menyumbang 46,04%, OMSA 14,60%, serta
Otitis Media dengan efusi menyumbang 19,55%. Di antara penyakit hidung, epistaksis
(28,69%) dan rhinitis alergi (24,18%) dan di antara penyakit tenggorokan, tonsilitis (57,50%)
dan faringitis (35,83%) adalah temuan yang paling umum. Studi ini mengindikasikan bahwa
penyakit THT merupakan beban penyakit yang harus dipertimbangkan di distrik Kishanganj,
India, pada kelompok anak usia sekolah (Gupta dkk, 2012).
Penelitian lain yang dilakukan di United Arab Emirates pada tahun 2015
menunjukkan bahwa anak-anak lebih banyak menderita masalah telinga, dimana terhitung
sekitar 50,24%. OMA (42,9%) merupakan penyakit terbanyak yang menyebabkan hilangnya
pendengaran diikuti dengan serumen obsturan (20,6%) dan otitis media dengan efusi (19,4%)
(Yeli S, 2015).
Di Indonesia sendiri, kasus terbanyak yang masih dijumpai adalah kasus infeksi
saluran pernafasan, baik saluran pernafasan atas mau pun bawah. Prevalensi ISPA tahun 2007
di Indonesia adalah 25,5% dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas
angka nasional (Farokah dkk, 2007).
Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Setiap anak
diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. ISPA menjadi perhatian bagi
anak-anak (termasuk balita) baik di negara berkembang maupun di negara maju karena ini
berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. anak-anak dan balita akan sangat rentan terinfeksi
penyebab ISPA karena sistem tubuh yang masih rendah, itulah yang menyebabkan angka

prevalensi dan gejala ISPA sangat tinggi bagi anak-anak dan balita. Infeksi saluran pernafasan
akut (ISPA) di Indonesia masih merupakan penyebab tersering morbiditas dan mortalitas
pada anak. Pada tahun 1996/1997 temuan penderita ISPA pada anak berkisar antara 30%-40%
(Novialdi dkk, 2010).
Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT-KL pada 7 provinsi di Indonesia pada
tahun 1994-1996, prevalensi tonsillitis kronik tertinggi setelah nasofaringitis akut (4,6%)
yaitu sebesar 3,8%. Insiden tonsilitis kronis di RSUP dr Kariadi Semarang 23,36% dan 47%
diantaranya pada usia 6-15 tahun. RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada priode April 1997
sampai Maret 1998 ditemukan 1024 pasien tonsilitis kronis atau 6,75% dari seluruh
kunjungan ke bagian THT-KL (Farokah dkk, 2007). Berdasarkan data medical record tahun
2010 di RSUP dr M. Djamil Padang bagian THT-KL sub bagian laring faring ditemukan
tonsilitis sebanyak 465 dari 1110 kunjungan di Poliklinik sub bagian laring faring dan yang
menjalani tonsilektomi sebanyak 163 kasus (Novialdi dkk, 2010).

Cacat bawaan/kongenital
Ada penyakit lain yang mendasari kelainan terkait
7

BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Adapun kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut:

Dirujuk ke departemen lain

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Data rekam medis tidak lengkap

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian bertempat di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit Mata Bali
Mandara Denpasar dan berlangsung pada bulan Mei 2016.
4.2 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi berbasis rumah sakit dengan rancangan
deskriptif menggunakan metode potong lintang.
4.3 Populasi Penelitian
4.3.1 Populasi Target
Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh pasien usia sekolah (usia 7-16 tahun).
4.3.2 Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah pasien usia sekolah (usia 7-16 tahun) yang
berobat di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit Mata Bali Mandara
Denpasar selama periode Januari 2010 Desember 2015.

Pasien usia 7 16
4.4 Besar dan Cara Pengambilan Sampel
4.4.1 Besar Sampel
Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus besar sampel untuk penelitian
deksriptif potong lintang (cross-sectional) sebagai berikut:
n = Z2pq/d2
Keterangan :
n

= jumlah sampel minimal yang diperlukan

= derajat kepercayaan

Telinga
Hidung
= proporsi kunjungan anak usia sekolah ke poliklinik THT

= 1-p

= limit dari error atau presisi absolut

Diagnosis TH

Tenggorok

Teli
Dan H

Jika digunakan nilai = 0,05, maka nilai Z adalah 1,96. Nilai p adalah persentase
pasien usia sekolah yang berobat ke poliklinik THTUsia
sebesar 40% berdasarkan
penelitian
Jenis Kelamin
Novialdi, dkk. (2010). Nilai d yang ditentukan adalah sebesar 10% (0,10). Dengan

Tingkat

Analisis Data

menggunakan rumus di atas, maka jumlah sampel minimal yang diperlukan adalah sebanyak
92 orang.
4.4.2 Cara Pengambilan Sampel
Cara pengambilan sampel adalah dengan menggunakan metode simple random
sampling. Sampling frame penderita didapatkan dari data register pasien di Poliklinik Telinga
Hidung Tenggorokan Rumah Sakit Mata Bali Mandara Denpasar.
4.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
4.5.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:
1. Sampel berusia antara 7 hingga 16 tahun
2. Sampel penderita penyakit telinga, hidung, atau tenggorokan
4.5.2 Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:
1. Sampel tidak memiliki data rekam medis yang lengkap
2. Sampel memiliki penyakit lain yang mendasari kelainan telinga, hidung, dan
tenggorokan
3. Sampel memiliki cacat bawaan/kongenital pada telinga, hidung, dan tenggorokan
4. Sampel dirujuk ke departemen/poliklinik lain untuk keluhan terkait
4.6 Variabel Penelitian
1. Karakteristik sosiodemografi
2. Diagnosis penyakit THT
4.7 Definisi Operasional Variabel
1. Karakteristik Sosiodemografi
a. Usia kronologis
Usia kronologis adalah selisih antara tanggal, bulan, dan tahun pemeriksaan
dengan tanggal, bulan, dan tahun lahir sampel. Usia dinilai dengan melihat KTP
atau rekam medis tanggal, bulan, dan tahun lahir sampel.
b. Jenis kelamin

10

Jenis kelamin adalah identitas kelamin responden. Jenis kelamin diketahui melalui
pengamatan langsung pada sampel atau melihat data rekam medis dan
dikategorikan menjadi laki-laki dan perempuan.
c. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan yang sedang dijalankan oleh
sampel (misal tidak sekolah, SD, SMP atau SMA). Tingkat pendidikan diketahui
dengan melihat data rekam medis.
d. Jumlah penghasilan orang tua per bulan
Jumlah penghasilan orang tua per bulan adalah jumlah nominal dalam Rupiah
penghasilan yang mampu didapatkan orang tua sampel dalam kurun waktu 1
bulan. Jumlah penghasilan diketahui dengan melihat data identitas sampel pada
catatan rekam medis. Jumlah penghasilan di kategorikan berdasarkan UMP pada
tahun 2015 menjadi : 1. Rendah ( s/d Rp. 1.800.000,00); 2. Sedang (Rp.
1.800.000,00 s/d Rp. 5.400.000,00); 3. Tinggi (di atas Rp. 5.400.000,00). Variabel
jumlah penghasilan orang tua per bulan merupakan variabel nominal ordinal.
2. Diagnosis penyakit THT
Diagnosis penyakit THT adalah penegakan diagnosis klinis yang ditegakkan secara
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang oleh dokter yang kompeten
dan terlatih. Diagnosis mencakup gejala-gejala dan temuan-temuan pemeriksaan fisik
yang ditemukan pada pasien yang menegakkan diagnosis penyakit telinga, hidung,
tenggorokan . Diagnosis diketahui melalui rekam medis pasien, dan akan
dikelompokkan menjadi kelompok penyakit telinga, penyakit hidung, penyakit
tenggorok, penyakit telinga dan hidung, penyakit hidung dan tenggorok, dan penyakit
telinga dan tenggorok.
4.8 Prosedur Pengumpulan Data
4.8.1 Instrumen Pengumpulan Data
Data mengenai variabel-variabel penelitian dikumpulkan melalui kuisioner terstruktur yang
diisi oleh peneliti. Kuisioner meliputi pertanyaan-pertanyaan terstruktur yang mengkaji aspek
sosiodemografi

sampel

dan

diagnosis

penyakit

THT

sampel

selama

menjalani

perawatan/rawat jalan di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit Mata Bali
Mandara Denpasar.
4.8.2 Cara Pengumpulan Data

11

Setelah sampel terpilih secara acak dari populasi terjangkau penelitian, maka rekam medis
sampel akan dicari dan ditelaah dengan menggunakan kuisioner terstruktur untuk
menentukan aspek sosiodemografi sampel dan diagnosis sampel. Kuisioner diisi oleh peneliti
dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan terstruktur yang mengkaji variabel-variabel
penelitian. Data mengenai variabel-variabel penelitian dikumpulkan dari rekam medis rawat
jalan pasien di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah Sakit Mata Bali Mandara
Denpasar.
4.9 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan piranti lunak (software) SPSS Windows versi
16.0. Adapun analisis statistika yang dilakukan berupa analisis univariat untuk
mendeskripsikan variabel kategorikal dan numerikal pada penelitian ini. Variabel kategorikal
ditampilkan dalam nilai persentase dan variabel numerikal dalam rerata (meanSD) untuk
data terdistribusi normal, dan dalam median untuk data tidak terdistribusi normal.

12

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik (2010), Statistik Indonesia 2010, BPS, Jakarta.
Biswas AC, Joarder A H, Siddiquee BH. 2005. Prevalence of CSOM among rural school
going children. Mymensingh Med J 14:152-5.
BKKBN. 2013. Profil Kependudukan dan Pembangunan di Indonesia Tahun 2013.
Departemen Pendidikan Nasional, (2002), Pengkajian 13 Indikator Pendidikan, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pusat Data dan Informasi Pendidikan, Jakarta.
Farokah, Suprihati, Suyitno S., 2007. Hubungan Tonsilitis Kronis dengan Prestasi Belajar
pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar di Kota Semarang. Dalam: Riyanto W.B., 2007.
Cermin Dunia Kedokteran No. 155 (THT), Jakarta. 34 (2)
Gupta AS, Ram R, Islam F, Mukherjee S, Ram AK, Bhattacharyya SK. 2012. A study on
clinico-epidemiological profile of ear, nose and throat diseases among patients aged 6
to 14 years attending the E.N.T. OPD at M.G.M. Medical College, Kishanganj, Bihar,
India. Global Journal of Medicine and Public Health 1 (4): 13-17.
Maharajan M, Bhandari S, Singh I, Mishra SC. 2006. Prevalence of otitis media in school
going children in eastern Nepal. Kath Uni Med J 16:479-82.
Mohan S, Dharamraj K, Dindial R, Mathur D, Parmasad V, Ramdhanie J, et al. 2004.
Physician behavior for antimicrobial prescribing for paediatric upper respiratory tract
infections: a survey in general practice in Trinidad, West Indies. Annals of clinical
microbiology and antimicrobials 3(11):1-8.
Morris PS, Leach AJ, Silberberg P et al. 2005. Otitis media in young aboriginal children from
remote communities in Northern and central Australia; a cross sectional survey. BMC
Pediatr 5:27.
Novialdi N, Pulungan MR. 2010. Mikrobiologi Tonsilitis Kronis. Bagian Telinga Hidung
Tenggorok-Kepala dan Leher Fak. Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr.
M.Djamil Padang.
Rao RS, Subramanyam MA, Nair MS, Rajashekar B. 2002. Hearing impairment and ear
diseases among children of school entry age in rural south India. Int J Paediatr
Otorhinolaryngol 64:105-10.

13

Sharma K, Bhattacharjya D, Barman H, Goswami SC. 2014. Common Ear, Nose, and Throat
Problems in Pediatric Age Group Presenting to the Emergency Clinic Prevalence
and Management: A Hospital-Based Study. Indian Journal of Clinical Practice 24 (8):
756-760.
Udaipurwala IH. 2013. Annual ENT Check up of the Students in School; Time for Change in
School Health Services. Pakistan Journal of Otolaryngology 29 : 72-73.
WHO - World Health Organization. 2004. Chronic suppurative otitis media: Burden of illness
and management options. Geneva, Switzerland: World Health Organization.
World Health Organization. 2006. March, 2006, Fact Sheet. Deafness and hearing
impairment.
Yeli S. 2015. Prevalence of ENT disorders in children: A tertiary medical care study.
Otolaryngology Online Journal 5 (3).