Anda di halaman 1dari 8

2.

1 Viabilitas dan Vigor Benih Viabilitas benih mencakup vigor


dan daya kecambah benih. Viabilitas adalah daya hidup benih
yang ditunjukan dengan gejala pertumbuhan atau gejala
metabolisme. Vigor adalah kemampuan benih menumbuhkan
tanaman normal yang berproduksi normal pada kondisi lapangan
yang optimum maupun suboptimum (Sadjad, 1994). Gambar 1.
Konsep periodisasi viabilitas benih Steinbauer-Sadjad (Sadjad,
1993). Keterangan: Vp = viabilitas potensial, Vg = vigor, dan D
= delta atau selisih antara nilai Vp dan Vg. Konsep periodisasi
viabilitas benih Steinbauer-Sadjad menerangkan hubungan
antara viabilitas benih dan periode hidup benih. Periode hidup
benih dibagi viabilitas 11 menjadi tiga bagian yaitu periode I,
periode II, dan periode III. Periode I adalah periode
penumpukan energi (energy deposit). Periode ini merupakan
periode pembangunan atau pertumbuhan dan perkembangan
benih yang diawali dari antesis sampai benih masak fisiologis.
Periode II merupakan periode penyimpanan benih atau
penambatan energi (energy transit), nilai viabilitas
dipertahankan pada periode ini. Periode kritikal (akhir periode
II) adalah kritikal periode dua (KP-2) yang merupakan batas
periode simpan benih, setelah KP-2 nilai vigor dan viabilitas
potensial mulai menurun sehingga kemampuan benih untuk
tumbuh dan berkembang menurun. Periode II merupakan
periode penggunaan energi (energy release). Menurut Copeland
dan McDonald (2001), viabilitas benih dapat diukur dengan
tolok ukur daya berkecambah (germination capacity).
Perkecambahan benih adalah muncul dan berkembangnya

struktur terpenting dari embrio benih serta kecambah tersebut


menunjukkan kemampuan untuk berkembang menjadi tanaman
normal pada kondisi lingkungan yang menguntungkan.
Viabilitas benih menunjukkan daya hidup benih, aktif secara
metabolik dan memiliki enzim yang dapat mengkatalis reaksi
metabolik yang diperlukan untuk perkecambahan dan
pertumbuhan kecambah. International Seed Testing Association
(2010) mendefinisikan bahwa vigor sebagai sekumpulan sifat
yang dimiliki benih yang menentukan tingkat potensi aktivitas
dan kinerja benih atau lot benih selama perkecambahan dan
munculnya kecambah. Copeland dan McDonald (2001)
menyatakan kinerja tersebut adalah proses dan reaksi biokimia
selama perkecambahan seperti reaksi enzim, dan 12 aktivitas
respirasi, keserempakkan pertumbuhan kecambah di lapang, dan
kemampuan munculnya kecambah pada kondisi dan lingkungan
yang unfavorable. Menurut Lindayanti (2006), pengujian vigor
dapat memberikan petunjuk mutu benih yang lebih tepat
daripada pengujian daya berkecambah, memberikan tingkatan
yang konsisten dari lot benih yang acceptable germination
mengenai mutu fisiologis, fisik lot benih, dan memberikan
keterangan tentang pertumbuhan dan daya simpan suatu lot
benih guna perencanaan strategi pemasaran. Benih yang mampu
menumbuhkan tanaman normal, meskipun kondisi alam tidak
optimum atau suboptimum disebut benih memiliki vigor (Vg).
Benih yang memiliki vigor akan menghasilkan produksi diatas
normal bila ditumbuhkan pada kondisi optimum (Sadjad, 1994).
Menurut Sutopo (2002), benih yang memiliki vigor rendah akan

berakibat terjadinya kemunduran benih yang cepat selama


penyimpanan, makin sempitnya keadaan lingkungan, tempat
benih dapat tumbuh, kecepatan berkecambah benih yang
menurun, serangan hama dan penyakit meningkat, jumlah
kecambah abnormal meningkat, dan rendahnya produksi
tanaman. Benih yang memiliki vigor mampu menumbuhkan
tanaman normal pada kondisi alam suboptimum dikatakan
memiliki vigor kekuatan tumbuh (VKT) yang mengindikasikan
bahwa vigor benih mampu menghadapi lahan pertanian yang
kondisinya suboptimum (Sadjad, 1994). 13 Faktor genetik yang
mempengaruhi vigor benih adalah pola dasar perkecambahan
dan pertumbuhan yang merupakan bawaan genetik dan berbeda
antara satu spesies dan spesies lain. Faktor fisiologis yang
mempengaruhi vigor benih adalah semua proses fisiologis yang
merupakan hasil kerja komponen pada sistem biokimia benih.
Faktor eksternal yang mempengaruhi vigor benih adalah kondisi
lingkungan pada saat memproduksi benih, saat panen,
pengolahan, penyimpanan, dan penanaman kembali (Bedell,
1998). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan perbedaan vigor
benih menurut Powell (2006), adalah penuaan benih akibat
kemunduran benih, kerusakan benih pada saat imbibisi, dan
kondisi lingkungan pada saat pengembangan benih serta ukuran
benih. 2.2 Pengaruh Pemupukan NPK Majemuk pada Kualitas
Benih Peningkatan kualitas benih dapat dilakukan dengan
meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk karena unsur hara
merupakan faktor pembatas produksi suatu tanaman. Pupuk
majemuk merupakan pupuk campuran yang umumnya

mengandung lebih dari satu macam unsur hara tanaman (makro


maupun mikro) terutama N, P, dan K (Rosmarkam dan Yuwono,
2002). Kelebihan pupuk NPK yaitu dengan satu kali pemberian
pupuk dapat mencakup beberapa unsur sehingga lebih cepat
tersedia untuk tanaman dalam penggunaan bila dibandingkan
dengan pupuk tunggal. Tanaman kedelai menyerap nitrogen,
fosfor, dan kalium dalam jumlah yang relatif besar. Pemupukan
nitrogen dengan dosis dan waktu yang tepat dapat meningkatkan
serapan N, P, dan K, bobot kering tanaman dan hasil biji kedelai
(Hunt et al., 1985). 14 Pupuk dapat diserap tanaman melalui
akar, batang, dan daun dalam bentuk ion yang tersedia bagi
tanaman. Nitrogen dapat diserap tanaman dalam bentuk ion
NO3 - , NH4 + , dan di dalam sitosol ion NO3 - dikonversi ke
dalam bentuk NH4+ selanjutnya digunakan dalam sintesis asam
amino. Dalam metabolisme tanaman, N merupakan komponen
penyusun berbagai senyawa esensial bagi tanaman. Nitrogen
berperan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman seperti tinggi
tanaman, besar batang, pembentukan cabang daun, pembentukan
pucuk daun, dan mengganti sel-sel yang rusak. Nitrogen juga
berperan dalam proses fotosintesis yang berguna dalam
pembentukan klorofil. Pemupukan N pada akhir fase
perkembangan tanaman legum dapat meningkatkan hasil benih
melalui peningkatan jumlah polong per cabang (Mugnisjah dan
Setiawan, 2004). Peningkatan N berkaitan dengan peningkatan
protein benih. Protein di dalam benih berperan penting dalam
menunjang viabilitas benih. Menurut Bewley dan Black (1987),
protein berfungsi sebagai enzim dalam proses perkecambahan

dan komponen penyusun membran sel bersama dengan asam


lemak dan gliserol. Proses pembentukan protein dalam benih
ditentukan oleh proses penyerapan N dari tanah dan asimilat
tanaman. Roper, Davenport, dan Marchand (2004) menjelaskan
bahwa unsur P sangat penting sejak pertumbuhan awal
dibandingkan dengan pertumbuhan berikutnya. Fungsi utama P
dalam pertumbuhan tanaman adalah memacu terbentuknya
bunga, meningkatkan hasil, bobot kering tanaman, bobot biji,
memperbaiki kualitas hasil, dan mempercepat masa pematangan.
Penggunaan P terbesar dimulai pada masa 15 pembentukan
polong yang berfungsi untuk mempercepat masak panen dan
menambah kandungan nutrisi benih kedelai (Novizan, 2003).
Kalium diserap tanaman dalam bentuk K+ (Sutejo,1999). Unsur
ini meningkatkan sintesis dan translokasi karbohidrat sehingga
meningkatkan ketebalan dinding sel dan kekuatan batang.
Kalium berperan dalam proses pembentukan dan pengisian
benih bersama dengan fosfor. Kalium juga berperan dalam
proses metabolisme yaitu sebagai pengatur fotosintesis,
transportasi hara dari akar ke daun, dan translokasi asimilat dari
daun ke seluruh tanaman. Menurut Arryanto (2012), penggunaan
pupuk yang berukuran kecil memiliki keunggulannya lebih
mudah larut sehingga langsung mencapai sasaran atau target
karena ukurannya yang halus serta hanya dibutuhkan dalam
jumlah yang lebih sedikit. Salah satu cara mengubah bentuk atau
ukuran pupuk yaitu dengan penggerusan pupuk

Pengujian benih merupakan analisis beberapa parameter fisik


dan kualitas fisiologis sekumpulan benih yang biasanya
didasarkan pada perwakilan sejumlah contoh benih. Pengujian
dilakukan untuk mengetahui mutu kualitas kelompok benih.
Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai
pertanaman di lapangan. Salah satu contoh pengujian benih
adalah uji viabilitas benih atau uji perkecambahan benih. Uji
viabilitas benih dapat dilakukan secara tak langsung, misalkan
dengan mengukur gejala-gejala metabolisme ataupun secara
langsung dengan mengamati dan membandingkan unsur-unsur
tumbuh tertentu (Schmidt, Lars. 2000).
Pada uji viabilitas benih, baik uji daya kecambah atau uji
kekuatan tumbuh benih, penilaian dilakukan dengan
membandingkan kecambah satu dengan yang lain dalam satu
substrat. Sebagai parameter untuk viabilitas benih digunakan
presentase perkecambahan. Persentase kecambah yang tinggi
sangat diinginkan oleh para petugas persemaian, dan segala
sesuatu selain benih murni yang berkecambah akan dianggap
sebagai hal yang tidak berguna, oleh karena itu pegujian
kecambah atau viabilitas harus menggambarkan kecambah yang
potensial. Potensi perkecambahan merupakan hal yang secara
langsung didapatkan pada pengujian perkecambahan. Pengujian
perkecambahan secara luas digunakan, baik untuk pengujian
benih standard maupun untuk pengujian informal secara
sederhana di persemaian. Pengujian viabilitas ada beberapa
macam yaitu pengujian pemotongan (cutting test), tetrazolium

(TZ), pemotongan embrio, dan pengujian hydrogen peroksida


(H2O2). Pengujian viabilitas benih biasanya kurang tepat
diterapkan untuk benih-benih yang berukuran sangat kecil,
bahkan teknik pengambilan/pemotongan embrio hampir tidak
mungkin dilakukan. Untuk memudahkan dalam pengujian benih,
benih yang digunakan harus berukuran agak besar seperti
sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) yang digunakan
dalam praktikum ini (Departemen Kehutanan, Direktorat
Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Nasional. 2006).
Pengujian benih dengan tetrazolium merupakan salah
satu uji yang efektif. Uji tetrazolium memanfaatkan prinsip
dehidrogenase yang merupakan group enzim metabolism pada
sel hidup, yang mana mudah diamati perubahan warnanya.
Selain uji TZ, uji hydrogen peroksida (H2O2) juga merupakan
uji yang efektif. uji ini merupakan uji viabilitas yang lain, yang
membentuk transisi menjadi pengujian kecambah.
Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari linkungan
sekitar biji,baik tanah,udara maupun media lainnya.perubahan
yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut
tahap imbibisi.biji menyerap air dari lingkungan
sekelilingnya.baik dari tanah maupun udara ( dalam bentuk
embun atau uap air ). Efek yang terjadi adalah membesarnya
ukuran biji karena sel-sel embri membesar dan biji melunak
proses ini murni fisik. Kehadiran air didalam sel mengaktifkan
sejumlah sel enzim perkecambahan awal.fitohormon asam
absisat menurunkan kadarnya.sementara giberelin

meningkat.berdasarkan kajian ekspresi gen pada tumbuhan


model Arabidopsis thaliana diketahui bahwa pada
perkecambahan meningkat perannya.diketahui pula bahwa
dalam proses perkecambahan yang normal sekelompok factor
transkripsi yang mengatur aukrin disebut auxin response factors.
Perubahan pengendalian merangsang pembelahan sel di bagian
yang efektif melakukan mitosis, seperti di bagian ujung radikula
(Leadem, C.L. 1984).
Daya Berkecambah (DB) merupakan tolok ukur
viabilitas potensial yang merupakan simulasi dari kemampuan
benih untuk tumbuh dan berproduksi normal dalam kondisi
optimum (Sadjad, 1993).