Anda di halaman 1dari 46

SKENARIO A BLOCK 16

Diego, anak laki-laki usia 30 bulan, dibawa ke klinik karena belum bisa bicara dan
tidak bisa duduk diam. Diego hanya bisa mengoceh dengan kata-kata yang tidak
dimengerti oleh orang tuanya dan orang lain. Bila dipanggil sering kali tidak bereaksi
terhadap panggilan. Diego juga selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan. Senang
bermain dengan bola tetapi tidak suka bermain dengan anak lain.
Diego anak pertama dari ibu usia 34 tahun. Lahir spontan pada kehamilan 38 minggu.
Selama hamil ibu diego pernah mengalami demam dan sering mengkonsumsi daging
mentah tetapi periksa kehamilan dengan teratur ke SpOG. Riwayat persalinan: lahir
langsung menangis. Berat badan waktu lahir 3.500 gram. Diego bisa tengkurap pada
usia 6 bulan, berjalan pada usia 12 bulan, tidak ada riwayat kejang, dan tidak ada
keluarga yang menderita kelainan seperti ini.
Pemeriksaan fisik dan pengamatan:
Berat badan 17 kg, tinggi badan 92 cm, lingkaran kepala 50 cm. tidak ada gambaran
dismorfik. Anak sadar, tetapi tidak mau kontak mata dan tersenyum kepada
pemeriksa. Tidak menoleh ketika dipanggil namanya. Anak selalu bergerak kesana
kemari tanpa tujuan.
Ketika diberikan bola, dia menyusun bola secara berjejer, setelah selesai lalu
dibongkar, kemudian disusun berjejer lagi, dan dilakukan berulang-ulang.
Tidak ada gerakan aneh yang diulang-ulang. Tidak mau bermain dengan anak lain.
Bila memerlukan bantuan, dia menarik tangan ibunya untuk melakukan. Tidak bisa
bermain pura-pura (imajinatif). Tidak melihat ke benda yang ditunjuk. Tidak bisa
menunjuk benda yang ditanyakan oleh orang lain.
Pemeriksaan fisik umum, neurologis dan laboratorium dalam batas normal.
Tes pendengaran normal
Skenario A block 15: Autism | 1

I. KLARIFIKASI ISTILAH
1. Belum bisa bicara

: Hanya bisa mengucapkan kata-kata tanpa bisa

dimengerti
2. Tidak bisa duduk diam
3. Mengoceh

: Selalu bergerak kesana-kemari


: mengeluarkan suara-suara ketika melihat

sesuatu yang menarik perhatian, berupa kata-kata yang tidak jelas


4. Tidak bereaksi terhadap panggilan : Tidak ada respon terhadap perintah
suara
5. Lahir spontan

: Kehamilan normal 37-42 minggu, persalinan dengan

kekuatan/tenaga dari ibu sendiri tanpa melalui alat-alat atau pertolongan


istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung
dalam waktu kurang dari 24 jam
6. Tengkurap
:Merebahkan

diri

dengan

muka

menghadap

kebawah/menelungkup
7. Kejang
: Kontraksi otot-otot tubuh terus menerus secara tidak
sadar
8. Dismorfik
9. Kontak mata
10. Tidak menoleh

: Kelainan pada perkembangan morfologi


: Melihat mata lawan bicara atau saling bertatapan
:Tidak melihat dengan memalingkan muka ke arah

orang memanggil
11. Imajinatif
: Menggunakan imajinasi

II. IDENTIFIKASI MASALAH


1. Diego, anak laki-laki, usia 30 bulan, dibawa ke klinik karena belum bisa
bicara dan tidak bisa duduk diam.
2. Diego:
a. Hanya bisa mengoceh dengan kata-kata yang tidak dimengerti
b. Sering kali tidak bereaksi terhadap panggilan
c. Selalu bergerak ke sana kemari tanpa tujuan
d. Senang bermain bola tetapi tidak suka bermain dengan anak lain
3. Riwayat kehamilan dan kelahiran:
a. Anak pertama dari ibu usia 34 tahun
b. Lahir spontan pada kehamilan 38 minggu

Skenario A block 15: Autism | 2

c. Selama hamil pernah mengalami demam dan sering mengonsumsi


daging mentah
d. Lahir langsung menangis
e. BB lahir 3500 gram
f. Diego bisa tengkurap pada usia 6 bulan, berjalan pada usia 12 bulan
4. Pemeriksaan fisik dan pengamatan
Berat badan 17 kg, tinggi badan 92 cm, lingkaran kepala 50 cm. tidak ada
gambaran dismorfik. Anak sadar, tetapi tidak mau kontak mata dan
tersenyum kepada pemeriksa. Tidak menoleh ketika dipanggil namanya.
Anak selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan.
Ketika diberikan bola, dia menyusun bola secara berjejer, setelah selesai
lalu dibongkar, kemudian disusun berjejer lagi, dan dilakukan berulangulang.
Tidak ada gerakan aneh yang diulang-ulang. Tidak mau bermain dengan
anak lain. Bila memerlukan bantuan, dia menarik tangan ibunya untuk
melakukan. Tidak bisa bermain pura-pura (imajinatif). Tidak melihat ke
benda yang ditunjuk. Tidak bisa menunjuk benda yang ditanyakan oleh
orang lain.

III. ANALISIS MASALAH


1. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan anak normal? (usia normal
berbicara, berjalan, dsb) (chenti,muth, dini)
Jawab: Sintesis
2. Mengapa pada saat usia 30 bulan Diego:
a. Belum bisa bicara dan tidak bisa duduk diam
Jawab:
Belum bisa bicara

Skenario A block 15: Autism | 3

Afasia atau belum bisa bicara terjadi akibat kerusakan pada


area pengaturan bahasa di otak. Kerusakan ini terletak pada bagian
otak yang mengatur kemampuan berbahasa, yaitu area Broca dan area
Wernicke.
Area Broca atau area 44 dan 45 Broadmann, bertanggung
jawab atas pelaksanaan motorik berbicara. Lesi pada area ini akan
mengakibatkan kesulitan dalam artikulasi tetapi penderita bisa
memahami bahasa dan tulisan.
Area Wernicke atau area 41 dan 42 Broadmann, merupakan
area interpretasi umum (somatik, visual dan auditorik). Lesi pada area
ini akan mengakibatkan penurunan hebat kemampuan memahami serta
mengerti suatu bahasa. Penderita tidak mampu memahami bahasa lisan
dan tulisan sehingga ia juga tidak mampu menjawab dan tidak
mengerti apa yang dia sendiri katakan.
Secara umum afasia muncul akibat lesi pada kedua area
pengaturan bahasa diatas. Selain itu lesi pada area disekitarnya juga
dapat menyebabkan afasia transkortikal. afasia juga dapat muncul
akibat lesi pada fasikulus arkuatus, yaitu penghubung antara area
Broca dan area Wernicke.

Faktor genetik: orang tua yang juga mengalami perlambatan

bicara.
Faktor lingkungan: lingkungan sepi, sedikit yang mengajak
ngobrol, penggunaan 2 bahasa dalam keluarga.

Tidak bisa duduk diam:


Adanya abnormalitas pada beberapa area di otak penderita
(autism). Area yang mengalami gangguan di antaranya adalah lobus

Skenario A block 15: Autism | 4

frontalis dan ganglia basalis yang berperan dalam representasi dalam


action plans, motoric plans, dan working memory, sehingga terjadi
gangguan pengaturan motorik dan pada beberapa anak bermanifestasi
sebagai hiperaktivitas ataupun sebaliknya, tergantung dangan
mekanisme gangguan yang terjadi. Mekanisme pasti belum diketahui,
namun

beberapa

teori

menunjukkan

keterlibatan

beberapa

neurotransmitter dan juga dipengaruhi oleh jumlah neuron di otak.


Diduga adanya peningkatan serotonin plasma dan homovanilic
acid (metabolit utama dopamin) menyebabkan anak autistik
lebih aktif, stereotipik.

Faktor

genetik,

memiliki

potongan

kecil

DNA yang

digandakan atau hilang. Anak laki-laki dengan ekstra


kromosom

yaitu

XYY,

kembar

satu

telur

lebih

memungkinkan hiperaktif dibanding kembar dua telur.


Faktor neurologis, yaitu bagian pengendalian dan pengaturan
motoriknya yang kurang matang sehingga anak tidak dapat
mengendalikan gerakan-gerakannya akibat gangguan fungsi
otak akibat sulit saat kelahiran, penyakit berat, cidera otak..
Juga karena faktor genetik, lingkungan (misalnya kekurangan
oksigen saat kehamilan atau kelahiran), trauma lahir, defisiensi

gizi atau bawaan setelah kelahiran.


Kesehatan ibu, riwayat alergi dari pihak ibu, seperti hay

fever,asma, eksim atau migrain.


Kekurangan asam lemak esensial,

magnesium, atau vit B12


Diet gula dan zat pengawet, Makanan yang menjadi sumber

kekurangan

zinc,

energi instant. Seperti coklat, madu, permen eskrim, kafein,


teh, minuman ringan, kismis, anggur, atau makanan-makanan
yang

mengandung

gula

lainnya.

Asupan

kalori

yang

Skenario A block 15: Autism | 5

berlebihan, banyak energi yang tersisa untuk banyak bergerak.


Minuman bersoda dan makanan berwarna serta makanan yang

mengandung zat pengawet seperti sodium benzoate


Masalah keluarga, sekolah yang tidak efektif, adanya pengaruh
rokok dan alkohol saat kehamilan serta adanya perlukaan di

otak.
Faktor Lingkungan
Racun atau limbah pada lingkungan sekitar bisa menyebabkan
hiperaktif terutama keracunan timah hitam (banyak terdapat
pada asap knalpot berwarna hitam kendaraan

bermotor

yang menggunakan solar), nitrat, buangan gas,pestisida dan zat

kimia lain.
Faktor Kultural dan Psikososial / Pola Asuh yang buruk
- Pemanjaan.
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan
anak terlalu manis, membujuk-bujuk makan, membiarkan
saja, dan sebagainya. Anak yang terlalu dimanja itu sering
memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya.
-

Kurang disiplin dan pengawasan.


Anak yang kurang disiplin atau pengawasan akan berbuat
sesuka hatinya, sebab perilakunya kurang dibatasi. Jika
anak dibiarkan begitu saja untuk berbuat sesuka hatinya
dalam rumah, maka anak tersebut akan berbuat sesuka
hatinya ditempat lain termasuk di sekolah. Dan orang lain
juga akan sulit untuk mengendalikannya di tempat lain baik
di sekolah.

Orientasi kesenangan.
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi
kesenangan umumnya akan memiliki ciri-ciri hiperaktif

Skenario A block 15: Autism | 6

secara sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda


agar mau mendengarkan dan menyesuaikan diri.
b. Hanya bisa mengoceh dengan kata-kata yang tidak dimengerti
Jawab:
Pada kasus: Penderita autis terjadi pertumbuhan abnormal:
a. Pada sel saraf integratif di korteks frontalis
b. Pematangan mielin terlalu cepat di daerah frontalis dan temporalis
Mielinisasi jaras saraf hambatan proses menterjemahkan
gagasan lambat
c. Perkembangan sinaps yang tidak sempurna
Sedangkan fungsi dari lobus frontalis dan temporalis adalah untuk
proses berbahasa dan kognitif, seperti area Broca dan area Wernicke. Pada
otak bagian lobus temporalis. Di bagian posterior dari girus temporalis di
lobus temporalis terdapat area yang disebut area Wernicke dimana sebagai
area utama untuk pemahaman bahasa, yaitu berfungsi membentuk buah
pikiran untuk diekspresikan dan memilih kata-kata yang akan digunakan
serta mengatur motorik vokalisasi dan kerja yang nyata dari vokalisasi itu
sendiri.

Jika

area

ini

terganggu

maka

penderita

tak

mampu

memformulasikan buah pikirannya untuk dikomunikasikan. Maka dari itu,


pertumbuhan abnormal pada kedua daerah tersebut menyebabkan
gangguan berbahasa.

c. Sering kali tidak bereaksi terhadap panggilan


Jawab:
Pada anak autis terdapat keabnormalan di area lobus temporal (Area
Wernick) tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang lain tidak

menoleh bila dipanggil.


Pada anak autis, umumnya ia merasa memiliki dunianya sendiri dan
cenderung tidak memperdulikan orang lain dan sekitarnya, melainkan

Skenario A block 15: Autism | 7

fokus kepada apa yang sedang digelutinya tidak menoleh bila


dipanggil.

d. Selalu bergerak ke sana kemari tanpa tujuan


Jawab:
Serebelum mempunyai peranan penting dalam fungsi motorik, mengatur
pergerakan otot secara terkoordinasi dan seimbang. Kerusakan pada
daerah serebelum gerakan menjadi tidak terkoordinasi dan tidak

bertujuan Anak autism selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan.


Adanya peningkatan neurotransmitter serotonin anak menjadi lebih
aktif (hiperaktivitas)

e. Senang bermain bola tetapi tidak suka bermain dengan anak lain
Jawab:
Interaksi sosial anak autistik dibagi dalam 3 kelompok yaitu:
a Kelompok yang menyendiri, umumnya anak ini menerik diri, acuh tak
acuh, akan kesal bila diadakan pendekatan sosial dan menunjukkan
b

perilaku dan perhatian yang terbatas atau tidak hangat.


Kelompok pasif, dpat menerima pendekatan sosial dan bermain dengan

anak lain jika pola permainannya disesuaikan dengan dirinya.


Kelompok aktif tapi aneh, secara spontan akan mendekati anak lain namun
interaksi ini sering kali tidak sesuai dan sering hanya sepihak. Walaupun
mereka berminat untuk mengadakan hubungan karena ketidakmampuan
mereka untuk memhami aturan-aturan yang berlaku dalam interaksi sosial.
Kesadaran sosial yang kurang menyebabkan mereka baik dalam bentuk
vokal maupun ekspresi wajah. Hal ini menyebabkan anak autis tidak dapat
berempati kepada orang lain.
Hal ini menunjukkan adanya gangguan interaksi sosial penderita

dalam beraktivitas bersama-sama dengan orang lain yang ditandai dengan


tidak aktifnya daerah otak yang memproses ekspresi wajah (daerah lobus
temporalis) & emosi (amygdala) selama melakukan tugas tersebut. Kerusakan
lobus temporalis menyebabkan anak kehilangan perilaku sosial yang

Skenario A block 15: Autism | 8

diharapkan, kegelisahan, perilaku motorik berulang dan kumpulan perilaku


terbatas.
Beberapa penyebab lain:

Peningkatan homo vanilic acid (metabolit utama dari dopamine) dalam


cairan serebrospinal disertai dengan peningkatan penarikan diri dan
stereotipik.

Temuan lain, penurunan sel purkinje di serebelum mungkin menyebabkan


kelainan atensi, kesadaran dan proses sensorik

Ditemukan kelainan pada lobus temporalis penarikan diri.

Adanya gangguan komunikasi pada penderita autistic

Faktor neurokimiawi adanya peningkatan opioid endogen (enchepalin


dan endhorpine) yang mengakibatkan anak anak tersebut merasa nyaman
dengan dirinya sendiri.

Teori Emphatizing Systemizing teori ini menyimpulkan bahwa pada


anak autistic tedapat gangguan pada otak yang membuat kecenderungan
otak untuk membentuk sistem sendiri untuk anak tersebut (Systemizing)
sehingga sistem ini menutupi kemampuan anak untuk berempati pada
lingkungan sekitarnya (Emphatizing). Akibatnya anak tersebut merasa
lebih asik bermain sendiri daripada bergaul dengan orang lain.

3. Mengapa Diego lebih senang berinteraksi dengan objek daripada dengan


orang lain?
Jawab:
Teori mengatakan

bahwa

penambahan

volume

white

matter

disebabkan oleh overgrowth dari short distance pathway, dan terjadi


penurunan di long range connection, ketidakseimbangan koneksi ini
berkontribusi dalam phenotype neurophysiological pada pasien autism,
termasuk dalam Fokus dan ketertarikan pada objek tertentu dan juga
sulit dalam memahami suatu konsep.

Skenario A block 15: Autism | 9

Berhubungan dengan autis, anak-anak dengan autis memiliki


kecenderungan obsesif yang memaintenance sesuatu yang sama. Selain
untuk rutinitas yang kaku, mereka juga cenderung memiliki satu jenis
ketertarikan terhadap suatu minat. Anak-anak dengan autis memiliki
ketertarikan yang stereotyped dan restricted (yang sama dan terbatas)
terhadap suatu benda atau bagian-bagian dari objek. Pada kasus,
ketertarikan Diego adalah dengan bola.
4. Bagaimana pengaruh usia ibu saat hamil dengan kelainan yang diderita
Diego?
Jawab:
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam journal Annals of
Epidemiology menemukan anak lebih cenderung memiliki risiko autisme
jika ayah dan ibu yang berusia 35 tahun keatas pada saat pembuahan.
Menurut peneliti dari Denmark yang bekerja bersama peneliti dari
Cambridge University menunjukkan risiko tersebut mencapai 27 persen
lebih tinggi dibandingkan pasangan yang lebih muda. Jika kedua orangtua
berusia 30 tahunan, risiko tidak meningkat meskipun salah satu orangtua
lebih tua.
Namun, jika salah satu orangtua berusia 35-40 tahun, risiko
autisme lebih besar terjadi pada ibu usia tua (65 persen) dibandingkan
ayah (44 persen).

5. Bagaimana hubungan antara riwayat kehamilan (demam dan konsumsi


daging mentah)?

Skenario A block 15: Autism | 10

Jawab:
Deman selama 1 minggu atau lebih meningkatkan resiko terjadinya
infantile autism, menurut penelitian Hjrdis sk Atladttir, MD, PhD,
University of Aarhus, Denmark, menemukan anak dengan ibu yang
mengalam demam selama 1 minggu atau lebih sebelum kehamilan 32
minggu mengalami resiko 3x lebih tinggi memiliki anak infantile autism.
Pada keadaan lain, seorang ibu yang menderita influenza selama
kehamilan memiliki 2x resiko untuk melahirkan anak dengan infantile
autism, sangat kontras karena tidak ada hubungan antara infeksi influenza
dengan diagnosis autisme, dan penggunaan obat antibiotic selama
kehamilan juga bisa meningkatkan resiko melahirkan anak dengan kondisi
infantile autism
Toksoplasmosis Infeksi ini ditularkan oleh parasit (protozoan
parasite Toxoplasma gondii). Infeksi ditularkan dari hewan bertubuh
panas kepada manusia. parasit ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui
makanan. Sumbernya terutama adalah daging yang tidak dimasak
matang atau sayuran mentah. Tangan yang tercemar toksoplasma juga
bisa menjadi media penularan jika kita tidak mencuci tangan sebelum
makan Pada kasus infeksi maternal primer yang terjadi pada kehamilan,
parasit bisa ditularkan dari plasenta dan menyebabkan cacat pada janin
berupa

gangguan

penglihatan

atau

keguguran

spontan,

meski

persentasenya kecil. Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang


disebut Toxoplasma gondii. Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi
tanpa disertai gejala yang spesifik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi
Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul
rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan
masalah.Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil
atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya

Skenario A block 15: Autism | 11

penderita AIDS, pasien transpaltasi organ yang mendapatkan obat penekan


respon imun). Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang
dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%)
atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. Pada Toxoplasmosis bawaan,
gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelainan mata dan telinga,
retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis.Diagnosis Toxoplasmosis
secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau
bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu,
pemeriksaan

laboratorium

mutlak

diperlukan

untuk

mendapatkan

diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah AntiToxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG.
Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi
Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya
negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertama,
selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi
Toxoplasma.
6. Mengapa Diego melakukan aktivitas

yang sama berulang-ulang

(menyusun bola)?
Jawab:
Karena kelainan pada hipokampus sehingga terjadi kesulitan
penyimpanan informasi baru dan perilaku diulang-ulang
Melibatkan limbic system, dengan penurunan jumlah neuron,
penurunan fungsi dendrite, dan peningkatan densitas neuron di amygdale,
hypocampus, septum, anterior cingulated dan mammilary bodies. Region
ini saling berhubungan dan merupakan bagian dari limbic system yang
mendukung fungsi dari masing-masing struktur anatomis, contohnya
hippocampus yang yang menjadi pusat penyimpanan informasi (memori)
dan fungsi bagian limbic yang lain dalam proses social, kognitif, dan
persepsi (pemahaman).

Skenario A block 15: Autism | 12

Anak autis akan mengalami play skill impairment, yang normalnya


anak yang berkembang normal akan mendemonstrasikan kemampuan

bermainnya secara fungsional ataupun simbolik pada usia 2 tahun.


Deficit dalam kemampuan bermain meliputi kegagalan dalam
mengembangkan pola simbolik-imaginative permainan. Contohnya,
andaikan ia memperhatikan satu benda, misal mobil-mobilan, ia hanya
akan memperhatikan 1 bagian saja & tidak bisa memainkan mobilan
itu secara fungsional. Kemudian ia akan cenderung mengeksplorasi
aspek nonfungsional dari suatu benda (cth, bau atau rasa).Sedangkan
kenapa cenderung dijejerkan, karena pada anak autis memiliki
ketertarikan khas pada suatu hal yang sifatnya berulang.

7. Mengapa Diego tidak bisa bermain pura-pura atau imajinatif?


Jawab:
Pada kasus ini, Gangguan ataupun kemungkinan kerusakannya ada
pada bagian amygdala dan hippocampus yang fungsi adalah untuk
pengaturan terhadap long term memory .Sehingga tidak bisa bermain
pura-pura atau imajinatif
8. Mengapa Diego jika memerlukan bantuan hanya menarik tangan ibunya?
Jawab:
Dapat
dihubungkan
dengan
keadaan
gangguan
bahasa
reseptif/ekspresif campuran yang memiliki ciri mirip autism.
Pada

kasus

ini,

kemungkinan

karena

Diego

mengalami

keterlambatan dalam pekembangan komunikasi verbal, karena adanya


gangguan pada area broca dan wernick yang merupakan fungsi untuk
kemampuan berbahasa, sehingga ia akan menarik tangan ibunya sebagai
caranya untuk menyampaikan keinginannya. Hal ini merupakan bentuk
komunikasi non verbal (PIQ), yang mana pada autism PIQ lebih dominan
daripada komunikasi verbal (IQ).

Skenario A block 15: Autism | 13

9. Mengapa Diego tidak melihat ke benda yang ditunjuk dan tidak bisa
menunjuk benda yang ditanyakan oleh orang lain?
Jawab:
Diego mengalami gangguan kualitatif interaksi sosial (tidak adanya
keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat atau pencapaian
dengan org lain) dan perilaku, sehingga anak autism sibuk dengan
dunianya sendiri dan tidak memperhatikan lingkungan (pada kasus: tidak
memperhatikan/melihat apa yang ditunjukkan oleh orang lain dan tidak
bisa menunjuk benda yang ditanyakan orang lain) dan terjadi juga
kesulitan dalam pemahaman kata-kata yang diucapkan oleh orang lain,
sehingga tidak bisa menunjukkan benda yang ditanyakan oleh orang lain.
Ada juga peranan dopamine pada gangguan spectrum autistic, yang
dimana adanya gangguan system neurotransmitter ysng berhubungan
gejala gangguan perilaku. Berbagai penelitian terdahulu memperlihatkan
adanya disfungsi system neurokimiawi pada penderita autism meliputi
system dopamine, norepinefrin dan serotonin. Gangguan system
neurokimiawi tersebut berhubungan dengan perilaku agresif, obsesif
kompulsif dan stimulasi diri sendiri (self stimulating) yang berlebih.
10. Apa diagnosis banding dari kasus ini?
Jawab:

Pembanding

Autisme

Asperger

ADHD

Mental Retardation

Usia terdeteksi

<3 tahun

> 3tahun

<7 tahun

< 18 tahun

Tidak terjadi kontak mata

Tidak ada spontanitas

Kurangnya interaksi dgn orang


lain

Skenario A block 15: Autism | 14

Bergerak tanpa tujuan

Gangguan pendengaran

Perhatian terbatas

Aktivitas sama berulang

Tidak bisa bermain imajinatif

Tidak mengikuti perintah

Gangguan

komprehensif

dan

panggunaan bahasa

11. Apa pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan pada kasus ini?


Jawab:
Bila terdapat gangguan pendengaran harus dilakukan

beberapa

pemeriksaan Tes BERA, Audio gram and Typanogram.


EEG untuk memeriksa gelombang otak yang menunjukkan gangguan

kejang, diindikasikan pada kelainan tumor dan gangguan otak


Pemeriksaan lain adalah screening gangguan metabolik,

berupa

pemeriksaan darah dan urine untuk melihat metabolisme makanan di


dalam tubuh dan pengaruhnya pada tumbuh kembang anak. Beberapa

spectrum autism dapat disembuhkan dengan diet khusus.


MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan CAT Scans (Computer Assited
Axial Tomography): sangat menolong untuk mendiagnosis kelainan

struktur otak, karena dapat melihat struktur otak secara lebih detail.
Pemeriksaan genetik dengan melalui pemeriksaan darah untuk melihat
kelainan genetik yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan.
Beberapa penelitian menunjukkkan bahwa penyandang autism telah dapat
ditemukan pola DNA dalam tubuhnya.

12. Apa Working diagnosis pada kasus ini dan cara mendiagnosis?
Jawab:

Skenario A block 15: Autism | 15

Kriteria diagnosis gangguan autistic menurut DSM IV adalah sebagai


berikut:
A. Harus ada total 6 gejala dari (1), (2) dan (3), dengan minimal 2 gejala
dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3):
1. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi
dalam sedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini:
a.Kelemahan dalam penggunaan perilaku non-verbal, seperti
kontak mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam
interaksi sosial.
b. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
c.Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati
dengan orang lain.
d. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional
yang timbal balik.
2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus
ada 1 dari gejala berikut ini:
a. Perkembangan bahasa lisan (bicara) terlambat atau sama
sekali tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk
berkomunikasi secara non-verbal.
b. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk
berkomunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan
berulang-ulang.
d. Kurang mampu bermain imajinatif (make believe play) atau
permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf
perkembangannya.
3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang.
Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini:
a. Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan fokus
dan intensitas yang abnormal atau berlebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas

Skenario A block 15: Autism | 16

c. Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti


menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan
tubuh.
d. Sikap tertarik yang sangat kuat atau preokupasi dengan
bagian-bagian tertentu dari obyek.
B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal
pada salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan
komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif
Masa Anak.
Pada kasus Diego sudah ditemukan 6 kriteria diatas untuk memenuhi
diagnosis Autisme
Diagnosis multiaksial
Aksis 1

F84.0 Autisme Masa Kanak

Aksis II

diagnosis aksis II tertunda

Aksis III

tidak ada diagnosis (none)

Aksis IV

masalah dengan lingkungan sosial

Aksis V

GAF 70-61 beberapa gejala ringan

dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi secara umum


masih baik

13. Apa etiologi dan factor resiko pada kasus ini?


Jawab:
Etiologi belum diketahui secara pasti
Faktor resiko:
1. Genetik
2. Penyakit otak (infeksi TORCH)
3. Abnormalitas
perkembangan

otak

(mikrochepali,

hidcrochephalus)
4. Gangguan metabolic (PKU, MPS)
5. Neoplasma
Skenario A block 15: Autism | 17

6. Infeksi
Faktor psikodinamika dan keluarga
Sebagian orang tua yang memiliki preokupasi dengan abstraksi
intelektual dan cenderung sedikit mengekspresikan perhatian yang
murni terhadap anak anaknya merupakan salah satu penyebab
anak anak menjadi autis.Adapun teori lain, seperti kekerasan dan
penolakan orang tua yang mendorong gejala austistik,juga tidak
jelas.

Faktor organik-neurologis-biologis
Gangguan dan gejala autistik berhubungan dengan kondisi yang
memiliki

lesi

neurologis,

terutama

rubella

kongenital,

fenilketonuria(PKU), sklerosis tuberosus dan gangguan rett.


Temuan anak autistik secara bermakna memiliki lebih banyak
anomali fisik kongenital yang ringan dibandingkan sanak
saudarinya dan kontrol normal menyatakan bahwa komplikasi
kehamilan dalam trimester pertama adalah bermakna. 4-32%
orang autistik memiliki kejang grand mal pada suatu saat dalam
kehidupannya, kira kira 20-25 % menunjukkan pembesaran
ventrikular pada pemeriksaan tomografi komputer. Pada EEG
terdapat indikasi kegagalan lateralisasi serebral.

Faktor genetika
Dalam beberapa penelitian ditemukan antar 2 dan 4 persen sanak
saudara orang austistik ditemukan mengalami gangguan austistik,
suatu angka yang 50% lebih besar dibandingkan pada populasi
umum.

Faktor imunologis
Beberapa buktimenyatakan bahwa inkompatibilitas imunologi
antara ibu dan embrio atau janin dapat menyebabkan gangguan
austistik. Limfosit beberapa anak austistik bereaksi dengan

Skenario A block 15: Autism | 18

antibodi maternal, yang meningkatkan kemungkinan bahwa


jaringan

neural

embrionik

atau

ekstraembrional

mungkin

mengalami kerusakan selama kehamilan.

Faktor perinatal
Selama gestasi, perdarahan maternal setelah trimester pertama dan
mekonium dalam cairan amnion dilaporkan lebih sering
ditemukan pada anak austistik dari pada populasi umum. Dalam
peroide neonatus, anak austistik memiliki insidensi tinggi sindrom
gawat pernapasan dan anemia neonatus. Beberapa bukti
menyatakan tingginya insidensi pemakaian medikasi selama
kehamilan oleh ibu dari anak austistik.

Faktor neuroanatomi
Faktor temuan biokimiawi
Sekurangnya sepertiga pasien gangguan austistik mengalami
peningkatan serotonin plasma. Pasien dengan gangguan austistik
tanpa

retardasi

mental

juga

memiliki

insidensi

tinggi

hiperserotonemia.
14. Apa epidemiologi pada kasus ini?
Jawab:
Tidak ada hubungan dengan ras, etnis, dan social ekonomi
: = 3-4 : 1
Gangguan autistik diyakini terjadi dengan angka kira-kira 5 kasus per
10.000 anak(0,05%). Onset nya sebelum usia 3 tahun.
Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di
berbagai belahan dunia. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga
saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun
diperkirakan jumlah anak autis dapat mencapai 150 --200 ribu orang.
Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak
perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.

Skenario A block 15: Autism | 19

Prevalensi: Gangguan autistik diyakini terjadi dengan angka kira-kira


5 kasus per 10.000 anak (0,05%). Laporan mengenai angka gangguan
autistik berkisar antara 2 hingga 20 kasus per 10.000. Berdasarkan
definisi, onset gangguan autistik adalah sebelum usia 3 tahun, meskipun
pada beberapa kasus, gangguan ini tidak dikenali hingga anak berusia
lebih tua
Distribusi jenis kelamin: Gangguan autistik 4-5 kali lebih sering pada anak
lelaki dibandingkan anak perempuan. Anak perempuan dengan gangguan
autistik lebih besar kemungkinannya memiliki retardasi mental berat

15. Patogenesis
Jawab:

Faktor risiko:
Usia ibu
Demam
Konsumsi daging mentah

Diego, laki-laki

Teori patogenesis
Konektivitas neural
Migrasi neural
Aktivitas eksitasi inhibisi neuron
Morfologi dendrit
Neurokimiawi (serotonin-dopamin)

Skenario A block 15: Autism | 20


Abnormalitas neuroanatomi dan /atau neurochemical
(Lobus prefrontal, temporal, system limbik)

Gangguan
kuantitatif
dalam interaksi
sosial

Gangguan
kualitatif dalam
komunikasi

Gangguan Pola
prilaku ,Minat dan
aktivitas terbatas

1. Tidak suka
bermain
dengan anak
lain
2. Tidak mau
kontak mata
3. Tidak ada
spontanitas
menunjuk
benda

1. Belum bisa
berbicara
2. Mengoceh
yang tidak
dimengerti
oleh orang lain
3. Permainan
imajinatif

1. Terfokus pada
satu objek dan
menyukai satu
aktivitas
2. Melakukan
aktivitas yang
berulang
3. Berlari kesana
kemari tanpa

16. Apa manifestasi klinis dari kasus ini?


Jawab:
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin
jelas saat usia kanak-kanak:
gangguan komunikasi verbal maupun non verbal, seperti terlambat
bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak

dapat dimengerti, echolalia, dst.


Gangguan dalam bidang interaksi sosial, menghindari kontak mata,
tidak melihat ketika dipanggil, menolak untuk dipeluk, suka bermain
sendiri, dll.

Autisme

Skenario A block 15: Autism | 21

Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perilaku


yang berlebih dan kekurangan seperti impulsif, hiperaktif, repetitif
namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan

permainan yang sama dan monoton.


Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati,
simpati dan toleransi, kadang-kadang tertawa sendiri dan marah tanpa
sebab yang nyata dan sering mengamuk bila tidak mendapat apa yang

diinginkannya.
Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan
mengigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung

menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan.


Perilaku aneh, Tempertantrum, malu malu, melukai diri sendiri,
impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan
mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton kadangkadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, dll
yang dibawanya kemana-mana, pola makan dan tidur yang abnormal,
bizarre (bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak

menyukai rabaan dan pelukan), hilang respon terhadap nyeri, IQ < 70


17. Bagaimana tatalaksana pada kasus ini ?
Jawab:
Jenis-jenis Terapi:
Terapi Farmakologis
-

Pemberian haloperidol (Haldol)


Menurunkan gejala perilaku seperti hiperaktivitas, stereotipik,
menarik diri, kegelisahan, hubungan objek abnormal, iritabilitas,

dan afek yang labil dan mempercepat belajar


Pemberian Fenfluramine (Pondimin)
Menurunkan kadar serotonin darah, efektif pada beberapa anak
autistic.
Pemberian Naltroxone (Trexan)

Skenario A block 15: Autism | 22

Merupakan suatu antagonis opiate, sekarang sedang diteliti


dengan harapan bahwa penghambatan opioid endogen akan
-

menurunkan gejala autistic.


Pemberian Lithium (Eskalith)
Dapat dicoba untuk perilaku agresif atau melukai diri sendiri jika
medikasi lain gagal.

Terapi medikamentosa
Pemberian agonis serotonin-dopamin (SDA) memiliki risiko rendah
dalam menimbulkan efek samping ekstrapiramidal, meskipun beberapa
individu

yang

sensitif

tidak

dapat

mentoleransi

efek

samping

ekstrapiramidal atau antikolinergik dari agen antipsikotik atipikal. SDA


yang diberikan berupa risperidone secara oral dengan dosis 0,1 mg,
2x1 (pagi dan sore)

Terapi lain
Psikoterapi
Terdapat beberapa terapi yang digunakan untuk penanganan anak autis
selain terapi biomedis yang bertujuan untuk memperbaiki metabolisme
tubuh melalui diet dan pemberian suplemen. Terapi-terapi tersebut
diantaranya yaitu:
a. Terapi Wicara
Terapi untuk membantu anak autis melancarkan otot-otot mulut sehingga
membantu anak autis berbicara lebih baik.
b. Terapi Perilaku
Metode untuk membentuk perilaku positif pada anak autis, terapi ini lebih
dikenal dengan nama ABA (Applied Behavior Analysis) atau metode
Lovass.
c. Terapi Okupasi
Skenario A block 15: Autism | 23

Terapi untuk melatih motorik halus anak autis. Terapi okupasi untuk
membantu menguatkan, memperbaiki, koordinasi dan keterampilan
ototnya.
d. Terapi Bermain
Proses terapi psikologik pada anak, dimana alat permainan menjadi
sarana utama untuk mencapai tujuan.

e. Terapi Sensory Integration


Pengorganisasian informasi melalui sensori-sensori (sentuhan, gerakan,
keseimbangan, penciuman, pengecapan, penglihatan dan pendengaran)
yang sangat berguna untuk menghasilkan respon yang bermakna.
f. Terapi Auditory Integration
Terapi untuk anak autis agar pendengarannya lebih sempurna.
g. Terapi Pijat
Terapi pijat anak autis efektif memperlancar peredaran darah yang
berfungsi mendistribusikan oksigen, nutrisi, dan mengangkut racun tubuh
sehingga tidak mengendap dan menimbulkan penyakit. Fokus pemijatan
untuk anak autis terletak di beberapa titik di bagian kepala, seperti seperti
puncak kepala, tengkuk dibagian leher, pangkal tulang kepala dan area
sclap atau area puncak ke samping kepala bersambung kearah telinga.
Orangtua yang cukup aktif melakukan pemijatan dalam waktu satu bulan
memperlihatkan perkembangan anak yang cukup signifikan. Terlebih lagi
jika terapi pijat diberikan lebih dini kepada anak karena titik meridian
akupunkturnya masih mudah dibentuk sehingga aliran darah tetap stabil.
Level pemberian terapi pijat, disesuaikan dengan kondisi anak. Satu seri
akupuntur yaitu 10-12 kali dalam 1 minggu, tergantung tingkat keparahan.
Level autis terparah membutuhkan terapi sampai 3 seri
Skenario A block 15: Autism | 24

Diet
Diet pada autism yaitu dengan pemberian probiotik, diet bebas
jamur, diet bebas kasein, diet pemberian suplemen vitamin A, C,
B6, B12, Mg, asam folat, dan omega 3.
Pencegahan :
Susu sapi : diusahakan untuk susu yang non laktosa atau

diganti susu kedelai


Makanan dari tepung terigu : diganti dengan tepung beras,
tepung ketan, tepung tapioca, tepung maizena, dan tepung

kacang hijau.
Hindari : minuman manis dan makanan dengan pemanis,
pengawet dan pewarna. Hindari permen, coklat, ice cream, soft

drink dan banyak minum air putih.


Hindari diri dari seafood yang terkontaminasi limbah industri

Jenis pangan yang dianjurkan :


Sayur
1. Kacang panjang
2. Brokoli
3. Wortel
4. Asparagus
5. Bayam
6. Daun katuk

Kacangan
1. Kacang panjang
2. Kapri
3. Kacang polong
4. Kacang tanah
5. Kacang kedelai
6. Kacang hijau

Bijian
1. Beras putih
2. Beras merah
3. Beras ketan
4. Oat

18. Apa Prognosis pada kasus ini?


Jawab:
Poor (jelek/buruk) kecuali dengan IQ yg baik dan kemampuan bicara yg
baik dan derajat berat autisme
Malam longlife disorder
19. Apa tindakan preventif pada kasus ini?
Jawab:
Pencegahan sejak kehamilan

Skenario A block 15: Autism | 25

Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan

lebih awal, bila perlu berkonsultasi sejak merencanakan kehamilan.


Melakukan pemeriksaan skrening secara lengkap terutama infeksi
virus TORCH (Toxoplasma, Rubela, Citomegalovirus, herpes atau

hepatitis).
Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan
secara rutin dan berkala, dan selalu mengikuti nasehat dan petunjuk
dokter dengan baik. Bila terdapat peradarahan selama kehamilan

segera periksa ke dokter kandungan.


Menghindari paparan alergi berupa asap rokok, debu atau makanan
penyebab alergi sejak usia di atas 3 bulan. Hindari paparan makanan
atau bahan kimiawi atau toksik lainnya selama kehamilan. Jaga
higiene, sanitasi dan kebersihan diri dan lingkungan. Konsumsilah
makanan yang bergizi baik dan dalam jumlah yang cukup. Sekaligus
konsumsi vitamin dan mineral tertentu sesuai anjuran dokter secara
teratur.
Pencegahan saat persalinan
Bila terdapat faktor resiko persalinan seperti : pemotongan tali
pusat terlalu cepat, asfiksia pada bayi baru lahir (bayi tidak
menangis atau nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi
selama persalinan, persalinan lama, letak presentasi bayi saat lahir
tidak normal, berat lahir rendah ( < 2500 gram) maka sebaiknya
dilakukan pemantauan perkembangan secara cermat sejak usia dini
Pencegahan saat bayi
Hindari faktor resiko.

20. Apa KDU pada kasus ini?


Jawab:
KDU 2: Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik
dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter
(misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter
mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu
Skenario A block 15: Autism | 26

menindaklanjuti

sesudahnya.

(spesialis

anak

subspesialis

tumbuh

kembang)

IV. HIPOTESIS
Diego, anak laki-laki, usia 30 bulan, menderita gangguan perkembangan
berupa autisme.
V. Kerangka Konsep
Diego, anak laki-laki usia 30 bulan di bawa ke klinik

Abnormalitas
neurokimiawi

Gangguan
kuantitatif
dalam interaksi
sosial

4. Tidak suka
bermain
dengan anak
lain
5. Tidak mau
kontak mata
6. Tidak ada
spontanitas
menunjuk
benda

Gangguan
kualitatif dalam
komunikasi

Ibu usia 34
tahun,
mengalami
demam dan
sering
mengkonsumsi

Gangguan Pola
prilaku ,Minat dan
aktivitas terbatas

4. Belum bisa
4. Terfokus pada
berbicara
satu objek dan
5. Mengoceh
menyukai satu
yang tidak
aktivitas
dimengerti
5. Melakukan
oleh orang lain
aktivitas yang
Skenario A block 15: Autism | 27
6. Permainan
berulang
imajinatif
6. Berlari kesana
kemari tanpa

VI. SINTESIS

Autisme

Pola Perkembangan Anak Normal


Perkembangan normal seorang anak dapat dinilai dari beberapa aspek,
meliputi :

1 Gross motor : Mengontrol pergerakan kepala, duduk,


dan berjalan.
2 Fine motor : Memegang sendok, memungut bendabenda kecil.
3 Sensori
:

Melihat, mendengar, merasakan,

menyentuh.

Skenario A block 15: Autism | 28

4 Bahasa

Dapat berbicara dan memahami

perkataannya, mengerti apa yang orangtua mereka


dan teman-teman lain katakan.
5 Sosial : Dapat bermain bersama dengan anggota
keluarga dan anak-anak lain.
Berdasarkan aspek-aspek yang telah disebutkan di atas, berikut beberapa
parameter perkembangan normal anak dari usia 0-2 tahun dari beberapa literatur,
yaitu :
1. Perkembangan Kognitif
Usia

Kemampuan dan

Komunikasi

Gerakan

3-6 bulan

proses berpikir
Berespon terhadap suara- Berceloteh/bersuara
- Mengangkat kaki dan tangan
- Tersenyum pada suara- Belajar mengangkat kepala
baru
- Melihat pergerakan tangan
Mengikuti benda dengan ibu
sendiri
mata
Melihat objek dan orang
Mengenal ibu
- Memalingkan
kepala- Mengangkat
kepala 90
Mengapai objek
pada suara
derajat dan mengangkat
- Mulai meraba
dada dengan bertopang
- Meniru suara
- Menangis dengan suara tangan
- Mengerakkan benda dalam
berbeda
bermain

6-9 -

Meniru

0-3 bulan
-

bulan
-

gerakan- Membuat

kata-kata- Merayap/ merangkak


- Dapat duduk tanpa dibantu
sederhana
berulang yang tidak
- Sudah dapat tengkurap dan
Berespon jika dipanggil
bermakna
(gagaga,
berbalik sendiri
nama
dada, dst)
- Berdiri berpegangan ke meja
- Menggunakan
suara- Bertepuk tangan
- Memindahkan objek dari
untuk menarik perhatian
satu tangan ke tangan
lainnya

Skenario A block 15: Autism | 29

9-12 -

Bermain

bulan
-

sederhana
untuk dada
Bergerak menuju benda- Berhenti

12-18bulan
-

permainan- Melambaikan

yang diminati
Melihat gambar
buku
Meniru

tangan- Berjalan sambil berpegangan


- Menyatakan ingin benda
ketika tertentu
- Mencoret

dikatakan tidak
pada- Meniru kata-kata baru

dengan

warna

suara

dan- Menggelengkan kepala- Berjalan sendiri


- Naik /turun tangga
gerakan yang baru
menyatakan tidak
Menunjuk pada benda- Meniru kata baru
- Mengikuti
instruksi
yang diinginkan
Menyusun 2-3 kotak
sederhana
- Mengucapkan 5-10 kata
- Memperlihatkan
rasa
cemburu dan bersaing

18-24-

Menyusun 6 kotak

bulan

Menyusun

kalimat- Naik turun tangga

dengan 2 kata

2. Perkembangan Bahasa

Skenario A block 15: Autism | 30

pensil

3. Perkembangan Perilaku Normal


a. Motorik
Umur
1 bulan

Motor Behavior
Kepala merebah, tonic neck

4 bulan

reflex, tangan mengepal.


movement ada tapi terbatas.
Kepala tak merebah lagi, letak Tracking
eye
movement
simetris, tangan terbuka.

7 bulan

Adaptive
Melihat sekitarnya,

tracking

eye
baik,

menggenggam benda yang diberikan

padanya.
Duduk dengan sokongan kedua Memindahkan kubus dari satu tangan ke
tangan,

memegang

kubus, tangan yang lain.

10 bulan

melihat dan menyentuh kancing.


Duduk tanpa sokongan tangan, Bermain dengan 2 kubus, yang satu

1 tahun

merangkak hingga berdiri.


disentuhkan dengan yang lain
Berjalan dengan bantuan, duduk Memindahkan kubus kedalam cangkir.
bersila. Mengetahui arti kancing,
memasukan dan mengambilnya

Skenario A block 15: Autism | 31

1,5 tahun

dari botol.
Berjalan tanpa jatuh. Duduk Mengeluarkan kancing dari botol.
Meniru coretan garis lurus.
sendiri di kursi kecil. Menyusun

2 tahun

tumpukan dengan 3 kubus.


Berlari.
Menyusun tumpukan dari

3 tahun

Meniru coretan garis lingkaran.


6

kubus.
Berdiri dengan 1 kaki tanpa Membuat jembatan dengan 3 kubus.
jatuh.
Meniru gambar silang.
Membuat tumpukan dari 10

4 tahun
5 tahun

kubus.
Berjinjit.

Membuat pintu gerbang dengan 5 kubus.

Berjinjit dengan kaki bergantian.

Menggambar orang.
Dapat menghitung 10 sen.

b. Sosial
Umur

Status

Interaksi Tindakan

0-1 bulan

Sosial
Belum ada

Menangis & Diam, dipengaruhi oleh stimuli


eksternal
Dapat melihat wajah orang.
Tertawa dan tersenyum bila melihat wajah orang.
Bermain dengan tangan dan pakaian, mengenal

2-4 bulan

Awal reaksi social

5-6 bulan

botol dan bersiap-siap untuk makan.


Kontak sosial aktif Minta perhatian ortu dengan membuat suara atau

8-12 bulan

Perkembangan
social aktif

1-2 tahun

Penyempurnaan
social aktif

2-4 tahun

Masa

menyentuh ortu.
Membedakan wajah marah & tidak dengan
memalingkan muka. Membedakan suara.
Bertindak ramah pada orang yang dikenal, dan malu
pada orang yang belum dikenal.
Anak mencari mengharapkan ada teman bermain,
mencari teman sebaya.
Memberikan mainan bila diminta.
Anak berulang-ulang mengatakan saya mau

Skenario A block 15: Autism | 32

membangkang

5-6 tahun

Masa adaptasi

dan akan marah bila tidak terpenuhi.


Sudah mulai mengerjakan tugas yang diberikan
oleh ortunya.
Anak mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan,
krn pd masa ini terdapat perkembangan kesadaran

> 6 tahun

> 9 tahun

kewajiban dan pekerjaan.


Masa berpikir dan Anak mulai malas bekerja (harus dirangsang). Anak
emosi

mulai tahu membenci dan menyanyangi orang lain,

Masa mandiri

serta menilai sikap lingkungan terhadapnya.


Anak sedikit mulai menetang pimpinan dan mencari
jalannya sendiri.

AUTISM
Definisi Autism
Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah
pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti
preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih
banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri dari pada melihat
kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari
Autisme, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anakanak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan
seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri
Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 ( dalam Budiman, 1998) seorang
psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu
gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut
Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi
Skenario A block 15: Autism | 33

wajah yang kosong seolaholah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit
sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka
berkomunikasi.
Pada awalnya istilah autisme diambilnya dari gangguan schizophrenia,
dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien
skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya
sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada
penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia,
autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung
halusinasi dan delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada
anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan
yang tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistic
yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).
Epidemiologi
Rasio penyandang autisme pada tahun 1987 adalah 5000:1 (dalam 5000
kelahiran anak dijumpai 1 anak yang menyandang autisme), tahun 1997 terjadi
peningkatan menjadi 500:1, dan pada tahun 2000 terjadi peningkatan kembali
yaitu 150:1, sedangkan laporan WHO tahun 2005 menunjukkan perbandingan
100:1. Sebagaimana dilaporkan National Institute of Mental Health (NIMH),
WHO memprediksi pada tahun 2020, gangguan neuropsikiatrik (termasuk
autisme) terhadap anak di seluruh dunia akan meningkat 50 %.
Gangguan autisme lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak
perempuan. Penyebab mengapa anak laki-laki memiliki kecenderungan lebih
mudah mengidap autisme daripada anak perempuan belum diketahui secara
pasti, namun ada teori yang menyebutkan bahwa anak perempuan mempunyai
hormon estrogen lebih banyak dibandingkan anak laki-laki, yang mana hormon
Skenario A block 15: Autism | 34

ini dapat melindungi otak dari berbagai hal yang dapat meracuninya.
Dibutuhkan kajian dan penelitian ilmiah lebih lanjut untuk menyelidiki hal
tersebut.
Manifestasi Klinis
Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada
sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak
mata dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Manusia adalah
makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal, seorang bayi mulai bisa
berinteraksi dengan ibunya pada usia 3 - 4 bulan. Bila ibu merangsang bayinya
dengan menggerincingkan mainan dan mengajak berbicara, maka bayi tersebut
akan berespon dan bereaksi dengan ocehan serta gerakan. Makin lama bayi
makin responsive terhadap rangsang dari luar seiring dengan berkembangnya
kemampuan sensorik. Pada umur 6-8 bulan ia sudah bisa berinteraksi dan
memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara. Hal ini tidak
muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Ia bersikap acuh tidak acuh dan
seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain. Ia lebih suka bermain dengan
dirinya sendiri atau dengan mainannya. Berikut ini diuraikan indicator
perkembangan yang normal pada masa bayi :
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas
saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu:
1

Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat


bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat
dimengerti, echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia
mengerti maknanya, dstnya.

Skenario A block 15: Autism | 35

Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak


mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka

bermain sendiri, dstnya.


Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang
berlebih (excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif,
hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong,
melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada
kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya

kemana-mana.
Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati,
simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa
sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak

mendapatkan apa yang ia inginkan.


Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit
mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup
telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.

Kriteria Diagnostik
Secara detail, menurut DSM IV (1995), kriteria gangguan autistik adalah
sebagai berikut :
A. Harus ada total 6 gejala dari (1),(2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1)
dan masing-masing 1 gejala dari ( 2 ) dan (3) :
1

Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalam


sedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini :
a Kelemahan dalam penggunaan perilaku nonverbal, sepertikontak
mata, ekspresi

wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi

sosial.
Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya

sesuai dengan tingkat perkembangannya.


Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan
orang lain.
Skenario A block 15: Autism | 36

d
2

Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang

timbal balik.
Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1
dari gejala berikut ini:
a Perkembangan bahasa lisan (bicara) terlambat atau sama sekali tidak
berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk berkomunikasi
b

secara non verbal.


Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk

berkomunikasi
Sering menggunakan

berulangulang.
Kurang mampu bermain imajinatif (make believe play ) atau
permainan

imitasi

bahasa

sosial

yang

lainnya

aneh,

sesuai

stereotype

dengan

dan

taraf

perkembangannya.
Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang. Minimal
harus ada 1dari gejala berikut ini :
a Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan focus dan
b
c

intensitas yang abnormal/ berlebihan.


Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas
Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti

menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan tubuh.


Sikap tertarik yang sangat kuat/ preokupasi dengan bagian-bagian
tertentu dari obyek.

B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada


salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan
komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa
Anak

Etiologi

Skenario A block 15: Autism | 37

FAKTOR PSIKOGENIK
Ketika autisme pertama kali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autism
diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasus perdana banyak
ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan,` yang orangtuanya
bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga
tersebut kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak
yang akhirnya menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan
interaksi sosial anak.
Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik yang menerangkan
penyebab autisme dari factor-faktor psikologis, dalam hal ini perlakuan/ pola
asuh orangtua.
FAKTOR BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN
Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai
gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus
lainnya penyebabnya bisa tidak sama. Penelitian tentang faktor organik
menunjukkan adanya kelainan/keterlambatan dalam tahap perkembangan anak
autis sehingga autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam
perkembangan (developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian dan
diagnosis dalam DSM IV.
Hasil pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan
gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang
autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian
mengarahkan dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak,
dalam hal ini neurotransmitter yang berbeda dari orang normal. Neuro
transmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan impuls
dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada

Skenario A block 15: Autism | 38

penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada
penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah.
Faktor biologis :
Diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal,
komplikasi persalinan, dan genetik. Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus
dan zat-zat kimia/ logam dapat mengakibatkan munculnya autisme. Zat-zat
beracun seperti timah ( Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok;
kadmium (Cd) dari batu baterai serta turunan air raksa ( Hg) yang digunakan
sebagai bahan tambalan gigi ( Amalgam). Apabila tambalan gigi digunakan pada
calon ibu, amalgam akan menguapdidalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan
disimpan dalam tulang. Ketika ibu hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal
dari tulang ibu yang sudah mengandung logam berat. Selanjutnya proses
keracunan logam beratpun terjadi pada saat pemberian Asi dimana logam yang
disimpan ibu ikut dihisap bayi saat menyusui. Sebuah vaksin, MMR ( Measles,
Mumps & Rubella) awalnya juga diperkirakan menjadi penyebab autisme pada
anak akibat anak tidak kuat menerima campuran suntikan tiga vaksin sekaligus
sehingga mereka mengalami kemunduran dan memperlihatkan gejala autisme.
Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya kasus
autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung ( siblings) anak penyandang
autisme terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3 %
untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat
hasil yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri
memang tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sample kecil .
Penelitian pada kembar identik 1 telur menunjukkan bahwa mereka memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya
autis. Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan
autisme diantaranya adalah usia ibu (makin tinggi usia ibu, kemungkinan

Skenario A block 15: Autism | 39

menyandang autis kian besar ), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama


dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.
Tatalaksana
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a
b

berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.


usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak

c
d

saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.


Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara
seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan
kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang

baik mempunyai prognosis yang lebih baik.


Terapi yang intensif dan terpadu.

TERAPI YANG TERPADU


Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan
dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4
8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu
komunikasi dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan
kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain
psikiater, psikolog neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi psikologis
c. Terapi wicara
d. Fisioterapi
Terapi medikamentosa

Skenario A block 15: Autism | 40

Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberikan obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI
(Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Yang diinginkan dalam
pemberian obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan
tanpa efek samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki
respon anak terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana
terapi lainnya.Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat
dapat dikurangi bahkan dihentikan.
Terapi psikologis
Umumnya intervensi difokuskan pada meningkatkan kemampuan bahasa dan
komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan mengurangi perilaku yang tidak
dikehendaki seperti melukai diri sendiri ( self mutilation ), temper tantrum
dengan

penekanan

pada

peningkatan

fungsi

individu

dan

bukan

menyembuhkan dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi normal.


Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) membuat pendekatan yang komprehensif dalam
intervensi autisme yang memiliki tujuan :

membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal


meningkatkan kemampuan belajar anak autistic
mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan
interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya
hidup sendiri . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan
munculnya perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini

pemberian mainan yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini.


mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai

diri sendiri
mengurangi stress pada keluarga penderita autisme

Skenario A block 15: Autism | 41

Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen ( 1996 ) menyatakan intervensi psikologis


anak-anak autistik harus terfokus pada :

memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan

keterlambatan perkembangan secara menyeluruh


memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh

lingkungan yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan


mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai
efek dari gangguan utama.

Terapi Wicara
Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan bicara dan
berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang autisme merupkan
keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh
sebab lain. Salah seorang tokoh yang mengembangkan terapi bicara ini adalah
Lovaas pada tahun 1977 yang menggunakan pendekatan behaviouris - model
operant conditioning ( dalam Wenar, 1994 ). Anak yang mengalami hambatan
bicara dilatih dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi
terapis.
Fisioterapi
Pada anak autisme juga diberikan fisioterapi yang berfungsi untuk
merangsang perkembangan motorik dan kontrol tubuh.
Alternatif terapi lainnya
Selain itu ada beberapa terapi lainnya yang menjadi alternatif penanganan
penyandang autis, yaitu :
a

Terapi music: Meliputi aktivitas menyanyi, menari mengikuti irama dan


memainkan alat musik. Musik dapat sangat bermanfaat sebagai media
mengekspresikan diri, termasuk pada penyandang autis.

Skenario A block 15: Autism | 42

Son- rise program: Program ini berdasarkan pada sikap menerima dan
mencintai tanpa syarat pada anak-anak autistik. Diciptakan oleh orangtua
yang anaknya didiagnosa menderita autisme tetapi karena program
latihan dan stimulasi yang intensif dari orangtua anak dapat berkembang

tanpa tampak adanya tanda-tanda autistik.


Program Fasilitas Komunikasi: Meskipun sebenarnya bukan bentuk
terapi, tetapi program ini merupakan metode penyediaan dukungan fisik
kepada individu dalam mengekspresikan pikiran atau ide-idenya melalui

papan alfabet, papan gambar, mesin ketik atau komputer.


Terapi vitamin: Penyandang autis mengalami kemajuan yang berarti
setelah mengkomsumsi vitamin tertentu seperti B 6 dalam dosis tinggi

yang dikombinasikan dengan magnesium, mineral dan vitamin lainnya.


Diet Khusus (Dietary Intervention) yang disesuaikan dengan cerebral
allergies yang diderita penyandang autis.

Perbandingan Sikap dan perilaku Anak Autisme dan Anak normal.


ANAK AUTISME

ANAK NORMAL

KOMUNIKASI

Tidak dapat berkomunikasi dengan orang


lain, asyik dalam dunianya sendiri

Dapat berkomunikasi 2 arah menjalin


hubungan sosial

Tidak memperhatikan orang lain dan


tidak terjadi kontak mata

Memperhatikan orang lain dan terjadi


kontak mata

Ekspresi wajah kurang hidup

Ekspresi
wajah
hidup
tersenyum, sedih, dll).

VERBALISASI

Skenario A block 15: Autism | 43

(tertawa,

Kemampuan berbicara terlambat

Menguasai sedikit kosa kata

Tidak dapat berbicara atau dapat


berbicara
tapi
tidak
jelas
dan
mengeluarkan suara kata yang aneh atau
sering mengulang-ulang kata yang sama.

Sejak usia sekitar 9 bulan, kemampuan


berbicara mulai tampak, dimulai dengan
menirukan satu-dua kata yang sering
didengar.

Kosa kata semakin bertambah

Usia 2 tahun dapat berbicara lancar

Menunjukkan respon yang wajar,


terhadap sensasi (cahaya, suara, rasa, dan
lain-lain)

Tidak ada gangguan motorik, berjalan


secara normal

RESPONS TERHADAP SENSORIK

Respons tidak wajar, hipersensitif seperti


takut pada cahaya, kebisingan,atau
sebaliknya
hiposensitif,
kurangnya
respons terhadap sensasi

SISTEM MOTORIK

Mengalami gangguan motorik seperti


berjalan dengan menjinjit, berperilaku
yang diulang-ulang, sepert bertepuktepuk tangan, menepuk - nepuk dada, dll.

PENGETAHUAN TENTANG ISTILAH ABSTRAK

Tidak mengenal waktu : sekarang,


kemarin, dll.

Mengenal waktu

Skenario A block 15: Autism | 44

Tidak tahu tentang keadaan

Mengenal keadaan

Tidak tahu alasan

Dapat memberikan alasan

AKTIVITAS

Hiperaktif atau sebaliknya hipoaktif

Aktivitas dilakukan secara wajar

Sulit tidur dan tidur larut malam

Tidur lebih awal

Emosi dapat dikendalikan

EMOSI

Emosi berlebihan /mengamuk jika


keinginannya tidak dipenuhi (tantrum)

Skenario A block 15: Autism | 45

Daftar Pustaka
1. Kaplan, Sadocks. 2007. Synopsis of psychiatry: behavioral sciences/clinical
psychiatry :Autism tenth edition. E-book. Lippincot Williams&wilkins.
2. Martin A, Volkmar R. 2007. Child and Adolescent psychiatry Fourth edition.
E-book. Lippincot Williams&wilkins.
3. Higgins S, George S. 2007. The neuroscience of clinical psychiatry first
edition. E-book. Lippincot Williams&wilkins.
4. Ashwood, P. and van de Water, J. 2004. Is autism an autoimmune disease?
Autoimmun. Rev., 3:55762.
5. Casanova, M.F. 2007. The neuropathology of autism. Brain Pathol.,17:422
33.
6. Dykens, E.M., Sutcliffe, J.S. and Levitt, P. 2004. Autism and 15q11
q13disorders: behavioral, genetic, and pathophysiological issues. Ment.
Retard. Dev. Disabil. Res. Rev., 10:28491.
7. Just, M.A., Cherkassky, V.L., Keller, T.A. et al. 2007. Functional and
anatomical cortical underconnectivity in autism: evidence from an FMRI
study of an executive function task and corpus callosum morphometry. Cereb.
Cortex, 17:95161.

Skenario A block 15: Autism | 46