Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin


yang dihasilkan oleh Clostridium tetani, bakteri obligat anaerob basil gram positif
yang motil dan mudah membentuk endospora, ditandai dengan spasme otot yang
periodik dan berat. Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik
yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang
diproduksi oleh Clostridium tetani. Spora Clostridium tetani biasanya masuk ke
dalam tubuh melalui luka pada kulit oleh karena terpotong, tertusuk ataupun luka
bakar serta pada infeksi tali pusat.1
Sampai saat ini tetanus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di
negara berkembang karena akses program imunisasi yang buruk, juga
penatalaksanaan tetanus membutuhkan fasilitas intensive care unit (ICU) yang
jarang tersedia di sebagian besar populasi khususnya untuk penanganan penderita
tetanus berat. Terdapat perbedaan angka kejadian tetanus yang cukup jauh antara
negara maju dan berkembang. Di Amerika Serikat, pada tahun 2002-2012,
dilaporkan terdapat 312 kasus baru tetanus dengan rata-rata 29 kasus per tahun
dan data terakhir pada tahun 2013, dilaporkan terdapat 26 kasus baru tetanus per
tahun. Sementara di Indonesia, pada tahun 2002-2012, dilaporkan terdapat 5888
kasus baru tetanus dengan rata-rata 535 kasus per tahun, dan data terakhir pada
tahun 2013, dilaporkan terdapat 225 kasus baru tetanus per tahun. Data Dinas
Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan pada tahun 1994 menunjukkan bahwa
kejadian tetanus di Sumatera Selatan adalah sebanyak 113 kasus.2
Tetanus adalah penyakit yang dapat dicegah. Impelementasi imunisasi
tetanus global telah menjadi target WHO sejak tahun 1974. Namun imunitas
terhadap tetanus tidak berlangsung seumur hidup dan dibutuhkan injeksi jika
seseorang mengalami luka yang rentan terinfeksi tetanus. Akses program
imunisasi yang buruk dilaporkan menyebabkan tingginya prevalensi penyakit ini
di negara berkembang.3

Meskipun insiden tetanus saat ini sudah menurun setiap tahunnya, namun
penyakit ini masih belum dapat dimusnahkan meskipun pencegahan dengan
imunisasi sudah diterapkan secara luas di seluruh dunia. Mengingat ancaman
mortalitas yang besar, maka seorang dokter dituntut untuk mengetahui lebih
dalam mengenai kasus ini untuk dapat menegakkan diagnosis tetanus dengan
benar dan dapat menatalaksana hingga tuntas kasus-kasus tetanus sesuai dengan
kompetensi dokter umum yang telah ditetapkan. Dibawah ini akan disajikan
sebuah kasus mengenai tetanus yang bertujuan untuk mengetahui cara penegakkan
diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat pada kasus tetanus di Indonesia.