Anda di halaman 1dari 3

The Heart of a Patriot Change Tax Evader into

Tax Hero

Patriotisme adalah sikap yang menunjukkan rasa cintanya kepada bangsa


dan negara. Seorang patriot atau pahlawan dahulu merupakan gelar yang telah
disematkan kepada para pembela tanah air yang dengan gigih berjuang melawan
kedigdayaan penjajah. Sekarang siapapun bisa menjadi pahlawan. Sebagai
pahlawan karena dengan sepenuh hati mencintai negeri ini sehingga rela
berkorban, bahkan mengorbankan kekayaannya demi kesejahteraan dan
kejayaan bangsa. Oleh karena itu, pembayar pajak pun tak luput untuk dihargai
dengan julukan seorang pahlawan.

Jiwa patriotisme tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan memberi apa
yang diperlukan oleh bangsa dan negara. Jiwa patriotisme dibangun dengan
cinta yang sepenuh hati. Kita mencintai karena kita percaya dengan yang kita
cintai. Kita bisa menerima cinta karena paksaan, tetapi alangkah lebih indah
apabila cinta diperoleh karena ketulusan. Demikian juga dalam menumbuhkan
cinta kepada pajak, Seseorang rela membayar pajak karena paksaan (enforced)
atau sukarela (voluntary). Menurut Erich Kirchler (2007), Paksaan versus
Sukarela ibarat Kekuasaan (power) versus Kepercayaan (trust) kepada Otoritas
Pajak (tax authorities).

Kerelaan

membayar pajak secara sukarela dapat terwujud atas dasar


kepercayaan, baik kepada otoritas pajak maupun kepada pemerintah. Salah satu
faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan dalam kepatuhan membayar
pajak adalah Norma pribadi, sosial, dan nasional, sebagaimana yang dinyatakan
oleh Erich Kirchler (2007, 59), yaitu norm-dependency, altruism, strong
religious beliefs ... should be correlated with high personal ethics and
eventually with willingness to comply. Nilai agama yang kuat ternyata
merupakan faktor pendorong yang perlu dipertimbangkan dalam mendongkrak
tingkat kepercayaan dalam pemenuhan kewajiban untuk membayar pajak secara
sukarela. Akan tetapi, Mengapa kepercayaan (trust) seakan luntur dalam
kehidupan berbangsa padahal bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius?.

Sebelum

menjawab pertanyaan di atas, Bangsa kita telah disuguhkan


dengan kejadian masa lampau yang telah menciderai rasa kepercayaan dan pada
akhirnya melunturkan semangat untuk menjadi pahlawan. Kisah Gayus, Kasus
Pengemplang Pajak, dan Kasus Korupsi yang tiada kunjung berakhir telah
menggoyahkan rasa kepercayaan kita kepada negara. Kasus pengemplang pajak
bukan hanya terjadi di negeri ini tetapi telah melanda di mancanegara. Pada
tahun 2013, perusahaan multinasional seperti Google, Starbucks, dan Amazon
diberitakan mengemplang pajak (membayar pajak tidak sesuai dengan yang
seharusnya) di beberapa negara Uni Eropa. Bahkan masih hangat untuk
dibicarakan, yaitu terbongkarnya dugaan pengelakan pajak (tax evasion)
terbesar dalam sejarah melalui terungkapnya dokumen The Panama Papers,
yang melibatkan para pemimpin negara, miliuner, mafia narkoba, selebritas, dan
bintang olahraga kelas dunia, seperti Lionel Messi (Tempo, 5 April 2016).
Dampaknya adalah masyarakat internasional semakin memandang mereka
sebagai para pengemplang pajak (tax evaders) yang munafik dan tidak dapat
dipercaya. Patriotisme mereka kepada negaranya sendiri patut dipertanyakan.

Cerita

kepahlawanan pada umumnya berkisah kepada segelintir orang


yang meskipun memiliki secuil keberanian tetapi berhasil mencetak sejarah
(history maker). Masyarakat boleh hilang kepercayaan, tetapi jiwa patriotisme
jangan padam di hati sanubari. Istilah pajak sesungguhnya tidak asing dengan
nilai-nilai agama. Bagi muslim dikenal dengan zakat dan bagi nasrani dikenal
dengan pajak dan cukai. Sehingga ketika membayar pajak, kita lakukan karena
cinta kepada Tuhan dan sesama tidak peduli dikelilingi dengan para
pengemplang pajak dan masyarakat yang apatis dan tidak percaya kepada
pemerintah. Dengan semakin banyak pahlawan pajak yang telah menunjukkan
keteladanan dan jiwa patriotisme maka diharapkan semakin banyak masyarakat
yang awalnya apatis dan kehilangan kepercayaan akan mengikuti jejak untuk
menjadi pahlawan dan pada akhirnya para pengemplang pajak akan merasa
malu dan berubah lebih taat dan patuh dalam membayar pajak.

Be a Tax Hero even though nobody even cares


about you
Be a Tax Hero even though you are fighting alone
in this world
Be a Tax Hero even though you are surrounded by
tax evader

One day You will be a History Maker