Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sudah menjadi isu global, dimana kondisi bumi saat ini sedang mengalami fase
yang menghawatirkan. Suhu permukaan bumi kian meningkat dan menimbulkan efek
yang cukup terasa yaitu perubahan iklim secara drastis, dan pemanasan global. Salah satu
penyumbang terbesar bagi pemanasan global dan bentuk lain dari perusakan lingkungan
adalah beralihnya fungsi lahan hijau sebagai bangunan rumah hunian, gedung,
perkantoran dan lain-lain. Selain itu, pembalakan pohon secara besar-besaran tanpa
dilakukan penanaman kembali juga berperan andil dalam memicu terjadinya pemanasan
global. Maka dari itu, terciptalah suatu gagasan untuk membuat desain yang selaras
dengan alam, atau dengan kata lain dapat mengurangi terjadinya pemanasan global.
Green School Bali merupakan salah satu sekolah dengan arsitektur yang
memanfaatkan hasil alam terutama bambu. Konsep desain pada Green School Bali ini
merupakan sebuah langkah nyata dari kepedulian manusia terhadap masalah pemanasan
global

yang

telah

mengancam

kelangsungan

hidup

manusia.

Sekolah

yang

keseluruhannya dibuat dari bambu ini menjadikannya bangunan bambu terbesar di Asia.
Dengan menggunakan bahan ramah lingkungan, sekolah ini bertekad menjadi sekolah
berkarbon terendah di bumi. Pintu masuk sekolah yang berupa jembatan bambu membuat
anak-anak bisa bermain di sungai di bawahnya. Jalan setapak di lingkungan sekolah
dikelilingi batu vulkanik. Ruang kelasnya terbuka, melalui taman yang dipenuhi pohon
nanas dan tanaman padi yang tumbuh subur. Dari beberapa alasan tersebut, penulis
melakukan survei/penelitian pada Green School ini dengan mengangkat topik Design
With Nature.
1.2

Rumusan Masalah
1.2.1. ?

1.3

Tujuan
1.3.1

1.4

Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

Identifikasi Green School Bali


Green School berada diantara kedua sisi Sungai Ayung di Sibang Kaja, Abiansemal,
Badung, Bali, didalam hutan lebat yang berisi tanaman asli dan pohon-pohon yang tumbuh di
samping kebun organik . bangunan ini didukung oleh sejumlah sumber energi alternatif,
termasuk air panas dan serbuk gergaji dari bambu untuk alat memasak, generator bertenaga
Hydro Vortex dan panel surya (Tenaga Matahari).
Bahan Baku dari Green School sendiri adalah Bambu lokal, yang diambil dari
pengembangan berkelanjutan (perkebunan) sehingga terus dikembangkan dan menghasilkan stok
yang banyak, sehingga nanti Bambu tersebut bisa digunakan untuk menciptakan karya arsitektur
yang memperhatikan lingkungan sekitar, agar planet ini selamat dari bahaya Efek Rumah Kaca
dan sebagainya.
Sejarah Green School Bali
Green School direncanakan oleh John dan Cynthia Hardy pada tahun 2006 dan dibangun
oleh PT. Bambu. Sekolah ini dibuka pada bulan September 2008 dengan sekitar 100. Pendirinya
yaitu pemerhati lingkungan serta desainer John Hardy dan Cynthia, telah menetap di Bali
selama lebih dari 30 tahun dan mendapatkan konsep yang unik untuk menciptakan sesuatu yang
benar-benar inspiratif dan diluar keterbatasan struktural, konseptual, dan fisik sekolah yang
tradisional. Green School sendiri menyerap konsep budaya masyarakat Bali dengan
mengutamakan bahan bambu sebagai fasad bangunannya. John dan Cynthia Hardy ingin
memotivasi masyarakat untuk hidup sehat Green Peace. Bagian dari upaya untuk menunjukkan
kepada orang, bagaimana membangun sebuah gedung dengan bahan yang sangat tradisional,
yaitu bambu.
Dahulu John Hardy adalah seorang mahasiswa seni dari Kanada yang kreatif, dan
memulai perjalannya ke Bali pada tahun 1975. Penasaran dengan tradisi kerajinan Bali, ia
menetap di Bali dan mulai memproduksi perhiasan dengan seniman local Bali. Cynthia adalah
orang Amerika yang sudah berkeliling dunia saat sedang mempertimbangkan kuliah hukumnya
di Berkeley. Pada tahun 1982 Cynthia tiba di Bali sebagai tujuan akhir liburannya. Namun,
seiring berjalannya waktu, dia memulai bisnis perhiasan kecil-kecilan di Bali. Saat John Hardy
dan Cynthia ditakdirkan untuk bertemu dan kemudian jadilah pasangan suami istri yang dapat

dikatakan sebagai kolaborasi yang professional dan memiliki pemikiran yang logis mengenai
analisa budaya masyarakat Bali yang menggunakan Bambu.
Salah satu kunci keberhasilan mereka adalah menciptakan Green School itu sendiri
dengan menggunakan konsep bahan utama yaitu Bambu. Penggunaan Bambu ini juga
merupakan cerminan sikap mereka yang menghormati budaya masyarakat Bali. Visi hidup John
dan Cynthia sendiri adalah berusaha untuk berbagi dengan orang lain dan memberikan
pendidikan yang layak untuk anak-anak mereka, dan Green School merupakan realisasi dari visi
tersebut.
"Kami sedang membangun Sekolah Hijau untuk menciptakan sebuah paradigma baru
untuk belajar. Kami ingin anak-anak untuk menumbuhkan kepekaan fisik yang akan
memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Kami ingin anak-anak untuk
mengembangkan kesadaran spiritual dan intuisi emosional mereka. Kalimat tersebut merupakan
kutipan dari keinginan mereka untuk menciptakan suatu karya dalam hal pendidikan, akhirnya
terciptalah Green School sebagai wujud dari visi mereka.
Norviana, Syahida, Sejarah dan Pendiri Green School, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Gajah Mada, Yogyakarta. (www.academia.edu)
Design With Nature
Active Landscape
Active Landscape dapat dikatakan sebagai cara memberlalukan lahan agar memberikan
dukungan untuk keberlangsungan bangunan dan penghuni di dalamnya.
Self Design
Self Design suatu tindakan atau perilaku manusia yang sadar/perduli terhadap lingkungan
sekitar. Dalam merancang sebuah desain tidak hanya memperhatikan estetika desain itu, akan
tetapi juga memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkan oleh rancangan desain tersebut.
Eco Tone
Eco Tone merupakan pertemuan yang baik antara dua atau lebih karakter yang berbeda. Karakter
yang dimaksudkan adalah lingkungan itu sendiri yang dapat berarti hutan, kebun, sawah, sungai,

sungai, danau dan sebagainya. Penerapan prinsip eco tone pada bangunan dapat dilakukan
dengan upaya menggunakan karakter-karakter tersebut sebagai penunjang dalam kebutuhan
hidup.
Biodiversity
Biodiversity adalah prinsip bagaimana manusia menjaga keragaman alam. Alam menyediakan
sumber daya yang dapat digunakan untuk keberlangsungan hidup manusia. Untuk itu menjaga
dan melestarikan alam sangat penting karena alam akan memberikan timbal-baliknya terhadap
manusia itu sendiri. Keragaman tersebut meliputi tumbuhan, pepohonan, hewan dan lain-lain.