Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Transfer embrio (TE) merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi
setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi ini memiliki kelebihan dari ilmu reproduksi
lainnya seperti IB. merunut sejarah yang ada embrio transfer ini dilakukan pada
sekitar tahun 1890 oleh seorang yang bernama Walter Heap yang menggunakan
kelinci sebagai obyeknya.. transfer embrio (TE) di Indonesia ini sudah ada sekitar
tahun 1980 an yang diawali dengan pemaparan oleh seorang berkebangsaan Amerika
di Balai Penelitian Ternak di Ciawi Bogor.
B. Rumusan Masalah
Rumusan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Transfer Embrio.
2. Apa saja prosedur dalam transfer Embrio
3. Apa saja manfaat dari Transfer Embrio

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian

Transfer Embrio merupakan suatu teknik yang dikenal juga dengan


genetic manipulation. Keuntungan praktis dari transfer embrio adalah untuk
meningkatkan kapasitas reproduksi ternak (Arum,dkk. 2013).
Transfer embrio adalah suatu teknik dimana embrio (fertilized ova)
dikoleksi dari alat kelamin ternak betina menjelang nidasi dan ditransplantasikan
ke dalam saluran reproduksi betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga
sempurnah, seperti konsepsi, implantasi/nidasi dan kelahiran.
Produksi embrio dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro. Dalam teknik in
vivo, hewan betina donor akan menjalani superovulasi, yakni penyuntikan
hormone gonadotropin (FSH, PMSG/CG atau HMG) guna melipat gandakan
produksi sel telur. Sel-sel telur yang diovulasikan tersebut, setelah mengalami
pembuahan dan berkembang menjadi embrio ditampung atau dikoleksi untuk
kemudian ditransfer pada betina resipien (Arum,dkk. 2013).

B. Prosedur Transfer Embrio


1. Seleksi Hewan Donor dan Resepien
Seleksi sapi betina donor untuk transfer embrio harus mempertimbangkan
faktor-faktor ekonomis dan genetic yaitu mempunyai produktivitas yang
tinggi, sehat, mempunyai siklus birahi yang regular mulai pubertas. Angka

servis tiap konsepsi tidak lebih dari 2. Mempunyai kinerja yang baik, dan
tidak pernah mengalami kesulitan melahirkan maupun gangguan
reproduksi yang lainnya. Sedangkan syarat hewan resepien adalah sapi
muda yang bebas penyakit, kinerja yang bagus, dan proses kelahiran
sebelumnya mudah. Kandidat resepien perlu diperiksa dengan cermat
kondisi kesehatan tubuh maupun status reproduksinya (Lestari and
Schlote. 2005).
2. Superovulasi Hewan Donor
Superovulasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan ova
lebih

banyak

dibandingkan

dengan

keadaan

normalnya

dengan

memberikan hormone dari luar.


Superovulasi memerlukan sediaan gonadotropin yang kaya akan atau
meniru efek FSH (follicle stimulating hormone). Disamping itu FSH harus
ada dalam periode yang cukup untuk memacu pertumbuhan dan
pematangan akhir folikel. Sediaan FSH, PMSG (Pregnant mares serum
gonadotropin) dan HCG (human chorionic gonadotropin) merupakan agen
gonadotropin

yang

lazim

digunakan

untuk

superovulasi.

Hasil

superovulasi meliputi jumlah embrio dan kualitas embrio sangat


bervariasi. Preparat gonadotropin dapat diberikan pada fase luteal yaitu
hari ke-8 sampai 12 siklus birahi yang diikuti dengan pemberian preparat
prostaglandin F2-alfa (PGF2-alfa) untuk melisiskan corpus luteumnya;
pada fase proestrus yaitu hari ke-16 sampai 20 siklus birahi tanpa diikuti
dengan pemberian PGF2-alfa. Jika superovulasi menggunakan PMSG
maka PGF2-Alfa diberikan 48 jam setelah menyuntikkan PMSG, namun
jika menggunakan FSH, maka PGF2-Alfa diberikan pada hari ke-3 atau
bersamaan dengan pemberian FSH yang ke-5. PMSG lebih banyak
digunakan karena dapat diperoleh dengan mudah dan lebih murah
dibandingkan dengan FSH-P. Pregnant mares serum gonadotropin
merupakan glikoprotein komplek yang mempunyai aktivitas biologi
seperti FSH dan LH; dimana aktivitas FSHnya lebih besar. PMSG
mengandung asam sialat 10,8% yang berfungsi mencegah degradasi
glikoprotein hormone oleh hati (Arum,dkk. 2013).
3. Sinkronisasi Birahi
Sinkronisasi birahi adalah suatu usaha yang

dilakukan

untuk

mengendalikan siklus birahi sekelompok hewan betina sehingga birahi

terjadi dalam waktu yang bersamaan atau paling tidak dalam waktu 2 atau
3 hari. Dalam program TE teknik sinkronisasi birahi dapat dipakai untuk
menyeragamkan stadium siklus birahi antara hewan donor dan hewan
resipien. Pemindahan embrio dapat dilaksanakan dengan berhasil ke dalam
uterus hewan resipien jika stadium siklus birahinya bersamaan dengan
keadaan uterus hewan donor. Sinkronisasi perlu dilakukan setelah
perlakuan superovulasi agar waktu ovulasi terjadi dalam waktu bersamaan.
Untuk keperluan ini perlu adanya induksi luteolisis dengan agen luteolitik.
Agen luteolitik yang sudah teruji manfaatnya adalah PGF2-Alfa. Birahi
pada sapi yang sudah di superovulasi akan timbul dalam waktu 36-48 jam
setelah pemberian PGF2-Alfa. Untuk perlakuan sinkronisasi birahi betina
resipien perlu diketahui terlebih dahulu siklus birahinya, karena corpus
luteum sapi peka terhadap PGF2-Alfa hari ke-5 sampai 14 siklus birahi.
Jika pada waktu korpus luteum peka diberi perlakuan maka birahi akan
timbul 1-4 hari atau rata-rata 2 hari setelah penyuntikan PGF2-Alfa. Jika
kita belum mengetahui siklus birahi sapi tersebut maka dilakukan
penyuntikan PGF2-Alfa 2 kali dengan interval 10 hari (Adriani ,dkk.
2008).
4. Perkawinan Hewan Donor
Perkawinan hewan donor dapat dilakukan kawin alami atau inseminasi
buatan (IB). Apabila dikawinkan secara IB maka diperlukan dosis ganda
yang aplikasinya satu dosis diberikan 6 jam setelah menunjukkan gejala
5.

birahi dan satu dosis lagi diberikan 6 jam kemudian.


Pemanenan Embrio dari Donor
Koleksi embrio hewan donor dapat dilakukan pada hari ke-6 sampai 8
setelah perkawinan, pada waktu embrio sudah berada pada kornua uteri.
Pemanenan embrio yang sudah pernah dilakukan pada sapi yaitu pada hari
ke-7 setelah perkawinan (Arum,dkk. 2013).
Perlengkapan yang diperlukan untuk pemanenan embrio adalah:
1. Sterio mikroskop
2. Foley cateter
3. Larutan PBS
4. Pipa kaca berbentuk Y
5. Cawan petri
6. Selang dan jarum suntik
Hewan donor dipersiapkan terlebih dahulu dengan jalan disuntik acethyl
promazin dosis 6 mg per ekor.Selanjutnya sapi dimasukkan ke kandang
jepit, daerah sekitar vulva dibersihkan dan diberi desinfektan dan alcohol

70%. Anastesi epidural dilakukan segera sebelum katerisasi, dengan


Lignocaine 2% dosis 4-6 ml. Manfaat anastesi yang diberikan adalah
untuk mengurangi rasa sakit, mencegah pengejanan maupun pengeluaran
kotoran yang mengganggu pelaksanaan pembilasan
Cara Pemanenan:
1. Stilette Cassou Insemination Gun dimasukkan ke dalam kateter supaya
menjadi kaku, selanjutnya kateter diberi pelumas.
2. Dengan palpasi rectal, kateter dimasukkan perlahan-lahan melewati
vagina, cerviks, terus ke kornua uteri sampai 2/3 panjang kornua.
3. Selanjutnya balon kateter diisi udara atau air sebanyak 5 ml, kemudian
stiletto gun ditarik. Pipa kaca berbentuk hurup Y dipasang, dimana ujungujungnya telah terpasang selang penghubung.
4. Larutan PBS dimasukkan tiap-tiap 30-60 ml tergantung besar hewan
sampai menghabiskan 500 ml setiap kornua.
5. Hasil bilasan uterus ditampung dalam beker gelas dan dibiarkan
mengendap selama 30 menit, selanjutnya supernatannya dibuang dan
sisanya dievaluasi di bawah sterio mikroskop.
Evaluasi embrio dilakukan di bawah sterio mikroskop dengan pembesaran
lebih dari 40 kali. Embrio yang didapat harus mempunyai stadia yang
relative sama; yaitu stadium morula (32 sel), morula kompak (blastomer
memadat menjadi masa yang lebih kompak), dan blastosis awal
(mempunyai blastosel). Adanya embrio yang stadium pertumbuhannya
kurang dari 32 sel menunjukkan adanya kelambatan pertumbuhan. Embrio
yang didapat dari media pembilas diambil menggunakan mikropipet,
selanjutnya dimasukkan ke dalam straw mini atau medium bening yang
transparan.
6. Transfer Embrio ke Betina Resipien
Transfer embrio segar maupun beku ke resipien dilakukan pada hari siklus
birahi yang sama dengan umur embrio (karena embrio dipanen pada umur
7 hari) maka siklus birahi resipien yang dapat dipakai adalah 7 1 hari
setelah birahi atau birahi hewan donor dan resipien minimal dalam 24 jam.
Transfer dilakukan langsusng ke kornua uteri kurang lebih 5-10 cm dari
bifurkasio uteri. Resipien yang tidak menunjukkan gejala birahi setelah 3
siklus birahi yang diharapkan dapat dilakukan pemeriksaan kebuntingan
per rectal untuk menentukan berhasil tidaknya program transfer.
Pemeliharaan resipien yang telah bunting sama seperti pemeliharaan-

pemeliharaan pada hewan bunting pada umumnya (Lestari and Schlote.


2005).
C. Manfaat Transfer Embrio
Beberapa manfaat dari teknologi transfer embrio adalah:
1. Untuk meningkatkan populasi ternak unggul. Seekor sapi betina hanya mampu
menghasilkan 7 keturunan selama hidupnya, sedangkan dengan penerapan TE
maka seekor sapi betina mampu menghasilkan 448 keturunan selama hidupnya.
2. Import dan eksport embrio sebagai ganti ternak dewasa sehingga biasanya
menjadi lebih ekonomis. Transfer embrio juga memungkinkan hewan melahirkan
anak dari spesies lain, misalnya kuda melahirkan zebra, domba melahirkan
kambing.
3. Manfaat lainnya adalah memperoleh keturunan dari induk yang kurang fertile,
induk yang dimaksud adalah betina yang menderita oobstruksi tuba falofia yang
bilateral total dan betina yang menderita adesi fimria bilateral total.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Transfer embrio adalah suatu teknik dimana embrio (fertilized ova) dikoleksi
dari alat kelamin ternak betina menjelang nidasi dan ditransplantasikan ke dalam
saluran reproduksi betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga sempurnah,
seperti konsepsi, implantasi/nidasi dan kelahiran.
B. Saran
Saran yang dapat kami sampaikan dalam makalah ini ialah sebelum kita
melakukan Transfer embrio kita perluh memperhatikan tahap-tahap sebelum
melakukan transfer embrio yaitu inuksi super ovulasi, sinkronisasi estrus,
pemanenan

embrio,

klasifikasi

kriopreservasi, transfer Embrio.

embrio,

penyiapan

embrio

dan

kultur,

DAFTAR PUSTAKA
Adriani ,dkk. 2008. Jumlah dan Kualitas Embrio Sapi Brahman Cross Setelah Pemberian
Hormon FSH dan PMSG. Animal Production. 11 (2) ; 96-102
Arum. W.P, dkk. 2013. Efek Pemberian Ekstrak Hipofisa Sapi Terhadap Respon
Superovulasi Sapi Aceh. Jurnal Medika Veterinaria. 7 (2) ; 71-74
Lestari. T.D and Schlote. W. 2005. Embryo Transfer:a Review of Its Techniques and
Application for Breeding Scheme of Dairy Cattle in West Java. Media Kedokteran
Hewan. 21 (2) ; 73-79