Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Arrest of descent adalah terhentinya penurunan bagian terendah lebih dari 1 jam
setelah proses penurunan yang progresif pada saat deselerasi maupun pada kala II.Untuk
menegakkan diagnosis arrest of descent minimal harus dilakukan dua kali pemeriksaan
dalam waktu 1 jam. Evaluasi fetal meliputi penurunan bagian terendah janin, maulase dan
caput. Frekwensi terjadi kira kira pada 5-6% persalinan.(1)
Ada empat peyebab utama arrest of descent yaitu tidak adekuat kontraksi uterus,
malposisi atau malpresentasi, CPD dan regional anestesi. Pada nullipara 50% disebabkan
oleh CPD. Dalam penatalaksanaan langkah pertama setelah menegakkan diagnosa arrest
of descent adalah mencari faktor penyebabnya. Jika penyebabnya CPD maka persalinan
harus diterminasi dengan seksio sesaria. Jika penyebab bukan CPD maka persalinan
pervaginam dapat dilakukan dengan mengoreksi faktor penyebabnya. Pemberian
oksitosin diindikasikan bila his tidak adekuat, bila ketuban masih ada maka dipecahkan.
Persalinan dapat dibantu dengan menggunakan forcep atau vakum ekstraksi.(1,2)
Berikut ini akan diajukan suatu kasus pada waktu masuk rumah sakit dengan
diagnosa G3 P2 A0 H2 parturient aterm kala I fase aktif. Anak hidup tunggal intra uterin
letak kepala UUK kiri melintang HII-III. Setelah pembukaan lengkap posisi kepala masih
tetap seperti pada saat masuk yaitu letak kepala UUK kiri melintang HII-III. Kemudian
dilkukan SCTPP lahir anak perempuan, berat badan 2652 gram, panjang badan 49 cm,
dan

A/S: 8/9

BAB II
LAPORAN KASUS
A. ILUSTRASI KASUS
Identitas Pasien
Nama

: Asnah

Nama suami : Suherman

Umur

: 38 thn

Umur

: 40 thn

Pendidikan

: SLTP

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Ibu RT

Pekerjaan

: Buruh

Alamat

: Padang baru timur

Nomor MR

: 386131

ANAMNESA
Seorang pasien wanita umur 38 tahun masuk KB IGD RSUP Dr. M. Djamil
Padang tanggal 18 September 2004 jam 10.50 Wib dengan keluhan nyeri pinggang
menjalar ke ari-ari sejak 5 jam yll
Riwayat Penyakit Sekarang :

Nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari sejak 5 jam yang lalu, makin lama makin
kuat dan bertambah sering.

Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan sejak 5 jam yang lalu.

Keluar air-air yang banyak dari kemaluan tidak ada.

Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada.

Tidak haid sejak 9 bulan yang lalu.

HPHT : lupa

Gerak anak dirasakan sejak 5 bulan yang lalu.

Riwayat hamil muda : mual (+), muntah (-), perdarahan (-).

Prenatal care

: ke bidan

Riwayat hamil tua

: mual (-), muntah (-), perdarahan (-)

TP : sulit ditentukan

Riwayat menstruasi

: menarche umur 13 tahun, siklus teratur 128 hari,

lamanya 4-6 hari, jumlah 2-3 ganti duk/hari, nyeri haid (-).
Riwayat penyakit dahulu :
Tidak ada riwayat penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM dan hipertensi.
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada riwayat keluarga yang menderita penyakit keturunan, menular dan kejiwaan.
Riwayat perkawinan: 1 tahun 1990
Riwayat kehamilan / abortus/ persalinan : 3 / 0 / 2
1. 1991, Laki-laki, 2500 gram, aterm, spontan, bidan, hidup
2. 1998, perempuan, 2600 gram, aterm, spontan, bidan, hidup
3. Sekarang
Riwayat kontrasepsi : Suntik 1X/bulan th 1991-1997
Riwayat Imunisasi

: -.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah

: 120 / 70 mmHg

Frekuensi nadi

: 84 /menit

Frekuensi nafas

: 20 /menit

Suhu

: 370C

Tinggi badan

: 150 cm

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Leher

: JVP 5-2 cm H2O, KGB tidak membesar

Thorak

: Jantung dalam batas normal

Berat badan

: 60 kg

Paru dalam batas normal


Abdomen

: Status obstetrikus

Genitalia

: Status obstetrikus

Ekstremitas

: edem -/-, RF + / +, RP-/-

STATUS OBSTETRIKUS
Muka

: chloasma gravidarum (+)

Mammae

: membesar, areola dan papilla


hiperpigmentasi, kolostrum (+)

Abdomen :
Inspeksi

: Tampak membuncit sesuai usia kehamilan aterm, linea mediana


hiperpigmentasi, striae gravidarum(+), sikatrik (-)

Palpasi : L I

: Teraba fundus uteri 3 jari di bawah prosesus xiphoideus


Teraba massa besar, lunak dan noduler

L II

: Tahanan terbesar dikiri


Bagian kecil janin di kanan

L III

:Teraba massa bulat, keras, terfiksir

L IV : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP


TFU

: 31 cm

TBA

: 2790 gram

His :4-5/ 40/ K


Auskultasi : BJA 12-11-12 teratur
Genitalia

: Inspeksi : v/u tenang


VT

: pembukaan 3 - 4 cm
Ketuban (+)
Teraba kepala UUK kiri melintang HII-III

UPD

: promontorium sulit dinilai


: linea inominata sulit dinilai
: sakrum cekung
: dinding samping panggul lurus
: spina ischiadica tidak menonjol
: os. Coccygeus mudah digerakkan
4

: arcus pubis > 900


UPL

: DIT dapat dilalui 1 tinju dewasa

Kesan : Panggul luas


Hasil laboratarorium:

Hb

: 11,7 gr%

Leukosit

:10700/mm

Hematokrit: 38 %
Trombosit : 251000 /mm
CT

: 4 menit 20 detik

BT

: 2,5 menit

DIAGNOSIS :
G3 P2 A0 H2 parturient aterm kala I fase aktif
Anak hidup tunggal intra uterin letak kepala UUK kiri melintang HII-III
SIKAP :
Nilai 2 jam lagi (jam 12.50 wib)
Kontrol KU,VS, His, BJA, Lingkaran Bandl, KDL
Tidur miring kiri
RENCANA

: Partus pervaginam

Jam 12.50
Anamnese
Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari makin sering dan makin kuat
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum

: sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah

: 120 / 70 mmHg

Frekuensi nadi

: 88 /menit

Frekuensi nafas

: 22 /menit

10 Suhu
His

: 370C
: 3-4/ 45/ Kuat

Genitalia

: Inspeksi : v/u tenang


VT

: pembukaan 7-8 cm
Ketuban (+)
Teraba kepala UUK kiri melintang HII-III

DIAGNOSIS :
G3 P2 A0 H2 parturient aterm kala I fase aktif
Anak hidup tunggal intra uterin letak kepala UUK kiri melintang HII-III
SIKAP :
Nilai 2 jam lagi (jam 12.50 wib)
Kontrol KU,VS, His, BJA, Lingkaran Bandl, KDL
Tidur miring kiri
RENCANA

: Partus pervaginam

Jam 13.50
Anamnese
Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari makin sering dan makin kuat, ketuban pecah spontan
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum

: sedang

11 Kesadaran

: komposmentis kooperatif

12 Tekanan darah

: 120 / 80 mmHg

13 Frekuensi nadi

: 88 /menit

14 Frekuensi nafas

: 22 /menit

15 Suhu

: 370C

His

: 2-3/ 50/ Kuat

Genitalia

: Inspeksi : v/u tenang


VT

: pembukaan lengkap
Ketuban (-), sisa jernih
Teraba kepala UUK kiri melintang HII-III

DIAGNOSIS :
G3 P2 A0 H2 parturient aterm + kala II + arrest of descent
Anak hidup tunggal intra uterin letak kepala UUK kiri melintang HII-III

SIKAP :
Siapkan SC
Kontrol KU,VS, His, BJA, Lingkaran Bandl, KDL
RENCANA

: SC

Jam 14.15 wib


Dilakukan SCTPP
Lahir seorang bayi perempuan :
BB

: 2652 gram

PB

: 49 cm

A/S

: 8/9

Tampak caput suksedenium dekat ubun ubun besar sebesar telor ayam kampung.
Plasenta tertanam di corpus belakang, dilahirkan dengan tarikan ringan pada tali
pusat, lahir lengkap jumlah satu buah,

Ukuran 17172,5 cm, berat 400

gram, Insersi para sentral, panjang tali pusat 60 cm, Perdarahan selama persalinan
lebih kurang 350 cc
Diagnosis : Para 3 hidup 3 post SCTPP ai arrest of descent
Ibu dan anak baik
Sikap

: Awasi pasca tindakan

BAB III
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Persalinan merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus ke dunia luar. (3)
Persalinan dibagi 4 kala yaitu: (3,4)
Kala I terdiri dari 2 fase
1. Fase laten yang berlangsung selama 8 jam dengan pembukaan berjalan lambat
sampai pembukaan servik mencapai ukuran 3 cm
2. Fase aktif yang berlangsung selama 6 jam mulai pembukaan 3 sampai pembukaan
lengkap. Fase ini dibagi menjadi fase akselerasi mulai pembukaan 3 cm menjadi
4cm, fase dilatasi maksimal mulai pembukaan 4 cm menjadi 9 cm dan fase
deselerasi dari pembukaan 9 cm menjadi 10 cm, masing-masing fase
membutuhkan waktu 2 jam.
Kala II
Kala II mulai dari pembukaan lenkap sampai lahirnya janin. Batasan waktu yang masih
dianggap normal dalam memimpin persalinan pada kala II adalah primipara 2 jam dan
multipara 1 jam.
Kala III
Dimulai setelah kelahiran bayi dan berakhir ketika plasenta lahir
Kala IV
Ditandai sebagai periode 1 jam setelah plasenta lahir
Mekanisme Persalinan Normal (3,5,6)
Caradinal movements dalam persalinan terdiri dari engagement, turunnnya
kepala, fleksi, putar paksi dalam, ekstensi, putar paksi luar, ekspulsi.
1. Engagement

Yaitu masuknya diameter terbesar dari bagian terbawah janin kedalam pintu atas
panggul. Pada primipara kepala masuk pintu atas panggul pada bulan terakhir kehamilan
sedangkan pada multipara kepala masuk pintu atas panggul pada awal persalinan. Pada
umumnya engagement terjadi dengan sutura sagitalis ada pada diameter transversa pintu
atas panggul. Apabila diameter kepala janin sejajar dengan pintu bidang atas panggul
maka kepala dalam posisi sinklitismus yaitu sutura sagitalis berada ditengah tengah jalan
lahir diantara simpisis dan promontorium. Tetapi bila sutura sagitalis lebih dekat ke
simpisis atau ke promontorium disebut asinklitismus. Posisi sutura sagitalis lebih dekat
ke simpisis daripada promontorium, kepala mendekati panggul os parietal belakang lebih
rendah daripada os parietal depan disebut asinklitismus posterior. Bila sutura sagitalis
lebih dekat ke promontorium dan os parietal depan lebih dulu masuk pinti atas panggul
dinamakan asinklismus anterior.
2. Turunnya kepala
Setelah terjadi engagement kepala semakin turun ke bawah atau semakin maju. Majunya
kepala ini disebabkan oleh
a. Tekanan cairan amnion
b. Tekanan langsung fundus pada bokong
c. Tenaga mengedan pada otot otot abdomen
d. Ektensi dan pelulusan badan janin
3. Fleksi
Pada saat turunnya kepala menemukan tahanan dari servik, dinding panggul dan
dasar panggul sehingga terjadi fleksi. Akibat sumbu kepala janin yang eksentrik atau
tidak simetris dengan sumbu lebih mendekati suboksiput, maka tahanan oleh jaringan
dibawahnya pada kepala mengakibatkan fleksi dalam rongga panggul sesuai dengan
hukum kopel.
4. Putaran paksi dalam
Yang dimaksud dengan putaran paksi dalam ialah putaran dari bagian depan
sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari janin memutar ke depan ke bawah
simpisis. Pada presentasi belakang kepala bagian terendah adalah ubun-ubun kecil dan
bagian inilah yang memutar ke depan ke bawah simpisis.

Putaran paksi dalam mutlak perlu untuk kelahiran kepala karena putaran paksi
dalam merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan
lahir khususnya bentuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam
tidak terjadi sendirinya tetapi bersamaan dengan majunya kepala dan tidak terjadi
sebelum kepala sampai HIII
5. Ekstensi
Ekstensi kepala terjadi setelah putaran paksi dalam selesai dan kepala sampai di
dasar panggul. Ekstensi terjadi karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul
mengarah ke depan dan ke atas dengan sub oksiput sebagai hipomoklion.
6. Putaran paksi luar
Setelah kepala lahir, kepala anak memutar kembali ke arah punggung untuk
menghilangkan torsi karena putaran paksi dalam. Putaran ini terjadi karena bahu dengan
diameter biakromialnya menempatkan diri dengan diameter anteroposterior dari pintu
bawah panggul.
7. Ekspulsi
Apabila kepala telah lahir maka bahu akan berada dalam posisi depan belakang.
Selanjutnya dilahirkan bahu depan terlebih dahulu baru kemudian bahu belakang.
Demikian pula dilahirkan trokanter depan terlebih dahulu kemudian trokanter belakang.
Kemudian bayi lahir seluruhnya.
Sikap defleksi
Pada persalinan normal kepala janin melewati jalan lahir dalam keadaan fleksi
maksimal. Dalam keadaan tertentu fleksi tersebut tidak terjadi sehingga kepala dalam
keadaan defleksi . bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi
puncak kepala, pressentasi dahi atau presentasi muka. Presentasi puncak kepala bila
defleksi kepala ringan sehingga ubun ubun besar merupakan bagian terendah. Presentasi
dahi bila derajat defleksinya berat, sehingga dahi merupakan bagian terendah. Presentasi
muka bila derajat defleksinya maksimal sehingga muka merupakan bagian terendah. (7,8)
Penyebab defleksi secara umum adalah adanya faktor faktor yang menghambat
terjadi fleksi seperti adanya massa di leher atau lilitan tali pusat di leher. (9)

10

Ukuran ukuran kepala bayi: (10)


1. Diameter suboksippito-bregmatikus ( 9,50 cm) jika kepala janin dilahirkan dalam
presentasi belakang kepala
2. Diameter oksipito-frontalis ( 11,75 cm) bila kepala janin dilahirkan dalam presentasi
puncak kepala
3. Diameter oksipito mentalis ( 13,50 cm) bila kepala janin dilahirkan dalam presentasi
dahi
4. Diameter submento-bregmatikus ( 9,50 cm) bila kepala lahir dalam presentasi muka.
5. Diameter biparietal ( 9,50 cm ) ukuran antara tuber ossis parietalis kiri dan kanan
6. Diameter bitemporalis ( 8 cm ) ukuran antara os temporalis kiri dan kanan
7. sirkumferensia suboksipito-bregmatika ( 32 cm)
8. Sirkumferensia submento-bregmatika ( 32 cm)
9. Sirkumferensia oksipito-frontalis ( 34 cm)
10. Sirkumferensia mento-oksipitalis ( 35 cm )
ABNORMAL LABOR
Abnormal labor dapat didiagnosa dengan melihat adanya penyimpangan yang
abnormal dari kurve pembukaan servik dan penurunan kepala dari friedman. (1,2)
Ada 4 penyebab yang dapat menyebabkan persalinan sulit. (2,11)
1. Kelainan his baik kekuatan maupun inkoordinatnya
2. Kelainan tulang tulang jalan lahir sehingga dapat menyebabkan panggul sempit
3. Kelainan posisi, presentasi atau bentuk janin
4. Kelainan pada jaringan lunak jalan lahir.
Penyebab ini dapat terjadi sendiri-sendiri atau bersamaan.
Kelainan pada fase aktif dan kala II (1,2,12)
Menurut ACOG mengklasifikasikan kelainan persalinan kepada lambatnya
persalinan dari normal (protraction disorder) atau berhenti secara total kemajuan
persalinan ( arrest disorder). Menurut Handa dan Laros fase aktif yang berhenti ini sekitar
5% dari seluruh nullipara, yang menarik insiden ini tidak berubah dari tahun 1950. Tidak

11

adekuat kontraksi uterus yaitu kurang dari 180 montevidio didiagnosa pada 80% fase
aktif arrest.
Analisis Friedman tentang persalinan yang sulit pada fase aktif adalah mengenai
turunnya kepala dan pembukaan servik. Sebagian besar penurunan kepala terjadi pada
fase aktif persalinan terutama pada pembukan 7-8 cm dan menjadi lebih cepat setelah
pembukaan 8 cm. Masaalah pada fase aktif ini dibagi menjadi protraction dan arrest
disorder.
Dia mendifinisikan protraction sebagai kelambatan dalam pembukaan servik atau
penurunan kepala, yaitu pada multipara pembukaan yang kurang dari 1,2 cm / jam atau
penurunan kepala kurang dari 2 cm per jam. Arrest didefiniskan sebagai berhentinya
dilatasi atau penurunan kepala. Arrest of dilataion di definisikan sebagai 2 jam tanpa
perubahan pada servik dan arrest of descent didefinisikan sebagai 1 jam tanpa penurunan
bagian terbawah janin.
Arrest of Descent
Definisi
Arrest of descent adalah terhentinya penurunan bagian terendah lebih dari 1 jam
setelah proses penurunan yang progresif pada deselerasi maupun pada kala II. (1)
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis arrest of descent minimal harus dilakukan dua kali
pemeriksaan dalam waktu 1 jam. Evaluasi fetal meliputi penurunan, maulase dan caput.
(1,2)

Frekwensi
Arrest of descent terjadi kira kira pada 5-6% persalinan. (1)
Etiologi
Ada empat peyebab utama arrest of descent yaitu tidak adekuat kontraksi uterus,
malposisi atau malpresetasi, CPD dan regional anestesi. Pada nullipara 50% disebabkan
oleh CPD. (1,.2,12)

12

Penatalaksanaan
Langkah pertama setelah menegakkan diagnosa arrest of descent adalah mencari
faktor penyebabnya. Jika penyebabnya CPD maka persalinan harus diterminasi dengan
seksio sesaria. Jika penyebab bukan CPD maka persalinan pervaginam dapat dilakukan
dengan mengkoreksi faktor penyebabnmya. Pemberian oksitosin diindikasikan bila his
tidak adekuat, bila ketuban masih ada maka dipecahkan. (1,2,12)
Ekstraksi Vakum (13)
Ekstraksi vakum adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan
ekstraksi tenaga negatif pada kepalanya.
Indikasi ekstraksi vakum
1. untuk memperpendek kala II
a. Penyakit jantung kompensata
b. Penyakit paru-paru fibrotik
2. Indikasi waktu
Indikasi kontra
Ibu
1. Ruptura uteri membakat
2. Pada penyakit-penyakit ibu secara mutlak tidak boleh mengejan misalnya payah
jantung, preeklamsia berat
Janin
1. Letak muka
2. After coming head
3. Janin pretem
Syarat vakum ekstraksi
1. syarat ekraksi vakum hampir sama dengan syarat ekstraksi cunam, hanya pada
ekstraksi vakum lebih luas, yaitu;

13

pembukaan lebih dari 7 cm pada multigravida

Penurunan kepala janin boleh pada HII

2. Harus ada kontraksi rahim dan tenaga mengejan

Keunggulan ekstraksi vakum dibandingkan dengan ekstraksi cunam


1. Pemasangan lebih mudah
2. Mangkuk tidak menambah besar ukuran kepala yang harus melalui jalan lahir
3. Ekstraksi vakum dapat dipakai pada kepala yang masih tinggi dan pembukaan
servik belum lengkap
4. Trauma pada kepala janin lebih ringan

14

BAB IV
DISKUSI
Telah diajukan suatu kasus pada waktu masuk rumah sakit dengan diagnosa G3
P2 A0 H2 parturient aterm kala I fase aktif. Anak hidup tunggal intra uterin letak kepala
UUK kiri melintang HII-III.
Permasalahan pada pasien ini adalah:
1. Apakah penyebab tidak turunnya kepala pada kasus ini?
2. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?
Ad 1. Penyebab tidak turunnya kepala pada kasus ini
Pasien masuk RSMJ pada kala I fase aktif, pembukaan 3-4 cm dengan anak hidup
tunggal intra uterin letak kepala UUK kiri melintang HII-III. Setelah ditunggu dua jam
yaitu pada jam 13.50 pembukaan menjadi 7-8 cm posisi anak masih tetap yaitu UUK kiri
melintang HII-III. Pada jam 13.50 pembukaan menjadi lengkap namun posisi anak masih
tetap yaitu UUK kiri melintang HII-III.
Dari data yang ada didapatkan his yang adekuat, kemungkinan CPD dapat
disingkirkan karena pernah melahirkan anak sebelumnya dengan berat yang hampir sama
dan tidak didapatkan kelainan pada janin. Kemungkinan penyebab pada kasus ini adalah
malpersentasi dimana pada saat kepala turun tidak terjadi fleksi kepala sehingga kepala
turun dalam ruang panggul dengan diameter dan sirkumferensia yang lebih besar. Hal ini
dibuktikan dengan ditemukan kaput yang lebih mendekati UUB setelah bayi lahir. (7,8)
Ad 2. Penatalaksanaan pada kasus ini
Setelah pembukaan lengkap sebaiknya pada pasien ini diambil sikap untuk
menunggu selama 1 jam karena tidak adanya fetal distres ataupun hal-hal yang

15

mengindikasikan untuk pengakhiran segera persalinan. Dengan menilai secara ketat


keadaan bayi, ibu dan his sehingga diharapkan kepala bisa turun. Bila dijumpai kelainan
pada his dapat diberikan oksitosin. Pada pasien ini masih ada tempat untuk dilakukan
vakum ekstraksi bila setelah ditunggu 1 jam, bayi belum lahir. Hal ini didasarkan besar
anak pada persalinan sebelumnya 2600 gram sehingga kemungkinan CPD dapat
disingkirkan. Menurut kepustakaan vakum boleh dilakukan pada HII-III. (3,13)

16

BAB V
KESIMPULAN
1.

Penyebab tidak turunnya kepala pada pasien ini kemungkinan tidak


fleksinya kepala pada saat turun

2.

Penatalaksanaan pasien ini seharusnya ditunggu selama 1 jam setelah pembukaan


lengkap, tidak langsung diterminasi

17

DAFTAR PUSTAKA
1.

Arias F. Abnormal Labor and Delivery. In: Practical Guide to HighRisk Pregnancy and Delivery. Mosby Year Book Inc: 385-412

2.

Cuningham

FG,et

al.

Abnormal

Labor

and

Fetopelvic

Disproportion. In: Williams Obstetrics. 21st ed. McGraw Hill


Medical Publishing Devision. New York. 2001. 425-450
3. Wiknjosastro H. Fisiologi dan Mekanisme Persalinan Normal.
Dalam Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo. Jakarta. 1999: 180-191.
4.

Saifuddin AB. Persalinan Normal dalam Buku Acuan Nasional


Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. JNPKKR-POGI
bekerjasama

dengan

Yayasan

Bina

Pustaka

Sarwono

Prawirohardjo. Jakarta. 2002: 100-121.


5.

Cuningham FG,et al. Mechanisms of Normal Labor. In: Williams


Obstetrics. 21st ed. McGraw Hill Medical Publishing Devision. New
York. 2001. 291-307.

6.

Miller AWF, et al. J.M.F. Diagnosis dan Penatalaksanaan Diabetes


Melitus Gestasional. Obstetrics Illustrated. 5th edition. Churchill
Livingstone Inc. 1997: 228-244.

7. Seeds JW, Walsh M. Malpresentation. In: Obstetrics Normal and


Problem Pregnancies. 3th Edition. Churchill Livingstone Inc. 1996:
469-495.

18

8. Martohoesodo S, Hariadi R. Distosia Karena Kelainan Letak dan


Bentuk Janin. Dalam Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta. 1999: 595-636.
9. Cuningham

FG,et

al.

Abnormal

Presentation,

Position,

and

Devolopment of Fetus. In: Williams Obstetrics. 21 st ed. McGraw Hill


Medical Publishing Devision. New York. 2001. 2451-479.
10. Wiknjosastro H. Janin Dalam Akhir Kehamilan. Dalam Ilmu
Kebidanan. Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Jakarta. 1999: 116-130.
11. Kochenour

NK.

Physiology

of

Normal

Labor

and

Delivery.

Departemen of Obgyn U of U College of Medicine.1997 : 1-8


12. Obrien WF, Cefalo RC. Labor and Delivery. In: Obstetrics Normal
and Problem Pregnancies. 3th Edition. Churchill Livingstone Inc.
1996: 371-396.
13. Setjalilakusuma

L.

Ekstraksi

Vakum

dalam

Buku

Bedah

Kebidanan. EdisiPertama Cetakan Kelima Yayasan Bina Pustaka.


Jakarta. 2000:80-87.

19