Anda di halaman 1dari 91

TUGAS

MANAJEMEN KESEHATAN ANJING DAN KUCING


PENYAKIT INFECTIOUS DAN NON-INFECTIOUS PADA ANJING DAN KUCING

OLEH :
YUNITA AMELIA NOPE
(1309012024)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

A. Penyakit Pada Anjing

1. Canine Distemper
Canine Distemper merupakan penyakit akut hingga subakut pada
hewan, menyerang saluran pencernaan, pernapasan dan sistem
saraf pusat. Agen penyababnya adalah

Virus canine distemper,

Virus ini dapat ditransmisikan melalui aerosol (udara), dimana


droplets tersebut berasal dari napas atau sekresi nasal hewan
penderita distemper.
Patogenesis :
Virus distemper dapat menyebar melalui udara dan paparan
terhadap droplet. Perkembangan virus ini dalam tubuh sangat
tergantung dari kondisi hewan yang terinfeksi. Bila hewan telah
memiliki kekebalan, maka hewan tersebut akan menjadi subklinis
dan sel yang telah terinfeksi akan lisis atau terjadi neutralisasi virus.
Bila respon imun gagal maka anjing yang terinfeksi akan mati
dalam 2-4 minggu pasca infeksi Virus canine distemper.
Jika respon imun hewan masih mampu melawan virus virus akan
bertahan lama dan menyabar lebih dalam tubuh melalui jaringan
limfatik

(viremia)

traktus

respiratorius,gastrointestina,urogenital,dan saraf pusat 6 hari post


infeksi hewan akan mengalami leleran dari hidung, depersi, dan
anoreksia infeksi berlanjut dan kadang dapat diikuti dengan
infeksi bakteri.
Pengobatan: Antibiotik , terapi cairan suportif termasuk cairan
intravena

untuk

mengoreksi

dehidrasi,

obat-obatan

untuk

mencegah muntah dan diare dan antikonvulsan dan obat penenang


untuk mengontrol kejang.
Pencegahan: Vaksinasi
melindungi.

terhadap

distemper

hampir

100%

Semua anak-anak anjing harus divaksinasi usia 8

minggu. Anjing betina yang hamil harus diberikan DHPP (distemper,


hepatitis, parvovirus, parainfluenza dan kombinasi) suntikan booster
dua sampai empat minggu sebelum melahirkan.
2. Parvovirus Canine
Parvovirus merupakan virus DNA rantai tunggal, berukuran kecil,
dan tidak berkapsul. Parvovirus yang menyerang anjing adalah
Canine Parvovirus tipe 2 (CPV-2). CPV-2 berkerabat dekat dengan
panleukopenia virus (FPV) dan mink enteritis virus (MEV). CPV-2
bereplikasi pada sel-sel usus, sistem limfoid, sumsum tulang dan
jaringan fetus. Efek yang ditimbulkan oleh CPV pada jaringan
tersebut umumnya parah.

Patogensis : Patogenesis infeksi parvovirus anjing di anjing mirip


dengan infeksi virus panleukopenia kucing di kucing, tetapi tidak
adanya cerebellar hypoplasia / atrofi dan terjadinya miokarditis di
anak anjing yang membedakan penyakit ini. Infeksi parvovirus
miokardium dapat terjadi karena proliferasi cepat dari miosit yang
terjadi pada minggu pertama setelah lahir. Infeksi menyebabkan
nekrosis miokard dan peradangan pada anakan yang terkena
dampak, yang pada gilirannya menghasilkan edema paru dan / atau
kemacetan hati dari gagal jantung akut. hipertrofi eksentrik (dilated
cardiomyopathy) terjadi pada anak anjing yang bertahan untuk
beberapa waktu, dengan terkait miokarditis limfositik dan fibrosis
miokard. infeksi parvovirus anjing mengakibatkan infeksi sistemik
entri berikut oropharyngeal virus (analog dengan kucing infeksi
virus panleukopenia). lesi usus pada anjing yang terkena akibat dari
infeksi dan penghancuran enterosit mengisi diabadikan usus,
dengan runtuhnya mukosa berikutnya, pencernaan dan malabsorpsi
diare. Perdarahan dapat terjadi pada organ lain, dan perdarahan
pada

sistem

saraf

pusat

dapat

menyebabkan

tanda-tanda

neurologis, misalnya. jaringan limfoid juga terpengaruh, dengan


kehancuran

yang

luas

dari

limfosit,

dan

imunosupresi

yang

dihasilkan dapat menyebabkan rentan terhadap infeksi sekunder.


Pengobatan: Anjing dengan penyakit ini memerlukan manajemen
hewan intensif. Dalam semua tetapi kasus yang paling ringan, rawat
inap

sangat

penting

untuk

memperbaiki

ketidakseimbangan

elektrolit dan dehidrasi. Cairan infus dan obat-obatan untuk


mengontrol muntah dan diare sering diperlukan. Kasus yang lebih
parah mungkin memerlukan transfusi darah dan perawatan intensif
lainnya.
Anak anjing dan anjing tidak boleh makan atau minum sampai
muntah berhenti diperlukan dukungan cairan selama waktu itu.
Antibiotik yang diresepkan 3 5 hari untuk mencegah komplikasi
bakteri

septikemia

dan

lainnya,

yang

merupakan

penyebab

kematian biasa. Hasilnya tergantung pada virulensi dari strain


spesifik parvovirus, usia dan status kekebalan anjing, dan seberapa
cepat pengobatan dimulai. Kebanyakan anak anjing yang berada di
bawah perawatan hewan baik sembuh tanpa komplikasi.

Pencegahan: Sterilkan tempat dari hewan yang terinfeksi. Parvo


merupakan virus yang sangat kuat yang tahan pembersih rumah
tangga dan yang paling bertahan di tempat selama berbulan-bulan.
Disinfektan yang paling efektif adalah pemutih rumah tangga dalam
pengenceran 1:32. Pemutih harus dibiarkan pada permukaan yang
terkontaminasi selama 20 menit sebelum dibilas.
Vaksinasi

dimulai dengan usia 8 minggu, akan mencegah sebagian besar


(tetapi tidak semua) kasus infeksi parvovirus. Selama mingguminggu pertama kehidupan, anak anjing dilindungi oleh antibodi
ibu.

Dari 2 - 4 minggu anak-anak anjing rentan terhadap infeksi

karena vaksinasi belum sepenuhnya berefek. Anjing antara 6 dan


20 minggu usia dapat sangat rentan terhadap parvo. Vaksinasi
ulang setiap tiga tahun.
3. Rabies
Rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf
pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini bersifat
zoonotik, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus rabies
ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan misalnya oleh anjing,
kucing, kera, rakun, dan kelelawar.
Etiologi : virus rabies merupakan virus RNA termaksuk dalam familia
Rhabdoviridae.
Penularan : ditularkan melalui salive penderita yang mengandung
virus dan terjadi karena gigitan, luka terbuka dikulit atau mukosa
dapat menjadi pintu masuk penularan virus ini. Secara aerogen,
virus dapat pula menulari lewat mukosa pernafasan atau mata bila
udara mengandung virus. Penularan secara trans-plasental juga
mungkin terjadi.
Patogenesis : virus berhasil memasuki tubuh akan merambat
melalui urat syaraf menuju otak dan atau sumsum tulang belakang.
Bagian otak yang terserang adalah medulla oblongata dan ammons
hoorn

sehingga terjadi paralisis bulbar. Didalam tubuh virus

tersebar luas. Setelah dari otak virus disalurkan ke saliva, cairan


limfe, kemih, ais susu, kelenjar keringat, air mata dan semua organ
tubuh, misalnya paru-paru, hati, ginjal, kelenjar limfe, dan jantung.
Gejala klinis : anjing mudah marah, suka sembunyi,menyendiri,
menjahui sinar matahari, dan suara, kehiangan nafsu makan,
,mengigit apa saja, dan biasa benda yang dikunyah ditelan,

gangguan syaraf ditandai dengan kesulitan menelan karena adanya


peresis

dari

daerah

mulut,

Air

liur

keluar

lebih

banyak

(hipersalivasi), kelempuhan (3-4 hari post infeksi), mulut terbuka,


lidah terjulur, penglihatan kabur, ekor terkulai diantara kedua kaki
belakang, dll
Terapi : untuk kasus rabies tidak dianjurkan untuk diobati.
Pencegahan : untuk anjing dilakukan tindakan vaksinasi pada anak
anjing berumur 3-4 bulan dan diulang 3-4 minggu kemudian dan
booster dilakukan lebih awal dari 1 tahun.
4. Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp. yang
dapat

ditularkan

dari

hewan

ke

manusia

atau

sebaliknya

(zoonosis).Leptospirosis dikenal juga dengan nama Penyakit Weil,


Demam Icterohemorrhage, Penyakit Swineherd's, Demam pesawah
(Ricefield fever), Demam Pemotong tebu (Cane-cutter fever),
Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, Demam
Canicola , penyakit kuning non-virus, penyakit air merah pada anak
sapi, dan tifus anjing.
Patogenesis :
Setelah bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit
atau selaput lendir, maka bakteri akan mengalami multiplikasi
(perbanyakan) di dalam darah dan jaringan. Selanjutnya akan
terjadi leptospiremia, yakni penimbunan bakteri Leptospira di dalam
darah sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai jaringan tubuh
terutama

ginjal

dan

hati.Di

ginjal

kuman

akan

migrasi

ke

interstitium, tubulus renal, dan tubular lumen menyebabkan nefritis


interstitial (radang ginjal interstitial) dan nekrosis tubular (kematian
tubuli ginjal) --- Gangguan hati berupa nekrosis sentrilobular dengan
proliferasi sel Kupffer. ------ Leptospira juga dapat menginvasi otot
skeletal menyebabkan edema, vakuolisasi miofibril, dan nekrosis
fokal.
Pada kasus berat akan menyebabkan kerusakan endotelium
kapiler dan radang pada pembuluh darah. Leptospira juga dapat
menginvasi akuos humor mata dan menetap dalam beberapa bulan,
sering mengakibatkan uveitis kronis dan berulang. Setelah infeksi
menyerang seekor hewan, meskipun hewan tersebut telah sembuh,
biasaya dalam tubuhnya akan tetap menyimpan bakteri Leptospira

di dalam ginjal atau organ reproduksinya untuk dikeluarkan dalam


urin selama beberapa bulan bahkan tahun
Gejala klinis :
Demam, sendi atau nyeri otot - ini dapat
bermanifestasi sebagai keengganan untuk bergerak, nafsu makan
menurun, kelemahan, muntah dan diare, cairan dari hidung dan
mata, sering buang air kecil - bisa diikuti oleh kurangnya buang air
kecil, dan menguning pada gusi, membran di sekitar mata, dan kulit
(jaundice)
Mengobati Leptospirosis : Antibiotik digunakan untuk membunuh
bakteri Leptospira dan sering diberikan dalam dua tahap: satu jenis
antibiotik untuk mengobati infeksi awal,

dan diikuti dengan

berbagai jenis antibiotik untuk memerangi penumpahan bakteri


dalam urin.

Setelah ginjal dan / atau gagal hati hadir, prognosis

untuk pemulihan agak sulit. Dalam kasus ini, pengobatan agresif


sangat penting, termasuk cairan intravena, obat-obatan untuk
mengurangi muntah dan mengobati efek lain dari ginjal dan gagal
hati, dan dialisis.
Namun, tergantung pada tingkat keparahan penyakit, pengobatan
tidak selalu berhasil bila kegagalan organ hadir.
5. Infeksi virus herpes
Etiologi : Canine herpees virus
Gejala klinis : anak anjing berusia 1-3 minggu terinfeksi kurang
lebih 24 jam langsung mati sedangkan pada anak ajing yang
disapih bersifat subklinis. Dengan infeksi buatan intranasal pada
anak anjing yang baru lahir diketahui masa inkubasi 3- hari. Pada
yang lebih tua gejala rhinitis dan vaginitis ringan, dll
Terapi : pengobatan pada anak anjing yang terinfeksi CHV tidak
dilakukan karena proses penyakit yang demikian singkat pada anak
anjing.
6. Parainfluenza
Etiologi : simian virus 5 (SV-5) yang termaksuk virus paramyxo.
Virus parainflunze terdiri dari 5 tipe namun yang menginfeksi anjing
adalah SV-5. Virus ini mengandung RNA berukuran 150-300 nm.
Epizootiologi : selain menyerang anjing virus ini juga mampu
menyerang manusia, rodensia, dan kera.

Galur yang menyerang

anjing berbeda dengan yang mneyerang manusia, sehingga anjing


tidak dapat menularkan pada manusia. Tetapi, pada kucing terbukti
dapat tertular SV-5. Dari anjing ke anjing lainnya penularan sering
terjadi karena masuknya anjing baru ke dalam kannel. Anjing yang

tertular selama 8-9 haru akan menjadi penyebar virus dan setelah
itu akan besifat laten.
Gejala klinis : anjing yang terinfeksi biasanya terjadi gangguan
pernapasan, kurang nafsu makan, demam, dll
Pencegahan : dilakukan vaksinasi
7. Salivary Mucocele
Salivary mucocele dikenal juga dengan sebutan sublingual gland
and diet injury. Salivary mucocele adalah pengumpulan mukus
saliva yang disebabkan buntunya saluran saliva atau kerusakan
jaringan saliva akibat inflamasi. Salivary mucocele ini dapat terjadi
pada anjing dan kucing. Bangsa anjing yang sering menderita
adalah AGJ dan Poodle (toy, miniatur). Tidak ada kecenderungan
terhadap jenis kelamin dan masih belum ada laporan yang bersifat
heriditer.
Etiologi : Traumatik dapat terjadi akibat penetrasi benda asing atau
gigitan. Sebab inflamasi biasanya berupa sialoadenitis atau adanya
benda asing. Sedangkan sebab sekunder, biasanya berasal dari
carnassial abcess atau neoplasia.
Gejala klinis : Gejala yang tampak bervariasi, berdasarkan tingkat
keparahan dan lokasi lesi. Kelenjar sublingual merupakan kelenjar
saliva yang sering terkena. Kadang ditemukan rasa sakit, kadang
tidak. Hewan bisanaya akan mengalami disfagia, anoreksia, stridor
hemoragi atau dispnea.
Diagnosis : Bedakan salivary mucocele dengan
sialolith,

neoplasia,

congenital

bronchial

cleft

sialoadenitis,
cyst

atau

lymphoadenopathy. Diagnosis dapat ditegakkan dengan FNA (fine


needle aspiration), biopsi atau sialografi. Uji hematologi biasnya
normal kecuali bila disertai inflamasi akan tampak perubahan
leukogram. Hasil FNA biasanya ditemukan warna grey gold dan
mukus disertai bercak darah. Pewarnaan mukus spesifik dapat
membantu (Periodik Acid Schiff).
8. Hepatitis
Etiologi : Hepatitis pada anjing disebabkan oleh virus 'Canine Adeno
Virus-1(CAV-1') yang menyerang hati atau lever, ginjal dan dinding
pembulu darah memalui urine, feses serta air liur.
Transmisi : Hepatitis pada anjing bebeda dengan hepatitis pada
manusia, hepatitis pada anjing hanya dapat menular pada anjing
serta tidak menyebar pada manusia.
Gejala klinis : Gejala yang di timbulkan berupa demam, tidak nafsu
makan, lesu, muntah,berak darah.

Pencegahan : pencegahan pada penyakit ini bisa menggunakan


vaksinasi yang sering di kombinasikan dengan vaksin distemper
anjing.
9. Coronavirus
Etiologi : Penyakit Coronavirus disebabkan oleh "virus Corona" yang
menginfeksi saluran pencernaan serta menyebabkan 'enteristis'
hebat. Infeksi Corona biasanya hanya menyebabkan diare ringan,
yang berbahaya jika virus ini menyerang bersamaan dengan virus
'parvo' hingga dapat menyebabkan kematian.
Gejala klinis : gejala yang di timbulkan biasanya nafsu makan
hilang, lesu dan diare yang disertai bau busuk pada feses/kotoran
satwa.
Pencegahan : Pencegahan hanya dapat dilakukan dengan memberi
vaksinasi primary yang bertujuan guna meningkatkan daya tahan
dan kekebalan tubuh.
10.Pneumonia / Radang Paru-Paru
Etiologi : Penyakit pneumonia di sebabkan oleh beragam virus mulai
dari Parainfluensa, Bordetella bronchiseptica, Mycoplasma, Canine
Herpes, Reovirus dan Canine Adenovirus tipe-2. Virus virus ini
menyerang saluran pernapasan, terutama pada anjing berusia
muda pada saat cuaca dingin dan berangin.
Gejala klinis : Gejala yang di timbulkan biasanya keluar cairan pada
hidung, batuk dan sesak napas.
Pencegahan : Pencegahan bisa dilakukan dengan menghidari anjing
dari tempat yang dingin, berangin, lembab dan basah, sediakan
alas tidur yang kering, hangat dan tebal serta berikan juga
vakisnasi masing masing virus tadi. Untuk penanggulangannya
mesti di bawa ke dokter hewan atau klinik karena penyakit ini
tergolong berat.
11.Scabies
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite)
Sarcoptes

scabiei

yang

dicirikan

dengan

adanya

keropeng,

kebotakan, dan kegatalan pada kulit.


Etiologi : Sarcoptes scabiei adalah tungau dengan ciri-ciri berbentuk
hampir bulat dengan 8 kaki pendek, pipih, berukuran (300600 ) x
(250-400 ) pada betina, dan (200- 240 ) x (150-200 ) pada
jantan, biasanya hidup di lapisan epidermis. Permukaan dorsal dari
tungau ini ditutupi oleh lipatan dan lekukan terutama bentuk garis
melintang sehingga menghasilkan sejumlah skala segitiga kecil.
Selain itu, pada betina terdapat bulu cambuk pada pasangan kaki

ke-3 dan ke-4 sedangkan pada jantan, bulu cambuk hanya terdapat
pada pasangan kaki ke-3.
Gejala klinis :
Anjing menggaruk garuk hampir terus menerus .
Dibagian permukaan kulit terlihat berkelompok kutu
yang sangat halus seperti kutu air.
Bulu bulu menjadi rontok bahkan

bisa

merata

dipermukaan kulit
Kulit terlihat berkerak pada beberapa bagian tubuh.
Apabila anjing dimandikan dan disikat dengan sikat gigi
kemerahan tersebut menghilang,akan tetapi setelah
sehari timbul kembali warna kemerahan tersebut yang
berada dipermukaan kulit tersebut.
Pengobatan : Berikan cairan asam benzoat atau menteteskan asam
benzoat dibagian kemerahan tersebut. Lakukan berulang atau
setiap hari sampai terlihat kerak kemerahan mengelupas dan kutu
mati terangkat bersamaan kulit yang mengelupas. Berikan obat
minum anti alergi agar anjing tidak terlalu menggaruk yang
menjadikan luka pada permukaan kulit. Apa bila sudah terlalu parah
berikan suntikan IVERMECTIN.0.2 ml/10 kg berat bdn. Tidak dapat
Ivermectine

diberikan

pada

Anjing

Collie

Berikan

antibiotic

cefat/sipro 25 mg /kg brt. Bdn untuk penyembuhan luka yang terjadi


infeksi karna bakteri. Untuk memandikan anjing tersebut gunakan
shampo yang mengandung ketokonasol dicampur dengan shampoo
Hidrocortison
12.Demodekosis
Demodekosis adalah imfeksi parasit pada anjing dan jarang pada
kucing yang dicirikan dengan jumlah tungau demodex didalam
folikel rambut yang memicu terjadinya furunkulosis dan infeksi
sekunder bakteri. Infeksi dapat terjadi lokal maupun general
diseluruh tubuh.
Etiologi : demodex (folliculorum) canis, hidup didalam folikel rambut
dan kelenjar minyak.
Gejala klinis : adanya area-area kebotakan terlokalosir atau general.
Pada area tersebut terjadi kebotakan, kemerahan, gatal, menebal,
menghitam, bernanah, erosi, dan berkerak. Daerah yang sering
terinfeksi adalah permukaan

muka dan kaki namun seluruh

tubuhpun dapat terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui kontak


langsung dengan anjing yang terinfeksi, pada saat menyusu dari

induk yang terinfeksi, dan lesio menular dari moncong, mata dan
plantar kaki depan dan akan meluas ke seluruh tubuh.
Pengobatan : ivermectin secara peroral selama 3-8 minggu atau
melalui injeksi subkutan tiap minggu, namun pada beberapa ras
tidak bisa digunakan contoh collie, sheepdog serta tidak digunakan
pada anjing yang berumur dibawah 6 mingg. Lotion benzyl benzoat,
shampoo benzoyl peroksida.
13.Anklilostomiasis
Etiologi : cacing anklilostoma
Patogenesis : oleh gigitan cacing dewasa yang sekaligus melakat
pada mukosa, segera terjadi perdarahan yang ditidak membeku
karena toxin dari cacing. Cacing dewasa biasa berpindah-pindah
tempat gigitannya, hingga terjadi luka-luka yang mengakibatkan
perdarahan yang banyak. Setiap ekor cacing dewasa A.caninum
dapat menyababkan kehilangan darah 0,05 0,2 ml/hari. Darah
akan masuk ke dalam lumen dan keluar bersama tinja dan karena
adanyan darah tersebut, tinja berwarna hitam.
infeksi anjing oleh a. braziliense dan U. stenocephala tidak
mengakibatkan perdarahan hebat seperti

A.caninum namun

cenderung hipoproteinemia, radang usus, dan atrofi parsial vili


intestinales.
Gejala klinis : perdarahan yang banyak, tinja bersifat lunak,
berwarna gelap, anemia, ikterus, dll.
Pengobatan : pemberian obat cacing disarankan umur 6-12 minggu,
pengobatan dilakukan setiap 2 minggu dan setelah itu secara
teratur dilakukan dalam 2-4 bulan dengan menggunakan Canex
atau telmin.
14.Askariasis
Etiologi : toxocara canis
Patogenesis :
a. infeksi langsung : telur infektif mengandung larva stadium ke -2
anak anjing usus menetas migrasi kedalam hati dalam 2 hari
tumbuh menjadi larva infektif stadium 3 mingrasi keparu-paru perjalanan larva infektif T.canis melalui jaringan paru-paru dan hati
dapat menyebabkan terjadinya edema pada kedua organ tesebut.
Paru-paru yang mengalami edema mengakibatkan batuk, dispnea,
dengan

eksudat

berbusa

dan

kadang

mengandung

darah.

Perjalanan larva ke lambung pada yang berat menyebabkan distensi


lambung, diikuti muntah, dan mungkin disertai keluarnya cacing
yang belum dewasa dalam muntahan tersebut.

b. infeksi intra uterus, c.infeksi trans mammaria d. infeksi pasca


kelahiran dan infeksi melalui hospes paratenik.
Gejala klinis : mata berair, lemah, mukosa mata dan mulut pucat,
perut pada hewan muda terlihat menggantung, batuk, dyspnea,
radang paru-paru.
Pengobatan : piperazin, dietilkarbamasin, pyrantel pamoat, emboat,
drontal, fenbendazole, ilium pyraquantal.
15.Teaniasis
Etiologi : Teania ovis dan teania hydatigena
Patogenesis : cacing t.ovis didalam usus halus dapat tersusun atas
350 segmen, dan tiap segmen mengandung rata-rata 88.800 telur.
Telur yang termakan menetas didalam usus halus dan selanjunya
onkosfer menembus vena porta hepatis dan mecapai hati onkosfer
didalam hati lolos masuk kedalam paru-paru, terus ke otot perifer
dan berbentuk sebagai sista cysticercus ovis sista akan bersifat
infektif untuk hospes defenitif setelah jangka waktu 46 hari
membentuk progolit menyebabkan gangguan pencernaan dan
diare
Diagnosa : diagnosa dilakukan berdasarkan temuan telur pada feses
anjing dan melakukan pemeriksaan pasca mati akan ditemukan
cacing utuh dalam usus anjing yang mati.
Pengobatan : piperazin, dietilkarbamasin, pyrantel pamoat, emboat,
drontal, fenbendazole, ilium pyraquantal.
16.Spirometrosis
Etiologi : spirometra spp
Patogenesis : hospes (tikus) termakan hospes (anjing )telur tertelan
masuk menembus usus bertumbuh dijaringan dibawah kulit atau
jaringan ikat dinatara otot sebagai larva kedua (spargana atau
plerocercoid) tumbuh menjadi spirometra sp dewasa .
Pengobatan : piperazin, dietilkarbamasin, pyrantel pamoat, emboat,
drontal, fenbendazole, ilium pyraquantal.
17.Diphyllobotrhrium latum
Etiologi : Diphyllobotrhrium latum
Patogenesis : setelah lepas dari hospes defenitif anjing telur akan
berkembang dalam beberapa minggu dengan didalamnya berisi
larva stadium pertaman yaitu coracidum termakan cyclops
strenuus menjadi procercoid dalam waktu 2-3 minggu termakan
ikan air tawar masuk ke usus menuju organ lain dan menjadi
plerocercoid ikan bertindak sebagai hospes kedua ikan mentah
termakan oleh anjing maka ikan yang mengandung plerocercoid

akan menembus usus dari anjing berkembang menjadi cacing


dewasa dalam waktu 4 minggu
Pengobatan : piperazin, dietilkarbamasin, pyrantel pamoat, emboat,
drontal, fenbendazole, ilium pyraquantal.
18.Infeksi cacing spirocerca lupi
Etiologi : cacing spirocerca lupi
Patogenesis : telur termakan oleh kumbang tahi bertumbuh
menjadi larva stadium ketiga dalam waktu 7 hari kumbang
termakan oleh anjing membuat liang dalam lambung anjing dan
bermigrasi dalam lapisan luar arteri visceral dan aorta sampai di
dinding kerongkongan dan lambung
Gejala klinis : hilangnya nafsu makan, perdarahan, peradangan,
muntah, tremor, aneurisma aorta, rupture pembuluh darah, serta
terjadinya osteoarthropati paru-paru sekunder.
Pengobatan
:
penyutikan
Disophenol

dan

pemberian

dietikabarmasin dosis tinggi 200-500 mg/kg selama 10 hari


berturut-turut dapat memberikan kesembuhan yang baik.
19.Trichuriasis
Etiologi : trichuris spp
Pathogenesis : telur termakan melekat pada mukosa sekum dan
usus besar peradangan terjadi peningkatan peristaltic usus
kehilangan nafsu makan kekurangan cairan diare
Gejala klinis : diare, gejala syarat seperti eksitasi, ikterus, dll
Diagnosa : pemeriksaan laboratrium (pemeriksaan tinja)
Pengobatan
:
milbemycin.
Fenbendazole,
dischlophos,
mebendazole, dipthalofyne, pyratel pamoat.
20.Strongyloidosis
Etiologi : strongyloid spp
Pathogenesis
kebanyakan anjing terinfeksi melalui penetrasi kulit oleh larva
infektif (stadium ketiga) infeksi melalui mulut juga dapat terjadi
larva berhasil masuk tubuh anjing menembus kapiler dan venule
serta lanjut ke paru-paru masuk ke alveoli pangkal tenggorok
tertelan ke dalam lambung dan usus dalam usus menjadi dewasa
radang pada usus
Gejala klinis : gejala yang ditimbulkan :
o Fase invasi , yaitu saat larva filariform menembus kulit,
yang berakibat timbulnya radang kulit yang dintandai
dengan kemerahan kulit (eritema), rasa gatal, yang
diperlihatkan dengan gejala menggosokkan bagian
kaki ke obyek yang keras

Fase migrasi larva yaitu larva menembus paru-paru

hingga

terjadi

radang

paru-paru

dan

bronchitis

purulenta selain paru-paru larva bermigrasi ke otak


hingga mengakibatkan eksitasi
Fase intestinal yaitu saat cacing membuat liang-liang

dimukosa usus hingga terjadi radang usus yaitu


menyebabkan diare, dehidrasi, perdarahan, anemia
bahkan kematian
Pengobatan : Thiabendazole, fenbendazole, mebendazole, dan
ivermectin
21.Infeksi oleh filaroides sp dan capillaria sp
Etiologi : filaroides osleri dan capillaria aerophila
Pathogenesis
anjing memakan hospes antara tertelan larva stadium pertama
dalam waktu 70 hari didalam batang tenggorok anjing larva
menjadi cacing dewasa telur yang ada menyebabkan batuk kering
lalu masuk ke rongga mulut kemudia tertelan kembali masuk
kedalam saluran pencernaan anjing keluar bersama tinja
Gejala klinis : batuk kering, kekurusan, dispnea, kadang infeksi
ringan tidak menimbulkan gejala klinis , sedangkan yang berat
terjadi bronco pneumonia.
Pengobatan : antelmitika yang efektif diusulkan adalah levamisol
HCL dengan dosis 8-10 mg/kg/hari selama 5 hari atau dengan
fenbendazole 50 mg/kg sebagai dosis tunggal. Selain itu dapat juga
diberikan pengobatan dengan larutan sodium yodida.
22.Infeksi oleh Angiostrongylus vasorum
Etiologi : Angiostrongylus vasorum
Patogenesis : masuk kedalam tubuh anjing kemudian menetas
didalam

kapiler

paru-paru

mengakibatkan

lesi

(sklerosis

perivaskuler) menembus kapiler dan memasuki rongga udara


untuk selanjutnya terbawa dalam mulut - dan keluar juga bersama
dengan tinja.
Gejala klinis : adanya radang diparu-paru, dispena, batuk, demam.
Gejala lain terlihat kelemahan umum, malas bergerak, nafsu makan
menurun dan kekurusan. Gejala syaraf berupa kejang juga terlihat.
Proses penyakit yang berjalan kronis berakhir dengan kematian
anjing yang terinfeksi.
Pengobatan : levimisol 10mg/kg/hari diberikan selama 3 hari.
23.Ancilostomiasis
Etiologi : Ancylostoma caninum, A. braziliensis, Bunostomum spp.,
Necatorspp.,

Uncinaria

spp..

Cacing

yang

termasuk

dalam

Nematoda ini memiliki ciri spesifik adanya kapsula bukalis dan gigi
untuk menghisap darah.
Patogenesis
Berat ringannya penyakit dapat dikategorikan berdasarkan umur,
misalnya pada yang muda lebih peka. Pada anjing yang diberi
makan dengan baik relattf tahan terhadap infeksi. Apabila cadangan
zat besi cukup, maka dapat terjadi anemia normositik normokromik,
tetapi bila tidak cukup maka anemia mikrositik hipokromik. Infeksi
per kutan dapat mengakibatkan gatal-gatal yang apabila digaruk
mengakibatkan

eksem

basah.

Kutaneus

tarva

migran

dapat

menimbulkan papula dan alur radang di kultt (pruritis). Cacing


dewasa dapat menghisap darah dengan rakus 0,8 ml/cacing/hari
yang dapat mengakibatkan kematian karena anemia dan diare
berdarah. Pada kejadian kronis, terlihat anoreksia, pertumbuhan
badan terhambat dan bulu jelek. Pada A. brazitiensis tidak secara
nyata nampak anemia, 0,001 ml/cacing/hari. Pada infeksi berat
dengan jumlah cacaing lebih 500 ekor cacing dewasa akan
mengakibatkan hipoproteinemia dan diare.
Gejala klinis : Gejala yang spesifik tidak nampak, namun hewan
terlihat mengalami dermatitis, diare dengan feses yang terkadang
bercampur darah. Pertumbuhan terhambat, bulu kering dan kasar.
Pada membrana mukosa terlihat pucat, kelemahan umum. Pada ja-c
darah terlihat eosinofilia. Pada anak anjing yang terinfeksi dapat
secara prenata melalui kolostrum. Anemia yang berat dapat terjadi
kematian 3 minggu seteian kelahiran.
Diagnosa : Dapat dilakukan dengan melihat gejala-gejala klinis dan
penemuan telur cacingnya dalam pemeriksaan feses.
Terapi
:
Pengobatan
dapat
diberikan
dengan

memberi

Tetrachioroethylene 0,2 ml/kg bb. Disophenol 7,5 mg/kg bb.,


Dtehlorvos 12-15 mg/kg bb. Tetramizole 7,5 -10 mg/kg bb,
Mebendazole 40 mg/kg bb dan Nitroscanate 50 mg/kg bb.
Pencegahan dan pengendalian : Dapat dilakukan dengan cara
memutus siklus hidup, yaitu pada L1 dan L2 tidak tahan terhadap
kekeringan, untuk ttu larrtai selalu dijaga kebersihannya, feses
sering dibersihkan. Lantai dibersihkan dengan Sodium borate 2
kg/10 m2. Untuk pennanganan suportif, dapat diberikan makanan
yang

kaya

protein

atau

Iransfusi

anthelmintika sangat dianjurkan.

darah.

Selain

pemberian

24.Konstipasi dan Obstipasi


Konstipasi adalah defekasi
mengalami

kesulitan.

yang

Obstipasi

infrekuen,
adalah

inkomplet
konstipasi

atau
yang

berkepanjangan disebabkan retensi feses yang lama, keras dan


kering dan hewan tidak bisa melakukan defekasi. Penyakit ini
dikenal juga sebagai fecal impaction.
Gejala Klinis : Anamnesis menunjukkan

hewan

mengalami

tenesmus dengan volume feses sedikit. Feses keras, kering.


Defekasi tidak frekuen. Setelah merejan lama baru keluar feses
yang sedikit, kadang setelah itu masih merejam lama. Beberapa
penderita

mengalami

vomit

dan

depresi.

Pemeriksaan

fisik

menunjukkan feses masih di dalam kolon, hasil pemeriksaan yang


lain bergantung penyebab. Pemeriksaan rektal teraba adanya
massa, striktura, hernia perianal, penyakit anal sac, benda asing,
pembesaran prostat, kanal pelvis yang sempit.
Patogenesis : Konstipasi dapat terjadi dengan penyakit yang
menyebabkan gangguan aliran feses melalui kolon. Transit fekal
yang tertunda, menyebabkan hilangnya garam dan air lebih
banyak. Kontraksi peristaltik meningkat saat konstipasi, namun
motilitasnya terbatas karena degenerasi otot polos secara sekunder
akibat overdistensi kronis.
Diagnosis
: Pemeriksaan

laboratorium

umumnya

normal.

Hemokonsentrasi dan total plasma protein meningkat pada kasus


dehidrasi. Lekositosis bila terjadi abses, fistula perianal dan
penyakit

prostat.

Pemeriksaan

radiografi

dapat

menunjukkan

adanya benda asing, gumpalan feses, pembesaran prostat, fraktur


pelvis atau dislokasi panggul. USG juga dapat membantu melihat
adanya massa ekstraluminal dan pembesaran prostat.
Pengobatan : Feses dapat dikekularkan secara manual (digital)
setelah hewan disedasi atau anestesi. Bila masih kesulitan dapat
dibantu dengan enema. Gunakan air hangat dengan sedikit
campuran sabun atau minyak sayur. Berikan pakan yang dapat
mengisi/membentuk feses, methyllcelulose atau campuran labu.
Berikan lubrikan, untuk memudahkan keluarnya feses. Berikan
laxatif,

untuk

digunakan

membuat

untuk

feses

meningkatkan

lebih

lunak

motilitas,

Kolinergik

namun

dapat

merupakan

kontraindikasi bila terjadi obstruksi. Antikolinergik juga menjadi


kontraindikasi.

25.Stomatitis
Stomatitis adalah inflamasi pada mukosa mulut. Stomatitis bisa
terjadi akibat faktor lokal atau sistemik. Stomatitis lebih merupakan
suatu gejala dibanding bentuk penyakit spesifik.
Gejala Klinis : Halitosis, rasa sakit, mulut terbuka anoreksia,
hipersalivasi. Perdarahan dari gusi atau mulut. Inflamasi atau
ulserasi pada rongga mulut. Akumulasi palque atau tartar.
Diagnosis : Pemeriksaan laboratorium membantu untuk mendeteksi
penyakit sistemik. Kultur bakteri atau fungi. Uji imunologis, serologi.
Serum protein elektroforesis. Toksikologi. Radiografi membantu
melihat adanya abnormalitas dental atau tulang.
Terapi : Lakukan terapi cairan pada pasien yang mengalami
anoreksia. Bila masih bisa menelan berikan pakan yang lunak.
Lakukan dental propilaksis, terapi periodontal atau ektraksi gigi
yang bermasalah.
26.Divertikulum Oesophagus
Suatu kondisi dimana esofagus

mengalami

ketidaknormalan

anatomis, pembesaran atau dilatasi sehinga terjadi ruang tempat


berkumpul atau akumulasi ingesta. Kondisi ini terbagi menjadi dua
katagori

bergantung

penyebab.

Pulsi

divertikulum

suatu

divertikulum yang sesungguhnya yang berkaitan dengan tekanan


intraluminal yang tinggi menyebabkan herniasi pada muskosa
muskularis. Secara histologis sisa jaringan berupa epitelium dan
jaringan ikat. Divertikulum traksi disebabkan tarikan dari luar pada
jaringan ikat esofagus dan keempat lapisan penyusunnya (mukosa,
submukosa, muskularis dan adventitia) masih tetap ada. Sebanyak
50-70% divertikulum (terutama pulsi) berkaitan dengan lesi yang
lain dari esofagus atau diafragma. Kasus ini sering ditemukan pada
anjing atau kucing, baik kongenital atau perolehan. Tidak ada
predisposisi pada bangsa tertentu.
Gejala Klinis : Regurgitasi postprandial, disfagia, berat badan turun,
anoreksia, batuk atau distress respirasi.
Diagnosis :
Hemogram pada umumnya

normal.

Gambaran

radiografi menunjukkan adanya udara atau massa jaringan lunak di


kranial

diafragma

esofagus

tampak

Esofaguskopi

atau

kranial

daerah

dapat

esofagus

dilakukan

mengevaluasi mukosa.

inlet toraks.
untuk

yang

Dengan

kontras

mengalami

dilatasi.

mengambil

ingesta

dan

Terapi : Jika divertikulum kecil dan tidak menyebabkan gejala klinis,


pasien dapat diterapi secara umum dengan memberikan makan
yang lunak dan kemudian berikan air minum. Jika divertikulum
besar

dan

dilakukan

menimbulkan
tindakan

gejala

operatif.

klinis,

Kondisi

ini

pertimbangkan
menjadi

untuk

predisposisi

terjadinya perforasi, fistula, striktura dan dehisensi pasca operasi.


Evaluasi harus dilakukan bila hewan mengalami peningkatan suhu
tubuh, dispnea, takipnea, leukogram meningkat atau sepsis.
27.Megaesophagus
Penyakit ini dikenal juga dengan achalasia, yaitu terjadinya dilatasi
esophagus dan hipomotilitas. Gangguan tersebut dapat terjadi
akibat gangguan primer atau sekunder. Gangguan sekunder bisa
akibat dari obstruksi atau disfungsi neuromuskular Congenital
idiopathic megaesophagus is menurun pada anjing Wire-haired fox
terriers (simple autosomal recessive) dan Miniature schnauzers
(simple autosomal dominant atau 60% penetrance autosomal
recessive). Lebih sering terjadi pada anjing dibandingkan kucing.
Familial predispossi terjadi pada German shepherd, Newfoundland,
Great dane, Irish setter, Sharpei, Pug, Greyhound, and kucing
Siamese. Congenital megaesophagus dengan gejala regurgitasi
pertama kali tampak pada saat sapih. Sedangkan bentuk dapatan
sering terjadi pada anjing muda hingga pertengahan umur.
Gejala : Biasanya ditemukan regurgitasi pakan dan minum, berat
badan turun atau pertumbuhan terhambat, hipersalivation, halitosis
dan terdengar suara saat menelan. Ada rasa sakit saat dipalpasi
pada servikal esophagus. Gejala lain yang menyertai dan menjadi
penyebab

megaesophagus

adalah

kelemahan,

paresis

atau

paralisis, ataksia, gagging, disfagia, rasa sakit atau depresi.


Mungkin juga ditemukan batuk, discharge nasal mukopurulent dan
dispnea akibat aspirasi pneumonia. Perubahan lain berkaitan
megaesophagus adalah respiratori crackles, takipnea, pireksia,
myalgia, lemah otot, atrofi otot, hiporefleksia, defisit proprioceptive
and postural, gangguan autonomik (mydriasis dengan tidak adanya
pupillary light reflex, nasal kering dan membrana mukosa okular,
diarrhea, bradikardi), defisit syaraf kranial (khususnya SK VI, IX, dan
X), paresis atau paralisis, and perubahan mental.
Diagnosis : Penyakit obstruksi pharyngeal (benda asing, inflamasi,
neoplasia, cricopharyngeal achalasia) and gangguan palatum akan

menyebabkan regurgitation dengan motilotas esophaguas normal.


Rasa sakit faringeal dan disfagia seringkali terjadi pada obstructive
pharyngeal disease. Bedakan regurgitasi dari disfagia and vomit.
Titer reseptor antibody acetylcholine untuk mengevaluasi terjadinya
myasthenia gravis. Titer antibodi antinuclear untuk mengevaluasi
SLE. Stimulasi ACTH untuk mengevaluasi fungsi adrenal. Kadar
T4/TSH untuk mengevalausi fungsi tiroid. Tembaga dalam serum
dan kadar cholinesterase untuk mengevaluasi toksisitas.
Terapi : Sebagian besar dapat ditangani melalui rawat jalan. Pada
kasus

dengan

komplikasi

aspirasi

pneumonia,

obstructive

megaesophagus, atau penyakit neurologis berat diperlukan rawat


inap. Pada kasus aspirasi pneumonia dan ataur dehidrasi diperlukan
antibiotika and terapi cairan. Pemberian pakan sebaiknya dengan
memposisikan kepala 4590 dari lantai biarkan begitu dalam 1015
menit setelah pemberian pakan. Pemberian pakan dalam bentuk
gruel akan mengurangi regurgitasi. Meskipun demikian hal ini
bersifat individual dan kadang dilain waktu akan berubah.
28.Gastritis Kronis
Vomit intermiten lebih dari 1-2 minggu. Gastrik ulserasi atau erosi
mungkin terjadi bergantung pada penyebab dan durasi. Anjing yang
menderita umumnya berumur tua, breed kecil, dan kelamin jantan
(Lhasa apso, Shih Tzu, Miniatur poodle)
Gejala Klinis : Vomitus biasanya berwarna hijau (bercampur
empedu) dan berisi pakan yang belum tercerna, ada bercak darah,
atau darah yang terdigesti (coffe grounds). Frekuensi bervariasi
secara intermiten (beberapa hari hingga minggu) dan biasanya
semakin parah (progresif). Kondisi tersebut diperparah dengan
stimulasi makan atau minum. Gejala yang lain adalah berat badan
turun, anoreksia, melena dan diare.
Diagnosis : Umumnya pemeriksaan

laboratorium

normal.

Hemokonsentrasi bila terjadi dehidrasi. Hipoproteinemia bila terjadi


kehilangan protein. Urinalisis biasanya
normal. Radiografi dapat membantu untuk melihat benda asing,
penebalan dinding lambung atau usus, adanya obstruksi.
Terapi : Lakukan pengobatan ulser atau erosi pada lambung (lihat
gastrik ulserasi dan erosi) Glukokortikoid diberikan pada penderita
yang diduga akibat gangguan imunologi karena tidak ada respon
dengan tatalaksana diet. Lakukan terapi cairan bila terjadi dehidrasi
dan gangguan keseimbangan asambasa. Berikan antiemetik bila

kehilangan cairan banyak terjadi akibat vomit. Metocloporamide


untuk mempercepat pengosongan lambung atau terjadi refluks
duodenum. Metocloporamide tidak boleh digunakan bila terjadi
obstruksi lambung.
29.Kolitis dan Proctitis
Kolitis adalah inflamasi yang terjadi pada kolon, sedangkan proctitis
adalah inflamasi yang terjadi pada rektum. Kolitis dan proctitis
terjadi sekitar 30% dari anjing yang menderita diare kronis.
Penyakiti ini dikenal juga sebagai Large bowel disease atau
Inflamatory bowel disease.
Gejala Klinis : Diare kronis disertai mukus dan darah. Bentuk feses
bervariasi lembek hingga cair. Frekuensi defekasi sangat tinggi
dengan volume feses sedikit. Kadang disertai vomit. Tenesmus
masih terjadi hingga lama setelah defekasi. Berat badan tidak
banyak berubah, kondisi umum biasanya normal. Anjing boxer umur
2 tahun biasanya mengalami kolitis histiositik ulseratif.
Terapi : Penderita kolitis akut, lakukan NPO dalam 24-48 jam.
Berikan pakan yang tidak
menimbulkan alergi. Suplementasi

serat

disarankan

untuk

menambah isi feses,


memperbaiki kontraktilitas otot kolon dan mengikat air untuk
membentuk feses.
Antimikrobial
Berikan metronidazole 25 mg/kg q12 jam selama 5-7 hari untuk
mengatasi
Entamoeba, Giardia, Trichomonas atau Balantidium. Albendazole 25
mg/kg q12 jam selama 2 hari digunakan untuk Giardia bila
metronidazole tidak efektif. Salmonella dapat diatasi dengan
chloramphenicol,

trimethoprim-sulfa

atau

enrofloxacin.

Campylobacter diatasi dengan erythromicin 30-40 mg/kg q24 jam


selama 5 hari atau Tylosin 45 mg/kg q24 jam selama 5 hari.
Clostridium dapat diatasi dengan Metronidazole, Tylosin atau
Penicillin dan derivatnya. Histoplasma diatasi dengan ketoconazole.
Anjing, 10-30 mg/kg q24 jam dosis terbagi; kucing, 5-10 mg/kg q812 jam. Bisa juga diberikan itraconazole 5 mg/kg q12 jam.
30.Prolapsus rektum
Prolapsus rektum adalah protrusio atau keluarnya satu atau lebih
lapisan rektum melalui anal orifisium. Prolapsus yang terjadi dapat
bersifat parsial atau komplet bergantung pada struktur yang
terlibat. Pada prolapsus rektum parsial, hanya lapisan mukosa yang

keluar, sementara pada prolapsus rektum komplet semua lapisan


rektum ikut keluar. Prolapsus rektumini dapt terjadi pada semua
bangsa anjing dan tidak tergantung jenis kelamin. Sebagian besar
kasus terjadi pada hewan yang lebih muda.
Gejala Klinis : Hewan akan menunjukkan dyschezia, tenesmus yang
berkaitan dengan penyakit anorektal atau inflamasi kolon (typhlitis,
colitis, proctitis). Pada pemeriksaan fisik tampak adanya massa
silindris panjang yang keluar dari rektum, pada prolapsus rektum
parsial hanya mukosa rektum yang keluar.
Terapi : Terapi dan prognosis bergantung penyebab, derajat
prolapsus, lama terjadinya prolapsus, viablitas jaringan. Pada
prolapsus rektal atau anal inkomplet, biasanya mudah dikoreksi
secara manual menggunakan saline atau lubrikan. Gunakan ikatan
purse string agar rektum tidak mudah keluar kembali. Berikan
kortikosteroid topikal untuk mengatasi proctitis atau anusitis.
Prolapsus komplet ditandai lama terjadi yang singkat dan viabilitas
jaringan masih bagus sehingga lebih mudah dikoreksi. Pada kasus
yang sering kambuh atau bila koreksi secara manual tidak bisa
dilakukan sebaiknya dilakukan colopexy. Bila prolapsus telah lama
terjadi maka viabilitas jaringan sangat rendah sehingga diperlukan
reseksi mukosa atau reseksi komplet dan dilakukan anastomosis.
Karena komplikasi terjadi pembentukan striktura pasca operasi,
reseksi komplet atau anastomosis tidak boleh dilakukan pada
kucing. Kucing

yang

menderita prolapsus rektum disarankan

dilakukan colopexy. Selanjutnya diet yang diberikan sebaiknya


mengandung banyak serat dan laksatif untuk melunakkan feses.
31.Gastrik Ulserasi dan Erosi
Gastrik erosi adalah terjadinya lesi erosi superfisial pada mukosa
lambung, dan dapat meluas hingga lapisan muskularis mukosa.
Faktor risiko adalah pemberian obat NSAID, glukokortikoid. Pada
hewan dewasa atau tua biasanya karena neoplasia.Gastrik ulserasi
dan

erosi

dapat

terjadi

karena

pemberian

obat

(NSAID,

glukokortikoid), penyakit metabolik (penyakit hepar, ginjal atau


hipoadrenokortisism), Stress, Benda asing, Neoplasia, Helicobacter
pylori,

Gastritis

(Lymphocytic/plasmacytic

gastroenteritis,

eosinophilic gastroenenteritis). Gastrik ulser dan erosi terjadi karena


penyebab tunggal atau multipel terhadap barrier mukosa. Faktor
yang bekerja melindungi lambung dari ulserasi dan erosi adalah

lapisan mukus bikarbonat di atas sel-sel epitel, sel-sel epitel gaster,


aliran darah mukosa, pergantian sel-sel epitel, dan prostaglandin
yang diproduksi saluran cerna. Faktor yang menyebabkan mukosa
rusak adalah

hambatan sel-sel epitel memperbaiki kerusakan,

suplai darah mukosa menurun,sekresi asam lambung meningkat.


Risiko ulserasi dan erosi gaster meningkat bila terjadi gangguan
pada kemampuan melindungi dari mukosa barrier.
Gejala klinis : Asipmtomatis pada beberapa penderita. Gejala yang
tampak adalah hematemesis. Vomit dengan vomitus ditemukan
bercak darah atau tidak. Melena, anoreksia, rasa sakit abdominal.
Membrana mukosa pucat dan lemah (bila terjadi anemia). Oedema
(jika terjadi hipoproteinemia), depresi, kolaps, mati mendadak
(perforasi gastrik).Komplikasi yang mungkin terjadi adalah perforasi
gaster, kekurangan darah, sepsis dan encephalohepatik jika disertai
gangguan hepar.
Penanganan : Terapi cairan untuk mengatasi dehidrasi. Histamin
antagonis

reseptor

H2.

Antiemetik.

Metocloporamide

atau

chlorpromazine. Chlorpromazine tidak boleh digunakan pada pasien


yang menderita hipotensi ataumengalami hipovolemia. Antibiotika
dengan spektrum untuk mengatasi enterikbakteri dan anaerobik
serta mencegah sepsis karena kerusakan barrier mukosa. Tindakan
operatif

dapat

dipertimbangkan

bila

hemoragis

dikendalikan.
32.Gastric Dilation / Volvulus Syndrome
Gastric dilation dan volvulus syndrome

(GDV)

tidak

dapat

adalah

suatu

sindroma pada anjing dimana lambung mengalami distensi dan


berputar ataumelintir atau torsio sehingga menimbulkan perubahan
patologi kompleks lokal atau sistemik dan perubahan fisiologis.
Umumnya anjing tengah umur hingga tua yang sering menderita
GDV. Sedangkan bangsa anjing yang sering menderita adalah anjing
besar dengan postur dada lebar dan dalam seperti Herder, Great
dane, Rottweiller,

Labrador retriever, Alaskan malamute, Saint

Bernard.Penyebab terjadi gastrik dilation adalah adanya obstruksi


aliran pilorus, abnormalitas myoelektrik gastrik, gerakan lambung
setelah mengingesti pakan atau air, aerofagia. Faktor risiko adalah
aktifitas menelan makan atau air dalam jumlah besar dan aktifitas
berat serta stress. Akumulasi cairan atau ingesta dalam lambung
akan berhubungan dengan obstruksi mekanis pada lubang pilorus.

Distensi lambung bersifat progresif dan potensial terjadi volvulus.


Torsio lambung dapat terjadi tanpa terjadi distensi. Saat anjing
diposisikan dorsal recumbency, lambung akanberputar searah
jarum jam atau berlawanan jarum jam. Yang sering terjadi adalah
searah jarum jam, dengan duodenum berputar dari kanan ke kiri.
Rotasi terjadi dengan sumbu dari kardia hingga pilorus. Rotasi dapat
90-360 derajat. Kerusakan lambung biasanya terjadi akibat iskemia
dan kerusakan reperfusi.
Gejala klinis : Hewan biasanya mengalami retching non produktif,
hipersalivasi, depresi, lemah dan distensi abdomen yang progresif.
Pemeriksaan

fisik

menunjukkan

adanya

takikardia,

timpani

abdomen bagian depan, takipnea,gejala hipovolemik shock (pulsus


lemah, CRT lambat, membrana mukosa pucat), temperatur rektal
bervariasi.
Penanganan : Pasien harus segera diterapi, utamanya memperbaiki
fungsi

kardiovaskular

dan

dekompresi

lambung.

Dekompresi

lambung dapat dilakukan, menggunakan orogastric intubation. Cara


lain adalah dengan trokarisasi dan menggunakan kateter. Untuk
mempertahankan proses dekompresi tetap letakkan kateter atau
pharyngogastric hingga tindakan operatif dilakukan.
Hindari aktifitas yang berat selama 10-14 hari pasca operatif.
Pemberian cairan isotonis 90 ml/kg pada 30-60 menitpertama untuk
mengatasi kondisi hipovolemik shock. Pemberian kortikosteroid
digunakan

untuk

kardiovaskular,

menstabilisasi

dan

terapi

membran,

reperfusi.

membantu

Dexamethasone

fungsi
sodium

phosphate 5 mg/kg IV pelan atau Prednisone sodium succinate 11


mg/kg

IV.

Pemberian

antibiotika

untuk

mengatasi

flora

gastrointestinal dan endoteksemia yang berkaitan dengan shock,


kelemahan gastrik dan

kemungkinan kontaminasi pasca operasi.

Hindari overingesti pakan atau air minum. Berikan pakan dengan


porsi sedikit namun lebih sering. Dan hindari exercise post prandial
atau setelah makan.
33.Enteritis kronis
Enteritis kronis adalah perubahan frekuensi, konsistensi dan volume
feses lebih dari 3 minggu atau berlangsung berulang secara
periodik.Penyebab enteritis kronis bisa berasal dari usus halus atau
usus besar. Kejadian ini terjadi akibat tingginya solut atau cairan
sekresi,

rendahnya

solut

atau

absorbsi

cairan,

permiabilitas

intestinal

tinggi

atau

meningkat,

meningkat.
Gejala klinis : Usus halus

motilitas

gastrointestinal

Kondisi tubuh buruk berkaitan dengan

maldigesti, malabsorbsi atau hilangnya protein entropati. Palpasi


abdomen terasa penebalanintestinal berkaitan dengan infiltrasi sel
radang, efusi abdomen karena hipoproteinemia akibat hilangnya
protein enteropati atau massa abdomen (benda asing, neoplastik,
intususepsi atau pembesaran limfe nodus mesenterika).
Usus besar : Palpasi rektal ditemukan adanya mukosa rektal yang
tidak halus dan menebal, striktura, massa intraluminal atau
ekstraluminal, limfadenopati sublumbal.
Penanganan : Secara umum bila mengalami dehidrasi lakukan
terapicairan

menggunakan

cairan

seimbang

dapat

digunakan

normal saline atau larutanLactated Ringers. Pada lesi usus halus


lakukan terapi pada penyebab. Terapi umum ataupun simptomatis
biasanya tidak berhasil pada kasus enteritis kronis. Pada lesi usus
besar, telur trichuris jarang ditemukan, namun karena trichuris
paling sering

menyebabkan diare usus besar maka sebaiknya

dilakukan pengobatan dengan fenbendazole sebelum melakukan uji


diagnosis yang lain. Diet rendah lemak dan bahan mudah cerna 3-4
minggu akan cepat mengatasi diare usus besar. Pada umumnya
hewan akan sembuh secara bertahap setelah terapi. Namun bila
tidak

ada

respon,

lakukan

evaluasi

kembali.

Kontraindikasi

Antikolinergik akan memperparah enteritis kronis. Namun kadang


diperlukan pada kasus kram pada irritable bowel syndrome.
34.Anal Sac Disorder
Gangguan anal sac pada anjing tebagi menjadi tiga yaitu impaction,
sacculitis dan abses anal sac. Ketiga tipe tersebut dapat terjadi
dalam satu proses dengan berbagai tahapan. Tidak ada predisposisi
jenis kelamin atau umur. Bangsa anjing kecil sering mengalami
problem anal sac yaitu miniatur poodle, toy poodle, chihuahua.
Problem anal sac jarang terjadi pada kucing.Penyebab gangguan
anal sac tidak dketahui dengan jelas namun diduga berkaitan
dengan faktor feses yang lunak, diare yang berlangsung kronis atau
sekresi kelenjar anal yang berlebihan dan tonus otot yang lemah.
Sekresi yang mengalami retensi akan mengakibatkan infeksi dan
abses kelenjar anal.

Gejala

Klinis

Hewan

sering

mengalami

tenesmus,

pruritus

perianal,perubahan perilaku, sulit duduk, gelisah, ekor biasanya


ditekuk,

discharge

perianal

dermatitis.
Penanganan : Dengan

bila

abses

melihat cairan

pecah,

pyotraumatik

anal sac akan cukup

menentukan diagnosis dan menetapkan terapi. Berikan antibiotika


sistemik dan pemberian kombinasi antibiotika kortikosteroid secara
topikal

cukup

membantu

pada

kasus

infeksi

anal

sac.

Bila

diperlukan, lakukan drainase dan bersihkan anal sac. Pada kasus


abses anal sac dan sering kambuh perlu dipertimbangkan untuk
melakukan insisi pada kelenjar anal. Abses anal sac harus diperiksa
kembali setelah 3-7 hari pasca terapi.
35.Enteritis akut
Diare adalah meningkatnya frekuensi dan bentuk feses. Kondisi ini
menggambarkanadanya

gangguan

umum

penyakit

intestinal.

Hewan muda biasanya menderita akibat makanan atau infeksi.


Patofisiologi : Diare terjadi bila absorbsi menurun atau sekresi
meningkat atau kombinasi keduanya.

Diare osmotik

Di dalam

lumen bahan makanan tidak terabsorbsi dengan baik. Hal ini bisa
terjadi karena mengingesti bahan yang sulit terabsorbsi (serat),
malasimilasi
elektrolit

bahanmakanan,

(glukosa).

kegagalan

Bahan-bahan

transpot

bahan

tersebutbiasanya

non

mudah

menyerap air juga menyebabkan air dari plasma masuk ke dalam


lumen intestinal, sehingga menambah jumlah air di dalam lumen.
Diare osmotik ini akan berhenti bila hewan dipuasakan. Hampir
semua hewan yang mengalami diare osmotik mengalami penyakit
kronis. Diare sekretoris Cairan dan elektrolit disekresi oleh sel
sekretoris. Bahan yang disekresi berupa enterotoksin, hormon
gastrointestinal, prostaglandin, stimulasi parasimpatis, serotonin
asam empedu, asam lemak hidroksilat, laksatif. Diare sekretoris
murni tidak berhenti bila hewan dipuasakan.
Gejala Klinis : Kondisi ringan; alert, aktif, belum menunjukkan
dehidrasi. Umumnya frekuensi diare kurang 3-4 kali sehari dalam 24
jam terakhir dan tidak menunjukkan adanya darah pada feses.
Kondisi sedang-berat; gejala klinis lebih tampak, dehidrasi, depresi,
enggan bergerak, lemah. Frekuensi defekasi lebih dari 6 kali sehari
dan umumnya ditemukan bercak darah pada feses.

Diagnosis : Pada kondisi ringan, periksa feses terhadap infestasi


parasit, periksa antigen parvovirus. Pada kondisi sedang dan berat,
periksa feses, CBC (hemogram), elektrolit dan biokimia. Bila
ditemukan azotemia, jumlah leukosit meningkat, aktifitas enzim
hepat meningkat diduga tidak hanya berkaitan dengan masalah
saluran gastrointestinal. Biasanya terjadi gangguan elektrolit dan
dehidrasi. Anjing penderita enteritis parvoviral biasanya mengalami
hipoproteinemia setelah rehidrasi.
36.Kolitis dan Proctitis
Kolitis adalah inflamasi yang terjadi pada kolon, sedangkan proctitis
adalahinflamasi yang terjadi pada rektum. Kolitis dan proctitis
terjadi sekitar 30% dari anjing yang menderita diare kronis.
Penyakiti ini dikenal juga sebagai Large bowel disease atau
Inflamatory bowel disease.
Patofisiologi : Inflamasi kolon menyebabkan akumulasi sitokin,
menyebabkan kerusakan juctionantara sel-sel epitel, stimulasi
sekresi kolon, stimulasi mukus oleh sel goblet. Mekanisme ini
menurunkan

kemampuan

kolon

untuk

mengabsorbsi

air

dan

menyimpan feses. Kondisi ini menyebabkan diare. Diare yang


terjadi biasanya disertai mukus dan darah.
Gejala Klinis : Diare kronis disertai mukus dan darah. Bentuk feses
bervariasi lembek hingga cair.Frekuensi defekasi sangat tinggi
dengan volume feses sedikit. Kadang disertaivomit. Tenesmus
masih

terjadi

hingga

lama

setelah

defekasi.

Berat

badan

tidakbanyak berubah, kondisi umum biasanya normal. Anjing boxer


umur 2 tahun biasanya mengalami kolitis histiositik ulseratif.
Diagnosis : Pemeriksaan laboratorium umumnya normal. Kadang
ditemukan neutrofilia left shift. Hiperglobulinemia pada kasus
kronis. Mikrositik, hipokromis anemia pada penderita yang disertai
perdarahan kronis.
Diferensial diagnosis : Bedakan dengan diare usus halus.
37.Fistula perianal
Fistula perianal atau anal furunkulosis adalah kondisi yang ditandai
adanya sinusulserasi tunggal atau multipel yang terjadi hingga 360
derajat daerah sekitar perianal.
Patofisiologi : Patofisiologi fistula perianal tidak diketahui dengan
jelas.

Anjing

gembala

jermanatau

Herder

mempunyai

risiko

menderita fistula perianal karena pangkal ekornya lebar dan ekor


menggantung. Risiko yang lain adalah adanya kelenjar apokrine di

daerah kutaneus anal kanal yang sangat aktif. Bentuk ekor yang
demikian mengurangi ventilasi perianal dan menjadi predisposisi
akumulasi kelembaban, bakteria fekal, dan sekresi anal sac yang
selanjutnya mempermudah inflamasi daerah kelenjar apokrine.
Faktor

imunologis

dan

disfungsi

tiroid

juga

diduga

menjadi

penyebab fistula perianal. Menurunnya jumlah limfosit, serum


imunoglobulin sering ditemukan pada penderita fistula perianal.
Hipotiroidism diduga nejadi penyebab atau faktor risiko terjadinya
fistula perianal. Sebanyak 1 dari 33 anjing yang mengalami fistula
perianal mengalami hipotiroidism. Higienitas yang buruk juga
menjadi predisposisi penyakit ini.
Gejala klinis : Hewan umumnya mengalami tenesmus, dyschezia,
hematochezia, inkontinensiafekal. Hewan juga sering menjilati
daerah anal. Gejala yang lain adalah adanya perdarahan daerah
anal, konstipasi dan discharge anorektal yang berbau. Anoreksi dan
berat badan turun juga dilaporkan pada penderita ulserasi yang
parah disertai infeksi. Secara umum juga terjadi perubahan
perilaku. Bangsa anjing besar sering menderita dan insidensi yang
paling banyak adalah anjing gembala jerman atau Herder dan Irish
setter.
Diagnosis : Sejarah atau anamnesis dan gejala klinis cukup jelas
untuk menentukan diagnosis fistula perianal. Pemeriksaan daerah
anorektum membutuhkan sedasi atau anestesi karena rasa sakit
yang sangat. Pemeriksaan fisik ditemukan adanya fistula atau
ulserasi tunggal atau multipel, saluran fistula, eksudat purulen
disertai darah. Palpasi anorektal ditemukan fistula rectocutaneus
multipel dan anal stenosis. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan
leukositosis pada pemnderita yang mengalami inflamasi
Diferensial diagnosis : Bedakan ruptura abses anal sal dan perianal
adenocarcinoma. Pada ruptura absesanal sac, tampak saluran anal
sac yang pecah tampak unilateral yang terletak di ventrolateral
anus. Selulitis dan fistulasi berkaitan dengan ruptura abses anal sac
tidak begitu ekstensif (luas) dibanding fistula perianal. Perinal
adenocarcinoma bersifat proliferatif, namun ulserasi secara umum
mirip dengan fistula perianal.
38.Spirocercaiasis
Merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing dari jenis
Spiroserca lupi.

Cacing ini berasal dari kelas nematoda ordo

spirurida. Cacing ini berhabitat di esofagus, lambung, aorta dan


memiliki inang antara kumbang tai.
Patogenesisnya : Cacing ini masuk secara peroral, selanjutnya
bermigrasi

ke

aorta

sehingga

menyebabkan

peradangan, nodul, jaringan ikat, dan necrosis


Gejala klinis : Disfagia, regurgitasi, vomit,
aneurisma,

ruptur

esofagus,

obstruksi

hemorrhagi,

stenosis

kaheksia,

aorta,

sarkoma

esofagus, Kematian mendadak


Penanganan :
Pengobatan dapat diberikan dengan memberi
Tetrachioroethylene 0,2 ml/kg bb. Disophenol 7,5 mg/kg bb.,
Dtehlorvos 12-15 mg/kg bb. Tetramizole 7,5 -10 mg/kg bb,
Mebendazole 40 mg/kg bb dan Nitroscanate 50 mg/kg bb.
39.Toxocariasis
Merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing dari jenis
Toxocara canis, yang berhabitat di usus halus. T. canis bersifat
zoonotic visceral dan ocular larva migrans terutama pada anakanak.
Patogenesisnya : PERORAL : Pada anak anjing muda (Pup<1 mo)
ingesti telur infektif, L3 kemudia migrasi hepato-pulmonar. Di paru
molting jd L4, keluar dengan batuk dan tertelan. Dewasa di usus
halus. Periode prepaten 28 hari. Pada anak anjing yang lebih tua,
larva dari paru menuju jaringan dan menunda perkembangan.
PRENATAL : Reaktivasi larva T. canis di jaringan pada kebuntingan
trimester akhir. Migrasi ke paru-paru fetus, dan molting ke L4.
Mature di usus halus pup setelah kelahiran. Periode prepaten 3-5
minggu
TRANS MAMARIA: Reactivated larva menuju gl.mamaria. Prepaten
21 hari.
Gejala klinis :

Sangat patogen pada anjing dan kucing, Gejala

umumnya pada anak hewan: diare, vomit, perut buncit, Stillbirth,


Kematian neonatal, dan Verminous pneumonia
Penanganan : Pemberian berbagai macam anthelmintik dapat
diberikan. Pemberian Fenbendazole dosis 50 mg/kg bb per hari
hingga 2 minggu post partum. Dengan Ivermectin, jumlah eating
dapat menurun drastis dengan dosis 0,3 mg/kg bb sc.
40.Brucellosis
Merupakan penyakit pada anjing yang disebabkan oleh bakteri
brucella canis. Bakteri ini merupakan bakteri fakultatif intraseluler
dan bersifat aerob. Secara morfologi bakteri Brucella bersifat Gram
negatif, dan tidak berspora berbentuk kokobasilus (short rods)

dengan panjang 0,6 - 1,5 m dan tidak berkapsul. Bakteri ini tidak
berflagella sehingga tidak bergerak (non motil).
Patogenesis :
Bagian pertama yang akan

diinfeksi adalah

permukaan mukosal bakteri akan memulai proses attachment untuk


memfagositosis. Dilanjutkan dengan berbagai proses tubuh untuk
survival. Brucella kemudian bergerak ke regional limfa nodus dan
berkembang dan memulai infeksi di daerah sekitarnya. Dari regional
limfa nodus, brucella menyebar ke sistem reticuloendotelial dan
saluran reproduksi. Pada saluran reproduksi dari induk bunting,
lokalisasi brucella lebih mungkin terjadi. Brucella dapat pula
menginfeksi

saluran

reproduksi

dari

hewan

jantan

meskipun

mekanisme spesifiknya belum jelas. Pada pejantan, epididimitis dan


orchitis sering tampak dan menyebabkan penurunan fertilitas.
Gejala klinis : Aborsi pada anjing yang terjadi sekitar 50 hri usia
kebuntingan,
akumulasi

Terjadi
cairan

meningoencephalitis,

pembengkakan
di

tunika,

osteomyelitis,

pada

skrotum

Menyebabkan
discopondylitis,

karena

terjadinya
anterior

uveilitis
41.Dirofilariasis
Penyakit ini disebabkan oleh cacing Dirofilaria imitis berlokasi

di

Ventrikel sebelah kanan dari jantung dan arteria pulmonalis.


Hospesnya pada Anjing, kucing, bisa manusia, kuda, singa dan
beruang. Cacing nematoda ini memifiki panjang pada yang jantan
12-16 cm, sedang betina 25 -30 cm, langsing, pada ujung posterior
jantan ada spiral. Pada ekor terdapat aiae tateralis kecil. Pada yang
betina bersifat ovovivipar, mikrofilaria ada di darah setiap saat.
Patogenesis : Pada sikulusnya membutuhkan hospes intermedier
nyamuk seperti culex, aedes, anopheles, dan sebagatnya. Nyamuk
menghisap darah dari hospes defrnitif yang sakit, maka mikrofilaria
akan terhisap masuk ke nyamuk, menuju tubulus malphigi ke
rongga tubuh dan fabium dan kemudian dapat infektif selama 15-17
hari. Nyamuk dengan larva infektif akan menghisap darah dan
sekaligus memasukan mikrofilaria ke hospes, mengikuti aliran
darah, ke jantung, ke arteria pulmonalis.
Gejala klinis : Tergantung pada berat ringannya infeksi yang dapat
mengakibatkan simptomatis atau asimptomatis. Pada kasus kronis
dapat terjadi batuk, penurunan berat badan.
Penanganan : Pengobatan dapat diberikan dengan Levamizole yang
efektif terhadap mikrofilaria dengan dosis 10-15 mg/kg bb po

selama 14 hari. Ivermectin dapat berefek pada mikrofilaria, namun


tidak

untuk

cacing

dewasa.

Untuk

dewasa,

dapat

diberikan

Metersamin 2,5 mg/kg bb dengan jarak pemberian 24 jam efektif


untuk cacing filaria dewasa.
42.Melena
Melena adalah adanya darah yang telah tercerna di dalam feses.
Umumnya feses berwarna hitam atau coklat tua seperti tar. Faktor
risiko penyakit ini adalah pemberian kortikosteroid atau NSAID,
misal untuk terapi arthritis.
Penyebab : Erosi atau

ulserasi

gastrointestinal

Neoplasia

(lymphosarcoma dan adenocarcinoma), Infeksius (infeksi fungal


atau parasit), Inflamasi (benda asing, gastritis akut, gastroenteritis
hemoragis), Obat-obatan (NSAID atau kortikosteroid). Penyakitpenyakit yang dapat menyebabkan ulserasi gastrointestinal Gagal
ginjal, Penyakit Hepar, Pankreatitis, Hipoadrenokortisism, Neoplasia
(gastrioma dan tumor sel mast), Shock. Ingesti darah Diet, Lesi
oesophagus (neoplasia, oesophagitis), Lesi oral atau faringeal
(neoplasia atau abses), Lesi nasal (neoplasia, rhinitis fungal), Lesi
respirasi (torsio lobus pulmo, neoplasia, hemoptysis, pneumonia)
Koagulopati

Trombositopenia,

Faktor

beku

abnormal

(von

Willebrnads disease, ingesti rodentisida, defisiensi faktor beku),


Disseminated Intravascular Coagulation
Patofisiologi : Melena umumnya terjadi akibat perdarahan pada
gastrointestinal bagian depan. Namun dapat juga terjadi bila hewan
mengingesti darah dari rongga mulut atau saluran respirasi.
Gejala Klinis : Melena biasanya berkaitan dengan vomit, anoreksia,
berat badan turun atau membrana mukosa pucat. Pemeriksaan fisik
yang ditemukan bergantung pada penyebab penyakit.
Diagnosis : Hemogram menunjukkan anemia mikrositik hipokromik
bila pasien mengalami
perdarahan yang kronis,

neutrofilia

atau

trombositopenia.

Gambaran biokimia darah


menunjukkan penyebab melena ekstraintestinal (gagal ginjal atau
penyakit hepar). Urinalisis biasanya normal. Pemeriksaan lain profil
koagulasi biasanya abnormal. Pemeriksaan feses menunjukkan
penyebab (parasit). Prognosis sangat bergantung pada penyebab.
Pada

kasus

ulserasi

akibat

obat,

parasit,

benda

asing,

hipoadrenokortisism prognosisnya baik. Pada kasus gagal ginjal,


penyakit

hepar

atau

DIC

prognosisnya

infausta

bergantung

terhadap

respon

terapi.

Pada

kasus

keracunan

rodentisida

prognosisinya baik.
Terapi : Diperlukan terapi cairan bila terjadi hipovolemia karena
kehilangan darah. Gunakan larutan elektrolit yang seimbang
dengan suplementasi kalium. Lakukan transfusi darah atau packed
cell bila terjadi perdarahan yang hebat. Lakukan transfusi darah
atau plasma bila terjadi koagulopati. Bila pasien mengalami ulserasi
gastrik berikan protektan mukosa seperti H2 receptor antagonis
(Cimetidine, Ranitidine), Sucralfate.
43.Dyschezia dan Hematochezia
Dischezia adalah kesulitan defekasi yang disertai rasa sakit,
sedangkan hematochezia adalah adanya darah segar pada feses.
Penyebab : Penyakit rektum dan anus , Striktura, anal sacculitis
atau abses, fistula perianal, pseudocoprostasis, benda asing,
prolapsus rektum, proctitis, neoplasia, trauma (gigitan).Penyakit
kolon, Neoplasia (adenocarcinoma dan lymphosarcoma), idiophatic
megacolon,

inflamasi

(inflamatory

bowel

disease),

konstipasi

Penyakit-penyakit lain, Faktur pelvis atau kaki belakang, penyakit


prostat,

neoplasia

intrapelvis

Faktor

risiko

dyschezia

atau

hematochezia adalah hewan mengingesti rambut, tulang atau


benda asing yang memicu terjadinya konstipasi dan menyebabkan
dyschezia.
Patofisiologi : Ada keterkaitan dengan penyakit-penyakit pada
daerah kolon, rektum, anus. Gejala Klinis Tenesmus, feses sangat
keras jika pasien mengalami konstipasi. Pasien dengangejala
hematochezia biasanya ditemukan adanya massa atau polip melalui
palpasi digital pada rektum.
Diagnosis : Diferensial diagnosis,

bedakan

dari

dysuria

dan

stranguria.
Terapi : Berikan antibiotika untuk mengatasi infeksi bakterial.
Berikan antiinflamasi untuk
mengatasi kolitis (sulfasalazine atau prednisone). Berikan laksatif
(lactulosa,

docusate,

docusate

calcium).

Sebaiknya

tidak

memberikan bahan yang dapat meningkatkan isi feses (serat)


kecuali memang ada indikasi, seperti pada kasus kolitis. Laksatif
digunakan untuk memudahkan defekasi pada penderita penyakit
rektoanal.

Penyakit

rektoanal

(fistula

perianal

atau

hernia

perinealis) memputuhkan tindakan operatif. Pada penderita striktura


dapat dilakukan dengan baloon dilation.

44.Gastritis Akut
Gastritis akut adalah inflamasi pada gaster atau lambung yang
ditandai dengan vomit kurang dari 7 hari, dan tidak menunjukkan
gejala-gejala yang lain. Penyakit ini dapat terjadi pada semua anjing
dari segala umur. Hewan muda biasanya mengalami masalah
karena mengingesti benda asing.
Penyebab : Gastrik, Diet (makan basi, perubahan pakan mendadak,
toksin bakterial, alergi, diet lemak tingi pada hewan muda), ingesti
benda asing, tanaman, obat (NSAID) aspirin, phenylbutazone,
ibuprofen, glukokortikoid, agen infeksius (viral, bakterial), parasit.
Non gastrik,

Gagal ginjal, penyakit hepar, sepsis, shock, stress,

hipoadrenokortisism, penyakit neurologis.


Gejala Klinis : Vomit adalah gejala yang utama, biasanya segera
pulih dalam 24-48 jam setelah penyebab dihilangkan. Hewan
mungkin anoreksia, depresi, kadang disertai rasa sakit di abdomen.
Retching atau vomit mungkin terjadi saat dipalpasi abdomen.
Derajat dehidrasi bervariasi. Umumnya pemeriksaan fisik tidak
menunjukkan banyak perubahan. Gejala sistemik akan ditemukan
bila gastritis merupakan gejala sekunder akibat penyakit lain .
Diagnosis : Bila penderita mengalami vomit akut dan tidak
menunjukkan gejala, hanya membutuhkan terapi simptomatis tanpa
perlu uji-uji diagnostik. Namun bila ditemukan indikasi gejala serius,
tidak sembuh dalam 2-3 hari, atau semakin parah, diperlukan uji-uji
diagnostik.

Pada

umumnya

tidak

terjadi

perubahan

pada

pemeriksaan laboratorium. PCV dan totoal protein akan meningkat


bila terjadi dehidrasi. Hipokalemia terjadi akibat anoreksia yang
lama atau vomit profus.
Terapi : NPO (nothing per os) jika vomitnya frekuen. Mulai berikan
sedikit air minum 12-24 jam setelah vomit berhenti. Jika vomit tidak
frekuen dapat diberikan sedikit air minum. Mulai berikan makan
yang mudah dicerna dan rendah protein atau lemak, 24-36 jam
setelah vomit berhenti. Setelah 3-4 hari berikan pakan secara
bertahan

hingga

kembali

ke

diet

normal.

Umumnya

tidak

membutuhkan antiemetik, namun bila diperlukan dapat diberikan


chlorpromazine atau metocloporamide. Pemberian gastrik protektan
tidak diperlukan dan kadang justru meningkatkan vomit karena
iritasi lokal atau distensi gastrik. Pemberian antibiotika tidak
diperlukan. Pemberian antasida, dapat diberikan pada gastritis yang

berat menggunakan histamin antagonis reseptor H2. Lakukan terapi


cairan bila diperlukan. Larutan actated Ringers atau normal saline
umumnya dapat digunakan sebagai terapi cairan. Pemberian dapat
dilakukan secara subkutan. Berikan kalium klorida bila terjadi
anoreksia, vomit profus atau hipokalemia.
45.MEGACOLON PADA ANJING
DEFINISI
Megacolon adalah suatu gangguan fungsional

dimana terjadi

peningkatan diameter (pelebaran) pada kolon atau usus besar.


Perubahan struktur usus ini menyebabkan fungsi usus menjadi
abnormal, termasuk mengurangi motilitas kolon dan konstipasi
(sembelit) kronis. Kasus megacolon ini paling sering ditemukan
pada kucing dibanding anjing.
Penyebab : Beberapa penyebab megacolon diantaranya adalah
adanya

benda asing yang bercampur dengan kotoran atau yang

meyumbat bagian usus besar, kurang

gerak, adanya perubahan

pada litter box (kotor, perubahan letak, ganti dengan yang baru),
stres, fraktur (patah) atau dislokasi tulang panggul, abses di daerah
perineal, tumor, atresia rektal, spinal cord disease (penyakit tulang
belakang), congenital spinal anomaly, paraplegia (paralisis/lumpuh
bagian tubuh belakang), central nervous system dysfunction,
dysautonomia

(gangguan

system

syaraf

autonom),

idiophatic

megacolon, hypokalemia, dehidrasi, kelemahan otot yang ada


kaitannya dengan penyakit lain, pemberian obat-obatan seperti
antikolinergik, antihistamin, diuretic, dan barium sulfate.
Patofisiologi : Kotoran (feses) dapat bertahan di usus besar selama
beberapa hari pada anjing dan kucing tanpa menimbulkan suatu
kerusakan pada bagian tersebut. Namun penahanan kotoran yang
berkepanjangan akan mengganggu proses penyerapan air sehingga
feses menjadi lebih kering dan akan menjadi sangat sakit atau sulit
untuk dikeluarkan. Ketika kondisi ini semakin parah dan dalam
jangka waktu sangat lama maka akan menimbulkan perubahan
dalam motilitas usus besar.
Gejala klinis : kucing dan anjing yang mengalami megacolon akan
menunjukkan gejala mengalami kesulitan saat akan buang air
besar, merejan kesakitan, dan kotoran yang dikeluarkan sangat
sedikit jumlahnya. Gejala lain yang muncul antara lain menurunnya
nafsu makan, depresi, penurunan berat badan, dan muntah.

Diagnosa : Diagnosa pada kasus ini dapat diketahui dari anamnesa


yang diperoleh dan pemeriksaan fisik seperti perabaan pada bagian
perut dimana akan teraba bentuk feses yang keras atau bentuk
abnormal seperti massa yang menyumbat. Pemeriksaan yang lain
meliputi laboratorium seperti hematologi, kimia darah dan urinalisis,
xray, USG, dan colonoscopy.
Pengobatan : Pengobatan diberikan berdasarkan tingkat keparahan
kondisi dan penyebab utamanya. Pemberian obat pencahar atau
yang bersifat lubrikasi seperti lactulose, microlax diharapkan dapat
mengeluarkan kotoran (feses) dengan lebih mudah. Bila pasien
mengalami dehidrasi maka perlu diberikan cairan infus. Pemberian
makanan yang tinggi serat juga bisa membantu meningkatkan
motilitas dari usus besar. Namun bila terapi yang telah disebutkan di
atas tidak memberikan respon yang bagus maka harus dilakukan
colectomy yaitu pengangkatan sebagian ataupun seluruh bagian
dari usus besar.
46.Penyakit Congestive Heart Failure (CHF) pada Anjing
Definisi : Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologi dimana
jantung tidak dapat berfungsi memompakan darah dalam jumlah
yang memadai untuk memenuuhi kebutuhan metabolisme jaringan,
atau hanya dapat bekerja apabila tekanan pengisian (filling presure)
dinaikan.
Gejala klinis : Gejala klinis ditemukan adanya nafas abdominal,
tachypnoe, kaheksia, kelemahan otot serta daerah ekstremitas
tubuh yang dingin. Distensi abdomen akibat ascites terlihat cukup
besar dengan isi cairan kental kemerahan sebanyak 4,5 liter. Daerah
thorak terlihat adanya ictus cordis. Auskultasi jantung terdengar
tachycardia serta arritmia.
Terapi : Penanganan medis pada kasus gagal jantung ditujukan
dalam mengurangi gejala dan disfungsi jantung karena mayoritas
kasus,

gangguan

jantung

dan

gagal

jantung

tidak

dapat

disembuhkan. Gejala kongesti dapat diterapi dengan obat yang


mengurangi

cardiac

filling

pressure

(penurun

preload

seperti

diuretik dan venodilator) dan obat yang memudahkan kinerja


jantung (ionotropik positif dan dilatator arteri) (Tilley et al.
2008).Terapi yang diberikan meliputi pemberian obat ionotropik
positif dan vasodilatator (pimobendan 0,25 mg/kg BID) yang
dikombinasi dengan ACE-inhibitor (enalapril 0,5 mg/kg BID) dan

diuresis

(Furosemid

mg/kg

BID).

Selain

itu,

terapi

juga

menggunakan makanan diet khusus jantung, suplemen minyak ikan


dan multivitamin. Selain menggunakan terapi obat, terapi CHF juga
dikombinasikan dengan makanan diet khusus jantung.
47.Sebaceous Adenitis Pada Anjing
Definisi : Sebacous Adenitis (SA) adalah suatu penyakit kulit yang
bersifat idiopathic yang terjadi pada kelenjar sebaceous anjing
(Marsella 2008). Terdapat dua bentuk dari penyakit ini yaitu bentuk
lokal dan bentuk General. Bentuk local ditandai dengan area
terbatas dengan gejala klinis berupa alopecia, erythrema dan sisik
(scale) berlebihan dengan karakteristik yang melekat pada rambut.
Inflamasi dan pruritus bisa terjadi khususnya yang disertai dengan
pyoderma superficial. Bentuk ini paling sering muncul pada anjinganjing berbulu pendek dan sering diawali dari kepala atau wajah
dan bergerak ke caudal (White 2001). Bentuk yang kedua adalah
bentuk general.

Bentuk ini ditandai dengan jumlah sisik yang

sangat berlebihan pada kulit, alopecia dan kulit teraba kering saat
disentuh. Bagian belakang punggung, medial pinnae dan liang
telinga adalah daerah yang paling sering terpengaruh dalam bentuk
ini. Pruritus sangat bervariasi tetapi mungkin terjadi, terutama
apabila terjadi pyoderma yang disertai dengan infeksi sekunder
bakteri (White 2001).
Gejala Klinis : Gejala klinis yang muncul adalah kulit terlihat bersisik
pada daerah punggung mulai dari bagian bawah tengkuk hingga
ujung ekor, alopecia diseluruh bagian yang ditutupi sisik termasuk
ekor (rat tail), dan beberapa bagian muncul nodul yang berisi cairan
purulent. Saat disentuh bagian kulit anjing terlihat kesakitan,
khususnya pada daerah yang mengalami kemerahan. Dari hasil
pengamatan

dibawah

wood

lamp,

beberapa

kerak

terlihat

berpendar. Tidak terlihat ektoparasit apapun dari pemeriksaan


kerokan kulit.
muncul nodul yang berisi cairan purulent
Patogenesis : Teradapat empat teori yang menjelaskan penyebab
dan patogenesa dari penyakit ini, yang petama adalah penyakit
keturunan yang menyebabkan kerusakan dari kelenjar sebaceous.
Kedua penyakit ini bisa juga disebabkan akibat munculnya respon
immune yang diperantarai sel terhadap kelenjar sebaceous. Ketiga
gangguan

proses

keratinisasi

yang

disebabkan

karena

tersumbatnya saluran sebaceous yang disebabkan karena adanya


peradangan pada kelenjar tersebut. Keempat, penyakit ini dapat
disebabkan oleh abnormalitas dari produksi lipid pada kulit (dermal).
Setelah menajalani pengobatan selama 40 hari, terlihat perbaikan
yang signifikan dari kulit Ubi. Kulit terlihat tidak berkerak, tidak
kemerahan dan tidak sakit saat disentuh (gambar 1 kanan). Bulubulu halus juga mulai tumbuh dibeberapa bagian. Omega 3 dan
omega 6 merupakan asam lemak esensial yang memiliki banyak
fungsi. Salah satu fungsinya adalah sebagai antiinflamasi. Selain itu
komponen utama dari sebum adalah asam lemak, sehingga
pemberian supplement omega 3 dan 6 sangat tepat dalam
penangan kasus ini. Pemberian supplement yang mengandung zinc
pada kasus ini bertujuan untuk mempercepat persembuhan luka
dan

regenerasi

sel

kulit

mengingat

fungsi

Zinc

yang

erat

hubungannya dengan proses sintesis DNA. Selain itu perbaikan


nutrisi dengan makanan yang mendukung fungsi kulit juga berperan
cukup besar dalam persembuhan penyakit ini. Melihat perbaikan
yang cukup baik tanpa memberikan obat-obatan untuk penyakit
yang bersifat autoimmune maka teori ketiga (gangguan keratinisasi)
dan teori keempat (abnormalitas produksi lipid) dapat dijadikan
kausa utama yang paling memungkinkan pada kasus Sebaceus
Adenitis yang dialami ubi.
Terapi : Terapi yang diberikan adalah suplemen omega 3 dan 6 bid
(Megaderm Virbac), suplemen dengan kandungan zinc, selenium
dan multivitamin bid, serta liver protectant sid. Selain itu setiap
harinya kulit bagian kerak digosok dengan air yang sudah dicampur
dengan shampoo yang mengandung chlorhexidine 3% (Pyoderm
Virbac Shampoo) dengan perbandingan 3:1 sid. Setiap 1 minggu
sekali anjing dimandikan dengan shampo yang mengandung
keratolitic agent (Sebolytic Virbac Shampoo). Anjing diberikan
pakan khusus untuk menunjang dan memperbaiki kualitas kulit.
48.Pyometra
Definisi : Pyometra, secara harfiah berarti nanah di dalam uterus,
adalah penyakit umum yang khas pada anjing betina yang belum di
steril. Kejadian pyometra biasanya terdiagnosa mulai dari 4 minggu
sampai 4 bulan setelah estrus. Penyakit ini akan menyebabkan
perubahan yang tidak signifikan pada stadium awal, oleh karena itu,

pada prosesnya penyakit ini lambat terdiagnosa. Anjing dengan


pyometra dapat memiliki discharge vagina (open-cervix pyometra)
atau tanpa discharge vagina (closed-cervix pyometra) dan tidak
jarang juga disertai dengan terbentuknya kista. Closed-cervix
pyometra adalah kasus darurat yang membutuhkan penanganan
cepat

untuk

mencegah

sepsis

dan

kemungkinan

terjadinya

kematian (Smith 2006).


Gejala Klinis : Gejala klinis yang tampak pada anjing yang menderita
pyometra adalah penurunan napsu makan, depresi, polidipsi, lemah,
dan mengalami distensi abdominal dengan atau tanpa discharge
vagina. Discharge vagina, dapat bersifat purulen, sanguinopurulen
(mirip dengan sup tomat), mukoid atau hemoragi akut. Pada
gambaran

hasil darah (laboratorium),

biasanya akan tampak

peningkatan jumlah sel darah putih dan azotemia prerenal yang


muncul

bersamaan

dengan

dehidrasi

hiperglobulinemia) (Smith 2006).


Patogenesis : Patogenesa pyometra

(hiperproteinemia

pada

anjing

dan

melibatkan

stimulasi estrogen pada uterus yang diikuti dengan interval


progesteron dominan yang diperpanjang. Ketika anjing betina
semakin tua, stimulasi estrogen semakin sedikit dan terjadi
dominasi progesteron. Hasil dari dominasi progesteron ini adalah
proliferasi endometrium, peningkatan sekresi lendir uterus, dan
penurunan kontraksi myometrium. Karena myometrium mengalami
penurunan kontraksi dan sekresi lendir meningkat menyebabkan
uterus kesulitan untuk mengeluarkan lendir. Kesulitan pengeluaran
lendir oleh uterus menyebabkan bakteri yang terdapat di dalam
vagina mudah untuk sampai ke dalam uterus. Bakteri yang masuk
ke dalam uterus akan bersatu dengan lendir yang terdapat di
uterus.

Lendir

tersebut

merupakan

media

yang

baik

untuk

pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri dapat berkembang biak


dengan cepat. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya akumulasi
nanah di dalam uterus (Lopate 2010).
Diagnosa : Diagnosa terbaik untuk membuktikan terjadi atau
tidaknya pyometra adalah dengan melakukan ultasonografi dan
radiografi. Apabila dilakukan ultrasonografi, maka akan terlihat
adanya cairan di dalam uterus, disertai dengan terlihatnya dinding
uterus yang menebal. Sedangkan penampakan radiografi yang

terlihat adalah adanya bentukan tubular yang terisi oleh cairan, dan
terletak diantara colon decenden dan vesica urinaria (Lopate 2010).
Pengobatan : Pengobatan pyometra pada anjing dapat dilakukan
dengan 2 metode, yaitu metode operasi dan metode tanpa operasi
(dengan obat-obatan). Metode terbaik adalah dengan dilakukan
operasi

ovariohysterectomy.

dilakukan

pada

pyometra

ovariohysterectomy

juga

Teknik
jenis

dapat

ovariohysterectomy
tertutup

mencegah

maupun
kejadian

umum
terbuka,

pyometra

berulang pada anjing (Rootwelt-andersen dan Farstad 2006)


49.Gastric Dilatation Volvulus/ Torsio Lambung/Bloat
Definisi : Suatu keadaan dimana lambung mengembang berisi gas
( gastric dilatation) yang dapat menyebabkan shock dan kematian.
GDV bisa diartikan lambung yang mengembang berisi udara dan
terpuntir pada sumbu longitudinal (volvulus).
Patofisiologi : Penyebab utama belum di ketahui tetapi di duga
karena anjing memakan dogfood kering dalam jumlah besar
kemudian meminum banyak air sehingga menyebabkan dogfood
mengembang dan pada saat bersamaan hewan tersebut melakukan
aktifitas berlari atau melompat sehungga menyebabkan lambung
terpuntir.

Ada teori yang menyatakan lambung kehilangan ritme

kontraksi reguler sehingga udara terjebak di dalamnya sehingga


menyebabkan lambung terpuntir. Jika lambung membesar isi udara
menyebabkan tekanan pada vena besar pada abdomen yang
membawa darah kembali ke jantung, akibatnya adanya kekurangan
dari output darah dari jantung. Pengurangan darah pada lambung
menyebabkan

jaringan akan kekurangan darah dan oxygen, jika

tidak segera di tangani akan menyebabkan rupturnya dinding


lambung. Digesti juga terhenti saat terjadi sumbatan pada lambung
sehingga toxin akan terakumulasi yang mengakibatkan peradangan
serta terserapnya toksin ke dalam sirkulasi darah, dan terjadi DIC
(disseminated intravascular coagulation)
Gejala Klinis : Breed pre disposisi : pada anjing dengan dada yang
dalam dan ras besar atau raksasa ( Great danes, Irish, German
Shepherds, Bassett Hounds, Afgan Hounds)
Lambung terlihat besar melewati tulang iga, palpasi lambung berisi
udara (dari sebelah kiri) Anjing gelisah dan stress, nafas sesak
.Hewan shock

Terapi : cairan intravena Tekanan udara dalam lambung harus


segera di keluarkan, memasukan stomach tube dari mulut ke
lambung atau menusukkan jarum besar dari kulit luar ke lambung.
Operasi
pengembalian
posisi
lambung,
dan
gastropexy
( menggantungkan lambung ke dinding perut agar kejadian ini tidak
terulang)
50.Atopic Dermatitis
Atopic Dermatitis adalah penyakit kulit pada anjing yang disebabkan
karena alergi.
Etiologi: Atopic Dermatitis disebabkan oleh berbagai macam, mulai
dari pakan, lingkungan, serbuk bunga, debu, dan lain-lain. Atopic
dermatitis umumnya diderita oleh anjing yang mulai beranjak usia
1-3 tahun.
Patogenesis: Anjing yang peka (seperti Boston terrier, Cairn Terrier,
Dalmatian, Westland High Terrier, Scottish Terrier, Golden Retriever,
Lha apsos, Pug, English bulldog) akan menjadi tersensitisasi oleh
alergen lingkungan dengan memproduksi IgE-specific allergen yang
akan mengikat reseptor mast cell cutaneous. Eksposur allergen
yang lebih lanjut, via perinhalasi atau percutan, akan menyebabkan
degranulasi

mast

cell

dan

basofil

yang

akan

menyebabkan

hypersensitivitas cepat (Tipe I) dan akan menghasilkan pelepasan


histamin, heparin, dan enzim proteolitik dan berbagai mediator
kimia lain.
Gejala Klinis: Gejala yang paling sering karena penyakit ini antara
lain

gatal-gatal,

menggigit-gigit

dan

menjilat

kaki

(foot

licking/rubbing) dimana gejala pertama terlihat dimulai dari usia 1-3


tahun. Gejala lain yaitu infeksi kulit (Pyoderma) dan jamur yang
selalu berulang dan kambuhan. Lokasi gatal dan lesi biasanya
tersebar di daerah wajah, kaki depan, ketiak, bawah leher dan
bawah abdomen. Gejala lain yang khas adalah respon positif
dengan obat kortikosteroid.
Penanganan dan Pencegahan:

Terapi untuk Atopic Dermatitis yaitu dengan menjauhkan


bahan alergen yang menyebabkan pasien menjadi alergi. Terapi
asam lemak EPA & DHA yang terkandung dalam minyak ikan
menunjukkan hasil yang signifikan bila diminumkan lebih dari 8
minggu.

Terapi

obat-obatan

bisa

dengan

kortikosteroid,

imunosupresan atau antihistamin untuk mengurangi sensasi alergi.

Di luar negeri sudah mencoba terapi dengan Allergen Specific


Immunotherapy.
51.Dysphagia
Dysphagia merupakan

gejala

kesulitan

menelan

yang

dapat

disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengunyah makanan serta


tidak dapat membentuk dan . Gejala klinis yang timbul yaitu berupa
Hipersalivasi, gagging, berat badan turun, berusaha menelan
berulang-ulang,menelan dengan posisi leher abnormal, regurgitasi,
batuk (aspirasi), sakit saat menelan.
Patogenesis : terjadi obstruksi mekanis pada mulut atau faring
terjadi disfungsi neuromuskular sehingga menyebbkan ggerakan
menelan yang lemah dan inkoordinasi rasa sakit saat mastikasi
atau menelan.
Pengobatan : terapi Suport nutrisi .Pada disfagia oral, pasien dapat
menelan bila bolus makan ditempatkan pada kaudal faring. Hal ini
dilakukan secara berhati-hati agar tidak terjadi aspirasi pneumonia.
Kepala dan leher dinaikkan akan mempermudah proses menelan
pada pasien disfagia faringeal atau krikofaringeal. Jika tidak, lakukan
terapi

cairan

secara

parenteral.

Disfagia

tidak

mudah

diatasi,pengobatan disphagia sebaiknya diarahkan pada penyebab


penyakit, atau dapat diberikan antibiotika spektrum luas dan
kortikosteroid sebagai antiinflamasi bila tidak ditemukan penyakit
yang spesifik.
52.Salivary mucocele
Salivary mucocele dikenal juga dengan sebutan sublingual gland
and diet injury. Salivary mucocele adalah pengumpulan mukus
saliva yang disebabkan buntunya saluran saliva atau kerusakan
jaringan saliva akibat inflamasi. Salivary mucocele ini dapat terjadi
pada anjing dan kucing. Bangsa anjing yang sering menderita
adalah AGJ dan Poodle (toy, miniatur). Tidak ada kecenderungan
terhadap jenis kelamin dan masih belum ada laporan yang bersifat
heriditer. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Traumatik dapat
terjadi akibat penetrasi benda asing atau gigitan. Sebab inflamasi
biasanya berupa sialoadenitis atau adanya benda asing. Sedangkan
sebab sekunder, biasanya berasal dari carnassial abcess atau
neoplasia.
Gejala klinis yang dapat ditimbulkan yaitu : bervariasi, berdasarkan
tingkat keparahan dan lokasi lesi. Kelenjar sublingual merupakan
kelenjar saliva yang sering terkena. Kadang ditemukan rasa sakit,

kadang tidak. Hewan bisanay akan mengalami disfagia, anoreksia,


stridor hemoragi atau dispnea. Pada prinsipnya tidak obat yang
dapat digunakan. Terapi yang disarankan adalah operatif. Lakukan
drainage atau lancing dengan tujuan untuk mengurangi atau
membuang hasil produksi saliva sehingga dapat keluar dari kelenjar.
Bisa juga dengan melakukan drainage secara periodik.
Tindakan definitif adalah dengan melakukan drainage atau reseksi
mucocele. Biasanya kelenjar submandibula dan sublingual secara
bersama-sama direseksi. Langkah alternatif adalah melakukan
reseksi marsupialisasi atau redireksi aliran saliva. Namun langkah
ini masih sering menyebabkan kambuh. Amati abnormalitas pasca
operasi. Disfungsi episodik jarang terjadi dan biasanya bersifat
transient. Kambuh umumnya dibawah 5% dan lebih disebabkan
reseksi yang tidak total, reseksi pada kelenjar yang salah atau
adanya

kerusakan

kelenjar

akibat

penanganan

(iatrogenik).

Prognosis baik pada kasus yang tidak disertai penyakit lain.


53.Hepatozoon
Patogenesis: Merogoni terjadi dalam limpa dan sumsum tulang. Ada
beberapa tipe meront yaitu makro meront dan mikromeront.
Mikromerozoit masuk kedalam leukosit dan membentuk gamont
yang dikelilingi kapsul lebut. Vektor dari penyakit ini adalah caplak
Rhipicephalus sanguineus. Nimfa juga dapat menularkan infeksi.
Anjing terinfeksi karena memakan caplak yang terinfeksi.
Gejala klinis: Gejala klinis dari hepatozoon adalah demam, kurus,
anemia Dan limpa membesar. Anjing dapat mati pada umur 4-8
minggu.
Pengendalian dan Pencegahan: Pengendaliannya dilakukan dengan
mencegah infestasi caplak.
54.Otodectes cynotis (Ear Mite)
Tungau telinga adalah parasit. Tungau telinga merupakan parasit
yang sangat kecil yang hidup di telinga anjing dan kucing, dimana
pakan tungau tersebut adalah darah, yang menghasilkan kotoran
pada telinga, dan minyak kulit. Tungau telinga pada anjing dan
kucing adalah Otodectes cynotis yang biasanya menghabiskan
seluruh siklus hidup di dalam dan di sekitar saluran telinga.
Pathogenesis : Awal infeksi ada eksudat seperti lilin berwarna coklat,
menjadi berkerak, tungau hidup didalam kerak diatas kulit, jika ada
infeksi bakteri sekunder otitis yang purulen.

Gejala Klinis : Gejala- gejala yang timbul adalah kebanyakan hewan


akan

menggosok

dan

menggaruk

telinga

sesering

mungkin,

tergantung tingkat keparahan. Daerah rambut akan rontok dan bisa


menyebabkan aural hematoma karena melepuh darah banyak oleh
pecahnya pembuluh darah kecil antara kulit dan tulang rawan dari
telinga yang disebabkan oleh menggaruk telinga. Dalam kondisi
parah kanal telinga akan berdarah, baik darah segar atau kering
akan muncul di dalam kanal. Darah kering menyerupai bubuk kopi.
Apabila semakin dibiarkan akan timbul bakteri dan ragi dapat
memperburuk peradangan saluran telinga. Tungau telinga sangat
umum, tetapi bisa menjadi penyakit serius. Jika tidak diobati,
tungau akan merusak saluran telinga dan gendang telinga sehingga
dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen.
Diagnosa : Mendiagnosa tungau telinga terlebih dahuiu dengan
pemeriksaan

fisik

kemudian

diperiksa

dengan

menggunakan

otoscopic untuk melihat kondisi telinga hewan kesayangan anda.


Setelah itu dapat dilakukan dengan swab kotoran dalam telinga
untuk diuji di bawah mikroskop.
Pencegahan dan Pengobatan : untuk pengobatan tungau dapat
dilakukan dengan membersihkan telinga hewan kesayangan anda
setiap hari dan pemberian obat untuk membunuh tungau telinga
tersebut. Obat yang diberikan adalah obat tetes telinga yang
mengandung

antiparasit

seperti

pyrethrins;

ivermectin;

thiabendazole; rotenone dan selamectin. Pencegahan penyakit ini


adalah telinga hewan kesayangan anda rajin dibersihkan setiap hari,
amati tingkah laku mereka yang suka menggaruk-garuk telinga.
Apabila rambut hewan kesayangan panjang dapat dipotong agar
lubang telinga tidak lembab.
55.Meliodosis
Melioidosis adalah suatu penyakit yang menyerupai glanders,
menyerang berbagai jenis hewan dan manusia. Pertama kali
dilaporkan oleh Whitmore dan Krishnaswani di Rangon pada tahun
1912. Gambaran umum penyakit ini adanya septisemia, pyemia dan
pembentukan granuloma yang khas pada hampir semua bagian
tubuh. Di daerah endemis, Melioidosis adalah penyakit penting
pengebab sakit dan kematian pada manusia dan hewan. Bersifat
epizootik pada marmot dan kelinci. Penyakit ini juga menyerang
tikus liar yang diduga merupakan reservoar penyakit. Manusia

tertular karena gigitan kutu tikus Xenosylla cheopsis atau nyamuk


Aedes aegypti. Serum pasien dapat mengaglutinasi bakteri pada
pengenceran 1:2.560. Gambaran nekropsi dan klinisnya adalah
serupa dengan Malleus (Glanders) pada kuda.
Kasus penyakit pernah dilaporkan terjadi pada rodentia, kelinci,
burung rnerpati, hewan-hewan di kebun binatang termasuk rusa,
anjing, kucing, kuda, kerbau, sapi, domba, kambing dan babi.
Penyakit ini dapat dibuat secara eksperimental pada tikus besar
(rat), tikus kecil (mice) dan hamster. Penyakit dapat juga terjadi
pada manusia.
Pengobatan
Hanya sedikit informasi yang ada tentang pengobatan yang
memuaskan terhadap melioidosis. Pengobatan dengan pemberian
antibiotik.

Uji

in-vitro

menunjukkan

bahwa

oxytetracycline,

novobiosin, chloramphenicol dan sulphadiazine mungkin sangat


bermanfaat dan diantaranya oxytetracycline adalah yang terbaik.
Penicillin, streptomycin, chlortetracycline dan polymixin tidak efektif
dalam pengobatan melioidosis. Chloromycetin sudah terlihat efektif
untuk pengobatan pada kuda. Rifampicin, chloramphenicol dan
tetracycline paling efektif, sedang ampicillin dan kanamycin kurang
efektif.

Kanamycin

dan

sulfadiazine

mengurangi

aktifi

tas

pengobatan pertama bila dikombinasi dengan chloramphenicol atau


tetracycline.
56.Seborrhea
Seborrhea menyebabkan

kulit

anjing

jadi

berminyak

dan

menyebabkan ketombe. Pada beberapa kasus seborrhea merupakan


penyakit genetik yang terjadi pada anak anjing dan menetap
seumur hidupnya.tetapi kebanyakan anak anjing terserang ketombe
karena komplikasi penyakit lain seperti alergi dan kelainan hormon.
57.Alopesia
Alopesia atau kerontokan rambut adalah penyakit yang
menyebabkan rontoknya rambut lebih dari biasanya. Penyebabnya
adalah stres, kurangnya nutrisi dan usia dari anjing tersebut.
58.Mites
Mange merupakan kelainan pada permukaan kulit yang disebabkan
oleh tungau mites. Sarcptic mange menyebar dengan mudah tetapi
tidak dapat bertahan hidup lama.
Gejalanya adalah rasa gatal

yang

berlebihan,

kulit

yang

memerah,sakit dan rontoknya bulu. Daerah yang paling diserang


adalah telinga, wajah dan kaki.

59. Acral Lick Granuloma


Merupakan kondisi yang menyebabkan anjing mengalami stres,
untuk menjilati suatu daerah secara terus menerus(biasanya bagian
baawah

kaki

depan).area

tersebut

tidak

dapat

sembuh

dan

menyebabkan gatal.
60. Tumor Kulit
Tumor kulit merupakan tonjolan keras pada permukaan kulit anjing.
Cara mendiagnosa tumor tersebut melalui biopsi tumor.
B. Penyakit Pada Kucing
1. Feline Panleukopenia Virus
Semua anggota keluarga Felidae mungkin rentan dengan
infeksi virus kucing panleukopenia, yang terjadi di seluruh dunia.
Panleukopenia

kucing

bisa

sangat

parah

dan

menyebabkan

tingginya mortalitas pada hewan yang rentan.


Epidemiologi dan Gejala klinis
Virus panleukopenia kucing sangat menular. Virus dapat
diperoleh melalui kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi
atau

melalui

fomites

(muntahan);

kutu

dan

manusia

dapat

bertindak sebagai vektor mekanik. Virus terdapat dalam tinja,


muntahan, urine, dan air liur, dan sangat stabil di lingkungan.
Gejala klinis yang timbul akibat terinfeksi virus ini yaitu :
demam (lebih dari 40 C), yang dapat bertahan selama 24 jam
atau lebih. Kematian dapat terjadi pada fase ini jika merupakan
gejala perakut. Gejala lainnya adalah dehidrasi ( faktor utama pada
infeksi fatal ), kelelahan, inappetence atau anorexia, bulu kasar, dan
sering muntah. Kucing akan duduk di dekat air atau tempat
minumnya, seperti haus, tetapi tidak minum, kucing menggigit
ekornya sendiri, bulu kusam, punggung bawah dan punggung kaki
dan anemia. Diare berdarah juga dapat terjadi pada kucing yang
bertahan dari fase perakut yaitu pada hari ke-3 atau ke-4.
Patogenesis
Virus masuk ke dalam tubuh replikasi awal virus di jaringan
limfoid faring Viremia (akumulasi virus dalam darah) menyebar
ke seluruh tubuh dan menginfeksi sel-sel yang memiliki reseptor
yang sesuai leukosit perifer dirangsang oleh virus untuk
berpoliferasi sehingga membantu virus dapat kembali bereplikasi
dalam sel kematian sel dan penghancuran elemen sel darah putih
virus ini karena viremia maka akan menyerang sel pada kripta

usus

kegagalan

absorbsi

diare

lama

kelamaan

menyebabkan dehidrasi kematian.


2. Dermatophytosis Pada Kucing
Dermatophytosis, secara awam dikatakan sebagai penyakit
kulit yang disebabkan oleh jamur, tanpa harus mengetahui spesies
jamur kulit tersebut. Dermatophytosis pada kucing umumnya
zoonotik dan sangat tinggi penularannya. Penanganan penyakit ini
cukup sulit karena sering terjadi reinfeksi disamping membutuhkan
waktu dan biaya tinggi. Sporan jamur akan menetap dalam periode
yang lama dalam lingkungannya, melalui spora penyakit dapat
menular tidak saja lewat kontak terhadap hewan yang terinfeksi
juga dapat melalui kandang yang pernah digunakan hewan
terinfeksi, lewat sisir grooming, collar, dan bulu kucing.
Epidemiologi
Pada umumnya kasus dermatophytosis pada

kucing

disebabkan oleh jamur Microsporum canis, microsporum gypseum


dan Trichophyton. Sebaiknya untuk kucing-kucing yang diduga
terinfeksi jamur, dilakukan pengujian laboratorium kerokan untuk
diisolasi jenis jamurnya. Penyakit FIV (Feline Immune deficiency
Virus) dapat timbul bersamaan dengan dermatophytosis. Beberapa
kejadian tersebut diatas diperkirakan faktor kerentanan penyakit ini
juga ada kaitannya dengan pengaruh genetik, baik pada manusia
maupun kucing.
Faktor-faktor predisposisi kucing yang mudah terkena infeksi
jamur ini adalah :
Iklim yang lembab dan hangat
Kesehatan yang memburuk
Rendahnya nilai kesadaran akan pentingnya kesehatan
hewan
Kesayangannya untuk tingkat sosial tertentu
Buruk sanitasi kandang per grup, kucing liar yang tidak
terkontrol karena dibebaskan keluar rumah
Berhubungan atau berdekatan dengan sejumlah kucing
liar atau kelompok kucing yang berjumlah besar
(misalnya ditempat penitipan)
Kucing dari segala umur, namun di tempat klinik sering
ditemukan pada usia mudan dan kucing tua
Kucing dengan bulu panjang
Gejala Klinis
Gejala
klinis
dari
dermatophytosis
berhubungan
pathogenesisnya,

dengan

dermatophytosis memnginvasi rambut dan epitel tanduk. Jamur


akan merusak rambut, dan mengganggu keratinisasi kulit normal,
secara klinis bulu rontok, timbul kerak, sehingga dapat juga
terinfeksi dengan kuman lain :
Gatal
Bulu rontok dan pitak bisa sebagian kecil simetris
ataupun asimetris dengan peradangan maunpun tanpa
peradangan
Kerak-kerak,

kemerahan,

sampai

lecet

dapat

berkembang di daerah muka, pipi, telinga, kuku, kaki


depan, ekor dan sebagian badan.
Hyperpigmemtasi walaupun jarang terjadi
Kucing dengan dermatophytosis yang

parah

dan

sistemik kadang disertai dengan muntah, konstipasi


atau hairball.
3. Feline Infectious Peritonitis (FIP)
FIP adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Feline
Coronavirus (FcoV), yang termasuk ke dalam golongan virus RNA,
yang mudah bermutasi. Ada dua tipe dari FcoV yaitu Feline Enteric
Coronavirus (FECV) dan Feline Infectious Peritonitis Virus (FIPV).
Pada dasarnya kedua tipe tersebut secara genetik tidak ada
perbedaan, naum menimbulkan akibat yang berbeda pada kucing
yang terinfeksi.
FECV biasanya menginfeksi bagian sel epitel usus dan dikeluarkan
melalui kotoran, air liur, maupun bentuk sekresi yang lain. Virus
FECV bertahan lama di lingkungan, 6 minggu. Litter box atau
debu yang terkontaminasi berperan dalam penyebaran virus ini.
Uniknya untuk kucing yang terinfeksi FECV tetap terlihat sehat,
tidak menunjukan gejala sakit apapun. Namun dalam beberapa
kasus, kucing yang terinfeksi FECV akhirnya akan mengalami infeksi
FIPV karena FECV akan bermutasi menjadi FIPV.
FIPV biasanya akan menginfeksi monosit dan makrofag dan tidak
bertahan lama pada sistem pencernaan, sehingga jarang ditemukan
pada kotoran.
Gejala klinis yang umum muncul pada kasus ini adalah lethargy,
anoreksia, berat badan yang menurun drastis, demam yang naik
turun, pertumbuhan yang tidak normal dari kitten dan ikhterus.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam family
Coronaviridae. Virus ini berbentuk pleomorfik dan berdiameter 100

nm. Virus FIP erat hubungannya dengan coronavirus anjing dan


coronavirus 229E pada manusia.
Cara penularan
Infeksi virus FIP hanya ditemukan pada kucing dan umumnya
ditemukan

secara

sporadik.

Mengenai

cara

infeksi

terjadi

sesungguhnya belum jelas. Virus ditemukan dalam darah dan


eksudat kucing sakit. Sebagian besar infeksi berlangsung secara
subklinis.
Pada kucing yang terinfeksi ditemukan antibodi spesifik dengan titer
tinggi,

disamping

itu

kucing

memperlihatkan

hipergammaglobulinemia. Pada penyakit ini mungkin kompleks


antigen-antibodi dan komplemen memegang peranan.
Gejala Klinis
Mungkin sekali waktu inkubasi pada infeksi alami berlangsung
beberapa bulan. Sesudah infeksi secara eksperimental waktu
inkubasi biasanya lebih pendek. Penyakit mulai dengan gejalagejala tidak khas, kehilangan nafsu makan, lesu, suhu tinggi dan
kemudian terjadi asites.
Palpasi abdomen tidak

menimbulkan

gejala

nyeri

walaupun

peritonitis telah berkembang. Sekali-kali terjadi pleuritis dengan


pembentukan cairan dalam toraks sehingga kucing sesak nafas.
Gejala saraf biasanya terlihat seperti paresis, ataksis, gangguan
koordinasi, hiperestesi dan kekejangan. Biasanya kucing mati dalam
1-8 minggu sesudah terlihat gejala-gejala jelas.
Diagnosa
Diagnosa ditetapkan berdasarkan gejala klinis,

pemeriksaan

histopatologis dan pemeriksaan laboratorium. Pada kasus-kasus


klasik, diagnosa tidak sulit. Bila kucing di punksi maka dari ruang
abdomen keluar cairan berlendir dan sebagian akan membeku bila
kena udara luar. Secara histopatologi ditemukan lesi berbentuk
granuloma dan biasanya nekrosa ditemukan pada serosa dan alatalat tubuh.
Pemeriksaan laboratorium dengan tes imunoflouresensi indirek
dilakukan untuk membuktikan adanya antibodi. Pada kucing yang
secara

klinis

kelihatan

sehat

dapat

ditemukan

badan-badan

penangkis. Titer yang sangat tinggi hanya terlihat pada kucing yang
klinis menderita FIP.
Diagnos Banding
Penggumpalan cairan dalam rongga perut dan dada menimbulkan
dugaan mengenai adanya gangguan jantung, tumor, piometra,

sobek kandung kencing dan peritonitis oleh infeksi bakteri dan


jamur.
Kelainan-kelainan pada mata selain pada FIP juga ditemukan pada
toksoplasmosis

dan

leksosis.

Gejala

saraf

ditemukan

pada

toksoplasmosis, infeksi mikotis, dan ensefalopati bacterial.


Pencegahan dan Pengobatan
Bila diagnosa FIP sudah ditentukan maka prognosanya sulit. Untuk
pencegahan, vaksinasi belum ada. Kucing yang terinfeksi sebaiknya
disingkirkan/musnahkan.
Jaga kebersihan kandang & peralatan, dicuci dengan sabun,
deterjen atau desinfektan. Bahan yang murah meriah & cukup
efektif adalah larutan kaporit/pemutih + 3 %. Jaga kesehatan kucing
dengan pemberian nutrisi yang cukup dan baik. Vaksin FIP pertama
digunakan tahun 1991 di USA. Sampai saat ini efektivitas vaksin
masih diperdebatkan. Sampai saat ini Vaksin FIP belum tersedia Di
Indonesia.
4. Feline Leukemia (Feline Lymphosarcoma atau Lekosis)
Yang dimaksud lekosis kucing adalah proliferasi ganas sistem
hemopoietis pada kucing. Penyakit ini mungkin sekali tersebar di
seluruh dunia, dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan terbatas.
Lekosis kucing dan yang menginfeksi lembu sangat berguna
sebagai model untuk mempelajari gerak sebab leukemia pada
manusia.
Etiologi
Penyakit leukemia kucing disebabkan oleh retrovirus atau dikenal
sebagai feline lekosis virus (FeLV) yang tergolong dalam keluarga
(subfamily) retroviridae. Pada kucing ditemukan dua kelompok
retrovirus. Satu dari dua kelompok itu dapat menyebabkan lekosis.
Kelompok kedua terdiri dari satu atau lebih retrovirus yang bersifat
endogen (hidup laten dalam sel) dan xenotroop (dapat bereplikasi
dalam sel biakan spesies lain dan tidak menimbulkan lekosis pada
kucing.
Cara Penularan
Virus FeL tersebar melalui kontak. Kucing terinfeksi mengeluarkan
virus melalui air liur. Kucing yang pada pemeriksaan darah dengan
tes imunoflouresensi nyata membawa antigen virus hendaknya
dimusnahkan.
Lekosis kucing dapat dipindahkan pada kucing muda melalui infeksi
hewan mati atau material yang telah disaring.
Gejala Klinis

Lekosis pada kucing ditemukan pada kucing semua umur, tetapi


yang paling banyak ditemukan pada kucing berumur muda atau di
bawah 5 tahun.
Inkubasi penyakit ini sangat panjang yaitu berbulan-bulan hingga
bertahun-tahun. Umumnya gejala klinis tidak ditemukan atau
kurang khas. Kucing sakit menderita demam dan anemia yang
bersifat progresif. Pada palpasi abdomen limpa dan hati yang
bengkak.
FeLV juga

dapat

menimbulkan

bermacam-macam

gambaran

penyakit seperti limfosarkoma, leukemi disertai anemia progresif


dan terjadi atrofi timus pada anak kucing dengan gejala yang
menyerupai panlekopenia pada kucing muda.
Jangka waktu penyakit bervariasi antara 2-6 bulan. Lekosis pada
kucing dianggap sebagai tumor yang terbanyak ditemukan pada
kucing.
Diagnosa
Diagnosa ditetapkan berdasarkan gejala klinis dilengkapi dengan
pemeriksaan laboratorium, memeriksa material hewan atau biakan
sel kucing terinfeksi. Tes imunoflouresensi dapat digunakan untuk
memeriksa sediaan ulas darah dan sumsum tulang. Kucing yang
pada pemeriksaan positif mempunyai prognosa jelek walaupun
masih sehat pada waktu pemeriksaan.
Diagnosa Banding
Demam, anemia, bengkak limpa dan kalenjar dapat ditemukan pada
anemia

menular

(disebabkan

oleh

Haemobartonella

felis),

toxoplasmosis, peritonitis menular, infeksi bakterial menahun dan


tumor ganas dapat menimbulkan gejala yang sama.
Penanganan
Kucing yang positif terinfeksi virus ini sebaiknya dimusnahkan
meskipun kelihatannya sehat untuk menghindari penularan lebih
lanjut terhadap kucing-kucing lain yang sehat.
5. Rhinotracheitis
Rhinotracheitis dikenal juga sebagai penyakit bersin atau
Feline Viral Rhinotracheitis (FVR) adalah penyakit akut pada bagian
muka jalan respirasi kucing. Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia
di mana ada kucing dipelihara.
Etiologi
Penyakit bersin kucing ini disebabkan oleh Herpesvirus golongan A.
Virus ini termasuk virus DNA beruntai ganda, bersimetri ikosahedral
dan mempunyai selubung protein.
Cara Penularan

Feline Viral Rhinotracheitis (FVR) baru dikenal sebagai penyakit


sendiri sewaktu banyak kucing dipelihara bersama. Infeksi diduga
terjadi per inhalasi. Virus bereplikasi dalam epitel jalan hawa muka,
konjunktivita dan mengakibatkan nekrosa lokal. Pengeluaran virus
terjadi antara lain melalui sekret hidung, konjunktivita dan urin.
Penularan dapat berjangkit dalam satu koloni kucing secara laten.
Hewan yang sembuh masih dapat peka lagi terhadap infeksi virus
ini. Perubahan lingkungan diduga dapat mengaktifkan infeksi.
Kucing dapat ditulari lewat berbagai jalan antara lain intranasal dan
per vaginam.
Gejala Klinis
Masa inkubasi berlangsung antara 2-5 hari. Semua umur kucing
peka terhadap infeksi virus ini dan kucing berumur muda biasanya
berjalan lebih parah.
Pada sebagian kasus penyakit khususnya kucing yang lebih tua
lebih ringan. Gejala klinis pertama ialah bersin dan hipersalivasi,
kemudian terlihat produksi air mata berlebihan. Terjadi laryngitis,
faryngitis dan tracheitis yang menyebabkan kucing batuk-batuk.
Selaput lender hidung dan kerongkongan kelihatan terlalu merah
diikuti membengkaknya tonsil.
Sekali-kali terlihat oedema menyolok pada membrana niktitans.
Demam dapat mencapai suhu di atas 40 C, kucing memperlihatkan
depresi dan tidak mau makan dan minum.
Pada kucing muda yang sesudah lahir langsung diinfeksi (secara
intrauterine) maka infeksi dapat bergeneralisasi dan kucing mati
dalam beberapa hari. adanya infeksi sekunder seperti Pasteurellosis
dapat mempercepat kematian.
Diagnosa
Diagnosa didasarkan atas pemeriksaan

klinis,

pemeriksaan

histopatologi dan pemeriksaan laboratorium. FVR tidak dapat


dibedakan dari keadaan menular pada jalan pernafasan yang
disebabkan oleh calicivirus. Keduanya berlangsung dengan bersin,
batuk-batuk, dan pengeluaran eksudat.
Diagnosa Banding
Infeksi Calicivirus dan Panlekopenia merupakan dua penyakit yang
dapat dijadikan diagnosa banding. Pada Panlekopenia gejala yang
terlihat adalah gejala-gejala dari traktus digestivus, muntah-muntah
dan diare. Pada Panlekopenia ditemukan lekopeni yang parah
sedangkan pada FVR sekali-kali ditemukan lekositosis.

Pada infeksi Calicivirus maka rhinitis biasanya bersifat mucus dan


jarang berubah menjadi purulen. Diferensiasi secara virologist dapat
dilakukan.
Penanganan
Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan vaksinasi terhadap
kucing. Vaksinasi dilakukan secara intranasal atau intramuskuler
pada umur 9-12 minggu. Vaksin FVR dapat dikombinasikan dengan
pemberian vaksin untuk melawan infeksi Calicivirus.
6. Feline caliciviral disease (FCD)
Penyakit FCD disebabkan oleh infeksi calicivirus, yaitu virus RNA
yang duu juga dikenal sebagai picornavirus, biasa menyerang paruparu dan lidah, hingga menyebabkan tongue and lung disease.
Meskipun hana dikenal satu serotipe saja, virus memiliki galur yang
bervariasi keganasannya.
Masa inkubasi penyakit kurang dari 48 jam, dan bila tidak diikuti
infeksi sekunder, berlangsung 5-7 hari. Berbagai galur virus
mungkin

memiliki

cakupan

yang

luas

dalam

menyebabkan

perubahan patologi, mulai dari bentuk lepuh sampai radang


bronchus bernanah.
Gejala-gejala
Gejala FCD sangat

mirip

dengan

gejala

FVR

(Feline

viral

rhinotracheitis). Gejala hipersalivasi dan anoreksia merupakan


gejala utama dari adanya radang mulut ulseratif.
Gejala klinis muncul dari 2 samapi 8 hari setelah infeksi virus, dan
mencapai puncaknya dalam 10 hari setelah gejala klinis teramati.
Pada yang berlangsung akut karena saluran nafas tertutup lendir
yang mengental, dehidrasi dan tidak adanya makanan yang masuk
(anoreksia) segera mengakibatkan kelemahan yang sngat dan
akhirnyadiikuti kematian.
Gangguan pada mata selain epifora, blepharospasmus juga terjadi
chemosis, yaitu membengkaknya palpebra sebelah dalam hingga
mata

nampak

membesar

oedematous.

Pada

penderita

yang

melanjut menjadi kronis, gejalanya ringan atau tidak ada sama


sekali. Status karier berlangsung selama beberapa tahun dan virus
dibebaskan lewat oropharynx.
Pencegahan
Vaksin calicivirus dapat mencegah beberapa variant FCV. Galur yang
resisten selalu ada dan tidak dpat diatasi oleh vaksin yang
digunakan. Hewan yang sudah divaksin masih dapat menjadi karier
dan bahaya bagi hewan disekitarnya. Vaksin polivalen yang

mengandung virus FRC, FCV dan panleukopenia digunakan untuk


mencegah FCD.
7. Viral Feline Immuodeficiency
Virus penyebab FIV adalah single stranded RNA virus dalam
keluarga lentivirus. Virus bersifat host spesifik sehingga hanya
spesies kucing yang peka dan dapat terinfeksi. Secara genetik dan
antigenetik virus jelas berbeda dari Human Immunodeficiency Virus
(HIV) yang merupakan penyebab penyakit AIDS pada manusia dan
bangsa kera.
Patogenesis
Infeksi virus terdiri dari beberapa stadium :
a. Stadium awal yang berlangsung 4-6 minggu pascainfeksi dengan
gejala klinis yang tidak terlihat atau hanya bersifat ringan. Kelenjar
limfe

regional

membengkak,

tidak

begitu

menyolok.

Dalam

pemeriksaan darah ditemukan leukopenia.


b. Stadium laten yang tidak memperlihatkan gejala klinis dan oleh
aktifitas virus FIV jumlah sel T helper menurun sehingga tidak
terbentuk

immunoglobulin.

Sejalan

dengan

menurunnya

sel

tersebut gejala klinis penyakit mulai terlihat.


c. Stadium kronis ditandai dengan gejala penurunan kekebalan yang
secara klinis gejalanya dapat bervariasi tergantung pada organ
infeksi sekunder dan organ utama yang menderita.
Secara umum gejala klinis berupa anoreksia, demam kronis, anemi,
infeksi kulit, diare kronis dan gejala syaraf. Penderita mudah sekali
terinfeksi oleh toxoplasma gondii. Dalam stadium akhir, penderita
jadi lemah sekali dan biasanya berakhir dengan kematian.
Penularan
Virus ditularkan melalui berbagai cara. Penderita FIV membebaskan
virus dalam jumlah banyak dalam salivanya. Luka gigitan sebagai
akibat dari berkelahi merupakan jalan masuk virus. Infeksi janin di
dalam kandungan, meskipun kecil kemungkinannya, juga dapat
terjadi. Penularan secara kontak seksual meskipun mungkin tetapi
kejadiannya sangat jarang.
Gejala Klinis
Gejala pada stadium kronis : infeksi gastrointestinal dan paruparu,penurunan

berat

badan,

anoreksia

dan

demam

yang

berlangsung lama (40 C atau lebih).


Penderita mudah mengalami infeksi jamur, kuman dan sebagainya.
Radang mulut dan lidah sering diamati dan menyebabkan rasa sakit

pada saat makan. Kucing penderita FIV mengalami infeksi virus di


dalam tubuhnya selama hidup.
Pengobatan
Pengobatan ditujukan untuk memperkuat tubuh dan mencegah
infeksi sekunder. Pemberian obat antibiotika untuk melawan infeksi
kuman dan jamur. Pemberian steroid anabolik kadang diperlukan
untuk mencegah penurunan berat badan maupun kelemahan
umum. Obat pemacu pembentukan immunoglobulin dapat dicoba,
misalnya Immunoregulin dan Acemannan.
8. CHLAMYDIA
Feline chlamydiosis (Chlamydophila), dikenal juga dengan sebutan
feline pneumonitis (Radang paru-paru pada kucing), biasanya
menyebabkan gangguan saluran pernafasan bagian atas yang
relatif ringan tetapi kronis (lama). Penyakit ini disebabkan oleh
bakteri Chlamydia psitacii. Tanda-tanda utama penyakit ini biasanya
radang/sakit pada mata, disertai cairan kotoran mata berlebihan.
Infeksi ini juga menyebabkan pilek, bersin dan kesulitan bernafas
yang disebabkan radang paru-paru. Bila tidak diobati, infeksi bisa
menjadi kronis dan berlangsung selama beberapa minggu hingga
beberapa bulan.
Selain bakteri Chlamydia, virus feline rhinotracheitis dan feline
calicivirus

termasuk

gangguan

pernafasan

menyebabkan

sekitar

organisme
bagian
10-15

yang
atas

menyebabkan

pada

dari

total

penyakit

kucing.

Chlamydia

kasus

gangguan

pernafasan pada kucing.


Penyebaran & Penularan
Bakteri Chlamydia terdapat di seluruh dunia dan menyebabkan
penyakit pada sekitar 5 - 10 % dari seluruh populasi kucing.
Penyakit ini sering menyerang kucing muda (kitten umur 2 - 6
bulan), tempat penampungan hewan atau tempat dengan populasi
kucing lebih dari satu. Wabah sering terjadi pada pemeliharaan
kucing

yang

terlalu

padat,

nutrisi

yang

kurang

baik

dan

tempat/kandang dengan ventilasi yang kurang.


Bakteri yang menyebabkan chlamydiosis menular ke kucing lain
melalui cairan pilek atau kotoran mata, penularan biasanya melalui
beberapa cara sebagai berikut :
Kontak dengan objek yang terkontaminasi bakteri seperti kandang,
makanan, tempat makan/minum, pakaian pemilik dan tangan
pemilik.

Kontak dengan mulut, hidung atau kotoran mata kucing yang


terinfeksi.
Bersin dan batuk yang bisa menyebarkan virus dalam radius 3.5
meter
Selaput lendir mata bengkak (conjunctivitis) pada kucing yang
terserang Chlamydia (Chlamydophila)
Gejala klinis
Secara umum kucing terinfeksi secara subklinis. Berdasarkan
sejarah penyakit gejala klinis yang terlihat yaitu adanya infeksi
pada saluran pernafasan atas seperti bersin, mata berair, dan
batuk. Beberapa kucing yang terinfeksi juga mengalami kejadian
sulit bernafas dan anorexia. Sedangkan berdasarkan physical
examination gejala yang terlihat yaitu konjungtivitis, umumnya
granular, awalnya terjadi secara unilateral tetapi dapat berkembang
menjadi bilateral. Selain itu gejala lain yaitu lakrimasi, fotofobia,
blepharospasmus, rhinitis disertai discharge ringan pada hidung,
dan pneumonitis.
Differensial diagnosa
Differensial diagnosa dari kasus Chlamydiosis pada kucing adalah
feline viral rhinotracheitis, infeksi oleh feline calicivirus, feline
reoviral,

dan

bronchial

pneumonia.

Pada

kasus

feline

viral

rhinotracheitis masa inkubasi lebih pendek, yaitu sekitar 4-5 hari,


kejadian konjungtivitis terjadi secara bilateral, adanya bersin dan
keratitis ulseratif. Pada kasus infeksi oleh feline calicivirus masa
inkubasi pendek yaitu 3-5 hari, gejala yang tampak yaitu adanya
stomatitis ulseratif dan pneumonia. Gejala klinis yang terlihat pada
infeksi feline reovirus yaitu adanya infeksi saluran pernafasan atas
ringan. Sedangkan kejadian bronchial pneumonia gejala klinis yang
disebabkan oleh Bordetella bronchoseptica spesifik terjadi pada
paru-paru.
Pencegahan
Vaksinasi dengan vaksin inaktif dan vaksin aktif yang telah
dimodifikasi dapat menurunkan keganasan dan durasi dari infeksi
Chlamydophila felis meskipun tidak dapat mencegah infeksi. Pada
daerah endemik atau beresiko tinggi kucing harus sudah divaksinasi
2x yaitu pada umur 8-10 minggu dan 12-14 minggu, kemudian
diulang setiap tahun.
Terapi

Pada kasus infeksi chlamydiosis sistemik diberikan tetracycline


dengan dosis 22 mg/kg bb 3x sehari selama 3-4 minggu. Apabila
infeksi lokal di daerah mata maka cukup diberikan tetes mata yang
mengandung tetracycline 3x sehari.
9. Scabiosis
Scabies adalah penyakit menular pada kulit yang disebabkan oleh
tungau, suatu parasit yang sangat kecil yang dinamakan, Sarcoptes
scabei.

Penyakit ini sering menyerang anjing, kucing, kelinci dan

dapat juga menular ke manusia.


Tungau Notoedres cati, Siklus hidup dan Cara penularan
Scabiesis pada kucing lebih sering disebabkan notoedres cati,
seperti halnya sarcoptes scabiei yang lebih sering menyerang
anjing. Tungau ini berukuran sangat kecil (0.2-0.4 mm), hanya bisa
dilihat dengan mikroskop atau kaca pembesar. Seluruh siklus hidup
tungau ini berada di tubuh induk semangnya. Tungau betina
menggali dan melubangi kulit kemudian bertelur beberapa kali
sambil

terus

menggali

saluran-saluran

dalam

kulit

induk

semangnya. Lubang-lubang dalam kulit yang digali seekor tungau


betina dapat mencapai panjang beberapa centimeter.
Setelah bertelur beberapa kali, tungau betina mati. Dalam waktu 38 hari telur menetas menjadi larva berkaki enam. Larva yang telah
dewasa berubah menjadi nimfa yang mempunyai delapan kaki.
Nimfa dewasa berganti kulit menjadi tungau dewasa. Dalam
saluranyang telah digali tungau betina tersebut, tungau dewasa
melakukan perkawinan dan proses daur hidup berulang kembali.
Satu siklus hidup memerlukan waktu 2-3 minggu.
Scabiesis dapat menyerang kucing pada semua umur, baik jantan
maupun betina. Penularan penyakit kulit ini terjadi melalui kontak
fisik antar kucing atau kontak dengan alat-alat yang tercemar
tungau seperti sisir, kandang, dll.
Tanda & gejala terserang Scabies
Tanda-tanda awal terkena penyakit ini biasanya berupa rontok dan
gatal disekitar telinga. Dipinggiran daun telinga terlihat ada kerak
berwarna putih. Penyakit dapat menyebar dengan cepat ke daerah
sekitar wajah, leher, hidung dan kelopak mata. Kadang-kadang
tungau juga dapat menyebar hingga ke daerah perut dan telapak
kaki .
Rasa gatal yang timbul menyebabkan kucing sering menggarukgaruk.

Infeksi kronis/lama dapat menyebabkan penebalan dan

keriput pada kulit ditutupi oleh kerak-kerak berwarna abu-abu


kekuningan.

Infeksi

yang

parah

mengakibatkan

luka

dan

berkembang menjadi infeksi sekunder.


Diagnosa
Penyakit ini sering tertukar dengan penyakit kulit yang disebabkan
oleh jamur (ringworm). Diagnosa penyakit biasanya dilakukan
dengan cara memeriksa kerokan kulit dibawah mikroskop. Biasanya
dalam kerokan kulit tersebut ditemukan banyak tungau.
Pengobatan
Obat klasik yang sering digunakan untuk mengatasi penyakit ini
adalah sulfur/belerang. Sulfur juga merupakan obat klasik penyakit
kulit yang disebabkan oleh ringworm/jamur. Mandikan kucing
dengan shampoo/sabun yang mengandung sulfur, kemudian dicelup
(dip) dengan cairan sulfur 2-3 %. Mandi dan dip sulfur dilakukan
setiap tujuh hari sampai sembuh. Setidaknya diperlukan 6-8 kali
mandi hingga penyakit sembuh.
Cara lain yang sering digunakan adalah injeksi obat golongan
avermectin

seperti

ivermectin,

doramectin

atau

selamectin.

Suntikan inilah yang sering salah kaprah disebut sebagai suntik


jamur, seperti juga kesalahan diagnosa scabies yang sering salah
kaprah disebut sebagai jamur. Setidaknya diperlukan dua kali
suntikan ivermectin dengan selang waktu 2 minggu, agar penyakit
dapat sembuh total.
Bila dalam satu rumah terdapat beberapa ekor kucing, Pengobatan
yang sama juga harus diakukan terhadap kucing lain. Karena bila
tidak diobati, ada kemungkinan terjadi infeksi ulang dari kucing lain
yang tidak diobati, akibatnya penyakit ini tidak pernah sembuh
secara tuntas.
Pencegahan
Pencegahan bisa dilakukan dengan cara menghindari kontak
dengan kucing liar atau kucing yang telah terkena penyakit ini.
Kucing yang tinggal di dalam rumah biasanya jarang sekali terkena
penyakit ini.
Cuci dan desinfeksi alat-alat grooming seperti sisir, sikat, dll setelah
digunakan pada kucing yang terkena penyakit ini.
Hindari penitipan hewan atau tempat grooming

yang

tidak

mempunyai sanitasi/kebersihan yang baik. Perhatikan juga apakah


alat-alat grooming di desinfeksi sebelum digunakan terhadap kucing
lain.
10.Otitis pada kucing

Banyak sekali berbagai macam kondisi dan sebab yang dapat


mengakibatkan terjadinya radang

telinga (otitis) pada kucing.

Mulai dari tungau telinga (ear mite), bakteri, jamur, kanker, alergi,
gangguan sistem kekebalan tubuh, luka, dll.
Secara umum telinga terbagi menjadi tiga bagian, bagian luar
(eksternal), tengah dan dalam (internal). Otitis dapat terjadi pada
salah satu atau ketiga bagian telinga tersebut. Otitis yang terjadi
pada telingan bagian dalam biasanya bersifat parah dan fatal,
dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan mendengar secara
permanen.
Otitis yang

tidak

ditangani

secara

cepat

dan

tepat

dapat

menyebabkan radang berlangsung lama/kronis. Pada beberapa


kondisi radang kronis ini dapat menyebabkan tumbuhnya polip.
Lebih lanjut lagi polip ini dapat berkembang menjadi tumor/kanker
dan

menutup

saluran

telinga,

akibatnya

kucing

tidak

dapat

mendengar suara dengan baik lagi.


Tanda/Gejala klinis otitis
Kebanyakan kucing yang mempunyai masalah dengan telinga
terlihat tidak nyaman dan sering kali menggoyang/menggelenggelengkan

kepala,

mencakar-cakar

telinga

atau

menggosok-

gosokkan telinga/kepala pada dinding, atau atau benda lain. Dari


dalam telinga bisa saja muncul cairan kotor dan kadang-kadang
disertai bau tidak sedap.
Cakaran atau goyangan kepala yang terus menerus dalam jangka
waktu lama dapat menyebabkan hematoma pada telinga (aural
hematoma). Hematoma adalah

penggumpalan atau penumpukan

darah di telinga akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat


pada daun telinga. Telinga yang mengalami hematoma terlihat dari
tanda-tanda seperti bengkak, dan terasa hangat bila diraba dan
terasa ada penumpukan cairan di bawah kulit telinga.
Lebih lanjut, otitis dapat berkembang lebih

parah

dan

mempengaruhi syaraf pendengaran dan syaraf lainnya. Tanda-tanda


lain yang dapat terlihat bisa berupa posisi kepala atau wajah yang
selalu miring-miring dan tidak mampu berjalan mengikuti garis
lurus.
Diagnosa penyakit
Metoda yang paling
memeriksa

telinga

sering

dengan

dan

mudah

menggunakan

digunakan
alat

yang

adalah
disebut

otoskop. Dengan alat ini dokter hewan dapat melihat keadaan

telinga bagian luar dan tengah termasuk saluran telinga. Tes lain
bisa saja dilakukan dengan cara mengambil kotoran yang terdapat
di dalam telinga, kemudian diperiksa menggunakan mikroskop. Dari
kotoran tersebut di diketahui kondisi dan penyebab radang telinga.
Pengobatan
Tindakan pengobatan yang dilakukan berbeda-berda tergantung
penyebab otitisnya. Obat tetes telinga yang mengandung antbiotik
dan anti radang bisa diberikan bila terjadi infeksi bakteri dan
pembengkakan.
Obat tetes telinga yang mengandung anti ektoparasit atau injeksi
obat

golongan

avermectin

(ivermectin,

selamectin,

dll)

bisa

diberikan bila otitis disebabkan oleh ear mite atau ekto parasit lain.
Pemberian obat-obatan ini harus mengikuti siklus hidup parasit
tersebut.
Untuk kasus tumor atau polip, diperlukan tindakan operasi/bedah
untuk mengangkat jaringan yang abnormal.
Otitis yang disebabkan oleh alergi dan
memerlukan
sistematis.

tindakan
Seringkali

efek/sakitnya

saja,

pengobatan
pengobatan

karena

gangguan

secara
hanya

penyebab

hormon

menyeluruh

bersifat

utamanya

dan

mengurangi
(alergi

gangguan hormon) memang relatif sulit disembuhkan.


Pencegahan
Selalu memeriksa kebersihan telinga kucing secara

atau

teratur.

Bersihkan telinga kucing secara rutin. Cairan telinga normal


berwarna bening-kuning kecoklatan. Bila berwarna coklat tua atau
berbau busuk, kemungkinan besar kucing menderita otitis.
11.Ringworm
Ringworm disebabkan oleh jamur yang hidup di kulit dan bulu. Ada
beberapa spesies jamur yang hidup di kulit dan bulu, salah satu
spesies yang cukup bandel dan sering menyerang kucing & anjing
adalah Microsporum canis. Tanda-tanda hewan terserang ringworm
adalah :
Bulu rontok dan patah-patah, kadang disertai sisa-sisa kulit
kering yang menyerupai ketombe.
Kulit kering yang mengelupas kadang menyerupai sisik.
Daerah kerontokan bulu biasanya berbentuk lingkaran
(circular).
Kadang hewan yang terserang hanya mengalami sedikit
kerontokan/bulu patah di bagian wajah dan telinga.
Biasanya puncak kerontokan pada kucing terlihat dalam
waktu 5 minggu sejak kontak dengan Microsporum canis.

Beberapa hewan (terutama kucing) dapat terinfeksi dan menjadi


carrier, menularkan jamur pada hewan lain. Pada kucing berbulu
pendek dan mempunyai kekebalan tubuh yang baik, Ringworm
dapat sembuh sendiri dalam waktu 4-6 bulan. Kucing dengan sistem
kekebalan tubuh yang baik dapat terinfeksi tetapi sama sekali tidak
menunjukan gejala tertular. Namun tidak ada jaminan kucing ini
tidak menjadi carrier.
Penanganan
Berbagai cara membasmi ringworm bertujuan menghilangkan jamur
dan spora jamur dari tubuh kucing dan lingkungan sekitar (kandang,
lantai, peralatan kucing, dll). Menghilangkan jamur penyebab
ringworm

dari

tubuh

kucing

gampang-gampang

susah

dan

dibutuhkan teknik kerajinan tersendiri agar jamur tidak muncul


kembali.
Cara menghilangkan jamur penyebab ringworm dari tubuh kucing
yang paling baik adalah dengan kombinasi 2 cara pengobatan, yaitu
pengobatan secara topikal (pengobatan luar : salep, obat gosok,
shampoo) dan obat oral (makan). Salep dan obat gosok bisa
digunakan

untuk

menyembuhkan

ringworm

yang

terlokalisasi

(terpusat). Sedangkan untuk membasmi spora dan ringworm yang


luas

daerahnya

atau

carrier,

sebaiknya

ditambah

dengan

penggunaan shampoo anti jamur.


Banyak pilihan obat anti jamur yang dapat diberikan pada kucing.
Karena sifat jamur yang agak bandel, obat oral pun diberikan untuk
jangka waktu agak lama. Tergantung jenis obatnya, jangka waktu
pemberian obat bervariasi mulai dari beberapa minggu hingga
beberapa bulan. Sayangnya sebagian besar obat oral mempunyai
efek samping kurang baik, apalagi bila digunakan untuk jangka
panjang. Beberapa reaksi buruk terhadap obat bisa saja muncul,
oleh karena itu pemberian obat harus diawasi dengan seksama oleh
dokter hewan.
12.Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD)
Feline Urologic Syndrome (FUS) merupakan penyakit saluran urinasi
bagian

bawah

yang

dapat

terjadi

karena

cystitis,

urethritis,

obstruksi persial atau komplit sampai penyumbatan urethra serta


dapat juga karena abnormalitas anatomi urethra seperti striktura
(penyempitan) dan tekanan periurethral. Feline Lower Urinary Tract

Disease (FLUTD) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi


pada kucing terutama kucing jantan. FLUTD biasanya terjadi pada
bagian

vesika

urinaria

(VU)

dan

uretra

kucing

serta

dapat

menyebabkan gangguan pada organ tersebut. Gangguan pada


uretra terjadi disebabkan oleh struktur uretra kucing jantan yang
berbentuk

seperti

tabung

memiliki

bagian

yang

menyempit

sehingga sering menimbulkan penyumbatan urin dari VU ke luar


tubuh. Feline lower urinary tract disease (FLUTD) dapat meliputi
beberapa kondisi yang terjadi pada saluran urinaria kucing.
Kucing jantan dan betina sama-sama beresiko menderita FLUTD,
namun kucing jantan beresiko lebih besar terhadap obstruksi yang
mematikan karena uretra jantan lebih kecil dibandingkan betina dan
memiliki bagian yang mengecil sehingga penyumbatan lebih mudah
terjadi. Faktor-faktor predisposisi dari penyakit FLUTD di antaranya:
Jenis kelamin. Penyakit ini lebih sering menyerang hewan
jantan daripada betina karena struktur anatomi urethra dari
jantan panjang dan sempit sedangkan urethra betina pendek
dan lebar.
Ras. Lebih sering terjadi pada kucing ras seperti persia atau
angora daripada kucing siam karena kucing ras lebih malas
beraktivitas dan selalu urinasi pada pasir khusus sehingga
apabila

pasirnya

kotor

kucing

ini

cendrung

menahan

urinasinya.
Pakan. Pemberian pakan dengan kandungan magnesium dan
fosfor yang tinggi beresiko dalam pembentukan kristal dalam
urin.
Temperatur. Suhu yang rendah menyebabkan kucing malas
minum sehingga intake air dalam tubuh kurang.
Umur. Hewan dengan umur 1-10 tahun merupakan hewan
yang paling rentan terserang FLUTD dengan frekuensi yang
lebih tinggi pada usia 3,5 tahun.
Gejala klinis
Manifestasi klinis awal pada kucing yang menderita Feline lower
urinary tract disease (FLUTD) merupakan hasil dari iritasi yang
disebabkan oleh kristal yang terbentuk di dalam vesika urinaria atau
uretra kucing. Biasanya kucing yang menderita Feline lower urinary
tract disease (FLUTD) akan menunjukkan gejala klinis sebagai
berikut:

Kesulitan urinasi (disuria). Biasanya urinasi dalam waktu yang


lama dengan hanya mengeluarkan urin dalam jumlah sangat
sedikit dan kucing merejan saat buang air kecil (kadang

disertai suara tangisan)


Peningkatan frekuensi urinasi (pollakisuria)
Kucing sering buang air kecil tidak pada tempatnya
Sering menjilat daerah genital
Kadang-kadang terdapat darah pada urin (haematuria)
Urin berbau busuk dan keruh
Kucing tidak nafsu makan
Pada keadaan yang lebih serius, dimana terjadi obstruksi
pada saluran urinari komplit yang biasanya terjadi pada
kucing jantan dapat mengakibatkan kucing tidak dapat
urinasi.

Selain

itu

juga

menunjukkan

gejala

muntah,

kelemahan, serta perut yang menegang dan sakit.


Diagnosa
Diagnosa FLUTD didasarkan pada gejala klinis, pemeriksaan fisik,
dan urinalisis. Pada kasus yang sudah parah dapat dipalpasi
pembesaran dan rasa sakit pada vesika urinaria. Jika diduga terjadi
infeksi pada vesika urinaria, maka kultur urin dapat dilakukan.
Kucing yang mengalami obstruksi saluran urinaria memiliki tingkat
enzim ginjal yang tinggi (blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin)
dalam darah. Berikut ini beberapa pengujian yang perlu dilakukan
untuk mendiagnosa FLUTD yaitu sebagai berikut:
Pengujian darah
Perhitungan sel

darah

lengkap

(complete

blood

cell

count/CBC) dan kimia darah/kimia dalam serum (serum

chemistries)
Urinalisis lengkap
Kultur urine dan tes sensitivitas antibiotik
Radiografi abdomen (X-ray)
Ultrasonografi (USG) abdomen
Cystoscopy atau pemeriksaan endoskopik pada uretra dan

vesika urinaria
Biopsi vesika urinaria
Pengobatan
Pengobatan terhadap Feline lower urinary tract disease (FLUTD)
tergantung dari penyebab yang mendasari terjadinya FLUTD dan
kondisi dari kucing. Kristal mineral atau batu yang terbentuk pada

saluran urinari kucing harus dieliminasi. Adapun pengobatan yang


perlu diberikan pada kasus FLUTD yaitu :
Eliminasi kristal mineral atau batu pada saluran urinari kucing
dapat dilakukan melalui diet atau makanan khusus yang
dapat melarutkan kristal mineral atau batu tersebut serta
dapat juga melalui operasi pengeluaran kristal mineral atau
batu pada saluran urinari kucing. Dalam beberapa kasus
tindak

bedah

diperlukan

selain

untuk

menghilangkan

sumbatan pada uretra, juga untuk mencegah terjadinya


pengulangan timbulnya kristal mineral.
Pada kasus obstruksi uretra oleh kristal mineral atau batu
(blocked urethra), memerlukan perawatan darurat yang
meliputi pembilasan (flushing) atau kateterisasi uretra untuk
mengeluarkan urin dan kristal pada vesika urinaria. Sebelum
dilakukan pembilasan (flushing) atau kateterisasi uretra,
kucing

terlebih

dahulu

diberikan

anestesi

umum

yang

kerjanya singkat.
Penyuntikan cairan fisiologis secara intravena diperlukan
ketika sindrom uremia terjadi (depresi, muntah, dehidrasi)
dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH
cairan tubuh.
Pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi
sekunder oleh bakteri.
Sediaan obat parasimpatomimretik juga dapat diberikan
untuk menstimulasi otot vesika urinaria berkontraksi dan
relaksasi uretra diperlukan.
Pencegahan
Tindakan

pencegahan

terjadinya

FLUTD

pada

kucing

dapat

dilakukan dengan cara sebagai berikut:


FLUTD dapat dicegah melalui pemberian pakan khusus yang
rendah Mg, tinggi Na atau pakan yang mempunyai pH cukup

rendah (acidified diets). Pakan yang rendah pH ini akan


meningkatkan absorbsi Na dan meningkatkan pengeluaran
phospat sebagai unsur pembentuk batu ginjal.
Selain diet, diupayakan agar kucing diberiakan pakan yang
basah, penyediaan air segar sebagai sumber air minumnya
yang cukup setiap hari.
Kucing harus dibiasakan dengan aktifitas fisik (exercise) dan
hindari kondisi obesitas serta pembersihan kandang dan
liternya secara rutin.
Diet

khusus

mengandung

yang

diberikan

beberapa

pada

formula

kucing

yang

biasanya

penting

untuk

mencegah pembentukan kristal mineral, yaitu:


Mengontrol level kalsium, magnesium, fosfor, dan oksalat
untuk membatasi pebentukan kristal dan batu pada vesika
urinaria
Kandungan

kalium

sitrat

berguna

untuk

menghentikan

pembentukan batu pada vesika urinaria


Kandungan

kaya

vitamin

B6

membantu

mengurangi

pembentukan oksalat
13. Dyspagia
Dysphagia

merupakan

gejala

kesulitan

menelan

yang

dapat

disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengunyah makanan


serta tidak dapat membentuk dan . Gejala klinis yang timbul yaitu
berupa

Hipersalivasi,

gagging,

berat

badan

turun,

berusaha

menelan berulang-ulang,menelan dengan posisi leher abnormal,


regurgitasi, batuk (aspirasi), sakit saat menelan. Patogenesis :
terjadi obstruksi mekanis pada mulut atau faring terjadi disfungsi
neuromuskular sehingga menyebbkan ggerakan menelan yang
lemah dan inkoordinasi rasa sakit saat mastikasi atau menelan.
Pengobatan
terapi Suport nutrisi .Pada disfagia oral, pasien dapat menelan bila
bolus makan ditempatkan pada kaudal faring. Hal ini dilakukan

secara berhati-hati agar tidak terjadi aspirasi pneumonia. Kepala


dan leher dinaikkan akan mempermudah proses menelan pada
pasien disfagia faringeal atau krikofaringeal. Jika tidak, lakukan
terapi

cairan

secara

parenteral.

Disfagia

tidak

mudah

diatasi,pengobatan disphagia sebaiknya diarahkan pada penyebab


penyakit, atau dapat diberikan antibiotika spektrum luas dan
kortikosteroid sebagai antiinflamasi bila tidak ditemukan penyakit
yang spesifik.
14.Leptospirosis
Leptospirosis adalah

penyakit

yang

disebabkan

oleh

bakteri

leptospira sp bersifat aerobik,motil serta bergram negatif dan dapat


menginfeksi hewan maupun manusia serta bersifat zoonosis.
Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit tifus pada anjing,
penyakit air merah pada anak sapi. Penyakit ini dapat mengifeksi
secara

subakut

dan

akut.

Infeksi

sub

akut

tidak

terlalu

memperlihatkan gejala klinis yang khas tetapi pada infeksi akut


enunjukan gejala klinis berupa radang, radang pada hati, anemia
hemolitik dan pada hewan bunting dapat mengakibatkan abortus.
(Wikipedia)
Gejala Klinis
Infeksi leptospira pada hewan sering terjadi secara subklinis atau
tidak menunjukan gejala klinis yang tampak. Sehingga bakteri ini
akan bertahan dalam ginjal hewan dan akan keluar bersama-sama
dengan air kencing. Bakteri ini dapat ditularkan melalui air yang
terkontaminasi, air kencing dari hewan yang sakit. Di indonesia,
penyebaran sering terjadi pada musim hujan saat banjir melalui
tikus.
Pencegahan
Pencegahan bisa dilakukan dengan membersihkan lingkungan
sekitar

tempat

tinggal

maupun

kandang

kucing,

menyimpan

makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh manusia dan


kucing dengan baik agar tidak terkontaminasi dengan tikus.
Pengobatan dapat dilakukan secara dini sebelum penyakit berjalan
secara kronis dengan pemberian antibiotik seperti Peniciline,
streptomycine, tetracycline.
Patogenesis
Pada saat musim hujan Air kencing tikus penderita terbawa
bersamaan dengan banjir masuk ke dalam tubuh manusia atau

hewan yang meminum air

melalui kulit yang terbuka,selaput

lendir mata dan hidung bermultiplikasi di dalam darah dan


jaringan terjadi leptospiremia bakteri menyebar terutama ke
Hati dan Ginjal
pada ginjal migrasi ke bagian intestinum,tubulus renal, dan tubular
renal sebabkan nefritis intertitial dan nekrosis tubular tubular
rusak gagal ginjal. Sedangkan pada infeksi di hati sebabkan
nekrosis

sentrilobular

dan

proliferasi

sel

kupfer

terjadi

perbanyakan sel kupfer didalam hati.


15.Stomatitis
Stomatitis adalah inflamasi pada mukosa mulut. Stomatitis bisa
terjadi akibat faktor lokal atau sistemik. Stomatitis lebih merupakan
suatu gejala dibanding bentuk penyakit spesifik. Gejala Klinis
berupa Halitosis, rasa sakit, mulut terbuka anoreksia, hipersalivasi.
Perdarahan dari gusi atau mulut. Inflamasi atau ulserasi pada
rongga mulut. Akumulasi palque atau tartar.
Pengobatan
Lakukan terapi cairan pada pasien yang mengalami anoreksia. Bila
masih bisa menelan berikan pakan yang lunak. Lakukan dental
propilaksis, terapi periodontal atau ektraksi gigi yang bermasalah.
Antimikrobial Terapi untuk infeksi bakterial primer atau sekunder.
Amoxicillin 12.5-25 mg/kg q12 jam PO, Clindamycin 11 mg/kg q12
jam PO, Metronidazole 10 mg/kg q12 jam PO atau 30 mg/kg q24 jam
PO. Anti-inflamasi Untuk membuat hewan nyaman (tidak merasa
sakit) sehingga mau makan. Prednison 0,5-1 mg/kg q12-24 jam PO
kemduian diturunkan hingga q48 jam. Topikal dengan Larutan atau
gel chlorhexidine 2-3 kali sehari, larutan atau gel zinc organic acid
mampu menghilangkan plaque dan mempercepat kesembuhan
jaringan. Imunosupresif Untuk penyakit yang berkaitan dengan
imunologis, bergantung pada penyakit spesifik.
Patogenesisnya
pada kejadian primer agen penyebab radang akan membentuk lesi
pada selaput lendir mulut, karena adanya terjaddi kebengkakan
disertai dengan nyeri. Hal tersebut akan merangsang keluarnya air
liur yang berlebihan. Juga karena rasa nyeri nafsu makan akan
tertekan. Pada radang yang bersifat sekunder, patogenesinya belum
diketahui secara pasti .
16.Salivary mucocele

Salivary mucocele dikenal juga dengan sebutan sublingual gland


and diet injury. Salivary mucocele adalah pengumpulan mukus
saliva yang disebabkan buntunya saluran saliva atau kerusakan
jaringan saliva akibat inflamasi. Salivary mucocele ini dapat terjadi
pada anjing dan kucing. Bangsa anjing yang sering menderita
adalah AGJ dan Poodle (toy, miniatur). Tidak ada kecenderungan
terhadap jenis kelamin dan masih belum ada laporan yang bersifat
heriditer. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Traumatik dapat
terjadi akibat penetrasi benda asing atau gigitan. Sebab inflamasi
biasanya berupa sialoadenitis atau adanya benda asing. Sedangkan
sebab sekunder, biasanya berasal dari carnassial abcess atau
neoplasia.
Gejala klinis yang dapat ditimbulkan yaitu : bervariasi, berdasarkan
tingkat keparahan dan lokasi lesi. Kelenjar sublingual merupakan
kelenjar saliva yang sering terkena. Kadang ditemukan rasa sakit,
kadang tidak. Hewan bisanay akan mengalami disfagia, anoreksia,
stridor hemoragi atau dispnea. Pada prinsipnya tidak obat yang
dapat digunakan. Terapi yang disarankan adalah operatif. Lakukan
drainage atau lancing dengan tujuan untuk mengurangi atau
membuang hasil produksi saliva sehingga dapat keluar dari kelenjar.
Bisa juga dengan melakukan drainage secara periodik.
Tindakan definitif adalah dengan melakukan drainage atau reseksi
mucocele. Biasanya kelenjar submandibula dan sublingual secara
bersama-sama direseksi. Langkah alternatif adalah melakukan
reseksi marsupialisasi atau redireksi aliran saliva. Namun langkah
ini masih sering menyebabkan kambuh. Amati abnormalitas pasca
operasi. Disfungsi episodik jarang terjadi dan biasanya bersifat
transient. Kambuh umumnya dibawah 5% dan lebih disebabkan
reseksi yang tidak total, reseksi pada kelenjar yang salah atau
adanya

kerusakan

kelenjar

akibat

penanganan

(iatrogenik).

Prognosis baik pada kasus yang tidak disertai penyakit lain.


17.Diverticulum Oesophagus
Suatu kondisi dimana esofagus mengalami ketidaknormalan
anatomis, pembesaran atau dilatasi sehinga terjadi ruang tempat
berkumpul atau akumulasi ingesta. Kondisi ini terbagi menjadi dua
katagori

bergantung

penyebab.

Pulsi

divertikulum

suatu

divertikulum yang sesungguhnya yang berkaitan dengan tekanan

intraluminal yang tinggi menyebabkan herniasi pada muskosa


muskularis. Secara histologis sisa jaringan berupa epitelium dan
jaringan ikat. Divertikulum traksi disebabkan tarikan dari luar pada
jaringan ikat esofagus dan keempat lapisan penyusunnya (mukosa,
submukosa, muskularis dan adventitia) masih tetap ada. Sebanyak
50-70% divertikulum (terutama pulsi) berkaitan dengan lesi yang
lain dari esofagus atau diafragma. Kasus ini sering ditemukan pada
anjing atau kucing, baik kongenital atau perolehan. Tidak ada
predisposisi pada ras tertentu.
Gejala Klinis berupa Regurgitasi postprandial, disfagia, berat badan
turun, anoreksia, batuk atau distress respirasi. Terapinya dapat
berupa: Jika divertikulum kecil dan tidak menyebabkan gejala klinis,
pasien dapat diterapi secara umum dengan memberikan makan
yang lunak dan kemudian berikan air minum. Jika divertikulum besar
dan menimbulkan gejala klinis, pertimbangkan untuk dilakukan
tindakan

operatif.

Kondisi

ini

menjadi

predisposisi

terjadinya

perforasi, fistula, striktura dan dehisensi pasca operasi. Evaluasi


harus dilakukan bila hewan mengalami peningkatan suhu tubuh,
dispnea, takipnea, leukogram meningkat atau sepsis. Berikan
antagonis

histamin

H2

(Cimetidine,

Ranitidine)

bila

hewan

mengalami esofagitis kambuhan. Berikan antibiotika bila hewan


mengalami aspirasi pneumonia.
18.Infeksi Cacing Hati Pada Kucing
Pathogenesis
Cacing dewasa yang hidup di bagian proksimal dari saluran
empedu, ductus choledochus, menyebabkan terjadinya radang
cholecystitis, yang disertai pengelupasan mukosa saluran. Karena
berada di bagian sempit dari ductus choledochus, bila jumlah cacing
cukup banyak dapat mengakibatkan sumbatan saluran, hingga
memmicu terjadinya bilirubinemia atau ikterus. Jaringan saluran
mengalami proliferasi papillomatous atau adenomatous, diarenngi
terjadinya pengerasan

bagian

tepi

dari

hati.

Di dalam

hati

mungkinterbentuk kantong atau sista yang berisi telur maupun


cacing.
Gejala Klinis
Penderita jadi kurus karena anoreksia, muntah, dan kadang-kadang
diare. Proses yang berlangsung kronik biasanya diikuti ikterus dan
akhirnya kematian

Pencegahan
Pemberian pakan secara teratur pada hewan untuk mencegah
hewan mengonsumsi pakan secara sembarangan. Selain itu, pemilik
juga memperhatikan kebersihan lingkungan disekitar hewan untuk
mencegah infeksi dari cacing. kucing hanya diberikan makanan
yang telah masak sempurna dan membatasi gerak kucing hingga
tidak berkeliaran.
Penanganan
Pengobatan dengan
emeticus,

dan

sodium antimony tartrate,

klorokuin

difosfat

pernah

atau

tartarus

dianjurkan

untuk

mengirango jumlah telur yang dihasilkan. Dithiazine yodida telah


pula dicoba dan berhasil, apabila infeksinya tidak berat. Waktu
akhir-akhir ini yang dianjurkan adalah praziquantel dengan dosis 20
mg/kg, diberikan selama 3 hari berturut-turut.
19.Keracunan amitraz
Amitraz merupakan salah satu obat kimia yang diguankan untuk
mencegah infeksi parasit khususnya kutu. Obat ini biasanya
diberikan secara topikal maupun diping tau perendaman. Kasus
keracunan ini lebih sering terjadi pada anjng dibandingkan kucing.
Kasus pada kucing biasanya terjadi akibat penggunaan produkproduk anjing yang mengandung amitraz pada kucing.
Obat amitraz yang digunakan untuk pencegahan kutu dapat bersifat
toxic.
Patogenesis
Kasus keracunan dapat terjadi saat kucing menelan produk-produk
seperti obat-obatan maupun makanan yang mengandung amitraz
atau kucing kontak dengan anjing yang masih memiliki sisa-sisa
amitraz dikulitnya akibat perendaman, amitraz dapat masuk dalam
tubuh kucing dan beredar dalam darah. Diagnosa keracunan ini
dapat

dilakukan

dengan

pemeriksaan

darah

kucing

yang

mengandung amitraz didalamnya, disertai dengan hiperglicemia.


Gejala klinis
Depresi, kelemahan otot, inkoordinasi, berbaring dan jarang
bergerak,

penurunan

detak

jantung,

penurunan

suhu

tubuh,

muntah, diare, urinasi, dan kematian.


Penanganan
Jika amitraz terakumulasi dirambut atau kulit maka kucing harus
dimandikan atau dibersihkan menggunakan detergen atau shampo
unuk menghilangkan residu kemudian dicuci dengan air hangat.

Terapi supportive menggunakan cairan intravena, mempertahankan


suhu tubuh kucing, serta memberikan asupan nutrisi yang cukup.
Pencegahan:
Memastikan tidak ada amitraz atau obat-obatan keras lainnya
disekitar tempat kucing bermain. Jauhi kucing dari hewan lain yang
terinfeksi kutu dan diberi penanganan menggunakan amitraz
terlebih secara diping atau perendaman.
20.Infeksi oleh Aelurostrongylus abstrassus pada kucing
Pathogenesis
Cacing dewasa hidup dalam bronchioli dan dalam saluran alveolus.
Cacing sksn melatakan telur dalam saluran alveoli dan membentuk
nodul pada saluran alveoli. Telur kan menetas dan larva akan bebas
menuju saluran pernafasan, tenggorokan, dan akan meyeberang ke
faring dan akan menuju ke saluran penvernaan. Larva jga akan
menembus kerongkongan, lambung dan usus serta akan beredar
mengikuti aliran darah menuju ke organ organ tubuh lainnya.
Nodul berukuran 1-10 mm yang terdapat dijaringan subpleura yang
bersifat keras, berwarna bau-abu dan berisikan telur dan cacing,
yang pada suatu waktu dapat mengganggu saluran pernafasan.
Kadang-kadang nodul dengan jumlah yang banyak dapat bersifat
fatal bagi penderita. Adanya nodul dapat mengganggu proses
pernafasan yang dapat menghasilkan gejala-gejala berupa dispnea,
batuk, dan sebagainya.
Gejala Klinis
Gejala yang dapat diamati yaitu penderita akan memperlihatkan
gejala radang paru-paru berupa batuk, suhu tubuh yang meningkat,
dan keluarnya cairan eksudat dari hidung serta gejala bersin.
Penderita akan menjadi kurus secara progresif. Kadang terjadi gejala
diare, kesembuhan spontan dapat terjadi terutama pada penyakit
yang kronis. Timbunan telur dan cacing dalam saluran pernafasan
dapat menyebabkan kematian mendadak.
Pencegahan
Pemberian pakan secara teratur pada hewan untuk mencegah
hewan mengonsumsi pakan secara sembarangan. Selain itu, pemilik
juga memperhatikan kebersihan lingkungan disekitar hewan untuk
mencegah infeksi dari parasit ini.
Penanganan
Dapat dilakukan pengobatan suportif, pengobatan dangan larutan
NaI 20% yang diuntikan 3 kali dengan interval 5 hari dapat
menghilangkan larva dalam tinja. Pemberian dietilkarbamasin dapat

menurunkan jumlah larva dan feses. Pengobatan juga dapat


dilakukan dengan pemberia levamisol 8-10 mg/kg selama 3 hari,
seperti pada penanganan untuk cacring pada saluran pernafasan..
dapat juga diberikan ivermektin dengan dosis 0,4 mg/kg disuntikan
secara subkutan.
21.Helminthiasis Pada Sistem Peredaran Darah (Dirofilariasis) Pada
Anjing Dan Kucing
Pathogenesis
Adanya cacing jantung menyababkan anjing dan kucing dapat
menderita

berbagai

gangguan

gangguan dalam pengaliran

yang

darah

semuanya

berasal

serta kelemahan

dari

jantung.

Gangguan sirkulasi yaitu terjadi obstruksi oleh cacing, terjadinya


radang arteri dan penyempitan karena terjadi fibrosis. Gangguan
pernafasan berupa emboli pulmoner, infark, dan hemosiderosis.
Adanya

cacing

dalam

ventrikel

kanan,

dapat

mengakibatkan

terjadinya hambatan pengaliran darah. Gangguan dalam aliran


darah dapat berakibatkan gangguan hati dan juga dapat terjadi
ascites.
Gejala Klinis
Penderita akan kehilangan berat badan secara progresif. Hewan
akan cepat lelah setelah beraktifitas yang tidak berat, dan diikuti
batuk dan dispnea. Suhu tubuh normal atau tinggi karena terjadi
radang antara lain radang pada paru-paru. Terjadi hipoproteinemia.
Terjadi gangguan sirkulasi dari selaput lendir ata yang sianotik.
Penderita akan kehilangan kesadaran. Terjadi gangguan hati akut
karena obstruksi vena cava posterior yang dikenal sebagai posterior
caval

syndrome

yang

ditandai

dengan

hemoglobinemia

dan

kematian mendadak dalam waktu 24 jam.


Pencegahan
Pemberian pakan secara teratur pada hewan untuk mencegah
hewan mengonsumsi pakan secara sembarangan. Selain itu, pemilik
juga memperhatikan kebersihan lingkungan disekitar hewan untuk
mencegah infeksi dari parasit ini
Penanganan
Dapat dilakukan operasi pengambian cacing dari ventrikel kanan
dan dari vena cava posterior. Dan dapat dengan menggunakan obat
seperti Thiacetarsamide dengan dosis 2,2 mg/kg, diberikan 2 kali
sehari selama 2-4 hari dengan cara pemberian secara injeksi
intravena. Dapat juga diberikan Levamisol untuk cacing dewasa dan

larva cacing, dengan dosis yang dianjurkan 10-15 mg/kg diikuti


dengan 2,5 mg/kg selama 2 minggu. Dapat juga menggunakan
Melarsomine (Immiticide) untuk membunuh cacing dewasa dengan
dosis yang dianjurkan 2,5 mg/kg, dan diberikan secara injeksi
intramuscular di daerah lumbar dan diulangi setelah 24 jam.
22. Polycystic Kidney Disease Yang Progresi Pada Kucing Persia
Polycystic kidney disease (PKD) merupakan penyakit ginjal bawaan
yang diwariskan melalui gen autosomal dominan (Hosseininejad et
al. 2009) dan umumnya ditemukan pada kucing Persia dan
persilangan Persia (Fischer 2001).
Patofisiologi terjadinya kista tidak diketahui dengan jelas. Kista
renal merupakan ruang-ruang kosong (vesikel) berisi cairan yang
dilapisi oleh epitel, umumnya berasal dari nefron sehingga dapat
muncul di korteks maupun medula ginjal. Ukuran kista bervariasi
dari 1 mm sampai lebih dari 1 cm dan bertambah jumlah dan
ukurannya seiring dengan waktu. Akhir dari pembesaran kista yang
progresif

akan

menekan

parenkim

ginjal

di

sekitarnya

dan

menyebabkan fungsi ginjal terganggu dan terjadi gagal ginjal,


terutama jika sebagian besar jaringan terkena (Chandler et al.
2008). Gagal ginjal dapat terjadi pada semua umur kucing yang
terkena PKD meskipun biasanya baru terjadi pada kisaran umur 7
tahun (Chandler et al. 2008; Hosseininejad et al. 2009)
Karakteristik PKD ditandai dengan terbentuknya multipel kista pada
kedua ginjal. Ginjal mengalami pembesaran sangat nyata disertai
dengan bentuk yang tidak beraturan. Tidak ada terapi yang spesifik
untuk PKD dan terapi lebih ditujukan untuk mengatasi gagal ginjal
kronis yang terjadi (Chandler et al. 2008).
Gejala Klinis : Gejala klinis yang tampak pada pemeriksaan fisik
awal adalah kaheksia, lethargy, selaput lendir pucat, turgor buruk,
dehidrasi,

palpasi

daerah

epigastrium

dorsal

menunjukkan

pembesaran ginjal, dengan bentuk permukaan tidak rata dan terasa


krepitasi.

Selama

perawatan

kondisi

terus

menurun,

suhu

subnormal, refleks menelan semakin buruk, pilek purulent, nausea,


dan muntah.
Hasil Uji Pendukung Pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan
ultrasonografi (USG), fine needle aspirate (FNA), pemeriksaan
hematologi, kimia darah, sitologi cairan (efusi) bilateral ginjal, kultur

identifikasi bakteri dan uji resistensi terhadap antibiotik, serta


pemeriksaan patologi anatomi.
Terapi : Terapi yang telah diberikan berupa terapi cairan infus Ringer
Lactate dan NaCl 0.9%, antibiotik ceftriaxone, vitamin neurobion,
dan antimuntah cimetidine. Semua obat-obatan diberikan secara
parenteral (intravena). Terapi nutrisi diberikan Hills Prescription Diet
k/d.
23.Urolithiasis / kencing batu pada kucing
Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan adanya urolit (batu)
atau calculi atau kristal yang berlebihan dalam saluran urinaria.
Sama seperti batu manusia batu kristal ini bisa berada dimanapun
dalam saluran urinasi di anjing, meliputi ginjal, uretra, atau bisa
ditemukan di kandung kemih (Anonim b, 2006); Fossum 1992). Saat
urin mengalami tigkat kejenuhan yang tinggi, yang disertai dengan
kelarutan

garam,

garam

tersebut

mengalami

presipitasi

dan

membentuk kristal (crystalluria). Jika kristal itu tidak dikeluarkan


maka akan terbentuk agregat yang disebut dengan kalkuli (Fossum,
1992). Urolith terbentuk karena banyak kristal-kristal yang saling
bergabung menjadi satu. Terdapat beberapa jenis batu ginjal yang
berbeda, di mana perawatan dan pencegahanya berbeda pula.
Kejadian ini sangat menyakitkan dan membutuhkan pertolongan
medis. Diagnosis
urolithiasis dibuat

berdasar

hasil

anamnesa

(riwayat

kasus),

pemeriksaan fisik, radiografi, ultrasonografi dan urinalisis (Anonim


b, 2006).
Tanda-tanda klinis urolithiasis tergantung pada letak urolith, derajad
dan lama obstruksi atau iritasi dinding mukosa traktus urinarius
yang disebabkan oleh urolith, kristal atau karena infeksi traktus
urinarius. Gejala klinis yang nampak pada anjing yang menderita
urolithiasis menurut Osborne (1999) adalah sebagai berikut :
Gejala klinis yang terlihat apabila terjadi obstruksi pada
urethra adalah ;
Sering berusaha urinasi, namun urin yang dikeluarkan sedikit
atau hanya menetes
Terlihat tegang saat urinasi (dysuria/stranguria).
Tidak mampu untuk urinasi (anuria) jika terjadi obstruksi
sempurna
Hematuria
Vesica urinaria menggelembung karena penuh urin

Terjadi ruptur di vesica urinaria yang dapat mengakibatkan


terjadinya ascites
Gejala klinis bila terjadi cystic calculi (urolithiasis pada vesica

urinaria) ;
Dysuria/stranguria
Hematuria
Gejala sistemik biasanya tidak nampak
Gejala klinis bila terjadi renal atau ureteral kalkuli antara

lain ;
Kesakitan pada bagian abdominal
Hematuria
Hydronephrosis mengakibatkan

terjadinya

pembesaran

ginjal, apabila kalkuli menghambat aliran urin


Nampak gejala sistemik, terjadi anorexia, depresi dan demam
Diagnosa
Pemeriksaan fisik, pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan
radiografi, dan urinalisis yang bertujuan untuk mengetahui jenis
urolith pada kucing tersebut.
24. Glomerulonephritis pada kucing
Glomerulonephritis atau juga yang dikenal sebagai glomerulus
nefritis (GN) adalah jenis penyakit ginjal yang ditandai dengan
peradangan pada glomeruli yang merupakan struktur kecil di ginjal
yang berfungsi untuk memfiltrasi darah. Organ target adalah
glomerulus dan nefron.
Gejala Klinis
Gejala klinis non-spesifik meliputi anoreksia, muntah, penurunan
berat badan dan lemah, acites dan oedem, hipoalbuminemia,
azotemia, poliuria
Diagnosa
Pemeriksaan ultrasnografi, pemeriksaan radiografi, uji titer antibodi,
ELISA, dan biopsi ginjal.
25.Pyelonephritis
Infeksi dan peradangan jaringan ginjal dan renal pelvis (ruang yang
terbentuk

dari

menyalurkan

perluasan

urin

ke

ujung

kandung

atas
kemih).

ureter
Infeksi

tubulus
ini

yang

biasanya

disebabkan karena bakteri. Kelainan ginjal yang paling sering


terjadi, pyelonephritis dapat menjadi kronis dan akut.
Pyelonephritis yang sudah akut biasanya menyerang satu daerah
pada ginjal, dan tidak menyerang bagian yang lain. Pada banyak
kasus, pyelonephritis dapat berkembang tanpa adanya penyebab
yang jelas.
26. Cryptococcus Pada Kucing

Jamur ini berukuran sangat kecil dan tidak terlihat mata telanjang,
tetapi koloni yang berkembang biasanya terlihat seperti lapisan
berwarna krem-coklat dan berlendir. Kapang C.neoformans berada
dimana-mana, biasanya tumbuh dan berkembang di kotoran burung
dan tumbuhan yang membusuk. C. neoformans sering menyerang
pada kucing, terutama saluran pernafasannya. Penyebaran dimulai
dari hidung, melalui aliran darah dapat menyebar ke otak,mata dan
paru-paru.

Tetapi

umumnya

menyerang

bagian

hidung,

tenggorokan, jaringan wajah, mata dan otak.


Tanda-tanda kucing terkena C. neoformansKucing yang terkena
biasanya mengalami pembengkakan hidung, pilek berat, luka pada
hidung yang bengkak, suara nafas berat, kadang-kadang disertai
demam,

pengelupasan

kulit

di

sekitar

wajah

dan

kepala,

pembengkakan kelenjar getah bening,gangguan syaraf dan mata.


Menular ke manusia & lama sembuhnya
Segera periksakan kucing anda ke dokter hewan terdekat,
informasikan

pula pada dokter hewan tersebut kemungkinan

terkena penyakit jamur C. neoformans ini. Dokter hewan anda akan


memberikan

obat

yang

sesuai.Perlu

diperhatikan

pula

kalau

penyakit ini bersifat kronis, lama sembuhnya dan memerlukan


pengobatan selama 1-2 bulan atau lebih. Proses penyembuhan
sangat

tergantung

terhadap

parah-tidaknya

penyakit

dan

pemberian obat yang teratur.Yang tidak kalah penting penyakit ini


bersifat zoonosis, yaitu dapat menyerang manusia. Penularan dapat
terjadi melalui kucing, anjing ataupun langsung dari lingkungan, Jadi
cucilah tangan setelah mengobati kucing kesayangan Anda.
27.Penyakit Respirasi Kompleks Pada Kucing
Penyakit ini dikatakan kompleks karena dalam satu hewan yang
menderita mungkin ditemukan campuran keadaan konjungtivitis,
lakrimasi, salivasi dan ulserasi oral. Penyebab yang paling sering
menyebabkan

masalah

rhinotracheitis

(FVR),

pneumonitis

seperti

feline

(Chlamydia

di

atas

calicivirus

psittaci)dan

adalah

infection

feline
(FCV),

viral
feline

Mycoplasma.EtiologiInfeksi

saluran respirasi atas sekitar 40-45 % disebabkan oleh FVR dan FCV
dan sisanya disebabkan oleh Chlamydia psittaci, Mycoplasma dan
reovirus.
Cara Penularan

Penularan penyakit umumnya melalui aerosol droplet, muntahan,


pemeliharaan yang tercemar hewan sakit kemudian secara tidak
langsung menularkan ke kucing sehat.
Masa inkubasi infeksi FVR dan FCV berkisar 2-6 hari, sedangkan
pneumonitis 5-10 hari. Adanya stress yang terjadi pada hewan
penderita kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya infeksi
ikutan.
Gejala Klinis
Infeksi FVR ditandai dengan demam sampai 40,5C, kucing sering
bersin. Konjungtivitis dan rhinitis yang timbul didahului oleh leleran
serous, kemudian berubah menjadi mukopurulen. Kucing tampak
depresi dan anoreksia.
Diagnosa
Diagnosa penyakit berdasarkan

tanda-tanda

berupa

bersin,

konjungtivitis, rhinitis, lakrimasi, salivasi, ulkus mulut dan dispnoea.


Pada FVR cenderung menimbulkan gangguan pada konjungtiva dan
saluran hidung, virus calici menyebabkan gangguan pada mukosa
mulut dan saluran respirasi bagian bawah. Chlamydia menimbulkan
konjungtivitis ringan yang kronis. Diagnosa yang tepat terhadap
penyakit ini dengan melakukan isolasi dan identifikasi agen.
28.Penyakit Dengan Tanda Kuning (Jaundice /Icterus) Pada Kucing
Berbeda penyakit kuning antara anjing yang dicurigai leptosipira,
kucing sangat jarang dilaporkan terjangkit leptospirosis. Jaundice
atau kuning yang terlihat pada mucosa/selaput lendir sclera,
telinga, gusi dan kulit . Penyakit kuning bisa timbul akibat kerusakan
pada organ sebelum hati (prehepatic), pada hati itu sendiri (hepatic)
dan setelah organ hati (posthepatic).
Gejala klinis : Kucing yang menderita post hepatic selain kuning ,
tidak nafsu makan, depresi, sakit pada abdomen, dan demam.
Namun demikian kejadian obstuksi empedu pada kucing sangat
jarang. Yang paling sering terjadi karena hepatolipidosis, infeksi FIP
dan kelaianan darah (autoimmune hemolitic).
Patogenesis : Pada hewan sehat, system ketahanan tubuh (immune
system) berfungsi mengusir segala macam benda asing seperti
bakteri

yang masuk dalam tubuh. Pada hewan dengan masalah

autoimmune immune system menyerang sel dalam pembuluh darah


, proses ini akan berakibat intravascular hemolysis, salah satu tanda
akan terlihat plasma menjadi agak pink sampai merah. Urine positif
hemoglobinuria, tanda lain dengan kecurigaan tersebut adalah

dalam pemeriksaan ulas darah ditemukan spherocyte

bentukan

seperti bola dan lebih kecil dari RBC normal), ditemukan sel
anisocytosis. Bilirubin yang berlebihan dalam darah menimbulkan
warna kuning pada bagian tubuh sebagaimana terlihat pada daerah
daerah tersebut diatas.
Pengobatan : untuk kasus lipidosis dengan memutus siklus energy
intake yang tidak cukup dan mobilisasi lemak dengan makan paksa
( bisa diilakukan oesophagustomy selama

7 hari maksimum 10

hari) sambil tetap dilihat ada kemauan makan sendiri. Peradangan


pada hati

sering dijumpai pada kucing muda dan usia tua (> 8

th)biasanya diikuti dengan gejala klinis tidak nafsu makan, depresi,


dan demam. Dengan kimia darah sama dengan pada kasus
lipidosis, tetapi kebanyakan lekocytosis. Peradangan hati dapat juga
disebabkan efek obat griseofulvin, ketokonazole, alfatoxin dan
phenol. Infeksi bakteri bisa diobati dengan antibiotik amoxilin,
ampicilin

atau metronidazole. Disarankan diberikan sampai 6-8

minggu. Urdafalk (ursodeoxycholoic acid) adalah suatu obat untuk


menstimulasi aliran cairan empedu, tetapi sangat kontradiksi jika
diberikan untuk kasus obstruksi pada saluran empedu. Berikan juga
force feeding , berikan infus dan juga beri sedikit penghangat.
29.Pulmonary carcinoma pada kucing
Tumor paru primer jarang terjadi pada kucing jika dihitung maka
hanya <1% dari semua tumor. Usia rata-rata adalah sekitar 11-12
tahun. Tidak ada penelitian yang signifikan telah terbukti tumor
paru memiliki hubungan dengan infeksi FeLV. Biasanya terbentuk
adenokarsinoma untuk 70% sampai 80% dari neoplasia paru primer
pada kucing; karsinoma kurang umum termasuk karsinoma sel
skuamosa

dan

osteosarkoma,
granulomatosis

karsinoma

adenosquamous.

chondrosarcomas,
lymphomatoid

(limfoma

Fibrosarcomas,

hemangiosarcomas,
sel-T

angioinvasive),

sarkoma histiocytic, dan adenoma adalah neoplasma primer lainnya


yang telah didokumentasikan dalam paru-paru kucing.
Metastasis tumor paru primer pada kucing dapat terjadi ke area lain
dari paru-paru, diantaranya tulang panjang, hati, limpa, pankreas,
ginjal, kelenjar adrenal, otak, kerongkongan, kelenjar getah bening
abdominal, dan mata.
Kebanyakan kucing dengan neoplasia paru menunjukkan tandatanda berupa batuk, intoleransi latihan, dyspnea, kepincangan (dari

metastasis atau osteopati paru hipertrofik, yang lebih umum pada


anjing dari pada kucing), penurunan berat badan, anoreksia, dan
kelesuan. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan radiografi,
pemeriksaan sitologi, dan pemeriksaan histopatologi.
30.Bronchopneumonia pada kucing
Disebabkan oleh infeksi bakteri maupun agen penyakit lain. Namun
belakangan penelitian menunjukkan bahwa salah satu bakteri yang
menyebabkan terjadinya bronchopneumonia pada kucing adalah
Bordetella Bronchoseptica.
Gejala Klinis
Pernapasan cepat
Gangguan pernapasan
Batuk
Demam
Depresi
Mukopurulen eksudat hidung (cairan)
Anorexia
Kelesuan
Diagnosa
Chest X-rays
Complete blood count (CBC)
Airway cytology
Culture (tracheal wash cytology and culture and sensitivity)
Kucing yang hadir dengan perusahaan massa jaringan lunak harus
memiliki neoplasia paru metastasis ditambahkan ke daftar diagnosis
diferensial.
31.Infeksi oleh Taenia taeniaformis pada Kucing
Cacing ini hidup dalam usus halus kucing dan karnivora terkait
lainnya termasuk serigala, lynx, dan bangsa lingsang atau berangberang, terdapat diberbagai negara. Cacing ini memiliki ukuran
panjang 50-60cm, berbentuk unik yaitu tidak memiliki leher, serta
proglotid posteriornya berbentuk mirip genta.
Patogenesis : cacing dewasa menembus mukosa usus demikian
dalamnya, meskipun ini jarang terjadi, hingga dapat menyebabkan
perforasi usus. Cacing dewasa dapat mengganggu pencernaan
makanan yang serius. Strobilocercus sendiri, setidaknya untuk
hospes antara tidak menimbulkan gangguan.
Gejala klinis : gangguan pencernaan

makanan

akan

mengakibatkan kekurusan, tumbuh kedengkik, diare dan dehidrasi.


Bila terjadi perforasi hewan dapat mati mendadak.
Penanganan : penggunaan obat-obat antihelmintik
mengatasi cacing pipih.

untuk

Pencegahan : Pemberian pakan secara teratur pada hewan untuk


mencegah hewan mengonsumsi pakan secara sembarangan.
32.Infeksi oleh Spirometra spp.
Cacing pipih Spirometra spp. Yang menyerang anjing, serigala, dan
kucing

diberbagai

negara

berbeda-beda

spesiesnya.

Di

asia

Tenggara cacing sp mansoni lebih banyak ditemukan dan di


Australia sp. Erinacei lebih dominan. Cacing sp erinacei dewasa
dalam usus halus dapat mencapai panjang 100cm. Skoleknya
memiliki lengkungan sempit yang disebut bothria dan skoleksnya
tidak memiliki kait. Dalam setiap segmen atau proglotid terdapat
organ reproduksi hemaprodit yang lubang kelaminnya terletak
ditengah.
Patogenesis : anjing penderita spirometrosis maupun hospes
definitif lainnya, termasuk kucing tidak tidak memperlihatkan
gejala-gejala sakit yang jelas. Larva stadium ke 2 yang berbentuk
kista

dapat

menyebabkan

sparganosis

mungkin

karena

mengonsumsi secara tidak sengaja hospes prtama misalnya lalat air


yang

mengandung procercoid.

Ataupun tertular oleh

adanya

spargana dalam daging misalnya daging babi yang tidak matang.


Selain itu, dapat juga melalui transver larva langsung melalui luka
atau konjungtiva mata.
Penanganan : penggunaan obat-obatan antihelmintik untuk
membasmi cacing.
Pencegahan : Pemberian pakan secara teratur pada hewan untuk
mencegah hewan mengonsumsi pakan secara sembarangan.
33.Infeksi oleh Diphyllobothrium latum
Cacing pipih Diphyllobothrium latum hidup dalam usus halus
berbagai spesies mamalia, manusia, anjing, babi, kucing, serigala,
beruang serta hewan pemakan ikan. Cacing dewasa berukuran 210m terdiri dari 3000 segmen atau lebih. Cacing berwarna abu-abu
kekuningan dengan bagian tengah gelap karena adanya uterus dan
telur yang banyak jumlahnya.
Patogenesis : parasit yang hidup didalam tubuh anjing dan kucing
kurang memiliki arti patologik. Kecuali pertumbuhan penderita yang
terhambat. Lainhalnya dengan parasit yang berada dalam tubuh
manusia. Pada manusia cacing menyebabkan anemia yang parah.
Cacing memanfaatkan vitamin B12 berlebihan hingga menusia
penderita akan mengalami anemia pernisiosa.

Penanganan : untuk manusia penggunaan obat Quinacrine Hcl


memerikan hasil baik. Yomesan juga memberikan hasil baik. Untuk
anjing, obat baku yang dianjurkan untuk mengatasi kasus ini harus
memiliki efektifitas tinggi, termasuk Arecolin HBr.
Pencegahan : tidak memberikan ikan mentah kepada anjing dan
kucing sebagai pakan.
34.Infeksi Oleh cacing Spirocerca Lupi
Cacing Spirocerca Lupi ditemukan dalam tumor kerongkongan,
lambung, dan aorta anjing dan berbagai hewan pemakan daging.
Cacing dapat ditemukan diberbagai negara baik tropis termasuk
Indonesia maupun subtropis. Cacing dewasa berukuran 3-8cm,
berwarna merah, dan terdapat melingkar didalam tumor jaringan
ikat pada dinding kerongkongan atau organ lainnya. telur cacing
berdinding tebal, oval, dan dinding lateral yang hampir paralel.
Patogenesis : telur yang dibebaskan bersama tinja akan menetas
bila dimakan oleh kumbang. Didalam tubuh kumbang, larva akan
berkembang hingga mencapai stadium ke3 dalam waktu 7 hari. Bila
kumbang dimakan oleh hewan pengerat sebagai hospes paratenik,
larva akan membentuk kista dalam jaringan tubuh. Infeksi pada
anjing terjadi jika anjing mengonsumsi larva stadium ke 3 dalam
kotoran kumbang atau memakan hospes paratenik. Larva yang
termakan akan membuat lubang dalam lambung anjing dan
bermigrasi

pada

lapisan

arteri

dan

aorta

sampai

didinding

kerongkongan dan lambung. Dijaringan terakhir ini cacing dewasa


dapat menghasilkan telur dan siklusnya akan erjadi terus-menerus.
Gejala Klinis : larva yang bermigrasi menyebabkan pendarahan
dan radang. Infeksi Spirocerca Lupi menyebabkan hilangnya nafsu
makan,

munta,

dan

oleh

iritasi

cacing

menyebabkantremor,

aneurisma aorta, bahkan ruptur pembuluh darah serta terjadinya


osteoarthropati paru-paru sekunder.
Penanganan : mengingat cacing

ada

didalam

tumor

dikerongkongan dan lambung sedangkan obat cacing untuk dapat


berfungsi harus mencapai usus dahulu, pengobatan menjadi sulit.
Penyuntikan disophenol dan pemberian dietil karbamasin

dosis

tinggi selama 10 hari berturut-turut terbukti meberikan hasil yang


baik.
Pencegahan : memberikan pakan yang baik dan tercukupi untuk
hewan agar hewan tidak memakan makanan secara sembarangan.
35.Infeksi oleh cacing cambuk (Trichuriasis)

Cacing cambuk Trichuris spp berukuran 4-7,5 cm hidup pada


mukosa sekum dan usus besar dari berbagai ternak, anjing dan
serigala. Spesies anjing dan serigala terinfeksi cacing cambuk
Trichuris vulpis. Cacing ini secara morfologi berbentuk seperti
cambuk. Cacing ini tidak ditemukan pada kuda. Bagian anterior
cacing panjang dan langsing sedangkan bagian posteriornya
pendek dan tebal.
Patogenesis : dengan melekat eratnya cacing pada mukosa sekum
dan usus besar terjadilah radang yang dapat meningkatkan
peristaltik. Rasa sakit perut juga menghilangkan nafsu makan dan
kehilangan cairan lewat tinja maupun keringat hingga penderita
akan kekurangan cairan. Diare yang berlangsung tidak beraturan
berupa

tinja

bercampur

kehitaman,

darah.

Adanya

abu-abu
cacing

seperti
T.

lumpur,

Vulpis

juga

dan

tinja

mendorong

kemungkinan terjadi infeksi oleh organisme lainnya baik parasit,


maupun bakteri.
Gejala klinis : sakit perut, peningkatan peristaltik usus, anorexia,
diare.
Penanganan

pemberian

obat-obatan

anthelmintik

seperti

Fenbendazole, Mebendazole, Dipthalofyne,dll yang diberikan dalam


jangka waktu 10 minggu.
Pencegahan : memberikan pakan yang baik dan tercukupi untuk
hewan agar hewan tidak memakan makanan secara sembarangan.
36.Hernia inguinalis di Kucing
Hernia inguinalis adalah suatu kondisi di mana isi perut menonjol
melalui kanalis inguinalis atau cincin inguinal, pembukaan yang
terjadi pada dinding otot di daerah selangkangan. hernia inguinalis
dapat terjadi di kedua anjing dan kucing. Jika Anda ingin belajar
bagaimana jenis hernia mempengaruhi anjing, silakan kunjungi
halaman ini di perpustakaan kesehatan petMD.
Gejala
Hernia inguinalis mungkin tidak rumit atau rumit. Hernia rumit
adalah satu di mana isi rongga perut telah melewati pembukaan
dan menjadi terperangkap. Gejala terlihat dengan hernia inguinalis
tidak rumit adalah:
Sebuah pembengkakan lembut di area selangkangan, yang
dapat terjadi pada satu atau kedua sisi tubuh
Gejala terlihat dengan hernia inguinal rumit
termasuk:

mungkin

Pembengkakan

di

daerah

selangkangan,

yang

mungkin

menjadi menyakitkan dan hangat saat disentuh


muntah
Rasa sakit
upaya sering buang air kecil
kencing berdarah
Kurang nafsu makan
Depresi
37.Demensia (Geriatri) di Kucing
Dengan usia lanjut datang banyak komplikasi dan gangguan.
sindrom disfungsi kognitif adalah salah satu kondisi tersebut yang
langsung berhubungan dengan penuaan otak kucing; akhirnya
menyebabkan perubahan kesadaran, defisit dalam belajar dan
memori, dan penurunan respon terhadap rangsangan. Meskipun
gejala

awal

dari

gangguan

ringan,

mereka

secara

bertahap

memburuk dari waktu ke waktu, juga dikenal sebagai "penurunan


kognitif."
Gejala

Disorientasi / bingung
Kecemasan / kegelisahan
lekas marah yang ekstrim
Penurunan keinginan untuk bermain
menjilati berlebihan
Tampak mengabaikan aturan pelatihan

atau

rumah

dipelajari sebelumnya
Lambat untuk mempelajari tugas baru
Ketidakmampuan untuk mengikuti rute familiar
Kurangnya diri grooming
Inkontinensia tinja dan urin
Kehilangan nafsu makan ( anoreksia )
Perubahan siklus tidur (yaitu, malam bangun, tidur siang

hari)
38.Infeksi oleh Aelurostrongylus abstrassus pada kucing
Pathogenesis
Cacing dewasa hidup dalam bronchioli dan dalam saluran alveolus.
Cacing sksn melatakan telur dalam saluran alveoli dan membentuk
nodul pada saluran alveoli. Telur kan menetas dan larva akan bebas
menuju saluran pernafasan, tenggorokan, dan akan meyeberang ke
faring dan akan menuju ke saluran penvernaan. Larva jga akan
menembus kerongkongan, lambung dan usus serta akan beredar
mengikuti aliran darah menuju ke organ organ tubuh lainnya.
Nodul berukuran 1-10 mm yang terdapat dijaringan subpleura yang
bersifat keras, berwarna bau-abu dan berisikan telur dan cacing,

yang pada suatu waktu dapat mengganggu saluran pernafasan.


Kadang-kadang nodul dengan jumlah yang banyak dapat bersifat
fatal bagi penderita. Adanya nodul dapat mengganggu proses
pernafasan yang dapat menghasilkan gejala-gejala berupa dispnea,
batuk, dan sebagainya.
Gejala Klinis
Gejala yang dapat diamati yaitu penderita akan memperlihatkan
gejala radang paru-paru berupa batuk, suhu tubuh yang meningkat,
dan keluarnya cairan eksudat dari hidung serta gejala bersin.
Penderita akan menjadi kurus secara progresif. Kadang terjadi gejala
diare, kesembuhan spontan dapat terjadi terutama pada penyakit
yang kronis. Timbunan telur dan cacing dalam saluran pernafasan
dapat menyebabkan kematian mendadak.
Pencegahan
Pemberian pakan secara teratur pada hewan untuk mencegah
hewan mengonsumsi pakan secara sembarangan. Selain itu, pemilik
juga memperhatikan kebersihan lingkungan disekitar hewan untuk
mencegah infeksi dari parasit ini.
Penanganan
Dapat dilakukan pengobatan suportif, pengobatan dangan larutan
NaI 20% yang diuntikan 3 kali dengan interval 5 hari dapat
menghilangkan larva dalam tinja. Pemberian dietilkarbamasin dapat
menurunkan jumlah larva dan feses. Pengobatan juga dapat
dilakukan dengan pemberia levamisol 8-10 mg/kg selama 3 hari,
seperti pada penanganan untuk cacring pada saluran pernafasan..
dapat juga diberikan ivermektin dengan dosis 0,4 mg/kg disuntikan
secara subkutan.
39.Hemangiosarcoma dari Bone di Kucing
Hemangiosarcoma adalah tumor menyebar cepat dari sel-sel
endotel, yang garis permukaan interior pembuluh darah tubuh,
termasuk arteri, vena, saluran usus, dan bronkus paru-paru.
Integritas tulang dapat dikompromikan oleh tumor, dan patah tulang
di tulang, absen kecelakaan trauma yang berhubungan dengan
tubuh, merupakan ciri khas dari kanker tulang. Paling umum, jenis
tumor ditemukan pada tungkai atau tulang rusuk, tetapi dapat
terjadi di lokasi lain juga.
40.Ulseratif Keratitis di Kucing
Kornea - bagian transparan mata - membentuk penutup atas iris
dan pupil. Hal ini juga mengakui cahaya ke dalam mata, membuat
visi mungkin. Sebuah ulkus kornea terjadi ketika lapisan yang lebih

dalam dari kornea hilang; borok ini diklasifikasikan sebagai dangkal


atau mendalam. Jika kucing Anda menyipitkan atau mata yang
merobek berlebihan, ada kemungkinan dari ulkus kornea (keratitis
atau ulseratif).
Gejala
Merah, mata menyakitkan
mata berair
menyipitkan mata
Kepekaan terhadap cahaya
Menggosok di mata dengan satu kaki
Mata mungkin tetap tertutup
debit mata
Film atas mata
41.Fistula oronasal di Kucing
Sebuah fistula ditandai sebagai lorong normal antara dua bukaan,
organ berongga, atau gigi berlubang. Mereka terjadi sebagai akibat
dari cedera, infeksi, atau penyakit. Sebuah berkomunikasi, lorong
vertikal antara mulut dan rongga hidung disebut fistula oronasal.
fistula oronasal jarang pada kucing, tetapi mereka terjadi.
Jenis fistula disebabkan oleh kondisi sakit dari setiap gigi di rahang
atas. Lokasi yang paling umum untuk fistula oronasal sinilah akar
dari premolar keempat pada rahang atas memasuki langit-langit.
Kondisi ini akan membutuhkan operasi untuk dikoreksi untuk
mencegah makanan dan air dari melewati dari mulut ke rongga
hidung. Jika ini harus terjadi, itu akan menyebabkan iritasi hidung,
pilek, radang sinus, infeksi, dan mungkin pneumonia.
Gejala dan Jenis
Gejala fistula oronasal termasuk pilek kronis, dengan atau tanpa
pendarahan, dan bersin terus-menerus.
Pengobatan
Operasi pengangkatan gigi, dan penutupan

lorong

adalah

pengobatan pilihan. Sebuah penutup kulit akan ditempatkan di


kedua mulut dan di rongga hidung selama penutupan.
42.Arteriovenous Fistula di Kucing
Sebuah rendah, koneksi perlawanan yang abnormal antara arteri
dan vena disebut fistula arteriovenosa. Jika cukup besar, fistula
dapat menyebabkan fraksi yang signifikan dari total curah jantung
untuk melewati kapiler, sehingga sehingga jaringan menerima
sedikit atau tidak ada oksigen. Jantung, pada gilirannya, mencoba
untuk mengkompensasi kekurangan oksigen dengan memompa
darah ke tubuh pada tingkat yang lebih cepat, yang dapat
menyebabkan "output tinggi" gagal jantung kongestif.

Lokasi arteriovenous fistula bervariasi; situs dilaporkan termasuk


kepala,

leher,

telinga,

lidah,

badan,

sayap,

sumsum

tulang

belakang, otak (bagian dari otak), paru-paru, hati, vena cava (vena
utama mengarah kembali ke jantung), dan saluran pencernaan.
Gejala dan Jenis
Gejala yang berhubungan dengan fistula arteriovenosa akhirnya
akan tergantung pada ukuran dan lokasi fistula. Biasanya, ada
hangat, non-menyakitkan di lokasi fistula. Jika lesi pada tungkai,
kucing mungkin menampilkan:
Pembengkakan di mana Anda dapat menyentuh anggota
tubuh dan kesan ujung jari yang tersisa dalam (edema
pitting) kulit
Ketimpangan
Koreng
Scabbing
Batuk
Kesulitan bernapas (dyspnea)
Peningkatan denyut jantung (takipnea)
intoleransi latihan
Jika arteriovenous fistula menyebabkan kegagalan organ, kucing
Anda mungkin menampilkan:
Distensi abdomen (liver)
Kejang (otak)
Kelemahan atau kelumpuhan (sumsum tulang belakang)
Kucing dengan tanda-tanda klinis harus menjalani operasi untuk
membagi dan menghapus koneksi yang abnormal antara pembuluh
darah. Namun, operasi bisa sulit dan padat karya dan mungkin
memerlukan

transfusi

darah.

Juga,

meskipun

sering

sukses,

arteriovenous fistula bisa kambuh bahkan setelah operasi. Beberapa


kucing bahkan mungkin memerlukan amputasi embel yang terkena.
Sebuah pilihan pengobatan yang lebih baru yang disebut
transkateter embolisasi melibatkan menggunakan kateter untuk
memblokir pembuluh darah. Metode ini sangat menguntungkan
karena relatif non-invasif dan menyediakan akses ke lesi jarak jauh
melalui pembuluh darah
43.Entropion di Kucing
Entropion adalah suatu kondisi genetik di mana sebagian dari
kelopak mata terbalik atau dilipat ke arah dalam bola mata. Hal ini
menyebabkan iritasi dan goresan ke kornea - permukaan depan
mata - mengarah ke ulserasi kornea, atau perforasi kornea. Hal ini
juga dapat meninggalkan jaringan parut berwarna gelap untuk

membangun di atas luka (pigmen keratitis). Faktor-faktor ini dapat


menyebabkan kerugian atau penurunan penglihatan.
Umumnya, hanya keturunan yg mempunyai kepala yg pendek dan
lebar dari kucing, seperti Persia, beresiko. Entropion hampir selalu
didiagnosis sekitar waktu kucing mencapai tahun kedua usia.
Gejala dan Jenis
Gejala umum biasanya termasuk kelebihan robek (epifora) dan /
atau peradangan mata bagian dalam (keratitis). Mata mungkin
tampak merah, atau kulit di sekitar rongga mata dapat kendur.
Dalam beberapa kasus lendir dan / atau debit nanah dari sudut luar
mata akan tampak, menandakan infeksi mungkin.
Pengobatan
Jika kondisi ini ringan dan kornea tidak ulserasi, air mata buatan
dapat digunakan untuk melumasi mata. kornea ulserasi dapat
diobati

dengan salep

antibiotik antibiotik

atau

tiga.

Operasi

seringkali diperlukan. Hal ini dilakukan oleh sementara memutar


kelopak mata dalam atau ke luar (everting) melalui penjahitan.
Operasi ini dilakukan pada kasus-kasus sedang, dan ketika kucing
dewasa yang tidak memiliki riwayat kondisi pameran entropion.
Dalam kasus yang parah rekonstruksi wajah diperlukan, tetapi
umumnya dihindari sampai kucing mencapai ukuran dewasa.
Manajemen
Entropion membutuhkan perawatan tindak lanjut rutin, dengan obat
yang diresepkan oleh dokter hewan. Mereka mungkin termasuk
antibiotik untuk mengobati atau mencegah infeksi, dan tetes mata
atau salep. Dalam kasus solusi non-bedah sementara, mungkin ada
kebutuhan untuk mengulangi prosedur hingga masalah teratasi,
atau sampai kucing Anda cukup tua untuk solusi yang lebih
permanen. Jika kucing Anda menderita sakit, gatal atau iritasi mata
lainnya,

Anda

akan

perlu

untuk

kita

kerah

Elizabeth

untuk

mencegah kucing dari goresan di mata dan membuat masalah lebih


buruk.
Pencegahan
Sebagai entropion

biasanya

disebabkan

oleh

kecenderungan

genetik, dapat benar-benar dicegah. Jika kucing Anda adalah dari


generasi yang dikenal akan terpengaruh oleh entropion, Anda akan
perlu untuk mencari pengobatan medis yang segera segera setelah
Anda telah memperhatikan komplikasi.

44.Rectoanal Polip di Anjing


Polip Rectoanal ditandai dengan pertumbuhan tonjolan flap-seperti
di dinding dubur dan dubur. Polip dapat langsung melekat pada
dinding usus (sessile), atau melekat melalui koneksi silinder tangkaiseperti.

Kebanyakan

polip

rectoanal

adalah

non-kanker,

dan

hanyalah perpanjangan dari lapisan jaringan terdalam dari dinding


usus. Dan sementara sebagian besar kasus polip biasanya terisolasi,
ada kesempatan anjing menderita beberapa polip.
Gejala dan Jenis
Anjing yang menderita kondisi ini akan menunjukkan tegang atau
sakit sementara lewat tinja. Tinja mungkin bernoda darah dan / atau
ditutupi dengan lendir.
Pengobatan
Pembedahan biasanya diindikasikan untuk manajemen yang efektif
dari polip. Polip dapat dihapus melalui pembukaan dubur, setelah
pembukaan

dubur

akan

ditutup

dengan

jahitan.

operasi

pengangkatan yang sama dapat dilakukan endoskopi, atau dengan


menggunakan jarum listrik atau penyelidikan. Beberapa obat yang
mungkin diresepkan adalah:
penghilang rasa sakit non-steroid
Antibiotik (terutama sebelum operasi

untuk

mencegah

infeksi)
pelunak feses
Kemungkinan komplikasi termasuk kambuh polip dan penyempitan
pembukaan dubur karena jaringan parut dan / atau peradangan.
45.Sinus Bradikardia di Kucing
Sebuah tingkat yang lebih lambat dari normal impuls di sinus node
secara medis disebut sebagai bradikardia sinus (SB). Juga disebut
node sinoatrial (SAN), sinus node memulai impuls listrik dalam
jantung, memicu jantung untuk mengalahkan atau kontrak. Dalam
kebanyakan kasus, lambat sinus impuls listrik jinak dan bahkan
mungkin bermanfaat; Namun, hal itu juga dapat menyebabkan
hilangnya kesadaran jika dibawa oleh penyakit yang mendasari
yang mengganggu saraf otonom jantung, yang bertindak sebagai
sistem kontrol jantung. SB kurang umum pada kucing dibandingkan
dengan anjing. Selain itu, tingkat detak jantung akan tergantung
pada lingkungan ukuran hewan.
Gejala dan Jenis
Kucing Anda mungkin tidak menunjukkan gejala apakah itu sangat
aktif atau terlibat dalam pelatihan atletik. Biasanya, bradikardia

sinus (detak jantung lebih lambat dari 120 denyut per menit,
meskipun tergantung pada lingkungan dan ukuran hewan) adalah
yang paling jelas ketika kucing Anda sedang beristirahat. Beberapa
gejala umum lainnya yang terkait dengan bradikardia sinus
meliputi:
Kelesuan
Kejang
intoleransi latihan
Hilang kesadaran
inkoordinasi otot episodik (ataxia)
bernapas terlalu lambat (hipoventilasi), terutama di bawah
anestesi
Pengobatan
Pengobatan dan pendekatan terapi akan ditentukan oleh penyakit
yang mendasari untuk SB, tingkat ventrikel, dan keparahan gejala
klinis. Namun, banyak kucing tidak menunjukkan tanda-tanda klinis
dan tidak memerlukan pengobatan.
Jika kucing Anda dalam kondisi kritis, mungkin diperlakukan sebagai
pasien rawat inap, di mana terapi cairan intravena dapat diberikan.
Pembatasan kegiatan tidak akan dianjurkan kecuali kucing Anda
memiliki SB gejala yang berhubungan dengan penyakit jantung
struktural;
sampai

maka

intervensi

pembatasan
medis

dan

latihan
/

akan

atau

direkomendasikan

pembedahan

dapat

menyelesaikan masalah.
46.Distokia di Kucing
Kesulitan melahirkan ini biasa disebut sebagai distokia dan menurut
penyebabnya distokia bisa digolongkan ke dalam dua golongan :
sebab maternal dimana problem berasal dari induknya dan sebab
fetal dimana
Gejala Klinis

problem berasal dari anaknya.


Kebuntingan lebih dari 70 hari
Tahapan Pertama berlangsung lebih dari 24 jam
Mengejan hebat lebih dari 30 menit tanpa melahirkan
Jarak antar kelahiran lebih dari 2 jam
Temperature rektal diatas 39C
Induk menjerit kesakitan dan terus menjilati

kelaminnya
Apabila fetus sudah terlihat di saluran kelahiran dan

mengejan 10 menit
Induk terlihat depresi
Adanya leleran cairan bercampur darah dan berbau
busuk sebelum keluarnya anak pertama atau antar
kelahiran anak.

Tidak

muncul

refleks

ferguson

dimana

ketika

dirangsang pada bagian atas vagina tidak ada respon,


hal ini menunjukkan adanya inertia uterina atau rahim
tidak mampu berkontraksi.
Penyebab
Janin
janin kebesaran
presentasi yang abnormal, posisi, atau postur janin di jalan

Induk

lahir
kematian janin
kontraksi uterus miskin
tekan perut tidak efektif
Peradangan rahim (biasanya disebabkan oleh infeksi)
Kehamilan toksemia (keracunan darah), diabetes gestasional
Abnormal kanal panggul dari cedera sebelumnya panggul,

konformasi normal, atau ketidakdewasaan panggul


panggul kongenital kecil
Kelainan kubah vagina
Kelainan pembukaan vulva
Cukup dilatasi serviks
Kurangnya pelumasan yang memadai
uterine torsi
ruptur uteri
Penanganan
Manipulasi dengan jari bisa dilakukan untuk membetulkan posisi
fetus yang tidak tepat. Apabila keadaan sangatlah buruk misalnya
fetus

tidak

bisa

dikeluarkan

setelah

lebih

dari

30

menit,

kemungkinan harus dilakukan operasi sesar terhadap sang induk.


47.Katarak dari Lens Eye di Kucing
Katarak mengacu pada kekeruhan pada lensa kristal mata,
bervariasi dari lengkap untuk opacity parsial. Ketika lensa mata
(terletak tepat di belakang iris) adalah tutul, mencegah cahaya dari
melewati

ke

retina,

yang

dapat

menyebabkan

kehilangan

penglihatan. Sebagian besar kasus katarak yang diwarisi; misalnya,


kucing Persia, Birmans, dan Himalayans semua cenderung untuk
katarak.
Gejala Klinis
Gejala
biasanya

berhubungan

dengan

tingkat

gangguan

penglihatan. Kucing dengan kurang dari 30 persen opacity lensa,


misalnya, menampilkan gejala sedikit atau tidak ada, sedangkan
orang-orang dengan lebih dari 60 persen opacity dari lensa

mungkin menderita kehilangan penglihatan atau memiliki kesulitan


melihat di daerah remang-remang.
Penyebab
Meskipun sebagian besar kasus katarak diwariskan, berikut ini
adalah penyebab lain dan faktor risiko yang terkait dengan kondisi:
Diabetes mellitus
Usia tua
Sengatan listrik
Peradangan uvea mata (uveitis)
tingkat
abnormal
rendah
kalsium
dalam
darah
(hypocalcemia)
Paparan radiasi atau racun zat (misalnya, dinitrophenol,
naftalena)
Pengobatan
Salah satu teknik bedah modern yang katarak, fakoemulsifikasi,
melibatkan emulsifikasi lensa mata dengan handpiece ultrasonik.
Setelah lensa emulsi dan disedot, bercita-cita cairan diganti dengan
larutan garam seimbang. Juga, untuk mencegah rabun jauh ekstrim,
lensa

intraokular

dapat

ditanamkan

selama

operasi.

Fakoemulsifikasi telah menunjukkan lebih dari tingkat keberhasilan


90 persen pada kucing.
48.Hemangiosarcoma dari Bone di Kucing
Hemangiosarcoma adalah tumor menyebar cepat dari sel-sel
endotel, yang garis permukaan interior pembuluh darah tubuh,
termasuk arteri, vena, saluran usus, dan bronkus paru-paru.
Integritas tulang dapat dikompromikan oleh tumor, dan patah
tulang di tulang, absen kecelakaan trauma yang berhubungan
dengan tubuh, merupakan ciri khas dari kanker tulang. Paling
umum, jenis tumor ditemukan pada tungkai atau tulang rusuk,
tetapi dapat terjadi di lokasi lain juga. Seperti banyak jenis kanker,
hemangiosarcoma biasanya didiagnosis pada kucing yang lebih tua
dari 17 tahun.
Gejala Klinis
Jika tumor di kaki, ketimpangan dan / atau pembengkakan
Fraktur karena kelemahan pada tulang
Bengkak di situs yang terkena
sulit bernapas mungkin hadir jika tumor melibatkan tulang
rusuk
membran mukosa pucat (yaitu, hidung, bibir, telinga, alat
kelamin)
Anemia karena kehilangan darah dari tumor pecah
Penyebab

Penyebab yang tepat untuk hemangiosarcoma tulang masih belum


diketahui.
Pengobatan
Operasi agresif tetap metode pilihan dalam pengobatan tumor ini.
Tumor, dan mungkin daerah sekitarnya, akan perlu dihapus
seluruhnya. Jika tumor ini terjadi pada tungkai, anggota badan yang
terkena akan paling mungkin harus diamputasi, operasi yang paling
kucing pulih dari baik. Sebuah tumor aksial - salah satu yang
mempengaruhi area kepala atau batang - mungkin lebih sulit untuk
mengobati. Kemoterapi bersama dengan operasi adalah rencana
pengobatan yang dianjurkan.
49.Fraktur maxilari dan mandibulari
fraktur maxilari dan mandibulari adalah kerusakan pada tulang
maxilla dan mandibula yang seringkali terjadi akibat adanya
trauma, periodontitis maupun neoplasia. Periodontitis adalah reaksi
peradangan pada jaringan disekitar gigi yang terkadang berasal
dari peradangan gingivitis didalam periodontium.
Pathofisiologi
fraktur pada maxilari dan mandibular seringkali disebabkan oleh
adanya trauma kepala yang disertai dengan luka serius sehingga
menyebabkan kerusakan pada os mandibula, maxilla, system
pernafasan atas, system syaraf pusat, pneumothorax, contusions
pulmonary

dan

miocardytis

traumatic.

Trauma

yang

terjadi

termasuk di dalamnya adalah tertabrak kendaraan bermotor,


berkelahi anatar hewan, luka tembak, terjatuh dari ketinggian yang
biasa terjadi pada kucing. Fraktura symphisea mandibular dan
fraktur palate seringkali terjadi pada kucing yang terjatuh dari
ketinggian atau biasa disebut high-rise syndrome. Sedangkan
kerusakan yang terjadi secara tidak langsung misalnya adanya
pencabutan gigi dengan disertai periododental atau disertai dengan
gangguan

metabolism

yang

menyebabkan

osteoporosis.

Ketidaknormalan ini sering terjadi secara akut sehingga dibutuhkan


penanganan yang cepat dan tepat. Jika treatment yang diberikan
kurang tepat akan menyebabkan abnormalitas permanen pada
bentuk tulang yang dapat berdampak pada menurunya fungsi
sebenarnya. Penanganan sebaiknya dilakukan sebelum tulang yang
telah mengalami kelainan atau abnormal bertaut atau membentuk

jaringan ikat antara tulang-tulang abnormal. Seringkali kasus fraktur


mandibula diawali dengan hilangnya tulang akibat periodontitis.
Gejala klinis
Bervariasi dan termasuk adanya krepitasi ketika dilakukan
manipulasi pada mandibula pada saat palpasi. Terasa sakit ketika
mulut dibuka dan dagu dipegang. Asymetri dari bentuk dagu.
Hidung atau mulut mengeluarkan darah. Terjadi kerusakan pada
bagian hidung.
Terapi
Treatment metode penanggulangan fraktur mandibula dan maxilla
tergantung dari tingkat keparahan dan lokasi fraktura. Treatment
dengan menggunakan balutan otot atau pengikatan gigi dapat
dilaukan pada kasus fraktur tertentu.
50.KARANG GIGI
Plak adalah timbunan berwarna kuning yang terdiri dari sisa-sisa
makanan, jaringan mulut yang sudah mati dan bakteri pembusuk.
Semua bahan-bahan tersebut menempel dan menumpuk di sekitar
permukaan gigi. Lama kelamaan jumlahnya semakin banyak
kemudian mengeras dan membentuk karang gigi/tartar. Pada
awalnya pembentukan karang gigi terjadi dibagian dasar gigi,
kemudian

semakin

menyebar

dan

dapat

menutupi

seluruh

permukaan gigi.
Gejala Klinis
nafas kucing yang berbau tidak sedap/busuk. Lebih lanjut, tartar
dapat menyebabkan sakit dan peradangan pada gusi, akibatnya
kucing Mengalami kesulitan pada saat makan atau bahkan dapat
menghilangkan nafsu makan.
Jika kucing anda meneteskan
goyangkan

kepala

atau

liur

berlebihan,

mencakar-cakar

menggoyang-

mulutnya,

ada

kemungkinan kucing tersebut mengalami gangguan pada mulut


atau giginya.
Patofisiologi
Bakteri yang terdapat didalammnya akan menyerang jaringan gusi
disekitarnya menyebabkan radang dan sakit. Radang pada gusi
sering disebut gingivitis. Infeksi pada gusi dapat menyebar ke akar
gigi. Nanah yang terbentuk akibat infeksi bisa saja menumpuk di
sekitar

akar

gigi

dan

menyebabkan

abses

yang

sangat

menyakitkan. Jika dibiarkan, penyakit akan berkembang, gigi


menjadi goyah dan mudah lepas. Belum lagi masalah lain yang
disebabkan hilangnya nafsu makan akibat rasa sakit pada gigi &

gusi. Bakteri dan racun/toksin yang diproduksi bakteri dapat masuk


ke aliran darah dan menyebabkan kerusakan organ-organ lain
seperti hati, ginjal dan jantung.
Pencegahan dan Pengobatan
Teeth Cleaning adalah pembersihan karang/plak pada gigi. Menyikat
gigi kucing sama pentingnya dengan mencegah pembentukan
tartar. Idealnya seekor kucing harus mulai dibiasakan disikat giginya
sejak masih kecil.
Sikat kecil untuk bayi, dengan bulu sikat yang lembut dapat
digunakan untuk menyikat gigi kucing. Sikat gigi khusus kucing
dapat dibeli di petshop-petshop. Jangan gunakan pasta gigi
manusia untuk membersihkan gigi kucing. Pasta gigi manusia
mengandung menthol yang dapat menyebabkan kucing tidak
nyaman. Gunakan gel atau pasta gigi khusus kucing/anjing yang
dapat ditemukan di petshop-petshop. Pasta gigi jenis ini aman bila
ditelan oleh kucing atau anjing. Dalam keadaan terpaksa, dapat
digunakan pasta gigi untuk bayi. Cari yang rasa mentholnya tidak
terlalu menyengat/tanpa menthol sama sekali. Selalu bersihkan
pasta gigi yang tersisa di mulut. Lain halnya dengan pasta gigi
khusus kucing/anjing, biasanya tidak perlu dibersihkan karena aman
bila ditelan (Selalu baca petunjuk penggunaan pasta gigi khusus
untuk hewan).

DAFTAR PUSTAKA
Subronto. . 2006. Penyakit infeksi parasit dan mikroba pada Anjing dan Kucing.
Yogyakarta. Indonesia
Triakoso Nusdianto.2006.Penyakit Sistem Digesti Veteriner II. Bagian Klinik
Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.Surabaya
http://www.petmd.com/dog/conditions/
http://pdhbvet.com/category/education/