Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTEK TEKNIK TRANSMISI

PULSE AMPLITUDO MODULATION


( PAM )

Disusun oleh :
Roni Apriantoro
TE-2B / 15

PROGRAM STUDI D4 TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2016
MODULASI AMPLITUDO PULSA ( PAM )

Politeknik Negeri Semarang

Jurusan Teknik Elektro

Prodi Teknik Telekomunikasi


I.

Praktek Teknik Transmisi

TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mengerti prinsip modulasi amplitudo pulsa.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi dari modulator amplitudo pulsa.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan penggunan PAM.

II.

DASAR TEORI
Konsep dasar PAM adalah mengubah amplitude pembawa yang berupa deretan
pulsa ( diskrit ) mengikuti bentuk amplitude dari signal informasi yang akan dikirimkan
Sinya linformasi yang dikirim tidak seluruhnya tapi hanya sampelnya saja
( sampling signal ). Pembentukan sinyal PAM pada proses digitalisasi menggunakan
pulsa merupakan langkah pertama dengan cara membangkitkan sinyal pulse dari pulse
generator dengan mengatur lebar pulse ( To ) secara diskret. Namun selanjutnya perlu
dipahami bahwa ternyata bentuk sinyal PAM yang dihasilkan adalah:
1. Sinyal PAM adalah berbentuk diskrete pada kawasan waktu dan kontinue
Levelnya.
2. Sinyal PAM bentuknya tidak murni sinyal analog dan juga tidak murni
berbentuk sinyal digital.
Dalam praktiknya pada komunikasi digital, sinyal PAM kurang disukai karena
bentuk karakteristik sinyalnya menyebabkan sinyal ini tidak tahan terhadap error karena
faktor kekontinuitasnya.

Gambar 1.1

Konversi sinyal analog menjadi sinyal digital dibagi menjadi 3 bagian penting yaitu:
1. Sampling

Politeknik Negeri Semarang


Prodi Teknik Telekomunikasi

Jurusan Teknik Elektro


Praktek Teknik Transmisi

Merupakan proses pencuplikan dari sinyal informasi yang akan diproses. Frekuensi
sinyal sampling menurut aturan Nyquist adalah sebesar 2 fm, dengan fm adalah sinyal
informasi yang akan disampling.
2. Quantizing
Merupakan proses penghargaan suatu sinyal yang sudah disampling dengan
membawa sinyal tersebut pada penghargaan bit-bit biner yang dibutuhkan.
3. Encoding
Merupakan proses pengubahan kode-kode biner menjadi kode-kode tertentu sesuai
dengan aplikasi dari sinyal digital yang dimaksud
Pada sebuah proses sampling bisa dilakukan dengan menggunakan dua jenis
sinyal yaitu pulsa maupun impulse. Modulasi dengan sinyal PAM ini merupakan proses
pendigitalisasian sinyal dengan input sinyal berupa pulsa.
Untuk memaksimalkan penggunaan kanal transmisi, percobaan dilakukan untuk
mengetahui berapa sumber sinyal yang dapat dilewatkan pada suatu kanal. Selain
menggunakan frequency multiplexing, digunakan pula time multiplexing. PAM
merupakan prasyarat untuk sistem time multiplexing. Dari teori sampling Shannon
disebutkan bahwa tidak perlu semua sinyal dikirimkan. Cukup hanya dengan
mengambil beberapa sample dari sinyal, dengan frekuensi sampling (fp) minimal harus
dua kali dari frekuensi tertinggi dari sinyal yang akan dikirim.

Politeknik Negeri Semarang

Jurusan Teknik Elektro

Prodi Teknik Telekomunikasi

Praktek Teknik Transmisi

Pulsa yang beurutan secara periodik merupakan modulasi amplitude oleh


frekuensi

suatu

sinyal.

Modulasi

dilakukan

oleh

bagian

penyampling

( switch elektronik ) yang mengijinkan sinyal melewati keluaran untuk selang waktu
setiap pulsa. Selain dari sinyal ini, sampling menghasilkan spectrum frekuensi yang
lebar. Jika frekuensi sampling minimal dua kali dari frekuensi tertinggi dari sinyal,
maka sinyal asli dapat diperoleh kembali dengan menggunakan filter lolos rendah
( LPF / low pass filter ) .

Pada kanal suara memiliki lebar pita 3,1 kHz, dengan pembatas frekuensi 3,4 kHz
cukup baik untuk didengar. Filter sebenarnya memiliki tingkatan tertentu, biasanya
digunakan frekuensi sampling 8 kHz. Hal ini memungkinkan untuk menekan frekuensi
4

Politeknik Negeri Semarang

Jurusan Teknik Elektro

Prodi Teknik Telekomunikasi

Praktek Teknik Transmisi

selain dari sinyal yang diinginkan. Pada pecobaan ini digunakan filter butterworth orde
4. Selama pengiriman, sistem PAM memiliki sensitivitas terhadap interferensi seperti
pengiriman menggunakan sinyal analog. Pada pemakaian time multiplexing, cross-talk
dapat terjadi ketika pulsa sampling berada pada kanal yang berdekatan. Oleh karena itu
PAM biasanya hanya digunakan pada tingkat awal suatu sistem pengiriman digital.
Bagian sampling harus diubah termasuk bagian penahan untuk menjaga supaya sinyal
tetap selama proses konversi analog menjadi digital.
Sampling PAM Alami
Sampling Alami (Natural Sampling) terjadi bila pada modulator
digunakan pulsapulsa dengan lebar terbatas, tetapi puncakpuncak
pulsa dipaksa untuk mengikuti bentuk gelombang modulasi.

(a)

(b)
Gambar (a). Bentuk Gelombang Sampling PAM Alami

Gambar (b). Samping PAM Puncak Rata

Sampling PAM dengan Puncak Rata


Sampling PAM dengan PuncakRata (flat topped sampling)
adalah proses dimana pulsapulsa dengan lebar terbatas dimodulasi
kemudian dihasilkan puncak-puncak yang rata. Maka lebar pulsa
harus dibentuk jauh lebih kecil daripada perioda sampling Ts,
sehingga

bentuk

gelombang

yang

disampel

berpuncak

rata

dilewatkan pada sebuah filter low pass akan diperoleh kembali


gelombang modulasi tanpa cacat (distorsi).
5

Politeknik Negeri Semarang


Prodi Teknik Telekomunikasi
III.

Jurusan Teknik Elektro


Praktek Teknik Transmisi

ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


1. Modulator PAM 1 buah
2. Demodulator PAM 1 buah
3. Power Supply 15 V / 2A 1 buah
4. Generator Fungsi 1 buah
5. Osiloskop dual trace 1 buah
6. Probe Test 10:1 / 1:1 2 buah
7. Probe adapter 2 buah

IV.

GAMBAR RANGKAIAN

Gambar 5. Rangkaian PAM Demodulator


6

Politeknik Negeri Semarang

Jurusan Teknik Elektro

Prodi Teknik Telekomunikasi


V.

Praktek Teknik Transmisi

LEMBAR KERJA
1. Rangkai rangkaian seperti pada gambar 4.
2. Generator fungsi diatur pada keluaran sinusoida, 200 Hz 2 Vpp. Trigger osiloskop
dari sinyal masukan. Atur clock generator dari PAM pada 2 kHz.
3. Gambar hasil dari osiloskop.
4. Beri komentar gambar yang dihasilkan
5. Rangkai rangkaian seperti pada gambar 5.
6. Atur modulator PAM dengan frekuensi clock : 8 KHz, dan lebar pulsa 50 s.
7. Gambar hasil dari osiloskop.
8. Beri komentar gambar yang dihasilkan.

VI.

DATA HASIL PERCOBAAN


Jenis Data

Sinyal input FG - Filter

Hasil Osiloskop

Keterangan

Fin = 210 Hz
Fout = 50 Hz
Vin = 1,9 V
Vout = 2,92 V

Politeknik Negeri Semarang

Jurusan Teknik Elektro

Prodi Teknik Telekomunikasi

Jenis Data

Praktek Teknik Transmisi

Hasil Osiloskop

Keterangan

Fin = 200 Hz
Sinyal input FG Sample

Fout = 250 KHz


Fclock = 2 KHz
Vin = 2,18 V
Vout = 4,88 V

Sinyal input FG Setelah


Sample ( Fin <
Fclock )

Sinyal input FG Setelah


Sample ( Fin =
Fclock )

Fin = 115,9 Hz
FOut = 250 KHz
Fclock = 2,7 KHz
Vin = 7,12 V
Vout = 17,4 V

Fin = 2 KHz
Fout = 2 KHz
Fclock = 2 KHz
Vin = 8,32 V
Vout = 16,4 V

Politeknik Negeri Semarang


Prodi Teknik Telekomunikasi

Sinyal input FG Setelah


Sample ( Fin >
Fclock )

Sinyal input FG Setelah


Sample ( 2xFin
= Fclock )

Jurusan Teknik Elektro


Praktek Teknik Transmisi

Fin = 3 KHz
Fout = 1 KHz
Fclock = 2,25 KHz
Vin = 7,6 V
Vout = 13,4 V

Fin = 995 Hz
Fout = 981 Hz
Fclock = 2 KHz
Vin = 8,56 V
Vout = 17,2 V

Vi n = 6 Volt
Clock Generator

Fi n = 8,48 KHz

Setelah Hold

Vou t = 8,32 Volt


Fou t = 200 Hz

Politeknik Negeri Semarang

Jurusan Teknik Elektro

Prodi Teknik Telekomunikasi

Praktek Teknik Transmisi

Vi n pu t = 6 Volt
Clock
Generator

Fi n = 8,48 KHz
Vout

Setelah Pulse
Shaper

6,96

Volt Foutt =8,48


KHz

VII. ANALISA
Pada praktikum PAM (Pulse Amplitude Modulation) percobaan ini dilakukan 8 kali
pengamatan dengan pengambilan sampel gambar hasil sinyal output dari beberapa bagian
pada rangkaian PAM modulator dan demodulator menggunakan oscilloscope dengan sinyal
input rangkaian berasal dari Function Generator. Gelombang carrier dihasilkan dari
gelombang kotak (digital). Secara teori, gelombang carrier akan menjadi clock yang
melakukan sampling pada gelombang informasi. Hasil sinyal keluaran dari beberapa bagian
rangkaian PAM modulator dan demodulator juga dibandingkan dengan sinyal input
dan sinyal dari clock generator rangkaian PAM.
Pada percobaan pertama adalah perbandingan sinyal input rangkaian yang berasal
dari

function generator (biru) dan sinyal

keluaran dari

filter (LPF). Pada filter ini

melewatkan sinyal dibawah 3,4 KHz dan sifatnya menguatkan a m p l i t u d o sinyal output
karena filter ini merupakan filter aktif. Dengan input sebesar 2

volt 200

Hz,

m e n g h a s i l k a n output 3 Volt 50 Hz. Sinyal hasil keluaran filter ini tampak noise,
seharusnya sinyal keluaran berbentuk seperti sinyal input (dibawah

3,4KHz) dengan

penguatan pada amplitudonya.


Pada percobaan kedua dilakukan pengambilan data dari output sample tanpa
dihubungkan dengan rangkaian dibawahnya. Dari data yang dihasilkan, tampak bentuk
gelombang output berbentuk diskrit / sinyal PAM dengan puncak-puncak sinyal terpotong
mengikuti bentuk amplitudo sinyal input yang diambilkan dari hasil sinyal yang terfilter,
dengan penambahan clock sebesar 2 KHz. Hal ini terjadi karena sinyal diskrit belum
mengalami hold dan pulse shapping sehingga bentuk sinyal output masih cacat.
10

Politeknik Negeri Semarang

Jurusan Teknik Elektro

Prodi Teknik Telekomunikasi

Praktek Teknik Transmisi

Kemudian pada percobaan 3 sampai 6, dilakukan pengujian kepada sinyal output PAM
dengan rangkaian sampling dihubungkan dengan rangkaian dibawahnya yaitu hold dan pulse
shaper dengan melakukan pengubahan frekuensi sampling beberapa kali. Pada percobaan
ketiga, frekuensi sampling dibuat 10x lebih besar dari frekuensi input, sehingga
,menghasilkan output sinyal PAM yang bagus dengan sedikit sekali cacat. Pada percobaan
keempat, frekuensi sampling diatur sama dengan frekuensi sinyal input yaitu 2 KHz, maka
bentuk gelombang PAM yang dihasilkan adalah sinyal PAM yang cacat, sehingga sinyal
yang tersampling dalam satu gelombang tidak dapat dihitung. Pada percobaan ke lima,
frekuensi sampling dibuat lebih kecil dari frekuensi sinyal input, sehingga menghasilkan
sinyal PAM yang semakin cacat dengan sinyal hasil sampling tidak dapat dihitung dan sinyal
mengalami pergeseran fasa sehingga sinyal output diluar sinyal input. Pada percobaan ke
enam, frekuensi sampling diatur 2x lebih besar dari sinyal input, sehingga menghasilkan
sinyal PAM yang agak cacat pada puncak-puncak namun sinyal PAM dapat dihitung. Berikut
ini adalah tabel perhitungan sinyal PAM :
NO

Frek. sinyal input

Frek. sampling

PAM/detik

PAM/satu
gelombang

3
4
5
6

115 Hz
2,7 KHz
1012
2 KHz
2 KHz
3 KHz
2,25 KHz
1K
2 KHz
2000
Berikut adalah ontoh cara menghitung PAM/detik nomor 3:

23
2

PAM/satu gelombang = 23
Time/div = 1 ms
T (periode) = 23 x 1 ms = 23 ms
1
s=23 ms
x
X = 1000/23
= 44
PAM/detik = 44 x 23
= 1012 gelombang/detik

Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa frekuensi clock mempengaruhi jumlah
11

Politeknik Negeri Semarang


Prodi Teknik Telekomunikasi

Jurusan Teknik Elektro


Praktek Teknik Transmisi

sinyal PAM. Dari bentuk gelombang output, dapat diketahui bahwa semakin kecil frekuensi
sampling terhadap frekuensi sinyal input, maka gelombang PAM yang dihasilkan akan
semakin cacat. Jika frekuensi sampling dinaikkan minimal 2 kali frekuensi sinyal input,
maka bentuk gelombang PAM yang dihasilkan cukup baik. Semakin tinggi frekuensi sinyal
clock / sinyal sampling maka sinyal PAM dalam satu gelombang yang dihasilkan akan
semakin banyak. Semakin rendah frekuensi sampling maka sinyal PAM yang dihasilkan
dalam satu gelombang semakin sedikit. Apabila frekeunsi sampling kurang dari frekeuensi
sinyal input maka akan dihasilkan sinyal PAM yang cacat dan dalam satu gelombang tidak
dapat dihitung jumlah sinyal PAM.
Percobaan selanjutnya adalah melihat output dari keluaran rangkaian hold. Setelah
sinyal input mengalami digitalisasi oleh rangkaian sampling, selanjutnya sinyal dihubungkan
dengan rangkaian Hold, yang mana fungsi rangkaian ini adalah untuk menahan sementara
gelombang yang telah disampling, sehingga gelombang output bisa sinkron. Kemudian dari
rangkaian Hold sinyal diteruskan ke rangkaian pulse shapper yang mana pada rangkaian ini
bentuk sinyal diperbaiki bentuknya pada puncak-puncak sehingga dapat menyesuaikan
amplitudo sinyal input.
Apabila sinyal PAM keluaran dari modulator diumpankan pada rangkain demodulator
dengan memberi sinyal SYN yang diambilkan dari rangkaian clock yang mana SYN
digunakan untuk clock pada rangkain demodulator, maka gelombang output yang dihasilkan
adalah berupa sinyal sinus dengan amplitudo sama dengan gelombang PAM diskrit.
Rangkaian filter pada tahap akhir demodulator berfungsi untuk mengurangi noise yang
terjadi pada gelombang sehingga dihasilkan bentuk transformasi sinyal diskrit ke sinyal
sinusoida yang lebih baik.

VIII. KESIMPULAN

12

Politeknik Negeri Semarang


Prodi Teknik Telekomunikasi

Jurusan Teknik Elektro


Praktek Teknik Transmisi

1. Didalam proses PAM terjadi tiga proses yaitu Filtering, Sampling, Holding dan
Pulse Shapper.
2. Rangkaian Sampling berfungsi untuk mengambil sampel dari sinyal input dengan
menyesuaikan amplitudo sinyal input.
3. Rangkaian Holding berfungsi untuk menahan sementara gelombang yang telah
disampling, sehingga gelombang output bisa sinkron.
4. Rangakaian Pulse Shapper berfungsi untuk memperbaiki bentuk gelombang
sinyal yang tersampling sehingga amplitudonya lebih sesuai dengan sinyal input.
5. Frekuensi clock sangat mempengaruhi kualitas sinyal output PAM. Semakin
tinggi frekuensi clock, maka semakin baik kualitas sinyal PAM yang dihasilkan.
6. Semakin tinggi frekuensi sinyal clock / sinyal sampling maka sinyal PAM dalam
satu gelombang yang dihasilkan akan semakin banyak. Semakin rendah frekuensi
sampling maka sinyal PAM yang dihasilkan dalam satu gelombang semakin
sedikit.
7. Saat frekeunsi sampling lebih kecil dari frekeuensi sinyal input maka akan
dihasilkan sinyal PAM yang cacat dan dalam satu gelombang tidak dapat dihitung
jumlah sinyal PAM.
8. Persyaratan minimal frekuensi sampling adalah 2x frekuensi input agar terbentuk
sinyal PAM. Hal ini sesuai dengan teori Nyquist.

13