Anda di halaman 1dari 42

1

I. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Para petani Indonesia sejak dulu dan semasa pemerintahan hindia belanda

telah memiliki kesadaran bahwa penggunaan benih yang baik dan bermutu akan
sangat menunjang dalam peningkatan produksinya, baik dari segi kualitas maupun
segi kuantitas.

Secara tradisional pemilihan benih dilakukan pada waktu

pemungutan hasil atau saat panen, seperti pemilihan hasil untuk benih padi,
kacang kacangan, sayur-sayuran, dan buah-buahan termasuk benih benih
untuk tanaman pardagangan seperti kopi, tembakau, cengkeh, cokelat dan
beberapa jenis tanaman lainnya.
Benih adalah awal kehidupan dari suatu budidaya tanaman. Artinya bahwa
dengan

benih,maka

menurunkan

suatu

tanaman

dapat

meneruskan

kehidupan

dan

sifat sifat yang dimilikinya.Didalam benih terdapat kandungan

materi genetik dan kandungan kimiawi yang merupakan komponen kritis dalam
pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Angga, 2009).
Pengertian benih dalam UU No. 12 tahun 1992 yaitu tanaman atau
bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan
tanaman.
Teknologi benih adalah suatu ilmu pengetahuan tentang metode
untukmemperbaiki serta mempertahankan sifatsifat genetik dan fisik benih. Ini
meliputi kegiatan pengembangan varietas, penilaian dan pelepasan varietas,
produksi benih, pengelolaan benih, penyimpanan benih, pengujian benih serta
sertifikasi benih.
1

1.2 Tujuan dan Kegunaan


Tujuan dari praktikum ilmu dan teknologi benih adalah untuk mengetahui dan
mengidentifikasi struktur benih dan tipe perkecambahan benih, kecambah atau
bibit normal dan abnormal, menguji kadar air benih, mengetahui metode
pengujian benih uji vigor benih dengan NaCl.
Kegunaan dari peraktikum ilmu dan teknologi benih yalah agar dapat
mengetetahui bagaimana cara mengidenfikasi benih, nulai dari struktur dan tipe
perkecambahan benih, bibit normal dan abnormal, penguji kadar air benih,
mengetahui metode pengujian benih uji vigor benih dengan NaCl.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Struktur Benih Dan Tipe Perkecambahan

Biji dibentuk dengan adanya perkembangan bakal biji. Pada saat pembuahan,
tabung sari sari memasuki kantung embrio melalui mikropil dan menempatkan
dua buah inti gamet jantan padanya. Satu diantaranya bersatu dengan inti sel telur
dan yang lain bersatu dengan dua inti polar atau hasilnya penyatuan, yaitu inti
sekunder. Penyatuan gamet jantan dengan sel telur menghasilkan zigot yang
tumbuh menjadi embrio. Penyatuan gamet jantan yang lain dengan kedua inti
polar menghasilkan inti sel endosperm pertama yang akan membelah-belah
menghasilkan jaringan endosperm. Proses yang melibatkan kedua macam
pembuahan (penyatuan) tersebut dinamakan pembuahan ganda.
Biji bisa terbentuk satu atau lebih di dalam satu ovary pada legume, tetapi
tidak pernah lebih dari satu biji terbentuk dalam ovary pada monocot. Setiap biji
matang (mature seed) selalu terdiri paling kurang bagian embryo dan kulit biji.
Dinyatakan bahwa embryo terbentuk dari telur yang dibuahi (zygot) dengan
mengalami pembelahan sel didalam embryosac. Pada serealia dan rerumputan
monocot embryo terdiri atas cotyledon dan embryonic axsis. Setiap biji yang
sangat muda dan sedang tumbuh seperti pada tanaman serealia seperti jagung,
padi, gandum selalu terdiri dari tiga bagian yaitu embryo, kulit biji dan
endosperm. Namun pada jenis legumes hanya terdiri dari embryo dan kulit biji
sedangkan endosperm ada namun sangat sedikit sekali. (Kamil, 1982).

Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil) dari dalam biji


3
yang merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan embrio. Pada
perkembangan embrio saat berkecambah, bagian plumula tumbuh dan
berkembang menjadi batang, sedangkan radikula menjadi akar. Menurut Kamil.,
(1982) perkecambahan merupakan pengaktifan kembali aktivitas pertumbuhan
embryonic axis didalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit.
Berdasarkan letak kotiledon pada saat perkecambahan dikenal dua tipe
perkecambahan yaitu hypogeal dan epigeal.
Tipe perkecambahan epigeal ialah ketika perkecambahan tersebit terjadi
plumula terangkat kebagian permukaan tanah sehingga kotiledon pun ikut
terangkat kepermukaan tanah, tipe ini umumnya dijumpai pada tanaman kacangkacangan

dan

umumnya

tipe

epigeal

berlaku

pada

tanaman

dikotil.

Perkecambahan dengan tipe ini bila berkecambah muncul di atas permukaan tanah
maka daun kotil ikut terangkat kepermukaan yang mengakibatkan adanya
perpanjangan hipokotil, sedangkan ujung arah kebawah sudah tertambat ketanah
dengan akar lateral.
Tipe perkecambahan hypogeal ialah tipe perkecambahan dimana terjadinya
pertumbuhan memanjang dari hipokotil yang menyebabkan plumula keluar
menembus kulit biji dan muncul diatas tanah kotiledon tetap berada di dalam
tanah. Tipe ini pada umumnya dijumpai pada tanaman monokotil dengan tipe ini
bilamana tidak terangkat ke atas permukaan tanah saat perkecambahan pada tipe
seperti ini kotiledon tetap tinggal dalam tanah selama pertumbuhannya yang

mengadakan perpanjangan epikotil dan sewaktu perkecambahan yang pertama


kali keluaradalah radikel, keluar akar lateral bersama akar primer. Pengecualian
pada tanaman monokotil dapat dijumpai pada tanaman kacang kapri (pisum
sativum) sub klas dikotil. Dalam perkecambahannya jenis-jenis tersebut yang
pertama keluar adalah radical kemudian disusul plumula, selanjutnya epikotil
memanjang dan membengkak yang menekan kotiledon sehingga tidak terangkat
ke permukaan tanah tanah.
2.2 Identifikasi Kecambah/Bibit Normal dan Abnormal
Perkecambahan benih dapat diartikan sebagai dimulainya proses
pertumbuhan embrio dari benuh yang sudah matang. Benih dapat berkecambah
bila tersedia faktor-faktor pendukung selama terjadinya proses perkecambahan.
Perkembangan benih dipengaruhi oleh faktor dalam (internal) misalnya: Tingkat
kemasakan benih, Ukuran benih, Dormansi, Penghambat perkecambahan dan
faktor luar (eksternal) misalnya : Air, Suhu, Oksigen, dan Cahaya (Sutopo, 2009).
Kriteria untuk kecambah normal diantaranya adalah : Kecambah dengan
pertumbuhan sempurna, ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik,
jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan
mempunyai tunas pucuk yang baik, Kecambah dangan cacat ringan pada akar,
hipokotil/ epikotil, kotiledon, daun primer, dan koleoptil dan Kecambah dengan
infeksi sekunder tetapi bentuknya masih sempurna (Sutopo, 2009).
Kecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi
untuk berkembang menjadi kecambah normal. Dibawah ini digolongkan ke dalam
kecambah abnormal Kecambah rusak: kecambah yang struktur pentingnya hilang

atau rusak berat. Kecambah cacat atau tidak seimbang: kecambah dengan
pertumbuhan lemah atau kecambah yang struktur pentingnya cacat atau tidak
proporsional. Dan Kecambah lambat kecambah yang pada akhir pengujian belum
mencapai ukuran normal. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan kecambah
benih normal kecambah pada benih abnormal ukurannya lebih kecil
(Sutopo, 2009).
2.3 Pengujian Kadar Air
Yang dimaksud kadar air benih, ialah berat air yang dikandung dan yang
kemudian hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang
dinyatakan dalam persentase terhadap berat awal contoh benih. Penetapan Kadar
Air adalah banyaknya kandungan air dalam benih yang diukur berdasarkan
hilangnya kandungan air tersebut & dinyatakan dalam % terhadap berat asal
contoh benih (Lesmana, 2009).
Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah
antara 6% 8%. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan naiknya
aktivitas pernafasan yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan
makanan dalam benih. Selain itu merangsang perkembangan cendawan patogen di
dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang terlalu
rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio (Lesmana, 2009).

2.4 Metode Pengujian Benih


Pengujian benih ditunjukan untuk mengetahui mutu atau kualitas benih.
Informasi tersebut tentunya akan sangat bermanfaat bagi produsen, penjual
maupun konsumen benih. Mereka dapat memperoleh keterangan yang dapat
dipercaya, tentang mutu atau kualitas dari suatu benih (Baskara, 2009).
Berbagai program penanaman harus terus dilakukan, hal ini digunakan untuk
mengembalikan fungsi lahan tersebut dan sebagai upaya mitigasi untuk
mengurangi bencana yang diakibatkan oleh keberadaan lahan kritis. Upaya
tersebut jelas memerlukan dukungan ketersediaan benih bermutu. Benih itu
sendiri adalah bagian tanaman yang digunakan untuk perbanyakan atau
perkembangbiakan,

baik

berupa

biji

ataupun

bagian

tanaman

lainnya

(Baskara, 2009).
Dalam proses pengujian benih yang diujikan antara lain viabilitas, benih atau
daya hidup benih, struktur pertumbuhan, uji kesehatan benih. Dalam pengujian
benih langkah-langkah yang harus dolakukan antara lain : pengambilan contoh
benih, pengujian kemurnian benih, pengujian kadar air, uji daya kecambah, uji
kekuatan tumbuh benih atau uji kesehatan benih (Baskara, 2009).
Kepastian mutu suatu kelompok benih yang diedarkan dan digunakan untuk
penanaman sangat diperlukan untuk menjamin baik pengguna, pengedar, maupun
pengada. Aspek legal dari mutu benih ini memerlukan perangkat berupa metode
pengujian yang standar. Metode ini diharapkan mampu memberikan hasil yang

seragam apabila pengujian terhadap suatu kelompok benih dilakukan oleh institusi
yang berbeda (Baskara, 2009).
2.5 Uji Vigor Benih Dengan NaCL
Vigor Benih adalah kemampuan benih menghasilkan tanaman normal pada
lingkungan yang kurang memadai (suboptimum), dan mampu disimpan pada
kondisi simpan yang sub optimum. Vigor adalah sejumlah sifat-sifat benih yang
mengidikasikan pertumbuhan dan perkembangan kecambah yang cepat dan
seragam pada cakupan kondisi lapang yang luas. Cakupan vigor benih meliputi
aspek-aspek fisiologis selama proses perkecambahan dan perkembangan
kecambah.
Benih bermutu mencakup mutu genetis, yakni benih murni dari varietas
tertentu yang menunjukkan identitas genetis dari tanaman induknya, mutu
fisiologis yaitu kemampuan daya hidup (viabilitas) benih yang mencakup daya
kecambah dan kekuatan tumbuh benih dan mutu fisik benih yaitu penampilan
benih secara prima dilihat secara fisik seperti ukuran homogen, bernas, bersih
dari campuran, bebas hama dan penyakit, dan kemasan menarik.
Pengujian ketahan benih terhadap kekeringan dapat di lakukan secara
simulasi di Laboratorium menggunakan larutan NaCL. Pada konsentrasi tinggi
larutan ini tidak hanya memberikan cekaman akibat tekanan osmotiknya sehingga
benih mengalami hambatan dalam proses imbibisi, tetapi memberikan cekaman
terhadap kondisi salin. Pada kondisi tersebut hanya benih vigor yang mampu
tumbuh dengan baik.

III. METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Ilmu Teknologi Benih dilaksanakan di Laboratorium Teknologi
Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Praktikum ini dilaksanakan
pada hari Selasa tanggal 17 April 2016 s/d 15 Mei 2016, pada pukul 08.00 s/d
pukul 10.00 Wita.
3.2

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini, antara lain yaitu, Pedtridish,

Pinset, Keranjang Perkecambahan, Cutter, Kaca Pembesar, Cawan Petri, Kapas, 4


Gelas Aqua,

Alat Perkecambahan, Alat Press Kertas, Spayer, Pisau, Oven,

Timbangan Analitik, Kertas Merang, Plastik, Gelas Ukur, Beaker Gelas, Pengaduk
Gelas dan Cawan Porselin. Bahan yang digunakan, yaitu Biji Jagung, Padi,
Kedelai, Kacang Hijau, Kacang Tanah, Larutan NaCL 1% dan Aquades.
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Struktur benih dan tipe perkecambahan
Prosedur kerja praktikum

srtuktur benih (benih padi, jagung, kedelai,

kacang tanah), yaitu pertama menyiapkan benih dan cawan petri, mengamati
morfologi dari setiap masing-masing benih yang masih utuh kemudia di gambar.
Lalu memotong masing-masing benih secara membujur dan mengamati

10

anatominya dan di gambar. Kemudian memotong kembali masing-masing benih


secara melintang kemudian amati anatominya dan kemudian di gambar.
Prosedur kerja praktikum tipe perkecambahan yaitu pertma myiapakan
masing-masing 4 benih jagung dan kacang tanah dan 4 buah gelas aqua. Lalu
memempatkan kapas didalam masing-masing gelas aqua kemudian membahasai
kapas dengan menggunakan air selanjutnya biji tersebut ditanam didalam gelas
aqua yang sudah ditaruh kapas basah kemudian
mngamati selama 5 hari dan catat
9
lalu didokumentasikan.
3.3.2 Identifikasi kecambah/bibit normal dan abnormal
Prosedur kerja pada praktikum identifikasi kecambah/bibit normal dan
abnormal yaitu pertama mengambil masing-masing benih (benih padi dan cabai)
untuk dikecambahkan sebanyak 25 biji. Benih tersebut dikecambahkan pada
pestridish yang dilapisi kertas merang yang sebelumnya telah dijenuhkan dengan
air dan telah dipres. Kemudian lalaukan pengamatan setiap hari dan bila kelihatan
kering disemprot dengan air. Amati ldentifikasi

bibit normal dan tidak normal

dibandingkan bentuknya masing-masing benih yang dikecambahkan tersebut


Benih-benih yang berpenyakit dibuang dari kecambah agar tidak menular ke
benih yang lain.
3.3.3

Pengujian kadar air benih


Prosedur kerja pada praktikum pengujian kadar air benih yaitu pertama

mengambil contoh benih (benih bawang merah, coklat, kacang tanah, dan kedelai)
kemudian diiris tipis dengan menggunakan cutter, menimbang cawan porselin

11

yang telah dipanaskan terlebih dahulu (misalnya W1 g), mengambil contoh benih
ditimbang sebanyak lO g, kemudian Timbang cawan porselin + c ontoh
benih (misalnya W2 g), Cawan + contoh benih dipanaskan dalam oven setama 18
jam pada temperatur l30C, Setelah pemanasan selesai, cawan + contoh benih
didinginkan didalam desikator selama 5 menit kemudian ditimbang lagi (W3 g),
Sesudah penimbangan seletai, cawan + benih dipanaskan lagi dalam oven selama
lO menit pada temperratur l3O"C, selanjutnya ditimbang lagi (misalnya W4 g).
3.3.4

Metode pengujian benih

3.3.4.1 Pengujian benih UDK (uji Di atas Kertas)


Prosedur kerja pada praktikum metode pengujian benih menggunakan
metode pengujian benih UDK (uji Di atas Kertas) yaitu pertama meletakkan
substrat kertas (3-4 lernbar) diletakkan pada alas petridish atau cawan plastik.
Lalu

membasahi substrat, biarkan sampai air meresap. Kemudian air yang

ber1ebih dibuang, Tanamlah benih diatas lembar substrat dengan pinset, Untuk
benih sebesar padi cukup 25 butir dalam satu petridish. Letakkan petridish atau
cawan plastik yang telah ditanami benih tersebut dalam alat pengecambah benih.
untuk metode UDK letak trays di dalam alat pengecambah dimiringkan.

3.3.4.2 Pengujian benih UKD (Uji Kertas Digulung)


Prosedur kerja pada praktikum pengujian benih UKD (Uji Kertas
Digulung) yaitu pertama menyiapkan benih kedelai, jagung dan kacang tanah
masing-masing 25 benih dan 2 lembar plastik bening dan 4 lembar kertas merang
kemudian merendam kertas merang ke dalam air hingga kertas tersebut basah lalu

12

di pres, lalu meletakkan kertas sebanyak dua lapis tepat di atas plastik bening.
Setelah itu, mengambil benih kacang tanah dan jagung masing-masing sebanyak
25 benih. Kemudian meletakkan benih-benih tersebut di atas kertas secara teratur.
Selanjutnya menggulung kertas yang telah diletakkan benih tersebut. Diusahakan
benih tersebut tetap teratur di dalam kertas yang telah di gulung. Lalu memberi
kertas label nama varietas kepada benih yang telah digulung. Setelah itu
masukkan ke dalam alat pengecambah benih, untuk diketahui kemampuan benih
tersebut untuk berkecambah. Melakukan pengamatan untuk mengetahui
kemampuan berkecambah benih.
3.3.4.3 Metode uji daya kecambah secara langsung dengan substrat pasir dan
tanah
Prosedur kerja pada praktikum ini yaitu pertama menyiapkan dua buah
wadah/baskom yang masing-masing wadah/baskom dapat di tanami 25 benih
jagung. Kemudian mengisi pasir sampai penuh untuk kotak yang pertama
kemudian menyiram kotak berisi pasir dengan air, lalu menam benih jagung
sebanyak 25 biji secara teratur. Selanjutnya untuk wadah/baskom yang kedua
mengisi pasir setengah dari wadah/baskom dan menyiram dengan air, lalu
membuat lubang 25 lubang secra teratur dan menanam benih jagung pada lubang
tersebut. Kemudian diatasnya dilapisi kertas merang, lalu mengiisi kembali kotak
tersebut dengan pasir sampai penuh. Kemudian melakukan pengamatan selama 7
x 24 jam.
3.3.5

Uji Vigor Benih dengan NaCl

13

Prosedur kerja pada praktikum uji vigor benih dengan NaCl yaitu pertama
lot benih jagung yang diseleksi sebanyak 25 butir pada substrat kertas merang
yang sudah dilembabkan dengan air kemudian lakukan sebanyak 4 ulangan untuk
masing-masing perlakuan pada kedua lot benih lalu simpan pada alat
pengecambah benih kemudian dilakukan pada hari ke-5 setelah tanam terhadap
kecamba normal, abnormal, dan mati setelah itu andingkan bagaimana
pertumbuhan kecambah pada kedua substrat pada kedua lot benih.
Prosedur kerja pada praktikum uji vigor benih dengan NaCl yaitu pertamatama menyiapkan satu lembar plastik bening dan satu lembar kertas merang
kemudian merendam kertas merang ke dalam NaCL hingga kertas tersebut basah,
lalu meletakkan kertas merang tersebut tepat di atas plastik bening. Setelah itu,
mengambil benih jagung masing-masing sebanyak 25 benih. Kemudian
meletakkan benih-benih tersebut di atas kertas secara teratur. Selanjutnya
menggulung kertas yang telah diletakkan benih tersebut. Diusahakan benih
tersebut tetap teratur di dalam kertas yang telah di gulung. Lalu memberi kertas
label nama varietas kepada benih yang telah digulung. Setelah itu masukkan ke
dalam alat pengecambah benih, untuk diketahui kemampuan benih tersebut untuk
berkecambah.

Melakukan

berkecambah benih.

pengamatan

untuk

mengetahui

kemampuan

14

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil

4.1.1 Struktur benih dan tipe perkecambahan


Dari praktikum penetapan struktur benih dan tipe perkecambahan diperoleh
hasil berupa gambar sebagai berikut :

Keterangan :

Gambar 1. Struktur benih kacang tanah yang utuh.

Keterangan :

Gambar 2. Struktur benih kacang tanah yang di potong membujur.

15

14

Keterangan :

Gambar 3. Struktur benih kacang tanah yang dipotong secara melintang.

Keterangan :

Gambar 4. Struktur benih jagung yang utuh.

16

Keterangan :

Gambar 5. Struktur benih jagung yang dipotong secara membujur.

Keterangan :

Gambar 6. Struktur benih jagung yang dipotong secara melintang.

Keterangan :

Gambar 7. Struktur benih padi yang utuh.

17

Keterangan :

Gambar 8. Struktur ben ih padi yang dipotong secara membujur.

Keterangan :

Gambar 9. Struktur benih padi yang dipotong secara melintang

Keterangan :

18

Gambar 10. Struktur benih kedelai yang utuh.

Keterangan :

Gambar 11. Struktur benih kedelai yang dipotong secara membujur.

Keterangan :

Gambar 12. Struktur benih kedelai yang dipotong secara melintang.

Gambar 13. Tipe perkecambahan benih dikotil dan monokotil

19

4.1.2

Identifikasi kecambah/bibit normal dan abnormal

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kecambah Normal dan Abnormal Selama 7 Hari


Jenis Benih
Padi
Jagung
Kedelai
Kacang
Tanah
Cabai

Kecambah Normal
Akar
Plumula
Coleoptile sedikit
Primer panjang
membuka
Muncul
Ada akar primer
colieptile
Banyak akar
Daun pertama
sekunder
baik
Ada akar
Primer panjang

Tidak busuk
Muncul daun

Kecambah Abnormal
Akar
Plumula
Tidak ada

berjamur

Berjamur
Membusu
k

Tidak

Tidak ada
Lemah

berjamur
Tidak ada

lemah

20

Gambar 14. Perkecambahan benih normal dan abnormal


4.1.3

Pengujian kadar air benih

a. Benih Kedelai
Persentase kadar air menggunakan rumus :

100%
Diketahui :
BB = 10,4943 gram
BK = 9,5991 gram
Penyelesaian :
100%

K a= 8,53%
b. Benih Kacang Tanah
Persentase kadar air menggunakan rumus :
100%

Diketahui :
BB = 10,0945 gram
BK = 9,6539 gram
Penyelesaian :

21

100%

K a= 4,36%
c. Benih Kakao
Persentase kadar air menggunakan rumus :
100%

Diketahui :
BB = 10,0954 gram
BK = 5,8628 gram
Penyelesaian :
100%

K a= 41,93%
d. Bawang Merah
Persentase kadar air menggunakan rumus :
100%

Diketahui :
BB = 10,0501 gram
BK = 1,4334 gram
Penyelesaian :
100%

K a= 85,73%
4.1.4 Metode pengujian benih
a. Benih Padi
Tabel 2. Hasil pengamatan kecambah normal selama 7 hari
Hari

22

Kecambah

Benih
Kn
0
9
5
% Kn
0%
36%
20%
Catatan :
Jumlah benih dikecambahkan = 25
Kecambah abnormal = 7
%Kn = Kecambah normal
Daya Berkecambah (%)

2
8%

1
4%

0
0%

1
4%

Pengamatan berdasarkan metode kecambah dilakukan setelah berumur


x 24 jam dan 7 x 24 jam. Dengan rumus :

100%

Diketahui :
Kecambah normal
Kecambah normal
Benih dicembahkan
Penyelesaian :
Setelah berumur 4 hari

= 18 (setelah berumur 4 hari)


= 18 (setelah berumur 7 hari)
= 25

100%

72%
Setelah berumur 7 hari
100%

72%

23

Waktu Berkecambah
Waktu berkecambah dinyatakan dalam rata-rata hari berkecamah,
dihitung dengan rumus :
Rata-rata
hari
berkecambah

Diketahui :
N1T1 = 0
N5T5 = 1
N2T2 = 9
N6T6 = 0
N3T3 = 5
N7T7 = 6
N4T4 = 2
Total berkecambah
Penyelesaian :
Rata-rata hari berkecambah =

= 25

Rata-rata hari berkecambah = 3,52


b. Benih Cabai
Tabel 3. Hasil pengamatan kecambah normal selama 7 hari
Kecambah

Hari (etmal)
4

1
2
3
5
6
7
Benih
Kn
0
5
7
2
2
1
4
% Kn
0%
20%
28%
8%
8%
4%
16%
Catatan :
Jumlah benih dicambahkan = 25
Kecambah abnormal = 4
%Kn = Kecambah normal
Daya Berkecambah (%)
Pengamatan berdasarkan metode kecambah dilakukan setelah berumur
4 x 24 jam dan 7 x 24 jam. Dengan rumus :

24

100%

Diketahui :
Kecambah normal
Kecambah normal
Benih dicembahkan

= 22 (setelah berumur 4 hari)


= 21 (setelah berumur 7 hari)
= 25

Penyelesaian :
Setelah berumur 4 hari
100%

88%
Setelah berumur 7 hari
100%

84%

Waktu Berkecambah
Waktu berkecambah dinyatakan dalam rata-rata hari berkecamah, dihitung

dengan rumus :
Rata-rata

hari

berkecambah

25

Diketahui :
N1T1 = 0
N5T5 = 2
N2T2 = 5
N6T6 = 1
N3T3 = 7
N7T7 = 4
N4T4 = 2
Total berkecambah
Penyelesaian :
Rata-rata hari berkecambah =

= 25

Rata-rata hari berkecambah = 3,32


c. Benih Kacang Tanah
Tabel 4. Hasil pengamatan kecambah normal selama 7 hari
Hari (etmal)
3
4
5

Kecambah
1
2
Benih
Kn
0
0
% Kn
0%
0%
Catatan :
Jumlah benih dicambahkan = 25
Kecambah abnormal = 17

3
12%

6
24%

5
20%

6
24%

0
0%

%Kn = Kecambah normal

Daya Berkecambah (%)


Pengamatan berdasarkan metode kecambah dilakukan setelah berumur

x 24 jam dan 7 x 24 jam. Dengan rumus :

100%

26

Diketahui :
Kecambah normal
Kecambah normal
Benih dicembahkan

= 21 (setelah berumur 4 hari)


= 20 (setelah berumur 7 hari)
= 25

Penyelesaian :
Setelah berumur 4 hari
100%

84 %
Setelah berumur 7 hari
100%

80 %

Waktu Berkecambah
Waktu berkecambah dinyatakan dalam rata-rata hari berkecamah, dihitung

dengan rumus :
Rata-rata

hari

Diketahui :
N1T1 = 0
N2T2 = 3
N3T3 = 6
N4T4 = 6
Penyelesaian :

berkecambah

N5T5 = 5
N6T6 = 2
N7T7 = 3
Total berkecambah

= 25

27

Rata-rata hari berkecambah =

Rata-rata hari berkecambah = 3,84


d. Benih Kedelai
Tabel 5. Hasil pengamatan kecambah normal selama 7 hari
Kecambah
1
2
3
Benih
Kn
0
2
4
% Kn
0%
8%
16%
Catatan :
Jumlah benih dicambahkan = 25
Kecambah abnormal = 12

Hari (etmal)
4
5
4
16%

1
4%

0
0%

2
8%

%Kn = Kecambah normal

Daya Berkecambah (%)


Pengamatan berdasarkan metode kecambah dilakukan setelah berumur
4 x 24 jam dan 7 x 24 jam. Dengan rumus :

100%

Diketahui :
Kecambah normal
Kecambah normal

= 18 (setelah berumur 4 hari)


= 13 (setelah berumur 7 hari)

28

Benih dicembahkan

= 25

Penyelesaian :
Setelah berumur 4 hari
100%

72%
Setelah berumur 7 hari
100%

52%

Waktu Berkecambah
Waktu berkecambah dinyatakan dalam rata-rata hari berkecamah,
dihitung dengan rumus :
Rata-rata
hari
berkecambah

Diketahui :
N1T1 = 0
N2T2 = 2
N3T3 = 4
N4T4 = 4

N5T5 = 1
N6T6 = 0
N7T7 = 2
Total berkecambah

Penyelesaian :
Rata-rata hari berkecambah =

= 25

29

Rata-rata hari berkecambah = 2,04

e. Benih Jagung
Tabel 6. Hasil pengamatan kecambah normal selama 7 hari
Hari (etmal)
3
4

Kecambah

1
2
5
6
7
Benih
Kn
0
8
8
4
1
2
2
% Kn
0%
32%
32%
16%
4%
8%
8%
Catatan :
Jumlah benih dicambahkan = 25
Kecambah abnormal = 0
%Kn = Kecambah normal
Daya Berkecambah (%)
Pengamatan berdasarkan metode kecambah dilakukan setelah berumur
4 x 24 jam dan 7 x 24 jam. Dengan rumus :

100%

Diketahui :
Kecambah normal
Kecambah normal
Benih dicembahkan
Penyelesaian :
Setelah berumur 4 hari

= 25 (setelah berumur 4 hari)


= 25 (setelah berumur 7 hari)
= 25

100%

100%
Setelah berumur 7 hari

30

100%

100%

Waktu Berkecambah
Waktu berkecambah dinyatakan dalam rata-rata hari berkecamah, dihitung

dengan rumus :
Rata-rata

hari

berkecambah

Diketahui :
N1T1 = 0
N5T5 = 1
N2T2 = 8
N6T6 = 2
N3T3 = 8
N7T7 = 2
N4T4 = 4
Total berkecambah
Penyelesaian :
Rata-rata hari berkecambah =

Rata-rata hari berkecambah = 3,48


f. Pengujian ideks vigor hipotetik (IVH)
IVH =

= 25

31

IVH

4.1.5

= 6,863
Uji vigor benih dengan NaCl

Tabel 7. Hasil Pengamatan Uji Vigor Dengan Media NaCl


Perlakuan
Kontrol
NaCl

Kecambah Normal
100%
100%

Kecambah Abnormal
0%
0%

Kecambah Mati
0%
0%

4.2 Pembahasan
4.2.1

Struktur benih dan tipe perkecambahan


Dari hasil praktikum, terlihat bahwa terdapat perbedaan struktur benih

antara benih monokotil dengan benih dikotil.


Sampel subkelas monokotil pada praktikum kali ini adalah benih jagung,
dimana terlihat morfologi jagung yang memiliki bentuk hilum yang lonjong dan
berlokasi di bagian pangkal biji dan posisinya menonjol. Selain itu terlihat
perbedaan warna yang membedakan antara embrio, endosperm, dan epicarp benih
jagung, ketika benih jagung dibelah. Pada benih jagung terlihat endosperma,
embrio dan posisi hilum. Sampel subkelas dikotil adalah benih kedelai, dimana
bentuk hilumnya bulat lonjong, lokasi ditepi dan posisinya menjorok. Pada benih
kacang tanah terlihat jelas selaput benih, plumula yang menjadi bakal daun serta
radikula yang menjadi bakal akar, yang paling luas bentuknya adalah kotiledon.

32

Biji padi merupakan jenis biji monokotil dan memiliki tipe bibit hypogeal. Saat
masih utuh biji padi berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing dan tertutup
oleh kulit biji berwarna kuning yang kasar dan berbulu.

Ketika dipotong

melintang biji berbentuk bulat dan terdapat bagian yang berbentuk bulatan.
Namun ketika dipotong membujur biji berbentuk lonjong dengan bagian ujung
yang runcing dan nampak bagian-bagian seperti radikula, skutellum, plumula dan
kulit biji. Pada biji padi, kulit biji tebal dan terdiri dari dua bagian yang dapat
saling menutup dan terhubung dibagian pangkal biji. Biji padi tidak dapat dipisah,
hal tersebut menunjukkan bahwa biji jagung termasuk dalam golongan biji
monokotil.
Perbedaan ciri morfologi dan anatomi antara monokotil dan dikotil terletak
pada: 1) Monokotil memiliki lembaga dengan satu daun lembaga, ketika
berkecambah biji tidak membelah. Sedangkan pada dikotil, memiliki lembaga
dengan dua daun lembaga, ketika berkecambah biji akan membelah menjadi dua.
2) Pada monokotil, bentuk akar serabut dan tidak berkambium, ujung akar
dilindungi oleh akar lembaga (koleorhiza). Sedangkan pada dikotil bentuk akar
tunggang dan berkambium, ujung akar tidak memiliki pelindung. 3) Batang
monokotil tidak bercabang, berbuku-buku dengan ruas tampak jelas, dan tidak
berkambium. Sedangkan pada dikotil batang bercabang, berbuku-buku dengan
ruas tidak jelas, dan berkambium sehingga dapat tumbuh membesar. 4) Daun
monokotil tunggal berpelepah, bertulang daun sejajar atau melengkung.
Sedangkan dikotil daun tunggal atau majemuk, bertulang daun menyirip atau

33

menjari. 4) Bunga monokotil berkelipatan 3. Sedangkan dikotil berkelipatan 2, 4


atau 5 (Jati 2007).
Monokotil termasuk tanaman seperti rumput, bunga lili, dan pohon palem.
Dikotil meliputi sebagian besar pohon umum (dengan pengecualian pohon besarkerucut), serta bunga dan tanaman. Salah satu perbedaan utama antara dua
kelompok ini dalam biji. Monokotil hanya memiliki satu kotiledon (A), sedangkan
dikotil memiliki dua kotiledon. Kotiledon adalah daun embrio yang mengembang
selama pengembangan benih dan terakumulasi atau gudang nutrisi yang
mendukung perkecambahan atau untuk tumbuh setelah perkecambahan. Pada
monokotil, endosperma (B) berperan sebagai cadangan makanan hasil
perkembangan kotiledon, sementara di dikotil, endosperma layu (menghilang)
(Alcamo 2005).

4.2.2

Identifikasi kecambah/bibit normal dan abnormal


Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas kacang tanah merupakan jenis

benih dari tanaman dikotil. Tipe perkecambahannya yaitu epigeal. Ciri-ciri benih
kacang tanah yang normal yaitu kecambah utuh, bagian akar terlihat jelas, batang
berkembang dengan baik dan plumula sempurna. Sedangkan untuk benih yang
abnormal ciri-cirinya adalah sebagai berikut yaitu kecambah tidak ada, ridak ada,
plumula terserang jamur.
Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas jagung merupakan jenis benih
dari tanaman monokotil dengan tipe perkecambahannya adalah hypogeal. Ciri-ciri
benih jagung yang normal yaitu kecambah utuh, bagian akar sekunder terlihat

34

jelas, batang berkembang dengan baik, dan kotiledonya sempurna. Sedangkan


untuk benih jagung yang abnormal yaitu akar berjamur dan plumula tidak
ada/busuk.
Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas kedelai merupakan jenis benih
dari tanaman dikotil dengan tipe perkecambahannya adalah epigeal. Ciri-ciri
benih kedelai yang normal yaitu terlihat akar jelas dan batang tumbuh dengan baik
dan plumula sempurna. Sedangkan untuk benih kedelai yang abnormal yaitu
kecambah lemah, kerdil, dan plumula tidak ada.
Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas padii merupakan jenis benih
dari tanaman monokotil dengan tipe perkecambahannya adalah hipogeal. Ciri-ciri
benih kedelai yang normal yaitu terlihat akar primer jelas dan plumula sempurna.
Sedangkan untuk benih kedelai yang abnormal yaitu kecambah akar tidak ada,
dan plumula berjamur.
Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas benih cabai merupakan jenis
benih dari tanaman dikotil dengan tipe perkecambahannya adalah epigeal. Ciriciri benih jagung yang normal yaitu kecambah utuh, bagian akar primerr terlihat
jelas, dan muncul daun. Sedangkan untuk benih jagung yang abnormal yaitu akar
lemah dan plumula tidak ada/busuk.
4.2.3

Pengujian kadar air benih


Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum yang dilakukan, persentase

pengujian kadar air benih kedelai dengan menggunakan metode langsung adalah
8,53%, benih ini termasuk benih orthodox. Menurut Pitojo (2003), secara genetis
benih kedelai memiliki daya simpan lebih rendah dari pada benih padi dan jagung.

35

Benih kedelai bersifat higroskopis, yakni menyerap lengas udara di sekitarnya


untuk meningkatkan kadar air benih sehingga terjadi keseimbangan antara kadar
air benih dengan kelembaban udara. Oleh karena itu, jika benih dibiarkan terbuka
dalam waktu yang cukup lama, laju penurunan mutu benih akan semakin cepat.
Penurunan kadar air benih sebesar 1 % dapat memperpanjang daya simpan benih.
Pada hasil perhitungan kadar air benih kacang tanah, maka didapatkan presentase
dari bebrapa benih tersebut yaitu sebesar 4,36%, kakao dengan presentase kadar
air 41,93%, serta bawang dengan presentase kadar air tertinggi yaitu 85,73%. Dari
hasil yang diperoleh dapat kita ketahui bahwa Kadar air kacang tanah dan kedelai
tergolong rendah hal ini memungkinkan benih untuk disimpan dalam waktu lebih
lama. Sebaliknya dengan kadar air bawang merah yang tertinggi memungkinkan
benih akan cepat dengan mudah untuk berkecambah apabila dalam keadaan
lembab dan tidak cocok penyimpanan dalam waktu lama. Sedangkan benih kakao
walaupun mempunyai kadar air rendah, benih ini tidak dapat disimpan lama hal
ini disebabkan benih kakao yang memiliki kadar air yang rendah tidak akan
mampu untuk berkecambah dikarenakan benih kakao ini termasuk benih yang
rekalsitran yaitu benih yang sangat peka terhadap pengeringan.
4.2.4

Metode pengujian benih


Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui bahwa ada benih padi

didapatkan hasil daya berkecambah setelah berumur 7 hari sebesar 72%, dan
waktu berkecambah 3,52, sedangkan benih cabai didapatkan hasil daya
berkecambah setelah berumur 7 hari sebesar 84%, dengan waktu berkecambah
3,32, sedangkan pada benih kacang tanah didapatkan hasil daya berkecambah
setelah berumur 7 hari sebedar 80 %, dengan waktu berkecambah 3,84, pada

36

benih kedelai didapatkan hasil daya berkecambah setelah berumur 7 hari sebesar
52%, dengan waktu berkecambah 2,04, kemudian pada benih jagung yang
dikecambahkan mempunyai daya berkecambah 100%,

dengan waktu

berkecambah 3,48. Kemudian pada pengujian ideks vigor hipotetik (IVH)


diperoleh hasil 6,863.
Benih yang tidak tumbuh, mati, maupun tumbuh abnormal dapat
disebabkan oleh faktor internal benih maupun faktor eksternal. Faktor internal
yang mempengaruhi adalah tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi,
dan penghambat perkecambahan.
Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai
tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan
yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna. Pada umumnya sewaktu
kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen, maka benih tersebut juga
telah mencapai masak fisiologos atau masak fungsional dan pada saat itu benih
mencapat berat kering maksimum, daya tumbuh maksimum (vigor) dan daya
kecambah maksimum (viabilitas) atau dengan kata lain benih mempunyai mutu
tertinggi.
Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan
yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama.
Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan
sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan. Berat benih
berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi karena berat benih
menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan dan berat tanaman pada saat
dipanen.

37

Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi


tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum
dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga dapat
dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat
(viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara
normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan
cahaya yang sesuai. Jumlah benih dormansi terbanyak dari keseluruhan benih
yang diamati adalah benih kacang tanah. Penghambat perkecambahan benih dapat
berupa kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya
larutan dengan nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan
metabolik atau menghambat laju respirasi. Faktor eksternal yang mempengaruhi
diantaranya adalah air, suhu, oksigen, cahaya, dan medium. Penyerapan air oleh
benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan
jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya. sedangkan jumlah air yang
diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya. Suhu optimal adalah yang
paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase
perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5 sd
35C.
4.2.5

Uji vigor benih dengan NaCl


Berdasarkan hasil yang telah diperoleh melalui tabel diatas dapat diketahui

bahwa benih jagung yang telah dikecambahkan pada media kertas merang yang
telah diberikan larutan NaCl mengalami pertumbuhan benih yang sangat lambat
namun semua benih berkecambah 100%, sedangkan untuk benih jagung lain yang

38

dijadikan sebagai kontrol mempunyai pertumbuhan yang sangat cepat namun


mengalai gangguan seperti berjamur. Benih jagung yang dikecambahkan pada
media kertas merang yang telah diberikan larutan NaCl mengalami pertumbuhan
benih yang sangat lambat dikarenakan karena larutan garam (NaCl) dapat
menghambat proses imbibisi pada benih dan dapat memberikan cekaman terhadap
kondisi salin. Toleransi tanaman terhadap salinitas tergantung pada jenis dan
tingkat pertumbuhan tanaman. Setiap tanaman mempunyai batas toleransi yang
berbeda terhadap salinitas.
Tanaman pertanian sangat peka terhadap kandungan garam dalam tanah.
Benih yang ditanam di daerah dengan keadaan salinitas tinggi sangat sulit atau
tidak dapat berkecambah sama sekali. Tanah salin merupakan salah satu jenis
tanah marginal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman baik pada fase
perkecambahan maupun fase lainnya. Pengaruh salinitas terhadap perkecambahan
mencakup dua hal, yaitu pengaruh tekanan osmosis yang tinggi sehingga benih
sulit menyerap air dan pengaruh kimia atau keracunan ion-ion spesifik yang
menyusun garam. Jadi tingginya tingkat keserempakan dan kecepatan tumbuh
pada benih merupakan besarnya kekuatan vigor terhadap lingkungan suboptimum.

39

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat dari pratikum diatas adalah :
1. Pada struktur benih padi, kedelai, kacang tanah dan jagung memiliki kriteria
sturktur benih yang berbeda dimana pada benih jagung, memiliki bentuk
hilum yang lonjong dan berlokasi di bagian pangkal biji dan posisinya
menonjol dan benih kedelai, dimana bentuk hilumnya bulat lonjong, lokasi
ditepi dan posisinya menjorok. Dan pada benih kacang tanah terlihat jelas
selaput benih, plumula yang menjadi bakal daun serta radikula yang menjadi
bakal akar, yang paling luas bentuknya adalah kotiledon. Sedangkan pada saat

40

masih utuh biji padi berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing dan
tertutup oleh kulit biji berwarna kuning yang kasar dan berbulu. Ketika
dipotong melintang biji berbentuk bulat dan terdapat bagian yang berbentuk
bulatan. Namun ketika dipotong membujur biji berbentuk lonjong dengan
bagian ujung yang runcing dan nampak bagian-bagian seperti radikula,
skutellum, plumula dan kulit biji.
2. Pada identifikasi kecambah/bibit normal dan abnormal terlihat perbedaan
kecambah bibit baik normal dan abnormal pada benih padi, jagung, kedelai,
kacang tanag, dan cabai. Karena pada kecambah normal rata-rata akar
tumbuh dan namun memikili perbedaan yaitu ada yang primer dan sekunder,
sedangkan pada abnormal akar tidak muncul dan ada sebagian dari akar yang
muncul namun berjamur. Dan untuk plumula pada kecambah normal dan
abnormal juga memiliki perbedaan pada coleoptilenya.
3. Pada pengujian kadar air benih pada masing-masing benih memiliki
perbedaan presentase kadar air benih,37
karena setiap benih yang di uji berbeda
jenis ada yang bersifat higroskopis dan ada yang tidak sehingga kadar air
benih setiap benih berbeda.
4. Pada metode pengujian benih Benih yang tidak tumbuh, mati, maupun
tumbuh abnormal dapat disebabkan oleh faktor internal benih maupun faktor
eksternal.
5. Pada uji vigor benih dengan NaCl terjadi perkecambahan yang lambat pda
benih dengan perlakuan NaCl dibandingkan dengan tanpa perlakuan, karena
larutan tersebut dapat menghmbat proses imbibisi dan toleransi tanaman
terhadap salinitas tergantung pada jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman.
Setiap tanaman mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap salinitas.

41

5.2 Saran
Praktikum ilmu dan teknologi benih sangatlah penting dalam pemecahan
masalah mengenai benih baik benih dikotil maupun monokotil oleh karena itu
saran saya untuk praktikum ini adalah praktikan harus dapat lebih memperhatikan
dan ikut serta dalam pelaksanaan praktikum. Sebab apabila diabaikan maka
praktikan sendiri yang akan menemui kesulitan dikemudian harinya.

DAFTAR PUSTAKA
Alcamo E 2005. Biology. New York: Princeton
Angga, 2009. http://mbozocity.blogspot.com/hipogeal-dan-epigeal/ diakses pada
tanggal 14 juni 2012
Baskara,

2009.

http://baskara09.wordpress.com/2011/03/30/pengujian-benih/

diakses pada tanggal 13 juni 2012


Chanan, M. 2000. Pengaruh Masa Simpan Benih Terhadap Viabilitas Leda
(Eucalyptus deglupta Blume). J. Tropik. Diakses pada tanggal 1 mei
2014.
Hartono, 2010.
http://ig09.student.ipb.ac.id/2011/03/21/penetapan-kadar-airbenih/ diakses pada tanggal 14 juni 2012
Jati W 2007. Biologi Interaktif. Jakarta: Azka Press
Kamil, J. 1986. Teknologi Benih. Padang : Angkasaraya.
Kamil, Jurnalis. 1979. Teknologi Benih I. Angkasa Raya; Padang.Diakses pada
tanggal 12 lanuari 2014

42

kamill,a.Enoch. 2011. Pengujian Kadar Air Benih. (http//wikipedia.com). Diakses


pada Kamis, 03 November 2011, pukul 18:38).
Kartasapoetra, Ance G. 1986. Teknologi Benih, Pengolahan Benih, dan Tuntunan
Praktikum. Jakarta :PT Rineka Cipta.
Kartasapoetra, Anto G. 1986. Pengelolaan Benih dan Tuntunan Praktikum. Bina
Aksara; Jakarta Diakses pada tanggal 12 februari 2014
Lesmana, 2009. http://blankcassanova.blogspot.com/2012/05/uji-kadar-air-benihfistum.html diakses pada tanggal 12 juni 2012
Nugraha. 2008. Pengujian Kadar Air Benih. http://www.indobiogen.or.id/
terbitan / agrobio/abstrak/agrobio. Diakses pada tanggal 10 mei 2014.
Nugraha.Ahad, 2009 http://teknologibenih.blogspot.com. Diakses Pada Tanggal
25 april 2014
Pitojo, Setiojo. 2003. Seri Penangkaran: Benih Kedelai. Kanisius. Yogyakarta.
Rubenstin, Irwin dkk. 1978. The Plant Seed. Academi Press Inc; USA
Sadjad, Sjamsooed. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Jakarta : PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Soetopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Rajawali Press; Jakarta. Jakarta Diakses
pada tanggal 15 april 2014
Sukarman dan M. Hasanah. 2006. Perbaikan mutu Benih Aneka Tanaman
Perkebunan Melalui Cara Panen dan Penangan Benih. Jurnal Litbang
Pertanian. Diakses pada tanggal 20 april 2014
Sutopo, 2002. Pengujian Kadar Air Benih. http://www .indobiogen.or .id/ terbitan
/
agrobi/abstrak/agrobio. Diakses pada tanggal 10 mei 2014.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW
Sutopo,2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Perkecambahan/ diakses pada tanggal
13 juni 2012