Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR

KARBOHIDRAT

DISUSUN OLEH :
NAMA

DIANIRA G. MAENGKOM

NIM

13533039

KELAS

KELOMPOK

2 (DUA)

UNIVERSITAS NEGERI MANADO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA

A. Judul Percobaan : Karbohidrat


B. Tujuan Percobaan:
1. Untuk mengekstraksi/mengisolasi serta menentukan kadar amilum (pati) yang terkandung
dalam umbi kentang.
2. Untuk mengamati reaksi dan perubahan warna yang terjadi ketika dilakukan uji iodium pada
larutan amilum dalam suasana asam, basa dan netral saat dipanaskan.
C. Dasar Teori

Karbohidrat sangatlah penting pada manusia dan hewan tingkat tinggi lainnya, yaitu
sebagai sumber kalori. Karbohidrat juga mempunyai fungsi biologi bagi beberapa makhluk
hidup tingkat rendah, ragi misalnya mengubah karbohidrat (glukosa) menjadi alkohol dan
karbondioksida untuk menghasilkan energi (Hawab, HM:2004).
Karbohidrat sebenarnya merupakan nama umum senyawa-senyawa kimiawi yang terdiri
dari 2 kata yaitu hidrat dan karbon dengan rumus umum (CH2O)n. Contohnya glukosa
memiliki rumus molekul C6H12O6 yang dapat ditulis sebagai C6(H2O)6. Karbohidrat sederhana
dapat dipandang sebagai polihidroksil aldehid dan keton. Karbohidrat yang paling sederhana
adalah monosakarida. Bila suatu gula mempunyai gugus aldehid, gula tersebut merupakan suatu
aldosa. Namun, bila gula tersebut mempunyai gugus keton, gula tersebut merupakan suatu
ketosa.
Berdasarkan jumlah monomer pembentuk suatu karbohidrat maka dapat dibagi atas tiga
golongan besar, yaitu monosakarida, disakarida dan polisakarida. Istilah sakarida berasal dari
bahasa latin dan mengacu pada rasa manis
senyawa karbohidrat sederhana. Monosakarida

adalah karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana (Patong,
2011).

1. Monosakarida
Karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisa menjadi senyawa yang lebih sederhana terdiri
dari satu gugus cincin. Contoh dari monosakarida yang terdapat di dalam tubuh ialah
glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Berikut adalah struktur glukosa

Formula Haworth
2. Disakarida
Senyawa yang terbentuk dari gabungan 2 molekul atau lebih monosakarida. Contoh
disakarida ialah sukrosa, maltosa dan laktosa.
3. Polisakarida
Polisakarida merupakan golongan karbohidrat yang mengandung lebih dari 10 unit
monosakarida yang berikatan. Beberapa polisakarida yang penting di antaranya ialah :
amilum, glikogen, dekstrin dan selulosa.

Amilum merupakan salah satu jenis polisakarida yang terdapat banyak di alam, yaitu
pada sebagian besar tumbuhan. Amilum atau dalam bahasa sehari-hari sering disebut pati
terdapat pada umbi, daun, batang dan biji-bijian. Amilum terdiri atas dua macam polisakarida

yang kedua-duanya adalah polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20-28%) dan sisanya
amilopektin. Amilosa terdiri atas 250-300 unit D-glukosa yang terikat dengan ikatan 1,4glikosidik, jadi molekulnya merupakan rantai terbuka. Amilopektin juga terdiri atas molekul Dglukosa yang sebagian besar mempunyai ikatan 1,4-glikosidik dan sebagian lagi ikatan 1,6glikosidik.
Adanya ikatan 1,6-glikosidik ini menyebabkan terjadinya cabang, sehingga molekul
amilopektin berbentuk rantai terbuka dan bercabang. Molekul amilopektin lebih besar daripada
molekul amilosa karena terdiri atas lebih dari 1000 unit glukosa. Amilum dapat dihidrolisis
sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih
sederhana misalnya glukosa (Poedjiadi, 1994).
Berikut adalah beberapa cara menganalisa karbohidrat (amilum) secara kualitatif
diantaranya :

Uji Molisch, positif jika timbul cincin merah ungu


Uji Seliwanoff, positif jika dipanaskan dan menghasilkan warna merah
Uji Benedict, positif jika terbentuk larutan hijau, merah, orange atau merah bata serta

adanya endapan
Uji Barfoed, positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan merah orange
Uji Fehling, positif ditandai dengan warna merah bata
Uji Iodin, positif amilum jika terbentuk warna biru.
Adapun fungsi dari karbohidrat diantaranya (Almatsier, 2010):

Sumber energi : fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi tubuh.
Karbohidrat di dalam tubuh berada dalam sirkulasi darah sebagai glukosa untuk
keperluan energi segera dan sebagian disimpan sebagai glikogen dalam hati dan jaringan
otot, dan sebagian lagi diubah menjadi lemak untuk kemudian disimpan sebagai
cadangan energi di dalam jaringan lemak.

Pemberi rasa manis pada makanan : karbohidrat memberi rasa manis pada makanan,
khususnya mono dan disakarida.
Penghemat protein : Bila karbohidrat makanan mencukupi, protein terutama akan
digunakan sebagai zat pembangun.
Pengatur metabolisme lemak : karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang
tidak

sempurna,

sehingga

menghasilkan

bahan-bahan

keton

berupa

asam

asetoasetat,aseton, dan asam beta-hidroksi-butirat.


Membantu pengeluaran feses : karbohidrat membantu pengeluaran feses dengan cara
peristaltik usus dan memberi bentuk pada feses. Selulosa dalam serat makanan mengatur
peristaltik usus,sedangkan hemiselulosa dan pektin mampu menyerap banyak air dalam
usus besar sehingga memberi bentuk pada sisa makanan yang akan dikeluarkan.
D. Alat dan Bahan
a. Alat yang digunakan :
1. Grater
2. Pisau
3. Mortar
4. Saringan teh
5. Batang Pengaduk
6. Gelas piala 250 mL
7. Gelas ukur 100 mL
8. Tabung reaksi
9. Pipet tetes
10. Neraca Ohauss
11. Pemanas
12. Pembakar Spiritus
13. Kaki tiga
14. Kawat kasa
E. Prosedur Kerja

Bahan yang digunakan :


1. Kentang (Solanum tuberosum)
2. Etaol 95%
3. Larutan amilum
4. HCl 6 M
5. NaOH 6 M
6. Aquades
7. Larutan iod

1. Isolasi amilum (pati) dari kentang


Dikupas kentang sebanyak 300 gram dan dicuci sampai bersih.
Ditimbang gelas piala 250 mL dalam keadaan kosong untuk melihat massa awal gelas
piala sebelum dimasukkan kentang di dalamnya. Setelah kentang dikupas, kentang

diparut kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala.


Ditimbang kembali gelas ukur yang sudah diisi dengan kentang untuk melihat massa total
kentang (kentang yang telah diparut dibuat hingga mencapai massa bersih 100 gram).

Ditambahkan akuades sebanyak 100 mL ke dalam parutan kentang lalu diaduk-aduk

dengan batang pengaduk selama beberapa menit. Campuran tersebut kemudian disaring.
Diulangi kembali proses yang sama untuk kedua kali yaitu parutan kentang di dalam
gelas piala ditambahkan lagi akuades sebanyak 100 mL, diaduk-aduk lalu disaring, dan
cairan hasil saringan ditampung dalam gelas piala yang sebelumnya sudah menampung

hasil saringan yang pertama, setelah itu residu kentang dapat dibuang/disisihkan.
Cairan yang telah ditampung dibiarkan/didiamkan selama 5 menit hingga tampak ada

endapan putih di bagian bawah gelas piala.


Cairan yang di bagian atas gelas didekantasi ke dalam wadah yang lain. Kemudian
endapan amilum dicampur lagi dengan 100 mL akuades dan didiamkan hingga terbentuk
endapan. Setelah terbentuk endapan, cairan di bagian atas didekantasi lagi ke wadah yang

lain.
Endapan yang diperoleh kemudian disuspensi lagi dengan 100 mL etanol 95% dan
didiamkan hingga terbentuk endapan, setelah terbentuk endapan, kembali cairan bagian

atas gelas piala didekantasi hingga tersisa endapan putih (amilum) dalam gelas piala.
Dikeringkan hingga dalam bentuk serbuk putih, lalu gelas piala tersebut ditimbang

kembali untuk mendapatkan massa serbuk putih (amilum).


Dihitung kadar amilum yang diperoleh

2. Uji iodium untuk amilum

Disiapkan 3 tabung reaksi masing-masing berisi larutan amilum sebanyak 3 mL.


Pada tabung reaksi pertama larutan amilum dicampurkan dengan akuades sebanyak 3

tetes, dikocok dan dilihat perubahan yang terjadi.


Pada tabung reaksi kedua larutam amilum dicampurkan dengan NaOH sebanyak 3 tetes,

dikocok dan dilihat perubahan yang terjadi.


Pada tabung reaksi ketiga larutan amilum dicampurkan dengan HCl sebanyak 3 tetes,

dikocok kemudian dilihat perubahan yang terjadi


Ditetesi iod sebanyak 5-6 tetes pada ketiga tabung reaksi. Dicatat perubahannya.

F. Hasil Pengamatan
1. Isolasi Amilum dari Kentang
Massa amilum yang diisolasi :

gram

Massa total Kentang yang digunakan : 100 gram


Kadar Amilum :

2. Uji iodida untuk Amilum


Perubahan

Tabung I

Tabung II

Tabung III

Warna sebelum

(Amilum + Air)
Putih Keruh

(Amilum + Basa)
Putih Keruh

(Amilum + Asam)
Putih Keruh

Biru Kehitaman

Putih Keruh

Biru Kehitaman

iod
Warna setelah

Putih kebiruan

Putih Keruh

Putih Kehitaman

dipanaskan
Warna setelah

Biru Kehitaman

Putih Keruh

Biru Kehitaman

ditambahkan larutan
iod
Warna setelah
ditambahkan larutan

didinginkan

G. Pembahasan

Pada percobaan kali ini kami melakukan 2 percobaan yaitu mengekstraksi/mengisolasi


amilum yang terkandung pada umbi kentang dan untuk mengamati reaksi yang terjadi ketika
dilakukan uji iodium pada larutan amilum dalam berbagai suasana pH (asam, basa dan netral)
sambil dilakukan proses pemanasan.
Pada proses isolasi amilum ini dilakukan berbagai perlakuan antara lain dihomogenasi,
disaring, diendapkan, didekantasi, dikeringkan dan ditimbang. Mula-mula dilakukan proses
homogenasi dimana kentang dipotong kecil agar mempermudah proses homogenasi dengan air.
Pencucian kentang dilakukan sebelum kentang dipotong-potong, hal ini bertujuan agar kentang
yang akan digunakan tidak terlalu banyak menyerap air saat pencucian, sehingga tidak terlalu
mempengaruhi saat penimbangan.
Selanjutnya proses homogenasi dilakukan dengan bantuan mortar dan alu untuk
menghaluskan kentang sehingga dapat mengubah kentang dari ukuran padat menjadi ukuran
koloid yang tersuspensi dengan air. Kemudian disaring untuk memisahkan filtrat dari residu.
Cairan

keruh didekantasi sebanyak 2 kali dengan akuades, fungsi dekantasi adalah untuk

memisahkan filtrat dengan residu atau untuk memurnikan karena air dapat mengikat kotoran dan
melarutkan zat-zat dalam sampel.
Setelah itu didekantasi dengan etanol 95%. Etanol berfungsi untuk melarutkan bahanbahan organik yang tidak larut dalam air dan agar filtrat yang tersisa hanya amilum saja. Hasil
dekantasi terakhir disaring dan dikeringkan dalam oven sehingga diperoleh tepung amilum
yang kering dan kemudian ditimbang.

Dari percobaan yang dilakukan diperoleh berat amilum sebesar


amilum yang terdapat pada kentang adalah

gram dan kadar

%. Kadar amilum yang kami peroleh sedikit,

mungkin disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya ketelitian dalam mengkalibrasi
neraca, masih adanya amilum yang belum terisolasi, masih adanya amilum yang menempel pada
mortar,alu dan gelas piala dan banyaknya amilum yang jatuh setelah dikeringkan. Selain itu
penimbangan amilum yang kami peroleh tidak langsung ditimbang pada hari praktikum, karena
tidak dapat digunakannya oven (listrik padam), dapat menjadi salah satu faktor kesalahan yang
mempengaruhi massa amilum yang diperoleh.
Percobaan kedua yaitu mengamati reaksi yang terjadi ketika dilakukan uji iodium pada
larutan amilum. Uji iodida ini dilakukan 3 macam perlakuan yakni dengan penambahan air yang
mewakili suasana netral, HCl yang mewakili suasana asam, dan NaOH yang mewakili suasana
basa.
Tabung 1, pada suasana netral apabila amilum ditambahkan dengan air maka tidak terjadi
perubahan yaitu larutan berwarna bening (putih keruh). Tapi, ketika larutan amilum direaksikan
dengan iodium maka akan terbentuk warna biru, hal tersebut disebabkan karena iod akan masuk
ke dalam kumparan molekul amilum membentuk kompleks amilum-iod. Senyawa kompleks ini
hanya stabil ketika dalam larutan dingin. Saat dilakukan pemanasan, kestabilan kompleks akan
terganggu, sehingga warna biru akan hilang karena molekul pati merenggang dan iod lepas dari
kumparan, tetapi warna akan kembali menjadi biru bila larutan didinginkan.
Tabung 2 pada suasana asam ketika amilum ditambahkan dengan HCl tidak terjadi
perubahan apapun. Tapi, ketika direaksikan dengan iod akan terbentuk warna biru kehitaman
(donker) . Hal ini menandakan terjadinya reaksi antara amilum dan iod sehingga memberikan
warna biru pada larutan karena terjadi adisi iod oleh amilum. Dengan pemanasan, warna biru

hilang dan menjadi bening (putih keruh). Hal ini karena ikatan semu antara iod dan amilum
mudah putus dengan pemanasan serta terjadi penguraian iod dari amilum. Dan setelah
didinginkan kembali maka ikatan tersebut kembali terbentuk sehingga larutan kembali menjadi
biru kehitaman (donker). Hal ini disebabkan karena terbentuknya kembali ikatan antara iod dan
amilum.
Tabung 3 pada suasana basa, yaitu dengan menggunakan NaOH tidak terjadi perubahan
warna yaitu larutan bening. Begitu juga pada saat penambahan larutan iod, pemanasan, dan
ketika didinginkan larutan tetap bening (putih keruh). Pada saat penambahan iod, tidak terdapat
reaksi karena iod lebih bereaksi dengan basa (NaOH) dan membentuk hipoidida (NaI dan NaOI)
sehingga menghalangi reaksi antara amilum dan iod.

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kadar amilum dalam kentang
%.
2. Pada uji larutan amilum dengan iodium, dalam keadaan netral (air) dan asam (HCl) dapat
bereaksi karena memberikan warna biru. Hal tersebut disebabkan karena iod akan masuk ke
dalam kumparan molekul amilum membentuk kompleks amilum-iod. Senyawa kompleks ini
hanya stabil ketika dalam larutan dingin. Sehingga ketika dipanaskan warna biru akan hilang
dan kembali ke warna sebelumnya. Sedangkan pada larutan basa (NaOH) tidak menghasilkan
warna biru melainkan warna putih keruh.

I. Daftar Pustaka

Ben, E. S., Zulfianis, dan Halim, A.2007.Studi Awal Pemisahan Amilosa dan Amilopektin Pati
Singkong dengan Fraksinasi Butanol Air, Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 12 (1), 1-11,
(online) (http://bcrec.ac.id, diakses tanggal 24 September 2015, pukul 09.00 WITA).

Maulidah.(2013).

Isolasi

Amilum

dari

kentang.

[Online].

Tersedia

31120068.blogspot.com/2013/06/laporan-praktikum-biokimia-pengaruh.html

http://c-

Diakses

24

September 2015

Sultanry & Kaseger. 1985. Kimia Pangan. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Bagian
Timur, Makassar.

Tim dosen Praktikum Biokimia Dasar. 2015.


Biokimia FMIPA Universitas Negeri Manado.

Penuntun Praktikum Biokimia, Laboratorium