Anda di halaman 1dari 39

PEMBENTUKAN DARAH DAN KOMPONENNYA

MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Biologi Dasar dan Pengembangan

Disusun Oleh Kelompok 5:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Yeni Laelasari
Tin Rostini Hidayah
Shinta Lisdayanti
Yunitasari
Wiwin Puspitasari
Susi Susanti
Siti Mifta huldzanah
Siti Nurmala

E.0106.15.037
E.0106.15.035
E.0106.15.031
E.0106.15.038
E.0106.15.036
E.0106.15.034
E.0106.15.033
E.0106.15.032

D3 KEBIDANAN
STIKes BUDI LUHUR
Jln.Kerkof Cimahi selatan Lewigajah jawa barat
2016

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
limpahan rahmat dan hidayahNya kepada penulis sehingga kelompok 5 diberi
kesempatan untuk menyusun makalah yang berjudul PEMBENTUKAN
DARAH DAN KOMPONENNYA selesai tepat pada waktunya.
Dalam kesempatan ini kelompok 5 tidak lupa mengucapkan terimakasih
kepada dosen pembimbing yaitu Bpk. Muhamad Anwar yang telah memberikan
bimbingannya terhadap terselesaikannya makalah ini.
Kelompok 5 menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan dan keterbatasannya. Oleh karena itu penulis kelompok 5 sangat
mengaharapkan kritik, tanggapan dan saran yang membangun dari semua untuk
kesempurnaan penulisan makalah berikutnya.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi semua
pihak terutama bagi mahasiswa/i STIKes BUDI LUHUR.

Cimahi, Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR.
DAFTAR ISI...
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan.
1.4 Metodelogi penulisan..
1.5 Sistematika penulisan..

i
ii

1
2
2
2
2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Darah
2.1.1 Pengertian Darah..
2.1.2 Tentara dalam darah.
2.1.3 Darah sebagai alat komunikasi.
2.1.4 Proses pembentukan sel darah..
2.1.5 Komposisi darah...
2.1.6 Kandungan dalam darah...
2.1.7 Umur sel dalam darah...
2.2 Komponen darah manusia
2.2.1 Sel darah merah (Eritrosit)
2.2.1.1 Kelainan pada sel darah merah ..
2.2.1.2 Kekurangan eritrosit
2.2.1.3 Metabolisme Eritrosit .
2.2.2 Sel darah putih ..
2.2.2.1 Fungsi sel darah putih .
2.2.3 Kepingan darah (trombosit) ..
2.2.3.1 Fungsi trombosit..
2.2.3.2 Kekurangan trombosit.
2.2.3.3 Kelebihan trombosit.
2.2.4 Plasma darah...
2.2.4.1 Kandungan plasma darah..
2.2.4.2 Fungsi Plasma darah.

3
3
5
6
7
9
9
10
11
11
11
12
14
14
17
18
19
22
26
29
29

29
BAB III PENUTUP
Kesimpulan.
Saran
DAFTAR PUSTAKA....

ii

30
30
31

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam tubuh manusia, ada alat transportasi yang berguna sebagai pengedar
oksigen dan zat makanan ke seluruh sel-sel tubuh serta mengangkut karbon
dioksida dan zat sisa ke organ pengeluaran. Alat transportasi pada manusia
terkoordinasi dalam suatu sistem yang disebut sistem peredaran darah. Sistem
peredaran darah manusia terdiri atas darah, jantung, dan pembuluh darah.
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan)
tingkat tinggi yang berfungsi untuk mengirimkan zat-zat dan oksigen yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil
metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo atau hemato
yang berasal dari kata Yunani yang berarti haima yang berarti darah.
Darah manusia berwarna merah, namun dalam hal ini warna darah ada dua jenis
warna merah pada darah manusia. Warna merah terang menandakan bahwa darah
tersebut mengandung banyak oksigen, sedangkan warna merah tua menandakan
bahwa darah tersebut mengandung sedikit oksigen atau dalam arti lain
mengandung banyak karbondioksida. Warna merah pada darah disebabkan oleh
adanya hemoglobin. Hemoglobin adalah protein pernafasan (respiratory protein)
yang mengandung besi (Fe) dalam bentuk heme yang merupakan tempat
terikatnya molekul-molekul oksigen. Darah juga mengangkut bahan-bahan sisa
metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke
ginjal untuk dibuang sebagai air seni.

2
1.2 Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang dapat penulis simpulkan, yakni:
1. Apa yang dimaksud dengan darah?
2. Apa saja komposisi dalam darah?
3. Berapa umur sel dalam darah ?
4. Apa saja komponen dalam darah?
5. Apa saja kandungan dalam plasma darah?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mengetahui tentang apa itu darah .
Mengetahui apa saja komposisi darah.
Mengetahui apa saja komponen-komponen dalam darah.
Mengetahui apa saja kandungan dalam plasma darah.
Tujuan Khusus
Kelompok

beserta

mahasiswa

lain

dapat

mengetahui

tentang

pembentukan darah beserta komponennya.


1.4 Metedologi Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mengggunakan metode pengumpulan
informasi dari berbagai media pengetahuan baik itu dari buku, maupun
internet.
1.5 Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan karya tulis ini penyusun menggunakan sistematika sebagi
berikut:
1. BAB I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode
penulisan, dan sistematika penulisan.
2. BAB II Pembahasan
Berisi tentang definisi darah, pembentukan darah dan komponennya.
3. BAB III Kesimpulan
Berisi kesimpulan dan saran dari penulis.
4. DAFTAR PUSTAKA

Berisi tentang sumber-sumber yang dijadikan referensi dalam penyusunan


makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Darah
2.1.1

Pengertian Darah
Darah adalah cairan ekstraseluler yang mengalir di dalam pembuluh

darah. Baik arteri maupun vena. Sistem peredaran darah diatur oleh jantung.
Sistem pembuluh darah arteri membawa darah dari jantung ke jaringan,
sedangkan sistem pembuluh darah vena membawa darah dari jaringan ke
jantung. Darah merupakan bagian dari tubuh yang jumlahnya 6 8 % dari
berat badan total atau 5-6 liter.
Ketika darah beredar di sepanjang tubuh, darah melakukan banyak
tugas. Sekarang mari kita tinjau dengan singkat tugas-tugas apa sajakah itu.

Mengangkut Muatan
Kita telah membicarakan bahwa seluruh jenis zat yang diperlukan
oleh tubuh kita diedarkan ke bagian tubuh yang terkait oleh darah.
Sementara itu, sel-sel darah mengumpulkan zat-zat limbah, seperti
karbon dioksida, dan memastikan bahwa seluruhnya dibuang dari
tubuh. Di satu sisi, darah bertindak sebagai pelumat sampah. Dengan

berhenti di setiap 100 triliun sel terus-menerus sepanjang hari, darah meninggalkan di
sel, apa yang diperlukannya dan mengumpukan sampah sisa-sisa zat yang
dipergunakan oleh sel.

3
4

Terdapat beragam jenis sel di dalam darah, masing-masing menjalankan tugas yang
berbeda. Sebagaimana terlihat pada gambar di atas, sebagian sel-sel ini mengangkut
makanan, sedangkan sebagian lainnya melindungi tubuh layaknya prajurit.
Darah, yang hanya sebuah cairan, tidak pernah gagal melakukan suatu tugas yang
memerlukan perhatian dan tanggung jawabnya. Darah tahu setiap zat yang
dibawanya, untuk apa gunanya, dan kemana harus diantarkan. Misalnya, darah tidak
5
keliru mengantarkan karbon dioksida ke sel, yang diambilnya dari sel lain sebagai zat
buangan. Darah selalu memberi sel oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida.
Darah melakukan tugas ini tanpa kesalahan atau kelelahan, karena ini adalah bagian
dari rencana sempurna yang Allah ciptakan dalam tubuh manusia. Karena darah
menyerah tanpa syarat pada sistem yang diciptakan oleh Allah, seluruh sel darah
melakukan tugasnya tanpa melakukan kesalahan apa pun.

2.1.2

Tentara di dalam Darah

Setiap hari tubuh kita bertempur melawan


banyak bakteri, virus, dan mikroba. Beberapa
di antaranya dicegah memasuki tubuh,
sedangkan beberapa lainnya berhasil masuk.
Tetapi ada sel perlindungan khusus dalam
tubuh kita untuk memerangi semua itu, yang
disebut dengan sel kekebalan tubuh. Sel-sel ini, yang bisa dianggap sebagai tentara
yang memerangi musuh dan melindungi tubuh kita dari bahaya, bergerak di dalam
aliran darah. Kapan pun ada serangan musuh, mereka bisa mencapai bagian tubuh
terkait melalui pembuluh darah dan dengan mudah memerangi musuh tersebut. Selsel kekebalan ini tidak belajar tentang misi yang mereka lakukan. Mereka telah
mengetahuinya semenjak mereka ada. Mereka mulai melakukan tugas mereka dan
melindungi tubuh ketika seorang bayi dilahirkan. Ini adalah perincian mengagumkan
dalam ciptaan Allah. Tuhan kita telah mengajarkan pada sel-sel apa yang tidak bisa
dilihat oleh mata telanjang tentang pengetahuan yang sangat penting dan
menganugerahkan mereka untuk kepentingan kita.

2.1.3

Darah sebagai alat Komunikasi


Darah juga bertindak sebagai alat komunikasi dalam
tubuh. Ada kurir-kurir di dalam darah yang membawa
pesan dari satu bagian tubuh ke bagian lain. Kurir ini,
yang dikenal sebagai hormon, membawa pesan ke
bagian-bagian tubuh terkait seperti seorang petugas
pos yang membawa surat. Banyak proses penting,

termasuk pertumbuhan tubuh, rasa haus, pengeluaran keringat, dan pengendalian


tingkat gula darah terjadi berkat pesan yang diantarkan dengan tepat tersebut.

Sebagaimana terlihat pada gambar di atas, hormon melakukan perjalanan melalui


aliran darah dengan membawa pesan yang dibawanya, dan mengantarkan pesan ini ke
organ-organ yang tepat.

I. Penerima molekul hormon, II. Hormon, III. Membran sel, IV. Pembuluh
Kapiler, V. nti sel, VI. Penerima molekul hormon, VII. Pembuluh Kapiler,
VIII.Hormon

7
2.1.4

Proses Pembentukan sel darah (Hemopoesis / ematopoiesis)

Hemopoesis atau hematopoiesis ialah proses pembentukan darah. Tempat


hemopoesis pada manusia berpindah-pindah sesuai dengan umur :
a) Janin

: umur 0-2 bulan (kantung kuning telur)


umur 2-7 bulan (hati, limpa)
umur 5-9 bulan (sumsum tulang)

b) Bayi

: Sumsum tulang

c) Dewasa

: vertebra, tulang iga, sternum, tulang tengkorak, sacrum


dan pelvis, ujung proksimal femur.

Untuk kelangsungan hemopoesis diperlukan :


1.

Sel induk hemopoetik (hematopoietic stem cell)


Sel induk hemopoetik ialah sel-sel yang akan berkembang menjadi sel-sel
darah, termasuk eritrosit, lekosit, trombosit, dan juga beberapa sel dalam
sumsum tulang seperti fibroblast. Sel induk yang paling primitif sebagai
pluripotent (totipotent) stem cell.
Sel induk pluripotent mempunyai sifat :
a.Self renewal

: kemampuan memperbarui diri sendiri


sehingga tidak

akan pernah habis

b.Proliferative

meskipun terus membelah.


:kemampuan
membelah

c.Diferensiatif

memperbanyak diri
: kemampuan untuk mematangkan diri

atau

menjadi sel-sel dengan fungsi-fungsi


tertentu.
Menurut sifat kemampuan diferensiasinya maka sel induk hemopoetik
dapat dibagi menjadi :
Pluripotent

: sel induk yang mempunyai yang mempunyai

(totipotent)stem cell

kemampuan untuk menurunkan seluruh jenis selsel darah.


8

Committeed

stem : sel induk yang mempunyai komitmet untuk

cell

berdiferensiasi melalui salah satu garis turunan sel


(cell line). Sel induk yang termasuk golongan ini

Oligopotent

ialah sel induk myeloid dan sel induk limfoid.


stem : sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi

cell

hanya beberapa jenis sel. Misalnya CFU-GM


(colony forming unit-granulocytelmonocyte) yang
dapat berkembang hanya menjadi sel-sel granulosit

Unipotent stem cell

dan sel-sel monosit.


: sel induk yang hanya mampu berkembang
menjadi satu jenis sel saja. Contoh CFU-E (colony
forming unit-erythrocyte) hanya dapat menjadi
eritrosit, CFU-G (colony forming unit-granulocyte)
hanya mampu berkembang menjadi granulosit.

Lingkungan mikro (microenvirontment) sumsum tulang

Lingkungan mikro sumsum tulang adalah substansi yang memungkinkan sel


induk tumbuh secara kondusif.
Komponen lingkungan mikro ini meliputi:
a) Mikrosirkulasi dalam sumsum tulang
b) Sel-sel stroma :
-

Sel endotel
Sel lemak
Fibroblast
Makrofag
Sel reticulum

c) Matriks ekstraseluler : fibronektin, haemonektin, laminin, kolagen, dan


proteoglikan.
Lingkungn mikro sangat penting dalam hemopoesis karena berfungsi untuk :
Menyediakan nutrisi dan bahan hemopoesis yang dibawa oleh
peredaran darah mikro dalam sumsum tulang.
Komunikasi antar sel (cell to cell communication), terutama ditentukan
oleh adanya adhesion molecule.
Menghasilkan zat yang mengatur hemopoesis : hematopoietic growth ,
9
2.1.5 Komposisi darah

2.1.6 Kandungan dalam darah :


Air
: 91%
Protein
: 3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinigen)
Mineral
: 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat,
magnesium, kalsium, dan zat besi).

Bahan organik : 0,1% (glukosa, lemak asam urat, kreatinin, kolesterol, dan
asam amino).

10
2.1.7

Umur sel darah


Sel Darah Merah ( Erythrocyte ) :

- Lama hidup

:100 - 120 hari ( setelah keluar dari stem cell )

- Sisa sel darah merah didaur ulang oleh limpa & hati.
Sel Darah Putih ( Leukocyte ) :
- Lama hidup
- Khusus memory cell

: 18 - 36 jam ( setelah keluar dari stem cell ).


: Hidup bertahun-tahun / puluhan tahun misalnya

sehabis vaksinasi / infeksi


Tersebar ke seluruh jaringan.

organisme tertentu.

Sel Darah Pembeku ( Thrombocyte ) :


- Lama hidup : 7 - 10 hari.
- Sisa sel darah pembeku dikeluarkan melalui limpa &
hati.
Kepingan-kepingan darah (trombosit)
Bentuk trombosit beraneka ragam, yaitu bulat, oval, dan
memanjang. Trombosit tidak berinti sel dan bergranula. Jumlah
sel keping darah atau trombosit pada orang dewasa sekitar
200.000 500.000 sel per cc.
Umur dari keping darah sangat singkat, yaitu 5 sampai dengan 9
hari.

2.2 Komponen darah manusia


terdiri dari :
- sel darah merah (eritrosit),
- sel darah putih (leukosit),
-keping-keping darah (trombosit), dan
-plasma darah.

11
2.2.1

Sel Darah Merah (Eritrosit)

Eritrosit berbentuk bulat pipih dengan bagian tengahnya cekung (bikonkaf).


Sel darah merah tidak memiliki inti sel.
Sel darah merah manusia berbentuk bulat pipih dengan bagian tengahnya
cekung kecil (bikonkaf). Sel darah merah tidak memiliki inti sel, Sel darah merah
manusia berjumlah sekitar 5.000.000 sel di setiap ml darah.
Sel darah merah mengandung hemoglobin yang kaya akan zat besi dan
memiliki kemampuan untuk mengikat oksigen dari paru-paru dan disebarkan ke
seluruh tubuh.
Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum tulang, terutama dari tulang pendek,
pipih, dan tak beraturan. Umur sel darah merah kira-kira 115 hari. Oleh karena itu,
tubuh kita memerlukan protein dan zat besi yang cukup untuk pembentukan sel darah
merah yang baru. Protein dan zat besi ini dapat kita peroleh dari zat makanan yang
kita makan sehari-hari.
Sel darah merah yang telah berumur 115 hari akan dihancurkan di dalam limfa dan
mati. Hemoglobin akan dipecah menjadi hemo dan globin. Hemo akan digunakan
untuk pembentukan sel darah merah lagi dan sisanya akan diubah menjadi bilirubun
(pigmen kuning) dan biliverdin. Sedangkan, globin yang merupakan suatu protein,
akan diubah menjadi asam amino yang akan digunakan oleh jaringan.

2.2.1.1 Kelainan-Kelainan Pada Sel Darah Merah


Akan mengakibatkan terjadinya :

Polisitemia
peningkatan jumlah sel darah merah dalam sirkulasi.
Polisitemia Relatif
Peningkatan konsentrasi sel darah merah tetapi tidak disertai peningkatan jumlah
masa total sel darah merah
(karena dehidrasi dan hemokonsentrasi)
Polisitemia Vera (Primer)
Peningkatan sel darah merah disertai peningkatan masa total sel darah merah (akibat
hiperaktivitas produksi sel darah merah oleh sumsum tulang)
Polisitemia Sekunder
Merupakan (normal) karena merupakan respon terhadap hipoksia
12
Hiperbilirubinemia
Merupakan peningkatan bilirubin darah yang berlebihan ditandai dengan terjadinya
ikterus, hal ini dapat diakibatkan karena:
-

2.2.1.2

Peningkatan penghancuran eritrosit


Sumbatan saluran empedu
Penyakit hati

Kekurangan eritrosit/sel darah merah

Anemia
Kekurangan sel darah merah yang dapat disebabkan karena hilangnya darah yang
terlalu cepat atau produksi sel darah merah yang terlalu lambat
Macam-Macam Anemia:
Anemia Hemoragis
Anemia akibat kehilangan darah secara berlebihan. Secara normal cairan plasma yg
hilang akan diganti dalam waktu 1-3 hari namun dengan konsentrasi sel darah merah
yang tetap rendah.
Sel darah merah akan kembali normal dalam waktu 3-6 minggu.

Anemia Aplastika
Sumsum tulang yang tidak berfungsi sehingga produksi sel darah merah terhambat.
Dapat dikarenakan oleh radiasi sinar gamma (bom atom), sinar X yang berlebihan,
bahan2 kimia tertentu, obat2an atau pada orang2 dengan keganasan.
Anemia Megaloblasitik
Vitamin B12, asam folat dan faktor intrinsik(terdapat pd mukosa lambung)
merupakan faktor2 yang berpengaruh terhadap pembentukan sel darah merah. Bila
salah satu faktor di atas tidak ada maka produksi eritroblas dalam sumsum tulang
akan bermasalah. Akibatnya sel darah tumbuh terlampau besar dengan bentuk yang
aneh, memiliki membran yg rapuh dan mudah pecah.. ciri 2 ini disebut sebagai
Megaloblas. Dapat terjadi pada:

Atropi mukosa lambung (faktor intrinsik terganggu)

Gastrektomi total (hilangnya faktor intrinsik)

Sariawan usus (absorbsi asam folat dan B12 berkurang)


13
Anemia Hemolitik
Sel darah merah yang abnormal ditandai dengan rapuhnya sel dan masa hidup yg
pendek (biasanya ada faktor keturunan)
Contoh :

1.

Sferositosis, sel darah merah kecil, bentuk sferis, tidak mempunyai struktur bikonkaf
yg elastis (mudah sobek)

2.

Anemia sel sabit, 0,3-10 % orang hitam di Afrika Barat dan Amerika sel 2nya
mengandung tipe Hb yg abnormal (HbS), bila terpapar dengan O 2 kadar rendah maka
Hb akan mengendap menjadi kristal2 panjang di dalam sel darah merah.. sehingga sel
darah merah menjadi lebih panjang dan berbentuk mirip seperti bulan sabit. Endapan
Hb merusak membran sel. Tekanan O 2 jaringan yg rendah menghasilkan bentuk sabit
dan mudah sobek. Penurunan tekanan O 2 lebih lanjut membentuk sel darah semakin
sabit dan penghancuran sel darah merah meningkat hebat.

3.

Eritroblastosis Fetalis, Ibu dengan Rh(-) yang memiliki janin Rh(+).. pada saat
kehamilah pertama.. setelah ibu terpapar darah janin.. maka ibu secara otomatis akan
membentuk anti bodi terhadap Rh(+), sehingga pada kehamilan yang ke dua anti Rh

ibu akan menghancurkan darah bayi, dan bayi akan mengalami anemia yg hebat
hingga meninggal.
4.

Hemolisis karena malaria atau reaksi dg obat2an

5.

Nutrional Anemia
Anemia defisiensi besi (Fe)
Anemia defisiensi asam folat
(akibat kekurangan asupan atau gangguan absorbsi GI track)

6. Anemia Pernisiosa
Vitamin B12 penting untuk sintesa DNA yang berperan dalam penggandaan dan
pematangan sel. Faktor intrinsik berikatan dengan B12 sebagai transport khusus
absorbsi B12 dari usus. Anemia pernisiosa bukan karena kekurangan Intake B12
melainkan karena defisiensi faktor intrinsik yg mengakibatkan absorbsi B12
terganggu.
7. Renal Anemia
Terjadi karena sekresi eritropoietin dari ginjal berkurang akibat penyakit ginjal.
14
2.2.1.3 Metabolisme Eritrosit
Eritrosit adalah cakram bikonkaf yang fleksibel dengan kemampuan
menghasilkan energi sebagai adenosin trifosfat (ATP) melalui jalur gikolisis
anaerob(Embden Meyerhof) dan menghasilkan kekuatan pereduksi sebagai NADH
melalui jalur ini serta sebagai nikotamida adenine dinukleotida fosfat tereduksi
(NADPH) melalui jalur pintas heksosa monofosfat (hexsose monophosphate shunt)
(Hoffbrand et al, 2005).
Jalur Embden-Meyerhof juga menghasilkan NADH yang diperlukan oleh
enzim methemoglobin reduktase untuk mereduksi methemoglobin (hemoglobin
teroksidasi) yang tidak berfungsi, yang mengandung besi ferri (dihasilkan oleh
oksidasi sekitar 3% hemoglobin setiap hari) menjadi hemoglobin tereduksi yang aktif
berfungsi. 2,3-DPG yang dihasilkan pada pintas Luebering-Rapoport (LueberingRapoport Shunt), atau jalur samping pada jalur ini membentuk suatu kompleks 1:1
dengan hemoglobin, dan seperti telah disebutkan di atas, penting dalam regulasi

afinitas hemoglobin terhadap oksigen (Hoffbrand et al, 2005). Jalur Heksosa


Monofosfat (pentosa fosfat). Sekitar 5% glikolisis terjadi melalui jalur oksidatif ini,
dengan perubahan glukosa-6-fosfat menjadi 6-fosfo-glukonat dan kemudian menjadi
ribulosa-5-fosfat.
NADPH dihasilkan dan berkaitan dengan glutation yang mempertahankan
gugus sulfhidril (SH) tetap utuh dalam sel, termasuk SH dalam hemoglobin dan
membran eritrosit. NADPH juga digunakan oleh methemoglobin reduktase lain untuk
mempertahankan besi hemoglobin dalam keadaan Fe2+ yang aktif secara fungsional.
Pada salah satu kelainan eritrosit diturunkan yang sering ditemukan (yaitu defisiensi
glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD)), eritrosit sangat rentan terhadap stres
oksidasi (Hoffbrand et al, 2005).
2.2.2

Sel Darah Putih (Leukosit)

Sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh mempunyai bentuk yang
lebih besar dibanding sel darah merah. Akan tetapi, dalam setiap milimeter kubik
darah, sel darah putih mempunyai jumlah yang lebih kecil dibanding sel darah merah,
yaitu sekitar 6000-8000 sel. Sel darah putih tidak berwarna (bening).

15
Sel darah putih ini ada bermacam-macam dan secara umum dibagi menjadi 5 macam,
yaitu granulosit, limfosit, monosit, netrofil, dan eosinofil. Masingmasing sel darah
putih ini mempunyai ciri dan peran yang berbeda-beda.
Ada beberapa jenis sel darah putih yang disebut granulosit atau sel polimorfonuklear
yaitu:

Basofil.

Eosinofil.

Neutrofil.

dan dua jenis lain tanpa granula dalam sitoplasma:

Limfosit.

Monosit.

%
Tipe

Gambar

Diagram

dalam

tubuh

Keterangan

manusia
Neutrofil

berhubungan

dengan

pertahanan tubuh terhadap infeksi


bakteri serta proses peradangan kecil
Neutrofil

65%

lainnya, serta biasanya juga yang


memberikan

tanggapan

pertama

terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan


matinya neutrofil dalam jumlah yang
banyak menyebabkan adanya nanah.
Eosinofil
terutama
berhubungan
Eosinofil

4%

dengan

infeksi

demikian

parasit,

meningkatnya

dengan
eosinofil

menandakan banyaknya parasit.

Basofil terutama bertanggung jawab


untuk memberi reaksi alergi dan
Basofil

<1%

antigen dengan jalan mengeluarkan


histamin kimia yang menyebabkan

Limfosit

25%

peradangan.
Limfosit lebih umum dalam sistem
limfa. Darah mempunyai tiga jenis
limfosit:

Sel B: Sel B membuat antibodi


yang mengikat patogen lalu

menghancurkannya.

(Sel

tidak hanya membuat antibodi


yang dapat mengikat patogen,
tapi setelah adanya serangan,
beberapa

sel

akan

mempertahankan
kemampuannya

dalam

menghasilkan antibodi sebagai


layanan sistem 'memori'.)

Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T


mengkoordinir
ketahanan
dalam

tanggapan

(yang

infeksi

bertahan

HIV)

serta

penting untuk menahan bakteri


intraseluler. CD8+ (sitotoksik)
dapat

membunuh

sel

yang

killer:

Sel

terinfeksi virus.

Sel

natural

pembunuh alami (natural killer,


NK)

dapat

membunuh

sel

tubuh yang tidak menunjukkan


sinyal bahwa dia tidak boleh
dibunuh karena telah terinfeksi
virus

atau

telah

menjadi

kanker.
Monosit membagi fungsi "pembersih
vakum" (fagositosis) dari neutrofil,
tetapi lebih jauh dia hidup dengan
Monosit

6%

tugas tambahan: memberikan potongan


patogen kepada sel T sehingga patogen
tersebut dapat dihafal dan dibunuh,
atau

dapat

membuat

antibodi untuk menjaga.

tanggapan

Monosit
Makrofag

6%

dikenal

juga

sebagai

makrofag setelah dia meninggalkan


aliran darah serta masuk ke dalam
jaringan.

2.2.2.1

Fungsi sel Darah putih

Granulosit dan Monosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan badan


terhadap mikroorganisme. dengan kemampuannya sebagai fagosit (fago- memakan),
mereka memakan bakteria hidup yang masuk ke sistem peredaran darah. melalui
mikroskop adakalanya dapat dijumpai sebanyak 10-20 mikroorganisme tertelan oleh
sebutir granulosit. pada waktu menjalankan fungsi ini mereka disebut fagosit. dengan
kekuatan gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas di dalam dan dapat keluar
pembuluh darah dan berjalan mengitari seluruh bagian tubuh. dengan cara ini ia
dapat:
Mengepung daerah yang terkena infeksi atau cidera, menangkap organisme hidup
dan menghancurkannya, menyingkirkan bahan lain seperti kotoran-kotoran, serpihanserpihan dan lainnya, dengan cara yang sama, dan sebagai granulosit memiliki enzim
yang dapat memecah protein, yang memungkinkan merusak jaringan hidup,

18
menghancurkan dan membuangnya. dengan cara ini jaringan yang sakit atau
terluka dapat dibuang dan penyembuhannya dimungkinkan.
Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat dihentikan sama
sekali. Bila kegiatannya tidak berhasil dengan sempurna, maka dapat terbentuk nanah.
Nanah berisi "jenazah" dari kawan dan lawan - fagosit yang terbunuh dalam
kinerjanya disebut sel nanah. demikian juga terdapat banyak kuman yang mati dalam
nanah itu dan ditambah lagi dengan sejumlah besar jaringan yang sudah mencair. dan
sel nanah tersebut akan disingkirkan oleh granulosit yang sehat yang bekerja sebagai
fagosit.

Granulosit dan monosit mempunyai peran yang penting dalam perlindungan badan
terhadap mikroorganisme. Dengan kemampuannya sebagai fagosit dan gerakan
amuboidnya, sel-sel ini dapat bergerak bebas memakan mangsanya, sehingga sel-sel
ini dapat menangkap dan menghancurkan zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh.
Orang yang kelebihan sel darah putih (>10.000) disebut leukosis, sedangkan orang
yang kekurangan sel darah putih disebut leukopenia.
Akibat kekurangan sel darah putih:
1. Mudah terserang penyakit
2. Berbagai infeksi
3. Kanker darah
Eritrosit berbentuk bulat pipih dengan bagian tengahnya cekung (bikonkaf). Sel darah
merah tidak memiliki inti sel.

2.2.3

Keping Darah (Trombosit)

Trombosit berperan dalam proses pembekuan darah. Jumlah trombosit dalam setiap
milimeter darah adalah 300.000. Trombosit dibentuk di megakarosit sumsum merah
tulang. Trombosit memiliki ciri tidak berinti berukuran 2 - 4 mikron lebih kecil dari
eritrosit dan leukosit. Bentuknya tidak teratur dan berumur 8 - 12 hari.
Proses pembekuan darah yang dilakukan oleh trombosit, tampak pada diagram
berikut. Jika terluka, maka akan pecah dan mengeluarkan enzim trombokinase. Enzim
trombokinase, ion kalsium, dan vitamin K bersama-sama membantu mengubah
protrombin menjadi trombin. Dengan bantuan trombin, fibrinogen berubah menjadi
fibrin yang akan menutupi luka.
19
2.2.3.1 Fungsi Trombosit
Trombosit berperan penting dalam pembentukan bekuan darah. Trombosit dalam
keadaan normal bersirkulasi ke seluruh tubuh melewati aliran darah. Namun, dalam
beberapa detik setelah kerusakan suatu pembuluh, trombosit tertarik ke daerah

tersebut sebagai respons terhadap kolagen yang terpajang di lapisan subendotel


pembuluh. Trombosit melekat ke permukaan yang rusak dan mengeluarkan beberapa
zat (serotonin dan histamin) yang menyebabkan terjadinya vasokonstriksi pembuluh.

Pembatasan Fungsi Trombosit

Penimbunan trombosit yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan aliran darah


ke jaringan atau sumbat menjadi sangat besar, sehingga lepas dari tempat semula dan
mengalir ke hilir sebagai suatu embolus dan menyumbat aliran ke hilir.
Guna mencegah pembentukan suatu emboli, maka trombosit-trombosit tersebut
mengeluarkan bahan-bahan yang membatasi luas penggumpalan mereka sendiri.
Bahan utama yang dikeluarkan oleh trombosit untuk membatasi pembekuan adalah
prostaglandin tromboksan A2 dan prostasiklin 12. Tromboksan A2 merangsang
penguraian trombosit dan menyebabkan vasokonstriksi lebih lanjut pada pembuluh
darah. Sedangkan prostasiklin 12 merangsang agregasi trombosit dan pelebaran
pembuluh, sehingga semakin meningkatkan respons trombosit.

Darah Yang Mengobati Luka


Kalian pasti pernah melihat luka kecil yang berhenti berdarah
segera setelah beberapa saat. Kejadian ini tentu sangat
menarik karena pada keadaan normal, cairan yang mengalir
dari sebuah lubang tidak mungkin bisa berhenti mengalir
dengan sendirinya. Untuk lebih memahami kejadian ini,
anggaplah bahwa kalian memiliki sebuah balon yang terisi air.
Jika kalian melubangi balon tersebut dengan jarum, air tentu
akan keluar dari balon. Apakah air akan berhenti menyembur
setelah beberapa saat tanpa campur tangan kalian? Tentu saja tidak. Semua air akan
tetap mengucur hingga balon tersebut kehilangan airnya. Ini pun berlaku untuk
seluruh cairan dalam ruang tertutup.

20

Darah bergerak melalui tempat tertutup dalam pembuluh dan akan mengucur keluar
jika ada luka. Namun, demi kesehatan kita, aliran darah itu harus dihentikan. Kalian
mungkin pernah mendengar ada orang yang mati karena kehilangan banyak darah
dalam kecelakaan atau operasi. Kalau begitu, apakah yang menyebabkan darah
berhenti mengalir segera setelah luka mulai mengucurkan darah?
Luka di tangan Anda atau luka pada lutut Anda menyembuhkan dalam waktu singkat.
Gambar-gambar di bawah ini menunjukkan beberapa apa yang terjadi di pembuluh
darah Anda selama proses penyembuhan ini.

Darah mengalir keluar melalui luka. . Sel Darah Merah II. Keping darah, III. Sel
rusak

Darah yang melingkupi luka kemudian membeku.

Sel-sel

menutup

luka

bagaikan

penyumbat.

IV. Gumpalan darah


21
Ini disebut dengan penggumpalan darah, yang merupakan salah satu sistem
pertahanan otomatis dalam tubuh kita. Beberapa zat yang ada dalam darah
menghentikan dan menutupi luka tersebut. Berkat kemampuan penggumpalan darah
ini, pendarahan berlebihan pun tercegah. Seperti yang ditunjukkan oleh gambar di
sebelah kanan, beberapa sel dalam darah diberi tahu tentang pembuluh yang rusak,
dan segera menuju ke tempat itu. Pertama-tama mereka berkeliling di sekitar luka,
lalu menghambat aliran darah dengan membuat sebuah jaring. Jaring ini mengeras
lambat laun dan membentuk apa yang kita sebut keropeng.
Sekarang mari kita renungkan bersama. Bisakah serangkaian peristiwa ini terjadi
secara kebetulan? Bagaimana beberapa sel darah mendapat informasi tentang
kerusakan di suatu tempat dalam pembuluh darah, yang merupakan sebuah dunia luas
jika dibandingkan dengan ukuran mereka? Mengapa mereka bekerja keras untuk
mencegah aliran darah? Bagaimana mereka tahu bahwa mereka harus menutup luka
untuk menutup kehilangan darah? Siapa yang mengajari sel-sel ini agar mereka
menutupi luka itu?
Sel-sel tidak pernah belajar tentang segala hal ini secara kebetulan dan juga tidak bisa
melakukan ini dengan kemauan sendiri. Bahkan manusia, yang memiliki kecerdasan,
tidak mungkin menciptakan sistem yang terperinci seperti itu dan mengajari sel apa
yang harus dilakukan. Pastilah, kecerdasan yang ditunjukkan oleh sel-sel ini bukanlah

milik mereka. Allah-lah yang telah mengilhami mereka dan mereka bertindak
menurut sebuah perencanaan sempurna.

Pada gambar di atas, kalian dapat melihat sel-sel darah merah yang terperangkap di
antara serat-serat gumpalan darah. Ini semua dapat terjadi berkat kemampuan darah
untuk membeku, sehingga pendarahan terhenti segera ketika kalian terluka.
22
2.2.3.2 kekurangan trombosit
Trombositopenia adalah suatu kekurangan trombosit, yang merupakan bagian dari
pembekuan darah.
Darah biasanya mengandung sekitar 150.000-350.000 trombosit/mL. Jika jumlah
trombosit kurang dari 30.000/mL, bisa terjadi perdarahan abnormal meskipun
biasanya gangguan baru timbul jika jumlah trombosit mencapai kurang dari
10.000/mL.
Penyebab:
Penyebab trombositopenia:
1. Sumsum tulang menghasilkan sedikit trombosit
- Leukemia
- Anemia aplastik
- Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
- Pemakaian alkohol yang berlebihan
- Anemia megaloblastik
- Kelainan sumsum tulang

2. Trombosit terperangkap di dalam limpa yang membesar


- Sirosis disertai splenomegali kongestif
- Mielofibrosis
- Penyakit Gaucher
3. Trombosit menjadi terlarut
- Penggantian darah yang masif atau transfusi ganti (karena platelet tidak
dapat bertahan di dalam darah yang ditransfusikan)
- Pembedahan bypass kardiopulmoner
4. Meningkatnya penggunaan atau penghancuran trombosit
- Purpura trombositopenik idiopatik (ITP)
- Infeksi HIV
- Purpura setelah transfusi darah
-

Obat-obatan,

misalnya

heparin,

kuinidin,

kuinin,

antibiotik

yang

mengandung sulfa, beberapa obat diabetes per-oral, garam emas, rifampin


23
- Leukemia kronik pada bayi baru lahir
- Limfoma
- Lupus eritematosus sistemik
- Keadaan-keadaan yang melibatkan pembekuan dalam pembuluh darah,
misalnya komplikasi kebidanan, kanker, keracunan darah (septikemia) akibat
bakteri gram negatif, kerusakan otak traumatik
- Purpura trombositopenik trombotik
- Sindroma hemolitik-uremik
- Sindroma gawat pernafasan dewasa
- Infeksi berat disertai septikemia.
GEJALA
Perdarahan kulit bisa merupakan pertanda awal dari jumlah trombosit yang kurang.
Bintik-bintik keunguan seringkali muncul di tungkai bawah dan cedera ringan bisa
menyebabkan memar yang menyebar.

Bisa terjadi perdarahan gusi dan darah juga bisa ditemukan pada tinja atau air kemih.
Pada penderita wanita, darah menstruasinya sangat banyak. Perdarahan mungkin
sukar berhenti sehingga pembedahan dan kecelakaan bisa berakibat fatal.
Jika jumlah trombosit semakin menurun, maka perdarahan akan semakin memburuk.
Jumlah trombosit kurang dari 5.000-10.000/mL bisa menyebabkan hilangnya
sejumlah besar darah melalui saluran pencernaan atau terjadi perdarahan otak
(meskipun otaknya sendiri tidak mengalami cedera) yang bisa berakibat fatal.
PURPURA TROMBOSITOPENIK IDIOPATIK (ITP)
Purpura Trombositopenik Idiopatik adalah suatu penyakit dimana terjadi perdarahan
abnormal akibat rendahnya jumlah trombosit tanpa penyebab yang pasti.
Penyebab dari kekurangan trombosit tidak diketahui (idiopatik). Penyakit ini diduga
melibatkan reaksi autoimun, dimana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang
trombositnya sendiri. Meskipun pembentukan trombosit di sumsum tulang meningkat,
persediaan trombosit yang ada tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh.
24
Pada anak-anak, penyakit ini biasanya terjadi setelah suatu infeksi virus dan setelah
bebeerapa minggu atau beberapa bulan akan menghilang tanpa pengobatan.
Gejalanya bisa timbul secara tiba-tiba (akut) atau muncul secara perlahan (kronik).
Gejalanya berupa:
- bintik-bintik merah di kulit sebesar ujung jarum
- memar tanpa penyebab yang pasti
- perdarahan gusi dan hidung
- darah di dalam tinja.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala serta hasil pemeriksaan darah dan sumsum
tulang yang menunjukkan rendahnya jumlah trombosit dan adanya peningkatan
penghancuran trombosit.

Pada penderita dewasa, diberikan kortikosteroid (misalnya prednison) dosis tinggi


untuk mencoba menekan respon kekebalan tubuh. Pemberian kortikosteroid hampir
selalu bisa meningkatkan jumlah trombosit, tetapi efeknya hanya sekejap. Obat-obat
yang menekan sistem kekebalan (misalnya azatioprin) juga kadang diberikan. Jika
pemberian obat tidak efektif atau jika penyakitnya berulang, maka dilakukan
pengangkatan limpa (splenektomi).
Imun globulin atau faktor anti-Rh (bagi penderita yang memiliki darah Rh-positif)
dosis tinggi diberikan secara intravena kepada penderita yang mengalami perdarahan
hebat akut. Obat ini juga digunkan untuk periode yang lebih lama (terutama pada
anak-anak), guna mempertahankan jumlah trombosit yang memadai untuk mencegah
perdarahan.
TROMBOSITOPENIA AKIBAT PENYAKIT
Infeksi HIV (virus penyebab AIDS) seringkali menyebabkan trombositopenia.
Penyebabnya

tampaknya

adalah

antibodi

yang

menghancurkan

trombosit.

Pengobatannya sama dengan ITP. Zidovudin (AZT) yang diberikan untuk


memperlambat penggandaan virus AIDS, seringkali menyebabkan meningkatnya
jumlah trombosit.
25
Lupus eritematosus sistemik menyebabkan berkurangnya jumlah trombosit dengan
cara

membentuk

antibodi.

Disseminated

intravascular

coagulation

(DIC)

menyebabkan terbentuknya bekuan-bekuan kecil di seluruh tubuh, yang dengan


segera menyebabkan berkurangnya jumlah trombosit dan faktor pembekuan.
PURPURA TROMBOSITOPENIK TROMBOTIK
Purpura Trombositopenik Trombotik adalah suatu penyakit yang berakibat fatal dan
jarang terjadi, dimana secara tiba-tiba terbentuk bekuan-bekuan darah kecil di seluruh
tubuh, yang menyebabkan penurunan tajam jumlah trombosit dan sel-sel darah merah,
demam dan kerusakan berbagai organ.
Penyebab penyakit ini tidak diketahui. Bekuan darah bisa memutuskan aliran darah ke
bagian otak, sehingga terjadi gejala-gejala neurologis yang aneh dan hilang-timbul.

Gejala lainnya adalah:


- sakit kuning (jaundice)
- adanya darah dan protein dalam air kemih
- kerusakan ginjal
- nyeri perut
- irama jantung yang abnormal.
Jika tidak diobati, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal; dengan pengobatan, lebih
dari separuh penderita yang bertahan hidup.
Plasmaferesis berulang atau transfusi sejumlah besar plasma (komponen cair dari
darah yang tersisa setelah semua sel-sel darah dibuang) bisa menghentikan
penghancuran trombosit dan sel darah merah. Bisa diberikan kortikosteroid dan obat
yang menghalangi fungsi trombosit (misalnya aspirin dan dipiridamol), tetapi
efektivitasnya belum pasti.

26
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan darah yang
menunjukkan jumlah trombosit dibawah normal.
Pemeriksaan darah dengan mikroskop atau pengukuran jumlah dan volume trombosit
dengan alat penghitung elektronik bisa menentukan beratnya penyakit dan
penyebabnya. Aspirasisumsum tulang yang kemudian diperiksa dengan mikroskop,
bisa memberikan informasi mengenai pembuatan trombosit.
PENGOBATAN
Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka menghentikan pemakaian obat tersebut
biasanya bisa memperbaiki keadaan. Jika jumlah trombositnya sangat sedikit
penderita seringkali dianjutkan untuk menjalani tirah baring guna menghindari cedera.

Jika terjadi perdarahan yang berat, bisa diberikan transfusi trombosit.


2.2.3.3 Kelebihan Trombosit
Trombositosis adalah gangguan di mana tubuh memproduksi terlalu banyak platelet
(trombosit), yang memainkan peran penting dalam pembekuan darah. Kelainan ini
disebut trombositosis reaktif jika disebabkan oleh kondisi yang mendasarinya, seperti
infeksi.
Trombositosis juga bisa disebabkan oleh penyakit sumsum darah dan tulang. Ketika
disebabkan oleh gangguan sumsum tulang, trombositosis jenis ini disebut
trombositosis

otonom,

primer

atau

trombositosis

esensial.

Trombositosis bisa terdeteksi saat tes darah rutin yang menunjukkan tingkat platelet
tinggi. Jika tes darah menunjukkan bahwa seseorang mengalami trombositosis,
langkah penting pertaman yang akan dilakukan dokter adalah menentukan apakah
kondisi ini trombositosis reaktif atau jika trombositemia, yang lebih berpotensi
menyebabkan pembekuan darah.

27
Gejala
Trombositosis reaktif jarang menyebabkan gejala. Tanda dan gejala lebih sering
timbul jika trombositos yang dialami berhubungan dengan kondisi medis mendasar.
Jika gejala trombositosis reaktif terjadi, tanda-tanda dan gejalanya biasanya berupa:

Sakit kepala

Pusing atau sempoyongan

Nyeri dada

Badan lemah

Pingsan

Perubahan penglihatan sementara

Mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki

Penyebab
Sumsum tulang jaringan spons dalam tulang mengandung sel-sel yang dapat
menjadi sel darah merah, sel darah putih atau trombosit. Trombosit menyebar melalui
pembuluh darah. Trombosit ini saling melakat satu sama lain untuk membentuk
bekuan yang berfungsi untuk menghentikan pendarahan ketika pembuluh darah kita
rusak, seperti ketika kita terluka. Jumlah trombosit normal berkisar antara 150.000
hingga 450.000 trombosit per mikroliter darah.
Penyebab trombositosis reaktif meliputi:

Perdarahan akut dan kehilangan darah

Reaksi alergi

Kanker

Gagal ginjal kronis atau gangguan ginjal lain

Latihan fisik

Serangan jantung

Infeksi

Anemia defisiensi zat besi

Pengangkatan limpa

Anemia hemolitik jenis anemia dimana tubuh membutuhkan waktu yang


lebih

lama

untuk

menghancurkan

sel-sel

darah

merah

daripada

menghasilkannya, seringkali diakibatkanoleh penyakit darah tertentu atau


gangguan autoimun
28

Peradangan, seperti rheumatoid arthritis, penyakit celiac, gangguan jaringan


ikat atau penyakit inflamasi usus

Operasi besar

Pankreatitis

Trauma

Obat-obatan yang dapat menyebabkan trombositosis reaktif meliputi:

Epinefrin (Adrenalin Klorida, EpiPen)

Tretinoin

Vincristine

Faktor Risiko
Seseorangberisiko terkena trombositosis jika ia memiliki kondisi medis seperti
anemia kekurangan zat besi atau baru saja menjalani operasi.
Komplikasi
Jika trombosit tinggi terjadiakibat penyakit sumsum tulang (thrombositemia esensial),
bukan trombositosis reaktif, kondisi ini akan berisiko mengakibatkan pembekuan
darah, beberapa di antaranya dapat mengancam jiwa.
Tes dan Diagnosis
Trombositosis dapat dideteksi melalui tes berikut:

Tes darah rutin yang menunjukkan jumlah trombosit yang lebih tinggi dari
kadar normal.

Selama pemeriksaan fisik, ketika dokter menemukan limpa Anda membesar


atau Anda memiliki tanda-tanda atau gejala infeksi atau kondisi lain, dokter
akan menyarankan complete blood count (CBC) untuk memeriksa jumlah
trombosit Anda.

Pap darah tes di mana sejumlah kecil darah diperiksa di bawah mikroskop bisa
membantu

mendeteksi

kondisi

trombosit.

Karena beberapa kondisi dapat menyebabkan kenaikan jumlah trombosit untuk


sementara, dokter mungkin akan mengulangi tes darah untuk melihat apakah jumlah
trombosit

Anda

tetap

tinggi

dari

waktu

ke

waktu.

Kisaran normal untuk trombosit adalah 150.000 hingga 450.000 trombosit per
mikroliter darah. Jika hasil penghitungan trombosit darah Anda di atas 500.000,
dokter mungkin akan mencari kondisi yang mendasarinya. Dalam kebanyakan kasus,
29
tanda-tanda dan gejala dari kondisi yang mendasari trombositosisbisa membantu
penetapan diagnosis. Dokter mungkin juga:

Memeriksa tingkat zat besi dalam darah

Memeriksa tanda-tanda peradangan

Merekomendasikan tes genetik untuk membantu menentukan apakah Anda


memiliki gangguan darah dan sumsum tulang

Melakukan aspirasi sumsum tulang dan biopsi untuk mengumpulkan dan


memeriksa jaringan tulang sumsum

2.2.4

plasma Darah

Pengertian, Fungsi, dan Kandungan Plasma Darah


Pengertian Plasma darah Adalah cairan yang berwarna kuning jernih. Fungsi dan
komponen/komposisi serta kandungan dari plasma darah merupakan pembahasan
yang akan dikaji dalam plasma darah. Plasma darah memiliki proses mekanisme
dalam bekerja di dalam tubuh manusia. Plasma darah mengandung 90% air dan
larutan bermacam-macam zat sejumlah 7%-10%. Zat-zat yang terkandung di dalam
plasma darah, yakni sari makanan, hormon enzim, mineral, antibodi dan zat-zat sisa
(misalnya CO2 dan sisa pembongkaran protein). Sari-sari makanan tersebut diserap
usus halus.

2.2.4.1 Kandungan Plasma Darah

Mengandung Zat Makanan dan Mineral seperti asam amino, gliserin, glukosa,
kolesterol, garam mineral, asam lemak

Zat yang dihasilkan dari sel-sel yakni enzim, antibodi, dan hormon.

Protein

dalam

Darah

yakni

anttheofilik,

tromboplastin,

fibrinogen,

gammaglobulin, protrombin, albumin.

Karbon dioksida, oksigen, dan nitrogen

Asam Urat, Urea

30
2.2.4.2 Fungsi Plasma Darah

Alat untuk mengangkut air dan sekaligus menyerbakan kedalam tubuh

Alat yang mengangkut hasil oksidasi untuk dibuang melalui alat ekskresi

Alat yang mengangkut Oksigen dan disebarkan keseluruh tubuh

Menjaga temperatur suhu tubuh

Alat yang mengangkut getah hormon dari kelenjar buntu

Mengatur dan menjaga keseimbangan asam basa dalam tubuh

Alat yang mengangkut sari makanan

Mencegah infeksi terhadap sel darah putih,

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan

Dia menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah
berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian
pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak
menemukan sesuatu cacat pun, dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. (QS
Al-Mulk: 3-4)
CAIRAN AJAIB YANG TIDAK DAPAT DITIRU : DARAH
Para ilmuwan telah melakukan banyak penelitian untuk memproduksi cairan
yang mirip dengan darah. Akan tetapi, karena gagal, mereka pun menyerah untuk
meniru darah dan memusatkan penelitiannya dalam bidang lain saja.
Para ilmuwan tidak bisa meniru darah karena contoh darah yang diambil dari
pembuluh darah akan segera menggumpal dan bentuk darah menjadi tidak cocok
untuk penelitian. Tidak ada gunanya meletakkan contoh darah di dalam tabung gelas
penelitian, karena sel darah tidak bisa bertahan lama dalam tabung. Oleh sebab itu,
para ilmuwan harus memisahkan sel dalam darah dan menelitinya secara tersendiri.
Tak diragukan lagi, adalah salah satu penjelasan yang paling tidak masuk akal dan
tidak logis di dunia ini jika dikatakan bahwa zat yang begitu sempurna ini, yang tidak
bisa ditiru dengan seluruh informasi yang telah dipelajari manusia selama bertahuntahun, terjadi serta-merata dan karena kebetulan. Allah telah menciptakan darah
sebagai zat yang tidak ada taranya. Sebuah sel darah yang memiliki banyak
kemampuan menakjubkan hanyalah salah satu bentuk kebijaksanaan Allah yang tidak
terbatas dalam tubuh manusia.
3.2 Saran

31

DAFTAR PUSTAKA
Amstrong, B;B,,,Bioohemistry(edisi ke-3),newyork:oxford Univercity
press,1989.
Borms,J.etali(ed),Human Growth and Developmen,
Newyork:planumpress,1984.
Cohen, N.S., the Manipulation of Genus in Rekombinant DNA,
Sanfransisco: W.H. Freman N Company, 1978
Departemen Kesehatan RI., Buku Penuntun Ilmu GiziUmum II.
Jakarta,1975.
Hines;T.G. et al.,dietary calcium and Vitamin D: Risk Factor in the
development of arteorosolerosis in youm goats, Journal of Nutrision,115.
2,1985.

11