Anda di halaman 1dari 44

Gerakan dan bacaan sholat

By admin

Thursday, December 11, 2008 17:21:52

Sholat yang benar adalah seperti sholat yang dilakukan oleh Rasulullah saw. sudahkah
kita sholat seperti itu? berikut adalah dalil-dalil yang menerangkan tentang tata cara
Sholat yang dilakukan oleh rasulullah saw.
Sholat yang benar adalah seperti sholat yang dilakukan oleh Rasulullah saw. sudahkah kita sholat
seperti itu? berikut adalah dalil-dalil yang menerangkan tentang tata cara Sholat yang dilakukan
oleh rasulullah saw.
BERDIRI
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengerjakan sholat fardhu atau sunnah berdiri karena
memenuhi perintah Allah dalam QS. Al Baqarah : 238. Apabila bepergian, beliau melakukan sholat
sunnah di atas kendaraannya. Beliau mengajarkan kepada umatnya agar melakukan sholat khauf
dengan berjalan kaki atau berkendaraan.
Peliharalah semua sholat dan sholat wustha dan berdirilah dengan tenang karena Allah. Jika
kamu dalam ketakutan, sholatlah dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Jika kamu dalam
keadaa aman, ingatlah kepada Allah dengan cara yang telah diajarkan kepada kamu yang mana
sebelumnya kamu tidak mengetahui (cara tersebut). (QS. Al Baqarah : 238).
MENGHADAP KIBLAT
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bila berdiri untuk sholat fardhu atau sholat sunnah, beliau
menghadap Kabah. Beliau memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya kepada
orang yang sholatnya salah:
Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhumu, kemudian menghadaplah ke kiblat,
lalu bertakbirlah.
(HR. Bukhari, Muslim dan Siraj).
Tentang hal ini telah turun pula firman Allah dalam Surah Al Baqarah : 115:
Kemana saja kamu menghadapkan muka, disana ada wajah Allah.
Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah sholat menghadap Baitul Maqdis, hal ini terjadi sebelum
turunnya firman Allah:
Kami telah melihat kamu menengadahkan kepalamu ke langit. Kami palingkan kamu ke kiblat
yang kamu inginkan. Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu ke sebagian arah Masjidil Haram.
(QS. Al Baqarah : 144).
Setelah ayat ini turun beliau sholat menghadap Kabah.
Pada waktu sholat subuh kaum muslim yang tinggal di Quba kedatangan seorang utusan
Rasulullah untuk menyampaikan berita, ujarnya,
Sesungguhnya semalam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mendapat wahyu, beliau
disuruh menghadap Kabah. Oleh karena itu, (hendaklah) kalian menghadap ke sana. Pada saat

itu mereka tengah menghadap ke Syam (Baitul Maqdis). Mereka lalu berputar (imam mereka
memutar haluan sehingga ia mengimami mereka menghadap kiblat). (HR. Bukhari, Muslim,
Ahmad, Siraj, Thabrani, dan Ibnu Saad. Baca Kitab Al Irwa, hadits No. 290).
MENGHADAP SUTRAH
Sutrah (pembatas yang berada di depan orang sholat) dalam sholat menjadi keharusan imam dan
orang yang sholat sendirian, sekalipun di masjid besar, demikian pendapat Ibnu Hani dalam Kitab
Masail, dari Imam Ahmad.Beliau mengatakan, Pada suatu hari saya sholat tanpa memasang
sutrah di depan saya, padahal saya melakukan sholat di dalam masjid kami, Imam Ahmad melihat
kejadian ini, lalu berkata kepada saya, Pasanglah sesuatu sebagai sutrahmu! Kemudian aku
memasang orang untuk menjadi sutrah.Syaikh Al Albani mengatakan, Kejadian ini merupakan
isyarat dari Imam Ahmad bahwa orang yang sholat di masjid besar atau masjid kecil tetap
berkewajiban memasang sutrah di depannya.Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Janganlah kamu sholat tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau membiarkan seseorang
lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika dia terus memaksa lewat di depanmu,
bunuhlah dia karena dia ditemani oleh setan.
(HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang jayyid (baik)).
Beliau juga bersabda:
Bila seseorang di antara kamu sholat menghadap sutrah, hendaklah dia mendekati sutrahnya
sehingga setan tidak dapat memutus sholatnya.
(HR. Abu Dawud, Al Bazzar dan Hakim. Disahkan oleh Hakim, disetujui olah Dzahabi dan
Nawawi).
Dan hendaklah sutrah itu diletakkan tidak terlalu jauh dari tempat kita berdiri sholat sebagaimana
yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Nabi shallallahu alaihi wasallam berdiri shalat dekat sutrah (pembatas) yang jarak antara beliau
dengan pembatas di depannya 3 hasta.
(HR. Bukhari dan Ahmad).
Adapun yang dapat dijadikan sutrah antara lain: tiang masjid, tombak yang ditancapkan ke tanah,
hewan tunggangan, pelana, tiang setinggi pelana, pohon, tempat tidur, dinding dan lain-lain yang
semisalnya, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
NIAT
Niat berarti menyengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada Allah Taala semata, serta
menguatkannya dalam hati.Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan
niatnya.
(HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain. Baca Al Irwa, hadits no. 22).
Niat tidak dilafadzkan
Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tidak pula dari salah seorang
sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan.
Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, Apakah orang sholat mengatakan
sesuatu sebelum dia takbir? Imam Ahmad menjawab, Tidak. (Masaail al Imam Ahmad hal 31
dan Majmuu al Fataawaa XXII/28).

AsSuyuthi berkata, Yang termasuk perbuatan bidah adalah was-was (selalu ragu) sewaktu
berniat sholat. Hal itu tidak pernah diperbuat oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam maupun para
shahabat beliau. Mereka dulu tidak pernah melafadzkan niat sholat sedikitpun selain hanya lafadz
takbir.
Asy Syafii berkata, Was-was dalam niat sholat dan dalam thaharah termasuk kebodohan
terhadap syariat atau membingungkan akal. (Lihat al Amr bi al Itbaa wa al Nahy an al Ibtidaa).
TAKBIRATUL IHROM
Nabi shallallahu alaihi wasallam selalu memulai sholatnya (dilakukan hanya sekali ketika hendak
memulai suatu sholat) dengan takbiratul ihrom yakni mengucapkan Allahu Akbar ( ) di awal sholat
dan beliau pun pernah memerintahkan seperti itu kepada orang yang sholatnya salah. Beliau
bersabda kepada orang itu:
Sesungguhnya sholat seseorang tidak sempurna sebelum dia berwudhu dan melakukan wudhu
sesuai ketentuannya, kemudian ia mengucapkan Allahu Akbar.
(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Thabrani dengan sanad shahih).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Apabila engkau hendak mengerjakan sholat, maka sempurnakanlah wudhumu terlebih dahulu
kemudian menghadaplah ke arah kiblat, lalu ucapkanlah takbiratul ihrom.
(Muttafaqun alaihi).
Takbirotul ihrom diucapkan dengan lisan
Takbirotul ihrom tersebut harus diucapkan dengan lisan (bukan diucapkan di dalam hati).
Muhammad Ibnu Rusyd berkata, Adapun seseorang yang membaca dalam hati, tanpa
menggerakkan lidahnya, maka hal itu tidak disebut dengan membaca. Karena yang disebut
dengan membaca adalah dengan melafadzkannya di mulut.
An Nawawi berkata, adapun selain imam, maka disunnahkan baginya untuk tidak
mengeraskan suara ketika membaca lafadz tabir, baik apakah dia sedang menjadi makmum atau
ketika sholat sendiri. Tidak mengeraskan suara ini jika dia tidak menjumpai rintangan, seperti
suara yang sangat gaduh. Batas minimal suara yang pelan adalah bisa didengar oleh dirinya
sendiri jika pendengarannya normal. Ini berlaku secara umum baik ketika membaca ayat-ayat al
Qur-an, takbir, membaca tasbih ketika ruku, tasyahud, salam dan doa-doa dalam sholat baik yang
hukumnya wajib maupun sunnah beliau melanjutkan, Demikianlah nash yang dikemukakan
Syafii dan disepakati oleh para pengikutnya. Asy Syafii berkata dalam al Umm, Hendaklah
suaranya bisa didengar sendiri dan orang yang berada disampingnya. Tidak patut dia menambah
volume suara lebih dari ukuran itu.. (al Majmuu III/295).
MENGANGKAT KEDUA TANGAN
Disunnahkan mengangkat kedua tangannya setentang bahu ketika bertakbir dengan merapatkan
jari-jemari tangannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radiyallahu
anhuma, ia berkata:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya setentang bahu jika
hendak memulai sholat, setiap kali bertakbir untuk ruku dan setiap kali bangkit dari rukunya.
(Muttafaqun alaihi).

Atau mengangkat kedua tangannya setentang telinga, berdasarkan hadits riwayat Malik bin AlHuwairits radhiyyallahu anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya setentang telinga
setiap kali bertakbir (didalam sholat).
(HR. Muslim).
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Tamam dan Hakim
disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dengan
membuka jari-jarinya lurus ke atas (tidak merenggangkannya dan tidak pula menggengamnya).
(Shifat Sholat Nabi).
BERSEDEKAP
Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya
(bersedekap). Beliau bersabda:
Kami, para nabi diperintahkan untuk segera berbuka dan mengakhirkan sahur serta meletakkan
tangan kanan pada tangan kiri (bersedekap) ketika melakukan sholat.
(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dan Adh Dhiya dengan sanad shahih).
Dalam sebuah riwayat pernah beliau melewati seorang yang sedang sholat, tetapi orang ini
meletakkan tangan kirinya pada tangan kanannya, lalu beliau melepaskannya, kemudian orang itu
meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan
sanad yang shahih).
Meletakkan atau menggenggam
Beliau shallallahu alaihi wasallam meletakkan lengan kanan pada punggung telapak kirinya,
pergelangan dan lengan kirinya berdasar hadits dari Wail bin Hujur:
Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertakbir kemudian meletakkan tangan kanannya di
atas telapak tangan kiri, pergelangan tangan kiri atau lengan kirinya.
(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Nasai, Ibnu Khuzaimah, dengan sanad yang
shahih dan dishahihkan pula oleh Ibnu Hibban, hadits no. 485).
Beliau terkadang juga menggenggam pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanannya,
berdasarkan hadits Nasai dan Daraquthni:
Tetapi beliau terkadang menggenggamkan jari-jari tangan kanannya pada lengan kirinya.
(sanad shahih).
Bersedekap di dada
Menyedekapkan tangan di dada adalah perbuatan yang benar menurut sunnah berdasarkan
hadits:
Beliau meletakkan kedua tangannya di atas dadanya.
(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Ahmad dari Wail bin Hujur).
Cara-cara yang sesuai sunnah ini dilakukan oleh Imam Ishaq bin Rahawaih. Imam Mawarzi dalam
Kitab Masail, halaman 222 berkata: Imam Ishaq meriwayatkan hadits secara mutawatir kepada
kami. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika berdoa qunut dan melakukan qunut sebeluim

ruku. Beliau menyedekapkan tangannya berdekatan dengan teteknya. Pendapat yang semacam
ini juga dikemukakan oleh Qadhi Iyadh al Maliki dalam bab Mustahabatu ash Sholat pada Kitab Al
Ilam, beliau berkata: Dia meletakkan tangan kanan pada punggung tangan kiri di dada.
MEMANDANG TEMPAT SUJUD
Pada saat mengerjakan sholat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menundukkan kepalanya
dan mengarahkan pandangannya ke tempat sujud. Hal ini didasarkan pada hadits yang
diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengalihkan pandangannya dari tempat sujud (di
dalam sholat).
(HR. Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
Larangan menengadah ke langit
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang keras menengadah ke langit (ketika sholat). Dari
Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Hendaklah sekelompok orang benar-benar menghentikan pandangan matanya yang terangkat ke
langit ketika berdoa dalam sholat atau hendaklah mereka benar-benar menjaga pandangan mata
mereka.
(HR. Muslim, Nasai dan Ahmad).
Rasulullah juga melarang seseorang menoleh ke kanan atau ke kiri ketika sholat, beliau bersabda:
Jika kalian sholat, janganlah menoleh ke kanan atau ke kiri karena Allah akan senantiasa
menghadapkan wajah-Nya kepada hamba yang sedang sholat selama ia tidak menoleh ke kanan
atau ke kiri.
(HR. Tirmidzi dan Hakim).
Dalam Zaadul Maaad ( I/248 ) disebutkan bahwa makruh hukumnya orang yang sedang sholat
menolehkan kepalanya tanpa ada keperluan. Ibnu Abdil Bar berkata, Jumhur ulama mengatakan
bawa menoleh yang ringan tidak menyebabkan shalat menjadi rusak.
Juga dimakruhkan shalat dihadapan sesuatu yang bisa merusak konsentrasi atau di tempat yang
ada gambar-gambarnya, diatas sajadah yang ada lukisan atau ukiran, dihadapan dinding yang
bergambar dan sebagainya.
MEMBACA DOA ISTIFTAH
Doa istiftah yang dibaca oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam bermacam-macam. Dalam doa
istiftah tersebut beliau shallallahu alaihi wasallam mengucapkan pujian, sanjungan dan kalimat
keagungan untuk Allah.Beliau pernah memerintahkan hal ini kepada orang yang salah melakukan
sholatnya dengan sabdanya:
Tidak sempurna sholat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian, mengucapkan
kalimat keagungan (doa istiftah), dan membaca ayat-ayat al Qur-an yang dihafalnya (HR. Abu
Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi).
Adapun bacaan doa istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam diantaranya
adalah:

ALLAHUUMMA BAID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAAADTA BAINAL


MASYRIQI WAL MAGHRIBI, ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KAMAA
YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAAHUMMAGHSILNII BIL MAAI WATS
TSALJI WAL BARADI
artinya:
Ya, Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan
antara timur dan barat. Ya, Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju
putih dibersihkan dari kotoran. Ya, Allah cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju
dan embun. (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).
Atau kadang-kadang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga membaca dalam sholat fardhu:
WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAN [MUSLIMAN]
WA MAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. INNA SHOLATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII
LILLAHI RABBIL ALAMIIN. LAA SYARIIKALAHU WABIDZALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL
MUSLIMIIN. ALLAHUMMA ANTAL MALIKU, LAA ILAAHA ILLA ANTA [SUBHAANAKA WA
BIHAMDIKA] ANTA RABBII WA ANA ABDUKA, DHALAMTU NAFSII, WATARAFTU BIDZAMBI,
FAGHFIRLII DZAMBI JAMIIAN, INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA. WAHDINII
LI AHSANIL AKHLAAQI LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA, WASHRIF ANNII SAYYI-AHAA
LAA YASHRIFU ANNII SAYYI-AHAA ILLA ANTA LABBAIKA WA SADAIKA, WAL KHAIRU
KULLUHU FII YADAIKA. WASY SYARRULAISA ILAIKA. [WAL MAHDIYYU MAN HADAITA]. ANA
BIKA WA ILAIKA [LAA MANJAA WALAA MALJA-A MINKA ILLA ILAIKA. TABAARAKTA WA
TA'AALAITA ASTAGHFIRUKA WAATUUBU ILAIKA
yang artinya:
Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta seluruh langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dan
aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku sematamata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sesuatu pun yang menyekutui-Nya. Demikianlah aku
diperintah dan aku termasuk orang yang pertama-tama menjadi muslim. Ya Allah, Engkaulah
Penguasa, tiada Ilah selain Engkau semata-mata. [Engkau Mahasuci dan Mahaterpuji], Engkaulah
Rabbku dan aku hamba-Mu, aku telah menganiaya diriku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka
ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang berhak mengampuni semua
dosa. Berilah aku petunjuk kepada akhlaq yang paling baik, karena hanya Engkaulah yang dapat
memberi petunjuk kepada akhlaq yang terbaik dan jauhkanlah diriku dari akhlaq buruk. Aku jawab
seruan-Mu, sedang segala keburukan tidak datang dari-Mu. [Orang yang terpimpin adalah orang
yang Engkau beri petunjuk]. Aku berada dalam kekuasaan-Mu dan akan kembali kepada-Mu,
[tiada tempat memohon keselamatan dan perlindungan dari siksa-Mu kecuali hanya Engkau
semata]. Engkau Mahamulia dan Mahatinggi, aku mohon ampun kepada-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.
(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah)
MEMBACA TAAWWUDZ
Membaca doa taawwudz adalah disunnahkan dalam setiap rakaat, sebagaimana firman Allah
taala:
Apabila kamu membaca al Qur-an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari
syaitan yang terkutuk. (An Nahl : 98).
Dan pendapat ini adalah yang paling shahih dalam madzhab Syafii dan diperkuat oleh Ibnu Hazm
(Lihat al Majmuu III/323 dan Tamaam al Minnah 172-177).
Nabi biasa membaca taawwudz yang berbunyi:

AUUDZUBILLAHI MINASY SYAITHAANIR RAJIIM MIN HAMAZIHI WA NAFKHIHI WANAFTSIHI


artinya:
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari semburannya (yang menyebabkn
gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan
akhlaq).(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Daraquthni, Hakim dan
dishahkan olehnya serta oleh Ibnu Hibban dan Dzahabi).
Atau mengucapkan:
AUUZUBILLAHIS SAMIIIL ALIIM MINASY SYAITHAANIR RAJIIM
artinya:
Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang
terkutuk
(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad hasan).
MEMBACA AL FATIHAH
Hukum Membaca Al-Fatihah
Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun sholat, jadi kalau dalam
sholat tidak membaca Al-Fatihah maka tidak sah sholatnya berdasarkan perkataan Nabi
shallallahu alaihi wa sallam (yang artinya):
Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah
(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jamaah: yakni Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, AtTirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).
Barangsiapa yang sholat tanpa membaca Al-Fatihah maka sholatnya buntung, sholatnya
buntung, sholatnya buntungtidak sempurna
(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim dan Abu Awwanah).
Kapan Kita Wajib Membaca Surat Al-Fatihah
Jelas bagi kita kalau sedang sholat sendirian (munfarid) maka wajib untuk membaca Al-Fatihah,
begitu pun pada sholat jamaah ketika imam membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan)
yakni pada sholat Dhuhur, Ashr, satu rokaat terakhir sholat Mahgrib dan dua rokaat terakhir
sholat Isyak, maka para makmum wajib membaca surat Al-Fatihah tersebut secara sendiri-sendiri
secara sirr (tidak dikeraskan).
Lantas bagaimana kalau imam membaca secara keras?
Tentang ini Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa pernah Rasulullah melarang makmum membaca
surat dibelakang imam kecuali surat Al-Fatihah:
Betulkah kalian tadi membaca (surat) dibelakang imam kalian? Kami menjawab: Ya, tapi
dengan cepat wahai Rasulallah. Berkata Rasul: Kalian tidak boleh melakukannya
MEMBACA AMIN
Hukum Bagi Imam:

Membaca amin disunnahkan bagi imam sholat.


Dari Abu hurairah, dia berkata: Dulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, jika selesai
membaca surat Ummul Kitab (Al-Fatihah) mengeraskan suaranya dan membaca amin.
(Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni dan Ibnu Majah,
oleh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Shahihah dikatakan sebagai hadits yang berkualitas shahih)
Bila Nabi selesai membaca Al-Fatihah (dalam sholat), beliau mengucapkan amiin dengan suara
keras dan panjang.
(Hadits shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud)
Hadits tersebut mensyariatkan para imam untuk mengeraskan bacaan amin, demikian yang
menjadi pendapat Al-Imam Al-Bukhari, As-Syafii, Ahmad, Ishaq dan para imam fikih lainnya.
Dalam shahihnya Al-Bukhari membuat suatu bab dengan judul baab jahr al-imaan bi al-ta-miin
(artinya: bab tentang imam mengeraskan suara ketika membaca amin). Didalamnya dinukil
perkataan (atsar) bahwa Ibnu Al-Zubair membaca amin bersama para makmum sampai seakanakan ada gaung dalam masjidnya.
Juga perkataan Nafi (maula Ibnu Umar): Dulu Ibnu Umar selalu membaca aamiin dengan suara
yang keras. Bahkan dia menganjurkan hal itu kepada semua orang. Aku pernah mendengar
sebuah kabar tentang anjuran dia akan hal itu.
Hukum Bagi Makmum:
Dalam hal ini ada beberapa petunjuk dari Nabi (Hadits), atsar para shahabat dan perkataan para
ulama.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: Jika imam membaca amiin maka hendaklah
kalian juga membaca amiin.
Hal ini mengisyaratkan bahwa membaca amiin itu hukumnya wajib bagi makmum. Pendapat ini
dipertegas oleh Asy-Syaukani. Namun hukum wajib itu tidak mutlak harus dilakukan oleh
makmum. Mereka baru diwajibkan membaca amiin ketika imam juga membacanya. Adapun bagi
imam dan orang yang sholat sendiri, maka hukumnya hanya sunnah. (lihat Nailul Authaar, II/262).
Bila imam selesai membaca ghoiril maghdhuubi alaihim waladhdhooolliin, ucapkanlah amiin
[karena malaikat juga mengucapkan amiin dan imam pun mengucapkan amiin]. Dalam riwayat
lain: (apabila imam mengucapkan amiin, hendaklah kalian mengucapkan amiin) barangsiapa
ucapan aminnya bersamaan dengan malaikat, (dalam riwayat lain disebutkan: bila seseorang
diantara kamu mengucapkan amin dalam sholat bersamaan dengan malaikat dilangit
mengucapkannya), dosa-dosanya masa lalu diampuni.
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa-i dan Ad-Darimi)
Syaikh Al-Albani mengomentari masalah ini sebagai berikut:
Aku berkata: Masalah ini harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan dengan
cara meninggalkannya. Termasuk kesempurnaan dalam mengerjakan masalah ini adalah dengan
membarengi bacaan amin sang imam, dan tidak mendahuluinya. (Tamaamul Minnah hal. 178)
BACAAN SURAT SETELAH AL FATIHAH
Membaca surat Al Qur-an setelah membaca Al Fatihah dalan sholat hukumnya sunnah karena
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membolehkan tidak membacanya. Membaca surat Al-Quran ini dilakukan pada dua rokaat pertama. Banyak hadits yang menceritakan perbuatan Nabi

shallallahu alaihi wasallam tentang itu.


Panjang pendeknya surat yang dibaca
Pada sholat munfarid Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membaca surat-surat yang panjang
kecuali dalam kondisi sakit atau sibuk, sedangkan kalau sebagai imam disesuaikan dengan
kondisi makmumnya (misalnya ada bayi yang menangis maka bacaan diperpendek).Rasulullah
berkata:
Aku melakukan sholat dan aku ingin memperpanjang bacaannya akan tetapi, tiba-tiba aku
mendengar suara tangis bayi sehingga aku memperpendek sholatku karena aku tahu betapa
gelisah ibunya karena tangis bayi itu.
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim)
Cara membaca surat
Dalam satu sholat terkadang beliau membagi satu surat dalam dua rokaat, kadang pula surat
yang sama dibaca pada rokaat pertama dan kedua. (berdasar hadits yang dikeluarkan oleh AlImam Ahmad dan Abu Yala, juga hadits shahih yang dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud dan
Al-Baihaqi atau riwayat dari Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, disahkan oleh Al-Hakim
disetujui oleh Ad-Dzahabi)
Terkadang beliau membolehkan membaca dua surat atau lebih dalam satu rokaat.(Berdasar
hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, dinyatakan oleh At-Tirmidzi
sebagai hadits shahih)
Tata cara bacaan Nabi shallallahu alaihi wa sallam
Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasanya membaca surat dengan jumlah ayat yang berimbang
antara rokaat pertama dengan rokaat kedua. (berdasar hadits shahih dikeluarkan oleh Al-Bukhari
dan Muslim)
Dalam sholat yang bacaannya di-jahr-kan Nabi membaca dengan keras dan jelas. Tetapi pada
sholat dzuhur dan ashar juga pada sholat maghrib pada rokaat ketiga ataupun dua rokaat
terakhir sholat isya Nabi membacanya dengan lirih yang hanya bisa diketahui kalau Nabi sedang
membaca dari gerakan jenggotnya, tetapi terkadang beliau memperdengarkan bacaannya kepada
mereka tapi tidak sekeras seperti ketika di-jahr-kan. (Berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh AlImam Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering membaca suatu surat dari awal sampai selesai
selesai. Beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata:
Berikanlah setiap surat haknya, yaitu dalam setiap (rokaat) ruku dan sujud.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ibnu Abi Syaibah, Ahmad dan Abdul Ghani Al-Maqdisi)
Dalam riwayat lain disebutkan:
Untuk setiap satu surat (dibaca) dalam satu rokaat.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ibnu Nashr dan At-Thohawi)
Dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani: Seyogyanya kalian membaca satu surat utuh dalam setiap satu
rokaat sehingga rokaat tersebut memperoleh haknya dengan sempurna. Perintah dalam hadits
tersebut bersifat sunnah bukan wajib.
Dalam membaca surat Al-Qur-an Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukannya dengan

tartil, tidak lambat juga tidak cepat -sebagaimana diperintahkan oleh Allah- dan beliau membaca
satu per satu kalimat, sehingga satu surat memerlukan waktu yang lebih panjang dibanding kalau
dibaca biasa (tanpa dilagukan). Rasulullah berkata bahwa orang yang membaca Al-Qur-an kelak
akan diseru:
Bacalah, telitilah dan tartilkan sebagaimana kamu dulu mentartilkan di dunia, karena
kedudukanmu berada di akhir ayat yang engkau baca.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh At-Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membaca surat Al-Qur-an dengan suara yang bagus,
maka beliau juga memerintahkan yang demikian itu:
Perindahlah/hiasilah Al-Qur-an dengan suara kalian [karena suara yang bagus menambah
keindahan Al-Qur-an].
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari , Abu Dawud, Ad-Darimi, Al-Hakim dan Tamam ArRazi)
Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur-an.
(Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh
Adz-Dzahabi)
RUKU
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah selesai membaca surat dari Al-Qur-an kemudian
berhenti sejenak, terus mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir seperti ketika takbiratul
ihrom (setentang bahu atau daun telinga) kemudian rukuk (merundukkan badan kedepan
dipatahkan pada pinggang, dengan punggung dan kepala lurus sejajar lantai). Berdasarkan
beberapa hadits, salah satunya adalah:
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila
berdiri dalam sholat mengangkat kedua tangannya sampai setentang kedua bahunya, hal itu
dilakukan ketika bertakbir hendak rukuk dan ketika mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku
.(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari, Muslim dan Malik)
Cara Ruku
> Bila Rasulullah ruku maka beliau meletakkan telapak tangannya pada lututnya, demikian beliau
juga memerintahkan kepada para shahabatnya.
Bahwasanya shallallahu alaihi wa sallam (ketika ruku) meletakkan kedua tangannya pada kedua
lututnya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud)
> Menekankan tangannya pada lututnya.
Jika kamu ruku maka letakkan kedua tanganmu pada kedua lututmu dan bentangkanlah
(luruskan) punggungmu serta tekankan tangan untuk ruku.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan Abu Dawud)
> Merenggangkan jari-jemarinya.
Beliau merenggangkan jari-jarinya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Hakim dan dia menshahihkannya, Adz-Dzahabi dan AtThayalisi menyetujuinya)

10

> Merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya.


Beliau bila ruku, meluruskan dan membentangkan punggungnya sehingga bila air dituangkan di
atas punggung beliau, air tersebut tidak akan bergerak.
(Hadits di keluarkan oleh Al Imam Thabrani, Abdullah bin Ahmad dan ibnu Majah)
> Antara kepala dan punggung lurus, kepala tidak mendongak tidak pula menunduk tetapi tengahtengah antara kedua keadaan tersebut.
Beliau tidak mendongakkan kepalanya dan tidak pula menundukkannya.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Bukhari)
Sholat seseorang sempurna sebelum dia melakukan ruku dan sujud dengan meluruskan
punggungnya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Awwanah, Abu Dawud dan Sahmi dishahihkan oleh AdDaraquthni)
> Thuma-ninah/Bersikap Tenang
Beliau pernah melihat orang yang ruku dengan tidak sempurna dan sujud seperti burung
mematuk, lalu berkata: Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti itu, ia mati diluar agama
Muhammad [sholatnya seperti gagak mematuk makanan] sebagaimana orang ruku tidak
sempurna dan sujudnya cepat seperti burung lapar yang memakan satu, dua biji kurma yang tidak
mengenyangkan.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Yala, Al-Ajiri, Al-Baihaqi, Adh-Dhiya dan Ibnu Asakir
dengan sanad shahih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)
> Memperlama Ruku
Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadikan ruku, berdiri setelah ruku dan sujudnya juga duduk
antara dua sujud hampir sama lamanya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)
Yang Dibaca Ketika Ruku
Doa yang dibaca oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam ada beberapa macam, semuanya pernah
dibaca oleh beliau jadi kadang membaca ini kadang yang lain.
1. SUBHAANA RABBIYAL ADHZIM 3 kali atau lebih (Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al
Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).
Yang artinya:
Maha Suci Rabbku, lagi Maha Agung.
2. SUBHAANA RABBIYAL ADHZIMI WA BIHAMDIH 3 kali (Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh
Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Ad-Daroquthni dan Al-Baihaqi).
Yang artinya:
Maha Suci Rabbku lagi Maha Agung dan segenap pujian bagi-Nya.
3. SUBBUUHUN QUDDUUSUN RABBUL MALA-IKATI WAR RUUH (Berdasar hadits yang
dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu Awwanah).

11

Yang artinya:
Maha Suci, Maha Suci Rabb para malaikat dan ruh.
4. SUBHAANAKALLAHUMMA WA BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII
Yang artinya:
Maha Suci Engkau ya, Allah, dan dengan memuji-Mu Ya, Allah ampunilah aku.
Berdasarkan hadits dari A-isyah, bahwasanya dia berkata:
Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memperbanyak membaca Subhanakallahumma Wa
Bihamdika Allahummaghfirlii dalam rukunya dan sujudnya, beliau mentakwilkan Al-Qur-an.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim).
Doa ini yang paling sering dibaca. Dikatakan bahwa ada riwayat dari A-isyah yang menunjukkan
bahwa Rasulullah sejak turunnya surat An-Nashr -yang artinya: Hendaklah engkau mengucapkan
tasbih dengan memuji Rabbmu dan memohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha
Penerima taubat. (TQS. An-Nashr 110:3)-, waktu ruku dan sujud beliau shallallahu alaihi wa
sallam selalu membaca doa ini hingga wafatnya.
5. Dan lain-lain sesuai dengan hadits-hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Yang Dilarang Ketika Ruku
Larangan disini adalah larangan dari Rasulullah bahwa sewaktu ruku kita tidak boleh membaca
Al-Qur-an. Berdasarkan hadits:
Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang membaca Al-Qur-an dalam ruku dan
sujud.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu Awwanah)
Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur-an sewaktu ruku dan sujud
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu Awwanah).
ITIDAL DARI RUKU
Cara itidal dari ruku
Setelah ruku dengan sempurna dan selesai membaca doa, maka kemudian bangkit dari ruku
(itidal). Waktu bangkit tersebut membaca (SAMIALLAAHU LIMAN HAMIDAH) disertai dengan
mengangkat kedua tangan sebagaimana waktu takbiratul ihrom. Hal ini berdasarkan keterangan
beberapa hadits, diantaranya:
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila
berdiri dalam sholat mengangkat kedua tangannya sampai setentag kedua pundaknya, hal itu
dilakukan ketika bertakbir mau rukuk dan ketika mengangkat kepalanya (bangkit ) dari ruku
sambil mengucapkan SAMIALLAAHU LIMAN HAMIDAH
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Malik).
Yang Dibaca Ketika Itidal dari Ruku
Seperti ditunjuk hadits di atas ketika bangkit (mengangkat kepala) dari ruku itu membaca:
(SAMIALLAHU LIMAN HAMIDAH)
Kemudian ketika sudah tegak dan selesai bacaan tersebut disahut dengan bacaan:

12

RABBANAA LAKAL HAMD (Rabbku, segala puji kepada-Mu)


atau
RABBANAA WA LAKAL HAMD (Rabbku dan segala puji kepada-Mu)
atau
ALLAAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMD (Ya, Allah, Rabbku, segala puji kepada-Mu)
atau
ALLAAHUMMA RABBANAA WA LAKAL HAMD (Ya, Allah, Rabbku dan segala puji kepada-Mu)
Dalilnya adalah hadits dari Abu Hurairah:
Apabila imam mengucapkan SAMIALLAHU LIMAN HAMIDAH, maka ucapkanlah oleh kalian
ALLAHUMMA RABBANA WA LAKALHAMD, barangsiapa yang ucapannya tadi bertepatan dengan
ucapan para malaikat diampunkan dosa-dosanya yang telah lewat.
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Ztirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan
Malik)
Kadang ditambah dengan bacaan:
MIL-ASSAMAAWAATI, WA MIL-ALARDHL, WA MIL-A MAA SYI-TA MIN SYAI-IN BAD
(Mencakup seluruh langit dan seluruh bumi dan segenap yang Engkau kehendaki selain dari itu)
berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah.
Dan Doa lain-lain
Cara Itidal
Adapun dalam tata cara itidal ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat, pertama
mengatakan sedekap dan yang kedua mengatakan tidak bersedekap tapi melepaskannya. Tapi
yang rajih menurut kami adalah pendapat pertama. Bagi yang hendak mengerjakan pendapat
yang pertama tidak apa-apa dan bagi siapa yang mengerjakan sesuai dengan pendapat kedua
tidak mengapa.
Keterangan untuk pendapat pertama: Kembali meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri atau
menggenggamnya dan menaruhnya di dada, ketika telah berdiri.
Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam An-Nasa-i yang artinya: Ia (Wa-il bin Hujr) berkata: Saya
melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila beliau berdiri dalam sholat, beliau
memgang tangan kirinya dengan tangan kanannya.
Berkata Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin
Maslamah, ia berkata dari Malik, ia berkata dari Abu Hazm, ia berkata dari Sahl bin Sad ia
berkata: Adalah orang-orang (para shahabat) diperintah (oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam )
agar seseorang meletakkan tangan kanannya atas lengan kirinya dalam sholat. Komentar Abu
Hazm: Saya tidak mengetahui perintah tersebut kecuali disandarkan kepada Nabi shallallahu
alaihi wa sallam .
Komentar dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz (termaktub dalam fatwanya yang dimuat

13

dalam majalah Rabithah Alam Islamy, edisi Dzulhijjah 1393 H/Januari 1974 M, tahun XI): Dari
hadits shahih ini ada petunjuk diisyaratkan meletakkan tangan kanan atas tangan kiri ketika
seorang Mushalli (orang yang sholat) tengah berdiri baik sebelum ruku maupun sesudahnya.
Karena Sahl menginformasikan bahwa para shahabat diperintahkan untuk meletakkan tangan
kanannya atas lengan kirinya dalam sholat. Dan sudah dimengerti bahwa Sunnah (Nabi)
menjelaskan orang sholat dalam ruku meletakkan kedua telapak tangangnya pada kedua
lututnya, dan dalam sujud ia meletakkan kedua telapak tangannya pada bumi (tempat sujud)
sejajar dengan keddua bahunya atau telinganya, dan dalam keadaan duduk antara dua sujud
begitu pun dalam tasyahud ia meletakkannya di atas kedua pahanya dan lututnya dengan dalil
masing-masing secara rinci. Dalam rincian Sunnah tersebut tidak tersisa kecuali dalam keadaan
berdiri. Dengan demikian dapatlah dimengerti bahwasanya maksud dari hadits Sahl diatas adalah
disyariatkan bagi Mushalli ketika berdiri dalam sholat agar meletakkan tangan kanannya atas
lengan kirinya. Sama saja baik berdiri sebelum ruku maupun sesudahnya. Karena tidak ada
riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam membedakan antara keduanya, oleh karena itu
barangsiapa membedakan keduanya haruslah menunjukkan dalilnya.
Disamping itu ada pula ketetapan dari hadits Wa-il bin Hujr pada riwayat An-Nasa-i dengan sanad
yang shahih: Bahwasanya apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri dalam sholat
beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya.
Wallaahu alamu bishshawab.
Thuma-ninah dan Memperlama Dalam Itidal
Kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri dengan tegak [sehingga tiap-tiap ruas
tulang belakangmu kembali pata tempatnya]. (dalam riwayat lain disebutkan: Jika kamu berdiri
itidal, luruskanlah punggungmu dan tegakkanlah kepalamu sampai ruas tulang punggungmu
mapan ke tempatnya).
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, dan riwayat lain oleh Ad-Darimi, AlHakim, As-Syafii dan Ahmad)
Beliau shallallahu alaihi wa sallam berdiri terkadang dikomentari oleh shahabat: Dia telah lupa
[karena saking lamanya berdiri].
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
SUJUD
Sujud dilakukan setelah itidal thuma-ninah dan jawab tasmi (Rabbana Lakal Hamddst).
Caranya
Dengan tanpa atau kadang-kadang dengan mengangkat kedua tangan (setentang pundak atau
daun telinga) seraya bertakbir, badan turun condong kedepan menuju ke tempat sujud, dengan
meletakkan kedua lutut terlebih dahulu baru kemudian meletakkan kedua tangan pada tempat
kepala diletakkan dan kemudian meletakkan kepala kepala dengan menyentuhkan/menekankan
hidung dan jidat/kening/dahi ke lantai (tangan sejajar dengan pundak atau daun telinga).
Dari Wail bin Hujr, berkat, Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika hendak
sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan apabila bangkit mengangkat dua
tangan sebelum kedua lututnya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud, Tirmidzi An-Nasai, Ibnu Majah dan Ad-Daarimy)
Terkadang beliau mengangkat kedua tangannya ketika hendak sujud.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam An-Nasai dan Daraquthni)

14

Terkadang Nabi shallallahu alaihi wa sallam meletakkan tangannya [dan membentangkan] serta
merapatkan jari-jarinya dan menghadapkannya ke arah kiblat.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud, Al-Hakim, Al-Baihaqi)
Beliau meletakkan tangannya sejajar dengan bahunya
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Tirmidzi)
Terkadang beliau meletakkan tangannya sejajar dengan daun telinganya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam An-Nasai)
Cara Sujud
> Bersujud pada 7 anggota badan, yakni jidat/kening/dahi dan hidung (1), dua telapak tangan (3),
dua lutut (5) dan dua ujung kaki (7). Hal ini berdasar hadits:
Dari Ibnu Abbas berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata: Aku diperintah untuk
bersujud (dalam riwayat lain; Kami diperintah untuk bersujud) dengan tujuh (7) anggota badan;
yakni kening sekaligus hidung, dua tangan (dalam lafadhz lain; dua telapak tangan), dua lutut, jarijari kedua kaki dan kami tidak boleh menyibak lengan baju dan rambut kepala.
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Jamaah)
> Dilakukan dengan menekan
Apabila kamu sujud, sujudlah dengan menekan.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menekankan kedua lututnya dan bagian depan telapak
kaki ke tanah.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Baihaqi)
> Kedua lengan/siku tidak ditempelkan pada lantai, tapi diangkat dan dijauhkan dari sisi
rusuk/lambung.
Dari Abu Humaid As-Sadiy, bahwasanya Nabi shalallau alaihi wasallam bila sujud maka
menekankan hidung dan dahinya di tanah serta menjauhkan kedua tangannya dari dua sisi
perutnya, tangannya ditaruh sebanding dua bahu beliau.
(Diriwayatkan oleh Al Imam At-Tirmidzi)
Dari Anas bin Malik, dari Nabi shalallau alaihi wasallam bersabda:
Luruskanlah kalian dalam sujud dan jangan kamu menghamparkan kedua lengannya seperti
anjing menghamparkan kakinya.
(Diriwayatkan oleh Al-Jamaah kecuali Al Imam An-Nasa-i, lafadhz ini bagi Al Imam Al-Bukhari)
Beliau mengangkat kedua lengannya dari lantai dan menjauhkannya dari lambungnya sehingga
warna putih ketiaknya terlihat dari belakang
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)
> Menjauhkan perut/lambung dari kedua paha
Dari Abi Humaid tentang sifat sholat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam berkata: Apabila dia
sujud, beliau merenggangkan antara dua pahanya (dengan) tidak menopang perutnya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)
> Merapatkan jari-jemari

15

Dari Wa-il, bahwasanya Nabi shalallau alaihi wasallam jika sujud maka merapatkan jarijemarinya.
(Diriwayatkan oleh Al Imam Al-Hakim)
> Menegakkan telapak kaki dan saling merapatkan/menempelkan antara dua tumit
Berkata A-isyah isteri Nabi shalallau alaihi wasallam: Aku kehilangan Rasulullah shalallau alaihi
wasallam padahal beliau tadi tidur bersamaku, kemudian aku dapati beliau tengah sujud dengan
merapatkan kedua tumitnya (dan) menghadapkan ujung-ujung jarinya ke kiblat, aku dengar
(Diriwayatkan oleh Al Imam Al-Hakim dan Ibnu Huzaimah)
> Thuma-ninah dan sujud dengan lama
Sebagaimana rukun sholat yang lain mesti dikerjakan dengan thuma-ninah. Juga Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam kalau bersujud baiasanya lama.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadikan ruku, berdiri setelah ruku dan sujudnya juga duduk
antara dua sujud hampir sama lamanya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)
Sujud Langsung Pada Tanah atau Boleh Di Atas Alas
Para shahabat sholat berjamaah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada cuaca
yang panas. Bila ada yang tidak sanggup menekankan dahinya di atas tanah maka
membentangkan kainnya kemudian sujud di atasnya
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim)
Bacaan Sujud
Rasulullah membaca
SUBHAANA RABBIYAL ALAA 3 kali
(berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dll)
atau kadang-kadang membaca
SUBHAANA RABBIYAL ALAA WA BIHAMDIH, 3 kali
(berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dll)
atau
SUBHAANAKALLAAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA ALLAAHUMMAGHFIRLII
(berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)
Bacaan Yang Dilarang Selama Sujud
Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur-an sewaktu ruku dan sujud
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu Awwanah).
BANGUN DARI SUJUD PERTAMA
Setelah sujud pertama -dimana dalam setiap rokaat ada dua sujud- maka kemudian bangun
untuk melakukan duduk diantara dua sujud. Dalam bangun dari sujud ini disertai dengan takbir

16

dan kadang mengangkat tangan (Berdasar hadits dari Ahmad dan Al-Hakim).
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bangkit dari sujudnya seraya bertakbir
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
DUDUK ANTARA DUA SUJUD
Duduk ini dilakukan antara sujud yang pertama dan sujud yang kedua, pada rokaat pertama
sampai terakhir. Ada dua macam tipe duduk antara dua sujud, duduk iftirasy (duduk dengan
meletakkan pantat pada telapak kaki kiri dan kaki kanan ditegakkan) dan duduk iqak (duduk
dengan menegakkan kedua telapak kaki dan duduk diatas tumit). Hal ini berdasar hadits:
Dari A-isyah berkata: Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghamparkan kaki beliau yang
kiri dan menegakkan kaki yang kanan, baliau melarang dari duduknya syaithan.
(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim)
*Komentar Syaikh Al-Albani: duduknya syaithan adalah dua telapak kaki ditegakkan kemudian
duduk dilantai antara dua kaki tersebut dengan dua tangan menekan dilantai.
Dari Rifaah bin Rafi -dalam haditsnya- dan berkata Rasul shallallahu alaihi wa sallam : Apabila
engkau sujud maka tekankanlah dalam sujudmu lalu kalau bangun duduklah di atas pahamu yang
kiri.
(Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan lafadhz Abu Dawud)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam terkadang duduk iqak, yakni [duduk dengan menegakkan
telapak dan tumit kedua kakinya].
(Hadits dikeluarkan oleh Muslim)
Waktu duduk antara dua sujud ini telapak kaki kanan ditegakkan dan jarinya diarahkan ke kiblat:
Beliau menegakkan kaki kanannya (Al-Bukhari)
Menghadapkan jari-jemarinya ke kiblat (An-Nasa-i)
Bacaannya
RABBIGHFIRLII, RABBIGHFIRLII
Dari Hudzaifah, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan dalam sujudnya
(dengan doa): Rabighfirlii, Rabbighfirlii.
(Hadits dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan lafadhz Ibnu Majah)
ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WA AAFINII WAHDINII WARZUQNII
(Abu Dawud)
ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARZUQNII WARFANII
(Ibnu Majah)
ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WAHDINII WARZUQNII
(At-Tirmidzi)
Thuma-ninah dan Lama
Lihat tata cara ruku Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sholat.

17

MENUJU ROKAAT BERIKUTNYA


Pada masalah ini ada dua tempat/kondisi, yaitu bangkit menuju rokaat berikut dari posisi sujud
kedua -pada akhir rokaat pertama dan ketiga- dan bangkit dari posisi duduk tasyahhud awal
-pada rokaat kedua.> Bangkit/bangun dari sujud untuk berdiri (dari akhir rokaat pertama dan
ketiga) didahului dengan duduk istirahat atau tanpa duduk istirahat, bangkit berdiri seraya
bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. Ketika bangkit bisa dengan tangan bertumpu pada
lantai atau bisa juga bertumpu pada pahanya.
Tangan bertumpu pada satu pahanya
Dari Wail bin Hujr dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ,berkata (Wa-il); Maka tatkala Nabi
shallallahu alaihi wa sallam bersujud dia meletakkan kedua lututnya ke lantai sebelum
meletakkan kedua tangannya; Berkata (Wa-il): Bila sujud maka ..dan apabila bangkit dia bangkit
atas kedua lututnya dengan bertumpu pada satu paha.
(Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud)
Tangan bertumpu pada lantai (tempat sujud)
Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertumpu pada lantai ketika bangkit ke rokaat kedua.
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari)
Diselai duduk istirahat
Dari Malik bin Huwairits bahwasanya di malihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam sholat, maka bila
pada rokaat yang ganjil tidaklah beliau bangkit sampai duduk terlebih dulu dengan lurus.
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Bangkit dari duduk tasyahhud awwal (dari rokaat kedua) dengan mengangkat kedua tangan
seraya bertakbir seperti pada takbiratul ihram.
Mengangkat tangan ketika takbir
Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika bangkit dari duduknya mengucapkan takbir, kemudian
berdiri
(Hadits dikeluarkan oleh Abu Yala)
DUDUK TASYAHHUD AWWAL DAN TASYAHHUD AKHIR
Tasyahhud awwal dan duduknya merupakan kewajiban dalam sholat
Tempat dilakukannya
Duduk tasyahhud awwal terdapat hanya pada sholat yang jumlah rokaatnya lebih dari dua (2),
pada sholat wajib dilakukan pada rokaat yang ke-2. Sedang duduk tasyahhud akhir dilakukan
pada rokaat yang terakhir. Masing-masing dilakukan setelah sujud yang kedua.
Cara duduk tasyahhud awwal dan tasyahhud akhir
Waktu tasyahhud awwal duduknya iftirasy (duduk diatas telapak kaki kiri)
sedang pada tasyahhud akhir duduknya tawaruk (duduk dengan kaki kiri dihamparkan kesamping
kanan dan duduk diatas lantai), pada masing-masing posisi kaki kanan ditegakkan.

18

Dari Abi Humaid As-Saidiy tentang sifat sholat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkat,
Maka apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam duduk dalam dua rokaat (-tasyahhud
awwal) beliau duduk diatas kaki kirinya dan bila duduk dalam rokaat yang akhir (-tasyahhud akhir)
beliau majukan kaki kirinya dan duduk di tempat kedudukannya (lantai dll).
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)
Letak tangan ketika duduk
Untuk kedua cara duduk tersebut tangan kanan ditaruh di paha kanan sambil berisyarat dan/atau
menggerak-gerakkan jari telunjuk dan penglihatan ditujukan kepadanya, sedang tangan kirinya
ditaruh/terhampar di paha kiri.
Dari Ibnu Umar berkata Rasulullahi shallallahu alaihi wa sallam bila duduk didalam shalat
meletakkan dua tangannya pada dua lututnya dan mengangkat telunjuk yang kanan lalu berdoa
dengannya sedang tangannya yang kiri diatas lututnya yang kiri, beliau hamparkan padanya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Nasa-i).
Berisyarat dengan telunjuk, bisa digerakkan bisa tidak
Selama melakukan duduk tasyahhud awwal maupun tasyahhud akhir, berisyarat dengan telunjuk
kanan, disunnahkan menggerak-gerakkannya. Kadang pada suatu sholat digerakkan pada sholat
lain boleh juga tidak digerak-gerakkan.
Kemudian beliau duduk, maka beliau hamparkan kakinya yang kiri dan menaruh tangannya yang
kiri atas pahanya dan lututnya yang kiri dan ujung sikunya diatas paha kanannya, kemudian beliau
menggenggam jari-jarinya dan membuat satu lingkaran kemudian mengangkat jari beliau maka
aku lihat beliau menggerak-gerakkannya berdoa dengannya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa-i).
Dari Abdullah Bin Zubair bahwasanya ia menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam
berisyarat dengan jarinya ketika berdoa dan tidak menggerakannya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud).
Membaca doa At-Tahiyyaat dan As-Sholawaat
Doa tahiyyat ini ada beberapa versi, untuk hendaklah dipilih yang kuat dan lafadhznya belum
ditambah-tambah. Salah satu contoh riwayat yang baik adalah sebagai berikut:
Berkata Abdullah : Kami apabila shalat di belakang nabi shallallahu alaihi wa sallam keselamatan
atas jibril dan mikail keselamatan atas si fulan dan si fulan maka rasulullah berpaling kepada kami.
Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata : sesungguhnya Allah itu As-salam maka apabila
shalat hendaklah kalian itu mengucapkan:
AT-TAHIYYAATU LILLAHI WAS SHOLAWATU WAT THAYYIBAAT, AS-SALAMUALAIKA
AYYUHAN NABIY WA RAHMATULLAHI WA BARAKATUHU, AS-SALAAMU ALAINA WA ALAA
IBAADILLAHIS SHALIHIN. ASYHADU ALLAA ILAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA
MUHAMMADAN ABDUHU WA RASULUHU
artinya: segala kehormaatan, shalawat dann kebaikan kepunyaan Allah, semoga keselamatan
terlimpah atasmu wahai Nabi dan juga rahmat Allah dan barakah-Nya. Kiranya keselamatan tetap
atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih; -karena sesungguhnya apabila kalian
mengucapkan sudah mengenai semua hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi- Aku
bersaksi bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya
Muhammmad itu hamba daan utusan-Nya.

19

(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al Bukhari).


Dari Kaab bin Ujrah berkata : Maukah aku hadiahkan kepadamu sesuatu ? Sesungguhnya Nabi
shallallahu alaihi wa sallam datang kepada kami, maka kami berkata : Ya Rasulullah kami sudah
tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu, lantas bagaimana kami harus bershalawat
kepadamu? Beliau berkata : ucapkanlah:
ALLAAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMAD WA ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA
ALAA AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAAHUMMA BAARIK ALAA MUHAMMAD
WA ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BARAKTA ALAA AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM
MAJIID.
artinya: Ya Allah berikanlah Shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibarahim, sesungguhnya
Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad
sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji
dan Maha Agung.
Berdoa berlindung dari empat (4) hal.
Hal ini dilakukan pada duduk tasyahhud akhir saja.
Agar tidak menyalahi riwayat -hadits Rasul shallallahu alaihi wa sallam- ini maka dalam
tasyahhud awwal bacaannya berhenti sampai membaca sholawat pada Nabi shallallahu alaihi wa
sallam, sedang taawudz (berlindung dari 4 hal) ini dibaca hanya ketika tasyahhud akhir.
Dari Abu Hurairah berkata; berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : Apabila kamu telah
selesai bertasyahhud maka hendaklah berlindung kepada Allah dari empat (4) hal, dia berkata:
ALLAAHUMMA INNII AUUDZUBIKA MIN ADZAABI JAHANNAMA WA MIN ADZAABIL QABRI
WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WA MIN FITNATIL MASIIHID DAJJAAL.
artinya: Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, siksa kubur, fitnahnya hidup
dan mati serta fitnahnya Al-Masiihid Dajjaal.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan lafadhz Muslim)
Berdoa dengan doa/permohonan lainnya
kemudian (supaya) dia memilih doa yang dia kagumi/senangi
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan Al-Bukhari)
SALAM
Salam sebagai tanda berakhirnya gerakan sholat, dilakukan dalam posisi duduk tasyahhud akhir
setelah membaca doa minta perlindungan dari 4 fitnah atau tambahan doa lainnya.
Kunci sholat adalah bersuci, pembukanya takbir dan penutupnya (yaitu sholat) adalah
mengucapkan salam.
(Hadits dikeluarkan dan disahkan oleh Al Imam Al-Hakim dan Adz-Dzahabi)
Caranya
Dengan menolehkan wajah ke kanan seraya mengucapkan doa salam kemudian ke kiri.

20

Dari Amir bin Saad, dari bapaknya berkata: Saya melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam
memberi salam ke sebelah kanan dan sebelah kirinya hingga terlihat putih pipinya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim dan An-Nasa-i serta ibnu Majah)
Dari Alqomah bin Wa-il, dari bapaknya, ia berkata: Aku sholat bersama Nabi shallallahu alaihi wa
sallam maka beliau membaca salam ke sebelah kanan (menoleh ke kanan): As Salamualaikum
Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. Dan kesebelah kiri: As Salamualaikum Wa Rahmatullahi.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)
Macam-macam Bacaan Salam
Kadang-kadang beliau membaca:
As Salamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh As Salamualaikum Wa Rahmatullahi Wa
Barakatuh
atau
As Salamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh As Salamualaikum Wa Rahmatullahi
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)
atau
As Salamualaikum Wa Rahmatullahi As Salamualaikum Wa Rahmatullahi
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim)
atau
As Salamualaikum Wa Rahmatullahi As Salamualaikum
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan An-Nasa-i)
atau
As Salamualaikum dengan sedikit menoleh ke kanan tanpa menoleh ke kiri
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)
Gerak yang dilarang
Sering terlihat orang yang mengucapkan salam ketika menoleh ke-kanan dibarengai dengan
gerakan telapak tangan dibuka kemudian ketika menoleh ke kiri tangan kirinya di buka. Gerakan
tangan ini dilarang oleh shallallahu alaihi wa sallam.
Mengapa kamu menggerakkan tangan kamu seperti gerakan ekor kuda yang lari terbirit-birit
dikejar binatang buas? Bila seseorang diantara kamu mengucapkan salam, hendaklah ia
berpaling kepada temannya dan tidak perlu menggerakkan tangannya. [Ketika mereka sholat lagi
bersama Rasullullah, mereka tidak melakukannya lagi]. (Pada riwayat lain disebutkan: Seseorang
diantara kamu cukup meletakkan tangannya di atas pahanya, kemudian ia mengucapkan salam
dengan berpaling kepada saudaranya yang di sebelah kanan dan saudaranya di sebelah kiri).
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim, Abu Awanah, Ibnu Khuzaimah dan At-Thabrani).
Diantara gerakkan bidah yang dilakukan saat salam adalah gerakkan yang dilakukan oleh orang
syiah dengan menepukkan kedua tangannya di atas paha tiga kali, sebagai pengganti salam
dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal seperti ini dilakukan oleh syiah Iran dan sekitarnya.
Maksud dari gerakan itu adalah melaknat malaikat Jibril karena mereka mengatakan Jibril telah
salah menyampaikan wahyu

21

Bacaan Sholat
By admin

Thursday, December 11, 2008 17:15:18

DOA IFTITAH



Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau
menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahankesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku
dari kesalahan-kesalahanku dengan, es, air dan salju.
DOA IFTITAH



Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan
antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju
putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan, es, air
dan salju.


Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Berkah akan nama-Mu, Maha Tinggi kekayaan
dan kebesaran-Mu, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau.

. .


.











Aku menghadap kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, dengan memegang agama yang lurus
dan aku tidak tergolong orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalat, ibadah dan hidup serta
matiku adalah untuk Allah. Tuhan seru sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan karena itu, aku
diperintah dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan
(yang berhak disembah) kecuali Engkau, engkau Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku
menganiaya diriku, aku mengakui dosaku (yang telah kulakukan). Oleh karena itu, ampunilah
seluruh dosaku, sesungguhnya tidak akan ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau.
Tunjukkan aku pada akhlak yang terbaik, tidak akan menunjukkan kepadanya kecuali Engkau.
Hindarkan aku dari akhlak yang jahat, tidak akan ada yang bisa menjauhkan aku daripadanya,
kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu dengan kegembiraan, seluruh kebaikan di kedua
tangan-Mu, kejelekan tidak dinisbahkan kepada-Mu. Aku hidup dengan pertolongan dan rahmatMu, dan kepada-Mu (aku kembali). Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Aku minta ampun dan
bertaubat kepada-Mu.

.

22

Ya Allah, Tuhan Jibrail, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang
mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) apa
yang mereka (orang-orang Nasrani dan Yahudi) perselisihkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran
apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada
jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki




Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian
yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan
pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. (Diucapkan tiga kali). Aku
berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan dan godaan setan

:


,


, ,

.
,


,
,

Apabila Nabi shalat tahajud di waktu malam, beliau membaca: Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji,
Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi
langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan
bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya.
Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar,
Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar,
(terutusnya) Muhammad adalah benar (dari-Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah,
kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku
kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu
(dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah
lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang
hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah
kecuali Engkau.
DOA RUKU

Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung.(Dibaca tiga kali).

Maha Suci Engkau, ya Allah! Tuhan-ku, dan dengan pujianku pada-Mu. Ya Allah! Ampuni-lah
dosaku.


Engkau, Tuhan Yang Maha Suci (dari kekurangan dan hal yang tidak layak bagi kebesaran-Mu),
Maha Agung, Tuhan para malaikat dan Jibril.


23

Ya Allah, untuk-Mu aku ruku. Kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku pasrah. Pendengaranku,
penglihatanku, otak-ku, tulangku, syarafku dan apa yang berdiri di atas dua tapak kakiku, telah
tunduk dengan khusyuk kepada-Mu.

Maha Suci (Allah) Yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan.
DOA BANGUN DARI RUKU

Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya.

Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik
dan penuh dengan berkah.

. .




(Aku memuji-Mu dengan) pujian sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang di antara
keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan yang layak dipuji dan
diagungkan, Yang paling berhak dikatakan oleh seorang hamba dan kami seluruhnya adalah
hamba-Mu. Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada
pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang
memilikinya (kecuali iman dan amal shalihnya), hanya dari-Mu kekayaan itu.
DOA SUJUD


Maha Suci Tuhanku, Yang Maha Tinggi (dari segala kekurangan dan hal yang tidak layak).
Dibaca tiga kali

Maha Suci Engkau. Ya Allah, Tuhan kami, aku memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah dosaku.



Engkau Tuhan Yang Maha Suci, Maha Agung, Tuhan para malaikat dan Jibril.



Ya Allah, untuk-Mulah aku bersujud, kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mu aku menyerahkan
diri, wajahku bersujud kepada Tuhan Yang menciptakannya, Yang membentuk rupanya, Yang
membelah (memberikan) pendengarannya, penglihatannya, Maha Suci Allah sebaik-baik
Pencipta.
.

24

Maha Suci Tuhan Yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan.


Ya Allah, ampunilah seluruh dosa-ku yang kecil dan besar, yang telah lewat dan yang akan
datang, yang kulakukan dengan terang-terangan dan yang tersembunyi.




Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu (agar selamat) dari
kebencian-Mu, dan dengan keselamatan-Mu (agar terhindar) dari siksaan-Mu. Aku tidak
membatasi pujian kepada-Mu. Engkau (dengan kebesaran dan keagungan-Mu) adalah sebagaimana pujian-Mu kepada diri-Mu.
DOA DUDUK ANTARA DUA SUJUD
.
Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku, wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.

Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku, tunjukilah aku (ke jalan yang benar),
cukupkanlah aku, selamatkan aku (tubuh sehat dan keluarga terhindar dari musibah), berilah aku
rezki (yang halal) dan angkatlah derajatku.
DOA SUJUD TILAWAH



Bersujud wajahku kepada Tuhan yang menciptakannya, yang membelah pendengaran dan
penglihatannya dengan Daya dan Kekuatan-Nya, Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta.


Ya Allah, tulislah untukku dengan sujudku pahala di sisi-Mu dan ampunilah dengannya akan
dosaku, serta jadikanlah simpanan untukku di sisi-Mu dan terimalah sujudku sebagaimana
Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Dawud.
TASYAHUD


.





Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga
kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkah-Nya.
Kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan utusan-Nya.

25

MEMBACA SHALAWAT NABI saw SETELAH TASYAHUD






Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah
memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan
Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau
umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.
.



Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya,sebagaimanaEngkau
telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Berilah berkah kepada Muhammad, istri-istri
dan keturunannya,sebagaimana engkau telah memberkahi kepada keluarga
Ibrahim.Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.
DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM

Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka Jahanam,
fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.
.

Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Aku berlindung kepada-Mu
dari fitnah Almasih Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati. Ya
Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan kerugian.



Ya Allah! Sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosadosa kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku.
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

.

Ya Allah! Ampunilah aku akan (dosaku) yang aku lewatkan dan yang aku akhirkan, apa yang aku
rahasiakan dan yang kutampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau
lebih mengetahui dari pada diriku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada
Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.

Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, mensyukuri-Mu dan ibadah
yang baik kepada-Mu.

Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari
penakut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlindung
kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur.

26


Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung
kepada-Mu dari Neraka.








Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang gaib dan dengan keMaha Kuasaan-Mu atas seluruh
makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih
baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik
bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam
keadaan sembunyi (sepi) atau ramai. Aku mohon kepada-Mu, agar dapat berpegang dengan
kalimat hak di waktu rela atau marah. Aku minta kepada-Mu, agar aku bisa melaksanakan
kesederhanaan dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepada-Mu agar diberi nikmat yang
tidak akan habis dan aku minta kepada-Mu, agar diberi penyejuk mata yang tak terputus. Aku
mohon kepada-Mu agar aku dapat rela setelah qadha-Mu (turun pada kehidupanku). Aku mohon
kepada-Mu, kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepadaMu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang
membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan
jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dari-Mu.


Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, ya Allah! Dengan bersaksi bahwa Engkau
adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Tunggal tidak membutuhkan sesuatu, tapi segala sesuatu
butuh kepada-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada seorang pun yang menyamaiMu, aku mohon kepada-Mu agar mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha
Pengampun dan Maha Penyayang.










Ya Allah! Aku mohon kepada-Mu. Sesungguhnya bagi-Mu segala pujian, tiada Tuhan (yang hak
disembah) kecuali Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat,
Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha
Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya
aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa
Neraka.





Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan
(yang berhak disembah) kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala
sesuatu butuh kepada-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang
menyamai-Nya.

sholat.co.cc

News / Arti Sholat

27

Sholat menurut Medis ALternatif


By admin

Thursday, December 11, 2008 17:26:55

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya


mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat
penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen
IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari
serangan infeksi dan penyakit kanker.
Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat
(maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran.
Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu
bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.
Tidak percaya?
Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan
ikhlas, niscaya and terbebas dari infeksi dan kanker. Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan
'tukang obat' jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul
'Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh
Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi
Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada
Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu. Selama
ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah.
Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat
itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A
dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan
kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).
Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang
muakkadah (Sunahmendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan
gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.
Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun
sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini
dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.
Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah
hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau
setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. Kalau jumlah hormon kortisolnya normal,
bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan.
Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama
yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.
Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sissa SMU
Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang
sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal
19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30

28

sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya,
hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika).
Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda
jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud
memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang
dihadapi dengan stabil. jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan
muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi.
Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang
positif dapat menghindarkan seseorang dari stress, Nah, menurut Sholeh, orang stress itu
biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang
dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki
respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker.
Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu
membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.
Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas
rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk
bisa masuk diakal kita ???????
Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di
dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima
oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin
pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama
Pengobatan Melalui Al Qur'an Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan
yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran.
Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia
tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf
yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah.
Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang
lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa
darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut
bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk eberapa saat tertentu
saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu
yang di wajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak
menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk
berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk
menganut agama Islam sepenuhnya karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh
Allah dengan agamanya yang indah ini.
Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan
yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam
sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal.
Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal
yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang
akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa
untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam
gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

29

sholat.co.cc

News / Berwudhu

Thaharah: Tuntunan Bersuci Dalam Islam


By admin

Sunday, September 07, 2008 02:28:02

A. Wudhu.
Wudhu adalah bentuk bersuci yang diwajibkan untuk menghilangkan hadast kecil
misalnya buang air kecil, buang air besar. keluar angin, tidur nyenyak dan karena
makan daging unta.
1. Keutamaan Wudhu.
Artinya: Dan dari 'Umar radiAllahuanhu sesungguhnya Nabi Shalallahu
alaihi wasallam bersabda: 'Barang siapa berwudhu dan ia membaikkan wudhunya,
niscaya dosa-dosanya akan keluar dari tubuhnya bahkan akan keluar pula dari bawah
kuku-kukunya HR. Muslim
2. Tata Cara Wudhu
1. Berniat wudhu dalam hati, tanpa diucapkan dengan lisan, sebab Nabi Shalollohu
'alalhi wasallam belum pernah mengucapkan niat dengan lisan dalam wudhu, sholat,
bahkan tidak pula dalam ibadah-ibadah yang lain. Karena Allah SWT mengetahui apa
yang ada di dalam hatinya.
2. Mengucapkan 'Bismillah'.
3. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali.
4. Berkumur dan istinsyaq ( memasukkan air kedalam lubang hidung dan
mengeluarkannya kembali) sebanyak tiga kali.
5. Membasuh muka tiga kali, batas samping dari telinga ke telinga, batas atasnya
hingga tempat tumbuhnya rambut di kepala dan batas bawah hingga ujung janggut.
6. Membasuh kedua tangan tiga kali, dari ujung jari sampai ke siku, dimulai dari tangan
kanan lalu tangan kiri.
7. Mengusap kepala satu kali, yakni membasuh kedua tangan dengan air lalu
mengusapkannya dari depan kepala hingga bagian belakang lalu menjalankannya
kembali ke depan.
8. Mengusap kedua telinga satu kali, yakni dengan memasukkan kedua telunjuk ke
lubang telinga sedang kedua ibu jari membasuh bagian luar telinga.
9. Membasuh kedua kaki tiga kali, dari ujung jari-jari kaki hingga kedua mata kaki,
dimulai dari kanan lalu kiri.
B. Mandi Besar
Mandi adalah suatu bentuk kewajiban bersuci dari hadats besar seperti jinabat (keluar
air mani ) dan haidh.
Tata Cara Mandi Besar:
1 . Niat mandi besar dalam hati, tidak perlu diucapkan.
2 . Membaca 'Bismillah'.
3 . Melakukan wudhu secara sempurna.
4 . Membasuh kepala dengan air, jika telah merata lalu menyiram seluruh kepala
tersebut dengan air sebanyak tiga kali.

30

5 . Membasuh seluruh badan.


C. Tayammum.
Tayammum adalah suatu bentuk kewajiban bersuci dengan menggunakan debu
sebagai ganti dari wudhu dan mandi besar, diperuntukkan baqi orang yang tidak
mendapatkan air atau akan mendapatkan madhorot ( bahaya) jika menggunakan air.
Tata Cara Tayammum:
Berniat untuk tayammum yang ia lakukan, apakah sebagai wudhu atau sebagai mandi
besar. Lalu menepukkan tangan ke tanah ( debu ) atau ke dinding yang berdebu
kemudian mengusapkannya ke muka dan kedua telapak tangannya.
D. Mengusap Khuff ( Sepatu Boot)
Yang dimaksud dengan khuff adalah sejenis sepatu boot terbuat dari kulit atau
sejenisnya. Sedangkan yang dimaksud jaurob adalah kaus kaki yang terbuat dari kapas
dan sejenisnya.
a . Hukum mengusap khuff dan jaurob serta dalilnya dari AlQur'an dan As-Sunnah.
Mengusap khuff hukumnya adalah sunnah dan diteladankan oleh Rasululah Shalollohu
'alaihi wasallam. Oleh karena itu, bagi orang yang memakainya, mengusap atas
keduanya adalah lebih utama dari pada menanggalkannya untuk membasuh kaki.
Adapun dalilnya adalah hadits Mughirah bin Syu'bah Radhiallahu 'anhu:
Artinya Dari Mughirah bin Syu'bah bahwasannya Nabi Shallollohu 'alaihi wasallam
berwudhu, Mughirah berkata lalu aku menunduk untuk melepas kedua khuff Nabi
Shallollohu 'alaihi wasallam. Maka beliau barkata: Biarkanlah......... karena
sesungguhnya aku memasukkan keduanya dalam keadaan suci, lalu beliau mengusap
bagian atas kedua khuffnya.
b . Syarat-syarat Mengusap Khuff.
1. Memakai keduanya dalam keadaan suci.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ShalAllahu 'alaihi wasallam kepada Mughirah bin
Syu'bah: Artinya : 'Biarkanlah......... karena sesungguhnya aku memasukkan keduanya
dalam keadaan suci'.
2. Kedua khuff atau jaurob itu harus, dalam keadaan suci.
Jika terdapat najis maka tidak boleh mengusap atas keduanya.
Hal ini sesuai dengan riwayat bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam pada suatu
hari sholat bersama para sahabatnya dengan memakai sandal, di tengah-tengah sholat
tiba-tiba Rasulullah melepas sandal tersebut. Kemudian beliau mengabarkan, Jibril
memberitahu bahwa terdapat kotoran atau najis pada sandal beliau.
Hal ini menunjukkan tidak diperbolehkannya melakukan sholat dengan memakai
sesuatu yang kena najis. Disamping itu, jika najis itu diusap dengan air, maka orang
yang mengusapkan akan terkena najis tersebut, sehingga usapan tidak bisa
menyucikannya.

31

3. Waktu mengusapnya hanya ketika dalam hadast kecil, tidak ketika sedang jinabat
atau sesuatu yang menyebabkan ia wajib mandi. Hal ini berdasarkan hadits Shofwan
bin Assal ia berkata:
Artinya : 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada kami, jika kami
dalam perjalanan, agar tidak menanggalkan khuff selama tiga hari tiga malam, kecuali
karena jinabat, bukan karena buang air besar, buang air kecil atau tidur'. Jadi, ia hanya
untuk hadast kecil, dan tidak boleh mengusap khuff untuk hadast besar, seperti yang
dijelaskan hadits diatas.
4. Mengusapnya sesuai dengan batas waktu yang ditentukan oleh syari'at Yaitu sehari
semalam untuk orang yang mukim ( tidak bepergian ) dan tiga hari tiga malam bagi
musafir.
Hal ini berdasar riwayat Ali-RadhialIahu 'anhu, ia berkata: Artinya: Nabi Shallallahu'alahi
wassalam menetapkan batas waktu untuk orang mukim sehari semalam dan untuk
musafir tiga hari tiga malam, yakni dalam mengusapi khuff. (H.R. Muslim) Waktu
tersebut dihitung mulai dari awal mengusap khuff sejak hadast dan berakhir setelah 24
jam, ini untuk orang yang bermukim. Dan 72 jam bagi musafir.
Jika kita umpamakan, seseorang bersuci untuk sholat shubuh pada hari selasa dan ia
tetap suci hingga lsya' pada hari Rabu dan mengusap pada khuff pada pukul 05 pagi
maka permulaan waktunya adalah sejak jam 05 pagi pada hari Rabu tersebut dan
berakhir pada pukul 05 pagi pada hari Kamis. Misalnya, ia mengusap khuff pada hari
Kamis sebelum pukul 05 pagi, maka ia boleh melakukan sholat Shubuh pada hari
kamis itu dengan usapan tersebut. Iapun boleh melakukan sholat sesukanya selama ia
masih dalam keadaan suci, karena wudhu itu tidak batal bila batas waktu mengusap
khuff berakhir, demikian menurut pendapat ulama yang kuat.
Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alahi wassalam tidak membatasi waktu bersuci
tetapi hanya membatasi waktu mengusap khuff. Jika ia masih dalam keadaan suci,
maka keadaan suci itu tetap berlangsung, sebab memang demikian ketentuan Syari'at,
karena itu ketentuan tersebut tidak bisa batal kecuali dengan dalil pula. Dan dalil yang
menyatakan batalnya wudhu dengan berakhimya batas mengusap khuff, tidak
didapatkan. Padahal sesuatu harus dihukumi seperti hukum yang ada padanya semula
sampai terdapat dalil yang membatalkan.
A. Wudhu.
Wudhu adalah bentuk bersuci yang diwajibkan untuk menghilangkan hadast kecil misalnya buang
air kecil, buang air besar. keluar angin, tidur nyenyak dan karena makan daging unta.
1. Keutamaan Wudhu.
Artinya: Dan dari 'Umar radiAllahuanhu sesungguhnya Nabi Shalallahu alaihi
wasallam bersabda: 'Barang siapa berwudhu dan ia membaikkan wudhunya, niscaya dosadosanya akan keluar dari tubuhnya bahkan akan keluar pula dari bawah kuku-kukunya HR.
Muslim
2. Tata Cara Wudhu
1. Berniat wudhu dalam hati, tanpa diucapkan dengan lisan, sebab Nabi Shalollohu 'alalhi
wasallam belum pernah mengucapkan niat dengan lisan dalam wudhu, sholat, bahkan tidak pula
dalam ibadah-ibadah yang lain. Karena Allah SWT mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.

32

2. Mengucapkan 'Bismillah'.
3. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali.
4. Berkumur dan istinsyaq ( memasukkan air kedalam lubang hidung dan mengeluarkannya
kembali) sebanyak tiga kali.
5. Membasuh muka tiga kali, batas samping dari telinga ke telinga, batas atasnya hingga tempat
tumbuhnya rambut di kepala dan batas bawah hingga ujung janggut.
6. Membasuh kedua tangan tiga kali, dari ujung jari sampai ke siku, dimulai dari tangan kanan lalu
tangan kiri.
7. Mengusap kepala satu kali, yakni membasuh kedua tangan dengan air lalu mengusapkannya
dari depan kepala hingga bagian belakang lalu menjalankannya kembali ke depan.
8. Mengusap kedua telinga satu kali, yakni dengan memasukkan kedua telunjuk ke lubang telinga
sedang kedua ibu jari membasuh bagian luar telinga.
9. Membasuh kedua kaki tiga kali, dari ujung jari-jari kaki hingga kedua mata kaki, dimulai dari
kanan lalu kiri.
B. Mandi Besar
Mandi adalah suatu bentuk kewajiban bersuci dari hadats besar seperti jinabat (keluar air mani )
dan haidh.
Tata Cara Mandi Besar:
1 . Niat mandi besar dalam hati, tidak perlu diucapkan.
2 . Membaca 'Bismillah'.
3 . Melakukan wudhu secara sempurna.
4 . Membasuh kepala dengan air, jika telah merata lalu menyiram seluruh kepala tersebut dengan
air sebanyak tiga kali.
5 . Membasuh seluruh badan.
C. Tayammum.
Tayammum adalah suatu bentuk kewajiban bersuci dengan menggunakan debu sebagai ganti dari
wudhu dan mandi besar, diperuntukkan baqi orang yang tidak mendapatkan air atau akan
mendapatkan madhorot ( bahaya) jika menggunakan air.
Tata Cara Tayammum:
Berniat untuk tayammum yang ia lakukan, apakah sebagai wudhu atau sebagai mandi besar. Lalu
menepukkan tangan ke tanah ( debu ) atau ke dinding yang berdebu kemudian mengusapkannya
ke muka dan kedua telapak tangannya.
D. Mengusap Khuff ( Sepatu Boot)
Yang dimaksud dengan khuff adalah sejenis sepatu boot terbuat dari kulit atau sejenisnya.
Sedangkan yang dimaksud jaurob adalah kaus kaki yang terbuat dari kapas dan sejenisnya.
a . Hukum mengusap khuff dan jaurob serta dalilnya dari AlQur'an dan As-Sunnah.
Mengusap khuff hukumnya adalah sunnah dan diteladankan oleh Rasululah Shalollohu 'alaihi
wasallam. Oleh karena itu, bagi orang yang memakainya, mengusap atas keduanya adalah lebih
utama dari pada menanggalkannya untuk membasuh kaki.
Adapun dalilnya adalah hadits Mughirah bin Syu'bah Radhiallahu 'anhu:

33

Artinya Dari Mughirah bin Syu'bah bahwasannya Nabi Shallollohu 'alaihi wasallam berwudhu,
Mughirah berkata lalu aku menunduk untuk melepas kedua khuff Nabi Shallollohu 'alaihi
wasallam. Maka beliau barkata: Biarkanlah......... karena sesungguhnya aku memasukkan
keduanya dalam keadaan suci, lalu beliau mengusap bagian atas kedua khuffnya.
b . Syarat-syarat Mengusap Khuff.
1. Memakai keduanya dalam keadaan suci.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ShalAllahu 'alaihi wasallam kepada Mughirah bin Syu'bah:
Artinya : 'Biarkanlah......... karena sesungguhnya aku memasukkan keduanya dalam keadaan
suci'.
2. Kedua khuff atau jaurob itu harus, dalam keadaan suci.
Jika terdapat najis maka tidak boleh mengusap atas keduanya.
Hal ini sesuai dengan riwayat bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari sholat
bersama para sahabatnya dengan memakai sandal, di tengah-tengah sholat tiba-tiba Rasulullah
melepas sandal tersebut. Kemudian beliau mengabarkan, Jibril memberitahu bahwa terdapat
kotoran atau najis pada sandal beliau.
Hal ini menunjukkan tidak diperbolehkannya melakukan sholat dengan memakai sesuatu yang
kena najis. Disamping itu, jika najis itu diusap dengan air, maka orang yang mengusapkan akan
terkena najis tersebut, sehingga usapan tidak bisa menyucikannya.
3. Waktu mengusapnya hanya ketika dalam hadast kecil, tidak ketika sedang jinabat atau sesuatu
yang menyebabkan ia wajib mandi. Hal ini berdasarkan hadits Shofwan bin Assal ia berkata:
Artinya : 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada kami, jika kami dalam
perjalanan, agar tidak menanggalkan khuff selama tiga hari tiga malam, kecuali karena jinabat,
bukan karena buang air besar, buang air kecil atau tidur'. Jadi, ia hanya untuk hadast kecil, dan
tidak boleh mengusap khuff untuk hadast besar, seperti yang dijelaskan hadits diatas.
4. Mengusapnya sesuai dengan batas waktu yang ditentukan oleh syari'at Yaitu sehari semalam
untuk orang yang mukim ( tidak bepergian ) dan tiga hari tiga malam bagi musafir.
Hal ini berdasar riwayat Ali-RadhialIahu 'anhu, ia berkata: Artinya: Nabi Shallallahu'alahi wassalam
menetapkan batas waktu untuk orang mukim sehari semalam dan untuk musafir tiga hari tiga
malam, yakni dalam mengusapi khuff. (H.R. Muslim) Waktu tersebut dihitung mulai dari awal
mengusap khuff sejak hadast dan berakhir setelah 24 jam, ini untuk orang yang bermukim. Dan
72 jam bagi musafir.
Jika kita umpamakan, seseorang bersuci untuk sholat shubuh pada hari selasa dan ia tetap suci
hingga lsya' pada hari Rabu dan mengusap pada khuff pada pukul 05 pagi maka permulaan
waktunya adalah sejak jam 05 pagi pada hari Rabu tersebut dan berakhir pada pukul 05 pagi
pada hari Kamis. Misalnya, ia mengusap khuff pada hari Kamis sebelum pukul 05 pagi, maka ia
boleh melakukan sholat Shubuh pada hari kamis itu dengan usapan tersebut. Iapun boleh
melakukan sholat sesukanya selama ia masih dalam keadaan suci, karena wudhu itu tidak batal
bila batas waktu mengusap khuff berakhir, demikian menurut pendapat ulama yang kuat.
Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alahi wassalam tidak membatasi waktu bersuci tetapi hanya
membatasi waktu mengusap khuff. Jika ia masih dalam keadaan suci, maka keadaan suci itu
tetap berlangsung, sebab memang demikian ketentuan Syari'at, karena itu ketentuan tersebut
tidak bisa batal kecuali dengan dalil pula. Dan dalil yang menyatakan batalnya wudhu dengan
berakhimya batas mengusap khuff, tidak didapatkan. Padahal sesuatu harus dihukumi seperti

34

hukum yang ada padanya semula sampai terdapat dalil yang membatalkan.

Doa Setelah sholat


By admin

Thursday, December 11, 2008 17:06:40

Astaghfirullaahal adzhiim alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaihi,
min jamiii muslimiina wal muslimaati wal muminina wal muminati al ahyaI min hum
wal amwaat (3x)
Allahumma antassalam waminkassalam wa ilaika yaudussalam fahayyina rabbanaa
bissalam, wa adkhilna jannata daarassalaam, tabarakta rabbana wa ta aalaita yaa
dzaljalaali wal ikram.
Astaghfirullaahal adzhiim alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaihi, min jamiii
muslimiina wal muslimaati wal muminina wal muminati al ahyaI min hum wal amwaat (3x)
Allahumma antassalam waminkassalam wa ilaika yaudussalam fahayyina rabbanaa bissalam, wa
adkhilna jannata daarassalaam, tabarakta rabbana wa ta aalaita yaa dzaljalaali wal ikram.
Subhaanallah (33x)
Alhamdulillah (33x)
Allahu Akbar (33x)
Audzubillahiminasy-syaithaanirrajiim, Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi rabbilalamiin,
hamdasy-syakiriin, hamdan-naaimiin, hamdayyuwaafiniamahuu wayukaafiiu maziidah, yaa
rabbanaa lakal hamdu kamaa yambaghii lijalaali wajhika wa azhiimi sulthaanik.
Allahumma shalli wa saliim wa baarik alaa sayyidinaa Muhammadin wa alaa aali sayyidinna
Muhammad. Allaahumma rabbanaa taqabbal minna shalaatanaa, warukuanaa, wa sujudanaa, wa
quudanaa, wa tadharruanaa, wa takhasyu-syuuanaa, wa taabbudanaa, watammim taqshiiranna,
yaa Allaahu ya rabbal aalamiin.
Allaahumma innaa nasaluka salamatan fiddiin, wa aafiyatan fil jasad, wa ziyaadatan fil ilmi,
wabarakatan fil rizqi, wa taubatan qablal maut, warahmatan indal maut, wa maghfiratan badal
maut.
Allaahumma hawwin alainaa fii sakaratil maut, wa nauudzubika min syakhatika wannaar.
Allaahummaghfirlanaa dzunuubanaa wa kaffirannaa, sayyiatinaa, wa tawaaffanaa maal abraar.
Allaahummaghfirlii dzunuubi wali-waalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shagiira.
Rabbanaa dhalamnaa anfusanaa wa inlam taghfirlanaa wa tarhamna lana kuunanna minal
khaasyiriin. Rabbanaa walaa tahmil alainaa isran kamaa hamaltahu alalladziina min qablinaa
rabbanaa walaa tahmilnaa maalaa thaaqata lanaa bihi wafuanaa, waghfirlanaa, anta maulana
tansyurnaalal qaumil kaafiriin.
Rabbanaa laa tuziqh-quluubanaa bada idzhadaitanaa qurrata ayun wajalnalimuttaqiin imaamaa,
rabbanaa arnal haqqa-haqqa warzuqna tibbaaah wa arinal baathila warzuqna tinabah.
Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah wafil aakhiraati hasanatawwaqinaaadzaabannaar. Wa
adkhilnal jannata maal abraar yaaaziizu yaa ghaffararu yaa rabbal alamiin. Wa shallallahu alaa

35

sayyidinaa Muhammadinwa alaa alihi washahbihi wasallam. Subhana rabbika rabbil izzati amma
yashifuun wa sallamun alal mursaliin walhamdulillahi rabbil aalamiin, Al Faatihah

Doa-Doa Rasululloh
By admin

Sunday, September 07, 2008 03:00:48

Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam seorang yang banyak berdoa, memohon dan
menunjukkan ketergantungan kepada Alloh Subhanahu wa Taala. Beliau sangat
menyukai kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna dan juga menyukai ucapanucapan doa.
Doa-Doa Rasululloh
Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam seorang yang banyak berdoa, memohon dan
menunjukkan ketergantungan kepada Alloh Subhanahu wa Taala. Beliau sangat menyukai
kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna dan juga menyukai ucapan-ucapan doa.
Doa adalah ibadah yang sangat agung, yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Alloh
Subhanahu wa Taala. Hakikat doa adalah menunjukkan ketergantungan kita kepada Alloh
Subhanahu wa Taala dan berlepas diri dari daya dan upaya makhluk. Doa merupakan tanda
Ubudiyah (penghambaan diri secara totalitas kepada Alloh Subhanahu wa Taala). Doa juga
merupakan lambang kelemahan manusia. Di dalam ibadah doa terkandung pujian terhadap Alloh
Subhanahu wa Taala.
Disamping itu terkandung juga sifat penyantun dan pemurah bagi Alloh Subhanahu wa Taala.
Oleh sebab itu Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: Doa itu adalah
ibadah (HR: Tirmidzi)
Di antara doa Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam adalah, yang artinya: Ya Alloh, tolonglah
daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan
duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elokkanlah urusan akhiratku yang
merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan
bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan. (HR:
Muslim)
Di antara doa beliau adalah, yang artinya: Ya Alloh, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang
nyata. Ya Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersksi
bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari
kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku melakukan kejahatan terhadap
diriku atau yang aku tujukan kepada seorang muslim lain. (HR: Abu Daud)
Demikian pula doa berikut ini: Ya Alloh, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal (supaya aku
terhindar) dari yang haram, perkayalah aku dengan karunia-Mu (supaya aku tidak meminta)
kepada selain-Mu. (HR: At-Tirmidzi)
Di antara permohonan beliau kepada Alloh Subhannahu wa Taala, yang artinya: Ya Alloh,
ampunilah dosaku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan temukanlah aku dengan teman yang
tinggi derajatnya. (Muttafaq alaih)
Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam senantiasa berdoa memohon kepada Rabb Subhanahu

36

wa Taala baik pada waktu lapang maupun pada saat sempit. Pada peperangan Badar, beliau
berdoa kepada Alloh Subhanahu wa Taala hingga jatuh selendang beliau dari kedua pundaknya,
memohon kepada Alloh Subhanahu wa Taala agar menurunkan pertolongan bagi kaum muslimin
dan menjatuhkan kekalahan atas kaum musyrikin. Beliau sering berdoa untuk dirinya sendiri,
untuk keluarga dan ahli bait beliau, untuk sahabat-sahabat beliau bahkan untuk segenap kaum
muslimin

Keutamaan Berdoa Pada Hari Jumat


By admin

Sunday, September 07, 2008 03:01:56

MediaMuslim.Info - Hari Jumat adalah hari yang paling utama dalam sepekan. Alloh
Subhanahu wa Taala telah mengkhususkan untuk kaum muslimin yang belum pernah
diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya sebagai karunia dan pemuliaan terhadap
ummat ini. Pada hari tersebut terdapat ibadah-ibadah yang khusus (yang paling agung
adalah Shalat Jumat). Di bawah ini akan disampaikan dalil-dalil yang menyebutkan
keutamaannya dan sunnah-sunnah serta kewajiban yang diperintahkan dalam rangka
memuliakan hari Jumat.
Keutamaan Berdoa Pada Hari Jumat
MediaMuslim.Info - Hari Jumat adalah hari yang paling utama dalam sepekan. Alloh Subhanahu
wa Taala telah mengkhususkan untuk kaum muslimin yang belum pernah diberikan kepada
ummat-ummat sebelumnya sebagai karunia dan pemuliaan terhadap ummat ini. Pada hari
tersebut terdapat ibadah-ibadah yang khusus (yang paling agung adalah Shalat Jumat). Di bawah
ini akan disampaikan dalil-dalil yang menyebutkan keutamaannya dan sunnah-sunnah serta
kewajiban yang diperintahkan dalam rangka memuliakan hari Jumat.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu anhu bahwa Rasululloh shalAllohu alaihi wa sallam
mengatakan, yang artinya: Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jumat.
Pada hari itu diciptakan Adam alaihissalam, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga pada hari itu
dan kiamat akan terjadi pada hari Jumat pula. (HR: Muslim, Abu Dawud, Annasai, Tirmidzi dan
dishahihkannya. Lihat Fiqhussunnah oleh Sayyid Sabiq bab Jumah).
Sebagaimana telah disebutkan di muka bahwa ibadah khusus yang mulia pada hari Jumat adalah
shalat Jumat. Barangsiapa yang meninggalkannya tanpa ada alasan syari akan mendapatkan
dosa besar adan akan diadzab dengan adzab yang pedih. Rasululloh shalAllohu alaihi wa sallam
mengatakan tentang suatu kaum yang meninggalkan shalat Jumat, yang artinya: Sungguh aku
berkeinginan untuk memerintahakan seorang laki-laki shalat bersama dengan manusia kemudian
aku membakar rumah-rumah mereka yang tidak melakukan shalat Jumat. (HR: Muslim, Ad
Darimi dan Al Baihaqi).
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Muhammad bin Abdurrahman bin Zahrah, aku
mendengar pamanku berkata, Rasululloh shalAllohu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
Barangsiapa mendengan panggilan adzan pada hari Jumat dan tidak mendatanginya, kemudian
mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian
mendengar dan tidak mendatanginya, maka Alloh akan menutup hatinya dan menjadikan hatinya
seperti hati orang munafik. (HR: Al Baihaqi, Abu Yala, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu
Mundzir, hadits ini dihasankan oleh Masyhur Hasan Salman dalam Al Qulul Mubin fii Akhthail
Mushollin).

37

Berikut ini beberapa hal yang disunnahkan berkenaan dengan keutamaan hari Jumat:
1.
Disunnnahkan berdoa karena berdoa pada hari itu akan dikabulkan terutama pada waktu / saat
mustajab (mudahj terkabul doa). Hal ini terdapat hadits bersumber dari Jabir bin Abdillah. Dari
Jabir bin Abdillah dari Rasululloh shalAllohu alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata, yang
artinya: Pada hari Jumat ada dua belas waktu. Tidak ditemukan seorang muslim yang sedang
memohon sesuatu kepada Alloh Azza wa jalla kecuali pasti Dia memberinya. Maka carilah waktu
itu, yaitu akhir waktu setelah Ashr. (HR: Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih
Sunan Abu Dawud, hadits 926 hal. 196)
Doa yang paling disukai oleh Rasululloh shallAllohu alaihi wasallam adalah meminta kebaikan di
dunia dan akhirat dan meminta perlindungan dari neraka. Dalam suatu hadits disebutkan, yang
artinya: Barangsiapa yang meminta dimasukkan ke dalam surga, maka surga mengatakan: Ya,
Alloh, masukkan dia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan dari api
neraka kepada Alloh subhanahu wataala, maka neraka akan berkata: Ya Alloh, lindungilah dia
dari neraka. (HR: Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jaami no. 6151/, lihat
Shifatun Naar fil Kitab was Sunnah oleh Mahmud bin Khalifah Al Jasim).
2.
Disunnahkan memperbanyak bacaan shalawat Nabi. Aus bin Aus radliyAllohu anhu berkata
bahwa Rasululloh shallAllohu alaihi wasallam pernah bersabda, yang artinya: Seutama-utama
hari adalah hari Jumat. Padanya diciptakan dan dimatikannya Adam alaihissalam, ditiup
sangkakala dan dibinasakannya manusia. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat atasku pada
hari itu karena shalawatmu akan sampai kepadaku. Para sahabat bertanya: Bagaimana bisa
sampai kepadamu sedangkan jasadmu telah dimakan tanah? Rasululloh berkata: Alloh
subhanahu wa taala mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi. (HR: Abu Dawud,
Shahih, Lihat Shahih Sunan Abu Dawud hal. 196 hadits no. 925 oleh Syaikh Nashiruddin Al
Albani)
3.
Disunnahkan membaca Surat Al Kahfi pada siang atau malam harinya (Lihat Al Adzkar oleh Imam
AnNawawi). Seorang muslim yang menghafal sepuluh atau tiga ayat pertama dari surat Al Kahfi
akan terjaga dari fitnah Dajjal. Juga barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dan
sepuluh ayat dari Surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Dalilnya adalah hadits dari Abu
Darda radliyAllohu anhu dari Nabi shallAllohu alaihi wasallam berkata, yang artinya:
Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al Kahfi terjaga dari fitnah Dajjal.
(HR: Muslim, Abu Dawud, Nasai dan Tirmidzi). Pada lafadz Tirmidzi, yang artinya: Barangsiapa
menghafal tiga surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal . Dia berkata: Hadits Hasan.
Pada hadits yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Abu Darda radliyAllohu anhu bahwa Nabi
shalAllohu alaihi wa sallam berkata: Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat
Al-Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dari Nasai
dari Qatadah radliyAllohu anhu. Dan pada lafadz Nasai menyatakan, yang artinya: Barangsiapa
membaca sepuluh ayat (mana saja) dari surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal.Pada hadits
yang marfu (sanadnya bersambung sampai Rasululloh, ed.) dari Ali bin Abi Thalib, yang artinya:
Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka ia akan dijaga dari setiap
fitnah sampai delapan hari walaupun Dajjal keluar ia akan tetap terjaga dari fitnahnya. (Lihat tafsir
Ibnu Katsir Surat Al Kahfi).
Disunnahkan pula membaca surat Alif Laam Miim tanziil - assajdah dan Hal ata alal insan pada
shalat fajar (shubuh). Abu Hurairah radhiAllohu anhu mengatakan, yang artinya: Rasululloh
shallAllohu alaihi wasallam membaca surat Alif Laam Miim tanziil assajdah dan Hal ata alal insan

38

pada shalat subuh hari Jumat. (Muttafaq alaih)


Menurut Thabrani dari Ibnu Masud bahwa Nabi terus-menerus membaca kedua surat tersebut.
Menurut riwayat dari Ibnu Abbas dan Abi Hurairah radliyAllohuanhum berkata bahwa Rasululloh
shalAllohu alaihi wa sallam membaca Surat Al Jumah dan Munafiqun pada hari Jumat. (HR:
Muslim).
Demikian pula Nabi membaca surat Sabbihisma dan Al Ghasyiah pada shalat Jumat. (Lihat Tafsir
Ibnu Katsir surat Al-Ala dan Al Ghasyiah). Allohu Taala Alam.
(Sumber Rujukan: Al Adzkar, Imam Nawawi tahqiq Abdul Qadir Al Arnauth; Fiqhussunnah, Sayyid
Sabiq; Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqalani; Tamaamul Minnah, Muhammad Nashiruddin Al Albani;
Ikhtishar Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi; Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir; Taisiirul Alllaam
Syarhu Umdatul Ahkam, Abdullah bin Abdirrahman bin Shalih Al Bassam; Subulussalam, Imam
Ash-Shanani; Bulughul Maraam min Adillatil Ahkam, Ibnu Hajar Al Asqalani; Zaadul Maad, Ibnu
Qayyim Al Jauziyah; Al Qaulul Mubin fii Akhthail Mushallin, Masyhur Hasan Salman; Shifatun
Naar fil Kitab was Sunnah, Mahmud bin Khalifah Al Jasim; Shahih Sunan Abi Dawud, Muhammad
Nashiruddin Al Albani)

Awali hari dengan sholat dhuha


By admin

Sunday, August 31, 2008 20:52:34

Sebagian kita sudah tak asing lagi dengan sholat sunnah yang satu ini. Namun
pengetahuan belum menunjukkan sebuah perbuatan: sebuah pengamalan dalam
beribadah. Hal ini bisa jadi karena kita malas, tak punya waktu mengerjakannya, tidak
tahu bagaimana cara melaksanakannya, tak tahu segenap keutamaannya (fadilah )
yang tersembunyi didalamnya.
Sebagian kita sudah tak asing lagi dengan sholat sunnah yang satu ini. Namun pengetahuan
belum menunjukkan sebuah perbuatan: sebuah pengamalan dalam beribadah. Hal ini bisa jadi
karena kita malas, tak punya waktu mengerjakannya, tidak tahu bagaimana cara
melaksanakannya, tak tahu segenap keutamaannya (fadilah ) yang tersembunyi didalamnya.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku mengenai tiga
hal :
a). agar aku berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan,
b). melakukan sholat dhuha dua raka'at dan
c). melakukan sholat witir sebelum tidur. ( H.R. Bukhari & Muslim ).
Di hadits yang lain dikatakan bahwa Mu'azah al Adawiyah bertanya kepada Aisyah binti Abu Bakar
r.a : apakah Rasulullah SAW, melakukan sholat dhuha ? Aisyah menjawab, Ya, Rasulullah SAW
melakukannya sebanyak empat raka'at atau menambahnya sesuai dengan kehendak Allah SWT.
(H.R. Muslim,an-Nasa'i, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah). Demikianlah hadits hadits tersebut
meneguhkan ihwal kesunnahan sholat dhuha.
Status sunnah sholat dhuha di atas tentu saja tidak berangkat dari ruang kosong. Berdasarkan
tinjauan agama, paling tidak beragam keutamaanya (fadilah ) yang bisa ditarik:
PERTAMA:

39

Sholat dhuha merupakan ekspresi terimakasih kita kepada Allah SWT, atas nikmat sehat
bugarnya setiap sendi tubuh kita. menurut Rasulullah SAW, setiap sendi ditubuh kita berjumlah
360 sendi yang setiap harinya harus kita beri sedekah sebagai makanannya. Dan kata Nabi SAW,
sholat dhuha adalah makanan sendi - sendi tersebut.
Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan
(pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya. Lalu, para sahabat bertanya: Ya Rasulullah
SAW, siapa yang sanggup melakukannya? Rasulullah SAW menjelaskan: Membersihkan
kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu ( yang dapat mencelakakan orang ) dari
jalan raya, apabila ia tidak mampu maka sholat dhuha dua raka'at, dapat menggantikannya ( H.R.
Ahmad bin Hanbal dan Abu Daud )
KEDUA:
Sholat dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan nikmat Allah sepanjang hari
yang akan dilalui, entah itu nikmat fisik maupun materi. Rasulullah SAW bersabda, Allah
berfirman, Wahai anak Adam, jangan sekali kali engkau malas melakukan sholat empat raka'at
pada pagi hari, yaitu sholat dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore
harinya. ( H.R. al-Hakim dan at-Tabrani).

Lebih dari itu, momen sholat dhuha merupakan saat dimana kita mengisi kembali semangat hidup
baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi hari yang lebih baik dari hari
kemarin. Disinilah, ruang kita menanam optimisme hidup. Bahwa kita tidak sendiri menjalani
hidup. Ada Sang Maha Rahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup
sehari-hari.

KETIGA:
Sholat dhuha sebagai pelindung kita untuk menangkal siksa api neraka di Hari Pembalasan
(Kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi SAW dalam haditsnya, Barangsiapa melakukan sholat
fajar, kemudian ia tetap duduk ditempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan
kemudian ia melaksanakan sholat dhuha sebanyak dua raka'at, niscaya Allah SWT, akan
mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya (H.R.al-Baihaqi)

KEEMPAT:
Bagi orang yang merutinkan shalat dhuha, niscaya Allah mengganjarnya dengan balasan surga.
Rasulullah SAW bersabda, Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha ( pintu
dhuha ) dan pada hari kiamat nanti ada orang yang memanggil, Dimana orang yang senantiasa
mengerjakan sholat dhuha ? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah. ( H.R. atTabrani).
Bila menilik serangkaian fadilah di atas, cukup beralasan, bila Nabi SAW menghimbau umatnya
untuk senantiasa membiasakan diri dengan sholat dhuha ini. Kendati demikian, untuk meraih
fadilah tersebut, beberapa tata cara pelaksanaannya, kiranya perlu diperhatikan.
WAKTU SHOLAT DHUHA
Kata dhuha yang mengiringi sholat sunnah ini berarti terbit atau naiknya matahari. Wajar bila
sholat ini, kemudian, dilakukan pada pagi hari ketika matahari mulai menampakkan sinarnya.
Namun, beberapa ulama fikh berbeda pendapat tentang ketentuan waktunya.

40

Imam Nawawi di dalam kitab ar-Raudah mengatakan bahwa waktu sholat dhuha itu dimulai, sejak
terbitnya matahari, yakni sekitar setinggi lembing (lebih kurang 18 derajat). Sementara Abdul
Karim bin Muhammad ar-Rifai, seorang ahli fikih bermazhab Syafi'i berkomentar bahwa sholat itu
lebih utama bila dikerjakan saat matahari lebih tinggi dari itu
Ada sebuah hadits yang menentukan perihal dhuha di atas. Zaid bin Arqam meriwayatkan:
Rasulullah SAW keluar menemui penduduk Quba di saat mereka melaksanakan sholat dhuha,
lalu Rasulullah SAW, bersabda : Sholat dhuha dilakukan apabila anak anak unta telah merasa
kepanasan (karena tersengat matahari) ( H.R. Muslim & Ahmad bin Hanbal).
RAKAAT DHUHA
Sholat dhuha merupakan sholat yang tidak menyusahkan untuk dikerjakan. Sebab, pasalnya
sholat dhuha itu menyesuaikan kemampuan dan kesempatan muslim yang hendak
mengamalkannya. Poin ini tergambar dengan jelas pada bilangan raka'atnya. Mulai dari 2 raka'at,
4 raka'at, 8 raka'at hingga 12 raka'at. Masing masing raka'at memiliki sandaran hadits Rasulullah
SAW, sebagaimana yang penulis singgung di atas.
Sayid Sabiq, ahli fikih dari Mesir, menyimpulkan bahwa batas minimal sholat dhuha itu 2 raka'at
sedangkan batas maksimalnya adalah delapan raka'at. Pada ketentuan minimal dapat ditemukan
pada hadits riwayat Abu Hurairah. Sementara ketentuan maksimal dapat ditemukan pada hadits
fi'li ( perbuatan ) yang diriwayatkan Aisyah,r.q, Rasulullah SAW, masuk kerumah saya lalu
melakukan sholat dhuha sebanyak delapan raka'at. ( H.R. Ibnu Hiban )
Bahkan lebih dari itu, menurut ulama mazhab Hanafi jumlah maksimal raka'at sholat dhuha itu
enam belas raka'at . Sedang Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Tabari, pengarang kitab Tafsir
Jami al-Bayan, sebagian ulama mazhab Syafi'i dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berpendapat bahwa
tidak ada batas maksimal untuk jumlah raka'at sholat dhuha. Semuanya tergantung pada
kemampuan dan kesanggupan orang yang ingin mengerjakannya. Wallahu'alam bil shawab.
( Muaz/Hidayah).

Sholat berjamaah
By admin

Sunday, September 07, 2008 02:37:00

Shalat berjama'ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin laki-laki, tidak ada keringanan
untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). Haditshadits yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:
SHOLAT BERJAMAAH
a. Hukum Shalat Berjama'ah
Shalat berjama'ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin laki-laki, tidak ada keringanan untuk
meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadits-hadits yang
merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, Telah datang kepada Nabi shallallaahu alaihi
wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang

41

yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam
agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.' Maka Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau
memanggilnya, seraya berkata, 'Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?', ia
menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)'.
(HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata: 'Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam
bersabda, 'Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Subuh.
Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan
mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar
didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama
beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak
hadir dalam shalat berjama'ah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu'.
(Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Darda' radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam bersabda, 'Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun,
kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama'ah, terkecuali syaitan telah menguasai
mereka. Maka hendaklah kamu senan-tiasa bersama jama'ah (golongan yang banyak), karena
sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)'.
(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan )
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa
mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, terkecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)'.
(HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)
Dari Ibnu Mas'ud radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara
sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikuman-dangkan adzan di dalamnya.
(HR. Muslim)
b. Keutamaan Shalat Berjama'ah
Shalat berjama'ah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, banyak sekali haditshadits yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah:
Dari Ibnu Umar radhiallaahu anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam
bersabda, 'Shalat berjama'ah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian.
(Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam, 'Shalat seseorang dengan berjama'ah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27
derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendirian). Hal itu
dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudhu dengan baik kemudian pergi
ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu
langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan
dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid,
maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam
masjid itu, dan malaikat pun mengu-capkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia
duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, 'Ya Allah, berilah rahmat kepadanya,
ampunilah dia dan terimalah taubatnya.' Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap
berada dalam keadaan suci'.

42

(Muttafaq 'alaih)
c. Berjama'ah dapat dilaksanakan sekalipun dengan seorang makmum dan seorang imam Shalat
berjama'ah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah
seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Dan semakin banyak jumlah jama'ah
dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dari Ibnu Abbas radhiallaahu anhuma, ia berkata, 'Aku pernah bermalam di rumah bibiku,
Maimunah (salah satu istri Nabi shallallaahu alaihi wasallam), kemudian Nabi shallallaahu alaihi
wasallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku
berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping
kanannya'.
(Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiallaahu anhuma, keduanya berkata, 'Rasulullah
shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa ba-ngun di waktu malam hari kemudian dia
membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjama'ah, maka mereka berdua
akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah'.
(HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiallaahu anhu, 'Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid
sedangkan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka
beliau pun bersabda, 'Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.'
Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya'.
(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, hadits shahih)
Dari Ubay bin Ka'ab radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam
bersabda, Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih
mensucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain
(bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang
(berdua), dan semakin banyak (jumlah jama'ah) semakin disukai oleh Allah Ta'ala'.
(HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai, hadits hasan)
d. Hadirnya Wanita Di Masjid dan Keutamaan Shalat Wanita Di Rumahnya
Para wanita boleh pergi ke masjid dan ikut melaksanakan shalat berjama'ah dengan syarat
menghindarkan diri dari hal-hal yang membangkitkan syahwat dan menim-bulkan fitnah, seperti
mengenakan perhiasan, bersolek dan menggunakan wangi-wangian. Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam bersabda:
Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan
tidak me-makai wangi-wangian.
(HR. Ahmad dan Abu Daud, hadits shahih)
Dan beliau juga bersabda:
Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut shalat Isya'
berjama'ah bersama kami.
(HR. Muslim)
Pada kesempatan lain, beliau juga bersabda:
Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka
shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi.

43

(HR. Ibnu Majah, hadits shahih)


Jika salah seorang dari kalian (wanita) menghadiri mesjid maka janganlah menyentuh wangiwangian.
(HR. Muslim)
Beliau juga bersabda:
Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih
baik untuk mereka.
(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)
Dalam sabdanya yang lain:
Shalat seorang wanita di salah satu ruangan rumahnya lebih utama daripada di bagian tengah
rumahnya dan shalatnya di kamar (pribadi)-nya lebih utama daripada (ruangan lain) di rumahnya.
(HR. Abu Daud dan Al-Hakim)
Beliau bersabda pula:
Sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah bagian paling dalam (tersembunyi) dari
rumahnya.
(HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, hadits shahih)

44