Anda di halaman 1dari 27

1

I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tingginya permintaan masyarakat terhadap hasil produk peternakan ayam
menyebabkan peternak menempuh berbagi cara untuk memenuhi permintaan
tersebut dalam waktu singkat tetapi menghasilkan produk yang sama kualitasnya.
Hasil produk dari peternakan ayam dapat berupa telur dan daging. Setiap jenis
ayam memiliki ciri-ciri tertentu dalam hubungannya dengan produktivitas. Ayam
kampung menghasilkan daging, ayam layer menghasilkan telur, sedangkan ayam
broiler merupakan ayam ras penghasil daging. Dari ketiga jenis ayam tersebut,
dapat dilihat produktivitasnya dari struktur anatomi dan morphologinya.
Ayam kampung yang memiliki produktivitas tinggi sebagai penghasil daging
secara umum dapat dilihat dari ukuran tubuh. Ayam layer yang memiliki
produktivitas tinggi dapat dilihat dari warna jengger dan jarak antara tulang pubis
dan sternum. Sedangkan pada ayam broiler sebagai penghasil daging dapat dilihat
dari pertambahan bobot badan yang relatif cepat.
Maka dari itu, sebagai mahasiswa peternakan harus mengetahui struktur
anatomi dan morphologi ayam serta memahami hubungannya untuk tujuan
produksi. Makalah ini berisi tentang anatomi dan morphologi ayam kampung
jantan dan betina, ayam layer betina dan ayam broiler betina.
1.2 Identifikasi Masalah
1. Bagaimana anatomi dan morphologi ayam kampung jantan dan betina,
ayam layer betina dan ayam broiler betina.
2. Apa kegunaan dari mempelajari bagian-bagian anatomi dan morphologi
ayam untuk tujuan produksi.

1.3 Maksud dan Tujuan


1. Dapat

mengetahui

dan

menjelaskan

bagian-bagian

anatomi

dan

morphologi ayam kampung jantan dan betina, ayam layer betina dan ayam
broiler betina.
2. Dapat memahami kegunaan mempelajari bagian-bagian anatomi dan
morphologi ayam untuk tujuan produksi.
1.4 Waktu dan Tempat
HariTanggal

: Senin/14 Maret 2016.

Waktu

: 12.30 WIB 14.30 WIB.

Tempat

: Laboratorium Produksi Ternak Unggas Fakultas


Peternakan Universitas Padjadjaran.

1.5 Manfaat Praktikum


Dapat mengetahui dan memahami anatomi dan morphologi unggas
berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif serta dapat berguna bagi matakuliah
selanjutnya di masa yang akan datang. Selain itu, dapat bermanfaat pula pada saat
terjun ke dunia peternakan di masyarakat dengan mengetahui bagian yang
menjadi petunjuk produktivitas unggas.

II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Taksonomi Ternak Unggas
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Sub Phylum

: Vertebrata

Class

: Aves

Ordo

: Galliformes

Family

: Phasianidae

Genus

: Gallus

Spesies

: Gallus gallus

Sub Spesies : Gallus gallus gallus


: Gallus gallus spadiceus
: Gallus gallus bankiva
: Gallus gallus murghi
: Gallus gallus jabouille
: Gallus gallus domesticus
: Gallus gallus gallus
Spesies

: Gallus varius
: Gallus sonneratii
: Gallus lafayetii

(Sumber: Blakely dan Bade, D.H. 1998)


2.2 Deskripsi Ternak Unggas

Ternak unggas adalah bangsa-bangsa burung yang mempunyai nilai ekonomis


dan dapat diproduksi secara masal. Unggas mempunyai keistimewaan
dibandingkan dengan ternak ruminansia, yaitu unggas dapat diproduksi secara
massal dalam waktu yang singkat (Anggorodi, 1995).
Unggas merupakan spesies burung (Aves) yang dapat memberikan
keuntungan ekonomis bagi manusia yang memeliharanya. Beberapa jenis unggas
antara lain ayam, itik, angsa dan puyuh. Unggas dikelompokkan menjadi dua
kelompok yaitu unggas darat (ayam dan kalkun) dan unggas air (itik, entok dan
angsa) (Suprijatna, dkk., 2008).
Berdasarkan tujuan pemeliharaan, ayam dikelompokkan menjadi tipe petelur,
pedaging dan medium atau dwiguna (dual purpose). Karakteristik tipe petelur
adalah mudah terkejut, bentuk tubuh ramping, warna kulit putih, cuping telinga
putih dan kerabang telur berwarna putih, produksi telur cukup tinggi yaitu 200
butir telur/ekor/tahun. Karakteristik tipe pedaging bersifat tenang, bentuk tubuh
besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan tidak
mempunyai sifat mengeram. Ayam yang memiliki karakteristik tipe medium atau
dwiguna adalah bersifat tenang, bentuk tubuh sedang, produksi telur sedang dan
kulit telur berwarna cokelat (Suprijatna, dkk., 2008).
2.3 Anatomi dan Morfologi Ayam
Bagian organ ayam yang tampak dari luar dari bagian kepala, leher, tubuh
bagian depan dan tubuh bagian belakang. Paruh, mata, kelopak mata, jengger,
cuping dan pial terdapat di bagian kepala sementara tubuh bagian depan terdapat
dada dan sayap dibagian belakang terletak punggung, perut, ekor, paha, betis dan
cakar (Suprijatna, dkk., 2008).

Paruh, jari dan taji bersifat menulang, tersusun atas keratin. Paruh ayam
berbentuk runcing dan kecil karena disesuaikan dengan pakan yang terhadap
hormon berupa biji-bijian. Jengger dan pial bersifat sensitif terhadap hormon sex
sehingga dapat dijadikan indikator karakteristik secundary sex, sebagai accessor
sexual epidermal. Jengger ayam jantan lebih besar dari pada ayam betina.
Sepasang pial terdapat pada bagian kedua sisi rahang bawah dibagian basal paruh.
Cuping telinga bersifat berdaging tebal yang terletak dibagian bawah telinga.
Cakar pada ayam umumnya tertutup sisik yang merupakan penjuluran dari corium
yang padat dan terbungkus oleh epidermis yang sangat tebal. Kelenjar minyak
(glandula uropygal) yang terdapat dibagian atas ekor ayam berukuran sebesar
kacang kapri, sedangkan pada unggas air tumbuh lebih besar (Rasyaf, 2000).
Ayam memiliki bentuk paruh lancip, berwarna kuning, warna jengger merah
serta kaki berwarna kuning, bulu pada ayam jantan dijadikan sebagai daya tarik
dalam menarik lawan jenisnya. Bagian kaki pada ayam jantan terdapat taji
sedangkan pada ayam betina tidak terlalu berkembang dengan baik (Blakely dan
Bade, 1998).
Jengger ayam pada umumnya berwarna merah dan bervariasi dari abu-abu
terang sampai biru gelap. Warna merah pada jengger ayam karena umumnya pada
bagian epidermis kulitnya terdapat banyak pembuluh darah (Susanti, dkk, 2006).
Menurut Mercia (2001) menyatakan bahwa pertumbuhan jengger pada ayam
jantan merupakan salah satu karakter maskulinisasi oleh aktivitas androgen yang
menonjol dan paling mudah diamati. Sedangkan warna jengger pada betina sering
dikaitkan dengan produktivitas. Jengger dengan warna merah dan bertekstur tebal
dan kenyal merupakan karakter ayam dalam kondisi masa produksi (Scanes,
dkk.,2003).

Bentuk dan warna pial menurut (Susanti, dkk., 2006) bervariasi sesuai
dengan bangsa dari masing-masing ayam. Sama halnya dengan jengger, bentuk
dan warna pial dalam beberapa hal memiliki peranan dalam seleksi bibit untuk
menentukan produktivitas seekor ayam betina. Menurut Scanes, dkk., (2003),
jengger dan pial yang tumbuh dan berkembang dengan baik menunjukkan kinerja
produksi dan reproduksi yang lebih baik dibandingkan dengan ayam yang
memiliki jengger kecil.
Pada ayam terdapat warna dan pola warna bulu. Keragaman warna bulu pada
banyak situasi bergantung pada letak bulu di tubuh ayam. Karakteristik atau pola
warna bulu atau adalah hasil interaksi genetik serta adanya pengaruh dari hormon
kelamin jantan dan betina (North dan Bell,1990).
Menurut Scanes, dkk., (2003), beberapa warna cakar berbeda ditemukan pada
ayam dari kombinasi pigmen yang berbeda di lapisan atas dan bawah kulit. Warna
cakar kuning dipengaruhi oleh adanya pigmen karotenoid pada epidermis dan
tidak adanya pigmen melanin. Sedangkan menurut Sartika, dkk. (2006)
menjelaskan bahwa warna shank hitam dipengaruhi oleh adanya pigmen melanin
pada epidermis. Bila kedua pigmen tersebut tidak ada maka shank berwarna putih.
Sedangkan karakteristik warna shank kuning atau putih disebabkan oleh adanya
pigmen lipochrom.
2.4 Manfaat Mempelajari Anatomi dan Morphologi Unggas
1. Mengetahui jenis/bangsa ayam (unggas) dan varietasnya.
2. Mengetahui tingkat produktivitas ayam.
3. Mengetahui perbedaan tingkah laku makan.
4. Memudahkan dalam membedakan jenis kelamin ayam.

5. Memudahkan penanganan (handling) dalam laksana pemeliharaan seperti


pemotong paruh (debeaking) dan pemotongan kuku atau taji.
6. Memudahkan penanganan pasca panen pemotongan ayam seperti
deboning, cutting, retail cut dan lain-lain.
III
ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1

Alat-alat
1. Papan: berfungsi sebagai alas ayam.
2. Pita ukur : berfungsi untuk mengukur ukuran tubuh ayam
3. Timbangan : berfungsi untuk menimbang bobot badan ayam.

3.1.2 Bahan :
1. Ayam Ras Pedaging/Broiler betina
2. Ayam Ras Petelur/Layer betina
3. Ayam kampung Jantan dan betina
3.2 Prosedur Kerja
1. Setiap kelompok mengamati ketiga tipe ayam.
a. Seluruh Tubuh
Prosedur:
1) Menempatkan ayam di atas baki dalam keadaan tenang.
2) Menggambar dan menyebutkan anatominya.
b. Kepala
Prosedur:
1) Menggambar kepala dan bagiannya.

2) Mengamati

bagian-bagian

dari

kepala

seperti

jengger

dan

menyebutkan jenis jenggernya.


3) Mengamati bagian-bagian lainnya seperti paruh, pial, lubang telinga,
mata.

c. Bulu
Prosedur:
1) Mengamati seluruh tubuh ayam yang berbulu, serta membedakan di
bagian mana terdapat bulu kontur, plumulae, dan filoplumulae.
2) Meperhatikan bulu sayap yang sekunder, primer dan bulu axial
kemudian menggambarnya.
3) Mencabut salah satu bagian bulu sayap kemudian menggambar dan
menulis bagian-bagiannya.
d. Kaki
Prosedur:
1) Menggambar bagian kaki dan meyebutkan bagiannya.
2) Mengamati pigmentasi pada kaki.
3) Mengukur panjang shank serta membandingkan shank dari ketiga
jenis ayam yang diamati.
e. Rangka
Prosedur:
1) Mengetahui rangka ayam dan bagian-bagiannya.
2) Mengetahui bagian rangka pneumatic bone dan medullary bone.

IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Pengamatan Ayam Kampung Jantan dan Betina
a. Pengamatan Kualitatif
No
1

Bagian

Jantan

Betina

Seluruh Tubuh

Keterangan :

Ukuran tubuh lebih besar Ukuran tubuh lebih kecil daripada


daripada betina. Warna kulit: jantan. Warna kulit: putih.
putih.

Kepala

Keterangan :

Jengger : Rose.

Jengger pada betina tidak

10

Warna Jengger: Merah pekat.

berkembang.

Warna bulu: abu, hitam,

Warna bulu: Keabuan.

merah kecoklatan.

Bulu ekor: main tail feathers.

Bulu

Keterangan :

Bulu ekor: sickle feathers dan


main tail feathers.
4

Kaki

Keterangan :

Warna kaki: Kuning.

Warna kaki: Hitam.

Mempunyai taji.

Taji tidak berkembang.

b. Pengamatan Kuantitatif
Keterangan
Bobot badan (kg)

Jantan

Betina

1,95

1,15

17,5

14

20

20

Ukuran Tubuh (cm):


Panjang Leher
Panjang Punggung

11

Lingkar Dada

32

29

Panjang Paha Bawah

12

Panjang Kaki

10

Lingkar Kaki

Lebar Dada

11

4.1.2 Ayam Layer Betina


a. Pengamatan Kualitatif
No
1

Bagian
Seluruh Tubuh

Keterangan :

Ayam Layer Betina

Postur tubuh ramping dibandingkan dengan ayam pedaging.

Kepala

Keterangan :

Jengger: Single.
Warna Jengger: Merah Pucat.

12

Bulu

Keterangan :
4

Warna bulu: Kuning kecoklatan.

Kaki

Keterangan :

Warna kaki: Kuning pucat (sudah mendekati afkir).

b. Pengamatan Kuantitatif
Keterangan
Bobot badan (kg)

Betina
2

Ukuran Tubuh (cm):


Panjang Leher

13

Panjang Punggung

22

Lingkar Dada

37

Panjang Paha Bawah


Panjang Kaki

12,5
9

13

Lingkar Kaki

Lebar Dada

Panjang Dada

15

4.1.3 Ayam Broiler Betina


a. Pengamatan Kualitatif
No
1

Bagian

Ayam Broiler Betina

Seluruh Tubuh

Keterangan :

Postur tubuh lebih besar daripada ayam layer dan bagian kaki
lebih pendek.

Kepala

Keterangan :

Bulu

Jengger belum berkembang, karena usia masih kecil.

14

Keterangan :
4

Warna bulu: Putih.

Kaki

Keterangan :

Warna kaki: Kuning dan taji tidak berkembang.

b. Sifat Kuantitatif
Keterangan
Bobot badan (kg)

Betina
1,2

Ukuran Tubuh (cm):


Panjang Leher

Panjang Punggung

16

Lingkar Dada

32

Panjang Paha Bawah

Panjang Kaki

Lingkar Kaki

Lebar Dada

10

Panjang Dada

12

15

4.1.4 Kerangka Ayam


No
1

Hasil Pengamatan
Rangka

Keterangan
a. Incisive
b. Mandible
c. Quadrate
d. Nasal
e. Lacrimal
f. Occipital
g. Atlas
h. Epistropheus
i. Humerus
j. Radius
k. Ulna
l. Metacarpus
m. Phalanges
n. Scapula
o. Illium
p. Pygostyle
q. Ischium
r. Pubis
s. Femur

16

t. Fibula
u. Tibia
v. Metatarsus
w. Corucoid
x. Clavicle
4.2 Pembahasan
Praktikum kali ini membahas mengenai anatomi dan morphologi pada ayam.
Jenis ayam yang digunakan yaitu ayam kampung jantan dan betina, ayam layer
betina dan ayam broiler betina. Dari masing-masing jenis ayam tersebut memiliki
persamaan dan perbedaan dalam anatomi dan morphologinya.
4.2.1 Ayam Kampung Jantan dan Betina
Berdasarkan pengamatan secara kualitatif, ayam kampung atau ayam lokal
ini memiliki sifat yang agresif dan sangat lincah apabila dibandingkan dengan
ayam broiler dan ayam layer. Ayam ini memiliki tubuh yang relatif besar dan
terlihat gagah. Pada bagian kepala ayam ini memiliki aksesoris yang lengkap,
yaitu jengger dan pial besar. Bentuk dari jengger ayam ini adalah tipe rose
dengan warna merah pekat. Bagian jengger terdiri atas seration, blade dan
points. Jengger dan pial dari ayam kampung jantan ini tampak lebih besar dan
tebal dibandingkan ayam broiler dan ayam layer. Hal ini sesuai dengan pendapat
Suprijatna, dkk (2008) yang mengatakan bahwa jengger dan pial ayam kampung
jantan memiliki ukuran yang relatif lebih besar yang disebabkan oleh pengaruh
hormon Secondary Sex. Sedangkan menurut Mercia (2001), pertumbuhan
jengger pada ayam jantan merupakan salah satu karakter maskulinisasi oleh
aktivitas androgen yang menonjol dan paling mudah diamati. Pada ayam
kampung jantan memiliki jengger dan pial yang relatif besar. Menurut Scanes,

17

dkk., (2003), jengger dan pial yang tumbuh dan berkembang dengan baik
menunjukkan kinerja produksi dan reproduksi yang lebih baik dibandingkan
dengan ayam yang memiliki jengger kecil. Tetapi pada ayam kampung betina
jengger dan pial tidak berkembang disebabkan karena tidak adanya hormon
androgen.
Pada ayam kampung jantan, warna bulunya merah kecoklatan, abu dan
hitam. Sedangkan pada ayam kampung betina memiliki warna bulu keabuan.
Menurut North dan Bell (1990), keragaman warna bulu pada banyak situasi
bergantung pada letak bulu di tubuh ayam. Karakteristik atau pola warna bulu
atau adalah hasil interaksi genetik serta adanya pengaruh dari hormon kelamin
jantan dan betina.
Kaki ayam kampung jantan (shank) berwarna kuning yang mendominasi
adalah pigmen lipochrom, sedangkan kaki ayam kampung betina (shank)
berwarna dominan hitam yang disebabkan oleh adanya pigmen melanin. Pada
bagian kaki ayam kampung jantan memiliki kaki yang besar dan tinggi, ini
selaras dengan sifatnya yang agresif. Pada ayam kampung jantan ini taji pun
berkembang baik dan memiliki ukuran yang besar. Taji ini berfungsi sebagai
senjata untuk melindungi diri dari musuh.
Pada bagian bulu ekor utama, berjenis sickle feathers dan main tale
feathers. Kemudian pada bagian badan, terdapat bulu tipe contur yang lebih
panjang. Selain di badan, bulu contur juga terdapat di bagian ekor. Pada bagian
bawah sayap bulunya sudah tidak ada tipe plumulae.
Berdasarkan pengamatan kuantitatif, ukuran tubuh ayam kampung jantan
lebih besar dari ukuran tubuh ayam kampung betina. Ayam kampung merupakan

18

penghasil daging yang baik karena dilihat dari bobot badan serta ukuran tubuh
khususnya lebar dada ukurannya cukup besar.

4.2.2 Ayam Layer


Ayam layer atau yang lebih akrab disebut dengan ayam petelur memiliki
jengger yang bertipe single comb untuk mendapatkan angka fertilitas yang tinggi
ketika dikawinkan. Berdasarkan pengamatan kualitatif, kebanyakan ayam
sekarang memiliki comb tipe single comb. Tipe ini memiliki angka fertilitas
yang paling tinggi dibandingkan tipe jengger yang lain, ayam masa sekarang
sudah mengalami banyak pemuliaan baik di bidang jengger ataupun sifat sifat
yang lain.
Dalam ayam layer jengger bisa menjadi suatu cara untuk melihat
tingkatan produktivitas ayam tersebut. Jika jengger ayam itu berwarna merah
terang maka ayam itu sedang dalam masa produktivitas yang baik dan
sebaliknya jika warna jenggernya merah pucat maka ayam itu sedang tidak
dalam masa produktivitas maksimalnya. Pada bagian badan bulu yang
menyelimuti ayam ini adalah tipe contur, pada bagian kepala sebagian kecil
bertipe filoplumulae kebanyakan sudah menjadi plumulae. Pada bagian di bawah
sayap bulu bertipe plumulae. Bulu pada ayam ini tidak terpaut dengan jenis
kelamin. Pada bagian kaki ayam tipe layer ini memiiki kaki yang lebih panjang
dari ayam broiler, namun tidak lebih panjang dari ayam kampung.
Dari bagian kaki atau shank dapat pula diukur tingkat produktivitasnya.
Jika shank itu berwarna kuning pucat maka ayam ini dalam tingkat produktivitas
yang bagus, dan sebaliknya jika shank berwarna kuning terang maka ayam ini

19

sedang dalam tingkat produktivitas yang tidak maksumal. Dalam shank ini
terdapat dua pigmen yaitu lipochrom dan melanin. Lipochrom sendiri adalah
pigmen yang menghasilkan warna kuning dan melanin adalah pigmen yang
menghasilkan warna hitam. Jika shank berwarna pucat maka sebagian besar
lipochrom digunakan untuk pembuatan kuning telur yang menyebabkan ayam
sedang dalam kondisi produktif. Pada betina memiliki taji yang tidak
berkembang dan pada jantan memiliki taji yang berkembang.
Adapun cara untuk mengetahui produktivitas dengan menghitung jarak
tulang pubis kiri dan kanan dan jarak antara tulang sternum ke anus. Jika jarak
antar tulang pubis adalah tiga jari atau lebih, maka ayam ini produktivitasnya
tinggi, dan jika jarak dari tulang sternum ke anus adalah 4 jari atau lebih maka
dapat dikatakan produktivasnya juga tinggi.
Berdasarkan pengamatan kuantitatif, bobot ayam layer mencapai bobot 2
kg dan masih tetap berproduksi walupun mendekati afkir. Ukuran tubuh ayam
layer yang diamati lebih besar daripada ayam kampung dan juga ayam brolier.
Hal ini disebabkan karena pakan yang diberikan sangat optimal untuk
menunjang produktivitas telurnya.
4.2.3

Ayam Broiler
Berdasarkan pengamatan kualitatif, ayam broiler tidak memiliki jengger

karena ayam broiler yang diamati belum cukup umur dalam pertumbuhan
jengger. Kemudian di bagian kepala masih terdapat bagian bulu tipe
filoplumulae. Hal ini dikarenakan masa pemeliharaan yang singkat sehingga
pada broiler yang sudah siap dijual pun masih ada filoplumulaenya. Bulu di
bagian badan memiliki tipe contur, sedangkan di bagian bawah sayap merupakan

20

tipe plumulae. Pada ayam broiler betina ini bulunya berwarna putih. Pada broiler
warna putih ini adalah hasil dari persilangan- persilangan sebelumnya.
Pada bagian kaki ayam broiler memiliki kaki yang pendek, hal ini
berbanding lurus dengan sifatnya yang cenderung diam tidak begitu lincah dan
bobot badannya yang berat. Serupa dengan ayam lainnya pada betina taji di kaki
tidak berkembang dan taji pada jantan berkembang.
Berdasarkan pengamatan kuantitatif, bobot badan ayam broiler usia 28
hari mencapai 1.2 kg. Ukuran tubuhnya lebih kecil daripada ayam broiler. Tetapi
menurut Rasyaf (2000), postur tubuh ayam layer lebih ramping daripada ayam
broiler. Penyebab perbedaan ini kemungkinan karena perbedaan usia kedua
ayam tersebut.
4.2.4

Kerangka
Unggas adalah hewan bipedal, yaitu berdiri pada kedua kakinya. Namun

demikian, struktur dasar kerangka unggas umumnya analog dengan mamalia.


Beberapa perbedaan terdapat pada bagian tertentu, yaitu sebagai berikut:
1) Unggas memiliki sepasang ekstra tulang pada daerah bahu, disebut
coracoid. Sepasang tulang ini mendukung pergerakan sayap dan mendukung
melekatnya sayap pada tubuh.
2) Tulang leher (vertebrae cervicalis) pada unggas membentuk suatu bangun
seperti huruf S yang menghubungkan bagian kepala dengan tubuh. Tulang
leher ini berbeda jumlahnya untuk setiap jenis unggas. Pada ayam berjumlah
13-14 ruas, itik 15 ruas, dan angsa 17-18 ruas. Bentuk leher yang demikian
ini berfungsi sebagai pegas yang mampu mengurangi pengaruh tekanan
balik dari tubuh terhadap kepala pada saat unggas mendarat setelah terbang.

21

Selain itu, susunan tulang leher yang demikian ini juga memudahkan bagi
unggas untuk menggerakkan leher secara bebas.
3) Tulang belakang atau columna vertebralis (sepanjang punggung) dan
pinggul (thorasic column) pada unggas terdiri dari beberapa tulang yang
menyatu. Konformasi punggung yang kaku ini mendukung kuat bagi
melekatnya otot sayap dan pergerakan sayap pada saat terbang.
4) Terdapat satu lunas yang besar, serta tulang panggul yang kuat, dan kokoh
pada ileum. Tulang velvic tidak menyatu, sedikit terbuka atau tertutup tidak
rapat, sedangkan pada mamalia tertutup. Hal ini berfungsi untuk
mempermudah pengeluaran telur pada saat oviposisi. Velvic cenderung akan
meluas pada saat ayam akan bertelur dan merapat setelah selesai bertelur.
Sayap tersusun atas tulang seperti halnya pada organ ekstremitas depan
pada mamalia. Demikian pula dengan kaki, terdiri dari tulang seperti pada
mamalia. Akan tetapi, tulang pada metatarsus-umum dijumpai pada mamaliapada unggas telah bersatu dan memanjang untuk membentuk cakar.
Sistem kerangka pada unggas berkaitan dengan sistem respirasi, beberapa
tulang bersifat pneumatic, yaitu berlubang dan berhubungan dengan sistem
respirasi. Tulang-tulang ini berfungsi sebagai tempat penampungan udara dan
meringankan berat tubuh saat terbang. Adapun tulang tersebut adalah tulang
humerus dan clavicula
Produksi telur pada ayam memerlukan kecukupan kalsium karbonat
untuk membentuk kerabang. Untuk memenuhi kebutuhan ini, terdapat suatu
struktur tulang yang disebut medullary bones (tulang pipa), yaitu tibia, femur,
pubic bones, sternum, ribs, toes, ulna, dan scapula. Tulang ini mempunyai

22

rongga sumsum dengan tulang yang halus yang saling terjalin dengan baik.
Fungsinya sebagai tempat penimbunan kalsium.

23

V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Secara umum, anatomi ketiga jenis ayam yang diamati memiliki bagian
kepala, badan, ekor dan kaki yang sama. Namun, yang membedakan yaitu
pada ayam kampung baik jantan maupun betina pada bagian ekor terdapat
main tail feathers. Pada ayam layer betina terdapat jengger, sedangkan
pada ayam broiler memiliki ukuran kaki yang lebih pendek. Sistem rangka
dari ketiga ayam tersebut juga relatif sama, yang membedakan hanyalah
ukurannya saja.
2. Salah satu kegunaan mempelajari bagian-bagian anatomi dan morphologi
ayam untuk tujuan produksi adalah melihat dari warna jengger dari ayam
kampung, warna shank dari ayam layer dan lebar dada dari ayam broiler.
Semua komponen ini dapat membantu dalam penilaian produktivitas tiaptiap jenis ayam tersebut.
5.2

Saran
1. Objek pengamatan (ayam) seharusnya ada sepasang dari tiap jenis, agar
lebih mengetahui anatomi dan morpholginya.
2. Objek pengamatan sistem rangka seharusnya menggunakan objek rangka
yang utuh agar praktikan tidak kebingungan saat tidak ada organ yang
tidak lengkap.

24

DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. PT Gramedia Pustaka,
Jakarta.
Blakely, J., dan Bade, D.H. 1998. Ilmu Peternakan Edisi ke 4. Penerjemah
Srigandono, B. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Fadillah. R, 2007. Sukses Berternak Ayam Broiler. Ciganjur: PT.Agromedia
Pustaka.
Mercia LS. 2001. Storeys Guide to Raising Poultry. North Adams,
Massachusetts.
North OM, Bell DD. 1990. Commercial chicken production manual. 4th Ed.
Westport, Connecticut: The Avian Publishing Company, Inc. New York.
Rasyaf, M. 2000. Manajemen Peternakan Ayam Kampung. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Sartika T, Sulandari S, Zein MSA, Paryanti S. 2006. Karakter fenotipe/genetic
eksternal ayam lokal Indonesia. Laporan Akhir Penelitian Kompetitif
Riset Karakterisasi molekuler, LIPI :16 hlm.
Scanes CG, Brant G, Ensminger Deceased Me. 2003. Poultry Science. 4th
Edition. Prentice Hall Publisher, Inc. Danville.
Suprijatna, Edjeng dkk. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Depok: Penebar
Swadaya.
Susanti T, Iskandar S, Sopiyana S. 2006. Karakteristik kualitatif dan ukuranukuran tubuh ayam. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan,
Bogor.
Suroprawiro, P., A.P. Siregar, dan M. Sabrani. 1981. Teknik Beternak Ayam Ras
di Indonesia. Margie Group. Jakarta.

25

LAMPIRAN
Gambar 1. Ayam Kampung Jantan

Gambar 3. Ayam Broiler

Gambar 2. Ayam Kampung Betina

Gambar 4. Ayam Layer

Gambar 5. Rangka Ayam

26

(Sumber: Blakely dan Bade, 1998)

27

Pembagian Tugas:
Bab 1: Ahmad Faizal
Bab 2: Riki Riswara
Bab 3: Rismayanti
Bab 4 : Muhammad Gustara, Dian Anggraini dan Astri Hadayani
Bab 5: Riki Riswara
Lampiran: Ahmad Faizal