Anda di halaman 1dari 32

Bangun Ruang Sisi Lengkung

28

Mar
Bangun Ruang Sisi Lengkung

Di Sekolah Dasar, kamu telah mengenal bangun-bangun ruang seperti tabung, kerucut,
dan bola. Bangun-bangun ruang tersebut akan kamu pelajari kembali pada bab ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, kamu mungkin sering melihat bendabenda yang berbentuk
tabung, kerucut, dan bola. Misalnya, sebuah tangki berbentuk tabung memiliki jari-jari 15
m dan tingginya 50 m. Jika tangki tersebut akan diisi minyak tanah sampai penuh,
berapa liter minyak tanah yang diperlukan? Untuk menjawabnya, pelajarilah bab ini
dengan baik.
Di Kelas VIII, kamu telah mempelajari bangun ruang sisi tegak seperti kubus, balok,
prisma, dan limas. Pada bab ini, bangun ruang tersebut akan diperluas dengan
mempelajari bangun ruang sisi lengkung, yaitu tabung, kerucut, dan bola.Di dalam
kehidupan sehari-hari, kamu pasti pernah menemukan bendabenda seperti kaleng susu,
nasi tumpeng, dan bola sepak.

Perhatikan Gambar 2.1 . Gambar (a), (b), dan (c) merupakan contohcontoh bangun ruang
sisi lengkung. Sekarang, coba kamu sebutkan namanama bangun ruang yang diwakili
oleh gambar-gambar tersebut.
A. Tabung
sumber : Asep Kurniawan
Perhatikan Gambar 2.2 . Amatilah bentuk geometri bangun tersebut. Tabung (silinder)
merupakan bangun sisi lengkung yang memiliki bidang alas dan bidang atas berbentuk
lingkaran yang sejajar dan kongruen.

1.

Unsur-Unsur Tabung

Perhatikan Gambar 2.3 . Tabung memiliki unsur-unsur sebagai berikut.


a. Sisi alas, yaitu sisi yang berbentuk lingkaran dengan pusat P1, dan sisi atas, yaitu sisi
yang berbentuk lingkaran dengan pusat P2.
b. Selimut tabung, yaitu sisi lengkung tabung (sisi yang tidak diraster).
c. Diameter lingkaran alas, yaitu ruas garis AB, dan diameter lingkaran atas,yaitu ruas
garis CD.
d. Jari-jari lingkaran alas (r), yaitu garis P1A dan P1B, serta jari-jari lingkaranatas (r), yaitu
ruas garisP2C dan P2D.
e. Tinggi tabung, yaitu panjang ruas garis P2P1, DA, dan CB.
2. Luas Permukaan Tabung
Perhatikan kembali Gambar 2.3 . Jika tabung pada gambar tersebut dipotong sepanjang
garis AD, keliling sisi alas, dan keliling sisi atasnya, akan diperoleh jaring-jaring tabung
seperti pada Gambar 2.4 .

Selimut tabung pada Gambar 2.4 berbentuk persegipanjang dengan


panjang AA =DD = keliling alas tabung = 2r dan lebar AD =A D = tinggi tabung
= t. Jadi, luas selimut tabung = luas persegipanjang =p l = 2rt.
Luas permukaan tabung merupakan gabungan luas selimut tabung, luas sisi alas, dan
luas sisi atas tabung.
Luas permukaan tabung = luas selimut + luas sisi alas + luas sisi atas
= 2rt + r2 +r2
= 2rt + 2r2
= 2r (r + t)
Dengan demikian, untuk tabung yang tertutup, berlaku rumus sebagai berikut.

3. Volume Tabung
Masih ingatkah kamu pelajaran mengenai prisma di Kelas VIII? Pada dasarnya, tabung
juga merupakan prisma karena bidang alas dan bidang atas tabung sejajar dan
kongruen. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 2.5. Dengan demikian, volume
tabung sama dengan volume prisma, yaitu luas alas dikali tinggi. Oleh karena alas
tabung berbentuk lingkaran, volume tabung dinyatakan sebagai berikut.

B. Kerucut

Kerucut merupakan bangun ruang sisi lengkung yang menyerupai limas segi-n beraturan
yang bidang alasnya berbentuk lingkaran. Kerucut dapat dibentuk dari sebuah segitiga
siku-siku yang diputar sejauh 360, di mana sisi siku-sikunya sebagai pusat putaran.
Perhatikan Gambar 2.6 . Kerucut pada Gambar 2.6 dapat dibentuk dari segitiga sikusiku TOA yang diputar, di mana sisi TO sebagai pusat putaran.
1.

Unsur-Unsur Kerucut

Amatilah Gambar 2.7 . Kerucut memiliki unsur-unsur sebagai berikut.


a. Bidang alas, yaitu sisi yang berbentuk lingkaran (daerah yang diraster).
b. Diameter bidang alas (d), yaitu ruas garis AB.
c. Jari-jari bidang alas (r), yaitu garis OA dan ruas garis OB.
d. Tinggi kerucut (t), yaitu jarak dari titik puncak kerucut ke pusat bidang alas (ruas
garis CO).
e. Selimut kerucut, yaitu sisi kerucut yang tidak diraster.

f. Garis pelukis (s), yaitu garis-garis pada selimut kerucut yang ditarik dari titik
puncak C ke titik pada lingkaran. Hubungan antara r, s, dan t pada kerucut dinyatakan
dengan persamaanpersamaan berikut:

2.

Luas Permukaan Kerucut

Perhatikan kembali Gambar 2.7 . Jika kerucut tersebut dibelah sepanjang garis CD dan
keliling alasnya, akan diperoleh jaring-jaring kerucut seperti pada Gambar2.8. Jaringjaring kerucut pada Gambar 2.8 terdiri atas:
juring lingkaran CDD yang merupakan selimut kerucut.
lingkaran dengan jari-jari r yang merupakan sisi alas kerucut.
Pada Gambar 2.8 , terlihat bahwa panjang jari-jari juring lingkaran sama dengan s (garis
pelukis kerucut). Adapun panjang busur DD sama dengan keliling alas kerucut, yaitu 2r.
Jadi, luas selimut kerucut sama dengan luas juring CDD.

3. Volume Kerucut
Perhatikan Gambar 2.9 . Dapatkah kamu menemukan persamaan antara gambar (a) dan
gambar (b)? Pada dasarnya, kerucut merupakan limas karena memiliki titik puncak
sehingga volume kerucut sama dengan volume limas, yaitu 1/3 kali luas alas kali tinggi.
Oleh karena alas kerucut berbentuk lingkaran, volume kerucut dinyatakan oleh rumus
sebagai berikut.

C. Bola

Bola merupakan bangun ruang sisi lengkung yang dibatasi oleh satu bidang lengkung.
Bola dapat dibentuk dari bangun setengah lingkaran yang diputar sejauh 360 pada garis
tengahnya. Perhatikan Gambar 2.10 . Gambar (a) merupakan gambar setengah
lingkaran. Jika bangun tersebut diputar 360
pada garis tengah AB, diperoleh bangun seperti pada gambar (b).
1.

Luas Permukaan Bola

luas permukaan setengah bola sama dengan luas persegipanjang. Luas permukaan
setengah bola = luas persegipanjang
=pl
= 2r r
= 2 r2
Sehingga luas permukaan bola = 2 luas permukaan setengah bola
= 2 2r2
= 4r2
Jadi, luas permukaan bola dinyatakan dengan rumus sebagai berikut.

Penerapan Teori Belajar Penemuan Bruner pada Pokok Bahasan Bangun


Ruang Sisi Lengkung di Kelas IX

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Matematika adalah salah satu bidang studi yang diberikan di sekolah. Matematika
diberikan mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi. Matematika menjadi mata pelajaran
wajib di tiap-tiap sekolah yang dipandang sebagai salah satu mata pelajaran yang sangat
penting dan berguna untuk dipelajari untuk oleh setiap peserta didik. Dalam hal ini
matematika dipelajari di sekolah sebagai materi utama, namun banyak mengalami kesulitan
dalam mempelajari matematika. Kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari
matematika disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah rendahnya
kemampuan siswa. Penyebab rendahnya kemampuan siswa pada umumnya siswa lebih
suka menghafal dari pada latihan dan analisa.
Oleh karena itu dalam pengajaran sangat penting untuk mengembangkan model
pembelajaran yang secara khusus cocok dengan kelas yang akan dibinanya. Salah satu
adalah dengan menggunakan teori penemuan Bruner karena pembelajaran menggunakan
penemuan Bruner melatih siswa dalam berpikir kritis, menemukan pemecahan masalah
sendiri.
Lebih

lanjut

dikatakan

tanpa

matematika,

dunia

akan

hancur

(http://

sampoenafoundation. Org). Lebih lanjut dikatakan, matematika bisa digunakan untuk


memakmurkan negeri ini dan bisa membantu Indonesia keluar dari kondisi kritis, termasuk
dalam persoalan lingkungan. Kuncinya, matematika jangan hanya digunakan sebagai alat
untuk menghitung. Matematika harus digunakan sedemikian rupa agar bisa benar-benar
bermanfaat untuk kehidupan dan itu harus ditanamkan dalam benak siswa sejak awal
sehingga jangan sampai generasi muda (siswa)takut belajar matematika.
1

Meskipun matematika dipandang penting namun dalam kenyataannya prestasi matematika


Indonesia tergolong rendah. Fakta yang mendukung (http://zainurie. Wordpress. Com//2007)
diantaranya :
1.Data UNESCO menunjukkan, peringkat matematika Indonesia berada dideretan 34 dari 38
negara. Sejauh ini Indonesia masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan
bawah.

2.Hasil penelitian Tim Prongrammer of Internasional Student Assesment (PISA) menunjukan,


Indonesia menempati peringkat 9 dari 41 negara pada kategori literatur matematika.
Ada beberapa hal yang menyebabkan prestasi matematika Indonesia rendah, diantaranya :
1.

Tantangan mayoritas soal yang diberikan guru matematika di Indonesia

terlalu kaku. Umumnya, siswa di Indonesia lebih banyak mengerjakan soal yang
diekspresikan dalam bahasa dan simbol matematika yang diset dalam konteks atau
soal yang jauh dari realitas sehari-hari.
2.

Siswa Indonesia pada umumnya lebih suka menghafal dari pada latihan dan

analisa. Padahal matematika menuntut banyak latihan dan analisa


3.

Cara guru menyampaikan materi pelajaran yang tidak sesuai. Baik karena

metode yang tidak sesuai dengan materi atau karena cara penyampaian yang tidak
menyenangkan.
4.

Siswa menganggap matematika sebagai momok yang menakutkan.

5.

Metode pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan tradisional yang

menempatkan peserta didk dalam proses belajar mengajar.


6.

Anggapan bahwa matematika sulit sehingga membuat siswa kurang berminat

untuk belajar matematika.


Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti siswa pada umumnya lebih
suka menghafal daripada latihan dan analisa. Padahal matematika menuntut banyak latihan
dan analisa. Kebanyakan pelajaran matematika yang disampaikan guru berupa rumusrumus seringkali hanya dihafal siswa tanpa mengetahui makna dan tujuan rumus-rumus
matematika tersebut, sehingga mempengruhi hasil belajar siswa.
Menurut Sinambela (2006) faktor lain yang menyebabkan rendahnya prestasi
matematika yakni dalam penyampaian pelajaran guru kebanyakan menoton pada metode
pengajaran tersebut langsung pada siswa tanpa membuat siswa tersebut memiliki konsep
dasar tentang materi pelajaran tersebut sehingga siswa terfokus pada konsep yang
diberikan oleh guru yang mematikan pola pikir siswa untuk dapat berpikir dengan jelas,
logis, sistematis, bertanggung jawab dan memiliki kepribadian yang baik serta keterampilan
untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan masalah-masalah di atas peneliti mencoba menerapkan Teori Balajar
Penemuan yang dikemukakan oleh Bruner dalam Dahar (1996), Belajar penemuan sesuai
dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh siswa, dan dengan sendirinya memberikan
hasil yang baik, berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan
yang menyertai menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Bruner
menyarankan agar siswa-siswi hendahnya belajar melalui berpartisipasi secara aktif dengan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman,
dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengijinkan mereka untuk menemukan
prinsip-prinsip itu sendiri.

Cara belajar yang baik menurut Bruner dalam Dahar (1996) adalah Belajar
ponemuan yaitu belajar dengan cara penyajian enaktif, ikonik, dan simbolik. Penyajian
secara enaktif adalah melalui tindakan guru, cara ikonik melalui sekumpulan gambargambar yang mewakili suatu konsep dan cara simbolik menggunakan kata-kata atau
bahasa.
Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan kognitif siswa untuk
menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain. Dahar (1996)
menyatakan bahwa belajar penemuan membangkitkan keinginan siswa, memberi motivasi
untuk bekerja terus sampai menemukan jawaban-jawaban. Dengan diterapkan teori belajar
Penemuan dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar.
Mengingat hal itu, teori Bruner akan diterapkan pada penelitian ini pada pokok
bahasan yang akan dipilih adalah Bangun Ruang Sisi Lengkung, hal ini karena topik yang
sangat penting dikuasai siswa mengingat aplikasi dan kegunaanya banyak ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari.
Dengan latar belakang diatas maka penulis merasa tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul Penerapan Teori Belajar Penemuan Bruner pada Pokok
Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung di Kelas IX Semester I SMP N 1 Badar Tahun
Ajaran 2008/2009.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas dapat
diidentifikasikan masalah. Beberapa masalah yang dapat diidentifikasi antara lain:
1.

Prestasi belajar matematika siswa rendah.

2.

Siswa kesulitan dalam menterjemahkan dan menggunakan rumus-rumus

pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung.


3.

Peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar masih rendah.

4.

Rendahnya minat siswa dalam mempelajari matematika.

5.

Metode pengajaran guru lebih menekan pada keaktifan guru daripada

keaktifan siswa.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka masalah yang akan diteliti
dalam penelitian ini adalah :
1.

Bagaimana tingkat kemampuan belajar siswa dengan menerapkan teori

belajar penemuan Bruner dalam menyelesaikan Bangun Ruang Sisi Lengkung pada

Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung di Kelas IX Semester I SMP N 1


Badar Tahun Ajaran 2008/2009 ?
2.

Bagaimana aktifitas siswa dalam penerapan pembelajaran penemuan Bruner

dalam menyelesaikan Bangun Ruang Sisi Lengkung pada Pokok Bahasan Bangun
Ruang Sisi Lengkung di Kelas IX Semester I SMP N 1 Badar Tahun Ajaran
2008/2009 ?

1.4 Batasan Masalah


Agar penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik dan terarah maka masalah dalam
penelitian ini dibatasi yaitu : Bagaimana Penerapan Teori Belajar Penemuan Bruner pada
Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung di Kelas IX Semester I SMP N 1 Badar Tahun
Ajaran 2008/2009.

1.5 Tujuan Penelitian


Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah :
1.

Untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa belajar siswa dengan menerapkan teori
belajar penemuan Bruner dalam menyelesaikan Bangun Ruang Sisi Lengkung pada Pokok
Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung di Kelas IX Semester I SMP N 1 Badar Tahun Ajaran
2008/2009.

2.

Untuk mengetahui aktivitas siswa dalam pembelajaran penemuan Bruner dalam


menyelesaikan Bangun Ruang Sisi Lengkung pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi
Lengkung di Kelas IX Semester I SMP N 1 Badar Tahun Ajaran 2008/2009 .

1.6 Manfaat Penelitian


Dengan diadakan penelitian diharapkan akan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut :
1. Sebagai masukan bagi guru di SMP N 1 Badar tentang teori belajar Bruner yang diterapkan
pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung.
2. Sebagai bahan informasi sekaligus sebagai bahan pegangan bagi peneliti dalam
menjalankan tugas pengajaran sebagai calon tenaga pengajar di masa akan datang.

3. Sebagai bahan acuan bagi peneliti lain yang berkaitan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis


2.1.1 Konsep Belajar
Pendidikan

matematika

di

sekolah

menengah

adalah

kemampuan

dasar

serta kemampuan mengembangkan dalam menguasai matematika pada tingkat yang lebih
tinggi. Ini berarti proses belajar metematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri
dilakukan secara kontinu.
Untuk menangkap isi dan pesan belajar, maka dalam belajar tersebut individu
menggunakan kemampuan ranah-ranah yaitu : (1) kognitif yaitu: kemampuan berkenaan
dengan pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi, (2) afektif
yaitu : kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, partisipasi, penilaian/penentu,
sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup, (3) psikomotorik yaitu: kemampuan
mengutamakan keterampilan jasmani yang terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan
terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian gerakan dan aktifitas.
Penampilan-penampilan yang dapat diamati sebagai hasil belajar menurut Gagne
dalam Sagala (2005) disebut dengan keterampilan-keterampilan. Salah satu keterampilan
yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan menurunkan sendiri pola-pola materi
tersebut. Dari pengetahuan baru dan bukan diberi begitu saja oleh guru.

2.1.2 Hasil Belajar

Hasil belajar siswa dapat dilihat dengan adanya perubahan tingkah laku pada diri
siswa yang merupakan hasil dari proses belajar mengajar yang siswa alami. Rendahnya
hasil belajar siswa di sekolah-sekolah antara lain dipengaruhi oleh metode pengajaran,
interaksi antara guru dengan siswa.
6

Sagala (2005) menyatakan bahwa agar peserta didik berhasil diperlukan persyaratan
tertentu antara lain: (1) kemampuan berpikir yang tinggi bagi para siswa hal ini ditandai
dengan berpikir kritis, logis, sistematis, dan objektif; (2) menumbuhkan minat yang tinggi
terhadap mata pelajaran; (3) bakat dan minat yang khusus para siswa yang dapat
dikembangkan sesuai dengan potensinya; (4) menguasai bahanbahan dasar yang
diperlukan untuk meneruskan pelajaran di sekolah menjadi lanjutannya; (5) stabilitas psikis
atau tidak mengalami masalah penyesuaian diri dan seksual; (6) kesehatan jasmani; (7)
menguasai teknik belajar di sekolah dan di luar sekolah.
Perubahan yang terjadi akibat proses belajar mengajar disebut dengan hasil belajar,
dengan mengukur hasil belajar akan diketahui seberapa jauh tujuan pembelajaran tercapai.

2.1.3 Belajar Penemuan


2.1.3.1. Teori Belajar Penemuan Bruner
Bruner adalah seorang ahli psikologi kognitif (1915) yang memberikan dorongan
agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berpikir. Salah
satu model instruksional kognitif yang sangat mempengaruhi ialah model Bruner (1996)
yang dikenal dengan nama Penemuan (Discovery Learning).
Bruner

menganggap

bahwa

belajar

penemuan

sesuai

dengan

pencarian

pengetahuan secara aktif oleh siswa dan dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih
baik, siswa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang
menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.
Menurut Dahar (1996) siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif
dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar siswa dianjurkan untuk memperoleh
pengalaman dan melakukan eksperimen yang mengijinkan siswa untuk menemukan prinsipprinsip itu sendiri.
Model pemahaman konsep dari Bruner dalam Budiningsih (2005) menjelaskan
bahwa pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan
mengkategorikan yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Seluruh
kegiatan yang mengkategorikan meliputi mengindentifikasi dan menempatkan contohcontoh (objek atau peristiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu.
Dalam pemahaman konsep-konsep sudah ada sebelumnya. Sedangkan pembetukan

konsep adalah sebaliknya, yaitu tindakan untuk membentuk kategori-kategori baru. Jadi
merupakan tindakan penemuan konsep.
Menurut Bruner dalam Budiningsih (2005) bahwa kegiatan mengkategorikan memiliki
dua komponen yaitu: (1) tindakan pembentukan konsep, dan (2) tindakan pemahaman
konsep. Artinya, langkah pertama adalah pembentukan konsep, kemudian baru pemahaman
konsep. Perbedaan keduanya adalah:
1.

Tujuan dan tekanan dari kedua bentuk perilaku yang mengkategorikan ini berbeda.

2.

Langkah-langkah dari kedua proses berpikir tidak sama.

3.

Kedua proses mental membutuhkan strategi mengajar yang berbeda.


Menurut Dahar (1996) pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan
menunjukan beberapa kebaikan yaitu:

1.

Pengetahuan itu bertahan lama atau lama untuk diingat, atau lebih mudah diingat bila
dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara lain.

2.

Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil belajar
lainya. Dengan perkataan lain, konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang dijadikan milik
kognitif seorang lebih mudah diterapkan pada situasi baru.

3.

Secara menyeluruh belajar penemuan untuk berpikir secara bebas. Secara khusus, belajar
penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan
memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Selanjutnya

juga

dikemukakan

Dahar

(1996)

bahwa

belajar

penemuan

membangkitkan keingintahuan siswa, memberikan motivasi untuk bekerja terus sampai


menemukan jawaban-jawaban. Lagi pula pendekatan ini dapat mengajarkan keterampilanketerampilan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain dan meminta para siswa
untuk menganalisis dan memanipulasi informasi, tidak hanya menerima saja.
Penggunaan belajar penemuan diterapkan sampai batas-batas tertentu, yaitu
dengan mengarahkannya pada struktur bidang studi terutama diberikan oleh konsep-konsep
dasar atau prinsip-prinsip dari bidang studi itu. Bila siswa telah menguasai struktur dasar,
maka tidak sulit baginya mempelajari bahan pelajaran lain dalam bidang studi yang sama
dan siswa akan lebih mudah ingat akan bahan baru itu. Hal ini disebabkan karena telah
memperoleh kerangka pengetahuan yang bermakna, yang dapat digunakan untuk melihat
hubungan-hubungan yang esensial dalam bidang studi itu dan dengan demikian dapat
memahami hal-hal yang mendetail.
Menurut Bruner dalam Dahar (1996) mengerti suatu bidang studi ialah memahami
bidang studi itu sedemikian rupa sehingga dapat menghubungkan hal-hal lain pada struktur

itu secara bermakna. Secara singkat dapat dikatakan bahwa mempelajari struktur adalah
mempelajari bagaimana hal-hal dihubungkan.
Ada beberapa manfaat belajar penemuan menurut Panen (2002) yaitu :
1.

Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah

bermakna.
2.

Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tertinggal lama dan mudah diingat.

3.

Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang

diinginkan

dalam

belajar

penemuan

agar

siswa

dapat

mendemontrasikan

pengetahuan yang diterima.


4.

Transfer dapat ditingkatkan dimana generalisasi telah ditemukan sendiri oleh

siswa dari pada disajikan dalam bentuk jadi.


5.

Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam

menciptakan motivasi belajar.


6.

Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas.

2.1.3.2. Teori Mengajar Bruner


Dalam bagian terdahulu telah dijelaskan beberapa prinsip belajar menurut Bruner.
Dalam bagian ini akan dibahas bagaimana pengajaran atau instruksi dilaksanakan sesuai
dengan teori yang telah dikemukakan tentang belajar.
Menurut Bruner dalam Dahar (1996) suatu teori hendaknya meliputi:
1.

Pengalamanpengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar.


Belajar dan pemecahan masalah tergantung kepada penyelidikan alternatif-alternatif.
Oleh karena itu pengajaran harus memperlancar mengatur penyelidikan alternatif ditinjau
dari segi siswa. Penyelidikan alternatif-alternatif membutuhkan aktivitas, pemeliharaan dan
penghargaan. Dengan perkataan lain, penyelidikan alternatif membutuhkan sesuatu untuk
dapat mulai, sesudah mulai keadaan ini harus dipelihara atau dipertahankan, kemudian
dijaga agar tidak kehilangan.

2.

Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal.


Struktur suatu dominan pengetahuan mempunyai tiga ciri dan setiap ciri itu
mempengaruhi kemampuan siswa untuk menguasainya. Ketiga ciri itu adalah cara

penyajian (metode repsentation), ekonomi dan kuasa (power). Cara penyajian, ekonomi dan
kuasa bila dihubungkan dengan usia, gaya para siswa dan jenis bidang studi.
Ada tiga penyajian yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Penyajian dengan cara enaktif
adalah melalui tindakan guru, cara ikonik melalui sekumpulan gambar-gambar yang
mewakili suatu konsep dan cara simbolik yakni dengan menggunakan kata-kata atau
bahasa.
3.

Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajaran secara optimal.


Dalam mengajar, siswa dibimbing melalui urutan pertanyaan-pertanyaan dari suatu
masalah atau kesimpulan pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
menerima, mengubah dan mentransfer apa yang telah dipelajarinya. Jadi urutan materi
pelajaran dalam suatu domain pengetahuan mempengaruhi kesulitan yang dihadapi siswa
dalam mencapai penguasaan.

4.

Bentuk dan pemberian Reinforsemen.


Dalam teorinya, Bruner mengemukakan bahwa dalam bentuk hadiah atau pujian dan
hukuman harus dipikirkan. Demikian pula pujian dan hukuman itu diberikan salama proses
belajar mengajar, secara intuitif, jelas bahwa proses belajar mengajar berlangsung, ada
suatu hadiah ekstrinsik bergeser kehadiah intrinsik. Sebagai hadiah ekstrinsik misalnya
berupa pujian dari guru, sedangkan intrinsik timbul hasil memecahkan masalah.

2.1.3.3. Penerapan Teori Belajar Penemuan dalam Pembelajaran


Menurut Bruner dalam Dahar (1996) bahwa ada tiga cara penyampaian atau
penyajian materi pelajaran (informasi) yaitu cara penyajian enaktif, ikonik, dan simbolik.
Cara penyajian enaktif adalah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif, dengan cara
ini siswa mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan kata-kata atau
pikiran. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian melalui respon-respon motorik
yang dilakukan dengan satu set kegiatan-kegiatan untuk mencapai hasil tertentu. Jadi
penyajian cara enaktif pada dasarnya melatih siswa untuk melakukan berbagai kegiatan
yang dapat memperlihatkan kejadian atau pristiwa secara nyata.
Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh
sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefenisikan
sepenuhnya konsep-konsep itu. Penyajian ikonik terutama dikendalikan oleh prinsip-prinsip
organisasi perseptual dan oleh transformasi-transformasi secara ekonomis dalam organisasi
perseptual. Menurut Dahar (1996) penyajian ikonik didasarkan pada belajar tentang responrespon dan bentuk-bentuk kebiasaan.

Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Penggunaan penyajian


simbolik didasarkan pada sistem berpikir abstrak dan lebih fleksibel. Penyajian simbolik
dibuktikan oleh kemampuan siswa lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan dari
pada objek-objek, memberikan struktur hierarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan
kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombitorial. Dalam penerapan belajar, ketiga cara
penyajian materi pelajaran di atas secara bersamaan. Penelitian ini akan menerapkan ketiga
cara penyajian materi pelajaran tersebut.

2.1.3.4. Peranan Guru dalam Teori Belajar Penemuan Bruner


Menurut Dahar (1996) ada lima peran guru yang dirangkum untuk dapat
dilaksanakan dalam pembelajaran yang intinya :
1.

Merencanakan pembelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada


masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para siswa.

2.

Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi siswa untuk memecahkan
masalah. Materi pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan
belajar penemuan. Siswa dituntut untuk menyelidiki berbagai masalah, menyusun hipotesishipotesis dan mencoba untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang
mendasari masalah.

3.

Guru seharusnya memperhatikan tiga cara penyajian pembelajaran yaitu: dengan cara
enaktif, ikonik, dan simbolik. Untuk menjamin keberhasilan belajar, guru hendaknya jangan
menggunakan cara penyajian yang tidak sesuai dengan tingkat kognitif siswa. Disarankan
agar guru mengikuti dari enaktif ke ikonik dan simbolik, jadi demikian pula harapan tentang
urutan pengajaran.

4.

Guru hendaknya sebagai seorang tutor. Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium
atau teoritis, guru hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan
yang akan dipelajari tetapi guru hendaknya memberikan saran-saran bila diperlukan dan
memberi umpan balik pada waktu tertentu sedemikian rupa sehingga siswa tidak selalu
tergantung pada pertolongan guru.

5.

Menilai hasil belajar siswa merupakan salah satu belajar penemuan penilaian hasil belajar
penemuan tentang prinsip-prinsip dasar mengenai suatu bidang studi dan kemampuan
siswa tidak menerapkan prinsip-prinsip itu pada situasi baru. Untuk maksud ini bentuk tes
dapat berupa tes okjektif atau tes essai.

2.1.4 Aktifitas Belajar

Proses belajar yang dilakukan di kelas merupakan aktifitas mentranformasikan


pengetahuan, sikap, dan keterampilan, pengajar diharapkan mampu mengembangkan
kapasitas belajar, kompetensi belajar dan potensi yang dimiliki oleh siswa secara penuh.
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat
yang dimilikinya, berpikir kritis, dan dapat memecahkan permasalahanpermasalahan
dalam kehidupan sehari- hari.
Gagne

dan

Briggs

dalam

Yamin

(2004) menjelaskan

rangkaian

kegiatan

pembelajaran yang dilakukan untuk menumbuhkan aktifitas dan partisipasi siswa di dalam
kelas meliputi sembilan aspeks yaitu :
1.

Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka berperan aktif dalan
pembelajaran.

2.

Menjelaskan tujuan intruksional (kemampuan dasar) kepada siswa.

3.

Mengingatkan kompetensi prasyarat.

4.

Memberikan stimulus (masalah, topik, dan konsep) yang dipelajari.

5.

Memberi petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya.

6.

Memunculkan aktifitas dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.

7.

Memberikan umpan balik (feed back).

8.

Melakukan tagihan tagihan terhadap siswa berupa tes dan kemampuan siswa selalu
terpantau dan terukur.

9.

Mengumpulkan setiap materi yang dilemparkan diakhir pembelajaran.


Menurut Paul dalam Yamin (2004) jenis aktifitas belajar siswa sebagai berikut:

1.

Kegiatan visual, seperti: membaca, melihat gambargambar, bereksperimen,


berdemontrasi, mengamati orang lain bekerja.

2.

Kegiatan lisan (oral), seperti: mengemukakan fakta, mengajukan pendapat, memberi saran,
mengajukan pertanyaan, wawancara, diskusi.

3.

Kegiatan mendengar, seperti: mendengarkan percakapan, diskusi, mendengarkan radio,


pidato.

4.

Kegiatan menulis seperti: menulis cerita, laporan, karangan, membuat rangkuman, mengisi
angket.

5.

Kegiatan menggambar seperti: menggambar, membuat grafik, bagan, diagram peta.

6.

Kegiatan metrik seperti: melakukan percobaan, melihat alat-alat, belajar berperan.

7.

Kegiatan mental seperti: mengingat, memecahkan masalah, menganalisis dan membuat


keputusan.

8. Kegiatan emosional seperti: minat, membedakan, berani, gembira, tenang, bersemangat,


dll.

2.1.5 Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung


Alokasi waktu pembelajaran Matematika SMP adalah 4 jam pembelajaran
perminggu, dengan satu kali pertemuan 40 menit, minggu efektif dalam satu tahun pelajaran
( dua semester) adalah 34-38 minggu dan alokasi waktu Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi
Lengkung adalah 12 jam (Kumpulan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor
22,23,24 tahun 2006).
Standar Kompetensi
Memahami sifat-sifat Tabung, Kerucut dan Bola serta menentukan ukurannya.
Kompetensi Dasar
a.

Mengindentifikasi unsur-unsur Tabung, Kerucut dan Bola.

b.

Menghitung luas selimut dan volume Tabung, Kerucut dan Bola.

c.

Memecahkan masalah yang berkaitan dengan Tabung, Kerucut dan Bola.

( Kumpulan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 22, 23, 24 tahun 2006).


Sub pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung meliputi:

2.1.5.1.Unsur-Unsur pada Tabung dan Kerucut.

2.1.5.1.1 Unsur-Unsur Tabung.

Gambar 2.1 Unsur tabung

Gambar di atas menunjukkan sebuah tabung. Tabung terdiri dari sisi alas yang
selanjutnya disebut tutup, dan sisi lengkung yang selanjutnya disebut dengan selimut
tabung.
Sisi alas dan sisi atas (tutup) tabung berbentuk lingkaran yang kongruen (sama
bentuk dan sama ukurannya).
Garis OA,OB,OC disebut jari-jari alas tabung.
Garis AB disebut diameter atau garis tengah tabung.
Garis BQ atau AP disebut tinggi tabung.
2.1.5.1.2 Unsur-Unsur pada Kerucut.

Gambar 2.2 Unsur kerucut

Pada gambar di atas menunjukkan sebuah kerucut. Kerucut terdiri dari sisi alas yang
berbentuk lingkaran dan sisi lengkung yang selanjutnya disebut dengan selimut kerucut.
Garis OA,OB dan OC disebut jari-jari alas kerucut
Garis AB disebut dengan diameter atau garis tengah alas kerucut
Garis TO disebut tinggi kerucut
Garis TA dan TB, yaitu garis yang menghubungkan titik puncak kerucut dengan titik pada
keliling alas yang disebut dengan garis pelukis.

2.1.5.2. Jaring jaring Tabung dan Kerucut

2.1.5.2.1. Jaringjaring Tabung

Gambar 2.3 jaring-jaring tabung

Gambar di atas menunjukkan sebuah tabung dengan panjang jari-jari alas r dan
tinggi t, Tabung tersebut diiris menurut rusuk lengkung atas, rusuk lengkung bawah, dan
garis PQ. Kemudian direbahkan sehingga menjadi bangun datar yang ditunjukkan pada
gambar.
Bagian datar pada gambar disebut dengan jaring-jaring tabung jaring-jaring tabung
terdiri dari dua lingkaran yang kongruen dan sebuah persegi panjang.

2.1.5.2.2. Jaring-jaring Kerucut

Gambar 2.4 Jaring-jaring kerucut

Gambar di atas menunjukkan sebuah kerucut dengan panjang jari-jari alas r dan
tinggi t. Kerucut pada gambar di iris menurut rusuk lengkung dengan garis pelukis TQ.
Kemudian direbahkan sehingga terjadi bidang datar seperti ditunjukkan pada gambar.

Bangun datar yang terjadi disebut jaring-jaring kerucut. Jaring-jaring kerucut terdiri dari
sebuah lingkaran dan sebuah jaring lingkaran.

2.1.5.3 Luas Sisi Tabung, Kerucut, dan Bola


2.1.5.3.1 Luas Sisi Tabung

Gambar 2.5 Luas sisi tabung

Dari gambar tersebut dapat diamati bahwa jaring-jaring selimut (sisi lengkung)
tabung berbentuk peregi panjang dengan ukuran sebagai berikut:
Panjang selimut

= Keliling lingkaran

Lebar selimut tabung

= Tinggi tabung

Dengan demikian luas selimut tabung dapat ditentukan dengan cara berikut ini.
Luas selimut tabung

= Keliling lingkaran x tinggi


= 2r t

Setelah diperoleh rumus untuk luas selimut Tabung, maka dapat ditentukan pula rumus luas
seluruh sisi tabung, yaitu:

Luas seluruh sisi tabung

= Luas alas + luas tutup + luas selimut


= r2 + r2 + 2 r t
= 2 r (r + t)

2.1.5.3.2. Luas Sisi Kerucut

Gambar 2.6 Luas sisi kerucut

Gambar 2.6 adalah jaring-jaring selimut kerucut setelah kerucut diiris menurut garis
pelukis s. ternyata, jaring-jaring selimut kerucut tersebut merupakan juring lingkaran dengan
ukuran sebagai berikut:
Panjang jari-jari
Panjang busur

= s (garis pelukis)
= 2 r

Dengan demikian, luas selimut kerucut dapat ditentukan dengan menggunakan


perbandingan luas juring dan perbandingan panjang busur sebagai berikut:

Luas selimut kerucut =

Luas selimut kerucut =

rs

Berdasarkan rumus luas kerucut, maka dapat ditentukan luas seluruh isi kerucut, yaitu :
Luas sisi kerucut

= Luas alas + luas selimut


=

r2 +

r (r+s)

rs

2.1.5.3.3. Luas Permukaan Bola

Gambar 2.7 Luas permukaan bola

Gambar 2.7 adalah setengah bola yang yang terbuat dari plastik, kemudian
permukaan setengah bola tersebut dililit dengan benang mulai dari puncaknya sehingga
benang tersebut menutupi permukaan setengah bola tanpa celah dan tidak saling menutupi
(bertumpuk).
Selanjutnya benang yang digunakan untuk menutupi permukaan setengah bola
dibuka lilitannya, kemudian dipakai untuk menutupi lingkaran nilai dari titik pusat dengan jarijari lingkaran sama dengan jari-jari bola yaitu r. Ternyata benang tersebut dapat digunakan
untuk menutupi dua buah lingkaran.
Dari hasil percobaan di atas dapat diperoleh hubungan berikut:
Luas permukaan bola = 2 luas setengah bola
= 2 (2 luas lingkaran)
= 2 (2
=4

r2

r2 )

2.1.5.4 Volume Tabung, Kerucut, dan Bola

2.1.5.4.1 Volume Tabung

Gambar 2.8 Volume tabung

Gambar di atas adalah tabung dengan panjang jari-jari alas = r dan tinggi = t
kemudian disekat-sekat menjadi bangunan yang sama besar seperti ditunjukan pada
gambar di atas sehingga juring-juring yang terbentuk pada bidang atas tabung memiliki
sudut sama besar.
Selanjutnya, bangun-bangun tersebut dirangkai sehingga terbentuk bangun seperti
di atas. Jika besar sudut pusat juring yang disekat semakin kecil, maka garis AB dan DC
makin mendekati garis lurus, sehingga bangun yang terjadi merupakan prisma.
Berdasarkan uraian di atas, diperoleh hubungan bahwa luas alas tabung sama
dengan luas alas prisma sehingga diperoleh hubungan berikut ini.
Volume tabung = Volume prisma
= Luas alas prima x tinggi prisma
= Luas alas tabung x tinggi tabung
= Luas lingkaran x t
=

r2 t

r2 t

Untuk setiap tabung (silinder) berlaku rumus berikut :


V=

r2 t

Dengan v= volume, r= jari-jari, t= tinggi dan nilai

= 3,14 atau

V = Luas alas t
V=

r2 t

2.1.5.4.2. Volume Kerucut


Karena kerucut dapat dipandang sebagai limas yang alasnya berbentuk lingkaran,
maka rumus volume limas berlaku untuk kerucut, sehingga :

`
Gambar 2.9 Volume kerucut

V=

V=

luas alas t

r2t

Pada gambar dibuat garis pelukis, yaitu garis yang menghubungkan titik puncak
kerucut dengan titik pada keliling lingkaran. Ternyata s, r, dan t merupakan sisi-sisi pada
sebuah segitiga siku-siku, sehingga dapat diperoleh rumus:
s2 = t2 + r2

2.1.5.4.3. Volume Bola

Gambar 2.10 Volume bola

Gambar di atas merupakan setengah bola dengan panjang jari-jari r, dan sebuah
kerucut dengan panjang jari-jari r dan tinggi r juga. Jika kerucut diisi penuh dengan tepung,
kemudian tepung tersebut dituangkan dalam setengah bola dapat memuat tepat 2 kali
volume kerucut, sehingga dapat dituliskan persamaan sebagai berikut :
Volume bola

= 2 setengah volume bola


= 2 2 volume kerucut

=4

r2t

r2t

2.2 Kerangka konseptual


Banyak metode mengajar yang dapat digunakan guru dalam mengajar, salah
satunya adalah metode penemuan Bruner. Metode penemuan ini adalah metode yang
tepat , efektif, dan efisien dalam proses belajar mengajar matematika disamping metode
lainnya. Metode ini melibatkan seluruh aktifitas siswa dalam belajar. Siswa dilibatkan dalam
proses kegiatan mental melalui menbaca sendiri, mencoba sendiri agar dapat belajar sendiri
dan guru membimbing dan memberi instruksi. Siswa tidak hanya menerima informasi saja
tetapi siswa juga diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru dan kepada siswa
lainnya. Siswa belajar mandiri, menemukan dan dapat mencari selesaian dari suatu
permasalahan yang diberikan.
Pelaksanaan metode penemuan Bruner dalam pengajaran Pokok Bahasan Bangun
Ruang Sisi Lengkung dilaksanakan dengan melibatkan siswa secara aktif dalam
menemukan luas permukaan dan volume dari tabung, kerucut, dan bola. Dengan
terbiasanya siswa belajar melalui penemuan sendiri, kesulitan-kesulitan dalam mempelajari
Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung dapat teratasi sehingga dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 1 Badar Tahun Ajaran 2008/2009. Penelitian ini
akan dilaksanakan pada semester ganjil.

3.2.
3.2.1.

Subjek dan Objek Penelitian


Subjek Penelitian
Dari 7 (tujuh) kelas siswa kelas IX SMP N 1 Badar diambil satu kelas sebagai subjek

penelitian. Subjek penelitian dipilih secara acak karena berdasarkan informasi dari wakil
kepala sekolah dan guru SMP N 1 Badar kemampuan belajar siswa setiap kelas homogen.
3.2.2. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah Penerapan Teori Belajar Bruner pada Pokok Bahasan
Bangun Ruang Sisi Lengkung di Kelas IX Semester 1 SMP N 1 Badar T.A. 2008/2009.

3.3. Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan,
mendiskripsikan, dan mencatat perkembangan proses belajar mengajar di kelas dalam
pembelajaran Bangun Ruang sisi Lengkung dengan menerapkan teori belajar Bruner.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif berguna
menemukan data yang berbentuk kata-kata.

3.4. Prosedur Penelitian


Prosedur penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
1.

Persiapan penelitian mencakup penyusunan skenario pembelajaran, menyusun kisi-kisi


tes, menyusun tes, penyusunan lembar observasi.

2.
2
3

Memberikan tes awal kepada siswa.


3.

Memeriksa dan menilai hasil tes awal siswa.

4.

Melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan teori belajar Bruner.

5.

Melakukan observasi pada saat pembelajaran yang dilakukan guru matematika.

6.

Memberikan tes akhir setelah materi berakhir.

7.

Memeriksa dan menilai hasil tes siswa.

8.

Melakukan analisis data dari tes hasil belajar.

3.5. Desain Penelitian


Desain penelitian ini menggunakan desain pretes-postes pada skema berikut ini:

Keterangan :

X = Treatment (perlakuan)
Y1 = Pemberian pretes
Y2 = Pemberian posttes
O = Observasi

3.6. Alat Pengumpul Data


3.6.1

Tes
Yang dijadikan sebagai instrumen dalam penelitian ini adalah evaluasi belajar
posttes. Sebelum tes diujikan diadakan pembelajaran dengan teori belajar penemuan
Bruner.
Data dalam penelitian ini dianalisis untuk mengetahui kesimpulan terhadap pelaksanaan
penerapan teori belajar Bruner pada pembelajaran Bangun Ruang Sisi Lengkung.
Diantaranya melihat tingkat kemampuan siswa dan masalah-masalah yang dihadapi siswa.
Adapun teknik analisis data yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut :
1.

Reduksi Data
Setelah tes hasil belajar dilakukan, selanjutnya tes tersebut dikoreksi, dipelajari dan
ditelaah yang bertujuan untuk menggolongkan, menyusun data dan mengorganisasikan
jawaban jawaban siswa berdasarkan butir soal.
Tabel 3.1 Kriteria pemberian skor soal yaitu:
Langkah Interval
I

(0-5)

Keterangan
Skor 0 : Tidak memberikan jawaban
Skor 1 : Menulis diketahui dan ditanya tidak lengkap
Skor 2 : Menulis diketahui dan ditanya dengan lengkap
Skor 3 : Menulis diketahui dan ditanya dengan lengkap
: Menulis aturan penyelesaian dengan tuntas tetapi hasilnya
salah
Skor 5 : Menulis aturan penyelesaian dengan tuntas dan
hasilnya benar.

3.6.2 Lembar Observasi


Observasi adalah teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan
pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.Untuk mengumpulkan data
selama proses pembelajaran berlangsung peneliti dibantu oleh observan yaitu guru
Matematika di kelas yang diajar (kelas yang dilakukan penelitian). Menurut Sudjana (2006)
peran observan adalah mengamati dan menilai aktivitas pembelajaran yang berpedoman
pada lembar obseravasi yang telah disiapkan. Hasil observasi kemudian di analisa.

3.7. Teknik Analisis Data


Setelah tes hasil belajar dilakukan, selanjutnya tes tersebut dikoreksi, dipelajari dan
ditelaah yang bertujuan untuk menggolongkan, menyusun data dan mengorganisasikan
jawabanjawaban siswa berdasarkan butir soal. pembelajaran pada penelitian ini ditinjau
dari aspek tingkat penguasaan materi pembelajaran pada siswa secara individual.

a.

Tingkat Penguasaan Siswa


Tingkat penguasaan siswa dapat ditentukan dengan memakai hitungan :
PPH (Persentase Pencapaian Hasil Belajar).

(Suryosubroto, 2002)
Penguasaan siswa tercermin pada tinggi rendahnya skor mentah yang dicapai oleh siswa
tersebut.
Tabel 3.2 Pedoman Tingkat Penguasaan Siswa
Tingkat Penguasaan

Kategori

90-100 %

Sangat Tinggi

80-89 %

Tinggi

65-79 %

Sedang

55-64 %

Rendah

0-54 %

Rendah Sekali

Nurkancana, (1986) dalam Sri Handayani

Tingkat penguasaan siswa secara klasikal (kelas) akan dipenuhi jika minimal termasuk
ke dalam kategori sedang.
b.

Hasil Observasi
Dari hasil observasi yang telah dilakukan abserver, dilakukan penganalisaan dengan
menggunakan rumus :

(Suryosubroto, 2002)
Dimana

Pi = Hasil Pengamatan pada Pertemuan ke-i

Selanjutnya : dicari rata-rata hasil pengamatan dengan mengunakan rumus :

(Suryosubroto, 2002)

Dengan :
K = Rata-rata hasil pertemuan
n = Banyaknya pertemuan

Dengan kriteria :
3.40 4.0

= Hasil observasi adalah amat baik

2.80 3.39

= Hasil observasi adalah baik

2.60 2.79

= Hasil observasi adalah sedang

2.20 2.59

= Hasil observasi adalah kurang

0.00 2.19

= Hasil observasi adalah sangat kurang

(UPPL Unimed 2006)


Pembelajaran dikatakan tuntas jika dari hasil pengamatan observer, pembelajaran
termasuk dalam kategori baik atau baik sekali.