Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Daerah penelitian termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten
Semarang dan Kabupaten Boyolali yang termasuk ke dalam Zona Kendeng.
Zona Kendeng merupakan suatu antiklinorium yang pada bagian utaranya
berbatasan langsung dengan Zona Rembang dan pada bagian selatan
berbatasan dengan jalur pegunungan api aktif Quarter di Pulau Jawa bagian
Tengah-Timur menurut Bemmelen (1970).
Pada daerah penelitian menggunakan studi mengenai asal mula batuan
(provenance) dari batupasir Formasi Kerek untuk mengetahui sumber batuan
tersebut. Daerah penelitian merupakan salah satu tempat yang mudah
ditemukan singkapan perlapisan dari Formasi Kerek. Sehingga memudahkan
dalam mengamati singkapan yang ada. Faktor yang dapat mempengaruhi
keterdapatan batuan yang ada di lokasi penelitian dapat berupa tektonik,
pelapukan maupun proses transportasi dari sumber asalnya. Pengaruh
tektonik dapat berasal dari pengaruh struktur yang terbentuk di daerah
tersebut yang dapat memindahkan atau membawa batuan menuju tempat yang
baru. Proses pelapukan menyebabkan batuan yang sudah ada sebelumnya
hancur kemudian dapat berpindah karena adanya agen transportasi yang dapat
berupa angin maupun air.
Kegiatan Tugas Akhir yang dilakukan dengan menggunakan metode
stratigrafi terukur (Measuring Stratigraphy) pada Kali Bantar, Desa
Jlumpang, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Data yang diambil di
lapangan berupa stratigrafi terukur pada Kali Bantar dengan data litologi,
struktur geologi dan keadaan di sekitar sungai dari suatu singkapan (outcrop).
Data tersebut kemudian dianalisis untuk mendapatkan data petrografi dan
data mineral berat.
1.2 Rumusan Masalah

Penelitian tugas akhir ini meneliti batupasir Formasi Kerek dengan


melakukan pengukuran stratigrafi (Measuring Stratigraphy) pada lintasan
Kali Bantar, Kecamatan Bancak dan beberapa sampel yang diambil di sekitar
lintasan Kali Bantar tersebut. Setelah itu sampel dilakukan analisis petrografi
dan analisis mineral berat. Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini
adalah :
a. Apa jenis batuan asal (provenance) dari batupasir Formasi Kerek pada Kali
Bantar?
b. Bagaimana diagenesis yang terjadi batupasir Formasi Kerek pada Kali
Bantar?
c. Apa jenis lingkungan pengendapan batupasir Formasi Kerek pada Kali
Bantar?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud
Maksud dari penelitian tugas akhir ini adalah :
Melakukan pengukuran stratigrafi (Measuring Stratigraphy) dan
conto batupasir dari Kali Bantar sesuai section yang sudah
ditentukan
Melakukan analisis petrografi dan analisis mineral berat
Melakukan pemetaan geologi daerah sekitar penelitian
1.3.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian tuags akhir ini adalah :
Mengetahui batuan asal (provenance) dari batupasir Formasi Kerek

daerah penelitian
Mengetahui proses diagenesis yang terjadi pada batupasir Formasi

Kerek daerah penelitian


Mengetahui lingkungan pengendapan batupasir Formasi Kerek
daerah penelitian

1.4 Batasan Masalah


Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian tugas akhir ini
meliputi :
a. Penentuan batuan asal (provenance) berdasarkan komposisi dan mineral
berat batupasir daerah penelitian
b. Penentuan proses dan lingkungan diagenesis melalui gejala diagenesis
yang terekam dalam sayatan tipis (thin section)

c. Penentuan lingkungan pengendapan dari batupasir Formasi Kerek daerah


penelitian berdasarkan data lapangan, data petrografi dan data mineral
berat
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan adalah untuk
mengetahui asal dari batupasir, proses diagenesis terbentuk batupasir dan
lingkungan pengendapan dari daerah yang dilakukan penelitian. Sehingga
dapat diketahui dari mana asal dari batupasir Formasi Kerek yang berada di
daerah penelitian tugas akhir.
1.6 Ruang Lingkup
1.6.1 Lokasi Penelitian
Lokasi daerah penelitian tugas akhir berada di Desa Jlumpang,
Kecamatan Bancak dan sekitarnya, yang termasuk dalam Kabupaten
Semarang dan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Secara geografis,
lokasi penelitian berada pada koordinat UTM pada zona 49 (108 0E1140E belahan bumi Selatan) dengan datum WGS 84 berada pada
koordinat (455.320, 9.202.570) dan (461.320, 9.196.600). Lembar Peta
Rupa Bumi yang digunakan termasuk dalam lembar A1408-613,
A1408-614, A1408-631 dan A1408-632, dengan luas lokasi penelitian
36,06 km2 (6,004 x 6,006 km).

Gambar 1.1 Lokasi Penelitian Tugas Akhir

1.6.2

Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian tugas akhir ini berada di sekitar Desa Repaking,
Plumutan, Jlumpang, Boto, Bancak, Karanglangu dan sekitarnya, yang

masuk ke dalam dua kabupaten yang berbeda yaitu Kabupaten


Semarang dan Kabupaten Boyolali. Penelitian yang dilakukan meliputi
penelitian lapangan dengan mengamati secara singkapan (outcrop),
kemudian diambil sampel dan dilakukan analisis berupa analisis
petrografi dan analisis mineral berat. Hasil akhir yang diharapkan
berupa batuan asal (provenance) dari daerah penelitian beserta
diagenesis yang terjadi dan lingkungan pengendapan dari daerah
penelitian tersebut.
1.7 Penelitian Terdahulu
Pelaksanaan penelitian diperlukan data sekunder yang masuk kedalam
tahap awal dan persiapan, untuk mengetahui keadaan geologi daerah
penelitian secara umum. Data sekunder yang diperoleh berupa laporan
penelitian yang berada di sekitar daerah penelitian penulis, yang digunakan
sebagai acuan pembelajaran keadaan geologi daerah penelitian, diantaranya
adalah :
a. Sukardi dan Budhitrisna. 1992. Peta Geologi Lembar Salatiga Skala
1:100.000. Bandung: Pusat Penelitian Dan Pengembangan Geologi.
Bandung.
b. Mardianza, Andi. 2007. Geologi dan Korelasi Geokimia Antara Minyak
dan Gas dengan Batuan Sedimen Formasi Kerek di Daerah Boto dan
Sekitarnya, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Program Studi Teknik
Geologi, Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral, Institut
Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat.
c. Smyth, H. R., Hall, Robert, dan Nichols, G. J. 2008. Cenozoic Volcanic
Arc History of East Java, Indonesia : The Stratigraphic Record of
Eruption on an Active Continental Margin. The Geological Society of
America, Special Paper 436. p 200-223. Amerika Serikat.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Geologi Regional
Geologi regional daerah penelitian dilihat dari aspek geomorfologi,
stratigrafi dan struktur geologi yang berkembang.
2.1.1 Geomorfologi Regional
Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali terletak pada
suatu cekungan antara Perbukitan Rembang dan Pegunungan Kendeng.
Secara fisiografi Boyolali dapat dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona
Perbukitan Rembang dibagian utara, Perbukitan Kendeng di selatan,
dan zona dataran yang dikenal sebagai Depresi Randublatung di bagian
tengah. Berdasarkan atas fisiografi regional oleh Bemmelen (1970),
maka daerah penelitian terletak di daerah Perbukitan Kendeng (Gambar
2.1).

Gambar 2.1 Peta Fisiografis Daerah Jawa Tengah

Zona

Kendeng

sering

disebut

dengan

nama

Kendeng

Anticlinorium, karena tersusun oleh kompleks antiklin berarah timurbarat. Dimensi Zona Kendeng memiliki panjang sekitar 250 km dan
lebar sekitar 40 km di bagian Barat, semakin menyempit ke arah Timur
hingga selebar 20 km. Ketinggian topografinya kurang dari 500 m. Di
bagian Utara Ngawi terbentuk depresi pada sumbu perlipatan yang
dapat dilalui oleh Sungai Bengawan Solo, dan sekaligus membagi Zona
Kendeng menjadi dua bagian, yaitu bagian Barat dan bagian Timur.
2.1.2

Stratigrafi Regional
Secara regional daerah Kabupaten Semarang dan sekitarnya
telah dipetakan dalam peta geologi skala 1:100.000 yang dibuat oleh
PPPG Bandung yang terdapat pada lembar peta yaitu Peta Geologi
Lembar Salatiga (Sukardi dan Budhitrisna, 1992). Daerah penelitian
termasuk dalam Pegunungan Kendeng.
Stratigrafi Mandala Kendeng pada umumnya terdiri dari
endapan turbidit klastik, karbonat, dan vulkaniklastik yang merupakan
endapan laut dalam, terutama dibagian bawah. Semakin ke atas,
berkembang menjadi endapan laut yang semakin dangkal dan akhirnya
terbentuk endapan darat di bagian atas. Secara stratigrafis, Formasi
batuan yang menyusun Mandala Kendeng dari yang tertua sampai
termuda (Gambar 2.2) adalah :
a. Formasi Pelang (Tomp)
Formasi Pelang merupakan Formasi tertua yang diendapkan di
Zona Kendeng. Formasi ini tersusun oleh napal bersisipan dengan
batugamping, napal lempungan dengan lensa kalkarenit bioklastik
yang banyak memiliki komposisi fosil foraminifera besar, serta
memiliki komposisi foraminifera plangtonik yang dijumpai pada
napal. Formasi ini menunjukkan kemungkinan umur N4 atau
Oligosen Akhir-Miosen Awal.
6

b. Formasi Kerek (Tmk)


Formasi ini mempunyai ciri khas berupa perselingan antara
batulanau, batulempung, batupasir gampingan dan batugamping
pasiran; terdapat komposisi hasil aktivitas gunungapi, bagian atas
napal bersisipan dengan batupasir tufan-gampingan, batulanau tufan
dan batupasir kerikilan. Formasi ini terbentuk pada Miosen Awal
Miosen Akhir (N10-N18) pada lingkungan shelf. Satuan ini
diendapkan selaras di atas Formasi Pelang.
c. Formasi Kalibeng
Bagian atas dari Formasi Kalibeng (Pringgoprawiro, 1983)
terdiri dari napal pejal; napal bersisipan batupasir tufan, dan bintal
batugamping di bagian bawah. Formasi ini terendapkan pada umur
Pliosen (N19-N21), yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal
tidak jauh dari pantai, pada suatu paparan pinggir pantai.
d. Breksi Gunungapi (Qvb)
Formasi ini terdiri dari breksi gunungapi, konglomerat dan
batupasir tuffan yang terendapkan dari hasil aktivitas gunung berapi.
e. Alluvium (Qa)
Alluvium dijumpai sebagai kerakal, kerikil, pasir, lempung,
lumpur dan sisa tumbuhan, merupakan hasil endapan sungai dan
endapan banjir dari sungai-sungai yang ada, berwarna abu-abu
kekuningan, keruh agak kehitaman, mudah lepas sampai lepas,
terpilah buruk. Endapan ini menempati daerah daratan, setempat
berawa-rawa yang sebagian besar dijadikan lahan pertanian dan
perkebunan.

Gambar 2.2 Kolom Stratigrafi Kendeng Barat (Pringgoprawiro, 1983)

2.1.3

Struktur Geologi Regional

Struktur geologi regional daerah penelitian adalah struktur yang


berkembang di Zona Kendeng bagian Barat. Zona Kendeng adalah
sebuah antiklinorium berarah Barat-Timur yang memanjang dari
Gunung Ungaran di Barat sampai Sungai Brantas di Timur.
Pengangkatan pertama di Zona Kendeng terjadi pada Pliosen Akhir
yang dicirikan oleh endapan vulkanik yang tidak selaras di atas lapisan
sedimen dari Formasi Banyak yang berumur Miosen Akhir. Fase
tektonik ini disebabkan oleh pergerakan epirogenesis yang berakhir
pada Pleistosen. Struktur yang dihasilkan berupa lipatan yang ketat dan
sesar- sesar yang intensif. Struktur ini memanjang berarah barat-timur.
Secara umum struktur-struktur yang ada di Zona Kendeng
berupa :
a. Lipatan
Lipatan yang ada pada Daerah Kendeng sebagian besar berupa
lipatan asimetri, bahkan beberapa ada yang berupa lipatan rebah
(overturned). Secara umum lipatan di Daerah Kendeng berarah
Barat-Timur.
b. Sesar Naik
Sesar naik ini biasa terjadi pada lipatan yang banyak dijumpai di
Zona Kendeng dan biasanya merupakan kontak antar formasi atau
anggota formasi. Adapun jenis sesar naik yang ada pada Zona
Kendeng merupakan sesar naik dengan tipe thrust dan reverse.
c. Sesar Geser
Sesar geser pada Zona Kendeng biasanya berarah Timur LautBarat Daya dan Tenggara-Barat Laut.
2.2 Batupasir
Batupasir adalah batuan yang memiliki ukuran butir pasir (1/64 mm-1
mm) pada skala ukuran butir Wentworth (1922). Batupasir tersusun oleh
klastika-klastika yang terjadi karena proses pengendapan secara mekanis dan
banyak dijumpai allogenic minerals. Allogenics minerals adalah mineral yang

tidak terbentuk pada lingkungan sedimentasi atau pada saat sedimentasi


terjadi. Mineral ini berasal dari batuan asal yang telah mengalami transportasi
dan kemudian terendapkan pada lingkungan sedimentasi. Pada umumnya
mineral yang memiliki resistensi tinggi. Contohnya : kuarsa, biotit,
hornblende, plagioklas, dan garnet.
Batupasir terbentuk dari pengendepan kembali hancuran dari batuan
asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, batuan sedimen dan batuan
metamorf. Dalam pembentukannya, batuan sedimen klastik mengalami
diagenesis yaitu perubahan yang berlangsung pada temperatur rendah di
dalam suatu sedimen selama dan sesudah litifikasi.
Adapun beberapa proses yang terjadi dalam diagenesis, yaitu :
a. Kompaksi
Kompaksi terjadi jika adanya tekanan akibat penambahan beban.
b. Authigenesis
Mineral baru terbentuk dalam lingkungan diagenetik, sehingga adanya
mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen. Mineral
autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut : karbonat, silika,
kaolinit, klorit, klastika, illit, gipsum dan lain-lain.
c. Rekristalisasi
Rekristalisasi yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan
kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagnesis atau
sebelumnya. Rekristalisasi sangat umum terjadi pada pembentukkan
batuan karbonat. Sedimentasi yang terus berlangsung di bagian atas
sehingga volume sedimen yang ada di bagian bawah semakin kecil dan
cairan (fluida) dalam ruang antar butir tertekan keluar dan migrasi kearah
atas berlahan-lahan.
d. Pelarutan (Dissolution)
Biasanya pada urutan karbonat akibat adanya larutan menyebabkan
terbentuknya

rongga-rongga

di dalam jika tekanan cukup

kuat

menyebabkan terbentuknya struktur iolit. (Endarto, 2005)


2.2.1

Klasifikasi Batupasir
Batupasir merupakan

batuan

sedimen

klastik

yang

diklasifikasikan berdasarkan ukuran butirnya (menurut ukuran butir dari


Wenworth), namun akan lebih baik lagi ditambahkan mengenai

10

komposisi material yang dapat memperjelas dalam penamaan batuan


sedimen klastik seperti komposisi materialnya.
Deskripsi batuan sedimen yang komplit terdiri dari beberapa
informasi butiran sedimen yang ditemukan saat ini. Nama tidak resmi
seperti micaceous sandstone digunakan pada saat batuan memiliki
komposisi mineral khusus berupa mineral mika. Nama tersebut sangat
membantu dalam penamaan conto batuan di lapangan, namun dalam
penamaan dari analisis petrografi pada sayatan tipis dengan mikroskop,
nama formal dapat digunakan dengan menggunakan klasifikasi Dott
(1964) (gambar 2.3).
Penamaan batuan sedimen klastik dibuat berdasarkan klasifikasi
Dott (1964). Penamaan dilakukan dengan membuat presentase dari
komposisi kuarsa, feldspar dan fragmen batuan. Persentase dari masingmasing butiran dapat mengacu pada gambar 2.4.

Gambar 2.3 Klasifikasi Batupasir dengan Tipe Utama Batupasir berupa Quartz,
Arenites dan Greywacke Berdasarkan Klasifikasi Dott (1964) dalam Tucker (2003)

11

Gambar 2.4 Presentase Persebaran Butir pada Batupasir dalam Tucker (2003)

2.2.2

Struktur Sedimen Klastik


Struktur pada batuan sedimen klastik yang biasa ditemukan
adalah Sebagai berikut:
a. Laminasi
Struktur laminasi menunjukkan pola perlapisan, dimana tebal antara
lapisan tersebut kurang dari 1 cm.
b. Perlapisan
Struktur perlapisan menunjukkan pola perlapisan yang tebalnya lebih
dari 1 cm.
c. Cross Bedding
Bentuk lapisan atau laminasi yang terpotong pada bagian atasnya
oleh lapisan atau laminasi berikutnya dengan sudut yang berlainan
dalam satu satuan perlapisan.
d. Ripple Mark
Bentuk permukaan yang bergelombang karena adanya arus.
e. Struktur Pembebanan (Load coast)
Struktur yang terjadi karena deformasi yang lekukan pada
permukaan lapisan akibat gaya tekan dari beban di atasnya.

Gambar 2.6 Load Cast

f. Graded Bedding
Struktur graded bedding merupakan struktur yang khas, dimana
butiran makin ke atas makin halus atau semakin ke atas butiran
semakin kasar. Graded Bedding sangat penting sekali artinya dalam
penelitian untuk menentukan yang mana atas (up) dan yang bawah
(bottom).

12

2.2.3

Tekstur Sedimen Klastik


Dalam pengamatan mengenai tekstur batuan sedimen klastik,
yang perlu diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut:
a. Fragmen
Fragmen batuan merupakan material detritus atau runtuhan
akibat fragmentasi dari batuan sumber. Batuan beku yang sering
menjadi fragmen batuan adalah batuan vulkanik dan gelas,
sedangkan pada batuan metamorf adalah kuarsit, sekis, filit dan
slate. Keberadaan fragmen batuan dapat membantu interpretasi
batuan asal, sejarah transport dan diagenesis. Fragmen batuan lebih
sering ditemukan pada batupasir yang mature (quartz rich)
dibandingkan dengan batupasir immature. Berikut merupakan jenis
dari fragmen batuan pada batupasir menurut :
Fragmen batuan beku : fragmen batuan vulkanik (Felsic grain,

mikrolitic grain), batuan beku hipabisal dan plutonik


Fragmen batuan sedimen : batupasir epiklastik hingga butiran
siltstone, butiran vulkanoklastik, shale clast, rijang dan butiran

karbonat
Fragmen batuan metamorf : butir dengan fabrik tektonik, butir
metasedimen, butir metabeku, butir dengan fabrik nonfoliasi,
butiran mikrogranular dan butiran mikrofanetik.

13

Gambar 2.8 Fragmen batuan A. fragmen batuan vulkanik, B. Fragmen


sandstone clasts, C. Fragmen batuan metamorf, D. Fragmen chert. Pada nikol
bersilang (Mackenzie, 1984)

b. Matriks
Butiran yang berukuran lebih kecil daripada fragmen dan
diendapkan bersama-sama fragmen.
c. Semen
Material halus yang menjadi pengikat, semen, diendapkan
setelah fragmen dan matrik. Semen umumnya berupa silica, kalsit,
sulfat atau oksida besi.
d. Ukuran Butir
Ukuran butir pada batuan sedimen memiliki fungsi untuk
mendeterminasi proses transportasi dari batuan sumbernya, semakin
halus ukuran butir maka semakin jauh material tersebut sudah
tertransport karena telah banyak mengalami proses pengikisan.
Selain itu ukuran butir juga dapat digunakan untuk memperkuat data
tentang lingkungan pengendapan, semakin halus ukuran butir
sedimen maka akan berhubungan dengan mekanisme pengendapan
gravitasional yang relatif tenang. Ukuran butir yang digunakan
adalah skala Wentworth (1992) yaitu:
Tabel 2.1 Skala ukuran butir Wentworth (1922) (dalam Gary Nichols, 2009)

14

e. Bentuk Butir
Bentuk butir mencakup tingkat kebulatan (sphericity) dan
kebundaran (roundness). Kebundaran (roundness) adalah sifat
bentuk partikel yang berhubungan dengan derajat ketajaman atau
kelengkungan tepi dan pojok-pojoknya. Roundness secara geometri
tidak tergantung dari sphericity. Sedangkan sphericity adalah derajat
kebulatan suatu partikel sehingga secara tiga dimensi ukuran
sumbunya mendekati sama. Atau perbedaan luas permukaan objek
dengan luas permukaan bola yang volumenya sama dengan volume
objek. Bentuk butir ini dapat menjelaskan suatu tingkat abrasi yang
dialami oleh material sedimen saat proses transportasi, sehingga
dengan melihat bentuk butir dari sedimen dapat melakukan
interpretasi jarak transport namun ini merupakan kondisi ideal
pembentukan batuan sedimen atau tanpa gangguan. Pada batupasir
bentuk butir material pasir sudah tergolong sub roundness untuk
pasir kasar hingga well roundess untuk yang berukuran pasir halus.
f. Kemas
Kemas merupakan salah satu tekstur batuan sedimen yang
memperlihatkan kontak antar butir pada batuan sedimen dan
cenderung berasosiasi dengan ukuran butir batuan sedimen itu
sendiri. Kemas dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
Kemas Terbuka
Jika kontak antar butir sedimen terbuka yang disebabkan oleh
ukuran butir sedimen yang berbeda sehingga kerapatan antar

butirnya menjadi terbuka.


Kemas Tertutup
Jika kontak antar butir sedimen tertutup yang disebabkan oleh
ukuran butir sedimen yang seragam sehingga kerapatan antar
butirnya sangat rapat sehingga dapat dikatakan tertutup. Pada
batupasir tekstur kemas yang sering dijumpai adalah kemas
tertutup karena ukuran butir yang relatif halus, namun dapat juga

15

dijumpai tekstur kemas terbuka pada batupasir dengan komposisi


butir yang beragam.
g. Sortasi
Sortasi merupakan derajat pemilahan dari suatu butiran sedimen.
Sortasi sangat berkaitan dengan kemas. Semakin seragam ukuran
butir yang diendapkan, semakin baik sortasinya dan kemas semakin
tertutup. Begitu pula sebaliknya jika ukuran butir tidak seragam,
semakin jelek sortasi dan kemasnya semakin terbuka. Pada batupasir,
jika ukuran batupasir seragam maka dapat tergolong pada sortasi
baik, begitu pula sebaliknya jika ukuran butir tidak seragam pada
batupasi maka sortasi dapat termasuk buruk.

Gambar 2.10 Klasifikasi sortasi pada batuan sedimen (dalam Gary Nichols, 2009)

2.2.4

Komposisi Batupasir
Batupasir sebagai batuan hasil rombakan batuan yang sudah ada
sebelumnya akan menghasilkan variasi komposisi penyusunnya. Pada
batupasir, mineral yang ditemukan merupakan mineral hasil proses
pelapukan dari batuan sumber yang kemudian mengalami perjalanan ke
suatu cekungan pengendapan sedimen. Berikut merupakan beberapa
mineral detritus yang sering ditemukan pada batupasir :

16

a. Kuarsa
Mineral silika yang paling sering ditemukan pada batupasir
adalah kuarsa, dikarenakan mineral kuarsa memiliki tingkat
resistensi yang tinggi terhadap proses sedimentasi sehingga hadir
dalam komponen pembentuk batuan sedimen, termasuk batupasir.
Meskipun kuarsa sering bertindak sebagai mineral detritus primer
yang menyusun batupasir, namun kuarsa juga dapat berupa autigen
sebagai hasil dari overgrowth kuarsa selama proses diagenesis yang
nantinya bertindak sebagai semen pada batupasir. Kuarsa dapat
dibedakan menjadi dua jenis yaitu polikristalin dan monokristalin.
Kuarsa polikristalin merupakan kuarsa yang tersusun dari kumpulan
kristal hasil dari rombakan batuan metamorf atau kuarsit, sedangkan
monokristalin merupakan kristal atau mineral tunggal. Pada sayatan
tipis mineral kuarsa memiliki ciri fisik atau sifat optik yaitu :

Bentuk tak beraturan


Colorless
Sering mengalami pemanjangan bentuk
Relief rendah
Tidak ada belahan
Gelapan bergelombang
Warna interferensi abu abu orde 1

17

Gambar 2.11 Kenampakan Mineral Kuarsa Polikristalin dan Kuarsa


Monokristalin pada Sayatan Tipis (Tanda Panah) pada Nikol Bersilang
(Mackenzie, 1984)

b. Feldspar
Feldspar merupakan mineral yang terdapat pada komposisi
batupasir terbanyak setelah kuarsa. Mineral feldspar ini merupakan
mineral

yang

kurang

stabil

dibandingkan

dengan

kuarsa.

Kenampakan mineral feldspar dengan mineral kuarsa hampir


memiliki kesamaan dalam bentuk serta warna, namun memiliki
perbedaan yaitu pada gelapan dan kembaran. Selain itu tingkat
resistensi dari feldspar juga lebih rendah sehingga mudah digantikan
oleh mineral yang lainnya. Karena tingkat resistensinya maka
presentase mineral feldspar pada batupasir umumnya lebih sedikit
dibandingkan dengan kuarsa. Feldspar dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu alkali feldspar dan plagioklas feldspar.
Mineral plagioklas feldspar merupakan seri padatan-larutan
yang terdiri dari NaAlSi3O8 (albit) hingga CaAl2Si2O8 (Anorthit)
(Pettijohn,1973). Plagioklas memiliki kembaran albit. Mineral ini
mudah dibedakan dari kuarsa dan feldspar lainnya ketika kembaran
dapat terlihat.

18

Gambar 2.12 Kembaran Sebagai Penciri dari Plagioklas Feldspar pada Nikol
Bersilang (Mackenzie, 1984)

c. Mineral mika
Mineral mika merupakan salah satu mineral detritus pada
batupasir. Mineral mika yang umumnya terdapat pada batupasir
adalah biotit dan muskovit. Klorit juga pada beberapa kasus
ditemukan. Mineral mika dan klorit ini merupakan mineral dari
batuan metamorf namun untuk biotit dapat terbentuk pada batuan
beku intrusif maupun vulkanik atau pada granit. Sedangkan
muskovit biasanya berasal dari pegmatit dan granit. Mineral mika ini
biasanya pada batupasir tidak lebih dari 2 persen. Muskovit secara
kimia lebih labil dibanding biotit sehingga keterdapatannya lebih
banyak dibanding biotit. Berikut merupakan sifat optik dari mineral
mika pada sayatan tipis :
Biotit memiliki ciri-ciri : berwarna kuning, coklat atau hijau, jika
terkena leaching akan colorless, warna interferensi merah, biru,

dan hijau orde 2


Muskovit memiliki ciri-ciri : colorless, warna interferensi merah,

biru, dan hijau orde 2


Klorit memiliki ciri-ciri warna hijau

19

Gambar 2.13 Kehadiran Mineral Mika pada Batupasir (Mackenzie, 1984)

d. Mineral lempung
Pada batupasir kehadiran mineral lempung umumnya bertindak
sebagai matrik. Karena ukurannya yang sangat halus, dalam
melakukan identifikasi mineral lempung tidak mudah dilakukan
pengamatan dengan mikroskop, lebih baik jika menggunakan XRD
ataupun SEM. Pembentukan mineral lempung ini biasanya terjadi
pada fase diagenesa batuan, jadi dengan kata lain mineral lempung
merupakan autigenik. Mineral lempung yang umum dijumpai adalah
kaolinit, monmorilonit, glaukonit, klorit, dan zeolit. Berbagai jenis
zeolit juga ditemukan dalam batupasir, terutama pasir vulkaniklastik
dan pasir lain yang mengandung material vulkanik (terutama gelas).
e. Mineral berat
Pada batupasir terdapat mineral aksesori berukuran pasir dengan
ciri khas berat jenis lebih dari 2,85 gram yang dikenal dengan
mineral

berat.

Keberadaan

mineral

berat

ini

juga

dapat

mengindikasikan batuan sumber dilihat dari komponen mineral


beratnya. Keberadaan mineral berat pada rata-rata batupasir adalah
sekitar 1 persen, berbeda dengan pasir resen yang memiliki lebih
banyak mineral berat. Mineral berat dibagi menjadi dua kelompok
utama yaitu mineral opak dan mineral non opak.
Mineral opak terdiri dari : zirkon, rutil, turmalin, apatit, garnet,
monazit, biotit, staurolit, hornblende, augit, diposid, olivin,
ankerit, barit, brookit, kasiterit, kloritoid, chrondrit, clinozoisit,
corundum, kromit, dumortierit, fluorit, glaukopan, lawsonit,

20

magnesit, monazit, pitotit, pleonas, siderit, spinel, spodumen,

topaz, vesuvianit, wolframit, xenotim, zoisit


Mineral non opak terdiri dari : magnetit, ilmenit, hematit, limonit,
pitit, dan leucoxen.

2.2.5

Diagenesis
Diagenesis pada batuan sedimen klastik sangat memengaruhi
dalam proses pembentukan batuan. Diagenesis merupakan proses fisika,
kimia dan biologi yang secara umum mengubah sedimen menjadi
batuan sedimen. Diagenesis terjadi lebih lanjut setelah sedimen
membentuk batuan, mengubah tekstur dan mineraloginya.
Tahapan diagenesis biasanya dibagi menjadi 3 (tiga) tahap yang
disebut dengan rezim diagenesis. Pada masing-masing tahapan
memiliki proses diagenesis dan efek yang berbeda-beda. Ketiga tahapan
rezim diagenesis tersebut yaitu eogenesis, mesogenesis dan telogenesis.
a. Eogenesis (Shallow Burial)
Prinsip perubahan yang terjadi pada tahap eogenesis meliputi
proses bioturbasi, kompaksi minor, penyusunan ulang fragmen
batuan dan perubahan mineralogi sedimen. Bioturbasi terjadi akibat
organisme yang masuk di dalam atau permukaan endapan sedimen
dengan berbagai cara, yaitu merayap, menggali atau dengan cara
yang lain. Bioturbasi ini dapat merubah struktur sedimen primer
seperti laminasi dan membentuk berbagai jejak hasil organisme.
Perubahan akibat organisme biasanya hanya memberikan sedikit
efek terhadap komposisi mineralogi batuan dan kimiawi dari
endapan sedimen.
Diagenesis awal memberikan sejumlah efek penting terhadap
perubahan mineralogi pada batuan sedimen silisiklastik. Kebanyakan
perubahan yang terjadi berupa presipitasi mineral baru. Pada
lingkungan laut yang berlaku kondisi reduksi (oksigen rendah) akan
membentuk pirit. Pirit dapat terbentuk sebagai semen atau dapat
menggantikan mineral lain. Reaksi penting lainnya termasuk
pembentukan klorit, glaukonit, mineral lempung dan oksida besi
21

(contoh lempung merah pada dasar samudra) dan presipitasi dari


quartz overgrowth dan semen karbonat. Pada lingkungan bukan laut
yang berlaku proses oksidasi, hanya sedikit pirit yang terbentuk.
Sebaliknya, oksida besi (geotit dan hematit) banyak terbentuk,
menyebabkan lapisan merah. Pembentukan kaolinit dan presipitasi
kuarsa serta semen kalsit banyak terbentuk.
Diagenesis awal meliputi semua proses reaksi mineral pada
batupasir dan air pori dari deposisi penimbunan. Diagenesis awal
sangat penting, karena pada tahap ini porositas akan berubah secara
signifikan oleh sementasi awal dan akan berpengaruh pada tahapan
selanjutnya.
b. Mesogenesis (Deep Burial)
Kompaksi terjadi akibat

tekanan

pembebanan

yang

menyebabkan penimbunan (burial) yang lebih dalam yang secara


signifikan meningkatkan pemampatan dari butiran sedimen yang
menyebabkan hilangnya porositas dan lapisan menjadi semakin tipis.
Meningkatnya tekanan pada kontak antarbutiran juga menyebabkan
meningkatnya daya larut dari butiran pada bagian kontaknya,
menunjukkan butiran yang mengalami hancur sebagian. Proses ini
dikenal sebagai kompaksi kimia atau pressure solution. Kompaksi
kimia

yang

lebih

lanjut

akan

mengurangi

porositas

dan

menyebabkan lapisan menjadi semakin tipis. Dibawah pengaruh


kompaksi kimia dan fisik, ditambah dengan sementasi, porositas
primer dari pasir dan lempung akan berkurang sangat banyak selama
pembebanan dalam (deep burial). Kompaksi juga menyebabkan
terbentuknya bengkokan dari grain yang fleksibel seperti mika dan
tertekannya butiran halus seperti fragmen batuan.
Proses kimia dan perubahan yang terjadi apabila meningkatnya
temperatur 100C selama proses penimbunan dapat menyebabkan
reaksi kimia dua kali lipat atau tiga kali lipat. Mineral yang stabil
pada saat diendapkan dapat menjadi tidak stabil selama pembebanan
dalam (deep burial). Meningkatnya temperatur menyebabkan

22

formasi menjadi lebih padat, berkurangnya mineral hydrous dan


menyebabkan meningkatnya daya larut kebanyakan mineral kecuali
mineral karbonat. Mineral silika menunjukkan kecenderungan
melarutkan dengan pembebanan yang semakin dalam (dan
temperatur), dimana mineral karbonat seperti kalsit mengalami
presipitasi. Disisi lain, menurunnya pH (meningkatnya keasaman)
dari air pori dengan kedalaman dapat menyebabkan terjadinya
pelarutan dari karbonat. Meningkatnya tekanan selama pembebanan
dalam (deep burial) menyebabkan meningkatnya daya larut dari
mineral pada kontak butiran, hasil dari pelarutan sebagian dari
mineral. Proses ini, melepaskan silika menjadi air pori, merupakan
mekanisme yang sangat penting untuk melengkapi silika yang dapat
mengalami presipitasi menjadi mineral silika baru. Hal yang lebih
penting pada proses ini yaitu sementasi, penggantian dan autigenesis
mineral lempung.
Sementasi
Sementasi adalah proses terjadinya presipitasi kimia pada
pembentukan kristal baru, terbentuk di pori-pori sedimen atau
batuan yang mengikat satu butir dengan butir yang lainnya.

Semen yang umum dijumpai yaitu kuarsa, kalsit dan hematit.


Pelarutan
Tekanan pelarutan yaitu suatu proses dimana tekanan
terkonsentrasi pada satu titik antara dua butir yang menyebabkan
pelarutan dan migrasi ion atau molekul yang menjauhi titik
tersebut. Melalui proses tersebut massa tertransportasi dati titik
kontak menuju tempat dengan tekanan yang lebih rendah yang

memungkinkan terjadinya presipitasi dari larutan tersebut.


Penggantian (Replacement)
Penggantian merupakan proses dimana mineral

baru

menggantikan (secara kimia dan fisik) didalam mineral tersebut.


Penggantian dapat bersifat neomorfik, dimana butiran yang baru
memiliki fase yang sama dengan asalnya. Dapat pula bersifat
psedomorfik, dimana fase baru merupakan tiruan daru bentuk luar
23

yang digantikan tetapi fasenya berbeda. Sifat yang ketiga yaitu


allomorfik, dimana penggantian terjadi dalam bentuk fase yang
baru yang biasanya berbeda bentuk kristalnya dan menggantikan

sepenuhnya fase asalnya.


Autigenesis
Autigenesis merupakan proses dimana mineral baru mengalami
kristalisasi didalam sedimen atau batuan selama proses diagenesis
ataupun setelahnya. Mineral baru dapat terbentuk melalui reaksi
didalam fase pada sedimen, atau dapat pula muncul karena

presipitasi dari material yang masuk melalui fase fluida.


c. Telogenesis
Batuan sedimen yang telah tertimbun dan mengalami diagenesis
pembebanan dalam (deep burial) kemudian dapat mengalami
pengangkatan oleh aktivitas mountain-building akibat erosi. Proses
ini membawa mineral yang terkumpul, termasuk mineral baru yang
terbentuk selama mesogenesis, dalam lingkungan dengan temperatur
dan tekanan yang lebih rendah. Selain itu air pada pori akan
tergantikan oleh air yang kaya akan oksigen, air meteorik asam oleh
hujan dengan salinitas rendah. Perubahan kondisi ini, semen yang
terbentuk sebelumnya dan butiran dapat terlarutkan (membentuk
porositas sekunder) atau butiran dapat terubah menjadi mineral
lempung. Proses dari tahap telogenesis terjadi ketika batuan sedimen
berada di permukaan dan mengalami proses pelapukan.
2.2.6

Batuan Asal (Provenance)


Interpretasi batuan asal penting dilakukan pada batuan
silisiklastik karena mineral silisiklastik dan fragmen batuan yang
tersimpan didalam batuan sedimen memberikan bukti penting dari
litologi batuan sumber.
Berikut beberapa contoh batuan asal dengan mienral asosiasi
menurut Pettijohn (1948), yaitu :
a. Sedimen Rombakan (Reworked Sediments)

24

Mineral asosiasi : kuarsa, rijang, turmalin (membulat), zirkon


(membulat).
b. Metamorf Tingkat Rendah (Low-rank Metamorphic)
Mineral asosiasi : fragmen slate dan filit, kuarsa, fragmen kuarsit,
turmalin (euhedral dengan inklusi karbon).
c. Metamorf Tingkat Tinggi (High-rank Metamorphic)
Mineral asosiasi : garnet, hornblend, kianit, silimanit, staurolit,
kuarsa, apidot, magnetit.
d. Batuan Beku Asam
Mineral asosiasi : apatit, biotit, hornblend, zirkon (euhedral), kuarsa,
mikroklin, magnetit.
e. Batuan Beku Basa
Mineral asosiasi : augit, hipersten, ilmenit, rutil.
f. Pegmatit
Mineral asosiasi : fluorit, turmalin, muskovit, albit.
Dickinson dan Suzeck (1979) mengemukakan

metode

penentuan asal batupasir. Metode yang dicetuskannya membahas


tentang hubungan antarkomposisi batupasir dengan sumber sedimen.
Penyebaran dari jenis batupasir yang berbeda satu dengan yang lain
dipengaruhi oleh tatanan tektoniknya. Konsep ini disempurnakan
dengan memisahkan berbagai komposisi batupasir kedalam tuga tipe
batuan asal umum (gambar 2.14).

Gambar 2.14 Hubungan Antara Komposisi Batupasir dan Tatanan Tektonik


(Dickinson dan Suzeck, 1979)

25

BAB III
METODOLOGI
3.1 Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan dalam tugas akhir ini dimulai
dengan tahap awal dan persiapan, tahap pengambilan data, tahap analisis dan
tahap akhir. Uraian dari masing-masing tahapan metodologi penelitian ini
adalah :
3.1.1 Tahap Awal dan Persiapan
Tahap ini merupakan tahap awal dan persiapan dari program
penelitian Tugas Akhir ini yang berupa studi literatur mengenai tema
penelitian. Studi literatur meliput studi mengenai geologi regional
daerah penelitian yakni stratigrafi, litologi, struktur geologi. Selain studi
literatur, tahap persiapan terdiri dari peminjaman alat, persiapan
melakukan pemetaan geologi dan pengumpulan data sekunder seperti
3.1.2

peta topografi, peta rupa bumi Indonesia dan peta geologi regional.
Tahap Pengambilan Data
Pada tahap ini merupakan pengambilan data-data primer di
lokasi penelitian. Data-data tersebut didapatkan dengan melakukan
pengukuran stratigrafi pada lintasan yang telah ditentukan yang

26

dianggap memiliki singkapan perlapisan sedimen yang baik dan jelas.


Pada pengukuran stratigrafi juga dilakukan pengambilan conto litologi
yang nantinya akan digunakan untuk dianalisis di laboratorium.
Kemudian dilakukan pula pengamatan litologi daerah sekitar lintasan
3.1.3

pengukuran stratigrafi dan geomorfologi daerah penelitian.


Tahap Analisis
Pada tahap ini merupakan tahap analisis laboratorium dari datadata yang diperoleh di lapangan, antara lain berupa conto-conto litologi
yang nantinya akan dianalisis dengan menggunakan analisis petrografi
dengan sayatan tipis untuk mengetahui batuan asal (provenance) dari
conto batupasir. Selain analisis petrografi, conto batuan dianalisis
dengan analisis mikrofosil untuk mengetahui umur relatif batuan.
Hasil pengambilan data di lapangan diperoleh peta berupa peta
geologi, peta lintasan dan kolom stratigrafi. Dari peta geologi dapat
dibuat sayatan profil untuk mengetahui proses pengendapan batuan dan
struktur yang terbentuk pada daerah penelitian. Hasil kolom stratigrafi
dapat diketahui urutan pengendapan lapisan batuan sedimen dari umur

3.1.4

yang tua hingga umur yang paling muda.


Tahap Akhir
Tahap akhir dari penelitian ini berupa peta geologi, peta lintasan,
sayatan profil dan laporan penelitian.

3.2 Objek Penelitian


Objek dari penelitian yang dilakukan penulis yaitu batuan asal dari
batupasir dengan menggunakan analisis mineral berat dan analisis petrografi
secara khusus. Secara umum mengetahui keadaan geologi daerah penelitian
sehingga dapat diperoleh hasil berupa lingkungan pengendapan dan struktur
yang terbentuk, sehingga dibutuhkan data berupa litologi, struktur geologi
dan stratigrafi di daerah penelitian. Selain itu, diperlukan pula data sekunder
berupa peta topogradi, peta Rupa Bumi Indonesia dan peta geologi daerah
penelitian, sehingga dapat mempermudah saat melakukan penelitian.
3.3 Data Penelitian
Data yang diperlukan dalam penelitian tugas akhir ini berupa :
a. Data satuan litologi

27

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Data stratigrafi terukur


Data jurus dan kemiringan batuan
Data struktur geologi
Conto batuan untuk analisis petrografi dan mikrofosil
Data koordinat dan stasiun pengamatan
Peta topografi skala 1:25.000
Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1:25.000
Peta geologi skala 1:25.000

3.4 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian tugas akhir
berlangsung adalah :
3.4.1 Alat
Alat-alat yang digunakan selama penelitian dibagi menjadi dua, alat
saat di lapangan dan alat di laboratorium adalah :
3.4.1.1 Alat Lapangan
Alat yang diperlukan selama pengambilan data di lapangan
adalah :

Kompas geologi Brunton


Palu geologi : palu batuan beku dan palu batuan sedimen
Pita ukur 50 meter
Larutan HCl 30%
Buku catatan lapangan
Kamera digital Casio Exilim 14,1 MP
Kamera handphone Samsung Galaxy Tab 3 5MP AF
GPS Garmin etrex 30
Clipboard
Penggaris
Busur
Alat tulis
Kuas
Spidol dan marker
Kantong sampel ukuran 1 kilogram

3.4.1.2 Alat Laboratorium


Alat yang digunakan selama analisis di laboratorium adalah :
Mikroskop binokular Olympus
Larutan Peroksida (H2O2) 30%
Wadah
Ayakan ukuran 50, 100 dan 200
Kantong sampel 1 ons
Jarum
28

3.4.2

Lilin
Kuas 0,0

Bahan
Bahan yang digunakan selama penelitian adalah :

Citra DEM SRTM Pulau Jawa dan peta topografi Desa Jlumpang,
Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang dan sekitarnya dengan

skala 1:12.500 (seamless.usgs.gov, 2013)


Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) lembar Wiru, Karanggede,
Kedungjati dan Pabelan dengan skala 1:25000, lembar A1408-613,

A1408-614, A1408-631 dan A1408-632 (BAKOSURTANAL)


Peta Geologi Regional Skala 1:100.000 Lembar Salatiga (Sukardi

dan Budhitrisna, 1992)


Software MS.Word 2007
Software MS. Excel 2007

Software MapInfo 10.0 Discover 12.0


Software Global Mapper 13
Software DIPS

Software CorelDraw X4

3.5 Diagram Alir Penelitian

29

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

3.6 Hipotesis Penelitian


Hipotesis dari penelitian tugas akhir ini adalah :
a. Berdasarkan data formasi yang menyusun daerah penelitian dapat diperkirakan
litologi yang akan ditemukan yaitu perselingan antara batulanau,
batulempung, batupasir karbonatan, batugamping pasiran, batupasir tufan
dan batupasir kerikilan.
b. Berdasarkan Smyth (2008),

terdapat

endapan

sedimen

vulkanik

yang

teridentifikasi pada Cekungan Kendeng terdiri dari volcanic lithic


conglomerates, batuan yang kaya akan kuarsa dan volcanic lithic-rich
sandstones.
c. Berdasarkan geologi regional, diduga Formasi Kerek (Tmk) memiliki 2
lingkungan pengendapan, yakni deep marine dan shelf
d. Berdasarkan peta geologi skala 1:100.000 lembar Salatiga (Sukardi dan
Budhitrisna, 1992), Formasi Kerek (Tmk) merupakan Formasi Tertua
setelah Formasi Pelang (Tomp) didalam cekungan Kendeng, maka diduga
batuan pada Formasi Kerek (Tmk) telah mengalami tahap diagenesis awal,
lanjut dan akhir.

30

BAB IV
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
4.1 Geomorfologi
Daerah penelitian yang berada di daerah Jlumpang dan sekitarnya,
dibagi menjadi beberapa satuan geomorfologi yang dibedakan berdasarkan
proses yang terjadi di daerah penelitian tersebut. Proses-proses geologi yang
mempengaruhi pembentukan geomorfologi pada daerah penelitian pun
menentukan bentuk geomorfologi yang ada pada saat ini. Proses yang terjadi
dapat berupa proses endogen yang berasal dari dalam bumi yang sifatnya
tektonik, seperti ditemukan struktur geologi di daerah penelitian. Selain itu
dapat dipengaruhi pula dari proses eksogen yang berasal dari luar bumi yang
dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Seperti adanya proses pelapukan, erosi
maupun proses pengendapan. Serta dapat pula dipengaruhi kegiatan manusia
seperti pengeprasan bukit untuk tujuan tertentu. Kegiatan manusia ini juga
dapat mempengaruhi bentukan morfologi.
Berdasarkan proses-proses yang terjadi di daerah penelitian, maka
satuan geomorfologi dibagi menjadi 3 (Brahmantyo, 2006), yaitu :
a. Satuan bentuklahan perbukitan antiklin Plumutan
b. Satuan bentuklahan perbukitan terkikis Jlumpang
c. Satuan bentuklahan dataran alluvial Kali Bantal
4.1.1

Satuan Bentuklahan Perbukitan Antiklin Plumutan


Satuan bentuklahan perbukitan antiklin Bantal merupakan
satuan bentuklahan yang terbentuk karena adanya proses tektonik yang
membentuk struktur lipatan antiklin. Daerah ini memiliki persen
kelerengan 62,5%, menunjukkan daerah ini memiliki kelerengan yang
terjal (gambar 4.1) terlihat dari kontur yang lebih rapat pada peta
topografi.

Struktur antiklin

yang

terbentuk tersebar

di Desa

Karanglangu dan Plumutan.

31

Struktur lipatan antiklin terbentuk karena adanya gaya tekan


yang menyebabkan lapisan batuan terlipat. Daerah ini memiliki litologi
penyusun berupa satuan batupasir perselingan batulanau dan satuan
batulanau perselingan batupasir.

Gambar 4.1 Kenampakan Daerah dengan Kelerengan Terjal

Satuan bentuklahan ini memiliki persebaran paling luas, karena


di daerah penelitian ditemukan banyak struktur lipatan yang menjadi
dasar dalam pengelompokan satuan bentuklahan berdasarkan proses
yang berkembang di daerah tersebut.
4.1.2

Satuan Bentuklahan Perbukitan Terkikis Jlumpang


Daerah yang termasuk dalam satuan bentuklahan perbukitan
terkikis Jlumpang memiliki kontur renggang dengan persentase
kelerengan sekitar 5,94%, sehingga daerah ini memiliki kelerengan
landai (gambar 4.2). Pada daerah ini berkembang proses erosi. Hal ini
ditunjukkan dengan daerah yang landai.
Daerah ini disusun oleh litologi berupa batulanau perselingan
batupasir. Batulanau yang lebih dominan menunjukkan tingkat
resistensi yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah dengan
dominan batupasir.
Daerah satuan bentuklahan perbukitan terkikis Jlumpang
dimanfaatkan warga sebagai lahan pertanian dan beberapa daerah
dimanfaatkan sebagai lahan permukiman. Daerah dengan dataran yang
lebih luas membuat daerah ini aman untuk daerah permukiman dan
mudah untuk dijadikan lahan pertanian.

32

Gambar 4.2 Kenampakan Daerah dengan Kelerengan Landai,

Daerah dengan satuan bentuklahan ini memiliki penyebaran di


bagian Utara daerah penelitian dengan satuan litologi berupa satuan
batulanau perselingan batupasir.
4.1.3

Satuan Bentuklahan Dataran Alluvial Kali Bantal


Satuan bentuklahan dataran alluvial Kali Bantal memiliki
pelamparan di sepanjang sungai besar yang berada di daerah penelitian.
Daerah ini memiliki persentase kelerengan sebasar 2,4%, sehingga
daerah ini memiliki kelerengan yang hampir menuju datar. Sungaisungai yang ada di daerah penelitian yaitu Kali Gobag, Kali Pungkur,
Kali Kidang dan Kali Bantar.
Bentuklahan bentuklahan dataran alluvial Kali Bantal pada
daerah penelitian memiliki pola pengaliran berupa pola pengaliran
paralel. Pola pengaliran paralel merupakan pola pengaliran yang
mengalir dari daerah yang curam ke daerah yang lebih rendah, memiliki
bentuk lurus-lurus mengikuti arah lereng dengan cabang-cabang sungai
yang sedikit.
33

Proses yang terjadi pada satuan bentuklahan ini yaitu proses


transportasi, sedimentasi dan erosi. Aliran sungai yang terjadi pada
sungai menyebabkan material sedimen yang ada di sungai mengalami
proses transportasi yang membuat material sedimen yang ada di sungai
mengalami perjalanan yang jauh dari sumber material sedimen tersebut.
Proses sedimentasi yang terjadi dipengaruhi pula oleh energi
transport dan ukuran butir dari material sedimen. Semakin besar ukuran
butir, maka semakin besar energi transport yang dibutuhkan supaya
material tersebut mengalami proses transportasi. Sebaliknya, semakin
kecil ukuran butir maka semakin kecil pula energi transportnya. Energi
transport yang semakin berkurang mengakibatkan material sedimen
yang berukuran besar akan terendapkan terlebih dahulu. Proses
sedimentasi ini akan membentuk hasil endapan berupa point bar
(gambar 4.3).
Point bar merupakan hasil sedimentasi yang terendapkan di
pinggir sungai. Ukuran butir dari endapan ini bermacam-macam mulai
dari ukuran sangat halus hingga berukuran bongkah.
Proses erosi yang terjadi di bentuklahan dataran alluvial Kali
Bantal dipengaruhi oleh besar arus sungai, material sedimen yang
terbawa dan daerah yang dilalui. Daerah yang termasuk dalam zona
lemah, maka akan lebih mudah untuk tererosi. Bahu sungai dengan
litologi yang kurang resisten menyebabkan mudah tererosi. Namun
proses erosi lateral dapat terhenti apabila litologi yang menyusun bahu
sungai tersebut mulai resisten, maka proses erosi akan membelok.
Sungai yang membelok ini disebut dengan meander (gambar 4.4).

34

Gambar 4.3 Keadaan Bentuklahan Fluvial di Lapangan

Gambar 4.4 Meander Sungai atau Kelokan Sungai

4.2 Stratigrafi
Stratigrafi pada daerah penelitian terdiri dari 3 Formasi yakni Formasi
Kerek (Tmk), Endapan Breksi Gunung Api (Qvb) dan Endapan Aluvium
(Qa). Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, daerah penelitian dibagi
menjadi empat satuan batuan tidak resmi, yaitu satuan batulanau perselingan
batupasir, satuan batupasir perselingan batulanau, satuan konglomerat dan
satuan endapan pasir kerikil.
4.2.1

Satuan Batulanau Perselingan Batupasir


Satuan batulanau perselingan batupasir merupakan litologi
dengan umur paling tua pada Formasi Kerek berdasarkan hasil
rekonstruksi. Keterdapatan di lapangan berupa perlapisan antara
batulanau dengan batupasir, dimana batulanau lebih tebal dari batupasir.
Selain itu, ditemukan pula sedikit batupasir gampingan di bagian hilir
Kali Bantal. Pada litologi batupasir ditemukan beberapa struktur
geologi berupa kekar berpasangan (shear joint) pada singkapan di Kali
Pungkur.

35

Deskripsi secara megaskopis dari litologi batulanau (gambar


4.5) yaitu memiliki warna abu-abu kecoklatan, bersifat karbonatan,
tingkat pelapukan tinggi sehingga sulit dibedakan lapisannya.
Sedangkan deskripsi megaskopis dari batupasir yaitu memiliki warna
abu-abu cerah, bersifat karbonatan, memiliki ukuran butir bervariasi
dari halus hingga kasar, sortasi baik, memiliki struktur sedimen berupa
laminasi sejajar, laminasi silangsiur (gambar 4.6) dan laminasi
bergelombang (gambar 4.7). Batupasir karbonatanqqqqqqqqqq (gambar
4.8) yang ditemukan memiliki warna abu-abu cerah, ukuran pasir kasar,
terdapat rekahan yang sudah terisi kalsit membentuk urat kalsit,
kompak, lapuk rendah, sortasi baik, kemas tertutup, semen karbonatan.

Gambar 4.5 Litologi Batulanau di Kali Pungkur

Gambar 4.6 Struktur Sedimen Laminasi Silangsiur (Garis Warna Biru) dan Laminasi
Sejajar (garis Warna Kuning) pada Batupasir di Sungai Bantar

36

Gambar 4.7 Struktur Sedimen Laminasi Bergelombang pada Batupasir di Kali Bantar

Gambar 4.8 Singkapan Batupasir Karbonatan pada Satuan Batulanau Perselingan


Batupasir di Kali Bantal

Pada satuan batulanau perselingan batupasir ini ditemukan


foraminifera plangtonik yang dapat digunakan dalam penentuan umur
relatif batuan. Foraminifera plangtonik yang ditemukan adalah
Globorotalia nepenthes sebagai penciri dari umur N14 (Kala Miosen
Tengah).
Persebaran dari litologi batulanau perselingan batupasir berada
di daerah penelitian bagian Utara, berada di Desa Tempuran, Jlumpang,
Kentengsari, Repaking dan Karanglangu.
37

Berdasarkan analisis petrografi, batupasir pada satuan batulanau


perselingan batupasir dengan menggunakan klasifikasi sedimen klastik
berdasarkan Dott (1964), batupasir pada satuan ini memiliki nama
Lithic Greywacke.
4.2.2

Satuan Batupasir Perselingan Batulanau


Satuan batupasir perselingan batulanau memiliki umur lebih
muda dari batulanau perselingan batupasir yang dilihat dari jurus dan
kemiringan lapisan yang diperoleh di lapangan. Lapisan perselingan
antara batupasir dengan batulanau di Kali Pungkur bagian Selatan
ditemukan struktur geologi berupa lipatan, setelah dilakukan analisis
lipatan diperoleh jenis lipatan tersebut berupa antiklin. Pada satuan ini
ditemukan pula struktur sedimen berupa laminasi sejajar dan laminasi
bergelombang (gambar 4.9).
Deskripsi secara megaskopis di lapangan dari batupasir yaitu
memiliki warna abu-abu kecoklatan, bersifat karbonatan, memiliki
ukuran butir bervariasi dari halus hingga kasar, sortasi baik, memiliki
struktur sedimen berupa laminasi sejajar dan laminasi bergelombang.
Batupasir yang ditemukan di lapangan berupa batupasir karbonatan dan
batupasir tufan. Batupasir karbonatan memiliki warna abu-abu dengan
ukuran butir pasir sedang hingga pasir kasar. Sedangkan batupasir tufan
(gambar 4.10) memiliki warna abu-abu kecoklatan dengan ukuran butir
yang lebih halus dan lebih masif, warna dari batupasir tuff abu-abu
cerah. Sedangkan deskripsi megaskopis untuk litologi batulanau yaitu
memiliki warna abu-abu kecoklatan, bersifat karbonatan dan tingkat
pelapukannya tinggi.
Persebaran dari litologi batupasir perselingan batulanau berada
di daerah penelitian bagian Selatan, berada di Desa Rejosari, Plumutan,
Bantal dan Garangan.

38

Gambar 4.9 Litologi Batupasir dengan Struktur Sedimen Laminasi Sejajar dan
Laminasi Bergelombang di Kali Pungkur

Gambar 4.10 Litologi Batupasir Tuff di Kali Pungkur

Pada satuan batupasir perselingan batulanau ini ditemukan


foraminifera plangtonik yang dapat digunakan dalam penentuan umur
relatif batuan. Foraminifera plangtonik yang ditemukan adalah
Globorotalia nepenthes sebagai penciri dari umur N14 (Kala Miosen
Tengah).
Berdasarkan analisis petrografi, batupasir pada satuan batupasir
perselingan batulanau dengan menggunakan klasifikasi sedimen klastik
berdasarkan Dott (1964), batupasir pada satuan ini memiliki nama
Lithic Greywacke.
4.2.3

Satuan Konglomerat
Satuan konglomerat memiliki umur lebih muda dari batulanau
perselingan batupasir dan batupasir perselingan batulanau. Konglomerat
merupakan satuan batuan yang terendapkan tidak selaras di atas lapisan
satuan batupasir perselingan batulanau.
Deskripsi secara megaskopis konglomerat (gambar 4.11) di
lapangan yaitu warna coklat kehitaman, memiliki fragmen dengan
ukuran butir mulai dari kerikil hingga berangkal terdiri atas batuan beku
berupa andesit dan basalt, matriks berukuran pasir kasar, sortasi buruk,
39

kemas terbuka, tingkat pelapukan tinggi sehingga warna menjadi


kehitaman.

Gambar 4.11 Litologi Konglomerat

Persebaran satuan konglomerat di daerah penelitian berada di


Desa Bancak, bagian Selatan Boto dan bagian Utara Rejosari.
4.2.4

Satuan Endapan Pasir Kerikil


Satuan endapan pasir kerikil merupakan satuan yang memiliki
umur paling muda, karena proses pengendapannya masih berlangsung
hingga saat ini. Satuan endapan pasir kerikil dapat ditemukan hampir
diseluruh sungai besar yang berada di daerah penelitian dan cabangcabang sungainya, yaitu Kali Bantal, Kali Pungkur, Kali Gobag dan
Kali Kidang.
Satuan endapan pasir kerikil merupakan endapan berupa pasir
berukuran halus hingga kasar hingga bongkah dapat ditemukan
dilapangan. Endapan yang ditemukan berupa point bar yang berada di
bahu kanan ataupun kiri dari sungai.

40

Gambar 4.12 Satuan Endapan Pasir Kerikil

4.3 Struktur Geologi


Struktur geologi yang ditemukan di daerah penelitian berupa struktur
mayor dan struktur minor. Struktur mayor yang ditemukan berupa lipatan
sinklin dan antiklin. Sedangkan struktur minor yang ditemukan di daerah
penelitian berupa sesar dan kekar.
Lipatan sinklin ditemukan di sebelah Tenggara daerah penelitian
sebagai struktur geologi yang diperkirakan, karena diperkirakan dari
kemiringan lapisan yang saling bertemu yaitu kemiringan lapisan bagian
Utara mengarah ke Tenggara dan bagian Selatan mengarah ke Barat Laut.
Sayap kiri dari lipatan N 600E/440 dan sayap kanan N 2220E/550 dengan
sumbu dari sinklin berarah Barat Daya-Timur Laut dengan jurus dan
kemiringannya N 3210E/780, sehingga sinklin tersebut merupakan sinklin
asimetris.
Lipatan antiklin ditemukan di beberapa tempat di daerah penelitian,
yaitu di Desa Repaking bagian Utara hingga Desa Karanglangu, di Kali
Gobag dan di Kali Pungkur Desa Rejosari. Lipatan antiklin yang ditemukan
di Desa Repaking dan Kali Gobag merupakan lipatan antiklin yang
diperkirakan dari kemiringan lapisan yang saling berlawanan. Antiklin yang
diperkirakan terbentuk di Desa Repaking memiliki kedudukan sayap kiri N
2350E/450 dan sayap kanan N 730E/450 dengan sumbu lipatan berada pada N

41

2440E/800. Kemudian antiklin yang diperkirakan terbentuk di Kali Gobag


memiliki kedudukan sayap kiri N 2350E/450 dan kedudukan sayap kanan N
650E/600 dengan sumbu lipatan N 2410E/820. Sedangkan lipatan antiklin yang
ditemukan Kali Pungkur (gambar 4.13) berupa perlapisan yang terlipat,
memiliki kedudukan sayap kiri N 1550E/710 dan sayap kiri N 650E/600 dengan
sumbu lipatan N 1860E/320. Arah sumbu lipatan dari ketiga lipatan antiklin
relatif berarah Barat Daya-Timur Laut.
Struktur geologi yang terbentuk di daerah penelitian diperkirakan
terjadi setelah satuan litologi batulanau perselingan batupasir dan batupasir
perselingan batulanau dari Fromasi Kerek terbentuk. Di lapangan ditemukan
kekar berpasangan pada batupasir, yang kemudian dilakukan analisis
menggunakan stereonet. Hasil analisis dari kekar berpasangan yaitu gaya
utama atau gaya maksimum berarah Tenggara-Barat Laut (gambar 4.14).
Gaya utama yang berarah Tenggara-Barat Laut menyebabkan terbentuknya
lipatan dengan sumbu berarah Barat Daya-Timur Laut. Gaya kompresi masih
terus berlanjut hingga sudah melewat batas elastisitas batuan, sehingga
terbentuk sesar minor di lapangan (gambar 4.15). Namun, di beberapa bagian
masih ada lapisan yang belum melewati batas elastisitasnya, sehingga hanya
mengalami perlipatan (gambar 4.16).

42

Gambar 4.13 Struktur Lipatan Antiklin di Kali Pungkur

Gambar 4.14 Hasil Analisis Kekar Berpasangan dengan Arah Gaya Utama Tenggara-Barat
Laut

Gambar 4.15 Sesar Minor di Kali Pungkur

43

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab V akan menjelaskan mengenai hasil dari analisis mineral berat
dan analisis petrografi dari batupasir Formasi Kerek daerah penelitian. Selain itu,
pada bab ini akan dijelaskan mengenai batuan asal dan tatanan tektonik yang
terjadi pada saat batupasir diendapkan.
5.1 Analisis Mineral Berat
Analisis mineral berat dilakukan pada keenam sampel batupasir yang
diambil dari lapisan yang mewakili umur yang termuda hingga tertua. Sampel
diambil dari batupasir dengan ukuran butir sedang hingga kasar. Masingmasing sampel memiliki komposisi mineral berat yang relatif sama.
Sampel yang sudah dibersihkan dan diayak, kemudian diamati dengan
menggunakan mikroskop polarisasi. Mineral berat dipisahkan sesuai dengan
jenisnya dan dihitung presesntase persebarannya.
Tabel 5.1 Persebaran Mineral Berat pada Batupasir Beserta Asosiasi Mineral yang Ditemukan

Sampe
l
P1A
P2A
P3A
P4A
P5A
P6A

Hematit
85
141
164
68
127
79

Biotit
162
180
149
154
103
166

Mineral Berat
Hornblend Muskovit
36
12
28
5
43
6
72
7
64
5
48
7

Jumla
Piroksen
5
4
15
9
7
2

h
300
358
377
310
306
305

44

Berdasarkan hasil analisis mineral tersebut, secara umum komposisi


mineral berat dari sampel batupasir yaitu hematit, biotit, hornblend, muskovit
dan piroksen. Kemudian berdasarkan Pettijohn (1972), dengan asosiasi
mineral berat tersebut, batuan asal dari sampel batupasir berupa batuan beku
asam.
5.2 Analisis Petrografi
Analisis petrografi dilakukan pada sampel yang diambil dari daerah
penelitian, dengan jumlah 6 sampel batupasir. Untuk pendeskripsian sampel
tersebut, menggunakan klasifikasi batuan secara mikroskopis mengacu pada
Dott (1964). Sedangkan metode yang digunakan berupa point-count analysis
(Galehouse, 1971; dalam Livingood, 2009), yaitu perhitungan sebaran
mineral yang mengacu pada jumlah butiran mineral yang ada pada sayatan
tipis.
Hasil analisis akan menunjukkan presentase persebaran dari masingmasing mineral dalam sayatan tipis (tabel 5.2).
Tabel 5.2 Persentase Mineral Pada Sayatan Tipis Menggunakan Point-count Analysis

Sampel

Total
Perhitungan

Litik

Kuarsa

Feldspar

P1A

366

47.81

17.76

34.43

P2A

505

63.17

23.37

13.47

P3A

568

64.26

18.84

16.90

P4A

553

77.58

5.06

17.36

P5A

564

55.14

32.62

12.23

P6A

494

58.50

19.23

22.27

Nama Batuan
Feldspathic
Greywacke
Feldspathic
Greywacke
Feldspathic
Greywacke
Feldspathic
Greywacke
Feldspathic
Greywacke
Feldspathic
Greywacke

Presentase dari mineral-mineral tersebut kemudian diplotkan ke dalam


diagram Q-F-L (Dickinson dan Suczek, 1979) untuk mengetahui tatanan
tektonik saat proses pengendapan.

45

5.3 Batuan Asal (Provenance)


Batuan sedimen silisiklastik memiliki komposisi berupa matriks,
fragmen batuan dan beberapa jenis mineral yang hadi sebagai aksesoris di
dalamnya. Matriks batuan pada batupasir terdiri dari mineral batuan seperti
kuarsa dan feldspar. Pada fragmen batuan, hal yang penting yaitu komposisi
mineral kuarsa polikristalin dan komposisi litik yang dapat berupa mineral
lempung atau gelas vulkanik. Mineral-mineral tersebut merupakan kunci
untuk menentukan batuan asal dari batupasir.
Penentuan batuan asal dari batupasir berdasarkan klasifikasi diagram
Q-F-L (Dickinson dan Suczek, 1979), material penyusun yang digunakan
berupa kuarsa, feldspar dan fragmen batuan. Diagram ini menunjukkan
tatanan tektonik batuan asal dari batupasir yang dianalisis dan berasosiasi
dengan tempat terendapkannya material sedimen tersebut.
Komposisi kuarsa, feldspar dan fragmen batuan dapat memberikan
informasi yang penting dalam penentuan batuan asal dari suatu batuan.
Kuarsa digunakan sebagai indikasi dalam penentuan batuan asal karena
kuarsa merupakan mineral yang stabil, yang tahan terhadap proses
transportasi. Selain itu kuarsa juga memiliki karakteristik tertentu apabila
berasal dari sumber yang berbeda. Misalkan kuarsa polikristalin merupakan
kuarsa yang dapat berasal dari batuan metamorf dan kuarsa monokristalin
dapat berasal dari batuan beku plutonik (Pettijohn, 1972).
Komposisi feldspar pada batuan dapat memberikan informasi dalam
penentuan batuan asal. Feldsapar merupakan salah satu mineral yang tidak
stabil dibandingkan dengan kuarsa. Feldspar mudah mengalami kerusakan
secara kimiawi akibat proses pelapukan maupun pada saat diagenesis. Akibat
proses transportasi, feldspar akan lebih mudah membetuk butiran yang
membundar (rounded) (Pettijohn, 1972).

46

Berdasarkan hasil deskripsi, komposisi feldspar, kuarsa dan fragmen


batuan yang ada pada batupasir daerah penelitian diplotkan pada diagram QF-L (gambar 5.7).

Gambar 5.7 Hasil Pengeplotan Komposisi Feldspar, Kuarsa dan Fragmen Batuan

Berdasarkan gambar 5.7 hasil pengeplotan menunjukkan tatanan


tektonik dari batupasir daerah penelitian berada pada undissected arc dan
transitional arc. Undissected arc dan transitional arc berada pada busur
magmatik (magmatic arc) yang berlokasi pada lempeng konvergen dimana
sedimen mengalami proses erosi dari busur vulkanik dengan sumber yang
berasal dari batuan vulkanik di dataran tinggi. Hancuran dari batuan vulkanik
bergerak dari dataran tinggi sebagian besar terdiri dari fragmen litik batuan
vulkanik dan plagioklas feldspar (Sam Boggs, Jr., 2006).
Pada Kala Miosen terjadi subduksi antara lempeng Sundaland dengan
lempang

Indo-Australia

(micro

continent)

yang

membentuk

Busur

Pegunungan Selatan, Cekungan Kendeng dan Paparan Sunda pada Kala


Eosen hingga Miosen. Cekungan Kendeng berada di bagian Utara dari Busur
Pegunungan Selatan, yang termasuk di bagian busur belakang (backarc).
Pada awal perkembangan sub-Cekungan Kendeng, pada Kala Eosen,
hasil sedimentasi dari cekungan ini tidak terlihat di permukaan. Tetapi
bongkahan dari batuan yang lebih tua terbawa hingga permukaan pada Kala
Pleistosen dan dari lumpur vulkano (Smyth, dkk, 2008). Pada pertengahan
Kala Eosen ini mulai terjadi aktivitas vulkanik dari Busur Pegunungan
Selatan. Kemudian pada Kala Oligosen terjadi letusan vulkanik yang sangat
hebat menyebabkan banyak material vulkanik yang dikeluarkan. Namun

47

material hasil letusan masih belum terlalu jauh mengalami proses


transportasi. Sehingga pada Cekungan Kendeng hanya terjadi penebalan pada
lapisan batulempung hingga 85 m (de Genevraye dan Samuel, 1972).
Pada Busur Pegunungan Selatan mengalami proses erosi yang
menyebabkan material vulkanik yang berada di daerah yang cukup tinggi
mengalami proses transportasi ke daerah dengan ketinggian yang lebih
rendah. Material vulkanik tersebut menumpuk pada pertemuan antara Busur
Pegunungan Selatan dengan Cekungan Kendeng yang mengakibatkan
terjadinya penumpukan pada pertemuan tersebut. Hal ini menyebabkan pada
bagian pertemuan antara Busur Pegunungan Selatan dengan Cekungan
Kendeng lebih tebal hingga 6 km (Untung dan Sato, 1978; dalam Smyth, dkk
2008) dibandingkan dengan Cekungan Kendeng yang berada di bagian Utara
yang berbatasan dengan Sundaland.
Hasil dari pengeplotan, daerah penelitian berada pada busur magmatik
yang berasal dari hasil erosi batuan vulkanik yang berada di dataran tinggi.
Hasil tersebut sesuai dengan ciri-ciri yang ditemukan di lapangan, berupa
matrik yang berasal dari gelas vulkanik yang diemukan di sebagian besar
sampel batuan yang diambil (gambar 5.8).

Gambar 5.8 Kenampakan dari Gelas Vulkanik (V), Kuarsa Monokristalin (Qm) dan Kuarsa
Polikristalin (Qp)

Keterdapatan gelas vulkanik pada sebagian besar sayatan tipis dari


batupasir yang diambil dari daerah penelitian menunjukkan asal dari material
vulkanik tersebut berasal dari material hasil letusan dari Busur Pegunungan
Selatan yang tertransport hingga pada Cekungan Kendeng yang ditemukan
saat ini. Kemudian berdasarkan analisis mineral berat, batupasir daerah
penelitian memiliki batuan asal yang berasal dari batuan beku asam. Sehingga

48

dapat disimpulkan bahwa batuan asal dari batupasir berasal dari batuan beku
asam sebagai material vulkanik hasil letusan Busur Pegunungan Selatan.
5.4 Diagenesis Batupasir
Daerah penelitian yang berada di Desa Jlumpang memiliki beberapa
tahapan diagenesis yang ditunjukkan dari sayatan tipis dan mineral berat.
Tahapan eogenesis sebagai tahapan pertama ditunjukkan dengan terbentuknya
mineral baru berupa oksida besi yang ditunjukkan dengan mineral yang
berwarna merah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya mineral hematit yang
ditemukan pada analisis mineral berat. Selain itu juga ditemukan semen
kerbonat pada sayatan tipis yang ditunjukkan dengan adanya semen kalsit.
Tahapan selanjutnya yaitu tahapan mesogenesis. Pada tahapan ini,
batuan akan semakin dalam terpendam akibat proses pembebanan dari
material lain yang terendapkan di atasnya. Hal ini menyebabkan terjadinya
tekanan yang semakin kuat yang menyebabkan terjadinya proses kompaksi
yang lebih lanjut, yang membuat butiran yang berada dalam batuan
mengalami kontak sutur (gambar 5.9), yaitu butiran akan saling bertemu atau
mendesak satu sama lain.

Gambar 5.9 Garis Merah Menunjukkan Kontak Sutur antara Dua Mineral

Tahapan terakhir adalah tahapan telogenesis yang ditunjukkan dengan


adanya pengangkatan (uplift) yang menyebabkan singkapan terangkat
dipermukaan. Hal ini menyebabkan batuan akan mengalami proses erosi hasil
dari proses pelapukan yang akan menyebabkan mineral yang sudah terbentuk

49

sebelumnya akan mengalami pelarutan yang akan membentuk porositas


sekunder pada batuan.
5.5 Lingkungan Pengendapan
Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi 4 satuan yang berbeda,
yaitu satuan batulanau perselingan batupasir, satuan batupasir perselingan
batulanau, satuan konglomerat dan satuan endapan pasir kerikil. Dari jenis
litologi yang ditemukan di daerah penelitian, terdapat perbedaan lingkungan
pengendapan.
Penentuan lingkungan pengendapan dapat dilakukan berdasarkan
komposisi fosil foraminifera bentonik untuk mendapatkan lingkungan
pengendapan yang lebih akurat. Pada satuan batulanau perselingan batupasir
ditemukan Textularia, Uvigerina sp. dan Cibicides sp. yang merupakan fosil
foraminifera bentonik sebagai penciri bathymetri berada di neritik luar
berdasarkan Tipsword, dkk (1966). Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan
daerah penelitian berada di lingkungan continental slope.
Lingkungan pengendapan continental slope berada pada laut yang
memiliki sudut kelerengan. Pada daerah penelitian ditemukan struktur
sedimen berupa laminasi silangsiur dan laminasi bergelombang, yang
menunjukkan penciri dari lingkungan continental slope. Struktur sedimen
tersebut menunjukkan adanya hubungan dengan arus yang tidak stabil hasil
dari kelerengan tersebut yang membentuk struktur sedimen laminasi
silangsiur dan laminasi bergelombang.

50

BAB VI
SEJARAH GEOLOGI
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dan analisis yang dilakukan
pada sampel batuan, maka sejarah geologi dari daerah penelitian dapat diurutkan
mulai dari Kala Miosen hingga Resen.
Satuan batuan batulanau perselingan batupasir dan batupasir perselingan
batulanau termasuk dalam Formasi Kerek yang termasuk dalam daerah subCekungan Kendeng. Pada satuan yang ditemukan di daerah penelitian ini
memiliki umur relatif pada N14 (Kala Miosen Tengah). Sebelum satuan tersebut
terendapkan, pada Kala Oligosen terjadi aktivitas vulkanik pada Busur
Pegunungan Selatan yang menyebabkan terjadinya erupsi yang dahsyat pada kala
tersebut.
Memasuki Kala Awal Miosen terjadi aktifitas rombakan dari hasil erupsi
yang mengalami proses erosi dan transportasi yang membawa material vulkanik
hingga mencapai su-Cekungan Basin yang berada di zona batial-abisal-batial,
51

sehingga pada daerah penelitian selain ditemukan batupasir dan batulanau yang
bersifat karbonatan, terdapat pula litologi berupa batupasir tufan. Proses
rombakan material vulkanik dan pembentukan batuan karbonat terus berlangsung
hingga Kala Miosen Tengah menuju Miosen Akhir.
Memasuki Kala Miosen Akhir, terjadi peningkatan aktivitas vulkanik
yang menybebakan terjadinya aktifitas pengangkatan dan erosi. Aktivitas
pengangkatan (uplift) mengakibatkan singkapan tersingkap di permukaan.
Kala Miosen akhir terus berlanjut hingga memasuki Kala Plio-Pleistosen,
terjadi fase kompresi yang membentuk struktur geologi yang ada di daerah
penelitian

berarah

Tenggara-Barat

Laut.

Gaya

kompresi

yang

terjadi

menyebabkan lapisan yang ada didaerah penelitian mengalami proses perlipatan


hingga membentuk lipatan antiklin yang berada di Kali Pungkur, Desa
Karanglangu dan

lipatan sinklin yang terbentuk di Desa Garangan. Gaya

kompresi yang terus terjadi mengakibatkan keelastisitasan dari lapisan


menghilang hingga membentuk sesar-sesar minor yang ada di daerah penelitian.
Selain sesar-sesar minor, terbentuk pula struktur kekar berpasangan (shear joint)
di Kali Pungkur dengan arah gaya utama berarah Tenggara-Barat Laut.
Memasuki Kala Pleistosen Tengah, daerah penelitian menjadi lingkungan
darat yang ditunjukkan dengan ditemukannya litologi berupa konglomerat yang
termasuk dalam Formasi Breksi Gunungapi. Aktivitas vulkanik yang terus
berlangsung hingga kala ini menyebabkan terbentuk konglomerat dengan fragmen
batuan berasal dari batuan beku. Konglomerat yang ditemukan di bahu Kali
Gobag menunjukkan material vulkanik yang menjadi fragmen batuan pada
konglomerat mengalami proses transportasi dari sumber letusan hingga ditemukan
di tempat terjadinya proses pengendapan.
Pada Kala Pleistosen Akhir-Resen, aktivitas vulkanik masih terus
berlangsung. Material hasil erupsi yang sudah ada sebelumnya terus mengalami
proses erosi oleh air hujan maupun angin hingga terbawa dan terendapkan di
daerah penelitian.

52

BAB VII
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis petrografi daerah penelitian tersusun oleh batupasir

dengan nama Feldspathic Greywacke.


Berdasarkan analisis petrografi dan mineral berat, daerah penelitian
memiliki batuan asal yang berasal dari batuan beku asam hasil rombakan
material hasil erupsi Busur Pegunungan Selatan yang berada pada Busur

Belakang (back arc).


Batupasir daerah penelitian mengalami 3 tahapan diagenesis, yaitu tahap
eogenesis dengan ditemukannya mineral oksida besi berupa hematit, tahap
mesogenesis dengan ditemukannya kontak sutur hasil tekanan, dan tahap
telogenesis dengan ditemukannya singkapan yang mengalami proses
pengangkatan di permukaan.

53

Berdasarkan foraminifera bentonik, berupa Textularia, Uvigerina sp. dan


Cibicides sp., daerah penelitian memiliki bathymetri di neritik luar dengan
lingkungan pengendapan di continental slope.

6.2 Saran
Daerah penelitian yang berada di Desa Jlumpang dan sekitarnya perlu
dilakukan penelitian yang lebih detail mengenai struktur yang berkembang
di daerah tersebut untuk mengetahui proses apa saja yang telah

berkembang hingga saat ini.


Daerah penelitian yang berada di Desa Jlumpang dan sekitarnya perlu
dilakukan penelitian yang lebih detail mengenai provenance pada Formasi
Kerek, karena sumber dari Formasi Kerek bisa berasal dari Busur
Pegunungan Selatan maupun Sundaland, supa mengetahui batas antara
kedua sumber tersebut terendapkan saat ini.

54