Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 1

Topik

: Manipulasi Resin Akrilik Aktivasi Panas (Heat Cured Acrylic Resin)

Kelompok

: B5

Tanggal Praktikum

: 3 Mei 2016

Pembimbing

: Sri Yogyarti, drg.. MS.

Penyusun :
1.
2.
3.
4.
5.

Cindy Ramadhan Putri


Komang Fenny Gita T
Agnes Melinda Wong
Sheila Amalia B
Astila Fitriana

021511133076
021511133077
021511133078
021511133079
021511133080

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016
1

TUJUAN

Mahasiswa dapat memanipulasi resin akrilik aktivasi panas dengan cara dan alat
yang tepat

Mahasiswa mengamati tahapan yang terjadi pada pencampuran polimer dan


monomer yaitu fase sandy, fase stringy, fase dough, fase ruberry, dan fase stiff

Mahasiswa dapat menganalisa hasil polimerasi heat cured acrylic resin

CARA KERJA
1
a
b

Bahan
Bubuk polimer dan cairan monomer
Cairan Cold Mould Seal (CMS)

Gambar 1. Bubuk polimer

Gambar 2. Cairan monomer

Gambar 3. Cold Mould Seal

(CMS)

2
a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k

Alat
Kuvet yang telah dibuat cetakan (mould) dari gipsum keras (gipsum tipe III)
Kuas kecil
Timbangan digital
Pot porselin
Alat suntik
Pisau malam
Pisau model
Plastik/kertas cellophane
Kuvet logam
Press kuvet (handpress)
Press hidrolik

Stopwatch

Gambar 4. Kuvet yang telah dibuat


cetakan (mould) dari gipsum keras
(gipsum tipe III)

Gambar 5. Kuas
kecil

Gambar 6. Pot
porselin

Gambar 7. Alat
suntik

Gambar 8. Pisau
malam

Gambar 10. Press


hidrolik

Gambar 11. Handpress


Kuvet

3
1
a
b

Gambar 9. Pisau
model

Cara Kerja
Pengisian cetakan (mould) dengan adonan resin akrilik (acrylic packing)
Menyiapakan alat dan bahan praktikum di atas meja praktikum.
Melapisi permukaan mould dan sekitarnya dengan Could Mould Seal (CMS) yang
dioleskan secara merata menggunakan kuas, kemudian ditunggu hingga kering.

Mengukur cairan monomer menggunakan sebanyak 3 ml (sesuai aturan pabrik)

dengan menggunakan alat suntik.


Mengukur bubuk polimer sebanyak 6 gr (sesuai aturan pabrik) dengan cara

menimbang menggunakan timbangan digital


Masukkan cairan monomer ke dalam pot porselin, disusul dengan memasukkan
bubuk polimer secara perlahan-lahan sampai seluruh polimer terbasahi oleh

monomer (fase sandy)


Stopwatch dijalankan ketika seluruh polimer telah terbasahi oleh monomer dan
siap dilakukan pengadukan. Campuran polimer dan monomer diaduk dengan

menggunakan pisau malam pada bagian yang tumpul hingga homogen.


Setelah adonan homogen, pot porselin ditutup. Mengamati fase yang terjadi pada
adonan yaitu fase sandy, stringy, dan dough setiap 20 detik dengan cara membuka
tutup pot porselin, menyentuh atau mengambil sedikit adonan untuk diamati.

Apabila fase dough belum tercapai maka pot porselin ditutup lagi.
Tanda-tanda fase dough adalah tidak lengket apabila disentuh, tidak membentuk

serabut-serabut bila ditarik, serta plastis.


Waktu tercapainya fase dough dicatat. Demikian selanjutnya fase ruberry dan fase

stiff diamati setelah fase dough selesai (dari sisa adonan yang tidak terpakai)
Setelah fase dough tercapai, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam cetakan

(mould) yang ada pada kuvet bawah.


Permukaan adonan resin akrilik ditutup dengan plastic/kertas cellophane,

kemudian kuvet atas dipasang dan dilakukan pengepresan pada press hidrolik.
Setelah pengepressan, kuvet dibuka, kertas cellophane/plastik pada area sekitar
tepi cetakan diangkat, dan kelebihan resin akrilik dipotong dengan menggunakan

pisau model tepat pada tepi cetakan (Press percobaan I).


m Setelah selesai memotong kelebihan akrilik, plastic/kertas
dipasangkan

kembali,

kemudian

dilakukan

pengepresan

cellophane

ulang.

Setelah

pengepresan, kuvet dibuka dan kelebihan resin akrilik dipotong lagi (Press
n

percobaan II).
Pada pengepresan terakhir plastic/kertas cellophane tidak lagi digunakan. Kuvet
atas dan bawah disatukan pada posisi yang tepat dan rapat, kemudian dipres
dengan pres hidrolik dan dipindahkan pada handpress.

Proses polimerisasi/kuring

Proses kuring resin akrilik dilakukan sesuai dengan aturan pabrik, untuk merk
QC20 :
a
b

Memasak air pada panci/dandang di atas kompor hingga mendidih (suhu 100o C)
Kuvet yang telah diisi akrilik dan dalam keadaan dipres dimasukkan ke dalam air

mendidih suhu 100o C selama 20 menit.


Setelah 20 menit, kompor dimatikan, kemudian dibiarkan dan ditunggu hingga air
tidak panas lagi (mencapai suhu ruang).

3
a

Deflasking
Kuvet dibiarkan hingga dingin sesuai dengan suhu ruang.
Karena keterbatasan waktu, pendinginan kuvet dibantu atau dipercepat dengan
menaruh kuvet di dalam baskom berisi air yang kemudian dialiri air dengan suhu

b
c

ruang secara terus menerus hingga kuvet mencapai suhu ruang kamar.
Handpress dibuka dan kuvet dipindahkan ke meja.
Kuvet dibuka menggunakan pisau malam dengan cara membuka sisi-sisi kuvet

secara perlahan.
Akrilik hasil kuring diambil dengan berhati-hati menggunakan pisau malam.

Hasil Praktikum
a. Manipulasi material praktikum:
1. Mencetak acrylic heat cured resin pada fase stringy.
2. Mencetak acrylic heat cured resin pada fase dough.
3. Mencetak acrylic heat cured resin pada fase rubbery.
b. Data hasil pengamatan praktikum

Percobaan
ke1
2
3

Sandy
00.00
00.00
00.00

Waktu Polimerisasi (menit.detik)


Stringy
Dough
Rubbery
01.20
01.46
01.31

06.40
05.20
04.11

08.30
06.00
07.50

Stiff
23.20
21.30
20.49

a.

c.

Gambar 10. Hasil praktikum resin akrilik heat cured


a. Fase Stingy b. Fase Dough c. Fase Rubbery
3.1 Fase Stringy
Pada percobaan pertama, adonan monomer dan polimer resin akrilik dicetak ke dalam
mould pada tahap stringy, yaitu saat adonan disentuh dan ditarik menggunakan jari tampak
kondisi yang berserat-serat seperti benang. Pada kondisi ini adonan akrilik sulit untuk
dimasukkan dan dibentuk ke dalam mould. Setelah adonan yang ada di mould di press,
kelebihan adonan yang keluar dari batas cetakan sulit untuk dibersihkan. Setelah akrilik
selesai di kuring, akrilik memiliki tekstur permukaan yang kasar. Sayap yang dihasilkan juga
lebih lebar. Dan aromanya masih menyengat seperti sebelum di kuring. Ciri-cirinya lengket,
berserabut dan flow tinggi.
3.2 Fase Dough
Pada percobaan kedua, adonan monomer dan polimer resin akrilik dicetak ke dalam
mould pada tahap dough, yaitu saat adonan disentuh tidak lengket di tangan dan bersifat
plastis atau mudah dibentuk. Pada kondisi ini, adonan sangat mudah dibentuk, sehingga juga
mudah dicetak ke dalam mould. Setelah adonan yang ada di dalam mould di press, kelebihan
adonan lebih mudah untuk dibersihkan. Setelah akrilik selesai di kuring, akrilik memiliki
tekstur yang halus, sayap yang dihasilkan hampir tidak ada. Dan aroma yang menyengat
sudah tidak tercium lagi. Ciri-cirinya tidak lengket, plastis, flow cukup, mudah dibentuk dan
mudah dimanipulasi.

3.3 Fase Rubbery


Pada percobaan ketiga, adonan monomer dan polimer resin akrilik dicetak ke dalam
mould pada tahap rubbery, yaitu saat adonan memiliki tekstur yang elastis, tidak lengket dan
jika ditekan akan kembali ke bentuk semula. Pada kondisi ini, adonan tidak lengket tetapi sulit
untuk dibentuk. Setelah adonan yang ada di dalam mould di press, kelebihan adonan sangat
mudah dibersihkan. Setelah akrilik selesai di kuring, akrilik memiliki tekstur yang cukup
halus. Sayap yang dihasilkan agak lebar dan aroma yang menyengat sudah tidak tercium lagi.
Ciri-cirinya elastis, tidak lengket, flow rendah dan susah dimanipulasi.

Tinjauan Pustaka
1

Resin Akrilik Aktivasi Panas


Resin akrilik aktivasi panas adalah resin poli(methyl) metakrilat

yang diaktivasi dengan pemanasan. Energi termal yang diperlukan


untuk polimerisasi bahan-bahan tersebut dapat diperoleh dengan
menggunakan pemanasan air atau radiasi gelombang mikro. Resin
akrilik polimerisasi panas dipergunakan untuk bahan pembuatan anasir
gigi tiruan, basis gigi tiruan, bahan reparasi gigi tiruan, bahan
obturator, dan pembuatan sendok cetak fisiologis. Resin akrilik aktivasi
panas dengan pemanasan air dilakukan dengan dua cara, yaitu
pemanasan air menggunakan kompor atau waterbath (Anusavice et al
2003, p. 165).
2

Komposisi
Resin akrilik polimerisasi panas terdiri dari (Anusavice 2003 et al,

p. 475)
1 Polimer:

a Poli(metil metakrilat)
b Initiator: berupa 0.5 - 1.5% benzoil peroksida
c Pigmen: merkuri sulfit, cadmium sulfit, cadmium selenit, ferric
oxide.
d Plasticizer: dibutil phalat
e Opacifiers: zinc atau titanium oxide
f

Serat sintetis/organik : serat nilon atau serat akrilik

g Partikel inorganik, seperti serat kaca, zirkonium silikat.


2 Monomer:
a Metil metakrilat
b Stabilizer atau inhibitor: terdapat sekitar 0.003 0.1% metil
ether

hydroquinone

untuk

mencegah

terjadinya

proses

polimerisasi selama penyimpanan.


c Plasticizer: dibutil pthalat
d Bahan untuk memacu ikatan silang (cross-linking agent)
seperti

etilen

glikol

dimetakrilat

(EGDMA).

Bahan

ini

berpengaruh pada sifat fisik polimer dimana polimer yang


memiliki ikatan silang bersifat lebih keras dan tahan terhadap
pelarut.
Resin polimetil metakrilat umumnya berbentuk bubuk dan cairan.
bubuk terdiri dari prepolymerized dari polimetil metakrilat dan
sejumlah kecil benzoil peroksida yang disebut sebagai inisiator, yang
bertanggung jawab untuk awal proses polimerisasi. Liquid (Cairan)
didominasi

nonpolymerized

metil

metakrilat

monomer

dengan

sejumlah kecil hydroquinone. Hydroquinone ditambahkan sebagai


inhibitor untuk mencegah polimerisasi yang tidak diinginkan atau
"setting"

dari

menghambat

cairan
proses

selama
curing

(Anusavice et al 2003, p. 723).

penyimpanan.

dan

meningkatkan

Inhibitor

juga

waktu

kerja

Sebuah agen yang dapat membentuk ikatan silang juga dapat


ditambahkan ke cairan. Glikol dimetakrilat umumnya digunakan
sebagai agen untuk membentuk ikatan silang pada polimetil
metakrilat resin basis gigi tiruan. glikol dimetakrilat secara kimiawi
dan struktural mirip dengan metil metakrilat. Oleh karena itu, glikol
dimetakrilat dapat dimasukkan ke dalam rantai polimer yang sedang
tumbuh seperti pada gambar 11. (Anusavice et al 2003, p 768.).

Gambar 11. Gambaran struktur pembentukan ikatan silang poli (metil


metakrilat). Glikol Dimetakrilat masuk ke rantai polimetil metakrilat dan
seperti jembatan penghubung antar rantai (From: Anusavice et al 2003, p.
723)

Metil metakrilat memiliki satu ikatan ganda karbon per molekul


dan glikol dimetakrilat memiliki dua ikatan ganda per molekul.
Akibatnya, sebuah molekul glikol dimetakrilat dapat berpartisipasi
dalam polimerisasi dari dua rantai polimer yang terpisah untuk
menyatukan dua rantai polimer. Jika dimetakrilat glikol yang cukup
masuk ke dalam campuran, beberapa interkoneksi dapat terbentuk
dan pembengkakan (pengembangan) pelarut dapat terjadi, seperti

yang disebabkan oleh paparan etanol dalam minuman beralkohol.


Interkoneksi ini menghasilkan struktur netlike yang menyediakan
peningkatan ketahanan terhadap deformasi (Anusavice et al 2003, p.
772).

Manipulasi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan
manipulasi resin akrilik polimerisasi panas yaitu:
1 Penggunaan Separator
Basis

gigi

tiruan

memerlukan

penggunaan

separator

pada

permukaan cetakan. Separator berfungsi untuk mencegah kontak


langsung antara permukaan cetakan dan basis gigi tiruan yang akan
dibuat. Kesalahan dalam penempatan separator akan mengakibatkan
(Mccabe, 2008):
a Jika air dari permukaan cetakan berdifusi ke basis gigi tiruan
akan mempengaruhi polimerisasi serta sifat optik dan fisik dari
hasil basis gigi tiruan
b Jika polimer atau monomer bebas dibiarkan meresap dengan
permukaan cetakan, sebagian medium permukaan cetakan
dapat bergabung dengan basis gigi tiruan.
2 Perbandingan polimer dan monomer
Perbandingan polimer dan monomer yang umumnya digunakan
adalah 3:1 satuan volume. Bila monomer terlalu sedikit maka tidak
semua polimer sanggup dibasahi oleh monomer akibatnya akrilik yang
telah selesai berpolimerisasi akan bergranula, tetapi monomer juga
tidak boleh terlalu banyak karena dapat menyebabkan terjadinya
kontraksi yang lebih besar (21% satuan volume) dibandingkan dengan
kontraksi yang terjadi pada adonan resin akrilik yang seharusnya (7%
volume), sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk

mencapai

fase

dough

(konsistensi)

dan

akhirnya

menyebabkan

timbulnya porositas pada resin akrilik


3 Polimerisasi
Selama reaksi pencampuran, akan terlihat perubahan bentuk fisis
ke dalam lima tahap yaitu (Anusavice et al 2003, p. 727-728):
1 Tahap I : polimer meresap ke dalam monomer membentuk suatu
fluid yang tidak bersatu (sandy/granular). Selama tahap sandy,
sedikit atau tidak ada interaksi terjadi pada tingkat molekul. manikmanik polimer tetap tidak berubah, dan konsistensi campuran
dapat dikatakan masih kasar.
2 Tahap II : permukaan polimer larut ke dalam monomer dan bahan
ini melekat dengan pot, berserabut bila ditarik (stringy). Pada
tahap ini, monomer masuk ke permukaan manik-manik polimer dan
monomer diserap ke dalam manik-manik polimer. Beberapa rantai
polimer tersebar di monomer. beberapa rantai-rantai polimer akan
tersebar sehingga meningkatkan viskositas campuran dan flow
akrilik pada tahap ini masih sangat tinggi. tahap ini ditandai
dengan material akan berserabut atau lengket ketika materi
disentuh atau ditarik terpisah .
3 Tahap III : tahap dough. Polimer telah jenuh di dalam monomer.
Massa menjadi lebih halus dan dough like (seperti adonan). Pada
tahap ini terjadi peningkatan jumlah rantai polimer yang masuk ke
dalam larutan pada tingkat molekuler, monomer dan polimer yang
dilarutkan terbentuk. pada tahap ini juga terdapat pembengkakan
atau pengembangan, tetapi polimer yang tidak larut juga tetap
masih ada. Secara klinis, massa tidak lagi lengket dan tidak
menempel pada permukaan spatula atau pisau malam. Oleh

karena itu, tahap ini merupakan tahap yang paling mudah untuk
dibentuk suatu cetakan.
4 Tahap IV : penetrasi yang lebih lanjut dari polimer. Tahap ini
ditandai dengan monomer mulai terhambur oleh penguapan dan
mengalami penetrasi ke sisa manik-manik polimer. Massa akan
memantul ketika dikompresi karena flow yang dimiliki oleh resin
sudah rendah. pada saat ini massa tidak lagi mengalir dengan
bebas untuk mencetak bentuk wadah dengan sempurna. Tahap ini
disebut tahap rubbery.

5 Tahap V : Tahap ini disebut tahap stiff. Tahap ini ditandai dengan
massa atau campuran akan menjadi kaku, hal ini dapat dikaitkan
dengan penguapan yang terjadi terus menerus terhadap monomer
yang tidal bereaksi. Campuran akan menjadi sangat kering dan
tahan terhadap deformasi mekanik.
4 Packing
Sewaktu melakukan pengisian ke dalam mold perlu diperhatikan
agar mold terisi penuh dan sewaktu di-press terdapat tekanan yang
cukup pada mold, ini dapat dicapai dengan cara mengisikan adonan
akrilik sedikit lebih banyak ke dalam mold. Jika jumlah adonan yang
dimasukkan ke dalam mold kurang, maka dapat menyebabkan
terjadinya porosity (Anusavice et al 2003, p. 727).
5 Porositas Total
Proses polimerisasi berlangsung secara eksotermik karena resin
merupakan konduktor yang tidak baik, panas yang dihasilkan pada
segmen tebal dari resin tidak dapat hilang. Ketika pemanasan kurang
terkontrol, suhu puncak resin ini dapat naik jauh di atas titik didih

monomer. Hal ini menyebabkan pendidihan pada monomer yang tidak


bereaksi dan menghasilkan porositas pada basis gigi tiruan yang
diproses (Anusavice et al 2003, p. 732).

Pembahasan
Dalam proses pembuatan aklirik ini digunakan Could Mould Seal (CMS) untuk
mengolesi mould pada cetakan kuvet dan plastik sebagai separator. Cold Mould Seal
dalam pengerjaan ini adalah untuk membloking saat prosesing, agar air tidak masuk ke
dalam kuvet. Selain itu, CMS berfungsi untuk membatasi kuvet atas dan kuvet bawah
agar mudah terpisah saat dibuka setelah processing. Dalam mengoles CMS diusahakan
cukup sekali ulas dan searah. Jika CMS kurang tebal, pengolesan dapat dilakukan 2 kali
namun tunggu hingga olesan pertama kering. Karena saat diulangi berkali-kali pada
keadaan masih basah atau belum kering sepenuhnya maka lapisan yang terbentuk
pertama kali bisa robek oleh pulasan kuas yang kedua sehingga olesan yang terbentuk
tidak menutup sempurna dan resin yang dihasilkan bisa porus. (Anusavice, 2012,
hal.476)
Proses manipulasi diawali dengan memasukkan monomer ke dalam porselen lalu
polimer dimasukkan sedikit demi sedikit agar tidak tumpah dan perlahan monomer
terserap ke dalam polimer. Pencampuran polymer dan monomer harus dilakukan
ditempat yang tidak tembus cahaya yaitu pot porselin agar tidak terjadi polimerisasi awal
akibat cahaya atau sinar ultraviolet. Kemudian campuran polimer monomer tersebut

diaduk dengan ujung tumpul pisau malam, lalu porselen ditutup agar monomer tidak
menguap.
Proses packing pada percobaan 1, 2, dan 3 dilakukan dalam variasi fase. Pada
percobaan 1 adonan berada pada fase stringy, adonan ini memiliki struktur yang lengket
dan berserat, flow yang tinggi serta sukar dimanipulasi. Pada percobaan 2, tahap packing
dilakukan saat adonan berada pada fase dough. Saat fase dough, adonan bersifat tidak
lengket, flow cukup, plastis, serta mudah dibentuk, maka dari itu pada tahap inilah
adonan dapat mengasilkan cetakan akrilik lebih baik dibanding 2 percobaaan yang lain.
Sedangkan pada percobaan 3 dilakukan pada fase rubbery yakni pada saat adonan sudah
lebih sulit untuk dimanipulasi dan memiliki flow yang rendah dan bersifat elastis. Variasi
ini pada akhirnya menghasilkan hasil cetakan akrilik yang berbeda.
Pada praktikum ini dilakukan perendaman di air dengan suhu ruang sebelum
dilakukan tahap polimerisasi selanjutnya. Setelah itu barulah dimulai perendaman pada
air dengan suhu 100o C. Proses tersebut dinamakan dengan deflasking. Perendaman di
dalam air dengan suhu kamar terlebih dahulu berfungsi untuk memperlambat terjadinya
perubahan dimensi pada akrilik. Pada proses deflasking, kuvet harus dalam keadaan
sudah pada suhu ruang. Apabila kuvet dibuka sebelum mendingin maka akan terjadi
ekspansi yang menyebabkan akrilik terdistorsi .Saat mengeluarkan hasil resin dari kuvet
pun harus dilakukan dengan hati hati untuk menghindari resin distorsi atau patah
(Manappallil, 2010, hal.397).
Dari 3 percobaan manipulasi resin akrilik melalui 3 fase berbeda di dapatkan hasil
akrilik yang berbeda pula. Waktu yang dibutuhkan tiap adonan untuk mencapai fase fase
berikutnya beberapa berbeda. Pada percobaan 1 (Stringy Stage) paling lambat
polimerasinya menuju tahap stiff dibandingkan percobaan ke 2 dan 3 untuk sampai pada
fase stiff. Hal ini dikarenakan pada tahap stringy flownya masih cukup tinggi. Dari hasil
manipulasi diperhatikan perbedaan-perbedaan yang muncul akibat perbedaan fase saat
memasukkan pada mould. Seperti kemungkinan kegagalan atau hasil yang kurang baik
seperti munculnya porous, bintil, sayap, warna, dan menempelnya gypsum pada akrilik.

Porositas dapat terjadi akibat beberapa hal, seperti kurangnya lapisan CMS pada
cetakan, kurang isi (adonan) dalam cetakan, kurang tekanan saat press terakhir, dan
temperatur saat curing lebih dari 100o C. Pada percobaan 1 dan 2 ada beberapa porus,
sedangkan pada percobaan ke 3 tidak ada karena saat memasukkan adonan dalam mould
saat fase rubbery sifat adonan paling padat daripada akrilik yang dihasilkan oleh fase
stringy dan dough.Porositas sendiri bisa diakibatkan dua hal, yaitu contraction porosity
dan gaseous porosity. Contraction porosity ada karena monomer berkontraksi hingga
20% dari volumenya saat di proses. Selain itu contraction porosity dapat diakibatkan
karena perubahan suhu dari suhu kuring ke suhu ruangan. Namun, apabila terjadi
porositas local, biasanya diakibatkan oleh kesalahan pencampuran atau adonan di
masukkan saat belum mencapai fase dough. Perbedaan kontraksi ini dapat
mengakibatkan distorsi pada basis gigi tiruan. Sedangkan gaseous porosity dapat
diakibatkan karena temperature kuring lebih dari 100,3 C. Titik didih dari monomer
adalah 100,3 oC dan apabila temperatur dinaikkan secara signifikan lebih dari suhu
tersebut, monomer akan mendidih dan mengakibatkan terbentuknya porositas gas
dibagian yang paling terkena panas. Setelah proses curing selesai, kuvet harus
didinginkan secara perlahan sampai suhu kamar.(McCabe & Walls, 2008, hal.115)
Kedua, bintil yang terdapat pada permukaan hasil manipulasi akrilik dapat terjadi
karenapada gipsum yang dipakai sebagai mould terdapat lubang-lubang kecit yang dapat
terisi oleh adonan aklirik sehingga menyebabkan timbulnya bintil pada permukaan hasil
manipulasi aklirik. Dan pada percobaan 1 tidak terlihat adanya bintil, sedangkan pada
percobaan 2 dan 3 terlihat.
Ketiga, adanya sayap pada akrilik hasil percobaan 1, 2,dan 3. Hal tersebut dapat
muncul karena pemotongan bagian adonan yang keluar dari cetakannya kurang rapi dan
benar, jadi saat pengepresan terakhir ternyata masih ada adonan didalam yang keluar dari
cetakan.
Dan yang keempat yaitu perbedaan warna pada hasilnya. Warna yang dimunculkan
pada percobaan 1, 2, dan 3 juga berbeda. pada percobaan 1 haslnya pucat, ke 2 warnanya
sedang, yang ke 3 warnanya gelap. Warna yang gelap yang dihasilkan dari percobaan 3
karena penuangan adonan dalam cetakan dilakukan pada tahap rubbery yang sudah siap

untuk polimerisasi dibandingkan adonan pada percobaan ke 1 dan 2, adonannya pun


sudah padat.
Lalu yang kelima jika dilihat dari adanya gips yang menempel di akrilik hal ini
disebabkan kegagalan dalam pengolesan atau menempatkan medium pemisah pada resin
acrylic yang kurang merata. Karena berdasarkan teori mengenai fungsi medium pemisah,
dengan pemberian medium pemisah seperti CMS tersebut dapat mencegah gypsum
menempel pada resin. Atau sayap ada dikarenakan saat telah melakukan pengepresan
pada press hidrolik, kelebihan resin akrilik dipotong menggunakan pisau model. Saat
memotong kelebihan itulah bahan separator Could Mould Seal (CMS) ikut terambil.
Sehingga tidak ada lagi penyekat antara akrilik dengan gipsum, yang menyebabkan
menempelnya sisa-sisa gipusm pada hasil percobaan.

Kesimpulan
Manipulasi resin akrilik aktivasi panas (heat cured) melalui beberapa tahap, yaitu
pencampuran (mixing), packing, curing, dan deflasking. Setelah dilakukan pencampuran
antara monomer dengan poliner, maka pencampuran tersebut mengalami beberapa fase,
yaitu sandy, stringy, dough, rubbery, dan stiff. Pada hasil percobaan terdapat hasil yang
kurang baik seperti munculnya porous, bintil, sayap, warna, dan menempelnya gypsum
pada akrilik. Resin akrilik paling baik jika dimanipulasi pada fase dough.

DAFTAR PUSTAKA
Annusavice KJ, Shen C, Rawls HR. 2013. Phillips Science of Dental Materials
12th ed. Missouri: Elsevier Saunders. pp. 475-82.
McCabe JF, and

Angus WGW. Applied Dental Materials, 9th edition.Blackwell

Publishing Ltd, United Kingdom, p. 114.