Anda di halaman 1dari 25

Case Report Session

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS

Oleh :
Wardhi Arief Hidayat

1010313020

Teda Faadhila

1210312106

Preseptor :
dr. Ade Asyari, Sp.THT-KL

BAGIAN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK


RS Dr. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga karya tulis ilmiah berupa
Case Report Session yang berjudul Otitis Media Supuratif Kronis dapat kami
selesaikan.
Terima Kasih kami ucapakan kepada staf pengajar yang telah
membimbing penulis selama menjalani kepaniteraan klinik senior di bagian
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, serta dr. Ade Asyari, Sp.THT-KL
sebagai pembimbing dalam penulisan karya tulis ilmiah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan segala kritik
dan saran yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberi
manfaat bagi kita semua di masa mendatang.
Padang, 29 April 2016

Penulis

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI TELINGA TENGAH
Telinga tengah berbentuk kubus dengan batasan:
-

Batas luar
Batas depan
Batas bawah
Batas belakang
Batas atas
Batas dalam

: membran timpani (gendang telinga)


: tuba eustachius
: vena jugularis (bulbus jugularis)
: aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis
: tegmen timpani (meningen)
: kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis,

tingkap lonjong, tingkap bundar, dan promontorium.1


a. Membran timpani
Membran timpani memisahkan liang telinga luar dengan kavum timpani
dan merupakan membran yang memiliki panjang rata-rata 9-10 mm, diameter
antero-posterior rata-rata 8-9 mm serta ketebalan rata-rata 0,1 mm. Secara
anatomis membran timpani dibagi menjadi dua, yaitu bagian atas yang disebut
pars flaksida (membran Shrapnell) dan bagian bawah yang disebut pars tensa
(membran propria). Bagian luar pars flaksida merupakan lanjutan epitel kulit liang
telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia. Pars tensa memiliki satu
lapisan lagi pada bagian tengah yang merupakan lapisan yang terdiri dari serat
kolagen dan sedikit serat elastin.1,2
Membran timpani memiliki dua macam serabut yakni sirkuler dan radier
yang menimbulkan refleks cahaya berupa kerucut ( cone of light ) baik pada
telinga kanan (arah jam 5) maupun telinga kiri (arah jam 7) yang bermula dari
umbo (bayangan penonjolan maleus bagian bawah pada membran timpani).1
Kuadran pada membran timpani dibagi berdasarkan garis yang ditarik dari
prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo,
sehingga membran timpani terbagi menjadi 4 kuadran yakni kuadran atas-depan,
atas-belakang, bawah-depan, bawah-belakang.

Gambar 1. Membran Timpani


b. Kavum timpani
Kavum timpani berbetuk bikonkaf dengan diameter anteroposterior atau
vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal 2-6 mm. Dinding kavum timpani
terdiri atas bagian atap, lantai, dinding lateral, dinding medial, dinding anterior,
dan d inding posterior. Kavum diabgi menjadi 3 bagian yakni epitimpanum,
mesotimpanum, dan hipotimpanum.2 Kavum timpani terdiri dari :
1. Tulang-tulang pendengaran ( maleus, inkus, stapes).
2. Dua otot.
3. Saraf korda timpani.
4. Saraf pleksus timpanikus

Gambar 2. Kavum timpani


c. Tuba Eustachius
Merupakan tuba yang menghubungkan kavum timpani degan nasofaring.
Panjang tuba rata-rata pada orang dewasa adalah 36mm dan pada anak dibawah 9
bulan adalah 17,5mm. Tuba eustachius terdiri dari 2 bagian yakni tulang dan
tulang rawan. Bagian tulang terletak pada bagian belakang dan pendek (1/3
bagian) sedangkan bagian tulang rawan terletak pada bagian depan dan panjang
(2/3 bagian). Otot-otot yang berhubungan dengan tuba adalah m. tensor veli
palatini, m. elevator veli palatini, m. tensor timpani, dan m. salpingofaringeus.
Tuba eustachius berfungsi sebagai ventilasi telinga yaitu mempertahankankan
keseimbangan tekanan udara didalam kavum timpani dengan tekanan udara luar,
drainase sekret dari kavum timpani ke nasofaring dan menghalangi masuknya
sekret dari nasofaring ke kavum timpani.2

Gambar 3. Anatomi telinga


d. Prosesus Mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke
kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding
lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada
daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum yang
merupakan suatu pintu yang besar iregular berasal dari epitisssmpanum posterior
menuju rongga antrum yang berisi udara, sering disebut sebagai aditus ad antrum.
2

Prosesus mastoid penting untuk sistem pneumatisasi telinga yakni suatu


proses pembentukan atau perkembangan rongga-rongga udara didalam tulang
temporal, dan sel-sel udara yang terdapat didalam mastoid adalah sebagian dari
sistem pneumatisasi yang meliputi banyak bagian dari tulang temporal.
Telinga tengah bersama dengan tuba eustachius, aditus antrum dan rongga
mastoid disebut sebagai potongan telinga tengah (middle ear cleft).3

Gambar 4. Middle ear cleft


Mastoid terdiri dari korteks tulang dengan honeycomb rongga udara
didalamnya. Berdasarkan perkembangan dari rongga udara, terdapat tiga tipe
mastoid:
1. Pneumatik, rongga-rongga udara mastoid terbentuk sempurna.
2. Diplotik, terganggu oleh proses infeksi. Hanya terdapat beberapa
kelompok sel-sel yang besar.
3. Sklerotik, terdapat tulang yang padat pada daerahmastoid karena aktivitas
osteoblast yang dirangsang oleh infeksi kronik atau berulang.2,3
e. Persarafan Korda Timpani
Sebuah cabang nervus Fasialis memasuki telinga tengah melalui
kanalikulus posterior, dan berjalan di permukaan medial membran timpani antara
lengan malleus and long prosess inkus, diatas perlekatan dari tendon tensor
timpani. Cabang ini membawa rangsangan rasa dari 2/3 anterior lidah dan
menyampaikan secremotor fiber ke kelenjar submaksila dan sublingual.3
f. Perdarahan Telinga Tengah
Telinga tengah diperdarahi oleh enam arteri. Dua arteri utama diantaranya:
1. Cabang anterior timpani dari arteri maksilaris yang memperdarahi
membran timpani.
2. Cabang stylomastoid branch dari arteri aurikula posterior yang
memperdarahi telinga tengah dan rongga mastoid.
Empat pembuluh darah minor diantaranya:
1. Cabang Petrosal dari arteri meningeal tengah.
2. Cabang timpani superior dari artei meningeal tengah yang menysuri kanal
ke otot tensor timpani.

3. Cabang arteri kanal pterigoid.


4. Cabang timpani dari carotis interna.
Vena mengalir ke pleksus pterigoid dan sinus petrosal superior.3
2.2 OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS
2.2.1 Definisi
Otitis media supuratif kronis adalah infeksi kronis di telinga tengah
dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar terus-menerus atau
hilang timbul. Sekret mungkin encer, kental, bening atau berupa nanah.1 Otitis
media supuratif kronis merupakan infeksi yang lama dan menetap pada middle
ear cleft. Karakteristik OMSK adalah keluarnya cairan dan perforasi permanen
dari membran timpani. Pinggir perforasi ditutupi oleh epitel squamous.5
2.2.2 Epidemiologi
Insiden OMSK meningkat pada golongan sosialekonomi menengah
kebawah, gizi kurang atau gizi buruk dan rendahnya edukasi kesehatan. OMSK
terdapat pada laki-laki maupun perempuan dan pada semua umur. Di India,
prevalensinya lebih tinggi pada daerah rural dibandingkan dengan daerah urban.
OMSK merupakan penyebab penurunan pendengaran pada populasi rural 3,5
2.2.3 Klasifikasi
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu5,6 :
1. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen.
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa
dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Secara klinis
penyakit tubotimpani terbagi atas:
1.1. Penyakit aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh
perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang
dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid
sampai mukopurulen.
8

1.2. Penyakit tidak aktif


Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan
mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif
ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh
dalam telinga.
2. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit
atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan terbentuknya
kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan
kolesteatom. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :
a. Kongenital
b. Akuisital.
Pada umumnya kolesteatom terdapat pada otitis media kronik dengan
perforasi marginal. Teori itu adalah :
1. Epitel dari liang telinga masuk melalui perforasi kedalam kavum timpani dan
disini ia membentuk kolesteatom ( migration teori menurut Hartmann); epitel
yang masuk menjadi nekrotis, terangkat keatas.
2. Embrional sudah ada pulau-pulau kecil dan ini yang akan menjadi kolesteatom.
3. Mukosa dari kavum timpani mengadakan metaplasia oleh karena infeksi
(metaplasia teori menurut Wendt).
4. Ada pula kolesteatom yang letaknya pada pars plasida ( attic retraction
cholesteatom).
Letak perforasi terdiri dari tiga bentuk6:
1. Perforasi sentral
Lokasi pada pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi masih ada sisa
membran timpani.
9

2. Perforasi marginal
Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus
timpanikum.
3. Perforasi atik
Terjadi pada pars flasida.
2.2.4 Etiologi
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada
anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari
nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah
melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor
predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Downs syndrom.
Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor
insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. Kelainan humoral (seperti
hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV, sindrom
kemalasan leukosit) dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis.1,6
Faktor risiko terjadinya OMSK antara lain7:
Otitis media akut berulang
Terapi antibiotik yang tidak adekuat
Infeksi traktus respiratori atas berulang
Nasal Disease
Hygiene and nutrisi
2.2.5 Patofisiologi

10

OMSK merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan
perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus
menerus. Otitis media nekrotikans, terutama pada masa anak-anak, menimbulkan
perforasi pada gendang telinga. Selanjutnya, gendang telinga tetap berlubang, atau
sembuh dengan membran yang atrofi yang kemudian dapat kolaps kedalam
telinga tengah, memberi gambaran otitis atelektasis. Hipotesis ini mengabaikan
beberapa kenyataan yang menimbulkan keraguan antara lain :
1. Hampir seluruh kasus otitis media akut sembuh dengan perbaikan
lengkap membran timpani. Pembentukan jaringan parut jarang terjadi,
biasanya ditandai oleh penebalan bukan atrofi.
2. Otitis media nekrotikans sangat jarang ditemukan sejak digunakannya
antibiotik.
3. Pasien dengan penyakit telinga kronis tidak mempunyai riwayat otitis
akut pada permulaannya, melainkan lebih sering berlangsung tanpa gejala
dan bertambah secara bertahap, sampai diperlukan pertolongan beberapa
tahun kemudian setelah pasien menyadari adanya masalah.
2.2.6 Gejala Klinis3
1. Otorrhoe. Sifatnya nonofensif, mukoid atau mukopurulen, konstan atau
intermitten. Otorrhoe sering muncul saat infeksi saluran napas atas atau
ketika secara tidak sengaja masuk air ke dalam telinga.

11

2. Pendengaran berkurang. Tipenya adalah tipe konduktif. Beratnya


bervariasi tapi jarang yang melebihi 50 dB. Terkadang, pasien mengalami
efek paradoks dimana pendengarannya terasa lebih baik pada telinga yang
berisi sekret dariapda telinga yang kering (sehat). Hal ini terjadi karena
round window shielding effect yang dihasilkan oleh sekret yang
membantu mempertahankan fase differential. Pada telinga yang kering dan
memiliki perforasi , gelombang suara menabrak oval window dan round
window secara simultan, sehingga menunda efek keduanya. Pada kasus
yang sudah lama, koklea bisa rusak karena penyerapan toksin dari oval
window dan round window dan penurunan pendengaran berubah menjadi
tipe campuran.
3. Perforasi. Selalu sentral, bisa terjadi di anterior, posterior ataupun inferior
dari lengan malleus. Bisa kecil, sedang maupun besar atau melebar sampai
ke annulus (subtotal).
4. Mukosa telinga tengah. Hal ini terlihat ketika perforasinya besar.
Normalnya berwarna pink pucat dan lembab, ketika inflamasi warnanya
akan terlihat merah, udem dan bengkak. Terkadang bisa terlihat polip.
2.2.7 Pemeriksaan Penunjang3
1. Pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan ini dierlukan pada setiap kasus
yang membutuhkan informasi mengenai adanya jaringan granulasi,
pertumbuhan epitel squamous dari pinggir perforasi, status rantai ossicular,
timanosklerosis dan adhesi.
2. Audiogram. Audiogram memberikan

informasi

mengenai

derajat

penurunan pendengaran dan tipenya. Biasanya, tipe konduksi namun


sensorineural bisa terjadi.
3. Kultur dan uji sensitivitas sekret. Pemeriksaan ini berguna untuk memilih
antibiotik yang sesuai.
4. Foto rontgen mastoid/ CT scan tulang temporal. Mastoid biasanya
sklerotik tapi bisa juga pneumotik dengan air cells yang keruh.
2.2.8 Tatalaksana1

12

Prinsip terapi OMSK tipe aman adalah konservatif atau dengan


medikamentosa. Bila sekret yang keluar terus menerus, maka diberikan obat
pencuci telinga, berupa larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. Setelah sekret
berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang
mengandung antibiotika dan kortikosteroid. Secara oral diberikan antibiotika dari
golongan ampisilin, atau eritromisin (bila pasien alergi ampisilin), sebelum hasil
ts resistensi penyebabnya telah resisten diterima. Pada infeksi yang dicurigai
karena penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin
asam klavulanat.
Bila sekret telah kering tetapi peforasi masih ada stelah di observasi
selama 2 bulan, maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti.
Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki
membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan
pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki pendengaran.
Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada, atau
terjadinya infeksi berulang, maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu,
mungkin juga perlu melakukan pembedahan, misalnya adenoidektomi dan
tonsilektomi.
Prinsip terapi OMSK tipe bahaya ialah pembedahan, yaitu mastoidektomi.
Jadi, bila terdapat OMSK tipe bahaya, maka terapi yang tepat ialah dengan
melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif
dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan
pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses
sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi.
2.2.9 Komplikasi OMSK6
A. Komplikasi di telinga tengah
1. Perforasi membran timpani persisten
2. Erosi tulang pendengaran

13

3. Paralisis nervus fasialis


B. Komplikasi di telinga dalam
1. Fistula labirin
2. Labirinitis supuratif
3. Tuli saraf (sensorineural)
C. Komplikasi ekstradural
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan safar pusat
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hidrosefalus

14

BAB II
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Nn. RF

Umur

: 17 tahun

Tanggal pemeriksaan : 18-4-2016

Jenis Kelamin : Perempuan


Alamat

: Lubuk Basung

Suku Bangsa : Minangkabau


ANAMNESIS
Seorang pasien perempuan berumur 17 tahun datang ke poliklinik THT RS DR.M
Djamil Padang pada tanggal 18 April 2016 jam 09.30 WIB dengan :
Keluhan Utama : Telinga berair sejak 2 bulan yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :
- Telinga berair sejak 2 bulan yang lalu.
- Riwayat telinga berair setiap kali mengalami demam dan pilek.
- Pendengaran berkurang sejak 2 minggu yang lalu.
- Pusing berputar sejak 4 hari yang lalu.
- Riwayat mengorek telinga dengan cuttonbud dan keluar darah setelah mengorek
telinga.
- Riwayat bersin-bersin di pagi hari.
- Riwayat keluar ingus dari hidung.
- Riwayat alergi dingin.
- Sebelumnya pasien sudah berobat ke RSAM Bukittinggi.
15

- Tidak ada keluhan demam.


- Tidak ada keluhan batuk.
- Tidak ada gangguan menelan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat bisul di belakang telinga kiri pada usia 2 tahun.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini.
Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, dan Kebiasaan:
-

Pasien seorang lulusan SMK dan belum bekerja.

Pasien mempunyai kebiasaan mencongkel telinga dengan cottonbud.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum

: Sakit sedang

Kesadaran

: CMC

Tekanan darah

: 100/70 mmHg

Frekuensi nadi

: 84 x/menit

Frekuensi nafas

: 20 x/menit

Suhu

: 36.7 C

Pemeriksaan sistemik
Kepala

: tidak ada kelainan

Mata

: Konjungtiva
Sklera

: tidak anemis
: tidak ikterik

16

Toraks

: Jantung

: dalam batas normal

Paru

: dalam batas normal

Abdomen

: hepar dan lien tidak teraba

Extremitas

: tidak ada kelainan, edem ()

STATUS LOKALIS THT


Pemeriksaan

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Kel. Kongenital

Trauma

Radang

Kel. Metabolik

Nyeri tarik

Nyeri tekan

Cukup lapang (N)

Cukup lapang

Sulit dinilai

Sempit

Sulit dinilai

Hiperemi

Sulit dinilai

Edema

Sulit dinilai

Massa

Sulit dinilai

Bau

/ Warna

Putih kekuningan

Jumlah

Banyak

Jenis

Mukopurulen

Warna

Putih mengkilat

Sulit dinilai

Refleks cahaya

Sulit dinilai

Bulging

Sulit dinilai

Retraksi

Sulit dinilai

Daun Telinga

Dinding

Liang

Telinga

Sekret

(-)

Serumen

Membran Timpani
Utuh

17

Perforasi

Atrofi

Sulit dinilai

Jumlah perforasi

Sulit dinilai

Jenis

Sulit dinilai

Kwadran

Sulit dinilai

Pinggir

Sulit dinilai

Tanda radang

Fistel

Sikatrik

Nyeri tekan

Nyeri ketok

Rinne

Schwabach

Sama

Gambar

Mastoid

dengan Memendek

pemeriksa

Tes Garpu tala


Weber

Lateralisasi ke telinga kanan

Kesimpulan

AS tuli konduktif dan sensorineural

Audiometri

AS tuli konduktif

Timpanometri

AD gangguan hantaran konduksi


Tidak dilakukan pemeriksaan

Hidung
Pemeriksaan

Hidung luar

Kelainan
Deformitas
Kelainan
congenital
Trauma
Radang
Massa

18

Dextra
-

Sinistra
-

Sinus paranasal
Pemeriksaan
Nyeri tekan
Nyeri ketok

Dextra
-

Sinistra
-

Rinoskopi Anterior
Vestibulum
Kavum nasi
Sekret

Konka inferior

Konka media

Septum

Massa

Vibrise
Radang
Cukup lapang (N)
Sempit
Lapang
Lokasi
Jenis
Jumlah
Bau
Ukuran
Warna
Permukaan
Edema
Ukuran
Warna
Permukaan
Edema
Cukup lurus/deviasi
Permukaan
Warna
Spina
Krista
Abses
Perforasi
Lokasi
Bentuk
Ukuran
Permukaan
Warna
Konsistensi
Mudah digoyang
Pengaruh
vasokonstriktor

19

+
+
+
+
Cavum nasi
Serous
Sedikit
Eutrofi
Eutrofi
Livid
Livid
Licin
Licin
Eutrofi
Eutrofi
Livid
Livid
Licin
Licin
Cukup lurus
Licin
Licin
Merah muda
Merah muda
-

Gambar

Rinoskopi Posterior : Tidak dilakukan


Pemeriksaan
Koana
Mukosa

Konkha superior
Adenoid
Muara tuba
eustachius
Massa
Post Nasal Drip

Kelainan
Cukup lapang (N)
Sempit
Lapang
Warna
Edema
Jaringan granulasi
Ukuran
Warna
Permukaan
Edema
Ada/tidak
Tertutup secret
Edema mukosa
Lokasi
Ukuran
Bentuk
Permukaan
Ada/tidak
Jenis

Dekstra
-

Sinistra
-

Gambar

Orofaring dan mulut


Pemeriksaan
Trismus
Uvula
Palatum mole +

Kelainan

Dekstra

Sinistra
-

Edema
Bifida
Simetris/tidak

Simetris
20

Simetris

Arkus faring
Dinding Faring
Tonsil

Peritonsil
Tumor

Gigi
Lidah

Warna
Edema
Bercak/eksudat
Warna
Permukaan
Ukuran
Warna
Permukaan
Muara kripti
Detritus
Eksudat
Perlengketan dengan

Merah muda
Merah muda
Merah muda
Merah muda
Licin
Licin
T1
T1
Merah muda
Merah muda
Rata
Rata
Tidak Melebar
Tidak Ada
Tidak ada
-

pilar
Warna
Edema
Abses
Lokasi
Bentuk
Ukuran
Permukaan
Konsistensi
Karies/radiks
Kesan
Warna
Bentuk
Deviasi
Massa

Merah muda
Hygiene baik
Hygiene baik
Merah muda
Merah muda
Normal
Normal
-

Gambar

Laringoskopi Indirek : Tidak dilakukan


Pemeriksaan
Epiglottis
Aritenoid

Kelainan
Bentuk
Warna
Edema
Pinggir rata/tidak
Massa
Warna
Edema
Massa

Dekstra
21

Sinistra
-

Ventrikular Band

Plika Vokalis
Subglotis/trachea
Sinus piriformis
Valekule

Gerakan
Warna
Edema
Massa
Warna
Gerakan
Pinggir medial
Massa
Massa
Sekret ada/tidak
Massa
Sekret
Massa
Sekret (jenisnya)

Gambar

Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher

Pada inspeksi tidak terlihat pembesaran kelenjar getah bening


leher.

Pada palpasi tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening


leher.

22

RESUME (DASAR DIAGNOSIS)


Anamnesis
-

Telinga berair (+) sejak 2 bulan yang lalu. Pendengaran berkurang (+)
sejak 2 minggu yang lalu. Pusing berputar (+) sejak 4 hari yang lalu.
Bersin-bersin di pagi hari (+).

Diagnosis Utama
-

Jaringan Granulasi ec Otitis Media Supuratif Kronis Maligna Auricularis


Sinistra

Diagnosis Tambahan :
-

Rhinitis Alergi

Diagnosis Banding
-

Osteoma

Pemeriksaan Anjuran :
-

Audiometri, CT Scan Mastoid, Pemeriksaan Patologi Anatomi, Culture


Sensitivity Test

Terapi :
-

H2O2 3%
Ofloxacin
Parasetamol 500 mg
Rencana Mastoidektomi

Prognosis
-

Quo ad Vitam : bonam


Quo ad Sanam : dubia et malam

Nasehat
-

Telinga tidak boleh dikorek

23

BAB III
DISKUSI
Telah dilaporkan seorang pasien wanita berusia 17 tahun datang ke
Poliklinik THT Dr. M Djamil Padang tanggal 18 April 2016 dengan diagnosis
jaringan Granulasi ec Otitis Media Supuratif Kronis Maligna Auricularis Sinistra.
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Dari anamnesis didapatkan telinga kiri keluar cairan sejak 2 bulan yang
lalu. Pendengaran berkurang sejak 2 minggu yang lalu. Pusing berputar sejak 4
hari yang lalu. Pasien mengalami telinga berair setiap kali demam. Pasien
memiliki riwayat bersin-bersin di pagi hari.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan telinga kiri keluar cairan berwarna putih
kekuningan, berbau dan mukopurulen. Liang telinga dan membran timpani sulit
diperiksa karena tertutup oleh sekret. Tidak ada kelainan ada telinga kanan, liang
telinga lapang, membran timpani utuh dan refleks cahaya positif.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran dan
Kelainan Telinga. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher Edisi ke 7. Jakarta: FKUI. 2012. Hal: 10-22
2. Nursiah, S. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan terhadap
Beberapa Antibiotika di Bagian THT FK USU / RSUP. H. Adam Malik
Medan. Bagian THT FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan. Medan. USU
Digital Library, 2003. Available at: http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-siti
3.
4.

5.
6.

%20nursiah.pdf (Diakses pada: 28 April 2016).


Dhingra DL, Dhingra S, Dhingra D. Disease of ear, nose and throat & head
and neck surgery. India: Elsevier. 2014. Hal: 67-74.
Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid.
Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6.
Jakarta: EGC, 1997: 88-118
Bansal M. Disease of ear, nose and throat head and neck surgery. New Delhi:
Jaypee Brothers Medical Publisher. 2013. Hal: 207-215.
Helmi, Djaafar ZA, Restuti RD. Komplikasi Otitis Media Supuratif. Dalam
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher

Edisi ke 7. Jakarta: FKUI. 2012. Hal: 78-86.


7. Acuin J. Chronic Suppurative Otitis Media: Burden of Illness and
Management Options. World Health Organization. Switzerland: WHO
Library Cataloguing-in-Publication Data.2004.

25