Anda di halaman 1dari 21

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat

tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT


NOMOR TAHUN
TENTANG
PENGELOLAANJASA LINGKUNGAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR JAWA BARAT,
Menimbang

Mengingat

@Bandung, 28 April 2014

: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 42dan Pasal


43 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
perlu
menetapkan
Peraturan
Pemerintah
tentang
Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup dan Pasal 34
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 1 Tahun
2012 tentang Penyelenggaraan Lingkungan Hidup dan
Penaatan Hukum Lingkungan;
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
:
Tahun 1945 Pasal 5 ayat (2);
2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang
Pembentukan Provinsi Jawa Barat (Berita Negara
Republik Indonesia tanggal 4 Juli 1950) Jo. UndangUndang Nomor 20 Tahun 1950 tentang Pemerintahan
Jakarta Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1950 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 15) sebagaimana telah
diubah beberapa kali, terakhir dengan UndangUndang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai
Ibukota
Negara
Kesatuan
Republik
lndonesia
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4744) dan Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000
Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4010);
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Pokok-Pokok Agraria;

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

4.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang


Konservasi Sumber
Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya
(Lembaran
Negara
Republik
IndonesiaTahun 1990
Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
5. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun
2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang
Kehutanan
Menjadi
Undang-undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4412);
6. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air
(Lembaran Negara Republik
IndonesiaTahun
2004
Nomor
32,
Tambahan
Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 4377);
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik
IndonesiaTahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 4437)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara
Republik IndonesiaTahun 2008 Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 4844);
8. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran
Negara Republik IndonesiaTahun 2009 Nomor 4,
Tambahan
Lembaran
Negara
Republik
IndonesiaNomor 4959);
9. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan
(Lembaran
Negara
Republik
IndonesiaTahun
2009
Nomor
11,
Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4966);
10. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik

@Bandung, 28 April 2014

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

IndonesiaNomor 5059);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994
tentang Pengusahaan
Pariwisata Alam di Zona
Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya
dan Taman Wisata Alam (Lembaran Negara Republik
IndonesiaTahun
1994
Nomor
25,
Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3550);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran
Air
(Lembaran
Negara
Republik
IndonesiaTahun 2001 Nomor 153, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4161);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005
tentang Pengembangan Sistem Penyedia Air Minum
(Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 33, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4490);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006
tentang Irigasi (Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik
IndonesiaNomor 4624);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang
Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan
Hutan serta Pemanfaatan Hutan;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008
tentang Rencana Tata Ruang Nasional;
17. Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2010 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat
Tahun 2009-2029;
18. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 1
Tahun 2012 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
dan Penaatan Hukum Lingkungan;
19. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 1
Tahun 2013 tentang Pedoman Pelestarian dan
Pengendalian Pemanfaatan Kawasan Lindung;
M E M U T U S K A N:
Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG
LINGKUNGAN.

PENGELOLAAN

JASA

BAB I
KETENTUAN UMUM

@Bandung, 28 April 2014

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Provinsi Jawa Barat;
2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan perangkat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan daerah;
3. Gubernur adalah Gubernur Jawa Barat;
4. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya,
yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan,
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
5. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya
sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan,
pengendalian, pengembangan, pemeliharaan, pengawasan, dan
penegakan hukum.
6. Pembangunan Berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang
memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam
strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup
serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan.
7. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam
untuk
menjamin
pemanfaatannya
secara
bijaksana
serta
kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.
8. Sumber Daya Alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas
sumber daya hayati dan nonhayati yang secara keseluruhan
membentuk kesatuan ekosistem.
9. Jasa lingkungan adalah manfaat yang diperoleh manusia dari
hubungan timbalbalik yang dinamis yang terjadi di dalam lingkungan
hidup, antara tumbuhan, binatang, dan jasa renik dan lingkungan
nonhayati.
10. Pemanfaatan Jasa Lingkungan adalah bentuk usaha untuk
memanfaatkan potensi jasa lingkungan dalam upaya keberlanjutan
lingkungan yang baik dengan tidak merusak lingkungan dan tidak
mengurangi fungsi pokok kelestarian hutan yang berfungsi sebagai
daerah resapan air tanah.
11. PengelolaanJasaLingkunganadalahupayaterpaduuntukmelestarikan
fungsi jasa lingkungan meliputi kegiatanperencanaan,pelaksanaan,
pembinaan, pengendalian dan pengawasan;
@Bandung, 28 April 2014

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

12. Instrumen ekonomi lingkungan hidup adalah seperangkat kebijakan


ekonomi untuk mendorong Pemerintah, pemerintah daerah, atau
setiap orang ke arah pelestarian fungsi lingkungan hidup.
13. Internalisasi
biaya
lingkungan
hidup
adalah
upaya-upaya
memasukkan
biaya-biaya
lingkungan
dalam
perencanaan
pembangunan dan kegiatan ekonomi.
14. Pembayaran Jasa Lingkungan adalah pembayaran jasa terhadap
objek-objek jasa lingkungan yang dikelola oleh penyedia jasa
lingkungan demi pelestariannya;
15. Kompensasi Jasa Lingkungan adalah mekanisme pembayaran antar
daerah yang diberikan oleh pemanfaat jasa lingkungan kepada
penyedia jasa lingkungan dalam rangka fungsi pelestarian lingkungan.
16. Imbal Jasa Lingkungan adalah pembayaran yang diberikan oleh
pemanfaat jasa lingkungan kepada penyedia jasa lingkungan dalam
rangka fungsi pelestarian lingkungan.
17. Penyedia jasa lingkungan adalah perorangan, kelompok masyarakat,
perkumpulan, badan hukum, pemerintah daerah, pemerintah yang
memiliki akses terhadap sumber daya, ekosistem atau lahan dan dapat
membantu menyediakan, menghasilkan atau meningkatkan produksi
jasa lingkungan secara berkelanjutan.
18. Pemanfaat jasa lingkungan adalah perorangan, kelompok masyarakat,
perkumpulan, badan hukum, pemerintah daerah, pemerintah yang
memperoleh akses terhadap jasa lingkungan dengan bantuan penyedia
keberlangsungan jasa lingkungan.
19. Insentif adalah upaya memberikan dorongan atau daya tarik secara
moneter dan/atau nonmoneter kepada setiap orang ataupun
Pemerintah dan pemerintah daerah agar melakukan kegiatan yang
berdampak positif pada cadangan sumber daya alam dan kualitas
fungsi lingkungan hidup.
20. Disinsentif adalah pengenaan beban atau ancaman secara moneter
dan/atau nonmoneter kepada setiap orang ataupun Pemerintah dan
pemerintah daerah agar mengurangi kegiatan yang berdampak negatif
pada cadangan sumber daya alam dan kualitas fungsi lingkungan
hidup.
21. Kearifan Lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata
kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola
lingkungan hidup secara lestari.
22. Audit adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan
penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan terhadap persyaratan
hukum dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
23. Penghargaan kinerja di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup adalah kegiatan untuk memberikan penghargaan
terhadap kinerja dalam rangka perlindungan dan pengelolaan

@Bandung, 28 April 2014

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

lingkungan hidup.
24. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
Bagian Kedua
Tujuan
Pasal 2
Tujuanpengelolaanjasalingkungan yaitu:
a. untukmewujudkanpengelolaansumberdaya alam yang berwawasan
lingkungan melalui pemanfaatan potensi jasa lingkungan secara
berkelanjutan dengan tetap memperhatikan konservasi sumber daya
alam dan ekosistemnya;
b. meningkatkan kepedulian para pihak terhadap upaya menjaga,
memelihara, dan memanfaatkan jasa lingkungan sebagai output
dari kinerja ekologis sumber daya alam yang dikelola secara
berkelanjutan;
c. meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kualitas sumber daya
alam dan lingkungan hidup secara seimbang dan berkelanjutan
dengan mempertimbangkan kearifan lokal;
d. meningkatkan
kepastian
dan
jaminan
tersedianya
kompensasi/imbal jasa bagi perlindungan dan pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
Bagian Ketiga
Ruang Lingkup
Pasal 3
(1) Untukmenjaminterselenggaranya
pengelolaanjasa
lingkunganyangdapat
memberikanmanfaatyangsebesar-besarnya
bagikepentinganmasyarakatdisusunpolapengelolaanjasa lingkungan.
(2) Polapengelolaanjasa
lingkungansebagaimana
dimaksudpadaayat(1)disusun
berdasarkan
prinsipketerpaduan
antarahulu dan hilir.
(3) Penyusunanpolapengelolaanjasa
lingkungansebagaimanadimaksudpadaayat
(2)
dilakukandengan
melibatkan peran para pihak seluas-luasnya.
(4) Polapengelolaanjasa lingkungandidasarkanpadaprinsipkeseimbangan
antara upayakonservasidanpendayagunaanjasa lingkungan.
Pasal 4
Ruang lingkup dalam peraturan daerah ini meliputi:

@Bandung, 28 April 2014

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

a.
b.
c.
d.
e.

perencanaan;
pelaksanaan;
pembinaan;
pengawasan;
pengendalian.
BAB IV
PERENCANAAN
Pasal 5
(1) Pengelolaan jasa lingkungan dilakukan dengan perencanaan terpadu,
terarah dan berkesinambungan.
(2) Perencanaan dimaksudkan untuk memberikan pedoman dan arah
bagi pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota,
masyarakat, pelaku usaha dalam pelaksanaan pengelolaan jasa
lingkungan, yang memuat strategi dan kebijakan untuk menjamin
tercapainya tujuan pengelolaan jasa lingkungan.
(3) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), meliputi kegiatan:
a. Inventarisasi jasa lingkungan;
b. Penyusunan rencana pengelolaan jasa lingkungan;
(4) Kegiatan inventarisasi jasa lingkungan meliputi:
a. mengidentifikasi prospek jasa lingkungan;
b. mengidentifikasi penyedia jasa lingkungan;
c. mengidentifikasi pemanfaat jasa lingkungan;
d. mengidentifikasi kapasitas kelembagaan;
e. pemetaan hulu hilir prospek jasa lingkungan
f. penataan perjanjian atau kesepakatan antara penyedia dan
pemanfaat jasa lingkungan.
(5) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a, dengan
memperhatikan tata ruang wilayah provinsi.
(6) Rencana pengelolaan jasa lingkungan sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) huruf b disusun berdasarkan data dan informasi:
a. potensi, ketersediaan dan sebaran sumber daya alam; dan
b. jenis,
jumlah, kondisi dan nilai sumber daya alam yang
dimanfaatkan.
(7) Untuk mengetahui nilai jasa sumberdaya alam sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) huruf b dilakukan valuasi ekonomi jasa
lingkungan sesuai ketentuan perundangan.
(8) Penyusunan rencana pengelolaan jasa lingkungan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) disusun sebagai berikut :
a.
Rencana pengelolaan jasa lingkungan tingkat provinsi disusun
berdasarkan hasil inventarisasi jasa lingkungan tingkat provinsi
b.
Rencana pengelolaan jasa lingkungan tingkat kabupaten/kota
disusun berdasarkan hasil inventarisasi jasa lingkungan tingkat

@Bandung, 28 April 2014

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

kabupaten/kota dan memperhatikan rencana pengelolaan jasa


lingkungan tingkat provinsi.
(9) Kegiatan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilakukan oleh lembaga pelaksana jasa lingkungan yang ditetapkan
oleh keputusan Gubernur, berkoordinasi dengan instansi teknis
terkait dan dilaksanakan secara partisipatif.
(10)
Rencanapengelolaanjasa
lingkungan
s eba ga ima na
dim a ksu d pa da ayat (8) ditetapkanolehGuber nur .

BAB V
PELAKSANAAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 6
(1) Pelaksanaan jasa lingkungan dilakukan berdasarkan rencana
pengelolaan jasa lingkungan
(2) Pelaksanaan
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
dengan
memperhatikan prinsip keadilan lingkungan dimaksudkan untuk
menjamin pengelolaan jasa lingkungan secara berkelanjutan.
(3) Untuk menjamin pelaksanaan pengelolaan jasa lingkungan secara
berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pemerintah provinsi
dan atau pemerintah kabupaten/kota dapat mengembangkan :
a. kompensasi jasa lingkungan;
b. imbal jasa lingkungan; dan
c. biaya jasa lingkungan lainnya sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan ilmu pengetahuan.
(4) Ketentuan dan tata cara pelaksanaan pengelolaan jasa lingkungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan Gubernur.

Bagian Kedua
Mekanisme Kompensasi Jasa Lingkungan
Pasal 7
(1) Pemerintah Provinsi dan atau Pemerintah Kabupaten/kotamenyusun
mekanisme kompensasi jasa lingkungan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a dengan melibatkan para pihak.
(2) Penyusunan mekanisme sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
didasarkan pada adanya penyedia dan/atau pemanfaat jasa
lingkungan antar daerah dan/atau dalam daerah.

@Bandung, 28 April 2014

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

Pasal 8
(1) Pihak yang dapat menjadi penyedia dan/atau pemanfaat jasa
lingkungan
dalam
mekanisme
kompensasijasa
lingkungan
sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 yaitu:
a. Pemerintah;
b. pemerintah provinsi; dan/atau
c. pemerintah kabupaten/kota.
(2) Pihak yang menjadi penyedia jasa lingkungan dan pemanfaat jasa
lingkungan yang melaksanakan sistem pembayaran jasa lingkungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Unit
Pengelolaan Jasa Lingkungan (UPJL) dengan terlebih dahulu
dilakukan identifikasi penyedia dan pemanfaat dan delineasi
keterkaitan kawasan hulu-hilir.
Pasal 9
Kompensasi jasa lingkungan diterima pihak penyedia jasa lingkungan yang
melakukan kegiatan:
a. rehabilitasi;
b. konservasi;
c. pemeliharaan lingkungan;
d. pengayaan keanekaragaman hayati; dan/atau
e. kegiatan lainnya sesuai perkembangan.
Pasal 10
Kompensasi jasa lingkungan diberikan kepada penyedia jasa oleh pihak
pemanfaat jasa lingkungan.

Pasal 11
(1) Dalam melaksanakan kompensasi jasa lingkungan, pihak penyedia
dan/atau pemanfaat jasa lingkungan bersama-sama menyiapkan:
a. identifikasi jenis, jumlah, dan kepemilikan jasa lingkungan yang
dapat ditransaksikan;
b. ruang lingkupkompensasi jasa lingkungan;
c. indikator kelangsungan jasa lingkungan;
d. mekanisme dan tata laksana; dan
e. sumber dana kompensasi jasa lingkungan.
(2) Sumber dana kompensasi jasa lingkungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf e dapat berasal dari sumber yang sah sesuai

@Bandung, 28 April 2014

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

dengan peraturan perundang-undangan.


Pasal 12
(1) Pelaksanaan kompensasi jasa lingkungan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11dilakukan oleh Unit Pengelolaan Jasa Lingkungan
(UPJL).
(2) Bentuk dan mekanisme kerja Unit Pengelolaan Jasa Lingkungan
(UPJL) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
peraturan perundang-undangan.
Pasal 13
(1) Untuk mendorong terlaksananya kerjasama kompensasi jasa
lingkungan, pihak penyedia dan pemanfaat jasa lingkungan dapat
menggunakan bantuan fasilitator.
(2) Penentuan fasilitator sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
oleh Unit Pengelolaan Jasa Lingkungan (UPJL).
Pasal 14
(1)
Pelaksanaan
pemberian
kompensasi
jasa
lingkungan didasarkan pada perjanjian kerjasama antara pihak
penyedia dan pemanfaat jasa lingkungan.
(2)
Perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) paling sedikit memuat:
a. para pihak yang terlibat dalam pembayaran jasa lingkungan;
b. jenis kompensasi jasa lingkungan;
c. bentuk kompensasi jasa lingkungan;
d. nilai kompensasi jasa lingkungan;
e. hak dan kewajiban;
f. rencana kerja penyediaan jasa lingkungan;
g. monitoring dan evaluasi
h. jangka waktu perjanjian kerjasama;
i. kelembagaan dan tata laksana;
j. mekanisme penyelesaian perselisihan; dan
k. hal lainnya yang dipandang perlu.
(3)
Pedoman penyusunan perjanjian kerjasama diatur
dalam Peraturan Gubernur.
Pasal 15
(1)
Jenis kompensasi jasa lingkungan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 ayat (2) huruf b dapat berupa:
a. perlindungan dan/atau rehabilitasi daerah aliran sungai;
b. perlindungan keanekaragaman hayati;
c. perlindungan sumber daya genetik;
@Bandung, 28 April 2014

10

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

d. penyerapan karbon;
e. pelestarian keindahan alam; dan
f. jasa lingkungan lainnya.
(2)
Bentuk kompensasi jasa lingkungan sebagaimana dimaksud
pada dalam Pasal 14 ayat (2) huruf c dapat berupa:
a.
uang; atau
b.
sesuatu lainya yang dapat dinilai dengan uang.
(3)
Nilai kompensasi jasa lingkungan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 ayat (2) huruf d ditentukan berdasarkan pada
perhitungan 2 (dua) komponen biaya, yaitu:
a.
biaya ekonomi upaya konservasi; dan
b.
biaya transaksi pelaksanaan kerjasama.

(4)
Hak dan kewajiban pihak penyedia sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 ayat (2) huruf e, yaitu :
a. Pihak penyedia berhak :
1) Memperoleh
data
dan
informasi
mengenai
aktivitas
pemanfaatan jasa lingkungan.
2) Memperoleh dukungan yang berkelanjutan sesuai kemampuan
dari pemanfaat untuk melakukan perlindungan, pelestarian,
dan pengawetan sumber daya alam.
3) Mendapatkan kompensasi sesuai pasal 15 untuk perlindungan
jasa lingkungan.
b. Pihak penyedia berkewajiban :
1) Melaksanakan pengelolaan jasa lingkungan untuk menjamin
ketersediaan manfaat secara berkelanjutan.
2) Melaksanakan perlindungan, pelestarian dan pengawetan
sumber daya alam yang menghasilkan jasa lingkungan di areal
penyedia jasa lingkungan.
(5)
Hak dan kewajiban pihak pemanfaat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 ayat (2) huruf e, yaitu :
a. Pihak pemanfaat berhak :
1) Mendapatkan akses prospek jasa lingkungan dari pihak
penyedia jasa lingkungan.
2) Memanfaatkan jasa lingkungan melalui proses yang sesuai
dengan peraturan yang berlaku.

@Bandung, 28 April 2014

11

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

3) Memperoleh bantuan teknis dan dukungan dari pihak penyedia


agar pelaksanaan mekanisme imbal jasa lingkungan berjalan
dengan baik.
b. Pihak pemanfaat berkewajiban :
1) Memberikan kompensasi/ dan atau imbal jasa lingkunganpada
penyedia jasa lingkungan.
2) Melaksanakan monitoring kualitas dan kuantitas produk jasa
lingkungan yang akan digunakan secara periodik.
(6)
Rencana kerja penyediaan jasa lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf f adalah kegiatan
penyusunan rencana yang dilakukan oleh penyedia dalam rangka
menjamin ketersediaan jasa lingkungan secara berkelanjutan.
(7)
Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
ayat (2) huruf g dilakukan terhadap proses, pelaksanaan, dan hasil
mekanisme imbal jasa lingkungan untuk menjamin mekanisme imbal
jasa lingkungan antara pihak penyedia dan pemanfaat dibawah
supervisi Unit Pengelolaan Jasa Lingkungan (UPJL).
(8)
Kelembagaan dan tata laksana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 14 ayat (2) huruf h adalah norma, aturan dan tata cara imbal
jasa lingkungan yang disepakati penyedia dan pemanfaat untuk
menjamin proses imbal jasa lingkungan dapat berjalan secara baik.
(9)
Jangka waktu perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14 ayat (2) huruf i dilakukan ditanda tangani oleh pihak penyedia dan
pemanfaat yang berlaku pada kurun waktu sesuai kesepakatan pihak
penyedia dan pemanfaat dan dievaluasi setiap satu tahun sekali.
(10)
Mekanisme penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 ayat (2) huruf j dilakukan pihak penyedia dan
pemanfaat jasa lingkungan secara musyawarah dan mufakat sesuai
dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Bagian Ketiga
Mekanisme Imbal Jasa Lingkungan
Pasal 16
(3) Imbal jasa lingkungan diberikan oleh pihak pemanfaat jasa
lingkungan kepada penyedia jasa lingkungan terkait dengan
penggunaan jasa lingkungan langsung maupun tidak langsung.
(4) Pihak yang dapat menjadi penyedia jasa lingkungan dan pemanfaat
jasa lingkungan dalam mekanisme imbal jasa lingkungan yaitu:
a. Pemerintah;
b. pemerintah provinsi;
c. pemerintah kabupaten/kota;
@Bandung, 28 April 2014

12

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

d.
e.
f.
g.

setiap orang;
kelompok masyarakat;
masyarakat hukum adat; dan/atau
pelaku usaha.

(5) Pihak yang menjadi penyedia jasa lingkungan dan pemanfaat jasa
lingkungan yang melaksanakan sistem pembayaran jasa lingkungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Unit
Pengelolaan Jasa Lingkungan (UPJL)dengan terlebih dahulu
dilakukan identifikasi penyedia dan pemanfaat dan delineasi
keterkaitan kawasan hulu-hilir.
Pasal 17
Dalam melaksanakan imbal jasa lingkungan, pihak penyedia dan/atau
pemanfaat jasa lingkungan bersama-sama menyiapkan:
a. identifikasi jenis, jumlah, dan kepemilikan jasa lingkungan yang dapat
ditransaksikan;
b. ruang lingkup imbal jasa lingkungan;
c. indikator kelangsungan jasa lingkungan;
d. mekanisme dan tata laksana; dan
e. sumber dana imbal jasa lingkungan.
Pasal 18
Bentuk dan tatacara pengelolaan lembaga pelaksana ditingkat penyedia dan
pemanfaat jasa lingkungan dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan.
Pasal 19
(1) Untuk mendorong terlaksananya kerjasama imbal jasa lingkungan,
pihak penyedia dan pemanfaat jasa lingkungan dapat menggunakan
bantuan fasilitator.
(2) Penentuan fasilitator sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
oleh Unit Pengelolaan Jasa Lingkungan (UPJL).
Pasal 20
(1) Pelaksanaan pemberian imbal jasa didasarkan pada perjanjian
kerjasama antara pihak penyedia dan pemanfaat jasa lingkungan.
(2) Perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling
sedikit memuat:
a. para pihak yang terlibat dalam pembayaran jasa lingkungan;
b. jenis dan jumlah imbal jasa lingkungan;
c. bentuk imbal jasa lingkungan;
d. nilai imbal jasa lingkungan;
@Bandung, 28 April 2014

13

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

e.
f.
g.
h.
i.
j.

hak dan kewajiban;


rencana kerja penyediaan jasa lingkungan;
monitoring dan evaluasi;
jangka waktu perjanjian kerjasama;
kelembagaan dan tata laksana;dan
mekanisme penyelesaian perselisihan.

Pasal 21
(1)
Jenis imbal jasa lingkungan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (2) huruf b dapat berupa:
a. perlindungan dan/atau rehabilitasi daerah aliran sungai;
b. perlindungan keanekaragaman hayati;
c. perlindungan sumber daya genetik;
d. penyerapan karbon;
e. pelestarian keindahan alam;
f. pelestarian dan perlindungan pesisir dan laut; dan
g. jasa lingkungan lainnya.
(2)
Bentuk imbal jasa lingkungan sebagaimana dimaksud pada
dalam Pasal 21 ayat (2) huruf c dapat berupa:
a.
uang; atau
b.
sesuatu lainya yang dapat dinilai dengan uang.
(3)
Nilai imbal jasa lingkungan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (2) huruf d ditentukan berdasarkan pada perhitungan 2
(dua) komponen biaya, yaitu:
a.
biaya ekonomi upaya konservasi; dan
b.
biaya transaksi pelaksanaan kerjasama.
(4)
Hak dan kewajiban pihak penyedia dan pemanfaat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf e, yaitu :
1. Hak dan kewajiban penyedia
Pihak penyedia wajib melaksanakan pengelolaan jasa lingkungan
untuk menjamin ketersediaan manfaat secara berkelanjutan
Pihak penyediaberhak
a. Memperoleh
data
dan
informasi
mengenai
aktivitas
pemanfaatan jasa lingkungan yang dimanfaatkan pihak
pemanfaat yang berasal dari sumber jasa lingkungan.
b. Memperoleh dukungan yang berkelanjutan sesuai kemampuan
dari pemanfaat untuk melakukan perlindungan, pelestarian,
dan pengawetan sumber daya air.
c. Mendapatkan
kompensasi
dalam
bentuk
in-kind
untukpelindungan jasa lingkungan.
2. Hak dan Kewajiban pihak pemanfaat
Pihak pemanfaat berkewajiban

@Bandung, 28 April 2014

14

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

a. Membantu melaksanakan perlindungan, pelestarian dan


pengawetan sumber jasa lingkungan di areal penyedia jasa
lingkungan.
b. Melaksanakan monitoring kualitas dan kuantitas produksi jasa
lingkungan yang akan digunakan secara periodik.
c. Mendukung upaya rehabilitasi lahan kritis di areal sumber jasa
lingkungan.
Pihak pemanfaat berhak
a. Mendapatkan akses sumber jasa lingkungan dari pihak
penyedia jasa lingkungan.
b. Memanfaatkan sumber jasa lingkungan melalui proses yang
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
c. Memperoleh bantuan teknis dan dukungan dari pihak penyedia
agar pelaksanaan mekanisme imbal jasa lingkungan berjalan
dengan baik.
(5)
Rencana kerja penyediaan jasa lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf f adalah kegiatan
penyusunan rencana yang dilakukan oleh penyedia dalam rangka
menjamin ketersediaan jasa lingkungan secara berkelanjutan, yang
memuat rencana lokasi, jenis dan sebaran, serta volume penyediaan
jasa lingkungan.
(6)
Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21
ayat (2) huruf g dilakukan terhadap proses, pelaksanaan, dan hasil
mekanisme imbal jasa lingkungan untuk menjamin mekanisme imbal
jasa lingkungan antarapihak penyedia dan pemanfaat dibawah
supervisi Unit Pengelolaan Jasa Lingkungan (UPJL).
(7)
Kelembagaan dan tata laksana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (2) huruf h adalah norma, aturan dan tata cara imbal
jasa lingkungan yang disepakati penyedia dan pemanfaat
untukmenjamin proses imbal jasa lingkungan dapat berjalan secara
baik.
(8)
Jangka waktu perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
21 ayat (2) huruf idilakukan ditanda tangani oleh pihak penyedia dan
pemanfaat yang berlaku pada kurun waktu sesuai kesepakatan pihak
penyedia dan pemanfaat dan dievaluasi setiap satu tahun sekali.
(9)
Mekanisme penyelesaian perselisihansebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 ayat (2) huruf j dilakukan pihak penyedia dan
pemanfaat jasa lingkungan secara musyawarah dan mufakat. Apabila
musyawarah mufakat tidak tercapai, maka perselisihan akan
diselesaikan secara hukum yang berlaku.
Pasal 22
(1) Dalam rangka pelaksanaan pemberian kompensasi/ dan atau imbal

@Bandung, 28 April 2014

15

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

jasa lingkungan,dibentuk tim verifikasi yang ditetapkan oleh UPJL.


(2) Tim verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan
verifikasi dengan menggunakan kriteria dan indikator pengelolaan
jasa lingkungan secara berkelanjutan.
(3) Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai
bentuk,
tugas,
wewenang,persyaratan,mekanisme
kerjaTimVerifikasi
Jasa
Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam
Peraturan Gubernur.

Bagian Kedua
Pengembangan Sistem Pembayaran Jasa Lingkungan
Pasal 23
(1) Pembayaran Jasa Lingkungan merupakan danapembayaran jasa
lingkungan yang dihimpun melalui sistem pembayaran jasa lingkungan
yang kemudian akan dikembalikan lagi untuk memperbaiki ekosistem.
(2) Sistem pembayaran jasa lingkungan mengatur hal-hal yang menyangkut
kelembagaan, mekanisme, substansi dan proses pembayaran jasa
lingkungan.
(3) Dalam hal objek jasa lingkungan di luar kewenangan pemerintah
provinsi dan atau kabupaten/kota pelaksanaan pembayarannya
dilakukan melalui kerjasama dengan pengelola jasa lingkungan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem pembayaran jasa lingkungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur denganperaturan Gubernur.

Bagian Ketiga
Kelembagaan Pengelolaan Jasa Lingkungan
Pasal 24
(1)
Untuk menyelenggarakan mekanisme pengelolaan dan
pembayaran jasa lingkungan dapat dibentuk kelembagaan pengelolaan
jasa lingkungan yang selanjutnya dinamakan Unit Pengelolaan Jasa
Lingkungan (UPJL).
(2)
PenyelenggaraanUnit Pengelolaan Jasa Lingkungan (UPJL)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara transparan dan
akuntabel.
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk, keanggotaan, tugas
dan wewenang, dan mekanisme kerjakelembagaan pengelolaan jasa
lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan
Gubernur.

@Bandung, 28 April 2014

16

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

(1)

(2)

Pasal 25
Dalam rangka penyelenggaraanUnit Pengelolaan Jasa Lingkungan
(UPJL),Gubernur berwenang melakukan audit terhadap tugas
pengelolaan jasa lingkungan sebagaimana dimaksud pada pasal 25 ayat
(1), ayat (2) dan ayat (3).
Audit sebagaimana dimaksud pada Pasal 26 ayat (1) menyangkut
manajemen dan keuangan.

Pasal 26
(1) Untuk menjamin akuntabilitas penggunaan dana dan kelayakan
pengelolaan objek jasa lingkungan, audit sebagaimana dimaksud pada
pasal 26 dilakukan sekurang-kurangnya setahun sekali atau dilakukan
sesuai dengan kebutuhan.
(2) Untuk melakukan audit sebagaimana dimaksud pada Pasal 26,
Gubernur dapat menugaskan pihak ketiga atau auditor independen atas
beban APBD, dengan jumlah biaya ditetapkan oleh Gubernur.
(3) Hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib diumumkan oleh
Gubernur dan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
mengevaluasi pengelolaan jasa lingkungan di daerah.
(4) Ketentuan dan tata cara audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Gubernur.
Pasal 27
(1) Untuk mendorong terlaksananya mekanisme kompensasi/dan atau imbal jasa lingkungan,
dapat dibentuk forum koordinasi multipihak.
(2) Forum koordinasi multipihaksebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan forum
bersama antara :
a. Penyedia jasa lingkungan;
b. Pemanfaat jasa lingkungan;
c. Instansi terkait;
d. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM);
e. Unit Pengelolaan Jasa Lingkungan (UPJL).
(3) Forum koordinasi multipihakmerupakan forum koordinasi, bertugas memfasilitasi
kepentingan para pihak dalam pengelolaan jasa lingkungan.
(4) Bentuk, susunan organisasi, wewenang dan tatacara pengelolaan Forum koordinasi
multipihaksebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan.
Bagian Keempat
Peran Dan Tanggung Jawab Para Pihak

Pasal 28
Peran pemerintah daerah dalam memfasilitasi pengembangan sistem

@Bandung, 28 April 2014

17

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

pembayaran jasa lingkungan:


a. menyusun peraturan tentang pelaksanaan pembayaran jasa lingkungan;
dan
b. menginisiasi pembayaran jasa lingkungan, bila terdapat potensi
kerusakan dan/atau kerusakan lingkungan.
c. membuat pedoman umum dalam penerapan pembayaran jasa
lingkungan;
d. melakukan identifikasi jasa lingkungan yang termasuk dalam
pembayaran jasa lingkungan;
e. menghitung kebutuhan dana pelestarian jasa lingkungan; dan
f. menjadi fasilitator dalam pelaksanaan pembayaran jasa lingkungan.

Pasal 29
Peran fasilitator dalam memfasiltasi pelaksaan pengelolaan jasa lingkungan
dapat dilakukan dalam bentuk:
a. membantu dalam penyiapan draft perjanjian antara pemanfaat dan
penyedia jasa lingkungan;
b. membantu dalam pembentukan kelompok atau forum dalam
pelaksanaan pembayaran jasa lingkungan;
c. membantu dalam melakukan sosialisasi program pembayaran jasa
lingkungan;
d. membantu menghitung nilai jasa lingkungan dan kebutuhan dana
pelestarian jasa lingkungan; dan
e. menjadi fasilitator dan evaluator, monitoring dalam pelaksanaan
pembayaran jasa lingkungan.
Pasal 30
(1) Pihak yang melakukan pengelolaan secara langsung atas objek jasa
lingkungan bertanggungjawab untuk :
a. Melestarikan lingkungan dan wajib meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di sekitar objek jasa lingkungan
b. Memberikan kontribusi langsung dan tidak langsung dalam
pelaksanaan program pelestarian lingkungan dan pemberdayaan
masyarakat
(2) Pemberian kontribusi sebaghaimana dimakud melalui mekanisme
kerjasama sesuai kenetuan perundangan

Bagian Kelima
Penguatan Kapasitas

@Bandung, 28 April 2014

18

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

Pasal 31
Dalam rangka pengelolaan jasa lingkungan, Pemerintah Provinsi dapat
melakukan penguatan kapasitas dan kelembagaan kepada pemerintah
kabupaten/kota dan para pihak.
Pasal 32
Penguatan kapasitas sebagaimana dimaksud pada pasal 22 dalam
pengelolaan jasa lingkungan meliputi beberapa kegiatan, yaitu :
a. membangun transfer pengetahuan melalui peningkatan pendidikan,
penelitian serta ketrampilan;
b. mengembangkan kapasitas kelembagaan jasa lingkungan
c. membangun jaringan kemitraan dalam pengelolaan jasa lingkungan;
d. mengembangkan kapasitas untuk mengumpulkan, mengakses dan
mengelola informasi;
e. mengembangkan kapasitas untuk memecahkan masalah pengelolaan
jasa lingkungan
f. mengembangkan infrastruktur untuk pelaksanaan pengelolaan jasa
lingkungan

BAB VI
PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN

Pasal 33
(1)
Gubernur sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan
pembinaan, pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan
pengelolaan jasa lingkungan dan kompensasi dan imbal jasa lingkungan
di daerah.
(2)
Gubernur mendelegasikan kewenangannya dalam melakukan
pembinaan, pengawasan dan pengendalian kepada instansi teknis yang
bertanggung jawab di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
(3)
Kegiatan pembinaan, pengawasan dan pengendalian dilaksanakan
oleh instansi teknis yang bertanggung jawab di bidang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup berkoordinasidengan Instansi
terkaitdi
tingkatPusat,Provinsi
dan
kabupaten/Kota
sesuai
kewenangannya, dengan melibatkan peran masyarakat.

Pasal 34

@Bandung, 28 April 2014

19

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada pasal (1) dilaksanakan


melalui kegiatan pemantauan dan evaluasi.
(2) Pemantauandanevaluasidilakukandenganmengamatidan
memeriksakesesuaian
antaraperencanaandengan
pelaksanaan
pengelolaan jasa lingkungan.
(3) Dalam hal hasil pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) terbukti terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan
pengelolaan jasa lingkungan,BadanberkoordinasidenganInstansiterkait
di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kotasesuai dengan
kewenangannya, mengambil langkah penyelesaian.
(4) Ketentuan dan tata cara pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan Peraturan Gubernur.
Pasal 35
(1) Gubernur wajib melakukan pengawasan terhadap ketaatan penyedia
dan pemanfaat jasa lingkungan atas ketentuan yang telah ditetapkan di
dalam peraturan perundang-undangan di bidang kompensasi dan imbal
jasa lingkungan hidup, perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
(2) Ketentuan dan tata cara pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan Peraturan Gubernur.

Pasal 36
(1) Setiap orang baik perseorangan maupun kelompok berhak mengetahui
dan berpartisipasi dalam melaksanakan pengawasan terhadap
pengelolaan kompensasi dan imbal jasa lingkungan di daerah, dengan
memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Gubernur sesuai kewenangannya wajib mempublikasikan dan
memberikan akses informasi kepada pihak yang membutuhkan terkait
pengelolaan jasa lingkungan sesuai dengan peraturan perundangundangan berkenaan keterbukaan informasi publik dan sepanjang tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 37
(1) Gubernur
sesuai
dengan
kewenangannya
wajib
melakukan
pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan jasa lingkungan dan
kompensasi dan imbal jasa lingkungan hidup di daerah;
(2) Pengendaliandilakukandenganmengembangkan sistem insentif dan
disinsentif pengelolaan jasa lingkungan.
(3) Ketentuan dan tata cara pengendalian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Gubernur.

@Bandung, 28 April 2014

20

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat


tentangPengelolaan Jasa Lingkungan

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 38
(1) Semua peraturan pelaksanaan yang diperlukan untuk melaksanakan
Peraturan Daerah ini harus diselesaikan paling lambat 1 (satu) tahun
sejak berlakunya Peraturan Daerah ini.
(2) Ketentuan lebih lanjut berkenaan dengan pelaksanaan teknis dari
Peraturan Daerah ini diatur oleh instansi terkait, sepanjang diperlukan
dengan tetap berpedoman pada Peraturan Daerah ini.
Pasal 39
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Ditetapkan di Bandung,
Pada Tanggal
GUBERNUR JAWA BARAT,
Ttd.
AHMAD HERYAWAN
Diundangkan di Bandung,
Pada Tanggal
SEKRETARIS DAERAH PROVINSI JAWA BARAT,
Ttd.
___________
LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN NOMOR

@Bandung, 28 April 2014

21