Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

TEKNOLOGI DAN FORMULASI SEDIAAN STERIL


Percobaan IV
PEMBUATAN SUSPENSI STERIL HIDROKORTISON ASETAT

Disusun oleh:
Nama

: Alifatul Luluah

NIM

: 13/ 346102/ FA/ 09587

Golongan/Kel : II/ B
Tgl Praktikum : Rabu, 27 April 2016
Dosen

: Dr. Rer.nat. Ronny Martien, M.Si.

Asisten Jaga

Asisten Koreksi: Elfrida


LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI
DEPARTEMEN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

PERCOBAAN IV
PEMBUATAN SUSPENSI STERIL HIDROKORTISON ASETAT

A. Tujuan
Agar mahasiswa mampu memahami dan membuat suspense steril hidrokortison
asetat.
B. Alat dan Bahan
Alat:

Bahan:
-

Neraca elektrik
Vial
Pipet ukur 1,0 mL
Propipet
Autoklaf
Oven
Botol timbang
Sendok
Pipet tetes
Mortir dan stamper
Gelas ukur
Gelas pengaduk
Cawan petri
Beaker glass
C. LANGKAH KERJA
Formula
R/ tiap ml mengandung
Hidro cortisone asetat

25 mg

NaCl

9 mg

Polysorbate-80

4 mg

CMC Na

5 mg

Benzyl alkohol

0,9 %

Aqua p.i

ad

1 cc

Suspensi yang dibuat sebanyak 60x formula.


Cara Kerja
CMC Na dilarutkan

Hidro cortison asetat


NaCl
Polysorbate-80
CMC Na
Benzyl alkohol
Aqua


disterilkan dalam autoclave 121 C selama 15 menit bersama aqua

Cortisone asetat,NaCl,Polysorbate-80 disterilkan kering dalam oven 160 C selama 1 jam

Dibuat suspensi dalam kotak aseptis / LAF cabinet:


(a) NaCl dilarutkan dengan sebagian aqua

Ditambah benzyl alcohol


(b) Cortisone acetate ditambah polysorbate 80

Dicampur homogen
(c) Campuran (b) ditambah dengan larutan CMC-Na

Diaduk homogen
Campuran (c) ditambah dengan larutan (a) dan sisa aqua

Diaduk homogen

Dimasukkan ke dalam vial 10 mL

Ditutup kedap

Diamati suspensi yang terjadi

Diberi etiket

Dilakukan uji sterilitas (penumbuhan mikroba pada media agar)

Media agar diinkubasi

Diamati satu hari dan satu minggu setelah pembuatan larutan suspensi
D. DATA PERCOBAAN
1. Penimbangan untuk 50 mL larutan suspensi (dilebihkan 10%)
- Hidro Cortisone asetat

: 25 mg x 60 = 1500 mg

= 1,5g

- NaCl

: 9mg x 60

= 540 mg

= 0,54g

- Polysorbate-80

: 4mg x 60

= 240 mg

=0,24g

- CMC Na

: 5mg x 60

= 300 mg

=0,3g

- Benzyl Alkohol

: 0,9% x 60

= 0,54 ml

- Aqua p.i ad

60 ml

Pembuatan suspense dilebihkan 10% untuk mengantisipasi kehilangan volume saat


pembuatan. Dilebihkan 10% menjadi 55 mL tetapi untuk memudahkan dibuat 60mL.
2. Pengamatan Hasil

Volume vial
= 10 ml

Jumlah vial
= 5 buah

Uji kebocoran
= Tidak bocor

Warna
= putih susu

Jenis suspense
= deflokulasi

pH = 7

Tidak terbentuk cake

Dengan penggojokan ringan mudah terdispersi


kembali

Tidak mudah mengendap


LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA

No. 3

27 April 2016
Pro: Tuti (20 tahun)
Suspensi Hidrokortison Asetat

Lul
Hasil foto

Hasil sterilisasi bahan

Hasil suspense dimasukkan ke vial

Penutupan vial

Pengecekan pH (pH= 7)

Sediaan tidak tumpah

Hasil akhir sediaan suspense Hidrokortison

Pengamatan hari ke-7 tidak ada mikroba


Perhitungan laju sedimentasi
Waktu (menit)
0

10

15

30

45

60

Ho (cm)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)

Pengamatan hari ke-2 tidak ada mikroba

H
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2

(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(i)
(ii)

0,4
0,3
0,2
0,2
0,2
0,4
0,3
03
0,2
0,2
0,4
0,3
0,3
0,2
0,2
0,5
0,6
0,6
0,5
0,2
0,5
0,6
0,6
0,6
0,2
0,7
0,7

(iii)
(iv)
(v)
Volume pengendapan

3,2
3,2
3,2

(iii)
(iv)
(v)

F=

H 0
= =0
Ho 3,2

Waktu 5 menit

F=

0,4+ 0,3+0,3+0,2+0,2
H
5
=
=0,0875
Ho
3,2

Waktu 10 menit

0,4+ 0,3+0,3+0,2+0,2
5
F= H =
=0,0875
Ho
3,2

Waktu 15 menit

0,4+ 0,3+0,3+0,2+0,2
5
F= H =
=0,0875
Ho
3,2

Waktu 30 menit

F= H =
Ho

Waktu 45 menit

0,6+0,5+ 0,6+0,6+ 0,2


5
F= H =
=0,1563
Ho
3,2

Waktu 60 menit

0,6+0,7 +0,7+0,6 +0,2


5
F= H =
=0,175
Ho
3,2

Waktu 0 menit

0,6
0,6
0,2

0,6+0,5+ 0,5+0,6+0,2
5
=0,15
3,2

E. PEMBAHASAN
1. Pemeriaan Bahan
a. Hidro Cortisone Asetat
C23H32O6
BM 404,50
Hidro kortison asetat mengandung tidak kurang dari 97,0 % dan tidak lebih
dari 102,0 % C23H32O6 ,dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan
Pemerian
: serbuk hablur,putih hingga praktis putih,tidak berbau,melebur
pada suhu lebih kurang 200 C disertai peruraian.
Kelarutan
: tidak larut dalam air,sukar larut dalam etanol dan kloroform.
(Anonim, 1995 )
b. Natrium Klorida
NaCl
BM 58,44
Natrium klorida memgandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari
101,0 % NaCl dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Tidak mengandung zat tambahan.
Pemerian
: hablur berbentuk kubus,tidak berwarna atau serbuk hablur
putih,rasa asin.

Kelarutan
: mudah larut dalam air,sedikit mudah larut dalam air
mendidih,larut dalam gliserin,sukar larut dalam etanol.
( Anonim, 1995)
c. Polysorbate-80
Polioksi etilena 20 sorbitan monooleat
Polysorbate-80 adalah ester oleat dari sorbitol dan anhidrida yang
berkopolimerisasi dengan lebih kurang 20 molekul etilena oksida untuk tiap
molekul sorbitol dan anhidrida sorbitol.
Pemerian
: cairan seperti minyak,jernih,berwarna kuning muda hingga
coklat muda,bau khas lemah,rasa pahit,dan hangat.
Kelarutan
: sangat mudah larut dalam air,larutan tidak berbau dan tidak
berwarna,larut dalam etanol,dalam etil asetat,tidak larut dalam minyak
mineral.
( Anonim, 1995)
d. Carboxy Methyl Cellulosum Natrium
Garam selulosa karboksi metil eter natrium
Karboksi metil selulosa natrium adalah garam natrium dari polikarboksi metil
eter selulosa,mengandung tidak kurang dari 5,5 % dan tidak lebih dari 9,5 %
natrium (Na) dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian
: serbuk atau granul,putih sampai krem,higroskopik
Kelarutan
: mudah terdispersi dalam air mem,bentuk larutan
koloidal,tidak larut dalam etanol,dalam eter,dan dalam pelarut organik lain.
( Anonim, 1995)
e. Benzyl alkohol
C7H80
BM 108,14
Benzil alkohol mengandung tidak kurang dari 97,0 % dan tidak lebih dari
100,5 % C7H80
Pemerian
: cairan tidak berwarna,bau aromatik lemah,rasa membakar
tajam,mendidih pada suhu 206 C tanpa pemurnian,netral terhadap lakmus
Kelarutan
: agak sukar larut dalam air,mudah larut dalam etanol 50
%,bercampur dengan etanol,eter,dan kloroform.
( Anonim, 1995)
f. Aqua pro injectiones
Air untuk injeksi adalah air suling segar yang disuling kembali,disterilkan
dengan cara sterilisasi A atau C.
Pemerian:
keasaman-kebasaan,ammonium,besi,tembaga,timbal,kalsium,
klorida,nitrat,sulfat,zat teroksidasi memenuhi syarat yang tertera pada aqua
destilata.
( Anonim, 1979)

2. Pembahasan
Percobaan ini dilakukan agar mahasiswa mampu memahami dan dapat
membuat injeksi steril sediaan dalam bentuk suspensi yakni suspensi
hidrocortison asetat. Suspensi Hidrocortison asetat steril menurut Farmakope
Indonesia IV adalah Suspensi steril hidrokortison asetat dalam media air yang
sesuai Mengandung tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110 % kortison
asetat (C23H32O6) dari jumlah yang tertera pada etiket,dengan pH antara 5,0
sampai 7,0. Jumlah zat padat yang terdapat dalam suspense parenteral
umumnya berkisar antara 0,5%- 5% atau bisa mencapai 30% dalam preparat
sediaan antibiotic (Lachman, 1994).
Suspensi parenteral dibuat apabila obat tidak stabil dalam bentuk
larutan atau bahan obatnya tidak larut dalam pembawa yang biasa digunakan
yakni air (water for injection). Sediaan dalam bentuk suspensi digunakan
melalui sub cutan dan intra muscular. Persyaratan yang penting untuk suspensi
parenteral yakni ukuran partikel. Ukuran partikel dalam suspense parenteral
sebaiknya memiliki ukuran yang kecil dan seragam antarpartikelnya. Ukuran
yang seragam dapat memberikan hasil disolusi dan pelepasan obat yang cepat
dan dapat diperkirakan. Ukuran partikel yang seragam juga dapat mengurangi
kecenderungan agregasi antarpartikel menjadi lebih besar selama waktu
penyimpanannya. Agregasi tersebut menyebabkan timbulnya cake pada
suspense sehingga membuat perubahan dalam disolusi dan laju pelepasan obat
setelah diinjeksi (Lachman, 1994).
Syarat penting dari suspense parenteral yang lainnya yakni
syringeability dimana adanya kemudahan suspense diambil dengan
menggunakan spuit injeksi dan injectability dimana suspense parenteral
memberikan hasil yang bebas partikel sehingga tidak menimbulkan sumbatan
saat diinjeksi dan saat masuk ke dalam pembuluh darah.
Zat aktif hidrocortison asetat dibuat menjadi suspense parenteral
karena merupakan senyawa yang tidak larut dalam air dan dapat digunakan
melalui i.m (intramuscular) atau s.c. (subcutan) bukan intravena. Apabila
suspense yang diinjeksikan digunakan secara intravena, partikel hidrocortison
yang tidak larut akan menyumbat pembuluh kapiler jantung sehingga dapat
mengakibatkan kematian.
Sediaan Hidrokortison asetat digunakan untuk pengobatan alergi,
sebagai anti radang dan menghambar perkembangan sel epidermis. Sediaan
dibuat dalam 5 buah vial masing- masing volumenya 10mL meskipun dalam
pembuatannya dibuat sebanyak 60mL. pembuatannya dilebihkan karena
dikhawatirkan adanya kehilangan volume saat proses pembuatan. Dilebihkan
volume 10% maka butuh 55mL akan tetapi untuk memudahkan perhitungan
dan penimbangan dibuatlah volume sebanyak 60mL.
Suspensi parenteral ini mengandung anti mikrobial dan preservatif
agent yaitu benzyl alkohol, surface active agent (Polysorbate-80), viscosity
agent (CMC Na) dan tonicity agent (NaCl). Polysorbate-80 sebagai SAA
berfungsi sebagai zat pembasah (wetting agent) dengan cara mengurangi

tegangan permukaan / sudut kontaknya. Dengan menurunkan tegangan


permukaan antara aqua p.i dan hidrokortison asetat, maka kedua zat tersebut
yang semula tidak campur menjadi dapat campur karena hidrokortison asetat
dapat terbasahi. Sedangkan CMC Na bertindak sebagai agen yang
meningkatkan viskositas, dimana semakin kental suatu larutan maka
kecepatan pengendapan semakin kecil akibatnya suspensi makin stabil dengan
mengacu pada hukum Stokes tentang viskositas dimana kecepatan pengenapan
berbanding terbalik dengan viskositas cairan . Adanya penambahan CMC Na
dan polysorbate-80 secara bersamaan dapat meningkatkan pengaruh surfaktan
dan dapat menyebabkan hilangnya muatan permukaan partikel terdispersi,
penolakan terhadap air terkurangi, dan kecenderungan lebih kecil untuk
menggumpal. Sehingga suspensi makin stabil dan tidak terbentuk cake.
Benzyl alcohol (Hidroksimetilbenzen) sangat penting gunanya dalam
sediaan ini yaitu sebagai preservative atau zat antimikroba. Zat ini perlu
ditambahkan karena mengingat wadah yang digunakan untuk larutan suspensi
ini adalah vial. Vial merupakan suatu wadah yang memungkinkan untuk
penggunaan berulang (multiple dose), sehingga sediaan ini merupakan sediaan
multiple dose. Multiple dose dalam vial dapat meninggalkan lubang kecil pada
tutup karetnya setelah pengambilan volume pertama dengan jarum suntik.
Oleh karena itu, untuk mencegah kontaminasi yang bisa masuk melewati
lubang tersebut sediaan harus di tambahkan dengan zat preservative.
Pembuatan suspensi parenteral lebih sulit dibanding larutan parenteral
terutama masalah sterilisasi dan proses pembuatannya. Biasanya bagianbagian dari bahan suspensi disterilisasi terpisah, kemudian masing-masing
bahan disuspensikan secara aseptis. Karena masing-masing memiliki
karakteristik sendiri maka tidak dapat dilakukan sterilisasi akhir.
Pada praktikum kali ini injeksi steril Hidro cortisone asetat supensi
dibuat sebanyak 5 vial dengan volume masing-masing 10 ml, dengan
menggunakan formula :
Tiap ml mengandung :
R/

Hidro cortisone asetat

25 mg

NaCl

9 mg

Polysorbate 80

4 mg

CMC-Na

5 mg

Benzil alcohol

0,9 %

Aqua p.i ad

1 ml

Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang semua bahan


yang diperlukan. Pada pembuatan steril hidrocortisone asetat ini diperlukan
hidrocortisone asetat sebanyak 1,5 gram, NaCl sebanyak 0,54 gram,
Polysorbate 80 sebanyak 0,24 gram, CMC-Na sebanyak 0,3 gram, benzil
alcohol sebanyak 0,054 gram, dan aquadest ad 60 ml.
CMC-Na disterilkan dalam bentuk larutan menggunakan autoclave
pada suhu 121 C selama 15 menit. CMC-Na disterilkan dalam bentuk
larutan karena serbuk kering dari CMC-Na tidak tahan pemanasan tinggi
(polimer yang terbentuk akan rusak). Selain itu, metode yang digunakan
adalah metode sterilisasi menggunakan autoclave, dimana uap air karena
pemanasan autoclave dapat masuk dan membentuk koloid jika CMC-Na
disterilisasi dalam bentuk serbuk. Larutan CMC-Na dibuat dengan cara
melarutkan serbuk kering CMC-Na dalam air panas sampai semuanya
mengembang, barulah ditambahkan sisa airnya dalam keadaan dingin.
Pelarutan dibantu dengan pengadukan di dalam mortir untuk membantu dan
mempercepat proses pelarutan sampai tidak terlihat lagi adanya partikel
CMC-Na.
Sedangkan untuk hidro cortisone asetat, NaCl, dan polysorbate 80
disterilkan dalam oven selama 1 jam pada suhu 160 C. Sterilisasi kering ini
digunakan untuk bahan berbentuk serbuk kering yang tahan pemanasan
tinggi dan bersifat higroskopis. Sterilisasi dengan cara ini bertujuan untuk
menjaga stabilitas bahan dan membebaskan kuman. Benzil alkohol tidak
perlu disterilisasi karena ia berfungsi sebagai antimikroba, tentu saja sudah
tidak mengandung mikroorganisme didalamnya.
Setelah semua bahan melalui sterilisasi dilakukan pencampuran bahan
dalam LAF dengan teknik aseptis. Pencampuran sediaan dilakukan di dalam
LAF Cabinet untuk menghindari kontaminasi karena dalam pembuatannya
tidak dilakukan sterilisasi akhir. LAF (Laminary Air Flow) adalah suatu
kotak aseptid yang sterilitasnya diyakini tinggi karena sebelum memasuki
LAF harus disemprot alcohol terlebih dahulu, disinari dengan UV dan
pengaturan tekanan udara yang baik untuk memperkecil mikroorganisme
masuk bersama aliran udara.

Dalam pencampuran suspense, digunakan mortir selain untuk


menghomogenkan campuran juga untuk memperkecil ukuran partikelnya.
Ukuran partikel yang kecil dan seragam menjadi persyaratan paling penting
dalam suspensi. Ukuran partikel yang kecil menyebabkan suspensi stabil dan
terdispersi sempurna dalam larutan pembawa sehingga memenuhi syarat
suspensi yang baik. Suspensi dimasukkan dalam vial 10 mL yang telah
disterilisasi dan kemudian ditutup kedap. Vial harus sudah disterilisasi
terlebih dulu untuk menghindari adanya kontaminan dari luar. Kemudian vial
tersebut diberi etiket berwarna biru karena larutan suspensi ini termasuk obat
luar.
Kemudian dilakukan pengamatan stabilitas fisik suspensi meliputi
kemampuan pengendapan (stabilitas suspensi), jenis suspensi (flokulasi atau
deflokulasi), warna, dan terbentuk cake atau tidak. Dari hasil percobaan
didapatkan suspensi yang berwarna putih susu. Dalam pengamatan
kesetabilan dan terbentuk cake atau tidak hanya dilakukan beberapa menit
setelah pembuatan tanpa ada percepatan (sentrifugasi atau pengaruh suhu)
seharusnya pengamatan hal ini di lakukan dalam beberapa hari atau di
percepat dengan perlakuan tertentu tadi. Karena waktu yang terbatas
pengamatan hanya dilakukan pada saat itu saja, dan teramati bahwa suspensi
stabil dan tidak membentuk cake. Berdasarkan pengamatan didapatkan
suspensi dengan sistem deflokulasi, hal ini dilihat dari saat penggojokan
ringan partikel dapat terdispersi kembali dengan mudah, kecepatan
pengendapan tidak terlalu cepat dan tidak terbentuk cake.
Dilakukan juga uji sterilitas untuk melihat apakah terdapat mikroba
atau tidak pada larutan suspensi yang dibuat. Mikroba ditumbuhkan pada
media agar untuk menguji sterilitas selama pencampuran yang dilakukan di
dalam LAF. Larutan suspensi yang telah dibuat diambil sedikit untuk
digoreskan pada media agar. Setelah itu, media tersebut diinkubasi selama
satu minggu untuk melihat ada tidaknya kontaminan mikroba pada media
agar tersebut. Pengamatan untuk uji sterilitas dilakukan satu hari dan satu
minggu setelah suspense dibuat. Hasil pengamatan dari uji sterilitas
menunjukkan bahwa tidak ada kontaminan mikroba, baik pada pengamatan
satu hari ataupun satu minggu setelah penumbuhan mikroba pada media agar.

Hasil ini menunjukkan bahwa pada larutan suspensi hidrocortisone asetat


yang dibuat tidak terdapat kontaminan mikroba dan menunjukkan bahwa
proses pembuatan larutan suspensi yang dilakukan steril.
F. KESIMPULAN
1. Suspensi hidro Kortison Asetat berfungsi sebagai antialergi, antiradang dan
menghambat pembelahan sel epidermis
2. Komposisi suspense yakni hidrocortisone asetat , NaCl, polysorbate 80, CMCNa, benzyl alcohol, dan aqua p.i.
3. Suspensi dibuat secara aseptis dalam Laminar Air Flow (LAF) cabinet.
4. Suspensi berwarna putih susu, stabil, tidak membentuk cake, mudah terdispersi
dalam penggojokan ringan, dan tidak ada vial yang bocor.
5. Suspensi yang dibuat tidak mengandung kontaminan mikroba.
6. Dari hasil suspensi yang telah dibuat dihasilkan suspensi dengan sistem
deflokulasi.

G. DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh , 1994, Farmasetika, UGM Press, Yogyakarta
Anief, Moh,1993, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik, UGM Press, Yogyakarta
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Ansel, C., Howard, 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat, UI
Press, Jakarta
Lachman, L., Liebeman, H.A., Kanig, J.L., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri,
penerjemah Siti Suyatmi, edisi ke-3, UI Press, Jakarta
Voigt,Rudolf, 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi,diterjemahkn

oleh

dr.Soendani Noerono, edisi ke-5, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta


Mengetahui
Asisten koreksi

Yogyakarta, 10 Mei 2016


Praktikan

Alifatul Luluah

13/ FA/ 346102/ 09587

H. JAWABAN PERTANYAAN
1. Jelaskan tujuan penggunaan polysorbate 80?
Polysorbate 80 adalah salah satu jenis surface active agent yang digunakan dalam
suspensi parenteral. Polysorbate 80 bekerja dengan menurunkan tegangan
antarmuka antara aqua p.i dan hidrocortisone asetat sehingga kedua zat tersebut
yang semula tidak campur dapat menjadi campur karena hidrocortisone asetat
dapat terbasahi. Penggunaan surface active agent bersama dengan suatu
hidrokoloid (polysorbate 80 bersama CMC-Na) dapat menambah pengaruh
surfaktan dan menyebabkan hilangnya muatan pada permukaan dari partikel
terdispersi (hidro cortisone asetat), penolakan air, dan berkurangnya
kecenderungan untuk menggumpal, sehingga suspensi yang dihasilkan menjadi
lebih stabil.
2. Apa fungsi benzyl alcohol dalam formula tersebut? Jelaskan!
Penggunaan benzyl alcohol dalam formulasi steril hidro cortisone asetat suspensi
ini bertujuan sebagai antibakteri/ antimikroba (preservatif), karena wadah yang
digunakan adalah vial. Vial merupakan wadah yang memungkinkan penggunaan
berulang (multiple-dose) sehingga untuk mencegah kontaminasi dari lingkungan
luar akibat penggunaan berulang perlu ditambahkan agen preservatif.
3. Jelaskan mengapa CMC-Na disterilkan dalam bentuk larutan?
CMC-Na disterilkan dalam bentuk larutan karena serbuk kering CMC-Na tidak
tahan pemanasan, selain itu uap air dari pemanasan pada autoclave dapat
membasahi serbuk CMC-Na sehingga terbentuk koloid.
4. Sediaan injeksi cortisone asetat diberikan melalui rute apa? Mengapa?
Sediaan steril hidro cortisone asetat suspensi dapat digunakan secara
intramuscular dan subkutan. Injeksi suspensi ini tidak bisa digunakan secara
intravena karena mengandung partikel tidak larut yang dapat menyumbat
pembuluh darah.

I. Kualifikasi Oven

Generation 2012 universal ovens are available October 2012.


Whatever you want to perform: material tests, ageing of computer chips, run complex
experiments with highly sensitive loads, drying or tempering electronic
components, hardening plastic resin or heating plasticine. Our U universal oven stands for
unparalleled precise, even and gentle temperature control.

Temperature range up to +300 C

8 model sizes 30 to 750

2 model variants: SingleDISPLAY and TwinDISPLAY

Natural convection or forced air circulation N/F

The fittings of this heating and drying oven are practically-oriented, their programme functions
are designed for a wide variety of applications, and even when used intensively, our all-rounder
made of stainless steelloses nothing in shine or in reliability. From 32 models, expandable with
convenient, approved and tested accessories, you will easily find the heating oven ideally
suited to your needs. According to your application the two model variants SingleDISPLAY and
TwinDISPLAY cover all requirements of thermal safety, precision and quality assurance.

In accordance with the German Law on Medical Products (Directive 93/42/EEC), the
UF/UFplus heating ovencan be used to heat up non-sterile clothes and covers.

65 years of permanent development work, as well as numerous amounts of feedback from


practical experience, are embodied in each heating oven:

Almost exclusive use of high-quality, corrosion-resistant and easily cleanable stainless


steel for the working chamber and housing

Heating concept adapted to the specific product for a precise and homogenous
temperature control independent of chamber volume and load

A wide range of options for programming and documentation using interfaces,


integrated data logger and Software AtmoCONTROL

Three-year guarantee for appliances except wear and tear parts

The temperature values of all universal ovens are measured according to DIN 12880:
2007-05

Each universal oven is safety-tested and bears this sign

Inline capability
Fully automatic control of the hardening process of lead frames and adhesive connections or of the
tempering of components with the pass-through oven UFP 800 TS.

Drying oven for quick and gentle vacuum drying


The one and only vacuum oven with digital pressure control makes programming of
pressure/vacuum cycles easy.
Quality assurance in the humidity chamber
Due to the almost unlimited programming of temperature control profiles, the Memmert humidity
chamber HCP provides the ideal environments for the chamber load.

Ageing of cables and wires


In the quality lab of a worldwide renownedautomotive supplier cables and wires undergo a
strict ageing test in the heating oven.
Drying filter membranes in the drying oven
The technical cleanliness of functionally relevant components is a central factor in quality
management in the automotive industry. For standard-compliant testing of residual contamination, a
Memmert drying oven in the mobile laboratory is in use almost constantly.
Conditioning of cement, mortar, concrete
Before numerous material tests are performed in the cement-bound building materials team of the
German BAM, the samples are conditioned in a cooled incubator IPP, a drying oven and a CTC
climatic test chamber from Memmert.