Anda di halaman 1dari 53

BATAS KONSESI MINYAK

BUMI DAN GAS, TAMBANG,


DAN GEOTERMAL
WACHID NURAZIZ MUSTHAFA 15112043

Outline
Definisi
2. Batas Konsesi Minyak dan Gas
3. Batas Konsesi Tambang
4. Batas Konsesi Geotermal
1.

DEFINISI

Konsesi adalah suatu penetapan administrasi negara


secara yuridis dan kompleks, karena merupakan
seperangkat dispensasi-dispensasi, jiin-ijin, serta lisensilisensi disertai dengan pemberian semacam wewenang
pemerintah terbatas pada konsensionaris.

Konsesi tidak mudah diberikan karena memiliki resiko


penyelundupan kekayaan bumi dan kekayaan alam negara
dan kadang-kadang merugikan masyarakat yang
bersangkutan. Wewenang pemerintah diberikan kepada
konsensionaris walupun terbatas dapat menimbulkan
masalah pilitik dan sosial yang cukup rumit, karena
perusahaan
pemegang
konsesi
tersebut
dapat
memindahkan kampung/desa, dapat membuat jaringan
jalan, listrik dan telepon, membentuk barisan keamanan,
mendirikan rumah sakit dan sarana lainnya

Minyak dam Gas Bumi


Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang
dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa cair atau
padat, termasuk aspal, lilin mineral atau ozokerit, dan bitumen yang
diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk batubara
atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh
dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha Minyak dan
Gas Bumi;
Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam
kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa gas yang
diperoleh dari proses penambangan Minyak dan Gas Bumi;
Wilayah kerja minyak dan gas bumi adalah daerah tertentu di
wilayah hukum pertambangan Indonesia untuk pelaksanaan eksplorasi
dan eksploitasi minyak dan gas bumi

UU No 22 Tahun 2001 Pasal 1

Tambang
Pertambangan adalah sebagian atau seluruh
tahapan
kegiatan
dalam
rangka
penelitian,
pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara
yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta
kegiatan pascatambang.
Wilayah Pertambangan adalah wilayah yang
memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak
terikat dengan batasan administrasi pemerintahan
yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.

UU Minerba No.4 Tahun 2009 Pasa

Geothermal
Energi geothermal merupakan sumber energi

terbarukan berupa energi thermal (panas) yang


dihasilkan dan disimpan di dalam inti bumi.
Pasal 1 UU No.27 tahun 2003 tentang Panas Bumi,
Panas Bumi adalah sumber energi panas yang
terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan
bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara
genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam
suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya
diperlukan proses penambangan
Pasal 1 UU No.27 tahun 2003

KONSESI MINYAK BUMI DAN


GAS

Arah Kebijakan Energi Minyak dan Gas


Bumi
Perlu sistem fiskal untuk minyak, gas bumi dan CBM (coal bed

methane) yang lebih menjamin keuntungan atau mengurangi resiko


kontraktor dengan memberikan bagian pemerintah atau GT
(government take) yang kecil untuk R/C (revenue/cost) yang kecil dan
GT yang besar untuk R/C yang besar.
Perlu segera membangun infrastruktur gas termasuk LNG (liquefied
natural gas) receiving terminal, pipa transportasi, SPBG (stasiun
pengisi bahan bakar gas), infrastruktur gas kota dan lain-lain. Perlu
harga gas dosmetik yang menarik.
Perlu peningkatan kualitas informasi untuk wilayah kerja yang
ditawarkan melalui perbaikan ketersediaan data antara lain data
geofisika dan geologi.
Perlu peningkatan kemampuan nasional migas dengan keberpihakan
pemerintah misalnya untuk kontrak-kontrak migas yang sudah habis
maka pengelolaannya diutamakan untuk perusahaan nasional dengan
mempertimbangkan program kerja, kemampuan teknis dan keuangan.

Perlu mendorong perbankan nasional untuk memberikan pinjaman

guna membiayai kegiatan produksi energi nasional.


Dana depletion premium dari energi tak terbarukan sangat
diperlukan guna meningkatkan kualitas informasi untuk penawaran
konsesi-konsesi migas baru, peningkatan kemampuan sumber daya
manusia dan penelitian, infrastruktur pendukung migas, serta untuk
pengembangan energi non-migas dan energi di pedesaan.
Perlu dikaji segera kemungkinan impor gas (LNG), karena lebih
baik/murah mengimpor gas daripada mengimpor minyak dan BBM.
Di sektor rumah tangga, pemakaian LPG lebih murah dari
pemakaian minyak tanah. Di sektor transportasi, penggunaan BBG
lebih murah dan lebih bersih daripada BBM.
Perlu diperbaiki sistem birokrasi dan informasi serta kemitraan di
lingkungan ESDM di samping koordinasi antar institusi untuk
mengatasi permasalahan-permasalahan fiskal, perijinan, tanah,
tumpang tindih lahan, lingkungan, permasalahan desentralisasi dan
lain-lain.

Karakter Bisnis Minyak dan Gas Bumi


Pertama,

pendapatan baru diterima bertahun-tahun


setelah pengeluaran direalisasikan.
Kedua, bisnis ini memiliki risiko dan ketidakpastian tinggi
serta melibatkan teknologi canggih.
Ketiga, usaha hulu migas memerlukan investasi yang
sangat besar.
Keempat, yaitu menjanjikan keuntungan yang sangat besar.
Idealnya, kontrak yang digunakan adalah yang mampu
menyiasati tantangan dan meraih peluang dari empat
karakter tersebut.

Kontrak Kerjasama
Kontrak Kerja Sama adalah Kontrak Bagi Hasil atau
bentuk kontrak kerja sama lain dalam kegiatan
Eksplorasi dan Eksploitasi yang lebih menguntungkan
Negara dan hasilnya dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat;

Jenis Kontrak Kerjasama


Kontrak Konsesi
2. Kontrak Karya
3. Kontrak PSC
1.

Kerjasama Sistem Konsesi


Sistem konsesi memberikan kontraktor keleluasaan untuk
mengelola minyak dan gas bumi, mulai dari eksplorasi,
produksi hingga penjualan minyak dan gas bumi.
Pemerintah sama sekali tidak terlibat di dalam manajemen
operasi pertambangan, termasuk dalam menjual minyak
bumi yang dihasilkan. Jika berhasil, kontraktor hanya
membayar royalti, sejumlah pajak dan bonus kepada
Pemerintah.

Prinsip Kerjasama Sistem Konsesi


1. Kepemilikan sumberdaya minyak dan gas bumi dihasilkan
berada di tangan kontraktor (mineral right).
2. Kontraktor diberi wewenang penuh dalam mengelola operasi
pertambangan (mining right).
3. Dalam batas-batas tertentu, kepemilikan aset berada di tangan
kontraktor.
4. Negara mendapatkan sejumlah royalti yang dihitung dari
pendapatan kotor.
5. Kontraktor diwajibkan membayar pajak tanah dan pajak
penghasilan dari penghasilan bersih

Kontrak Karya
Model ini diterapkan dengan terbitnya UU No 37 Prp tahun 1960
tentang Pertambangan, dan mengakhiri berlakunya Indische
Mijnwet (1899). Kontrak karya ini hanya berlaku dalam periode
yang relatif singkat, antara tahun 1960 1963. Dalam kontrak
karya, kontraktor diberi kuasa pertambangan, tetapi tidak memiliki
hak atas tanah permukaan. Prinsip kerjasamanya adalah profit
sharing, atau pembagian keuntungan antara Pemerintah dan
kontraktor.

Ketentuan Kontrak Karya


Setiap perusahaan minyak harus bertindak menjadi salah satu kontraktor

perusahaan negara: Pertamin, Permina dan Permigan.


Perusahaan yang sudah beroperasi sebelumnya diberikan masa kontrak
dua puluh tahun untuk melanjutkan eksploitasi di daerah konsesi yang
lama dan diberikan ijin untuk menyelidiki dan mengembangkan daerah
baru yang berdampingan dengan daerah konsesi yang lama, dengan
jangka waktu kontrak tiga puluh tahun.
Fasilitas pemasaran dan distribusi diserahkan kepada perusahaan negara
yang mengontrak dalam jangka waktu lima tahun dengan harga yang
telah disetujui bersama.
Split antara Pemerintah dan kontraktor asing sebesar 60:40. Pemerintah
akan menerima minimal 20 persen dari pendapatan kotor minyak yang
dihasilkan setiap tahun oleh kontraktor asing.

Kontrak Bagi Hasil Produksi


Kontrak bagi hasil mulai dikenal sejak diberlakukannya UndangUndang Nomor 8 Tahun 1971. Dalam kontrak bagi hasil,
ditetapkan bahwa wewenang berada ditangan pemerintah
Republik Indonesia (yang diwakili oleh Pertamina). Peranan
kontraktor minyak asing hanyalah sebagai penyandang dana dan
melaksanakan kegiatan operasi perminyakan.
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Migas) Indonesia
dijalankan berdasarkan Kontrak Bagi Hasil atau Production
Sharing Contract (PSC). Skema ini mengoptimalkan penerimaan
negara sekaligus melindungi dari paparan risiko tinggi terutama
pada fase eksplorasi.

Ketentuan Kontrak Bagi Hasil Produksi


1. Kendali manajemen dipegang oleh perusahaan negara
2. Kontrak didasarkan pada pembagian produksi
3. Kontraktor menanggung resiko eksplorasi. Jika ditemukan minyak, maka

4.
5.
6.
7.
8.

kontraktor berhak atas penggantian biaya (cost recovery) maksimal 40


persen dari total produksi, tetapi jika gagal, resiko sepenuhnya ditanggung
kontraktor.
Split antara perusahaan negara dan kontraktor sebesar 65:35.
Aset-aset yang dibeli oleh kontraktor menjadi milik negara, yang biayanya
ditutup dengan formula 40 persen cost recovery tadi.
Perusahaan negara membayar pajak pendapatan kontraktor kepada
Pemerintah.
Kontraktor wajib mempekerjakan tenaga kerja Indonesia, serta wajib
mendidik dan melatih mereka setelah produksi ekonomis dicapai.
Kontraktor wajib memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri
sebesar 25 persen dari bagian minyak yang dihasilkan.

Perkembangan PS C
Generasi I (1964-1977)
Kontrak ini merupakan bentuk awal Production Sharing
Contract, pada tahun 1973/74 terjadi lonjakan harga minyak
dunia sehingga pemerintah menetapkan kebijaksanaan
bahwa sejak tahun 1974 para kontraktor wajib
melaksanakan pembayaran tambahan kepada pemerintah.
Hal ini disebabkan adanya selisih antara bagian pemerintah
menurut kontrak dengan new deal agreement yang biasa
disebut additional cash payment.
.

Prinsip-prinsip pokok PSC Generasi I :


Manajemen operasi ditangan Pertamina.
Kontraktor menyediakan seluruh biaya operasi perminyakan.
Kontraktor akan memperoleh kembali seluruh biaya operasinya dengan
ketentuan maksimum 40% setiap tahun
Dari 60% dibagi menjadi: a. Pertamina = 65% b. Kontraktor = 35%
Pertamina membayar pajak pendapatan kontraktor kepada pemerintah.
Kontraktor wajib memenuhi kebutuhan BBM untuk dalam negeri secara
proporsional (maksimum 25% bagiannya ) dengan harga US$ 0,20 / barrel.
Semua peralatan dan fasilitas yang dibeli oleh Kontraktor menjadi milik
Pertamina.
Sebesar 10% dari interest Kontraktor ditawarkan kepada perusahaan
nasional Indonesia setelah lapangan dinyatakan komersial.
Sejak tahun 1974 hingga 1977 kontraktor diwajibkan memberikan
tambahan pembayaran kepada pemerintah.

Generasi II (1978-1987)
Pada tahun 1976 pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan IRS
Ruling yang antara lain menetapkan bahwa penyetoran 60% Net
Operating Income PSC (yang sesuai UU NO.8 Tahun 1971
merupakan pembayaran pajak Pertamina dan Kontraktor)
dianggap sebagai pembayaran royalty, sehingga disarankan agar
kontraktor membayar pajak secara langsung kepada pemerintah.
Disamping itu perlu ditetapkan Generally Accepted Accounting
Procedure (GAP), dimana pembatasan pengembalian biaya
operasi (cost recovery ceiling) 40%/ tahun dihapus. Untuk PSC
yang berproduksi dilakukan Amandemen.

Prinsip-prinsip pokok PSC generasi II:


1. Tidak ada pembatasan pengembalian biaya operasi yang
diperhitungkan oleh kontraktor.
2. Setelah dikurangi biaya-biaya maka pembagiannya menjadi sebagai
berikut: a. Minyak = 65,91% untuk Pertamina,34,09 % untuk
kontraktor. b. Gas = 31,80% untuk Pertamina, 68,20% untuk
kontraktor.
3. Kontraktor membayar pajak 56% secara langsung kepada
pemerintah.
4. Kontraktor mendapat insentif berupa :
. Harga ekspor penuh untuk minyak mentah Domestic Market
Obligation setelah lima tahun pertama produksi.
. Insentif pengembangan 20% dari modal yang dikeluarkan untuk
fasilitas produksi.

Generasi III (1998-sekarang)


Pada tahun 1984, pemerintah menetapkan Peraturan PerundangUndangan Pajak baru untuk Production Sharing Contract dengan tarif
48%. Peraturan tersebut baru bisa diterapkan terhadap PSC yang
ditandatangani pada tahun 1988, karena dalam perundingan-perundingan
yang dilakukan, pihak kontraktor masih mempunyai kecenderungan
untuk menggunakan peraturan perpajakan yang lama.
Pembagian hasilnya berubah menjadi seperti berikut :
1. Minyak = 71,15 % untuk Pertamina;28,85% untuk kontraktor.
2. Gas = 42,31% untuk Pertamina;57,64 % untuk kontraktor.
Bagian bersih setelah dikurangi pajak menjadi :
1. Minyak = Indonesia/Kontraktor =85/15.
2. Gas = Indonesia / Kontraktor =70/30.

Wilayah Kerja Migas

Skk migas

Wilayah Kerja
(1) Wilayah Kerja yang akan ditawarkan kepada Badan Usaha
atau Bentuk Usaha Tetap ditetapkan oleh Menteri setelah
berkonsultasi dengan Pemerintah Daerah.
(2) Penawaran Wilayah Kerja dilakukan oleh Menteri.
(3) Menteri menetapkan Badan Usaha atau Bentuk Usaha
Tetap yang diberi wewenang melakukan kegiatan usaha
Eksplorasi dan Eksploitasi pada Wilayah Kerja

Pasal 12 UU no 22 Tahun 2001

KONSESI TAMBANG

Kegitan Pertambangan
Pertambangan

Mineral adalah pertambangan


kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan, di
luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta air
tanah.
Pertambangan Batubara adalah pertambangan
endapan karbon yang terdapat di dalam bumi,
termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.

UU No 4 Tahun 2009 Pasal 1

Usaha Pertambangan
Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka
pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi
tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi,
studi
kelayakan,
konstruksi,
penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
penjualan, serta pascatambang.

UU No 4 Tahun 2009 Pasal 1

Izin Usaha Pertambangan


IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan

tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan


IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai
pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan
operasi produksi.
Izin Pertambangan Rakyat adalah izin untuk melaksanakan usaha
pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas
wilayah dan investasi terbatas.
Izin Usaha Pertambangan Khusus, adalah izin untuk melaksanakan
usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan
tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan
di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai
pelaksanaan IUPK Eksplorasi untuk melakukan
UU No 4 Tahun 2009 Pasal 1

Izin Usaha Pertambangan


IUP diberikan oleh:
a. bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah
kabupaten/kota;
b. gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah
kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi
setelah mendapatkan rekomendasi dari bupati/walikota
setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; dan
c. Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah provinsi
setelah mendapatkan rekomendasi dari gubernur dan
bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
UU No 4 Tahun 2009 Pasal 37

IUP diberikan kepada:


a. badan usaha;
b. koperasi; dan
c. perseorangan.
IUP terdiri atas dua tahap:
a. IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum,
eksplorasi, dan studi kelayakan;
b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta
pengangkutan dan penjualan.
UU No 4 Tahun 2009 Pasal 36 & 38

Izin Pertambangan Rakyat


Kegiatan pertambangan rakyat dikelompokkan
sebagai berikut:
a. pertambangan mineral logam;
b. pertambangan mineral bukan logam;
c. pertambangan batuan; dan/atau
d. pertambangan batubara.

UU No 4 Tahun 2009 Pasal 64

Pemberian IPR
(1) Bupati/walikota memberikan IPR terutama kepada
penduduk setempat, baik perseorangan maupun
kelompok masyarakat dan/atau koperasi.
(2) Bupati/walikota dapat melimpahkan kewenangan
pelaksanaan pemberian IPR kepada camat sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(3) Untuk memperoleh IPR pemohon wajib
menyampaikan
surat
permohonan
kepada
bupati/walikota.

UU No 4 Tahun 2009 Pasal 67

Luas wilayah untuk 1 (satu) IPR yang dapat diberikan


kepada:
a. perseorangan paling banyak 1 (satu) hektare;
b. kelompok masyarakat paling banyak 5 (lima)
hektare; dan/atau
c. koperasi paling banyak 10 (sepuluh) hektare.
IPR diberikan untuk jangka waktu paling lama 5
(lima) tahun dan dapat diperpanjang.

UU No 4 Tahun 2009 Pasal 68

Izin Usaha Pertambangan Khusus


(1) IUPK diberikan oleh Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah.
(2) IUPK diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral logam atau batubara dalam 1
(satu) WIUPK.
(3) Pemegang IUPK yang menemukan mineral lain di dalam WIUPK yang
dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya.
(4) Pemegang IUPK yang bermaksud mengusahakan mineral lain wajib
mengajukan permohonan IUPK baru kepada Menteri.
(5) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan
tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut.
(6) Pemegang IUPK yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain
yang ditemukan wajib menjaga mineral lain tersebut agar tidak dimanfaatkan
pihak lain.
(7) IUPK untuk mineral lain dan ayat (5) dapat diberikan kepada pihak lain
oleh Menteri.
UU No 4 Tahun 2009 Pasal 74

Wilayah Pertambangan
Wilayah Pertambangan, yang selanjutnya disebut WP,

adalah wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau


batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi
pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang
nasional.
Wilayah Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut
WUP, adalah bagian dan WP yang telah memiliki
ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi.
Wilayah Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya
disebut WIUP, adalah wilayah yang diberikan kepada
pemegang IUP.
UU No 4 Tahun 2009 Pasal 1

Penetapan Wilayah Pertambangan


secara transparan, partisipatif, dan bertanggung

jawab;
secara terpadu dengan memperhatikan pendapat
dari instansi pemerintah terkait, masyarakat, dan
dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi,
dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan;
dengan memperhatikan aspirasi daerah.

UU No 4 Tahun 2009 Pasal 10

Kriteria untuk menetapkan 1 (satu) atau beberapa

WIUP dalam 1 (satu) WUP adalah sebagai berikut:


a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lindungan lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau
batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk.

Wilayah Usaha Pertambangan


Penetapan WUP dilakukan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi

dengan pemerintah daerah dan disampaikan secara tertulis kepada


Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Koordinasi dilakukan dengan pemerintah daerah yang bersangkutan
berdasarkan data dan informasi yang dimiliki Pemerintah dan
pemerintah daerah.
Satu WUP terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUP yang berada pada
lintas wilayah provinsi, lintas wilayah kabupaten/kota, dan/atau dalam
1 (satu) wilayah kabupaten/kota.
Luas dan batas WIUP mineral logam dan batubara ditetapkan oleh
Pemerintah berkoordinasi dengan pemerintah daerah berdasarkan
kriteria yang dimiliki oleh Pemerintah.

Wilayah Pertambangan Rakyat


WPR ditetapkan oleh bupati/walikota setelah berkonsultasi

dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota.


Kriteria untuk menetapkan WPR adalah sebagai berikut:
a. mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di
sungai dan/atau di antara tepi dan tepi sungai;
b. mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan
kedalaman maksimal 25 (dua puluh lima) meter;
c. endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;
d. luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 (dua
puluh lima) hektare;
e. menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau
f. merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang
sudah dikerjakan sekurangkurangnya 15 (lima belas) tahun.

KONSESI GEOTHERMAL

Arah Kebijakan Energi Terbarukan Panas Bumi


1.
2.
3.
4.

5.

Meningkatkan ekplorasi panas bumi dan membuat perkiraan biaya


yang layak pada lokasi yang berbeda-beda.
Memastikan status tataguna lahan di hutan-hutan yang memiliki
potensi panas bumi.
Mengkaji implementasi peraturan perundang-undangan di sektor
panas bumi untuk mendekatkan sektor hulu dan hilir.
Melakukan penyempurnaan di dalam pengelolaan dan persyaratan
tender panas bumi, yang antara lain meliputi : Pendelegasian
kepada PLN untuk melaksanakan tender, pembagian resiko yang
menguntungkan antara PLN dan pengembang, harga jual dan
mekanismenya serta pembinaan untuk skala kecil dan penyehatan
BUMN.
Meningkatkan kemampuan dalam negeri untuk mendukung
kegiatan eksplorasi dan industri pendukung kelistrikan

Tahapan Pertambangan Panas Bumi


Survei Pendahuluan adalah kegiatan yang meliputi

pengumpulan, analisis dan penyajian data yang


berhubungan dengan informasi kondisi geologi,
geofisika, dan geokimia untuk memperkirakan letak dan
adanya sumber daya Panas Bumi serta Wilayah Kerja.
Eksplorasi adalah rangkaian kegiatan yang meliputi
penyelidikan geologi, geofisika, geokimia, pengeboran
uji, dan pengeboran sumur eksplorasi yang bertujuan
untuk memperoleh dan menambah informasi kondisi
geologi bawah permukaan guna menemukan dan
mendapatkan perkiraan potensi Panas Bumi.
UU No 23 Tahun 27 Pasal 1

Studi

Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha


pertambangan Panas Bumi untuk memperoleh
informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan
untuk menentukan kelayakan usaha pertambangan
Panas Bumi, termasuk penyelidikan atau studi jumlah
cadangan yang dapat dieksploitasi.
Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan pada suatu
wilayah kerja tertentu yang meliputi pengeboran
sumur pengembangan dan sumur reinjeksi,
pembangunan fasilitas lapangan dan operasi produksi
sumber daya Panas Bumi.
UU No 23 Tahun 27 Pasal 1

Izin Usaha Pertambangan Panas Bumi


Usaha Pertambangan Panas Bumi adalah usaha yang

meliputi kegiatan eksplorasi, studi kelayakan, dan


eksploitasi.
Izin Usaha Pertambangan Panas Bumi, selanjutnya
disebut IUP, adalah izin untuk melaksanakan Usaha
Pertambangan Panas Bumi.

UU No 23 Tahun 27 Pasal 1

Wilayah Pertambangan Panas Bumi


Wilayah

Kerja Pertambangan Panas Bumi,


selanjutnya disebut Wilayah Kerja, adalah wilayah
yang ditetapkan dalam IUP.
Wilayah Hukum Pertambangan Panas Bumi
Indonesia adalah seluruh wilayah daratan, perairan,
dan landas kontinen Indonesia.

UU No 23 Tahun 27 Pasal 1

Wilayah Kerja
(1) Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota sesuai
dengan kewenangan masing-masing melakukan
penawaran Wilayah Kerja dengan cara lelang.
(2) Batas dan luas Wilayah Kerja ditetapkan oleh
Pemerintah.
(3) Ketentuan mengenai pedoman, batas, koordinat,
luas wilayah, tata cara, dan syarat-syarat mengenai
penawaran, prosedur, penyiapan dokumen lelang, dan
pelaksanaan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan peraturan pemerintah.
UU No 23 Tahun 27 Pasal 9

Pengggunaan Lahan untuk Pertambangan Panas Bumi


(1) Kegiatan Usaha Pertambangan Panas Bumi dilaksanakan di dalam Wilayah
Hukum Pertambangan Panas Bumi Indonesia.
(2) Hak atas Wilayah Kerja tidak meliputi hak atas tanah permukaan bumi.
(3) Kegiatan Usaha Pertambangan Panas Bumi tidak dapat dilaksanakan
di :
a. tempat pemakaman, tempat yang dianggap suci, tempat umum,
sarana dan prasarana umum, cagar alam, cagar budaya, serta
tanah milik masyarakat adat;
b. lapangan dan bangunan pertahanan negara serta tanah di sekitarnya;
c. bangunan bersejarah dan simbol-simbol negara;
d. bangunan, rumah tinggal, atau pabrik beserta tanah pekarangan sekitarnya;
e. tempat lain yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

UU No 23 Tahun 27 Pasal 16

Izin Usaha Pertambangan


(1) IUP dikeluarkan oleh Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota sesuai
dengan kewenangan masing-masing.
(2) IUP wajib memuat ketentuan sekurang-kurangnya:a. nam
a. penyelenggara;
b. jenis usaha yang diberikan;
c. jangka waktu berlakunya izin;
d. hak dan kewajiban pemegang izin usaha;
e. Wilayah Kerja; dan
f. tahap pengembalian Wilayah Kerja.
(3) Setiap IUP yang telah diberikan wajib digunakan sesuai dengan
peruntukannya
(4) IUP dapat dialihkan kepada Badan Usaha afiliasi dengan persetujuan
Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota sesuai dengan kewenanganmasingmasing.
UU No 23 Tahun 27 Pasal 21

Daftar Pustaka
UU No 21 Tahun 2011 tentang Minyak dan Gas Bumi
UU No 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi
UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan

Batubara
Peraturan Menteri ESDM tNo 05 Tahun 2012 tentang Tata
Cara Penetapan dan Penawaran Wilayah Kerja Minyak dan
Gas Bumi Non Konvensional
WARTA Mineral, Batubara dan Panas Bumi Edisi April 2016
dari Direktoral Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi
http://www.esdm.go.id/berita/56-artikel/3342-pokok-pokokkebijakan-energi-nasional.html?
tmpl=component&print=1&page=

TERIMA KASIH